Pesona Tana Luwu 2019

Tetiba sebuah pesan whatsapp membuyarkan lamunanku. Ternyata aku menerima sebuh foto undangan yang dikirimkan Sekretaris Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) di jakarta. Undangan untuk menghadiri Peringatan Festival Pesona Tana Luwu di Palopo.

Festival ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Luwu ke-751 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-73. Dimana pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran di empat kabupaten Kota se-Tana Luwu. Tahun 2019 ini dipusatkan di Palopo.

Jadilah Jumat sore saya meninggalkan Malili menuju Palopo dan berlanjut ke Belopa. Karena agenda pertama yang akan saya ikuti adalah Diskusi Publik Maccera Tasi’ dalam perspektif agama, budaya dan sains.

Diskusi ini dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan Festival Keraton Nusantara XIII yang rencananya akan diadakan September 2019 di Tana Luwu. Pelaksana Dialog Publik ini adalah Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Tana Luwu bekerjasama dengan Pemdakab Luwu serta panitia Festival Keraton Nusantara XIII di aula Kantor Bappeda Pemda kabupaten Luwu (19/1/2019).

Usai Diskusi Publik kamipun bergeser ke Kota Palopo. Sebelum kembali beristirahat, tempat wisata baru kota Palopo yaitu Kambo pun menjadi tujuan kami. Walhasil, setelah melihat keindahan Kambo, berharap banyak investor lokal mau membuka tempat-tempat seindah Kambo di Tanah Luwu ini.

Minggu (20/1/2019) pagi dilaksanakan eksebisi sepakbola di stadion I La Galigo. Dari tim kesebelasan Luwu Timur dipimpin langsung Wakil Bupati Irwan Bachry Syam.

Usai Eksibisi Bola, rombongan bergeser ke Lapangan Pancasila untuk pembukaan Tana Luwu Expo (TLE). Beragam potensi daerah Tana Luwu dipamerkan di Lapangan Pancasila Palopo. Baik Pemdakab Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu dan seluruh instasi di Kota Palopo ikut meramaikan Tana Luwu Expo yang dibuka secara resmi oleh Walikota Palopo.

Rangkaian demi rangkaian acara Festival Pesona Tana Luwu pun disajikan baik pada siang hari maupun dalam pertunjukan budaya dan kesenian pada malam hari di Lapangan Pancasila.

Senin (21/1/2019) dilaksanakan Dzikir Bersama di Istana Datu Luwu.

Lalu pada Selasa (22/1/2019) dilaksanakan Gala Dinner di Istana Datu Luwu. Turut hadir Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah.

Malam panjang ini pun semakin meriah ketika di penghujung acara, Norma Hande Patabi dari suku To Konde Tana Luwu mengundang Gubernur Sulawesi Selatan, Datu Luwu XL, Walikota Palopo dan seluruh undangan bersama-sama mengikuti langkah kaki dan lingkaran tarian dero yang disebut maddero.

Puncak acara digelar pada Rabu (23/1/2019) yang dimulai dengan pelepasan peserta Karnaval oleh Gubernur Sulawesi Selatan di depan Istana Datu Luwu. Iring-iringan peserta karnaval ini mengenakan pakaian daerah masing-masing dan diikuti oleh peserta dari Kota Palopo, Kab Luwu Timur, Kab Luwu Utara, Kab Luwu, Kab Toraja Utara dan Kab Kolaka Utara.

Setelah seluruh peserta karnaval dan undangan berkumpul di Stadion I La Galigo Palopo, upacara Peringatan Hari Jadi Luwu ke-751 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-73 dimulai dengan pengibaran Pataka, pembacaan sejarah dan sambutan-sambutan.

Alhamdulillah seluruh rangkaian acara Festival Pesona Tana Luwu sebagai peringatan Hari Jadi Luwu ke-751 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-73 terlaksana dengan sukses.

Semoga semangat Toddopuli Temmalara, TebbakkE TongengngE, Taro Ada Taro Gau hingga ikatan Masseddi Siri’ tertanam dan mengakar dalam diri dan kehidupan kita sebagai Refleksi 23 Januari 1946.

Advertisements

Welcome 2019

I closed the book of 2018. Open a new book of 2019. I have 365 pages to write down all memories.

I had an increadible closing of year end 2018. Simple memory that leads to happiness I hope. Everything so sweet, it takes my heartbeat away.

I felt the fireworks, running through my blood. Giving more pressure to load and burned the desire into a big of heart. I want it more and more as I am addicted to it.

My new hope grows so fast. As the new hope for 2019 for better life, better dreams and better achievement.

