Di kota tambang bernama Sorowako, terhampar perbukitan hijau dan danau yang bening seperti kaca, lahirlah seorang anak perempuan bernama Aira. Sejak kecil, tawa Aira mudah sekali pecah—ringan dan jernih, seperti riak air yang disentuh angin pagi. Sorowako membesarkannya dengan keramahan orang-orang yang saling mengenal dalam kekerabatan.
Rumah Aira tak jauh dari Danau Matano. Setiap sore, setelah matahari mulai menyapa, ia berlari menuruni jalan setapak dengan rambut terikat asal-asalan. Danau itu baginya bukan sekadar air; ia adalah halaman bermain, cermin langit, dan sahabat yang selalu setia mendengar. Aira berenang dengan gaya bebas ciptaannya sendiri—kadang rapi, kadang kacau—sambil menghitung awan atau menebak bentuk ikan yang lewat di bawahnya. Air Matano dingin dan dalam, tapi Aira merasa aman, seolah danau itu memeluknya.
Ayahnya bekerja di tambang. Ibunya meski ibu rumah tangga biasa, tetapi cukup aktif dalam bermasyarakat. Dari mereka, Aira belajar disiplin dan sabar. Orang tua Aira terkenal ramah dan memiliki banyak kegiatan di masyarakat. Namun mereka tetap menyisihkan waktu yang cukup untuk Aira dan adik-adiknya.
Dari danau, Aira belajar keberanian. Ia pernah jatuh dari dermaga kecil dan terkejut oleh dingin yang menyergap, namun tak menangis. Ia muncul ke permukaan dengan napas terengah, lalu tertawa—tawa yang sama cerahnya dengan matahari Sorowako.
Di sekolah, Aira dikenal ceria dan mudah berteman. Ia suka bercerita tentang ikan-ikan kecil yang berkilau seperti koin dan tentang kedalaman danau yang katanya menyimpan rahasia. Teman-temannya mendengarkan dengan mata berbinar, seolah ikut berenang bersamanya. Guru-gurunya sering tersenyum melihat Aira yang selalu mengangkat tangan, penuh rasa ingin tahu.
Suatu hari, saat senja menguning, Aira duduk di tepi Danau Matano. Air tenang memantulkan langit, dan ia melihat bayangannya sendiri—kecil, tapi teguh. Ia berjanji dalam hati untuk terus tumbuh seperti danau itu: tenang di permukaan, kuat di kedalaman. Sorowako akan selalu menjadi rumahnya, dan Danau Matano akan selalu menjadi tempat ia belajar mencintai hidup—dengan tawa, keberanian, dan hati yang lapang.
* * *
Suatu sore yang teduh, ketika angin berembus pelan dari arah perbukitan, Aira kembali duduk di tepi Danau Matano. Kali ini ia tidak langsung berenang. Di bangku kayu tua dekat dermaga, ia melihat seorang nenek duduk sendiri, mengenakan kain sederhana dan selendang tipis yang warnanya telah pudar dimakan waktu. Rambutnya putih seluruhnya, namun matanya tajam dan hangat, seperti menyimpan banyak cerita.
Aira menyapa dengan sopan dan duduk di sampingnya. Nenek itu tersenyum, menatap danau sejenak sebelum berkata, “Danau ini sudah melihat banyak hal, Nak. Jauh sebelum kau lahir.”
Kalimat itu membuat Aira penasaran.
Pelan-pelan, nenek mulai bercerita. Tentang masa ketika Sorowako belum seramai sekarang, ketika jalanan masih tanah merah dan listrik belum menyala sepanjang hari. Ia bercerita tentang kedatangan orang-orang asing dari jauh—dari Kanada—yang membawa peta, mesin besar, dan mimpi tentang nikel yang tersimpan di perut bumi. Mereka datang dengan kapal dan pesawat kecil, membuka hutan, membangun rumah-rumah baru, dan perlahan mengubah wajah Sorowako.
“Waktu itu kami bingung dan takut,” kata sang nenek sambil tersenyum tipis. “Takut kehilangan tanah, takut danau ini berubah. Tapi kami juga berharap—akan ada sekolah, pekerjaan, dan masa depan yang lebih baik.”
Aira mendengarkan dengan saksama. Ia membayangkan Sorowako di masa lalu, sunyi dan hijau, lalu berubah sedikit demi sedikit menjadi kota tambang yang ia kenal hari ini. Ia teringat ayahnya yang berangkat pagi-pagi ke tambang dan pulang di sore hari.
Nenek itu menghela napas. “Perusahaan itu membawa perubahan. Ada yang baik, ada yang berat. Tapi Danau Matano tetap di sini, menjaga kita semua—asal kita juga mau menjaganya.”
Aira menatap permukaan air yang berkilau. Cerita itu membuat dadanya hangat dan penuh. Ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar—sejarah panjang yang mengalir seperti air danau, dari masa lalu ke masa depan.
