RAKOR LINTAS SEKTOR

Satu hal yang membuatku bersemangat mengikuti Rapat Koordinasi Lintas Sektor adalah bermacam informasi dan ilmu baru terkait sumber bahasan yang bisa aku dapatkan.

Oleh karenanya, saat aku mendapatkan penugasan mengikuti Rakor Lintas Sektor dalam rangka Pembahasan RDTR sebagaimana undangan Direktorat Jenderal Tata Ruang Kementerian ATR/BPN, aku menjadi bersemangat. “Ilmu baru untukku,” pikirku

Dengan semangat, aku pun berangkat ke Hotel Sultan pada Senin, (08/05/2023) guna mengikuti Rapat Koordinasi Lintas Sektor Kementerian ATR/BPN di Golden Ballroom I.

Benar saja, meski awalnya aku agak tetbata mengikuti jalannya rapat, akhirnya bisa aku pahami bahwa ada serangkaian aktivitas yang harus diselesaikan sebuah daerah yang tetmaktub dalam Rencana Detail Tata Ruang a(RDTR) dalam merencanakan pembangunan sebuah wilayah.

RDTR merupakan rencana rinci tata ruang di Indonesia. Terrapat dua jenis perencanaan utama yaitu Rencana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang (RTR) yang menjadi pedoman bagi pemerintah untuk mencapai target pembangunan dalam.jangka waktu dan lingkup tertentu.

Rencana tata ruang terbagi mrnjadi 2, yakni rencana umum yang terdiri dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional, RTRW Provinsi dan RTRW Kabupaten/Kota dan rencana rinci yang terdiri dari RTR Pulau, RTR Kawasan Strategis Nasional dan RDTR Kabupaten dan Kota.

Kali ini adalah pembahasan RDTR Kota Singkawang, Kabupaten Balangan, Kabupaten Taliabu dan Kabupaten Biak Numfor. Pembahasannya cukup alot utamanya terkait RDTR Kota Biak yang merupakan lintas batas negara sehingga sarat dengan kepentingan pertahanan negara sebagai kota perbatasan negara.

Diskusi yang cukup padat ditutup dengan baik oleh moderator jelang Ashar. Bahkan beberapa peserta rapat tidak menyadari waktu makan siang sudah cukup jauh terlampaui. Cippuru’ki gaes 🤭

PSBM XXIII

Hpku berbunyi di sela-sela rapat. Rupanya kawanku Opu Odeng minta bantuan aku cek penerbangan ke Makassar. Beliau akan mengikuti Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXIII yang akan berlangsung di Hotel Claro Makassar 29-30 April 2023.

Setelah aku berikan beberapa alternatif jadwal penerbangan, beliau juga memintaku ikut serta. Hati yang sedang berkecamuk karena kakakku juga masuk Rumah Sakit di Makassar membuat rasa ingin pulang begitu besar.

Akhirnya aku mengiyakan untuk pulang ke Makassar bersama Opu Odeng. Karena Bapak dan saudara perempuanku Susy beserta keluarga kecilnya juga menuju Makassar. Jadi aku memiliki dua tujuan ke Makassar, untuk menjenguk kakakku Budi dan mengikuti PSBM XXIII.

Alhamdulillah, dengan maskapai Citilink Opu Odeng dan aku tiba di Makassar dengan selamat. Langsung kami menuju Hotel Claro Makassar untuk istirahat.

Pagi hari setelah sarapan, aku ikut antri registrasi dan pamit ke Opu Odeng untuk ke rumah sakit menjenguk kakakku. Alhamdulillah, kondisinya sudah lebih baik setelah pemasangan cincin di Jantung.

Sore hari aku kembali ke hotel Claro dan bersiap menuju Runah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan guna mengikuti Welcome Dinner seluruh Peserta PSBM XXIII

Keesokan harinya, puncak PSBM XXIII, hadir Gubernur Sulawesi Selatan membuka acara yang dilanjutkan dialog intetaktif berisi diskusi-diskusi yang membahas isu kekinian terkait Saudagar Bugis dengan pembicara Prof. Dr. Latanro Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Mukhlis Paeni Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin

Pertemuan Saudagar Bugis Makassar yang XXIII dengan tema Mendorong Spirit Saudagar Bugis Makassar ini digelar oleh Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS).

Malamnya, Walikota Makassar menjamu seluruh peserta PSBM XXIII di anjungan Pantai Losari dengan Jamuan Makan Malam dan hiburan tentunya.