Have a best new year 2019 everyone 😍

Festival I La Galigo 2018 (Part 3 – end)

Sesungguhnya perjalanan akhir tahun itu membutuhkan pertimbangan yang banyak buatku. Namun kehadiran Profesor Kathryn Robinson dari Australia National University (ANU) membuatku melupakan segala pertimbangan untuk bisa menghadiri Festival I La Galigo ke-3 di Watan Soppeng, Sulawesi Selatan.

Setelah bersepakat dengan sahabatku Mardiani juga Opu Odeng Harta andi Djelling untuk bertemu di Soppeng, maka kami memutuskan untuk registrasi online.

Aku mengenal Prof. Kathy, begitu kami memanggilnya, ketika aku baru kembali ke Indonesia tahun 2009. Saat itu beliau sedang berkunjung ke Sorowako dan Mardiani membawanya ke sanggar Measa Aroa. Jadilah kami bercerita panjang dan membuat saya tertarik mengenal Sorowako lewat hasil penelitiannya yang dibukukan tahun 1986 dengan judul Stepchildren of Progress yang bercerita tentang kisah Dampak kehadiran tambang nikel pada masyarakat Sorowako, tempatku dilahirkan.

Sejak itu, komunikasi kami terus berlanjut. Bahkan dalam beberapa kali kunjungan beliau ke Sorowako, saya berusaha bisa menemani bersama Mardiani. Kami pernah menempuh perjalanan menuju Mahalona melewati Petea, bahkan ke Routa Sulawesi Tenggara dengan menyeberangi danau Towuti.

Selain itu, saya juga pernah diundang sebagai salah satu pembicara dalam workshop tambang di Australia National University tempat Ibu Kathy mengajar tahun 2015 dengan mengangkat judul Issues of Mining Investment and Government Relation in Decentralised Indonesia (in case of Luwu Timur, Sulawesi Selatan).

Olehnya itu, kehadiran beliau dalam Seminar International La Galigo ini tentu menjadi penting untuk saya hadiri juga Mardiani. Karena begitu banyak informasi dan up-date issue yang kami diskusikan dalam setiap kunjungan beliau ke Indonesia.

Walhasil, meskipun jadwal yang sangat padat dari panitia untuk para pembicara, usai mengikuti seminar hari pertama, kami berhasil membawa Ibu Kathy berkeliling kota Soppeng. Tentu saja tak lupa kami berkunjung ke Taman Kota Kalong atau Kelelawar.

Setelah itu kami beristirahat di Triple 8 Riverside Resort yang ternyata juga menjadi tempat makan malam para pembicara dan panitia Seminar dari Universitas Hasanuddin atau Unhas.

Satu hal yang sangat saya sukai ketika melakukan perjalanan seperti ini adalah informal talk yang berisi muatan informasi dalam bentuk brainstorming. Sedikit lebih detail jika informasi itu kami dapatkan dalam kelas apalagi ruang seminar.

Meski hari berikutnya kami tidak sempat lagi bercerita panjang dengan ibu Kathy karena beliau lebih dahulu meninggalkan Soppeng menuju Makassar. Namun pertemuan kami saat menjemput dan mengantarnya ke bandara di Makassar cukup menambah referensi.

Mardiani dan aku memang masih menyelesaikan seminar hari kedua bersama kak Ida el Bahra. Selain itu kami menunggu kedatangan Opu Odeng Harta Andi Djelling. Meski singkat, namun padat aktivitas. Mulai dari kunjungan ke Taman Kalong, berfoto di depan Villa Yuliana dan menikmati hidangan khas Soppeng di Pusat Kuliner Festival La Galigo 2018.

Dan akhirnya kami meninggalkan kota Soppeng dengan segala kisah tentang Festival La Galigo International ke-3 yang unik dan tentu saja seru 😍.

XXX

Festival I La Galigo 2018 (Part 2)

SEMINAR INTERNATIONAL I LA GALIGO III

Sebelum mengikuti seminar, peserta terlebih dahulu melakukan registrasi ulang. Setelah mendapatkan bagde tanda peserta, kami dipersilahkan masuk ke ruangan seminar.

Selang beberapa saat setelah semua peserta memenuhi ruangan, bertempat di Gedung Pertemuan Masyarakat, Bupati Soppeng H.A.Kaswadi Razak membuka secara resmi Seminar Internasional III I La Galigo pada Selasa, 18 Desember 2018.

