Dagelanmu Mengocok Perut

Entah saya harus marah, kasihan atau geli mendengar cerita tentangmu. Dagelanmu itu menjadi konyol dan mengocok perutku. Bahkan rahangku pun terkena dampak menjadi sakit gara-gara ceritamu.

Mungkin saya yang salah karena selama ini menilaimu terlalu tinggi. Kau cantik, menarik,  dan pandai berbaur juga berkomunikasi dengan siapa saja. Tapi siapa sangka, dibalik semua itu, ternyata kau musang berbulu domba.

Awalnya aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Bahkan  menurutku, mereka terlalu berlebihan karena yang bercerita itu terkait langsung dengan dirimu. Tapi, setelah mendengar cerita dari orang lain yang tidak ada kaitan sekalipun dengan dirimu, hanya mendengarkan cerita tetangga kamarnya yang jelas pula tidak terkait dengan dirimu, saya semakin yakin bahwa cerita yang kudengar itu bukan subjektif semata, bener ga?

Maaf kalau saya menggambarkannya demikian. Tapi kesan norak yang kau berikan, sungguh menyedihkan. Betapa kau terusik hanya karena kenyamananmu terganggu. Padahal sesungguhnya, itu adalah tugasmu. Dan untuk menyelesaikan tugas itu, memang kau harus memaksa dirimu belajar, entah itu belajar untuk melakukan pekerjaan itu sendiri, atau membuat orang lain melakukannya.

Kalau kau memang tidak bisa melakukannya sendiri, setidaknya, milikilah sedikit saja etika untuk meminta orang lain melakukannya. Yakinlah, ketika kau memintanya dengan bahasa yang persuasif, tentu orang lain akan membantumu dengan senang hati. Namun jika kau memintanya dengan keangkuhanmu, yakin saja kau akan menerima penolakan.

Sekarang, kau membuat kegaduhan. Hal yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu dan selama ini dikerjakan orang lain, justru membuatmu berontak. Hanya karena yang selama ini mengerjakannya telah meletakkan handuk dan berhenti membantumu. Kau tahu kenapa? Semua karena tindakanmu sendiri. Kau tidak memiliki sedikitpun penghargaan pada mereka. Kau telah memperlakukan mereka dengan tidak adil. Karena kau hanya memikirkan egomu. Hanya fokus pada keinginanmu saja.

Terang saja itu membuatmu tersudut. Karena nama baik yang kau dapatkan selama ini, bukanlah dari hasil kerjamu. Kau takut, nama baikmu hancur karena dia telah berpaling darimu. Sungguh kasihan.

image

Sungguh, semestinya kau bertindak biasa sajalah. Jangan jadikan posisimu itu sebagai hal yang luar biasa dan menjadi tamengmu dalam melakukan tindakan seenakmu saja. Karena posisimu itu hanya amanah. Dia bisa datang dan pergi sesukanya. Hari ini kau di posisi itu, besok bisa orang lain yang mendapatkannya. Apa kau mau seperti mereka-mereka yang terkena syndrome #gagalmoveon. Sudah bukan di posisi itu, tetap melaksanakan tugas itu karena menganggap orang lain tidak bisa selain dirinya sendiri.

Akh.. tetaplah semangat, tetaplah bangga dengan posisimu dan apa yang kau miliki saat ini. Maksimalkan saja segala apa yang kau inginkan. Hanya jangan lupa mengingatkan dirimu, bahwa suatu saat bukan dirimu lagi di posisi itu, apa hal lain yang bisa kau lakukan atau bagaimana kau memaknai hidup ini. Karena hidup ini berputar. Tidak selamanya kita di atas, kadang kita di bawah tanpa kita sadari. Sehingga komunikasi yang baik, hubungan silaturahmi yang baik itu harus selalu kita jaga.

Terima kasih atas semua dagelan-dagelan tentangmu. Sungguh telah menceriakan hariku. Namun aku kembali menarik pelajaran dari semua cerita tentangmu. Semoga kau cepat sadar dan memperbaiki diri. Jangan sampai, begitu kau meninggalkan posisimu sekarang dan menjadi biasa kembali, kau tak sanggup melakukannya, karena keangkuhan hati telah menggenggam mu erat.