Alhamdulillah, tidak berhenti terucap rasa syukur karena dengan hadir di PSBM XXIII di Makassar, aku juga berkesempatan membesuk kakakku yang sedang dirawat di RS. Wahidin Sudirohusodo Makassar dan bertemu Bapak juga adikku Susy dan keluarganya.

Selalu ada rindu untuk pulang ke rumah. Tapi sepertinya darah Bugis Makassar ku selalu membawaku pergi dengan spirit Sekali Layar Terkembang Pantang Surut ke belakang 🤭

LEBARAN TANPA IBU

Bapak menelpon dan kami diskusi panjang tentang perjalanan pulang lebaran kali ini. Bapak menyarankan karena awal tahun ini aku sudah dua kali pulang ke kotaku, sebaiknya aku menyiapkan diri untuk tidak pulang.

Ya Allah, tak sanggup rasanya. Meskipun begitu, aku mulai membuat rencana jika memang aku tak bisa kembali ke Sorowako untuk lebaran. Toh ini bukan kali pertama aku lebaran jauh dari keluarga.

Tapi akhirnya aku tak sanggup untuk tidak pulang. Last minutes, aku membeli tiket pesawat dan aku menghubungi adikku untuk bantu komunikasi dengan pihak bus.

Alhamdulillah, aku bisa dapat tiket GA 640 Jakarta-Makassar. Kontak bus Sinar Muda Makassar juga mengkonfirmasi seat Makassar-Sorowako. Akupun berangkat dengan bismillah.

Tiba di rumah membuatku semakin merindukan ibu. Biasanya ibu akan menyambutku dengan senyumnya yang terindah. Tapi tidak ada lagi senyumnya yang merekah. Bahkan tidak ada lagi aroma masakan khas racikan ibu jelang lebaran meski saat tiba, saudara perempuanku susy dan beberapa teman sedang sibuk di dapur.

Banyak kebiasaan jelang lebaran yang sudah tidak kurasakan lagi. Sungguh, kepergian ibu sangat terasa di hari raya ini. Bukan hanya masakannya, penataan hingga keistimewaan Idul Fitri dalam sentuhan ibu pun sudah tidak ada lagi.

Hingga tiba saat lebaran. Kami sholat Idul Fitri 1444 H di mesjid Al-Ikhwan. Hujan cukup alot mengguyur hingga sesaat sebelum sholat Idul Fitri dilaksanakan. Walhasil kami hanya bisa sholat di pelataran mesjid. Alhamdulillah, banyak yang pulang mudik rupanya, sehingga mesjid yang besarpun tidak cukup menampung jamaah.

Lebaran pertama tanpa ibu rasanya sedih sekali. Meski kawan dan kerabat tetap berkumpul di rumah seperti biasa. Tapi tetap saja hampa tanpa ibu.

Sehat-sehat semua kesayangan ❤️

MEDAN DALAM TUGAS

Ada rasa sesak saat mendengar namaku masuk dalam tim yang akan berangkat ke Medan. Sesaat, kenangan lama kembali seolah nyata di pelupuk mata. Perlahan kutanamkan dalam hati, aku akan baik+baik saja.

Bismillah, menggunakan pesawat GA 186, aku meninggalkan Jakarta menuju Bandara Kuala Namu Medan. Penerbangan ditempuh sekitar dua jam lebih sedikit. Alhamdulillah cuaca bagus sehingga penerbangan lancar.

Tiba di Kuala Namu, Medan, rombongan kami telah ditunggu oleh sopir yang mengantarkan kami ke hotel Grand Mercure. Setelah check in, aku langsung ke kamar dan istirahat hingga tiba waktu berbuka puasa.

Wah, keren banget sahur di tepi kolam renang. Aish, suasananya nyaman, bikin betah duduk lama-lama. Sampai akhirnya masuk waktu imsak san sholat subuh. Lanjut Dami, Fredi dan diriku berangkat ke Kuala Tanjung sebagai tim surveyor Medan untuk pengambilan data dan informasi layanan P3G Kuala Tanjung, Medan.

Sahur di tepi kolam renang

4 jam perjalanan subuh membuatku melihat pergerakan matahari terbit di sepanjang perjalanan menuju Kuala Tanjung. Mashaallah, sungguh indah ciptaanMu ya Allah.