Seminar yang dilaksanakan dua hari (18-19 Desember 2018) berturut-turut difasilitasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin dengan menghadirkan pembicara nasional dan internasional dari 10 negara. Diantaranya, Belanda, Amerika, Australia, Malaysia, Indonesia, Canada, Jepang, German, Singapore, Inggris dan New Zealand.

Sebagai manuskrip terpanjang di dunia, Naskah atau Kitab La Galigo telah diakui sebagai kekayaan warisan dunia atau Memory of thr World yang ditetapkan oleh Unesco tahun 2016. Keberadaan La Galigo tidak hanya terdapat di Sulawesi selatan Indonesia saja, lembaran-lembarannya bahkan ditemukan di beberapa negara lain. Sehingga panitia mengangkat tema “La Galigo dalam bingkai peradaban dunia“.

Saat ini, naskah La Galigo baru 1/4 yang telah diterbitkan. Masih ada 3/4 yang menjadi peer untuk dituntaskan. Dalam catatan katalog Ilmuwan Belanda R.A Kern, naskah I La Galigo terdiri dari 113 naskah terpisah dengan total halaman mencapai 31.500. R.A Kern menyaring dan membuat ringkasan menjadi 1.356 halaman. Pada abad ke 19, seorang perempuan Bangsawan Bugis, I Colli Puji’e Arung Tanete, menuliskan kembali sepertiga dari keseluruhan pokok cerita I La Galigo setebal 2.851 halaman berukuran folio.

Yang unik dari seminar yang dilaksanakan adalah upaya panitia untuk tetap menjaga kehadiran peserta dengan memberikan pertunjukan tambahan di sela-sela sesi seminar seperti penampilan Tari Bissu, massure’ dan penampilan cerita rakyat Palu Sulawesi Tengah.

PERTUNJUKAN SENI DAN BUDAYA

Festival Budaya La Galigo di kabupaten Soppeng digelar selama 7 hari 7 malam. Selain Seminar Internasional, dilaksanakan pula Tudang Sipulung, Pengukuhan Umpungeng sebagai Med Poin/ Center Poin Indonesia, Penyajian
Sastra dan Tradisi Lisan, Massureq, Permainan Rakyat, Pentas lagu lagu rakyat, Kirab Budaya Berciri La Galigo dan Pameran Budaya diantaranya pameran Benda-Benda Pusaka.


Kirab Budaya yang dilaksanakan pada senin 17 Desember 2018 dimeriahkan oleh seluruh SKPD, Kecamatan se Kabupaten Soppeng, salah satunya Kecamatan Lillirilau yang akan menampilkan budaya adat bugis Mattoana Arajang, atau yang biasa disebut Mattola bala dimana didalamnya terdapat “Sokko Pitung Rupa” sebagai salah satu persyaratan dalam melaksanakan adat tersebut.

Di lokasi pembukaan bahkan ditampilkan aneka kreasi rumah-rumah adat sebagai tempat kemah budaya. Dan pada malam hari di lapangan Gasis, halaman gedung pertemuan masyarakat, dilaksanakan malam seni dan budaya.

To be continued…

Festival I La Galigo 2018 (Part 1)

It was so hectic, just before leaving Jakarta with all those paperwork for the end of year. Lucky I have my besties Tety to help me completed all the task, reassuring all is arranged in order 😍. And time to leave.

Arrived safe in Makassar, Monday Des 17th 2018. I took taxi to drop few things to Perwakilan Bintang Khatulistiwa. Than I waited for another taxi to Soppeng. I want to attend the international seminar of La Galigo. Another lucky for me, i knew Ware, who assisted me with all information about Soppeng.

She provided information about the transportation, the accomodation, the event venues as well as the cullinary which is very important to know before visiting a new place. Eventhough this is the third time I visit Soppeng but known someone there for all information is so much better.

Than Mr. Cambang arrived and I got a seat leaving for Soppeng. On the way, we suddenly have to stop due to the traffic. I thought it was a car accident, evidently its a fallen tree and closed the road.

Mr. Cambang is the hero. With several guys, he began sawing the fallen tree. He didn’t care it was raining. And the other guy also help him to pull and clean the cutting tree so we could pass. It took an hour to pass the closed road and thanks to Mr. Cambang.

We than continue the trip. I met an intereating pensioner sit next to me. He kept talking along the way. He was so proud about the event. He told me all he could about the venue, the beauty of Soppeng people, the history. Only onething he didn’t realise that I was so tired and sleepy but excited to listened too hehehhee.

I was the last passenger to droped off. We arrived ad ADA hotel. Nice, small, cozy hotel and I like my room. It was early arriving since Mardiani is still on her way from Sorowako to soppeng. So I tried my luck to called a friend and another lucky, she just left the hotel and willing to return, yeiy.

