Kunjungan Balasan Ke Johor

Muhibah Kedatauan Luwu Day-3

Gaduh, begitu aku membahasakan apa yang kami alami semalaman. Rasa tak nyaman, lapar, emosi yang membuncah di dalam dada. Entah telah berapa kali aku pergi bersama rombongan, baru kali inilah aku merasakan ketidaknyamanan yang menyebabkan lidah menjadi kelu dan berucappun terasa linu. Akh, andai hari itu dapat kuputar, kuingin bahagia itu menjadi temanku.

“Kita di negeri orang, bersabarlah! Semua itu ujian” pintaku pada hatiku yang sedang gundah. Entah berapa banyak istighfar terucap dari bibirku, dari relung batinku yang paling dalam. Entah berapa banyak doa dan al fatihah yang aku bacakan kiranya dada sesak ini dapat merongga. Namun kenyataan membawaku pada sebuah asa, bahwa kita jalan bersama, kita melangkah bersama, telah kita mulai sebuah perjalanan, dan akan kita akhiri bersama, layar telah terkembang, pantang surut kita ke tepian, hingga marwah menjadi jawaban.

Jemputan telah tiba, kami semua bergerak menuju pusat Singapore. Hari ini hari ketiga perjalanan muhibah kami. Kami diberikan waktu untuk berpose di bersama pokem Singapura sebelum berlanjut ke Johor. Walhasil, entah berapa kutipan kami ambil, terkenang masa kamera menggunakan roll film, tentu tidak akan ada ribuan gambar yang akan terekam, karena kami akan sangat hati-hati memilah moment  yang akan diabadikan.

13226916_802524623182614_97983903769115893_n

Belum puas rasanya. Namun perjalanan harus dilanjutkan. sehingga kami pun berangkat. Perjalanan Singapore-Johor ditempuh cukup jauh, apalagi kami harus berhenti sejenak melalui imigrasi keluar dari Singapura dan masuk ke Malaysia. Pengalaman yang unik tentunya, karena ketika keluar Singapura, kami hanya diminta membawa passport. jadi teringat saat kami masuk kemarin hahaha, kali ini tidak banyak pertanyaan, hanya stempel dan pergi. Tapi begitu kami masuk imigrasi Malaysia, mesti batenteng koper pula hehehe, untuk naik lift dan eskalator. coba tidak, huaaaa, mana tahan…

Setelah melalui segala proses imigrasi, akhirnya kami melanjutkan perjalanan dan tidak sedikit siang di Johor. Sedikit bernafas lega, kami ada waktu sejenak untuk meluruskan badan, sebelum kami harus bersiap-siap menuju tempat pertemuan berikutnya.

Hahaha, rupayanya travel yang menjemput kami tidak mengetahui lokasi kediaman pribadi Dato Seri Tengku Baha Ismail di Batu Pahat. walhasil, bukannya tiba di kediaman, kami justru masuk ke perkebunan sawit, kebayang deh kalau ada orang kampung yang bertemu kami, lengkap dengan pakaian adat dan penari hahahah.

20160516_212556

Sudah cukup malam kami tiba di kediaman Dato Baha Ismail dari Perhimpunan Waris Opu Daeng Lima. Namun penuh semangat beliau menjemput kami. Luar biasa penyambutan yang kami terima. Kami disambut pencak silat Melayu Dari Kumpulan Dato Nazri Waris Megat SriRama (Waris Laksamana Bintan).

13254555_10204586098132436_2780552673257307525_n

Sebelum jamuan makan malam, kami dihantarkan melihat ruangan pertemuan Dato Baha Ismail, yang penuh dengan beragam cinderamata. Namun sedikit terkejut, ternyata yang menyambut dan melayani kami, adalah puter-puteri Dato Baha Ismail sendiri, bukan pelayan pada umumnya. Subhanallah…

13255923_802057336562676_9153491801696177343_n

Dalam perjamuan itu, Dato Seri Tengku Baha Ismail memberikan penghargaan atas kunjungan balasan Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau bersama Permaisuri, Opu Balirante Profesor Andi Ima Kesuma Opu Da Teriawaru II dan rombongan lainnya. Dan tentu saja kami pun senang, karena kami dapat menikmati jamuan santap malam dengan perasaan gembira, karena tuan rumah pun senang.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Penyengat yang Menyengat

Muhibah Kedatuan Luwu Day – 2

Kondisi capek dan excited bercampur baur, sungguh tak ingin membuka mata. Namun karena kawan-kawan sekamar yang cantik-cantik ini telah bangun dan bersiap-siap, akhirnya akupun mengangkat badan dan membasuh diri. Hari ini, kunjungan kedua kami di Kepulauan Riau. Rencananya kami akan naik Ferry ke Pulau Penyengat lalu kembali ke Tanjung Pinang dan berganti Ferry menuju Singapura. Pulau Penyengat merupakan pulau yang berjarak sekitar 6 kilometer di seberang kota Tanjung Pinang, ibu kota Kepulauan Riau.

