Kerja Sambil Jokka

Dapat perintah kerjaan saat jadwal sosial padat itu rasanya gimanaaa gitu. Sedih, penat, bahagia, semua bersatu rasa nano-nano.

Gimana tidak, H-1 prosesi inti Luwu Royal Wedding, harus berangkat ke Makassar lanjut ke Padang. Andaikata bisa memilih, pengennya sih setelah acara selesai baru berangkat. Tapi yang namanya kerjaan, dikerjakan jadi duit, dilepas jadi kehilangan duit. Semoga duit tidak menjadi Tuhan bagiku. 😆😆

Tapi ternyata sedihku berubah menjadi senyum lebar, saat aku melihat foto-foto kesuksesan Pernikahan Putri Paduka datu Luwu, Andi Kartika Mackulau dan Ahmad Thayyib di group pernikahan Ngka juga pada wall teman-teman di facebook. Alhamdulillah…

image

Kemeriahan Pesta Pernikahaan Putri Paduka Datu Luwu, Andi Kartika Mackulau juga dihadiri Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Ani Yudhoyono, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Raja2 se Nusantara dan sulsel, nampak hadir Somba Gowa Andi Maddusila, dan kerabat Tana Luwu di dalam dan luar negeri dari berbagai kalangan.

                   *   *   *   *   *

Syukur alhamdulillah juga kurasakan karena hasil pertemuan sangat baik dengan penandatanganan kontrak sesuai kesepakatan mufakat. Yeiii, meskipun melewati diskusi yang alot. ;););)

Menikmati perjalanan juga membawa kehabagiaan. Apalagi, bisa menikmati buah durian dengan teknik yang berbeda. Di kampungku, makan durian hanya buahnya saja. Di Padang, buah durian dimakan dengan ketan, baik itu ketan putih dengan bentuk nasi biasa seperti yang aku coba di Ganting Padang.

Sedikit berbeda saat aku makan durian di Kota Baru Padang Panjang. Karena ketan putihnya dimasak di dalam bambu yang kalau dikampungku disebut “pa’peong”. Setelah jadi peong, maka durian dimakan dengan peong yang dicelup ke dalam tapai ketan hitam.

image

Meskipun beberapa kali tertimpa bencana Gempa, Padang tetap bersinar. Pertama kali aku ke Padang setelah Gempa Padang 2009. Saat itu aku mendapat tugas menyampaikan hasil donasi masyarakat Sorowako dan digunakan untuk membangun sebuah puskesmas plus di kabupaten Agam.

Memang banyak sekali perbaikan yang telah dilakukan di Padang. Bahkan banyak bangunan-bangunan baru didirikan. Kebanyakan merupakan museum. Aku sempat berkunjung ke pantai Padang, Tugu Merpati Perdamaian, museum Gempa Padang 2009 yang terletak di Museum Adityawarman,Tugu Gempa Padang 2009, Museum Rumah kelahiran bung Hatta Wakil Presiden Indonesia Pertama

image

Selain itu, keindahan alam juga terukir dengan banyaknya tujuan-tujuan wisata yang telah ditata dengan baik, seperti pantai Padang, Air terjun Lembah Anai, Janjang Seribu Great Wall of Koto Gadang, atau Tangga seribu yang sering disebut tembok Cinanya Sumbar, juga ada Lobang Jepang, Jam Gadang Bukit Tinggi, Danau Singkarak, Lembah Hijau Green Canyon ala Sumatera Barat (Sumbar), Benteng Fort de Cock yang menjadi bukti sejarah jejak Perang Paderi. Juga terlihat pada Istano Basa Pagaruyung, Kota Batusangkar.

image

Akh… masih banyak tempat yang belum sempat ku kunjungi sedangkan waktu kembali ke Jakarta telah tiba. Puskesmas Agam yang juga ingin kukunjungi juga tidak cukup waktu.
Tapi perjalanan 2 hari kemarin sungguh meninggalkan kesan yang luar biasa.

image

Yang penting.. dah berpose laiknya Bundo Kanduang dengan pakaian gadis minang. Luar biasa…

la_vie

Advertisements

Istana Alam Shah

Pagi yang redup. Akhirnya perpisahan itu menjadi kalimat terakhir dari semua kondisi. Meski berat, namun tak kuasa menahan apa yang telah menjadi tekadmu. Perjalananku masih panjang, dan kalian memilih tak bersamaku. Berat, namun senyum itu masih mau menjadi temanku. Maafkan aku.