Menembus gelap

Matahari sudah tinggi saat kami tiba di Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batubara, Sunatera Utara. Setelah mendengar penjelasan satpam pelabuhan, kami pun bergeser dan berkunjung ke kantor Camat Sae Suka Medan. Bertemu dengan Camat Sae Suka, kami pun berdiskusi singkat sebelum berkunjung ke kantor syahbandar Kuala Tanjung dan melakukan kunjungan lapangan.

Di kantor Syahbandar Kuala Tanjung kami berdiskusi dengan beberapa pejabat Syahbandar Kuala Tanjung. Kemudian kami diajak melakukan kunjungan lapangan ke area pelabuhan Kuala Tanjung guna melihat aktivitas pelabuhan termasuk di wilayah operasional Inalum (Indonesia Asahan Alumunium).

Setelah itu kami juga berkunjung ke kantor layanan Bea Cukai Kuala Tanjung sebelum kembali ke kota Medan untuk mempresentasikan hasil kunjungan lapangan.

Alhamdulillah perjalanan lancar sehingga kami bisa tiba selamat di kota Medan. Setelah buka puasa dan istirahat sejenak, kami melakukan briefing dan persiapan paparan Bapak Deputi terkait hasil temuan lapangan di P3G Lam Reh Kabupaten Aceh Besar, P3G Kuala Langsa Provinsi Aceh dan P3G Kuala Tanjung Kabupaten Batubara Provinsi Sumatera Utara sebagaimana data temuan kunjungan tim surveyor.

Hari pertemuan pun tiba. Namun hatiku berdebar begitu kencang. Aku sudah berusaha mempersiapkan diri untuk tugas MC yang diberikan. Namun tetap saja, rasa khawatir dan deg-degan tidak bisa kuhilangkan dengan mudah. Hingga akhirnya tugas aku laksanakan dan berjalan dengan baik, alhamdulillah.

Rapat yang dipimpin Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP Dr. Robert Simbolon berlangsung dengan baik. Antusias dan keaktifan peserta rapat membuat dinamika ruang dialog menjadi riuh dan memperkaya informasi kondisi lapangan yang lebih dulu ditemukan tim surveyor BNPP.

Akhirnya rapat selesai dan kami bisa beristirahat juga bersiap untuk perjalanan kembali ke Jakarta. Menggunakan GA 185, kami kembali ke Jakarta pada Jumat, 14/4. Alhamdulillah.

IBU TELAH TINGGALKANKU

Ibu, kurindu dengar suaramu ibu. Kurindukan peluk kasih sayangmu. Ibu, tak terasa menetes air mataku, dalam sendiri kupanggil namamu.

Hingga usiaku dewasa, kau perlakukan ku seperti, puteri kecil dalam dekapanmu. Namun seringkali diriku, lukai hatimu ibuku, dengan kekanakan sikapku, maafkan diriku, ibu…

S’gala nasehat yang pernah kau berikan untuk ku jadikan bekal jalani hidup. Kata2mu yang indah ajari diriku tuk tegar berdiri jalani hidup

Semua, menjadi tuntunan, menjadikan ku mandiri. Ibu…

Lagu ini kembali terngiang karena hari ini aku melihat jenazah ibu yang ditimbun tanah dan aku hanya bisa melihat semua prosesnya dalam duka yang tak bertepi. Ibu telah meninggalkan ku.

Meski aku berusaha kuat, namun kepergian ibu memberikan luka yang sangat dalam. Ibu telah meninggalkanku sendiri.

Bu, entah aku bisa kuat atau tidak, tapi kepergianmu merupakan ujian bagiku. Selama ini ibu adalah temanku berbagi meski kadang kita tak sepakat namun semua nasehat2 ibu selalu benar. Apa yang ibu katakan selalu menambah khasanah wawasanku tentang hidup dan kehidupan.

Sekarang, pada siapa aku bisa berbagi kegelisahanku bu? Siapa yang akan mendengar aku bercerita tanpa menghakimiku? Meski kadang aku salah dalam berfikir dan bertindak, namun ibu selalu membantuku melihat dari perspektif yang lain, dari pengalaman ibu semasa hidup. Tentu aku banyak mengambil pelajaran dari ibu.

Makammu belum kering, tapi rinduku sungguh tak terbendung. Al-Fatihah ibuku, semoga Allah SWT menempatkanmu di surgaNya.

