HUJAN : relasi antara Maksiat & Taubat

Pada zaman Nabi Musa ‘Alaihis-Salam, bani Israel ditimpa kemarau yang berkepanjangan. Mereka berkumpul mendatangi Nabi Musa, mereka berkata, “Wahai Nabi Allah, berdoalah kepada Rabb-mu agar Dia menurunkan hujan kepada kami….!”

Maka berangkatlah Nabi Musa ‘Alaihis-Salam bersama kaumnya menuju padang yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang.

Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh, penuh debu, haus, dan lapar…

Nabi Musa berdoa,

‎إلهي … أسقنا غيثك … وانشر علينا رحمتك وارحمنا بالأطفال الرضع … والبهائم الرتع والمشايخ الركع اليك …

“Ilaahi …! Asqinaa ghaitsak … Wan-Syur ‘alaina rahmatak … war-Hamnaa bil-athfaalir-rudhdha’ … wal-bahaaimir-rutta’ … wal-masyaayikhir-rukka’ ilaika …”

“Tuhanku… Turunkanlah hujan kepada kami… Tebarkanlah Rahmat-Mu kepada kami, kasihilah kami demi anak-anak yang masih menyusu… Demi hewan ternak yang merumput, dan demi para orang-orang tua yang ruku’ kepada-Mu …”

Namun langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin kemilau. Kemudian Nabi Musa berdoa lagi,

“Ilaahi … asqinaa….”

Allah-pun Berfirman kepada Nabi Musa,

‎يا موسى أنى أكون بغيثكم و فيكم رجل يبارزني بالمعاصي أربعين عاما … فليخرج حتى أغيثكم …

“Wahai Musa … Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedang di antara kalian ada seorang hamba yang berma’siat kepada-Ku sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena sebab dialah Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian …”

Maka Nabi Musa-pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… Keluarlah ke hadapan kami, karena sebab engkaulah hujan tak kunjung turun …”

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan ke kiri, tapi tidak berani keluar ke hadapan manusia. Saat itu pula dia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud, dia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku, tapi kalau aku tidak keluar, maka hujanpun tidak akan turun…”

Hatinya gundah gulana, air matanya menetes menyesali perbuatan ma’siatnya, sambil berkata lirih, “Ya Allah… aku telah berma’siat kepada-Mu selama 40 tahun. Selama itu pula Engkau menutupi ‘aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku …”

Tidak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebalpun bermunculan, semakin lama semakin tebal dan menghitam. Dan akhirnya hujanpun turun …!

Nabi Musa pun keheranan dan berkata, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, padahal tak seorang pun yang keluar ke hadapan manusia”.

Allah berfirman,

‎يا موسى لقد تاب وتبت عليه،  منعت عنكم الغيث بسببه، وأمطرتكم بسببه …”

“Wahai Musa, dia telah bertaubat dan Aku telah menerima taubatnya, karena orang itulah Aku menahan hujan kepada kalian, dan karena dia pulalah Aku menurunkan hujan …”

Nabi Musa berkata,

‎ربي أرني أنظر إليه، ربي أرني ذلك الرجل

“Ya Allah…Tunjukkan padaku orang itu… Tunjukkan aku pada orang itu…”

Allah berfirman,

‎يا موسى … لقد سترته وهو يعصيني، أفلا أستره وقد تــاب وعـــاد إلي؟؟

“Wahai Musa, Aku telah menutupi ‘aibnya padahal dia bermaksiat kepada-Ku, Apakah sekarang Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia telah bertaubat dan kembali kepada-Ku?!”

Maasyaa Allaah …

Sumber: Kitab “Fii Bathnil-Huut”

la_vie

Advertisements

Ribut Banget, Brisik!!!

Pang ping pang ping, pengen banget rasanya keluar dari group ini. Ribut banget.. brisik… tapi kalau keluar jadinya ga update informasi dah. Trus kalo bertahan sebenarnya seh keganggu banget dengan semua update yang bertubi-tubi. Hmmm bagaimana yahh??