Sedikit tergesa, karena hati tidak menyatu dengan akalku. Tapi keputusan telah diambil, dan konsekuensinya aku tetap harus bergerak. Untung Abang Romazi tetap berendah hati memaklumatkan kami untuk bersegera. Tibalah kami di Istana Alam Shah. Hari ini adalah hari terakhir sebelum kami bertolak kembali ke tanah air Indonesia, namun kami telah diundang untuk melihat-lihat Istana Alam Shah yang luar biasa megah. Setiba di Istana, kami disambut Pengku Yang Berhormat Dato’ Dr. H. Ahmad Yunus bin Hairi, Pengerusi Jawatan Kuasa Tetap Hal Ehwal Agama Islam, Adat Melayu dan Warisan, Pembangunan Desa dan Kampung Tradisi merangkap Pengerusi Perbadanan Adat Melayu dan Warisan Negeri Selangor serta pejabat tinggi Dewan Di-Raja Kesultanan Selangor lainnya.

IMG_7186

Sebelum melanjutkan program melancong di Istana, kami diminta mencicipi aneka jenis sarapan pagi. Hmmm, saya pun mengambil mie goreng, setelah mencicipi, sedikit rasa penasaran dengan mie goreng yang enak sekali, saya pun bertanya pada seorang pelayan. dan tadaaaa, ternyata kami dijamu menu khusus istana, oalah… senangnya. Lalu pelayan itu meminta saya membalik piring yang kami gunakan, dan disitu tertulis bahwa tepian piring adalah emas 24K huaaaaa dan mata saya terbelalak.. akh.. sayang sekali penyakit kleptomania tidak pernah saya miliki, padahal ingin rasanya memasukkan piring itu ke dalam tas bersama sendok garpu yang terbuat dari perak itu hahahha. tapi untungnya tidak saya lakukan, barangkali saya tidak bisa kembali ke Indonesia dan mendekam di balik jeruji istana hehehhe takut akh…

20160518_103819

Usai sarapan, kami lalu diajak oleh Penghulu Dalam Istana En. Abdul Kadir Sapuan untuk berkeliling istana. Beliau menjelaskan bahwa tempat kami dijamu sarapan disebut Balai Tengah. Lalu kami diajak masuk ke Anjung Seri. Di situ kami melihat seperangkat Gamelan  yang dipesan khusus ke Indonesia oleh Sultan Shah Alam guna pertunjukan di istana. Setelah beberapa saat, kami diajak melihat Balai Santapan Diraja. Balai Santapan Diraja ini merupakan ruang makan yang sangat besar untuk menjamu tamu-tamu kehormatan istana dalam pesta besar. Uniknya, seluruh tamu dipersilahkan makan mengikuti Sultan, tidak boleh terlambat. Jika Sultan selesai makan, maka semua sajian akan ditarik kembali oleh para pelayan. Kebayang deh kalau seperti saya yang suka menunda-nunda karena suka mengambil gambar, bisa-bisa tidak sempat makan deh hahaha.

Setelah itu, kami menuju Balai Tetamu, dimana Sultan khusus menerima tamu. lalu kami diajak melihat Balai Menghadap, yang merupakan ruang pribadi Sultan. Berhubung tidak semua tempat bisa digunakan untuk mengambil gambar, maka, di istana Sultan telah disediakan Balai Bergambar, dimana tersedia logo Kesultanan besar dan kita bisa berfoto di depannya. Setelah itu, kami diajak ke Balai Nobat Diraja dan Balai Rongsi. Kami tidak diperkenankan mengambil gambar di Balai Nobat Diraja, saya pikir lebih pada keamanannya saja, karena di dalam ruangan itu benar-benar bermandikan emas, hehehhe.

IMG_7320

Tour masih berlanjut ketika kami diajak melihat Balai Pengampunan Negeri, ruangan yang diperuntukkan untuk para wakil-wakil masyarakat untuk membicarakan suatu masalah hukum sebelum Sultan mengambil keputusan terakhir, semisal pengampunan. Lalu kami diajak masuk ke Balai Dewan Di Raja sebelum kembali ke Balai Tengah.