She is one of the best coreographer in makassar also a traditional contemporer dance lecture from Makassar National University. Ida El Bahra she called. And I didn’t have to missed the afternoon doing nothing. Because we end up attending the opening ceremony for the Festival together, alhamdulillah.

Another lucky, we met few friends in common, what a small world. We were giggling, meet and greet, off course enjoyed the show.

Together we returned to the hotel and Kak Ida finally agreed to stay with Mardiani and I with an extra bed in the room. After Mardiani arrived, we went to have dinner. It took ages to find a restaurant as it is not many in Soppeng, even a small restaurant.

To be continued ..

Mengenal Aksara Kuno

Sejak mengenal Kedatuan Luwu, sedikit demi sedikit membuka mataku akan urgensitas atau pentingnya mengenal budaya masa lampau sebagai identitas kita. Kita selalu membuat statement sebagai anak muda yang mencari jati dirinya, namun kita seringkali diberikan petunjuk untuk mengikuti kebudayaan barat, yang notabene tidak kalah hebat dari kebudayaan kita di Nusantara.

Bersama Datu Luwu XL dan Opu Datu di Launching Logo Festival Keraton Nusantara XIII Tahun 2019 di Istana Datu Luwu, Palopo (12/05/2018)

Dan hari ini Selasa (18/09/2018), mata saya pun semakin terbelalak. Memang pernah saya mempelajari tentang adanya naskah kuno di Indonesia , yang digunakan pada masa kerajaan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, tapi yang tidak banyak diperkenalkan kepada generasi muda adalah bahwa Pancasila itu sendiri disusun berdasarkan konsensus bersumber pada pengetahuan khas Indonesia, sementara semboyan Bhineka Tunggal Ika bisa tergali dari pembacaan cermat naskah Jawa Kuno yang disebut Sutasoma.

Betapa kayanya bangsa Indonesia, 10.634 judul naskah kuno yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Namun sayangnya, pembaca naskah-naskah itu sangat terbatas bahkan sebagian terancam punah jika tidak dijaga, dilestarikan dan diajarkan kepada generasi muda.

Untuk itu, Prof. Jimly Asshiddique mengharapkan adanya cultural bridge untuk menyambungkan kehidupan modern dan budaya lokal.

Prof. Dr. Jimly Assidhique dalam ceramah Aktualisasi Hukum Adat dan Pemerintahan dalam Naskah Nusantara dalam rangka Festival Naskah Nusantara IV di Perpustakaan Nasional RI (18/9/2018)

Dan sebuah kesempatan langka, saya bisa berkenalan dengan kang Edo (49) asli Keturunan Jawa Sunda Madura yang dia singkat Jandamadu hahaha.. ketemu Kang Edo panghilan dari Edi Dolan saat dia sedang memperagakan teknik pembuatan kertas jaman dahulu dari kulit kayu saeh (paper mulberry) yang disebut Daluang juga memperlihatkan naskah pancasila yang dituliskan dengan aksara Sansekerta, Sandi Jawa, Cacarakan Sunda, Sunda Kuno dan Batak Karo.

Penulisan Pancasila oleh Edi Dolan dalam aksara Sansekerta, Sandi Jawa, Cacarakan Sunda, Sunda Kuno, Alcedo, dan Batak Karo

Teknik pembuatan Daluang, dimulai dengan memasak kulit kayu saeh hingga lembek lalu dibungkus daun pisang semalaman hingga berlendir. Pisang memiliki getah yang menjadi perekat sehingga dapat bertahan lama.

Setelah itu kulit kayu yang sudah lembek dan berlendir dipukul dengan Pameupeu atau palu dengan tekstur kasar sehingga kulit kayu itu menipis dan 2-3 kali dilapis sehingga tidak mudah sobek. Setelah lembaran-lembaran itu menyatu, maka dipukul menggunakan pameupeu yang alurnya lebih kecil. Jaman dahulu kala, untuk menjadikannya kertas, dipukul dengan menggunakan batu atau kayu keras.

Dalam proses pemukulan, sesekali dibasahi air sehingga lembaran kulit kayunya tidak melekat pada alas dan tidak sobek. Setelah jadi kemudian diangin-anginkan hingga kering dan siap untuk ditulisi.

Kang Edo adalah seorang pelukis aksara di kanvas yang mempelajari teknik ini secara otodidak mulai dari tahun 2007.

“Saya tertarik karena naskah kuno itu memiliki kandungan ajaran petuah yang bisa diterapkan di masa lalu hingga masa sekarang”, terangnya.