Salam hangat dariku dan selamat menikmati hari-harimu. Nikmati apa pun yang kamu miliki saat ini. Namun ingatlah pesan Rasulullah, “bekerjalah seakan-akan kau akan hidup selamanya namun jangan lupa beribadah seakan-akan besok ajal akan menjemputmu karena hanya amalan lah yang akan menemanimu menghadap pada sang Khalik, Penguasa Langit dan Bumi serta seluruh isinya”.

image

la_vie

Advertisements

Dagelanmu Mengocok Perut

Entah saya harus marah, kasihan atau geli mendengar cerita tentangmu. Dagelanmu itu menjadi konyol dan mengocok perutku. Bahkan rahangku pun terkena dampak menjadi sakit gara-gara ceritamu.

Mungkin saya yang salah karena selama ini menilaimu terlalu tinggi. Kau cantik, menarik,  dan pandai berbaur juga berkomunikasi dengan siapa saja. Tapi siapa sangka, dibalik semua itu, ternyata kau musang berbulu domba.

Awalnya aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Bahkan  menurutku, mereka terlalu berlebihan karena yang bercerita itu terkait langsung dengan dirimu. Tapi, setelah mendengar cerita dari orang lain yang tidak ada kaitan sekalipun dengan dirimu, hanya mendengarkan cerita tetangga kamarnya yang jelas pula tidak terkait dengan dirimu, saya semakin yakin bahwa cerita yang kudengar itu bukan subjektif semata, bener ga?

Maaf kalau saya menggambarkannya demikian. Tapi kesan norak yang kau berikan, sungguh menyedihkan. Betapa kau terusik hanya karena kenyamananmu terganggu. Padahal sesungguhnya, itu adalah tugasmu. Dan untuk menyelesaikan tugas itu, memang kau harus memaksa dirimu belajar, entah itu belajar untuk melakukan pekerjaan itu sendiri, atau membuat orang lain melakukannya.

Kalau kau memang tidak bisa melakukannya sendiri, setidaknya, milikilah sedikit saja etika untuk meminta orang lain melakukannya. Yakinlah, ketika kau memintanya dengan bahasa yang persuasif, tentu orang lain akan membantumu dengan senang hati. Namun jika kau memintanya dengan keangkuhanmu, yakin saja kau akan menerima penolakan.

Sekarang, kau membuat kegaduhan. Hal yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu dan selama ini dikerjakan orang lain, justru membuatmu berontak. Hanya karena yang selama ini mengerjakannya telah meletakkan handuk dan berhenti membantumu. Kau tahu kenapa? Semua karena tindakanmu sendiri. Kau tidak memiliki sedikitpun penghargaan pada mereka. Kau telah memperlakukan mereka dengan tidak adil. Karena kau hanya memikirkan egomu. Hanya fokus pada keinginanmu saja.

Terang saja itu membuatmu tersudut. Karena nama baik yang kau dapatkan selama ini, bukanlah dari hasil kerjamu. Kau takut, nama baikmu hancur karena dia telah berpaling darimu. Sungguh kasihan.

image

Sungguh, semestinya kau bertindak biasa sajalah. Jangan jadikan posisimu itu sebagai hal yang luar biasa dan menjadi tamengmu dalam melakukan tindakan seenakmu saja. Karena posisimu itu hanya amanah. Dia bisa datang dan pergi sesukanya. Hari ini kau di posisi itu, besok bisa orang lain yang mendapatkannya. Apa kau mau seperti mereka-mereka yang terkena syndrome #gagalmoveon. Sudah bukan di posisi itu, tetap melaksanakan tugas itu karena menganggap orang lain tidak bisa selain dirinya sendiri.

Akh.. tetaplah semangat, tetaplah bangga dengan posisimu dan apa yang kau miliki saat ini. Maksimalkan saja segala apa yang kau inginkan. Hanya jangan lupa mengingatkan dirimu, bahwa suatu saat bukan dirimu lagi di posisi itu, apa hal lain yang bisa kau lakukan atau bagaimana kau memaknai hidup ini. Karena hidup ini berputar. Tidak selamanya kita di atas, kadang kita di bawah tanpa kita sadari. Sehingga komunikasi yang baik, hubungan silaturahmi yang baik itu harus selalu kita jaga.