Setelah berpamitan, kami diajak melihat Mesjid Sultan, dan tetap membuat saya terkagum-kagum. hehehe, baru pertama kali saya melihat sebuah mesjid yang tidak terlalu besar, tetapi menggunakan eskalator hehehe, kampunganku di’!! tapi itu belum seberapa, memasuki ruang mesjid, saya melihat sebuah kipas tanpa putaran, hanya lingkaran kipas saja tetapi memberikan hawa sejuk. itu belum seberapa lagi, ketika kami diajak melihat ruang pemandian jenazah, disitu telah tersedia sehelai kain penutup keranda yang telah dipersiapkan sejak tahun 2011 seharga RM 45.000 atau setara dengan Rp. 150jt Wowwwww tak terasa air mataku menetes, sungguh tak tau harus berkata apa.

Tapi ternyata kekagumanku tidak bisa berhenti disitu. kami lalu diajak melihat Royal Automobile Gallery Sultan Selangor. Berhubung Sultan Selangor, Duli Yang Maha Mulia Sultan Sharafuddin Idris Shah Alhaj ibni Almarhum Sultan Abdul Aziz Shah Alhaj adalah pencinta automotive. Suatu kehormatan bagi kami, karena Galeri ini tertutup untuk umum dan yang biasa diajak melihat galeri ini hanya kawan-kawan Sultan saja. cieeee….

IMG_7331

Sekali lagi, hanya kekaguman yang bisa terucap. 48 koleksi mobil mewah, 7 Harley Davidson, 9 motor gede dan berbagai jenis transportasi darat serta aksesoris lainnya. yang saya pikirkan ketika melihat semuanya bersih, mengkilat bahkan sangat cantik adalah, bagaimana membersihkannya?? hahahahha Tapi saya suka, ada beberapa perjalanan road trip Sultan yang didokumentasikan dengan baik. baik petanya, rutenya, sampai foto-foto dan detail kendaraan  yang digunakan. Luar biasa sekali.

Akh.. rasanya tidak ingin menginggalkan galery itu hahahha.. sudah terlanjur cinta, namun kami harus pergi. dan tour pun berakhir. kembali ke kehidupan nyata, bahwa kami harus mengurus imigrasi dan meninggalkan Kesultanan Selangor menuju Kuala Lumpur dan kembali ke Jakarta. Namun yang pasti, ikatan kekerabatan itu telah terjalin. Datu Luwu XL telah membuka jalan bagi semua garis keturunan Melayu Bugis (Luwu) untuk menyatukan hati, dan menjadi penting sekali untuk menguntai kembali manik-manik yang terserak sehingga kembali menjadi kalung yang indah dalam naungan Pajung Luwu.

Terima kasih tak terhingga kepada Opu Andi Idhanursanty yang telah menjadi sponsor perjalanan Muhibah Kedatuan Luwu 2016, juga kepada Prof. Dr. Andi Ima Kesuma, keluarga besar Kerukunan Keluarga Tana Luwu, Excite Indonesia Group Sinar Mas, Kompas, Republika, Ida El Bahra Art Management dan Sekretariat Festival Tana Luwu 2017. Semoga perjalanan Muhibah Kedatuan Luwu 2016 memberikan manfaat bagi kita semua, insyaallah. Aamiin yra.

 

Kita adalah Sama

Muhibah Kedatuan Luwu Day – 4

Hari ini kami meninggalkan Johor menuju Selangor. Masih di negara yang bertag line Malaysia Truly Asia. Di perjalanan, benakku melayang pada kisah Opu Daeng Lima. Lima bersaudara digelar dengan nama 5 Opu Daeng, bangsawan tinggi Kerajaan Luwu’, sekarang disebut Palopo, di Sulawesi Selatan. Ke 5 Opu Daeng adalah: Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewa, Opu Daeng Manambung, Opu Daeng Cellak, dan Opu Daeng Kamase.