Mungkin sebenarnya ga masalah andaikata informasi yang disampaikan itu adalah kebenaran, hal-hal yang positif dan membangun. Lah ini, lebih pada saling menghujat, saling mem-bully, saling memojokkan bahkan mengarah pada fitnah dan black campaign semata.  Hmmmm.. kira-kira manfaatnya apa yah?? Belum lagi yang berkomentar itu bergelar guru, tokoh agama, ustdadz(ah), tokoh masyarakat, tokoh pemuda(i), tokoh perempuan, panutan dalam masyarakat hmmmmn menjadi ganjal dah…

Saya sering membayangkan, dalam moment-moment pemilihan umum, baik itu pemilihan presiden (Pilpres), pemilihan wakil rakyat seperti DPR/DPRD maupun DPD (Pileg) terutama Kepala Daerah (Pemilukada), para calon dan tim suksesnya berlomba-lomba membuat program yang positif di masyarakat. Saling iri dengan keberhasilan calon dan timses lain dalam menarik simpati calon pemilihnya, sehingga berlomba-lomba menciptakan inovasi-inivasi kreatif yang membangun.

Misalnya sekarang yang lagi bencana asap dimana-mana, pun latah di Luwu Timur. Nah para calon dan timsesnya ini membuat program penyiraman lokasi kebakaran, menjadi donatur penyuluhan lingkungan agar masyarakat tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar hutan, sosialisasi menjaga lingkungan dari tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab, sosialisi lahan-lahan rawan kebakaran karena kondisi lahan gambut, program menjaga hutan sebagai sumber penangkap air bagi kelangsungan hidup danau purba di Luwu Timur.

Nah.. kalau itu dilakukan pasti banyak simpati. Pun kalau mendengar keluhan masyarakat yang lagi latah membuka lahan untuk merica karena harganya lagi tinggi, paling tidak memberikan pendampingan pada petani selain berfikir tentang dampak ekonomi, juga berfikir tentang dampak lingkungan..

Hahhaha.. itu kerja pemerintah?? Benar.. lah.. bukannya maju sebagai calon bupati (calbup) / calon wakil bupati (cawabup) kan tujuannya mau menjadi bagian dari pemerintah daerah. Lah kalau program2nya sebelum menjadi kepala daerah sudah diterima oleh masyarakat kan berarti dukungan masyarakat untuk program itu sudah terbukti dan  bisa dilanjutkan terus toh…

Iya seh, itu memang semua terkait dana. Bener sekali.. tapi apakah tidak pake dana juga buat program-program sosialisasi lainnya bahkan black campaign sekalipun?? Apa tidak melihat itu sebagai program hambur-hambur duit semata?

Hmmm, kalo nda terima ide itu, bagaimana kalau program penyuluhan pertanian saja? Membantu program pemerintah yang sudah ada. Jadi masuk ke desa-desa bukan hanya sekedar mendengar keluhan masyarakat dan kemudian berjanji ini dan itu demi mendapatkan suara rakyat. Apakah tidak lebih asyik jika, rakyat dibantu dengan workshop-workshop, tentang keterampilan praktis mengolah tanah, program olah tani hidroponik, tentang bagaimana membentuk kelompok tani yang bisa menjadi pemasaran yang baik, bahkan, bagaimana cara pengelolaan dana hasil panen sehingga petani bisa survive hingga panen berikutnya. Lah, apa itu tidak memberikan dampak positif baik bagi calon maupun masyarakat? Namanya juga calon pemimpin daerah.. kan ada yang namanya affirmasi, berbahasa atau bisa juga berkelakuan seolah-olah sudah menjadi kepala daerah, dalam konteks positif tentunya hehehehe tidak hanya sekedar foto dengan seragam kepala daerah tentunya 😆 tapi yang paling penting Kerja… Kerja… Kerja…

Masih berat?? Bagaimana dengan program-progran lain misalnya, sponsorship kegiatan-kegiatan kemasyarakatan? Lomba-lomba pengetahuan, ketetampilan bahkan kecekatan sebagai langkah awal dari program-program yang ditawarkan setelah menjabat sebagai kepala daerah?