Terima kasih atas semua dagelan-dagelan tentangmu. Sungguh telah menceriakan hariku. Namun aku kembali menarik pelajaran dari semua cerita tentangmu. Semoga kau cepat sadar dan memperbaiki diri. Jangan sampai, begitu kau meninggalkan posisimu sekarang dan menjadi biasa kembali, kau tak sanggup melakukannya, karena keangkuhan hati telah menggenggam mu erat.

Salam hangat dariku dan selamat menikmati hari-harimu. Nikmati apa pun yang kamu miliki saat ini. Namun ingatlah pesan Rasulullah, “bekerjalah seakan-akan kau akan hidup selamanya namun jangan lupa beribadah seakan-akan besok ajal akan menjemputmu karena hanya amalan lah yang akan menemanimu menghadap pada sang Khalik, Penguasa Langit dan Bumi serta seluruh isinya”.

image

la_vie

Revitalisasi Perjuangan Luwu 1946

Aku mendapat kabar bahwa peringatan Hari Jadi Luwu dan Perjuangan Rakyat Luwu akan dimeriahkan oleh atraksi Sukhoi dan terjun payung oleh TNI. Rasanya ingin sekali pulang. Namun satu kegiatan yang tidak kutemukan dalam rundown kegiatan yakni seminar, kembali mengurungkan niatku pulang ke Luwu Timur.

image

Entah mengapa, seminar tidak menjadi bagian dari kegiatan-kegiatan penting di kampungku. Padahal harapanku, dengan adanya seminar itu, bisa melahirkan rekomendasi-rekomendasi yang dapat mendukung proses pencapaian tujuan yang diinginkan.

Misalnya Festival Danau Matano menuju Warisan Dunia. Tentu hasil rekomendasi seminar atau workshop akan sangat mendukung, sebagai catatan risalah hasil diskusi panjang. Namun kegiatan itu justru dihilangkan menjelang pelaksanaan kegiatan. Demikian juga dengan keinginan untuk membentuk Provinsi Luwu Raya. Tentu saja rangkaian proses ke arah pembentukan provinsi itu dapat di dukung oleh rekomendasi seminar atau workshop. Juga dihilangkan saat akan pelaksanaan kegiatan.

image

Entahlah, mengapa aku melihat bentuk-bentuk perayaan penting di kampungku, lebih condong ke arah hura-hura. Hanya memuaskan mata sejenak yang kemudian kenikmatan itu akan hilang begitu saja. Mungkin aku salah memaknainya. Tapi kulihat tidak ada upaya mendukung pada pemanfaatan event sebagai sebuah wadah menyampaikan maksud atau pesan yang tersurat yang lebih konkrit.

Ternyata harapanku justru terpenuhi di ibukota. Undangan dari Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) menjadi pemuas dahagaku. Seminar budaya Tana Luwu menjadi jawab dari harapanku. Bahkan menghadirkan tokoh Tana Luwu yang dinantikan Andi Anthon Pangerang. Beliau dipanel bersama budayawan Betawi Ridwan Saidi, Budayawan Nasional Anwar Gonggong dan juga menghadirkan Mayjen TNI (Purn) Dr. Putu Sastra Wingarta dalam konteks bahasan Bela Negara dan Kewaspadaan Nasional Rakyat Luwu atas ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

image

Seminar Sehari ini berlangsung di Gedung Lembaga Sensor Film, Jakarta Selatan. Tepat dilaksanakan usai kami melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Ada lima tokoh sentra Tana Luwu yang dimakamkan di TMP ini. Pertama-tama kami berziarah ke makam Alm. Yusuf Setya, orang pertama yang menembak pada perlawanan rakyat Luwu 23 Januari 1946. Lalu kami ke makam Alm. Kapten Andi Abdul Azis Malebbi (1999), Alm. Kolonel HR MS Dawoed (1993), Alm. Herman Rante dan Alm. Laksamana Rudolph Kasenda.

Akh, mengapa nama-nama itu tidak pernah kami dengar di Tana Luwu? Mengapa hanya para sepuh dan keluarga yang mengetahui perjuangan heroik yang mereka lakuķan untuk NKRI? Mereka adalah pejuang yang tidak menuntut balas jasa, tetapi dengan mengenang mereka tentu dapat meningkatkan kecintaan kita sebagai generasi muda akan Tanah Air kami, menumbuhkan rasa persatuan dan harapan untuk melanjutkan perjuangan mereka dalam memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan dan penindasan.