Sebelum berpisah, Aira berjanji pada nenek itu untuk terus belajar dan merawat danau yang ia cintai. Saat ia akhirnya berenang, gerakannya terasa berbeda—lebih tenang, lebih sadar. Seolah setiap kayuhan membawa cerita Sorowako bersamanya, cerita tentang tanah, manusia, dan harapan yang tak pernah benar-benar tenggelam.
* * *
Hari-hari berikutnya dipenuhi tawa. Aira kembali menjadi anak yang berlari tanpa beban, dan kebahagiaan itu terasa berlipat saat ia bersama teman-temannya—Citra yang cerewet tapi setia, Achy yang selalu membawa ide-ide usil, Juwi yang pendiam namun paling berani saat berenang, dan masih banyak lainnya yang datang dan pergi seperti angin sore Sorowako.
Suatu pagi yang cerah, mereka berjanji bertemu di ujung lapangan. Dari sana, sebuah jalan kecil membelah pematang sawah yang hijau, memanjang tenang di tengah hamparan lapangan golf yang rapi dan indah. Rumput golf terpangkas halus, kontras dengan padi yang menguning pelan di pematang. Anak-anak itu berjalan beriringan, kadang berlari, kadang berhenti untuk menyeimbangkan langkah di tepi pematang yang sempit.
“Siapa jatuh, terakhir nyebur!” teriak Achy, disambut tawa riuh.
Aira melangkah ringan, matanya menyapu pemandangan—langit biru yang luas, bukit-bukit yang memeluk Sorowako, dan Danau Matano yang berkilau di kejauhan seperti memanggil. Angin membawa aroma rumput basah dan tanah, membuat langkah mereka terasa seperti petualangan kecil yang selalu dinanti.
Sesampainya di tepi danau, sepatu dan sandal dilempar sembarang. Mereka berlarian, menghitung sampai tiga, lalu melompat bersamaan. Air memercik, tawa meledak, dan dunia seolah berhenti sejenak. Citra tertawa paling keras, Juwi menyelam paling dalam, Achy membuat lomba dadakan, sementara Aira berenang memutar, memimpin permainan dengan wajah penuh cahaya.
Di antara jeda napas, mereka berbaring mengapung, menatap langit. Aira teringat cerita nenek tentang masa lalu Sorowako, dan ia merasa bersyukur—memiliki teman, danau yang setia, dan hari-hari yang sederhana namun penuh arti. Di tempat itu, di jalur pematang sawah yang mengantar mereka ke Danau Matano, Aira tahu: kebahagiaan sering kali sesederhana berjalan bersama teman, menuju air yang selalu menunggu.
* * *
Matahari perlahan turun di balik perbukitan. Cahaya jingga menari di permukaan Danau Matano, membuat airnya tampak keemasan. Satu per satu, Aira dan teman-temannya naik ke darat. Rambut mereka basah, baju menempel di badan, tapi wajah-wajah itu penuh kepuasan.
“Besok kita ke sini lagi, ya!” kata Citra sambil memeras ujung bajunya.
“Iya, tapi jangan lupa PR,” sahut Juwi singkat, membuat yang lain tertawa.
Mereka pulang menyusuri jalan yang sama, kini lebih tenang. Di rumah, Aira mandi hingga bersih, mengganti baju dengan mukena kecil berwarna putih. Saat azan magrib berkumandang, suaranya menggema lembut di Sorowako, memanggil anak-anak yang baru saja melepas hari.
Di masjid, Aira kembali bertemu Citra, Achy, Juwi, dan teman-teman lainnya. Mereka duduk rapi bersila, mushaf kecil di tangan. Guru mengaji mereka, Ustaz Rahman, tersenyum melihat barisan yang hampir lengkap.
“Wah, sepertinya hari ini habis berenang, ya?” godanya.
Achy mengangkat tangan, pura-pura serius. “Izin ustaz, kami latihan jadi ikan Matano.”
Masjid pun dipenuhi tawa kecil.
“Kalau begitu,” kata Ustaz Rahman sambil tersenyum, “ikannya harus rajin mengaji juga, supaya makin pintar.”
Mereka mulai membaca. Aira mengeja ayat demi ayat dengan khusyuk, sesekali dibenarkan lembut. Saat giliran Citra, ia tersendat di satu ayat.
“Pelan-pelan, Citra,” ujar ustaz. “Al-Qur’an itu bukan untuk dikejar, tapi untuk ditemani.”
Setelah mengaji, mereka berdiri menunaikan salat isya berjamaah. Suasana masjid hening dan hangat. Aira merasakan ketenangan yang berbeda—seperti danau di malam hari, tenang dan dalam.
Usai salam, Ustaz Rahman berpesan, “Anak-anak, bermain itu boleh, senang itu perlu. Tapi jangan lupa pulang pada waktu dan ingat kepada Allah.”
“Iya, Ustaz!” jawab mereka serempak.