Kebayang saya.. kalau ketiga calon dengan timses dan fans fanatiknya saling beradu inovasi kreatif, maka Bumi Batara Guru ini akan menjadi lebih berkembang. Menjadi lebih maju, menjadi lebih sejahtera. Menjadikan pemilukada ini sebagai sebuah ajang kompetisi kreativitas tentu yang positif bukan yang negatif. Sedihnyaaa, melihat foto-foto calon yang di bully, yang dicorat-coret bahkan ada yang disobek dan dibakar.. kenapa bukan memasang foto masing-masing calon andalan yang sedang melakukan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan? Calon dukungan yang sedang bersuka cita bersama masyarakat atas keberhasilan dalam sebuah pencapaian misalnya.. akh… banyak lainnya..

Tapi apa daya… yang saya simak hanyalah gugatan-gugatan, hanyalah janji-janji manis, hanya mengumbar kesalahan dan kelemahan lawan, akh… padahal hal itu justru menggambarkan kekerdilan cara berfikir kita, melihat hanya pada hal-hal negatif saja. Sementara banyak sekali hal-hal positif yang dapat kita lakukan yang hasilnya akan jauh lebih bermanfaat. Hmmm mungkin saya salah dalam menilai, hanya saja saya berharap sesuatu yang lebih baik dan lebih nyata dari orang-orang yang mengaku pinter dan cerdas-cerdas itu dalam menyalahkan lawan mainnya.

Andai saja ribut itu, berisik itu bisa memberikan manfaat bukan mudharat, bisa memberikan kebaikan bukan sekedar pengumbar rasa dengki dan amarah semata. Karena, yang saya pikirkan adalah paska pemilukada. Usai pemilihan itu, mereka yang bertikai itu, mereka yang saling menghujat itu, mereka yang saling memaki itu, tentunya masih akan bertemu satu sama lain. Karena mereka sama-sama masih mencari hidup di bumi batara guru ini. Bisa jadi mereka adalah paman dan kemenakan, keluarga dekat. Bisa saja bertemu di kondangan-kondangan, tahlilan bahkan mungkin bisa besanan.. allahu alam bissawab..

Akh.. malam ini aku ingin istirahat, semoga malamku tak harus terganggu oleh pang ping pang ping yang ribut banget… brisik! Hmmm kata kawan sekaligus sahabatku, baban bantal, biarkan saja angin membawa pang ping pang ping itu menelusur hitamnya malam. Baban akan bersenandung serta membawaku berkelana di bawah alam sadar sehingga pang ping pang ping itu menjadi medley lagu pengantar tidur untukku… indahnyaaaaa khayalku…

#renunganvie

la_vie

Tentang Asap

Gila aja… seperti latah, kampungku juga ikut-ikutan memeriahkan rangkaian asap di udara. Ternyata bukan di Sumatera dan Kalimantan saja yang bisa, di kampungku Luwu Timur, di kaki pegunungan Verbeck juga tidak mau ketinggalan akhirnya diberitakan media tentang kondisi asap hasil dari pembakaran lahan.

Sungguh aneh tapi nyata. Kita sering berkoar-koar tentang kondisi di daerah lain, tapi membuat kondisi yang sama bahkan lebih parah di tempat sendiri. Seperti pepatah, tampak semut di ujung samudera sementara gajah di pelupuk mata tak tampak sedikitpun.

Sebelum-sebelumnya, kasus asap hanya terdengar di pulau Sumatera dan Kalimantan saja, yang bahkan sempat mempengaruhi hubungan antara pemerintah Republik Indonesia dan  Singapura juga Malaysia. Dan ternyata hal itu dikarenakan upaya pembakaran lahan yang dinilai sangat ekonomis oleh masyarakat Indonesia dalam program pembukaan lahan pertanian maupun ladang untuk perkebunan kelapa sawit.