Bung Karno pernah mengingatkan, “Jangan pernah melupakan sejarah”. Tentu.. karena sejarahlah yang membentuk kita hari ini. Bagaimanapun bentuk sejarah itu.  Namun sejarah itu pasti akan terputus jika tidak disampaikan kepada generasi muda pelanjut. Sejarah itu hanya akan menjadi kenangan jika nilai-nilainya berhenti pada pelakunya saja.

image

Sebagaimana terhelaknya saya ketika mendengar dari budayawan Betawi tentang power system yang menjadi kedigdayaan abad Tana Luwu yang tidak pernah diceritakan secara nasional. Tentunya lebih karena “Tidak mudah mencari tempat Luwu dalam sejarah, karena sumber-sumber tertulis hampir tidak ada” gusar Ridwan Saidi.

Padahal jika kita merujuk pada sejarah-sejarah kerajaan di Sulawesi Selatan sebagaimana yang di tuliskan dalam Naskah I La Galigo (Sure’ Galigo) tentang penjelasan silsilah Raja-Raja Luwu selama kurleb 5 generasi pertama. Dimana mereka memiliki hubungan geologis dan sosiologis antara Pajung atau Raja-Raja Luwu dengan berbagai Raja lainnya di Nusantara ini. Seperti yang dijelaskan Andi Anthon Pangerang.

image

Merujuk pada makalah Andi Anthon Pangerang disebutkan, Kronik Kedatuan Soppeng menyebut Raja-Raja atau Pajung Luwu sebagai pendahulu Raja-Raja Soppeng, demikian pula kronik Kerajaan Bone. Dalam kronik Kerajaan Gowa, Kerajaan Gowa pertama kali diperintah oleh Batara Guru, sebelum Raja Gow pertama Manurungge Ri Tamalate. Pun kronik Gorontalo yand dipimpin oleh Wadeng atau Wadda.

Hal yang sama juga berlaku di Bima yang merupakan keturunan dari Sawerigading, Batara Lattu dan Batara Guru dari Kedatuan Luwu, di kerajaan Buton, Muria, Enre, dll. Bahkan hubungan dengan  Kedatuan Luwu juga sampai ke kerajaan Menpawa, Sambas, Pontianak di Kalimantan Barat, ke kerajaan Riau dan Jambi di Sumatera bahkan beberapa kerajaan di Semenanjung Melayu. Hal inilah yang meyakinkan Andi Anthon Pangeran sehingga menyebut Sure’ Lagaligo sebagai Naskah Pra Sejarah selain melihatnya sebagai Naskah Mythologi Religi dan Naskah Karya Sastra.

Sementara penjelasan Mayjen TNI (Pur) Putu Sastra Wingarta lebih menitikberatkan pada integrasi bangsa. Bagaimana melihat revitalisasi nilai kejuangan Rakyat Luwu 1946 sebagai suatu kesatuan untuk Integrasi Bangsa. Perlunya menanamkan nilai-nilai kesatuan, solidaritas NKRI sehingga terwujud masyarakat yang adil dan sejahtera dalam payung keadilan. Karena ancaman terbesar bagi bangsa Indonesia saat ini adalah disintegrasi bangsa, yang perlu dikelola dengan hati-hati sejalan dengan pluralitas berdasarkan warisan budaya, agama, bahasa, sejarah dan tradisi.

image

Pernyataan-pernyataan panelis ini dikunci oleh budayawan Anwar Gonggong, yang sempat juga beradu pendapat dengan Ridwan Saidi tentang pembohongan publik rekam jejak sejarah Indonesia, dimana kadangkala kita sendiri tidak mengerti makna ketika menyampaikan sebuah latar sejarah. Sehingga kita hanya bisa mereka-reka yang terjadi di masa lalu. Banyak sejarah yang tidak tercacat, hanya tersimpan pada benak sang pelaku. Meskipun itu diceritakan secara turun temurun, tetap saja tidak bisa menjadi acuan sampai dia didukung dengan bukti-bukti konkrit.