Aamiim ya rabbil alaamiin

LABUAN BAJO STORY

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hi, ketemu lagi dengan Sulvi di Trip to Labuan Bajo. Kaget juga saat dimintain KTP untuk beli tiket. Ini adalah Perjalanan Dinas pertamaku setelah pindah tugas ke BNPP. Singkatan dari Badan Nasional Pengelola Perbatasan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.

Perjalanan Dinas kali ini, selain memberikan ku tambahan pengetahuan tentang pengelolaan perbatasan Indonesia dengan negara-negara tetangga, aku juga berkesempatan mengunjungi beberapa tempat-tempat wisata di Labuan bajo, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Seperti pepatah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali perjalanan dinas, tujuan dinasnya terpenuhi, jalan-jalannya juga dapat donk ya hehehhe.

Tanggal 6 Maret 2023 pagi, aku menuju Bandara Soekarno Hatta menggunakan kereta api dari Stasiun Manggarai menuju Bandara international Soekarno Hatta. Setelah bergabung bersama kawan-kawan lain, kami meninggalkan Jakarta menuju Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur menggunakan Batik Air ID 6522.

Alhamdulillah, menempuh sekitar 2 jam an  perjalanan ini tanpa kendala, kami tiba di Labuan Bajo dengan selamat. Setelah semua naik ke mobil jemputan, kami langsung menuju Hotel Jayakarta. Labuan Bajo terletak di ujung paling barat pulau Flores, merupakan satu dari 9 desa di kecamatan komodo, kabupaten Manggarai Barat,Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Setelah tiba di hotel dan istirahat, malam harinya kami menikmati hidangan makan malam dan menyambut seluruh peserta rapat yang mulai berdatangan. kemudian dilanjutkan dengan briefing dan gladi resik persiapan acara.

Secara padat, tanggal 7-8 Maret, kegiatan peserta diisi rapat kerja dengan materi-materi rapat yang sangat berbobot dan memberikan wawasan, pengentahuan serta kesempatan bertukar pikiran antara para peserta dengan pemateri.

Labuan Bajo terkenal dengan Taman Wisata Nasional Pulau Komodonya yang termasuk dalam World Heritage UNESCO. Sehingga pada tanggal 9 Maret, beberapa peserta rapat memutuskan untuk berkeliling menikmati keindahan Nusa Tenggara Timur ini termasuk diriku.

Menggunakan kapal D Four 2, kami berkeliling perairan Flores. Pertama-tema kami meninggalkan Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pulau Padar. kami diajak menikmati spot foto yang menjadi latar uang Rp. 50.000,- di Pulau Padar. Ada 5 stasiun peristirahatan untuk mencapai puncak Pulau Padar yang setiap peristirahatan menjadi spot foto dengan pemandangan yang berbeda.

Selanjutnya perjalanan ke pantai Pink. Menurut beberapa sumber, warna pink pantainya berasal dari hewan yang berukuran mikroskopis bernama Foramifera. Hewan inilah yang memberikan pigmen merah pada koral. Koral-koral tersebut kemudian terbawa gelombang menuju pasir lalu hancur menjadi pasir pantai.

Puas bermain di pantai pasir pink kami melanjutkan perjalanan ke pulau Komodo. Ada sekitar 1.500 ekor komodo hidup di Pulau ini. Wah, baru beberapa meter kami melangkah di pulau ini, seekor komodo telah menunggu dengan santai di tepi pantai. Mashaallah, ukurannya benar-benar besar. Tak lama kemudian seekor komodo bergabung bersama kami. Sungguh indah ciptaan Allah SWT ini. Dari yang biasa melihat cicak, kadal, biawak dan buaya, akhirnya bisa melihat komodo dengan ukuran yang sangat besar. Menurut Tour Guide yang kami temui, seekor komodo bisa mencapai panjang 3 meter dengan bobot berat 160kg. Untuk 3 komodo yang saya temui kira-kira memiliki panjang di kisaran 2m-2,5m per ekornya.

Setelah puas berkeliling, akhirnya kami kembali ke kapal dan santap siang sebelum lanjut ke Manta Point untuk berenang bersama ikan Pari. Lalu kami singgah sejenak di Pasir Timbul Taka Makassar dan menikmati keindahan dalam laut di pulau Kanawa. Pulau yang terkenal dengan spot snorkeling untuk melihat keindahan di dalam lautnya. Benar saja, saat berenang, saya bertemu dengan beraneka ragam jenis ikan yang cantik dan unik.