Tak dinyana.. perbuatan ini justru mendapatkan perlindungan hukum dengan adanya peraturan pemerintah daerah setempat sebagai dampak dari desentralisasi otonomi daerah. Ketika pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk memberikan izin, maka dengan perhitungan dampak ekonomi tanpa mempertimbangkan dampak lingkungannya, izin pun diberikan.

Satu KK diberikan lahan 2 hektar yang dapat dibuka secara tradisional seperti dibakar, maka dari 100 KK menjadi 200 hektar lahan terbuka untuk kelapa sawit. Ekonomi masyarakat setempat naik, pengusaha mendapat 200 hektar lahan secara murah karena sistem pembukaan lahan tidak memerlukan biaya yang banyak, Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat dan negara juga untuk dari nilai ekspor. Semua senang sampai akhirnya menangis, mengutuk bahkan sampai membully pemerintah pusat karena dampak asap yang ditimbulkan karena kondisi alamnya berlahan gambut dan makanan yang gurih penyubur penyebaran api.

Apakah kondisi ini yang kita harapkan di Luwu Timur? Karena nilai ekonomis, hutan yang menjadi penampung air danau tektonik kita dibakar hanya karena harga merica yang tinggi. Masyarakat hanya melihat, karena merica, mereka bisa seenaknya membakar hutan. Kita bicara tentang kemakmuran versus lingkungan. Siapakah yang akan  bertanggung jawab ketika tanah itu longsor? Ketika hutan itu terbakar dan meninggalkan luka karena korban seperti yang terjadi di Riau?

Apakah kita akan menyalahkan pemerintah daerah? Atau pemerintah pusat? Atau bahkan kepada perusahaan tambang PT Vale dengan isu tenaga kerja atau Corporate Social responsibility (CSR)? Sementara, kondisi itu kita ciptakan, kita biarkan, bahkan mungkin milik dari elite-elite di daerah.

Kita selalu meminta perusahaan-perusahaan raksasa seperti PT Vale untuk menjaga lingkungan kita, lantas mengapa kita sendiri yang merusaknya? Baru saja kita bisa bernafas dengan penanganan illegal lodging yang pada dasarnya hanya menebang pohon-pohon besar bernilai ekonomis di hutan, eh sekarang kasus pembakaran lahan, yang justru menghilangkan semua tanaman yang ada dibatas lahan.

Sungguh miris, ketika bercerita dengan kawan-kawan yang baru saja tiba dari Malili, ibukota kabupaten Luwu Timur, bahwa hutan kota di belakang kantor bupati Luwu Timur habis diludes api beberapa pekan laku. “Gunung Lampenai yang biasa kita lihat dari depan kantor Bupati sudah tidak nampak selain cokelat kehitaman,” jelasnya. Sedihku mendengarnya.

Begitulah kita, kadangkala, nilai ekonomis menjadi tumpuan sementara lingkungan kita hancur. Padahal lingkungan itu untuk keberlangsungan masa depan daerah kita sendiri, yang kalau tidak kita jaga, lantas, siapa?

#RenunganVie

la_vie

Ayo Ke Lutim

Perintah itu harus dilaksanakan. Meskipun sedikit malas, tetapi karena perintah, segala alasan pun terpaksa harus diabaikan. Tapi ternyata, perintah itu menjadi nikmat, ketika rasa malas itu dirubah menjadi positif dan dikerjakan dengan ikhlas.

Sosoknya dingin ketika pertama bertemu. Bicaranya tidak banyak. Hanya memperhatikan, tersenyum sekenanya, namun tetap terlihat kharisma dan bersahaja. Begitulah penilaian pertamaku bertemu Penjabat Bupati Luwu Timur, Irman Yasin Limpo yang juga merupakan adik dari Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo.