Sehingga menjadi peer kita bersama, bagaimana sejarah kedigdayaan peradaban Luwu ini harus diajarkan kepada generasi muda kita karena pendidikan dan kebudayaan itu tidak bisa dilepaskan. Mereka harus seiring sejalan. Karena Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai Budayanya. Kita bisa saja mempelajari budaya lain, bisa saja menciptakan budaya baru dari sistem.pencampuran budaya seperti halnya akulturasi tetapi inti nilai budaya yang kita miliki harus tertanam sebagai cikal bakal budaya itu sendiri.

Sebuah mangga, meskipun ditanam dengan metode biji, cangkok maupun tanam silang dan menghasilkan beraneka ragam jenis mangga, tetapi tetaplah dia sebuah mangga. Sampai kapanpun, dia adalah mangga.

image

#catatanvie

la_vie

Lisa Malili

Ingin mendulang sukses di ibukota, gadis 16 tahun itu menjejal kemampuan olah vokalnya untuk bergabung dengan kontes dangdut Primadona MNC TV. Diapun melalui berbagai tahapan seleksi, dan berhasil menyingkirkan ribuan calon peserta lainnya dan menuju ibukota bersama 7 peserta lainnya dari Makassar, Sulawesi Selatan.

image

Dia dipanggil Lisa, singkatan dari Nurhalisa. Menyanyi merupakan passion atau mimpinya. Apalagi dengan genre dangdut rock. Wow.. makanan sehari-harinya bersama group musik Timampu, Kec. Towuti Kab. Luwu Timur Sulawesi Selatan. Hehhehehe…

Awalnya aku hanya melihat beberapa foto dan postingan  beberapa kawan di media sosial terutama facebook. Hingga akhirnya, aku bisa bertemu dengannya secara langsung di kontes Primadona MNC TV, studio 9 RCTI Kebun Jeruk Jakarta.

Bersama rombongan Srikandi Luwu Timur, kami diberi kesempatan untuk menyaksikan secara langsung penampilan Lisa. Hanya sayang, bahagia itu seketika berubah ketika tak seorang pun mentor baik Denada maupun Nita Talia memilihnya, sehingga dengan berat hati, Lisa harus pulang.

image

Awalnya seh tidak ada cerita bagus yang mengcover kejadian itu. Kami pulang dengan kecewa. Rasa marah dan kecewa itu bahkan menghiasi malam sehingga kami tiba di mess dan beristirahat. Apalagi, pendukung Lisa lah yang paling banyak di studio dan terheboh.

Ingin mengurai sedikit kekecewaan itu, keesokan harinya, kami menjemput Lisa yang juga membawa temannya Novi, menikmati ibukota. Kami membawanya melihat Taman Impian Jaya Ancol. Berhubung perut keroncongan, kami rehat sejenak di Bandar Djakarta. Tentu saja hidangan laut menjadi pilihan dan kepiting merupakan makanan kegemarannya.

image

Tapi ternyata bukan hanya makan, tante yang juga guru menyanyi Lisa, Awi, sempat membuat heboh dengan penampilannya di live music Bandar Djakarta. Tidak tanggung-tanggung, lantunan vokal dangdutnya membuat beberapa pengunjung Bandar Djakarta berjoget bahkan meminta lagu tambahan.

Usai makan, kami menyempatkan diri melihat Ancol dari ketinggian dengan menggunakan kereta gantung Gondola. Awalnya mereka ketakutan, tapi setelah mulai merasa nyaman, mereka malah sibuk mengabadikan setiap moment. Tidak banyak yang dapat kami lakukan karena senja mulai menyapa.

image

Sayangnya hujan, padahal  niatnya ingin singgah ke Monumen Nasional (monas). Akhirnya kami lanjut shopping di Grand Indonesia. Juga ke ITC Kuningan dan Ambassador mencari oleh-oleh. Sebelum istirahat, kami sempatkan menemui para sahabat dan rekan kerja Lisa yang juga datang memberikan support jauh dari Timampu dan Towuti Luwu Timur.