IMG_7057

Merekam jejak perjalanan kami, sejak meninggalkan Jakarta menuju Batam, Tanjung Pinang, Pulau Penyengat, Singapore dan sekarang di Malaysia, membuatku menghayal, andai saja Kedatuan Luwu itu tetap berdiri dengan tegak, tanpa perpecahan tentu kemuliaan itu tetap menjadi kebanggaannya. Namun, ibarat sebuah kalung manik-manik, yang telah disimpul dengan seutas benang merah, maka dispora yang tercerai berai itu tentu dapat disatukan kembali menjadi bingkai yang indah, dengan ciri khasnya masig-masing. Semakin faham lah saya dengan tujuan Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau mengajak rombongan menjalin silaturahmi ke kerajaan-kerajaan kerabat di semenanjung Melayu.

Terlambat perjalanan menuju Selangor, sungguh terasa letih bagi yang tidak menikmatinya. Lelah pun terasa lebih saat hati diselimuti rasa angkuh dengan keterbatasan yang tersaji. Karena itu pula, perpecahan dan perpisahan menjadi jawaban. Mereka berjalan dengan kepongahannya, kami berjalan dalam batas-batas yang telah ditetapkan.

Cukup padat jadwal yang disajikan di hari ke-4 Muhibah Kedatuan Luwu ini. Dimulai dengan ziarah ke Makam Diraja Sultan Selangor Pertama, Sultan Salehuddin (Raja Lumu) ibni Alm. Opu Daeng Chelak (1766 – 1782).

IMG_7104

Usai Ziarah, kami menuju lokasi Diskusi sejarah yang mengambil tema Sejarah Hubungan Kesultanan Selangor dan Kedatuan Luwu. Dimana Prof Andi Ima Kesuma memberikan materi dengan judul Sejarah Kerajaan Luwu dan Perkembangannya. Dipanel dengan Mohamad Romazi Nordin dengan judul materi Retrospektif Legasi Bugis Berdaulat dan Sejarah Pentadbiran Mukim di Selangor.

Hanya sedikit waktu yang diberikan untuk bersalin pakaian. Kami meneruskan perjalanan kurang lebih 2 jam menuju Shah Alam, tempat pertemuan Keluarga Persatuan Melayu Bugis Selangor dalam bingkai Malam Citra Budaya Melayu Bugis Selangor – Luwu 2016. Malam Citra ini diadakan bersama Perbadanan Adat Melayu dan Warisan Negara Selangor, bertempat di Dewan Raja Lumu Muzium Sultan Alam Shah.

 

Sungguh luar biasa malam Citra Budaya Melayu Bugis Selangor – Luwu 2016 ini. Rombongan Datu Luwu XL dijamu dengan aneka hidangan yang lezat juga tampilan dari budaya-budaya Bugis yang telah terpadu padan dengan kebudayaan Melayu. Kami disajikan tarian dan lagu-lagu persembahan Kebudayaan dari Persatuan Melayu Bugis Selangor, PADAT dan dari rombongan Kedatuan Luwu.

“Kita adalah bersaudara, kita adalah sama, perbedaan hanya ada pada sistem di tempat kita masing-masing. Namun darah kita sama, kita satu keturunan, maka kita harus saling menjaga dan kemuliaan Tana Luwu adalah Pajung,” tegas Datu Luwu XL mengakhiri sambutannya malam itu.

Kunjungan Balasan Ke Johor

Muhibah Kedatauan Luwu Day-3

Gaduh, begitu aku membahasakan apa yang kami alami semalaman. Rasa tak nyaman, lapar, emosi yang membuncah di dalam dada. Entah telah berapa kali aku pergi bersama rombongan, baru kali inilah aku merasakan ketidaknyamanan yang menyebabkan lidah menjadi kelu dan berucappun terasa linu. Akh, andai hari itu dapat kuputar, kuingin bahagia itu menjadi temanku.

“Kita di negeri orang, bersabarlah! Semua itu ujian” pintaku pada hatiku yang sedang gundah. Entah berapa banyak istighfar terucap dari bibirku, dari relung batinku yang paling dalam. Entah berapa banyak doa dan al fatihah yang aku bacakan kiranya dada sesak ini dapat merongga. Namun kenyataan membawaku pada sebuah asa, bahwa kita jalan bersama, kita melangkah bersama, telah kita mulai sebuah perjalanan, dan akan kita akhiri bersama, layar telah terkembang, pantang surut kita ke tepian, hingga marwah menjadi jawaban.