Usai menjemput beliau yang tiba bersama Kepala Bapedda Luwu Timur,  Kepala KPPT Luwu Timur juga ajudan dan rombongan lainnya di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, beriringan kami menuju Mess Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di Yusuf Adiwinata. Akh.. syukurnya kami menjemput dengan 2 kendaraan, sekiranya hanya kendaraan utama saja, tentu sedikit kalang kabut proses penjemputannya hehehehe.

image

Rupanya Pak Gubernur, kakak Pak Irman juga diundang mengikuti agenda Rapat Kerja di Istana Negara Jakarta siang itu, sehingga beliau menyempatkan untuk bersilaturahmi bertemu kakaknya terlebih dahulu di Mess Pemprov Sulsel. 

Pertemuan dengan Gubernur SulSel tidak begitu lama sehingga waktu masih cukup lowong sebelum menuju Istana Negara. Jadilah kami menyempatkan diri untuk ngaso sejenak di Starbuck Thamrin. Rupanya, beliau termasuk orang-orang yang senang berdiskusi dan nongkrong di warung kopi.

Walhasil, aku jadi ikut terlibat pada percakapan yang sangat menarik terutama terkait dengan ide-ide pengembangan Luwu Timur ke depan dengan tagline “Ayo ke Lutim”. Dalam kesahajaan beliau, banyak sekali ide-ide kreatif untuk masa depan tanah kelahiranku yang kupikir sejalan dengan mimpi-mimpiku selama ini. “Pucuk dicinta ulam pun tiba,” pikirku sedikit lebay hehehhehe.

image

“Pelaksanaan Festival Danau Matano itu harus kreatif dong. Kita harus menampilkan sesuatu yang berbeda, bentuknya semestinya paket, mulai dari sajian untuk pengunjung, atraksi sampai pada jenis pelayanannya,” ujarnya bersemangat menjelaskan tentang konsep Festival Danau Matano yang akan diselenggaran 28-30 November 2015 di Luwu Timur.

Beliau menambahkan bahwa konsep yang sebaiknya dilakukan adalah memberikan sebuah tawaran kepada pengunjung, bukan saja keindahan danau Matano nya, tetapi juga bagaimana sebuah kondisi internasional yang disajikan pada sebuah desa di pedalaman hutan di Sulawesi.

“Pengunjung kita jamu dengan tinggal di homestay atau di kontainer-kontainer yang fasilitasnya lebih lux dari kamar hotel. Pengunjung kita sajikan dengan hiburan dari artis lokal, hingga mancanegara. Beragam atraksi air di kejernihan danau Matano, bukan saja tradisional performance tetapi juga modern attraction. Kunjungan ke titik-titik keunikan danau Matano seperti “bura-bura spot” di desa Matano di seberang danau dari sorowako, gua bawah air yang cantik dengan stalaktitnya, penyelaman di lokasi ditemukannya benda-benda pusaka purba tanpa harus menyentuh mereka, mereka bisa melihat keragaman hewan-hewan air danau Matano yang unik seperti ikan purba Butini dan ikan endemik Opudi, seminar tentang Danau Matano dan keunikan Cascade dan Kompleks Danau Malili di Luwu Timur, bahkan sebuah tur tambang dimana pengunjung boleh selfie dengan latar ban truk tripple 7 (777) yang setinggi rumah, yang operatornya adalah perempuan serta membuka wawasan pengunjung bahwa dalam proses reboisasi pun revegetasi lahan purna tambang, tidak bisa kita mengembalikan hutan sekejap mata, tetapi membutuhkan proses yang lama, pengunjung dapat melihat bagaimana usia tanaman yang 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun, sampai ratusan tahun.

image

Akh, betapa beruntungnya Luwu Timur yang dipimpin oleh orang-orang yang sangat cerdas dengan visi pengembangan wilayah, bukan pemimpin yang hanya memikirkan kepentingan mereka semata, pikirku sambil menikmati kerenyahan tawa Bapak Penjabat Bupatiku.

Kekagumanku bertambah, ternyata, beliau suka berkelakar, dan dalam kelakarnya itu terselip harapan-harapan yang luar biasa untuk kampungku, meskipun beliau hanya akan menjabat sementara hingga Pemilukada serentak 2015 melahirkan pemimpin baru di Luwu Timur.