Inilah jembatan yang menjemput kami di Pulau Penyengat. Sungguh cantik, dengan perpaduan Hijau dan Kuning. Sudah menanti keluarga besar Zuriat dan Kerabat Kerajaan Riau Lingga yang kemudian menghantar kami ziarah ke Makam Almarhum Raja Haji Fisabilillah serta kerabat Kerajaan Riau Lingga.

20160515_072452

Makam yang kami kunjungi berada dalam sebuah kompleks. Mula-mula rombongan diarahkan ke makam Raja Hamidah (Engku Puteri), Permaisuri Sultan Mahmud Shah III Raiu Lingga (1760-1812). Usai memanjatkan doa, kami pun mendengarkan penjelasan bahwasanya Raja Hamidah adalah istri dari Sultan Mahmud di abad ke-18. Pulau Penyengat ini adalah mas kawin pernikahan mereka. akh.. kisah cinta yang luar biasa. Pikiran saya pun melayang membayangkan prosesi ijab Qobul pernikahan mereka, Sultan Mahmud menyebutkan:

“Saya terima nikah dan kawinnya Engku Putri Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah, dengan mas kawin sebuah pulau beserta isinya dibayar tunai…”

 

Subhanallah… hehehe… meski romantisme kisah cinta Raja Hamidah dan Sultan Mahmud Shah III lebih mengisi benakku, namun kisah lain tentang pulau penyengat ini pun sempat membuatku sedikit berhati-hati dalam melangkah. konon, pulau ini adalah pulau persinggahan untuk mengambil air tawar, hingga kemudian seorang saudagar tersengat binatang (sejenis lebah) sehingga rakyat menyebutnya pulau Penyengat, meski Belanda menjulukinya Pulau Indera dan Pulau Mars, yang kemudian dirangkai menjadi Pulau Penyengat Inderasakti.

Kami juga berkesempatan berziarah ke makam Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad, yang merupakan pujangga kerajaan. Raja Ali Haji yang merupakan keturunan kedua (cucu dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Riau Lingga,  terkenal sebagai pencatat dasar-dasar tata bahasa melayu dalam buku Pedoman Bahasa yang menjadi dasar Bahasa Indonesia.Selain itu, Raja Ali Haji juga terkenal dengan mahakaryanya, Gurindam Dua Belas (1847) yang merupakan Kitab Pengetahuan Bahasa berisi syai-syair dalam sejarah Melayu. juga terkenal dengan bukunya berjudul Tuhfat al-Nafis (Bingkisan Berharga, tentang Sejarah melayu). dan masih banyak makam lainnya dalam kompleks itu.

 

img1463280449308

Usai ziarah makam, kami diajak mengunjungi Mesjid Raya Sultan Riau. memasuki pelataran mesjid ini, saya benar-benar terpukau. Langit yang biru dengan jejeran awan putih seakan tersenyum menyaksikan rombongan yang menapaki satu demi satu anak tangga menuju mesjid. cukup tinggi sih heheheh. tapi sungguh luar biasa. Hal yang saya perhatikan adalah betapa nilai-nilai sejarah itu tetap terpelihara, baik oleh masyarakat setempat, maupun oleh pemerintah setempat. terbayang perbedaannya dengan kampungku hehehe.

Tidak kalah kagum, ketika kami dipersilahkan memasuki bangunan mesjid yang konon, dibutuhkan telur berkapal-kapal untuk mendirikan masjid ini. Campuran putih telur dipakai untuk memperkuat dinding kubah, menara, dan bagian lainnya. Sedangkan kuning telurnya dipakai untuk mewarnai dinding dan kubah. Masjid ini didirikan oleh Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdul Rahmanyang berdiri pada 1 Syawal 1249 Hijriah atau 1832 Masehi. Berukuran 54,4 x 32,2 meter, dengan bangunan induk 29,3 x 19,5 meter, masjid ini disangga empat tiang dan 17 kubah, sesuai dengan jumlah rakaat shalat wajib dalam sehari semalam.

Subhanallah.. kami diperbolehkan melihat sebuah mushaf Al-Qur’an yang ditulis tangan oleh Abdurrahman Istambul, putra Riau yang dikirim belajar ke Turki pada tahun 1867 sebelum kami dijamu pada dua buah rumah sotoh di pelataran mesjid, yang biasa digunakan sebagai tempat singgah bagi para musafir dan juga tempat bermusyawarah.

Sayang kami tak dapat berlama-lama, karena perjalanan harus diteruskan. namun kesempatan yang singkat itu, sungguh memberikan pelajaran berharga bagi kami semua. terutama, pertalian kekerabatan antara Luwu dan Riau Lingga yang tak lekang oleh zaman.

20160515_104536

Menempuh perjalanan menggunakan Ferry, akhirnya kami tiba di Tana Merah Singapore. Sedikit lelah, namun karena ibu-ibu ini tetap bersemangat, kami pun tak mau kalah.