Puas seharian menikmati keindahan untaian pulau-pulau beserta pemandangan sekitarnya, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Hingga kami meninggalkan NTT pada tanggal 10 Maret menggunakan GA 0453 menuju Jakarta. Ada banyak kisah yang kami temukan di pulau cantik ini. Semoga senantiasa terjaga dan memberikan manfaat pada setiap orang yang menikmatinya.

Semoga menginspirasi perjalanan kamu nanti dan sampai jumpa di kisah perjalanan saya selanjutnya.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Show quoted text

2023 HIDUP BARU

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Sungguh, manusia merencanakan, Allah SWT yang menentukan. Dan inilah yang menginspirasi kisahku kali ini.

Jelang akhir 2020 aku mendapat telpon dari Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia. Telepon yang menanyakan keinginanku untuk bergabung dengan BNPP.

Akupun mendiskusikan hal ini dengan Bupatiku Alm H. Muh. Thoriq Husler. Saat itu beliau memberikan jawaban yang bijaksana sehingga membuatku memutuskan untuk memproses kepindahanku.

Semua berproses. Namun kehendak Allah SWT, Pak H. Husler meninggalkan kami dalam duka yang panjang. Aku bahkan menjadi tertuduh sebagai lawan dari Wakil Bupati yang menggantikan almarhum. Bahkan sempat “dikantorkan” tanpa penugasan meski akhirnya “diaktifkan” kembali dalam tugas. Tapi sekali lagi semua berproses. Dan berkaskupun tetap berproses.

Sampai akhir tahun 2022, saat aku masih dalam pemulihan paska operasi pengangkatan tumor Suprasellar yang menekan jaringan saraf mataku ke otak, kabar putusan proses kepindahanku terbit dan aku diminta mengambilnya.

Sungguh Allah SWT Maha Kuasa atas segalanya. Semua terjadi diluar perkiraanku. Sempat membuatku terpaku dan tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Namun tetap saja rasa syukur terucap tanpa henti.

3 Januari 2023 pertama kali aku menapakkan kaki secara resmi ke BNPP dan semua berproses dengan bantuan kakak cantikku kak Anne, yang banyak memberikan wejangan dan memperkenalkanku lebih jauh tentang BNPP.

Welcome New Life, inshaallah berkah.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

BERENANG DI PARASULU

Day 51 – BERENANG DI PARASULU

Buat yang punya hobby berenang, snorkeling atau diving, Parasulu merupakan salah satu tempat indah untuk dijelajahi. Hampir 90% wilayahnya ditumbuhi karang. Bahkan memiliki banyak atol bawah laut.

Atol adalah terumbu karang yang berbentuk melingkar menyerupai cincin yang mengelilingi sebuah laguna di dalamnya. Atol ini memiliki fungsi sebagai rumah bagi ikan-ikan kecil, sebagai sumber makanan berbagai makhluk hidup di laut, sebagai salah satu sumber keindahan bawah laut dan menjadi tempat penelitian.

Ketika saya snorkeling di Parasulu, saya sempat bermain bersama sekawanan ikan ekor kuning dan kerumunan ikan barakuda. Kalau kita menyelam sedikit lebih dalam, kita akan bisa menemukan penyu, nemo, hingga nudibranchia (kelinci laut), kima (kerang raksasa yang dilindungi di dunia karena memiliki bentuk dan ciri paling unik di antara semua jenis kerang), kerang listrik (Ctenoides ales), ikan kerapu, padang lamun untuk dugong, baronang, kepiting, lobster dan masih banyak lagi.

Keindahan terumbu karang di perairan tropis Indonesia sudah terkenal sebagai gudang keanekarahaman biota. Tapi, keindahan ini hanya bisa terus kita miliki jika kita memeliharanya. Dalam sebuah studi disebutkan bahwa satu kilometer terumbu karang sehat mampu menghasilkan 15-26 ton ikan per tahunnya.

“Alhamdulillah, rumah apung Nanggala membuat Parasulu ini kembali terjaga. Kami bisa mendapatkan kembali ikan-ikan yang selama ini sudah jarang ditemukan disini. Sudah tidak adalagi aktivitas menangkap ikan dengan bom atau racun.” Terngiang kata-kata Pak Bambang, salah satu nelayan yang sempat aku temui sedang mengumpulkan ikan dari Bilanya. “Masyarakat sudah paham dan menangkap ikan dengan metode ramah lingkungan. Kita pun nyaman berenang di Parasulu.

.

.