Terjawab sudah, lagu yang disebut-sebut karama atau tidak cocok untuk Lisa, ternyata dinyanyikannya dengan mantap malam itu. Akhhh entah mengapa malam penampilan Lisa di ajang Primadona MNC TV itu sangat mengecewakan, padahal dalam kesehariannya, dia anak yang ceria, suaranya lantang dan bagus, cengkoknya bagus, penampilannya juga tidak kalah, apalagi setelah melakukan hair extension. Sayang, belum berkesempatan menjajal kemampuannya dengan maksimal.

image

Tapi jangan khawatir Lisa.. usiamu masih sangat muda. Waktumu masih panjang. Masih banyak kesempatan yang akan menyambutmu untuk masa depan yang lebih cerah. Doa kami bersamamu adik manis. Insya Allah…

la_vie

Perempuan itu…

Namanya seperti nama bunga. Dia cantik namun sedikit tomboy. Ketika berbicara, dia sanggup membuat mata tertuju padanya. Entah karena berat suaranya, kelembutannya, atau kata-kata yang mengalir dari bibirnya.

Aku mengenalnya beberapa waktu lalu. Tapi kami menjadi terpisah, kami tak pernah berjumpa apalagi bercengkerama. Namun hari ini, kembali aku mendengar suaranya. Meskipun hanya lewat resonansi suara, dia kembali mengingatkanku akan untaian cerita yang terserak. Hanya karena sebuah pesan singkat yang diterima kekasihku yang tak sengaja kubaca dari jauh. “Dimanaki sayangku”. Dua kata sederhana namun membuatku bertanya kenapa ada pesan seperti itu?

Sungguh awalnya aku tak menaruh curiga, tapi ingin kubaca baik-baik sehingga aku meminta telepon selulernya. Namun kekasihku tak bersedia memberikannya sehingga aku pun berusaha merebutnya. Memang tak berapa lama, dia menyerahkan telepon genggamnya padaku. Namun ketika aku mencari pesan yang sekilas ku baca tadi, pesan itu sudah tak ada. Dia sengaja menghapusnya. Lalu aku mengecek nama pengirim pesan, dan ku lihat ada tiga nomor kontak dengan nama dasar yang sama dengan nomor berbeda. Aku tak percaya, tapi rasa penasaran membuncah dalam dadaku.

Kucoba mempertanyakan, alasan pesan itu di hapus, kekasihku yang baik pun menjelaskan itu bukan apa-apa. Hanya pesan biasa saja yang sering dikirimkan perempuan itu tapi tak pernah diindahkannya. Lalu dia mengambil kembali telepon genggamnya. Aku tak mampu berkata, hanya titik air mata yang membuatku menjauh darinya. Diapun berkata, tidak ada hubungan apapun dengan wanita itu, membuaiku dengan kata manis. Entah apa yang bisa dipercaya, aku hanya berlalu dengan sebuah rasa. Lalu aku tenggelam dalam gemerlap ibukota, meninggalkannya dalam bisu

Seperti biasa, aku tak bisa dijanji. Bertemu lagi dengan kekasihku, aku memintanya menelpon perempuan itu. Tapi dia bersikukuh tidak ada alasan menelponnya karena selama ini tidak memiliki hubungan apa-apa selain bisnis. Biasanya aku langsung percaya ucapannya, namun kali ini, semakin menimbulkan kecurigaanku atas apa yang terjadi.

Akhirnya aku meminta tolong pada seorang kawan untuk mengirimkan nomor telpon perempuan itu. Setelah menerimanya, aku minta telepon genggam kekasihku, mencari nama perempuan itu dan benar semua nomor teleponnya telah hilang, dihapus. Wow, semakin besar rasa penasaranku, akhirnya aku coba menekan nomor telpon yang diberikan kawanku, walhasil nama perempuan itu memang tidak muncul lagi, tapi berganti dengan nama perempuan lain.

Lalu aku bertanya siapa nama perempuan baru itu. Dia menjelaskan bahwa itu masih keluarga, anak saudara di kampung. Mungkin dia berharap aku percaya dan dia merebut telepon selularnya dari tanganku. Dengan mantap ku telpon perempuan itu dengan teleponku sendiri. Dia menjawab dan bertanya kenapa aku menanyainya, apakah aku istrinya? Dia pun menutup telponku.

Sungguh luar biasa permainanmu kekasihku sayang. Kebohongan yang nyata yang kau ungkapkan sendiri di hadapanku. Kalau memang tidak ada hubungan yang khusus, hanya bentuk ungkapan sayang biasa, kenapa pesan singkat itu harus kau hapus di hadapanku, sementara jelas-jelas aku baca di depanmu.