Akh, andai saja kuperturutkan kata hati dan kemalasanku, tentu kesempatan bertemu dan mengenal beliau kulewatkan begitu saja..

la_vie

Oh Malam…

Semburat merah perlahan menjelajah, merengkuh satu-persatu awan putih di cakrawala. Sesekali nampak awan-awan nakal yang menggeliat menampakkan dirinya dibalik pelukan cahaya mentari. Mencoba melepaskan diri, tak ingin masuk ke dalam jelajah dan bertahta pada gelapnya malam.

Akh malam.. betapa aku tak ingin bertemu denganmu. Masih perih rasa yang tak ingin kuceritakan kepadamu. Masih ingin aku bermain bersama awan-awan putih itu. Mengapa kau rebut waktu itu dari kami.

Andai bisa aku memperpanjang waktu. Sungguh aku ingin bertemu denganmu kala aku telah siap. Kala aku telah berdamai dengan hatiku. Kala bimbang ini telah terjawab dengan syahdu.

Karenaku dia telah pergi. Karenaku, duka itu tertoreh pada keluarganya. Karenaku… , akh… semua karenaku.

Berita bahagia yang ditunggu-tunggunya, justru menghantarkannya pada akhir kisah hidupnya. Berita bahagia yang justru membuatnya hilang dari keceriaan mereka yang mencintainya. Berita bahagia yang kemudian menjadi duka dan semua karena aku.

Oh malam.. sungguh aku tak ingin menemuimu. Masih ingin aku bermain bersama awan-awan putih itu. Bersama mereka aku melihat keceriaan, bersamamu aku melihat duka, airmata dan kepedihan. Maafkan aku yang tak ingin bersahabat denganmu lagi. Maafkan aku yang enggan bersamamu lagi. Karena kehadiranmu akan terus mengingatkanku padanya.

Namanya telah terpatri di hatiku. Rasa yang tak mungkin hilang oleh lekangnya waktu. Kepergiannya menyisakan sesak di dadaku. Sungguh, perangaiku menjadi siksaan yang baru. Semua karena kepergiannya yang adalah karenaku.

Oh malam.. bagaimana aku dapat berdamai denganmu??

#mengenangmu #inmemorian

la_vie

Maksud Hati…

Selalu terngiang di kepalaku.. kata-kata mantan Manajer HRD ku dulu ketika aku masih bekerja di perusahaan tambang Nikel di Sorowako.

“Jangan pernah mengambil keputusan apapun berdasarkan asumsi!”

image

Meskipun pada saat itu aku yakin sekali dengan apa yang aku kerjakan dan berontak ketika dinyatakan bahwa itu salah.

Namun akhirnya pelajaran itu mendidik aku untuk senantiasa bertanya memperjelas, ketimbang aku sok tau terhadap suatu kejadian lalu ternyata aku salah. Walhasil, aku lebih sering dikatakan bego, bodoh, tidak bisa diandalkan sehingga aku lebih suka melepaskan daripada bertahan pada suatu kondisi, meski aku sangat menginginkannya.

image

Keputusan itu tidak harus selalu keputusan yang besar dalam hidup ini. Bisa keputusan sehari-hari, misalnya pemilihan pakaian, pemilihan bahasa, pemilihan tindakan, keputusan untuk menghadiri suatu acara, dan banyak lagi yang intinya adalah keputusan yang kita ambil dari memilih dalam suatu kondisi dengan segala pilihan dan alternatifnya.

Contoh kecil ketika aku memutuskan menggunakan pakaian dinas dengan asumsi kegiatan itu dihadiri pak Menteri dan dilaksanakan pada hari kerja, tanpa bertanya lagi, aku mengenakan pakaian resmi padahal ketika menghadiri rapat, ternyata peserta diminta memakai batik.