Jemputan telah tiba, kami semua bergerak menuju pusat Singapore. Hari ini hari ketiga perjalanan muhibah kami. Kami diberikan waktu untuk berpose di bersama pokem Singapura sebelum berlanjut ke Johor. Walhasil, entah berapa kutipan kami ambil, terkenang masa kamera menggunakan roll film, tentu tidak akan ada ribuan gambar yang akan terekam, karena kami akan sangat hati-hati memilah moment  yang akan diabadikan.

13226916_802524623182614_97983903769115893_n

Belum puas rasanya. Namun perjalanan harus dilanjutkan. sehingga kami pun berangkat. Perjalanan Singapore-Johor ditempuh cukup jauh, apalagi kami harus berhenti sejenak melalui imigrasi keluar dari Singapura dan masuk ke Malaysia. Pengalaman yang unik tentunya, karena ketika keluar Singapura, kami hanya diminta membawa passport. jadi teringat saat kami masuk kemarin hahaha, kali ini tidak banyak pertanyaan, hanya stempel dan pergi. Tapi begitu kami masuk imigrasi Malaysia, mesti batenteng koper pula hehehe, untuk naik lift dan eskalator. coba tidak, huaaaa, mana tahan…

Setelah melalui segala proses imigrasi, akhirnya kami melanjutkan perjalanan dan tidak sedikit siang di Johor. Sedikit bernafas lega, kami ada waktu sejenak untuk meluruskan badan, sebelum kami harus bersiap-siap menuju tempat pertemuan berikutnya.

Hahaha, rupayanya travel yang menjemput kami tidak mengetahui lokasi kediaman pribadi Dato Seri Tengku Baha Ismail di Batu Pahat. walhasil, bukannya tiba di kediaman, kami justru masuk ke perkebunan sawit, kebayang deh kalau ada orang kampung yang bertemu kami, lengkap dengan pakaian adat dan penari hahahah.

20160516_212556

Sudah cukup malam kami tiba di kediaman Dato Baha Ismail dari Perhimpunan Waris Opu Daeng Lima. Namun penuh semangat beliau menjemput kami. Luar biasa penyambutan yang kami terima. Kami disambut pencak silat Melayu Dari Kumpulan Dato Nazri Waris Megat SriRama (Waris Laksamana Bintan).

13254555_10204586098132436_2780552673257307525_n

Sebelum jamuan makan malam, kami dihantarkan melihat ruangan pertemuan Dato Baha Ismail, yang penuh dengan beragam cinderamata. Namun sedikit terkejut, ternyata yang menyambut dan melayani kami, adalah puter-puteri Dato Baha Ismail sendiri, bukan pelayan pada umumnya. Subhanallah…

13255923_802057336562676_9153491801696177343_n

Dalam perjamuan itu, Dato Seri Tengku Baha Ismail memberikan penghargaan atas kunjungan balasan Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau bersama Permaisuri, Opu Balirante Profesor Andi Ima Kesuma Opu Da Teriawaru II dan rombongan lainnya. Dan tentu saja kami pun senang, karena kami dapat menikmati jamuan santap malam dengan perasaan gembira, karena tuan rumah pun senang.

 

 

 

 

 

 

Penyengat yang Menyengat

Muhibah Kedatuan Luwu Day – 2

Kondisi capek dan excited bercampur baur, sungguh tak ingin membuka mata. Namun karena kawan-kawan sekamar yang cantik-cantik ini telah bangun dan bersiap-siap, akhirnya akupun mengangkat badan dan membasuh diri. Hari ini, kunjungan kedua kami di Kepulauan Riau. Rencananya kami akan naik Ferry ke Pulau Penyengat lalu kembali ke Tanjung Pinang dan berganti Ferry menuju Singapura. Pulau Penyengat merupakan pulau yang berjarak sekitar 6 kilometer di seberang kota Tanjung Pinang, ibu kota Kepulauan Riau.

Inilah jembatan yang menjemput kami di Pulau Penyengat. Sungguh cantik, dengan perpaduan Hijau dan Kuning. Sudah menanti keluarga besar Zuriat dan Kerabat Kerajaan Riau Lingga yang kemudian menghantar kami ziarah ke Makam Almarhum Raja Haji Fisabilillah serta kerabat Kerajaan Riau Lingga.