@cahyadi_takariawan

Credit Foto @mdc

 

#belajarmenulis

#kmobasicbatch49

#antologi17

#200kata

#ceritavie

#viestory

#vienulis

PALUMARA PARASULU

Day 50 – PALUMARA PARASULU

Langit begitu cerah. Begitu cantik perpaduan awan putih di langit yang biru. Warna laut laksana cerminan langit namun jernih sekali. Kami dapat melihat ikan-ikan yang berenang kesana kemari di bawah rumah apung Nanggala Parasulu.  Dengan alat snorkeling, kami bahkan bisa melihat  kedalaman dan karang-karang Parasulu. Mashaallah.

“Naikki dulu makan.”

Rasanya baru sebentar kami berenang, sudah dipanggil makan. Sebelum tiba di rumah apung ini, kami sempat menyambangi pak Bambang yang sedang memanen ikan di “Bila” nya. Bila adalah sebutan tempat menangkap ikan dari kayu dan jaring yang ramah lingkungan. Kami diberikan beberapa ekor ikan segar.

“Kita makan ikan satu kali mati” istilah kawan saya yang begitu tiba langsung menuju dapur dan menyiapkan makan siang.

“Wah, rasa daging ikannya manis dan gurih. Beda sekali rasa ikan segar dengan ikan yang kita beli di pasar ya,” celotehku sambil menikmati masakan palumara yang lebih tepatnya sop ikan kuah kuning. Meski hanya menggunakan bumbu dasar kunyit, garam, jeruk nipis dan cabe rawit, rasa sop ikannya bisa mengalahkan racikan restaurant.

Semakin sedap dicocolkan pada racikan rawit, garam dan jeruk nipis sebelum disantap.

“Apalagi ditambah sedikit air laut asin yang berjatuhan dari tanganku yang basah,” timpalku kemudian tertawa.

“Betul kak, makanan seperti ini justru lebih menyehatkan. Karena itu kita harus bisa menjaga laut kit, utamanya terumbu karang. Supaya biota laut itu bisa aman, bisa menjadi tempat bertelur dan berkembang biak. Dan kita bisa menikmati ikan-ikan yang sehat. Kejayaan laut dan kekayaan alam kita juga akan terjaga.

.

.

@cahyadi_takariawan

Credit Foto @AndiMuslihin

 

#belajarmenulis

#kmobasicbatch49

#antologi17

#200kata

#ceritavie

#viestory

#vienulis

TENTANG MALILI KUNO

Day 49 – Tentang Malili kuno

“Jadi, kampung pertama di sini bukan Malili, tapi Ussu, Lampia dan Merau”.

“Jadi, bagaimana sejarah sampai disebut Malili kak?”

“Yang pertama datang di tempat ini, tepatnya di sekitar jembatan gantung yang pertama, adalah orang Toraja. Karena tempatnya gelap disebutlah Malillin yang artinya gelap.”

“Wah, begitu ceritanya?”

“Lalu orang Toraja itu bermukim di Malili, kemudian pindah ke Pongkeru. Sampai beranak keturunan disana”

“Lalu, Merau itu letaknya dimana kak?

“Merau itu adalah perkampungan di atas pancoran Karebbe sekarang. Dulu kampung itu ramai”

“Wah saya baru dengar nama itu sekarang. Kenapa tidak masuk di nama-nama desa di Malili ya?”

“Nah, wilayah di seberang jembatan Malili itu dulu disebut Tawaro Wango atau Tabaro terbakar.” Saat itu semua pohon sagu terbakar.”

“Kemudian, Balantang itu bukan di tempat yang sekarang, tapi di muara sungai Malili.”

“Dulu disana ada Sesco, pengusaha kayu Jepang.”

“Apakah itu ada kaitannya dengan bangkai Kapal Jepang yang masih tenggelam di Sungi Malili, kak?”

 “Tidak ada, kapal itu adalah kapal perang. Dulu, kapal itu dibom dari udara. Anehnya, kampung di sekitarnya tidak ada yang dibom.”

Percakapan singkat ini semakin menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan yang lebih akan cerita tentang asal mula kampung Malili. Kampung yang sekarang ini telah menjadi ibukota kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. Semoga saya bisa menguntai satu demi satu cerita tentang Malili, yang semakin lama membuat saya semakin takjub.

.

.

@cahyadi_takariawan

Credit Foto dari internet

 

#belajarmenulis

#kmobasicbatch49

#antologi17

#200kata

#ceritavie

#viestory

#vienulis