Atau seperti kejadian, aku membayangkan, ketika pimpinan dijemput di bandara sekitar jam 6 sore, tentu perjalanan macet membuatnya lelah dan langsung menuju mess sehingga tidak sempat makan. Maka dengan senang hati kuhidangkan sajian santap malam. Namun ternyata beliau tiba di mess pukul 22.00 dengan kondisi kenyang. Maka dari itu makanan yang tersaji pun sia-sia. Sehingga pada kejadian berikutnya, dimana aku tidak siap apa-apa, pimpinan datang dengan belum makan, jadinya kita buatkan indomie saja hehehe

image

Banyak hal-hal kecil yang kita putuskan dalam hidup ini hanya berdasarkan asumsi tanpa suatu kejelasan. Karena kita menganggap keadaan itu akan sama dengan keadaan sebelumnya, padahal belum tentu demikian. Ada saja faktor yang mempengaruhi sehingga dampaknya beda. Dan bisa saja dalam.proses pengambilan keputusan itu, kita bisa bertanya untuk memperjelasnya.

Karena itulah, beberapa orang yakin bahwa sebenarnya aku sangat bodoh, aku dinilai lamban, tidak dapat mengambil keputusan, aku tidak kreatif, aku masih perlu belajar banyak dan pendidikan tinggi tidak membuatku pintar, justru membuatku semakin terbelakang.

image

Mungkin ada benarnya juga yak. Meskipun di awal aku menolak pernyataan itu. Aku sedih, kesal, marah karena mereka menyinggung pendidikanku, menyinggung posisi aku di kerjaan, menyinggung hal-hal yang sebenarnya tidak ada  sangkut pautnya dengan keputusan yang aku ambil. Hanya karena aku mempertanyakan pendapat mereka. Memperjelas kondisi yang mereka ciptakan sendiri.

Lantas.. mengapa itu menjadi masalah?

Jika kita menelusuri permasalahan-demi permasalahan, ternyata kebanyakan adalah bersumber pada komunikasi yang tidak efektif. Lantas, dimana ketidakefektifannya? Hehehe, terpulang kembali pada asumsi yang terbangun saat komunikasi itu tercipta.

image

Kecenderungan manusia adalah melakukan mental blok pada dirinya sendiri. Ketika bertemu dengan sebuah situasi, maka akan langsung terbayang pengalaman saat berada pada situasi yang sama di masa sebelumnya. Sehingga, jalur keputusan bisa menjadi sangat cepat, seiring dengan istilah ala bisa karena biasa.

Nah ketika kondisi itu masih sama, pelakunya masih sama, sifatnya juga masih sama, maka.. tidak akan ada persoalan. Namun ketika ada sedikit saja yang berubah, maka yang muncul adalah masalah. Nah bagi orang-orang tertentu, masalah itu bisa diselesaikan atau semakin dipertajam, kembali lagi pada jenis keputusannya.

image

Sama saja diriku. Ketika aku diberikan satu kebijakan untuk mengelola suatu dana. Perintah yang aku terima adalah, dana itu dikelola untuk keperluan operasional. Tapi yang terjadi ketika terjadi perubahan pucuk pimpinan adalah, kebijakan itu salah dan aku yang dipersalahkan karena aku menjelaskan dengan asumsi bahwa pimpinan yang baru sudah paham tentang kebijakan itu sebelumnya.

Dan ternyata, pimpinan yang baru memang sudah melakukan blok mental bahwa aku salah dalam mengelola kebijakan itu sehingga aku harus diberikan hukuman bahkan aku harus diganti.

image

Hahaha, banyak kasus kehidupan tidak sejalan karena kita melakukan mental block dengan asumsi. Lalu menjadikannya dasar dalam pengambilan keputusan, yang pada akhirnya, berujung pada penyesalan. Entahlah, kembali berpulang pada kita semua.. sasaran tujuan, dan akhir dari keputusan itu, menguntungkan kah… atau justru sebaliknya, merugikan..