20160515_072452

Makam yang kami kunjungi berada dalam sebuah kompleks. Mula-mula rombongan diarahkan ke makam Raja Hamidah (Engku Puteri), Permaisuri Sultan Mahmud Shah III Raiu Lingga (1760-1812). Usai memanjatkan doa, kami pun mendengarkan penjelasan bahwasanya Raja Hamidah adalah istri dari Sultan Mahmud di abad ke-18. Pulau Penyengat ini adalah mas kawin pernikahan mereka. akh.. kisah cinta yang luar biasa. Pikiran saya pun melayang membayangkan prosesi ijab Qobul pernikahan mereka, Sultan Mahmud menyebutkan:

“Saya terima nikah dan kawinnya Engku Putri Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah, dengan mas kawin sebuah pulau beserta isinya dibayar tunai…”

 

Subhanallah… hehehe… meski romantisme kisah cinta Raja Hamidah dan Sultan Mahmud Shah III lebih mengisi benakku, namun kisah lain tentang pulau penyengat ini pun sempat membuatku sedikit berhati-hati dalam melangkah. konon, pulau ini adalah pulau persinggahan untuk mengambil air tawar, hingga kemudian seorang saudagar tersengat binatang (sejenis lebah) sehingga rakyat menyebutnya pulau Penyengat, meski Belanda menjulukinya Pulau Indera dan Pulau Mars, yang kemudian dirangkai menjadi Pulau Penyengat Inderasakti.

Kami juga berkesempatan berziarah ke makam Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad, yang merupakan pujangga kerajaan. Raja Ali Haji yang merupakan keturunan kedua (cucu dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Riau Lingga,  terkenal sebagai pencatat dasar-dasar tata bahasa melayu dalam buku Pedoman Bahasa yang menjadi dasar Bahasa Indonesia.Selain itu, Raja Ali Haji juga terkenal dengan mahakaryanya, Gurindam Dua Belas (1847) yang merupakan Kitab Pengetahuan Bahasa berisi syai-syair dalam sejarah Melayu. juga terkenal dengan bukunya berjudul Tuhfat al-Nafis (Bingkisan Berharga, tentang Sejarah melayu). dan masih banyak makam lainnya dalam kompleks itu.

 

img1463280449308

Usai ziarah makam, kami diajak mengunjungi Mesjid Raya Sultan Riau. memasuki pelataran mesjid ini, saya benar-benar terpukau. Langit yang biru dengan jejeran awan putih seakan tersenyum menyaksikan rombongan yang menapaki satu demi satu anak tangga menuju mesjid. cukup tinggi sih heheheh. tapi sungguh luar biasa. Hal yang saya perhatikan adalah betapa nilai-nilai sejarah itu tetap terpelihara, baik oleh masyarakat setempat, maupun oleh pemerintah setempat. terbayang perbedaannya dengan kampungku hehehe.

Tidak kalah kagum, ketika kami dipersilahkan memasuki bangunan mesjid yang konon, dibutuhkan telur berkapal-kapal untuk mendirikan masjid ini. Campuran putih telur dipakai untuk memperkuat dinding kubah, menara, dan bagian lainnya. Sedangkan kuning telurnya dipakai untuk mewarnai dinding dan kubah. Masjid ini didirikan oleh Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdul Rahmanyang berdiri pada 1 Syawal 1249 Hijriah atau 1832 Masehi. Berukuran 54,4 x 32,2 meter, dengan bangunan induk 29,3 x 19,5 meter, masjid ini disangga empat tiang dan 17 kubah, sesuai dengan jumlah rakaat shalat wajib dalam sehari semalam.

Subhanallah.. kami diperbolehkan melihat sebuah mushaf Al-Qur’an yang ditulis tangan oleh Abdurrahman Istambul, putra Riau yang dikirim belajar ke Turki pada tahun 1867 sebelum kami dijamu pada dua buah rumah sotoh di pelataran mesjid, yang biasa digunakan sebagai tempat singgah bagi para musafir dan juga tempat bermusyawarah.

Sayang kami tak dapat berlama-lama, karena perjalanan harus diteruskan. namun kesempatan yang singkat itu, sungguh memberikan pelajaran berharga bagi kami semua. terutama, pertalian kekerabatan antara Luwu dan Riau Lingga yang tak lekang oleh zaman.