Di luar, malam telah turun. Aira berjalan pulang dengan hati penuh—hari yang dimulai dengan tawa di danau, ditutup dengan doa dan kebersamaan. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, dan Sorowako kembali tenang. Aira tahu, esok hari cerita baru akan menunggunya, tapi kenangan hari ini akan tinggal lama, seperti cahaya senja yang perlahan menyatu dengan malam.
* * *
Setibanya di rumah, lampu ruang makan sudah menyala terang. Aroma ikan goreng dan sayur bening menyambut Aira begitu ia melangkah masuk. Ibunya tersenyum dari dapur, sementara ayahnya duduk di ujung meja, menunggu semua berkumpul.
Tak lama kemudian, tiga adiknya datang berlarian. Rahman langsung duduk rapi. Reza menyusul sambil masih membawa mobil-mobilan di tangan, dan Aisyah yang paling kecil naik ke kursinya dengan bantuan ibu.
“Cuci tangan dulu, Reza,” tegur ayah lembut.
“Sebentar, Yah… mobilnya parkir dulu,” jawab Reza polos, membuat Aira terkekeh.
Mereka makan bersama, saling bercerita tentang hari masing-masing. Aira bercerita tentang danau dan senja, Rahman tentang pelajaran di sekolah, Reza tentang “balapan” mobilnya, dan Aisyah yang hanya menimpali dengan senyum dan anggukan kecil. Di meja sederhana itu, tawa dan syukur menyatu.
Usai makan malam, piring dibereskan bersama. Lalu keempat bersaudara itu duduk di ruang tengah, membuka buku dan alat tulis. Aira membantu Rahman mengulang pelajaran, sesekali membetulkan tulisan Reza, dan menemani Aisyah mewarnai gambar. Ayah membaca koran, ibu menjahit sambil sesekali menoleh memastikan semuanya baik-baik saja.
Malam semakin larut. Satu per satu buku ditutup, lampu diredupkan. Aira merapikan tas untuk esok hari, lalu berbaring di tempat tidur. Dari jendela, ia melihat bintang berkelip di atas Sorowako.
Hari itu terasa utuh—bermain, belajar, beribadah, dan berkumpul bersama keluarga. Dengan hati hangat, Aira memejamkan mata. Esok, danau, sekolah, dan cerita-cerita kecil lainnya akan menunggu.
* * *
Namun sebelum benar-benar terlelap, Aira bangkit kembali. Ia meraih buku kecil bersampul biru dari laci meja—buku kesayangannya. Di sanalah ia menulis apa saja yang singgah di hatinya: danau, tawa, senja, juga hal-hal yang belum sepenuhnya ia mengerti. Menulis membuatnya merasa dekat dengan dirinya sendiri.
Malam itu sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar jendela dan napas lembut adik-adiknya yang telah tertidur. Cahaya lampu meja temaram, cukup untuk menemani pikirannya yang mengembara. Aira memandang langit sebentar, lalu menunduk dan mulai menulis. Ia menulis tentang malam yang tenang, tentang rindu yang datang tanpa alasan—rindu pada siang yang telah berlalu, pada tawa di danau, pada hal-hal yang suatu hari mungkin akan berubah.
Tulisannya mengalir pelan, jujur, seperti air Matano di bawah bulan.
Ia menulis puisi itu tanpa banyak berhenti, seolah kata-kata telah lama menunggu untuk dituliskan. Ketika selesai, Aira membaca ulang dengan senyum kecil. Ada kehangatan di dadanya—perasaan dimengerti oleh kata-kata ciptaannya sendiri.
Malam dan Kerinduan
Malam datang perlahan,
menutup riuh siang dengan sunyi
bintang-bintang menyala pelan
seperti mata yang menjaga mimpi.
Angin berbisik di jendela,
membawa cerita yang tak sempat terucap
tentang tawa yang baru saja pulang,
dan rindu yang diam-diam menetap.
Aku merindu tanpa tahu pada siapa,
mungkin pada waktu yang berlalu,
pada langkah-langkah kecil hari ini,
pada hangat yang ingin tinggal lebih lama.
Malam mengajarkanku satu hal:
rindu tak selalu tentang kehilangan,
kadang ia hanya cara hati
mengucap syukur dengan pelan.
Di bawah langit yang luas dan tenang,
aku titipkan doa pada gelap,
semoga esok datang dengan cahaya,
dan rindu menemukan rumahnya kembali.
Buku itu ia tutup perlahan. Aira memeluknya sebentar, lalu meletakkannya kembali ke laci. Ia berbaring, menarik selimut hingga ke dada. Malam Sorowako terasa ramah, menyimpan puisi kecil seorang anak yang belajar mengenal rindu.
Dengan pikiran tenang dan hati penuh, Aira akhirnya terlelap—membawa malam, kerinduan, dan mimpinya ke dalam tidur.
* * * * *
#rindurumah