Hanya saja, pemikiran positiflah yang akan membawa kita pada jawabannya, bisa saja itu merugikan, namun jika kita bisa melihat sisi positifnya, maka akan positif hasilnya, jika kita melihatnya negatif, maka yakinlah, biar dicarikan jalan keluar, sampai perang urat leherpun, tetap akan negatif… hehhehe.. selamat memikirkannya..

image

Walhasil, jadilah aku tergantikan, namun ketika aku kembali ke tempat itu dan melihat gerangan perbaikan apakah yang terjadi, ternyata kondisinya bukan membaik, malah memburuk. Wah, sedih, ingin membantu, namun apa daya, kemampuanku terbatas.

image

Images source: googling

la_vie

Sejarah itu dimana

Kita ada karena ada sejarah yang telah terlukiskan oleh waktu. Kita seperti sekarang karena telah ada pendahulu kita yang telah merintis jalan. Kita hanya sebagai pelanjut, kita memberikan bumbu kehidupan sehingga sejarah itu menjadi bagian masa lalu.

image

Kita hidup di masa kini, yang akan menjadi sejarah di masa yang akan datang. Yang pasti, sejarah itu bisa berulang dengan ijin yang kuasa.

Lantas dimana sejarah Luwu Timur? Apakah kita hanya akan mengenal Luwu Timur dari aturan perundang-undangannya saja? Siapa yang menuliskan sejarahnya itu? Dimana kita bisa melihat secara riil bukti sejarah Luwu Timur?

image

Ketika kita bicara tentang kemashyuran I Laga Ligo dengan taman surgawinya di Kaki Gunung Lampenai.. tentang jejak kemahadigdayaan Sawerigading di Bulu Poloe sebagaimana tertuang dalam kitab I Laga Ligo, tentang Pua Sanro di Wotu, atau kisah memilukan tentang Malili dan Sorowako yang terbakar dalam kasus DI/TII, tentang perjuangan masyarakat Sorowako yang tanahnya dirampas untuk kepentingan investor Kanada dengan senapan di tangan oleh penguasa negeri ini.

Siapakah lagi yang akan menceritakan kisah-kisah perjuangan para pendahulu kita jika para tetua telah tiada tanpa sebuah dokumentasi. Siapa yang akan menebarkan semangat juang, membakar keyakinan akan nilai-nilai perjuangan tanah leluhur kita di Luwu Timur?

image

Bagaimana dengan budayanya? Apa tariannya? Apa lagu daerahnya? Seperti apa pernak pernik budayanya? Bagaimana kehidupan masyarakatnya? Adakah dokumentasi tentangnya??

Akankah kita hanya berbangga hati hanya dengan membaca kisah perjuangan orang lain.. daerah lain.. tempat lain.. sementara untuk menjadikan kita seperti sekarang ini, pendahulu2 kita juga telah memekikkan kata MERDEKA! BERJUANG!! ALLAHU AKBAR!!!

image

Jangan sampai kita terpana dengan gemerlap lampu saja, terlena oleh alunan nada dan syair masa lalu, tapi kita tidak mampu mendokumentasikan mereka dan menuliskan sejarah kita sendiri. Karena bangsa yang hebat adalah bangsa yang senantiasa mengingat sejarah mereka.

Pemikiran liar ini mengalir begitu saja usai menonton film singkat tentang budaya Kabupaten Kutai Kartanegara. Film berdurasi 1jam 30 menit ini  aku tonton dalam perjalananku dari Kota Daeng Makassar menuju ibukota Jakarta ternyata diproduseri sendiri oleh Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari.

image

Film ini mengangkat sebuah cerita pencarian cinta sejati dengan berlatar belakang Budaya Kutai Kartanegara. Mengambil tempat di Tenggarong, dalam kisah pesta adat Erau, sehingga diberi judul ERAU KOTA RAJA.

Akh.. jadi berkhayal lagi dengan kemunculan kisah-kisah lain untuk memperkaya khasanah budaya negeri kita.

Ya Allah… ijinkanlah aku berdamai dengan masa laluku… berikanlah ijin, ridha dan kehendakMu agar bisa kuselesaikan goresan-goresan yang telah ku mulai… Berikanlah manfaat dari apa yang kutuliskan… bagiku dan para pembacanya..

image

Aminnn ya rabbal alamin…

la_vie