20160515_104536

Menempuh perjalanan menggunakan Ferry, akhirnya kami tiba di Tana Merah Singapore. Sedikit lelah, namun karena ibu-ibu ini tetap bersemangat, kami pun tak mau kalah.

20160515_120856img1463352537304

Sedikit terhambat kami di Imigrasi Singapore. Ada yang baru masuk, sehingga memperlihatkan KTP dan Passportnya, dimana ada perbedaan huruf antara nama di KTP dan Passport. Namun yang paling lama pengurusannya adalah Pusaka Kerajaan Tana Luwu tidak dapat masuk ke Singapore karena tidak dilengkapi beberapa dokumen. Wah, ini menjadi pelajaran berharga untuk kita semua, Imigrasi Singapore sangat peka terhadap benda-benda tajam, meskipun itu adalah benda Pusaka. Meskipun pada akhirnya,  ada isyarat tak terucap yang menyebabkan benda pusaka itu tidak bisa mendampingi tuannya melanjutkan perjalanan. hiiii.. ngeri-ngeri sedap…. 😀

Keterlambatan dalam urusan imigrasi inilah, yang membuat perubahan dalam jadwal ketat yang harus kami ikuti. walhasil, kami harus melakukan tindakan-tindakan darurat sipil hahahahah, syukurnya, kami tetap dapat diterima dengan baik oleh Istana Kampong Glam Singapore.

FB_IMG_1463676312708

“Datu Luwu senantiasa berjalan di bawah naungan lellung yakni tenda atau payung kehormatan sebagai ciri Kedatuan Luwu. Selanjutnya, sebagai rangkaian perjamuan, sejumlah tari-tarian pun dihadirkan. Di antaranya Tari Pajjaga Makkunrai, Anak Dara Sulessana, Sumpunglolo Bugis Melayu. Rombongan penari sebanyak enam orang ini diusung langsung dari Makassar serta didampingi dua penabuh gendang dan satu peniup terompet,” tulis mba Ina, wartawan Republika yang turut serta dalam rombongan Kedatuan Luwu.

Rombongan Kedatuan Luwu pun diterima oleh Tengku Shawal Tengku Aziz di Istana Kampong Glam, Usai melakukan kirab, kami dijamu dengan atraksi silat dan menyaksikan Sumpah Arok yang dilakukan oleh Datu Luwu XL dan Tengku Shawal Tengku Aziz atau Sitanjeng (persaudaraan) dalam bahasa Bugis. Suasana sore itu menjadi begitu sakral dan memberikan getaran yang saya sendiri tidak bisa memahaminya. Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau menjelaskan, “Itu adalah simbol bahwa dua kerajaan besar yang saling ikrar untuk tidak saling menyerang dan ikrar bahwa mereka adalah bersaudara.”

Seiring dengan itu, Tengku Shawal menjelaskan bahwa Sumpah Arok ini adalah yang pertama kali dilakukan di Istana Singapore. Karena sebelumnya, sumpah yang dilakukan masih dalam konteks kerajaan Melayu. Sumpah ini pertama kali dilakukan tahun 1720 – 1722 oleh Raja Sulaiman (anak bendahara Tun Abdul Jalil) yang “bersekutu” dengan bangsawan Bugis (Opu-Opu Bugis (Luwu) Lima Bersaudara) untuk merebut kembali kekuasaan Johor Riau atas Raja Kecil dan sering dilakukan kembali…untuk mempererat hubungan Melayu dan Bugis..sehingga tahun 1812..  saat Belanda dan Inggris mulai menguasai daerah Asia Tenggara, termasuk Melayu dan Indonesia.

FB_IMG_1463676378243

“Saya sebagai keturuan ke 10 langsung dari Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah, bermaksud melanjutkan kembali ikatan persaudaraan Melayu Bugis (Luwu) bersama Datu Luwu XL,” tegas Tengku Shawal Tengku Aziz.

FB_IMG_1463676397460

Sungguh indah tali ikatan kekerabatan yang terjalin antara Kedatuan Luwu dan Keturunan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah yang juga bergelar Raja Sulaiman (Sultan Kesultanan Riau Johor Pahang) di Singapura. Semoga harapan dan cita-cita Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau untuk menguntai kembali diaspora Kerajaan Luwu mendapatkan ijin, ridha dan kehendakNya, Aamiin ya rabbil alaamiin….