Kenapa pula harus kau hapus nomor kontakmu itu, parahnya kau ganti dengan nama perempuan lain di handphonemu. Sungguh luar biasa caramu membohongiku kekasihku. Meski demikian, kau tetap berusaha membuatku percaya bahwa kau mencintaiku, menyayangiku. Untuk apa kekasihku?

Tidak kah kau sadar betapa aku justru sangat ingin lepas darimu, apalagi dengan kelakuanmu yang seperti ini. Jangan kau pikir laki-laki itu hanya dirimu saja.

Aku memang menyesal telah mengenalmu kekasihku. Namun penyesalan yang paling dalam yang aku rasakan bukanlah karena telah membukakan hatiku padamu setelah melalui bermacam kondisi. Tapi, karena selama ini aku terlalu bodoh. Aku hanya media yang kau gunakan untuk menutupi hubunganmu dengan wanita itu di keluargamu. Sehingga akulah yang mendapatkan teror dari keluargamu selama ini. 

Memang Allah SWT yang Maha Tahu atas segalanya. Inilah jawaban mengapa selama ini hatiku tak pernah bisa menerimamu sepenuhnya. Inilah jawaban mengapa begitu berat aku menerima pinanganmu. Perempuan itu telah datang dan memperlihatkan wujud aslinya di depanku. Perempuan menikah itu, yang selama ini telah menjadi pahlawan di keluargamu, yang telah membuatku menjadi cibiran dimana-mana.

Sungguh luar biasa perlakuanmu kekasihku. Tapi aku berserah padaNya. Tak ada sehelaipun daun akan jatuh tanpa sepengetahuanNya. Apalagi semua yang terjadi padaku. Mungkin ini cara Allah SWT mengajarkanku tentang kehidupan. Aku yang telah berusaha menerimamu, berusaha menerima takdirku untuk melanjutkan hidup bersamamu, ternyata Allah SWT pula yang telah memperlihatkan cerita sesungguhnya kepadaku.

Allah SWT adalah pemilik segalanya, penggerak apa yang di kehendakiNya. Aku hanya insan biasa yang tiada daya dan upaya tanpa pertolongan bimbinganNya. Alhamdulillah jawaban itu telah kutemukan, dan aku siap menyongsong tahun yang baru dengan semangat dan hatiku yang berbinar. Dan untukmu kekasihku sayang, buku ini telah aku tutup dengan hamdalah.
الْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن 

#perempuanitu #resolusi2016

la_vie

Kepo

Saya tuh heran yah.. makin kesini koq ya semakin kepo. Makin banyak temen makin kepo. Makin kurang kegiatan ya koq makin kepo. Padahal kadang-kadang kepo itu ngeselin bener ga seh???

Contohnya, ada temen yang suka banget diusilin kawannya dengan istilah kami “capturesend”. Asli bener-bener kepo pengen tau kenapa dia melakukan hal itu. Emang ga ada kerjaan lain selain monitor status orang trus di “capture” lalu di “send” ke seseorang yang juga kepo hahahhaha.

Nah yang aku bingung karena aku juga jadi kepo dengan kelanjutan ceritanya, sebagaimana keponya aku dengan kisah tentang kampungku. Kepo tentang teman-temanku yang sedang menikmati kehidupan mereka, kepo dengan sahabat-sahabat yang sibuk dengan kegiatan mereka, keluarga mereka, kerabat dan kawan-kawan mereka.

Nah parahnya lagi, ke-kepo-an ku sempat membuatku hampir malu semalu-malunya, karena ternyata pertanyaan itu hanya untuk alternatif kegiatan.. untung saja pertemuannya jadi, kalo ga jadi, malu lah aku karena telah lancang ber-kepo-ria hahahhahha.

Niwey busway, sebenernya seh juga ada koq sisi positif ke-kepo-anku. Karena aku jadi tau dan bisa mengerti situasi yang terjadi, melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda dan bisa mengambil pelajaran daripadanya. Sehingga aku bisa tidak langsung menjudge apapun yang terjadi. Meskipun kadangkala harus melewati ketegangan yang akhirnya tetap bisa membuatku tersenyum.

Hmmmmm, apakah salah jika aku kepo? Tapi kalau ga kepo, gimana bisa up-date yak hahahhaha… kusebut ini sebagai jurus pembelaan diri, dari rasa ke-kepo-an itu sendiri. Tabek…

la_vie