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal bidang seni, kang Edo berkolaborasi dengan beberapa alumni ITB untuk bisa menulis aksara sendiri.

“Saya diberi tantangan oleh kawan-kawan. Akhirnya saya membuat aksara saya sendiri yang saya sebut Alcedo – Aksara Edo.

Pancasila dalam Aksara Alcedo

Pengen punya museum sendiri untuk koleksi pribadinya dan membuat replika semua naskah nusantara adalah keinginan terbesar dan belum dicapainya hingga saat ini. Namun keinginannya untuk terus melestarikan naskah-naskah kuno memperkenalkannya dengan Perpustakaan Nasional, sehingga dapat terlibat dalam pembuatan replika beberapa naskah kuno di Perpustakaan Nasional.

Pancasila dalam Aksara Budha

Dari penelusuran saya tentang Daluang ini ternyata bukti keberadaan daluang dapat ditemukan pada naskah kuno Kakawin Ramayana yang berasal dari abad ke-9. Dalam naskah itu disebutkan daluang sebagai bahan pakaian pandita (sebutan untuk orang yang bijaksana). Pada abad ke-18, daluang dipergunakan bukan hanya sebagai pakaian pandita, tetapi juga kertas suci, ketu (mahkota penutup kepala), dan pakaian untuk menjauhkan dari ikatan duniawi.

Pradatangnya Islam, daluang digunakan sebagai bahan wayang beber, salah satu jenis wayang di Jawa yang memanfaatkan lembaran atau gulungan daluang untuk merekam kisahan atau cerita pewayangan dalam bentuk bahasa gambar.

Selanjutnya daluang digunakan dalam berbagai tradisi tulis di Indonesia, mulai dari tradisi pesantren sampai dengan pemanfaatan untuk keperluan administrasi di zaman kolonial hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Surah Al-Ashr dalam aksara Budha

Daluang sebagai bagian dari tradisi tulis di Indonesia diperkirakan sudah ada sejak abad ke-14. Hal ini tertuang pada naskah Undang-Undang Tanjung Tanah di Gunung Kerinci yang diteliti oleh Dr Uli Kozok dari Hawaiian University pada 2003. Adapun dalam khazanah naskah Sunda dapat ditelusuri melalui naskah Sunda kuno dari abad ke-18 koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Senang rasanya berkesempatan mengetahui bagaimana teknik pembuatan kertas dimasa lampau. Terima kasih kang, selamat berkarya.

Tentang Sahabatku dan mimpinya

Ya Allah… Ijinkan aku merintih kepadamu

Tentang rasa iri, rasa cemburu, rasa sakit yang membelengguku saat ini

Betapa tidak ya Allah…

Meski rasa bangga dan bahagia itu bersamaku

Namun harapanku untuk bisa seperti sahabat-sahabatku sungguhlah sangat besar

Mereka bermimpi untuk membuat celengan akhirat dengan membangun sebuah mesjid

Berilah aku kekuatan dan kemampuan seperti mereka ya Allah

Tidak semua orang kaya dan memiliki kelimpahan harta

Juga memiliki kemampuan untuk membelanjakan hartanya di jalanMu

Bahkan terkadang dipenuhi perhitungan-perhitungan duniawi semata

Sementara mereka, keempat sahabatku tersayang, sungguh telah memiliki perencanaan design mesjid, lokasi dan dana pembangunannya

Sungguh mulia hati mereka ya Allah…

Bantulah mereka mewujudkan mimpi dan cita-citanya ya Allah

Berilah mereka kekuatan dan keteguhan untuk menyelesaikan harapan-harapannya

Jauhkanlah sifat ke-aku-an dan kesombongan yang bisa menghapus segala amalan kami ya Allah

Dan jadikanlah kami selalu dekat dengan orang-orang yang berjihad di jalanMu ya Allah…

Jadikanlah kami orang-orang yang dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa di sekitar kami ya Allah


رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Robbii inni auudzubika an asalaka ma laisa lii bihi ‘ilmun wa illa taghfir lii wa tarhamnii akun minal khoosiriin

Artinya :

“Ya Allah, sungguh aku berlindung pada‐Mu dari sesuatu yang aku tidak tahu hakikatnya.Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun serta tidak menaruh belas kasihan padaku, niscaya aku termasuk orang‐orang yang merugi.” (QS. Hûd : 47)

Aamiin aamiin aamiin yaa rabbal alaamiin 🙏

#ampera16sep2018

Dedicated to my beautiful friends with golden heart 😍