Simbol Luwu bukanlah Badik

Muhibah Kedatuan Luwu Day-1

Hari masih gelap, namun riuh telah menjadi akrab di telinga. Semua bangun cepat hari ini, bergantian mandi dan menuju Bandara. Hari ini, kami akan mengikuti perjalanan muhibah bersama Datu Luwu XL, Haji Andi Maradang Mackulau, SH Opu To Bau.

Meeting point ke-39 rombongan Muhibah ke kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu ini di Terminal 1b Bandara Soekarno Hatta. Semua berangkat dengan penerbangan Lion Air JT0374 Menuju Bandara Hang Nadim Batam Kepulauan Riau.

image

Setiba di Batam, kami dijemput kendaraan Pariwisata Riau dan diantar menuju Pelabuhan Punggur Pemprov Riau untuk melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Pinang. Di Pelabuhan Punggur, rombongan disambut oleh Opu Andi Ibrahim, Dituakan KKSS Batam beserta beberapa pengurua KKSS Batam juga ketua dan beberapa perangkat Perkumpulan Keluarga Luwu Raya Batam.

Mengendarai 2 Speed Boat milik Pemprov Riau, kami menempuh satu jam perjalanan menuju Sri Bintan Pura Ferry Terminal. Cuaca yang cerah mengawal perjalan kami hingga tiba di tujuan. Saat tiba, rupanya warga KKSS dan Perkumpulan Luwu Raya Tanjung Pinang.

Setiba di Tanjung Pinang, kami langsung bergerak melakukan Ziarah ke Makam Opu Daeng Cella dan Opu Daeng Marewa. Kedua almarhum Opu ini, merupakan pemersatu Luwu Melayu  dengan perkawinan antar bangsa dan hingga saat ini turunan kedua almarhum Opu ini masih eksis di Kepulauan Riau.

image

Usai ziarah makam, kami dijamu dengan sajian santap siang. Wah, saya menemukan sebuah menu unik yang dihidangkan yaitu kerang yang selama ini lebih sering saya lihat ditampilkan sebagai perhiasan namun ternyata sedap disantap dengan bumbu kacang. Sempat pula bercakap-cakap dengan Raja Malik Hafrizal yang merupakan satu dari keturunan langsung almarhum Opu Cella diantara yang hadir.

image

Usai santap siang, kami menuju hotel untuk beristirahat lalu bersiap diri mengikuti ramah tamah bersama Gubernur Kepulauan Riau.

Betapa nikmatnya menyaksikan sebuah keluarga besar yang saling menyapa. Datu Luwu XL dalam kesempatan ini merasa sangat terharu atas penyambutan keluarga besar Luwu-Melayu di Kepulauan Riau. Secara Kedatuan, kunjungan ke Kepulauan Riau diawali dengan Datu ke-12, lalu Datu ke-26 dn 27 dan saat ini Datu LuwuXL.

Perhelatan ramah tamah ini dimeriahkan  menampilk tari persembahan Kepulauan Riau berbalas Tari Pajaga Makkunrai dan Tari Sumpanglolo dari Tana Luwu.

image

Dalam sambutannya, Datu menjelaskan bahwa simbol Tana Luwu bukanlah pedang, bukanlah keris, juga bukan Badik. Simbol Tana luwu adalah Payung, sehingga kehadirannya bukan menjadi masalah namun memberikan solusi.

image

Pada kesempatan yang sama, Datu Luwu XL menyematkan pin Kedatuan Luwu kepada Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basitaun, Yang Dipertuan Besar Tengku Husen Saleh dan Ketua Lembaga Adat Melayu Prov. Kepri Haji Abdul Razak. Dan dibalas Gubernur Kepri dengan memasangkan Tudung Manto kepada Datu Luwu XL juga memasangkan selendang kepada Permaisuri, Opu Balirante Kedatuan Luwu Prof. Andi Ima Kesuma serta ketua Penyelenggara Festival Tana Luwu 2017.

Malam ramah tamah ditutup dengan foto bersama keluarga Luwu dan Melayu Kepulauan Riau.

image

Sumber foto : Dok Pribadi

la_vie