20160515_120856img1463352537304

Sedikit terhambat kami di Imigrasi Singapore. Ada yang baru masuk, sehingga memperlihatkan KTP dan Passportnya, dimana ada perbedaan huruf antara nama di KTP dan Passport. Namun yang paling lama pengurusannya adalah Pusaka Kerajaan Tana Luwu tidak dapat masuk ke Singapore karena tidak dilengkapi beberapa dokumen. Wah, ini menjadi pelajaran berharga untuk kita semua, Imigrasi Singapore sangat peka terhadap benda-benda tajam, meskipun itu adalah benda Pusaka. Meskipun pada akhirnya,  ada isyarat tak terucap yang menyebabkan benda pusaka itu tidak bisa mendampingi tuannya melanjutkan perjalanan. hiiii.. ngeri-ngeri sedap…. 😀

Keterlambatan dalam urusan imigrasi inilah, yang membuat perubahan dalam jadwal ketat yang harus kami ikuti. walhasil, kami harus melakukan tindakan-tindakan darurat sipil hahahahah, syukurnya, kami tetap dapat diterima dengan baik oleh Istana Kampong Glam Singapore.

FB_IMG_1463676312708

“Datu Luwu senantiasa berjalan di bawah naungan lellung yakni tenda atau payung kehormatan sebagai ciri Kedatuan Luwu. Selanjutnya, sebagai rangkaian perjamuan, sejumlah tari-tarian pun dihadirkan. Di antaranya Tari Pajjaga Makkunrai, Anak Dara Sulessana, Sumpunglolo Bugis Melayu. Rombongan penari sebanyak enam orang ini diusung langsung dari Makassar serta didampingi dua penabuh gendang dan satu peniup terompet,” tulis mba Ina, wartawan Republika yang turut serta dalam rombongan Kedatuan Luwu.

Rombongan Kedatuan Luwu pun diterima oleh Tengku Shawal Tengku Aziz di Istana Kampong Glam, Usai melakukan kirab, kami dijamu dengan atraksi silat dan menyaksikan Sumpah Arok yang dilakukan oleh Datu Luwu XL dan Tengku Shawal Tengku Aziz atau Sitanjeng (persaudaraan) dalam bahasa Bugis. Suasana sore itu menjadi begitu sakral dan memberikan getaran yang saya sendiri tidak bisa memahaminya. Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau menjelaskan, “Itu adalah simbol bahwa dua kerajaan besar yang saling ikrar untuk tidak saling menyerang dan ikrar bahwa mereka adalah bersaudara.”

Seiring dengan itu, Tengku Shawal menjelaskan bahwa Sumpah Arok ini adalah yang pertama kali dilakukan di Istana Singapore. Karena sebelumnya, sumpah yang dilakukan masih dalam konteks kerajaan Melayu. Sumpah ini pertama kali dilakukan tahun 1720 – 1722 oleh Raja Sulaiman (anak bendahara Tun Abdul Jalil) yang “bersekutu” dengan bangsawan Bugis (Opu-Opu Bugis (Luwu) Lima Bersaudara) untuk merebut kembali kekuasaan Johor Riau atas Raja Kecil dan sering dilakukan kembali…untuk mempererat hubungan Melayu dan Bugis..sehingga tahun 1812..  saat Belanda dan Inggris mulai menguasai daerah Asia Tenggara, termasuk Melayu dan Indonesia.

FB_IMG_1463676378243

“Saya sebagai keturuan ke 10 langsung dari Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah, bermaksud melanjutkan kembali ikatan persaudaraan Melayu Bugis (Luwu) bersama Datu Luwu XL,” tegas Tengku Shawal Tengku Aziz.

FB_IMG_1463676397460

Sungguh indah tali ikatan kekerabatan yang terjalin antara Kedatuan Luwu dan Keturunan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah yang juga bergelar Raja Sulaiman (Sultan Kesultanan Riau Johor Pahang) di Singapura. Semoga harapan dan cita-cita Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau untuk menguntai kembali diaspora Kerajaan Luwu mendapatkan ijin, ridha dan kehendakNya, Aamiin ya rabbil alaamiin….

Gong Xi Fa Cai 2014

More affordable ticket offered by international airplanes giving the wider chance for travelling. That is why I decided to take another short travel to Singapore early this year. Besides, I wanna witnesses the beauty of Chinesse New Year celebration in Singapore.

image

Arrived by midnight at Changi Airport we continued to the city. This is one of the luxury journey I had since I got the chance to stay at Swissotel the Stamford, the tallest hotel in Singapore.

image

I also went to Sentosa Island, seeing the great Song of The Sea Performance which is always amaze me no matter how many times I see it.

image

Another thing is I had the chance to see the Chinesse New Year Celebration at China Town.

image

image

Gong Xi Fa Cai
See you in my next trip…