Tenun dan Roto Rongkong

Keberuntungan membawaku menginjakkan kaki ke tanah Rongkong, Luwu Utara. Desa yang terletak di kaki bukit ini diberi julukan negeri berselimut awan Tanah Masakke atau Tanah yang berkah. Bersama teman-teman Ejayya Art dan disponsori Ketua Umum AKAR (Aliansi Keluarga Rongkong) Bersatu, Dewi Sartika Pasande.
Kami diterima di baruga Tomaka Limbong Rongkong atau Pemangku Adat Limbong Rongkong. Setelah melihat beberapa tarian etnis rongkong juga nyanyian, kami pun menuju Kampung tenun dan wisata alam Rongkong.

Gerbang kampung tenun Rongkong


Di kampung ini, saya bertemu Hadia (53). Rupanya, si ibu bersama 4 ibu lainnya yakni Siti Norma (50), junaya (48) fajarwati (28) dan Elfi (23) telah membentuk kelompok tenunan yang diberi nama kelompok Bunga Risin. Mereka menenun di dusun Salurante Desa Rinding Allo kec. Rongkong Luwu Utara.

Bersama ibu Hadia


Hadia bercerita bahwa budaya tenun ini diangkat kembali pada tahun 2017, setelah 18 tahun budaya ini hilang. Saat itu, muncul kesadaran akan punahnya budaya tenun ini jika satu-satunya pewaris budaya ini meninggal dunia. Sehingga mereka pun belajar dari ibunya bernama Mawila  yang baru saja meninggal dunia tahun 2020 di usia 80 tahun.

Motif Bunga Rissin Tenun Rongkong



Motif ini disebut bunga rissin yang merupakan tradisi turun temurun baik dari bapak maupun ibu, Entah siapa yang pertama kali mengajarkan design tenunan ini, namun tenunan rongkong dibuat dari hati. Untuk membuat 1 lembar kain dengan motif bunga rissin, membutuhkan waktu 6 bulan dengan pengerjaan secara rutin. Sedangkan untuk kain puri lonjong butuh waktu 1 tahun.

Aneka motif kain Roto Rongkong


Selain bunga Rissin, ada juga motif Sekong Sirenden, Kulambu Tanete, Rundun Lolo, Tali Tobatu, Pori Lonjong, Pori Roto dan Pori Ta’tak dan lain sebagainya.

Teknik Pembuatan Tenun dan Kain Roto Rongkong

Pewarnaan pada tenun dan kain roto Rongkong menggunakan bahan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan, sehingga benang dan kain yang akan diwarnai harus diperlakukan secara khusus terlebih dahulu. Hal ini untuk mengikat warna. Sehingga kain dan benang yang akan diwarnai harus disiapkan dengan beberapa langkah.

Pertama; benang dan kain ditumbuk dengan air palli atau campuran rempah lalu dijemur, dan diulang sekitar seminggu hingga benang dan kain siap untuk diwarnai.

Proses menumbuk kain Roto Rongkong


Kedua; benang dan kain yang sudah disimpan 1 minggu, diikat. Lalu dicelup ke dalam cairan warna. Untuk warna hitam dari daun kayu, kalau merah dari akar kayu

Benang dan kain diikat sebelum dicelup ke pewarna



Daun tanaman Indigo atau Tarum warna hijau


Akar mengkudu untuk warna merah Perpaduan daun tarum dan mengkudu menghasilkan warna hitam


Benang yang sudah ditumbuk lalu dijemur supaya warna melengket karena pewarnaan alam dari tumbuh-tumbuhan

Benang yang sudah diwarnai dan siap dipintal untuk ditenun



Proses Tenun



Kain pun ditumbuk supaya mudah menyerap, seminggu ditumbuk dengan kemiri atau air, basah dijemur kering ditumbuk lagi selama seminggu.

 

Motif sekong mandi’

Motif sora yang artinya pertahanan


Keindahan dan keanekaragaman budaya Indonesia perlu dilestarikan. Begitu pula tenun dan roto Rongkong ini. Mari mencintai produk-produk asli Indonesia. Dari bahan-bahan alami dan masih tradisional pekerjaan tangan (handmade).

Bumi Tanah Masakke, 4 Oktober 2020

Expert Class 23

Belajar photography memang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi, apalagi jika motret sesuatu yang biasa-biasa saja menjadi sebuah karya yang keren. Untuk itulah diperlukan teknik pengambilan gambar, baik angle atau sudut pengambilan gambarnya, pencahayaan, dan sebagainya.Untuk itulah saya kembali mengikuti kelas photography online yang dibuka oleh Kelas Moto Teh Ina by Ina Ghassany dengan Admin Rina Saraswati Aras.

Kali ini saya mengikuti kelas Expert yang bertujuan untuk membuat foto yang lebih menarik dengan mempelajari pencahayaan exposure, warna tone, komposisi dan waktu pengambilan foto.

Day-1, Framing Photo

Tugas hari pertama ini harus benar-benar kreatif karena temanya adalah frame atau bingkai. Sempat berfikir panjang apa yang harus daya lakukan, karena tidak punya pagar, biasanya sih bagus di pagar. Akhirnya jepret jepret pakai lingkaran, kotak-kotak eh terfikir pakai bambu penggulung sushi, biar sedikit dramatis dengan panjang matt nya. Eh, ternyata tidak semudah yang saya bayangkan, membuat bulatannya yang sedikit challenging.


Day-2, Fokus on the Ground Photo

Tugas hari kedua gampang-gampang susah. Karena ambil foto terang di background blur di depan tanpa bokeh. Jeiiii sekian banyak foto, tetap saja bokehnya muncul..


Day-3, Foreground Foto

Tugas hari ketiga kebalikan dari tugas hari kedua. Sempat kirim foto yang komentarnya mentor bikin imun turun pagi-pagi, tapi jadi lebih paham penugasannya. Kali ini obyeknya di depan dan backgroundnya menjadi blur.


Day-4, Abandoned Photo

Nah, tugas hari keempat ini bikin mikir panjang mau foto apaan. Wah, akhirnya teringat beberapa buku-buku tua yang tersimpan. Idenya adalah motret benda-benda usang. Wah.. apanya yang bagus ya? Foto benda karatan, benda tua, benda yang sudah tidak digunakan.. wah.. ternyata saya salah, begitu lihat hasil fotonya, auchhh jadi senyum-senyum sendiri ternyata keren yakkk…


Day-5, Urban Decay
Wah, tugas hari kelima terasa berat karena hujan di pagi hari sampai sore. Lewat deh waktu setor foto. Begitu ada matahari sedikit jelang magrib, saya pun berkeliling-keliling kota Malili. Akhirnya menemukan empat bangunan tua yang cukup creepy dan seram-seram. Aishhh ternyata hasil fotonya  cakep.. seperti di luar negeri gitu deh .. ternyata tema hari ini makin serem makin dapat feel fotonya.


Day-6, Hands in Frame

Waduh ga ada yang bantuin foto, padahal tugasnya foto tangan. Akhirnya nunggu waktu pulang ke rumah dulu baru bisa nemu tangan cantik buat objek. Tangan inilah yang telah merawatku dari kecil hingga besar, namun tetap terawat bahkan kadang bikin iri karena kecantikannya. Tentu saja hasil fotoku pun bikin senyum-senyum sendiri.


Day-7, Digital Imaging

Kali ini, aku hanya kepikiran untuk bermain dengan bijih-bijih kopi. Kalau yang lainnya senang dengan splash air dan potongan-potongan buah. Benar-benar dituntut kreatifitas dan imaginasi apa yang harus dilakukan. Akhirnya saya jadi paham teknik pengambilan gambar digital imaging, wah.. hasilnya memang luar biasa…


Intinya belajar dan belajar. Dengan ilmunya, kita akan semakin nyaman dalam melakukan sebuah kegiatan. Apalagi motret sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Yang mana terkadang kita berusaha untuk menyimpan memori moment yang kita alami. Dan saya menemukan manfaat yang luar biasa. Mungkin kamu pun bisa menemukan manfaat itu.

Selamat mengeksplore kemampuanmu yaaa…

SI BIRU BAGI PENCINTA TEH

Saat adikku Adhy menanam bunga rambat ini, aku bahkan tidak tahu namanya. Dia hanya menyampaikan bahwa tanaman ini bisa menjadi pagar hidup dengan bunga yang cantik. Aku pun setuju dan membiarkan tanaman ini tumbuh subur sebagai pagar hidup.

Beberapa waktu lalu aku menerima sebuah pesan yang menawarkan teh biru. Sebagai pencinta teh seperti diriku, yang sudah mencoba beragam teh, umumnya menemukan teh itu berwarna cokelat, hijau, hitam, dan merah. Setelah kuperhatikan beberapa saat, baru aku sadari bahwa bunga tehnya persis sama dengan bunga di halaman rumahku. Bunga cantik berwarna biru keunguan ini rupanya disebut kembang telang atau blue pea vine / butterfly pea / pigeon wings.

Langsung saja aku bertanya pada mbah Google, rupanya bunga yang memiliki banyak khasiat yang luar biasa. Utamanya untuk otak seperti hasil studi jurnal Pharmacology Biochemistry and Behavior yang menjelaskan bahwa senyawa dalam bunga telang berpotensi meningkatkan fungsi otak serta meredakan aktivitas otak yang sangat aku butuhkan saat ini. (Sumber : https://hellosehat.com/hidup-sehat/nutrisi/resep-sehat/resep-minuman-bunga-telang)

Akhirnya aku pun memetiknya. Bahkan sampai melibatkan beberapa ibu-ibu tetangga. Tentu saja ditambah beberapa rincian rumpi sehingga tidak terasa bunga-bunga ini telah terlepas dari tangkainya dan berpindah ke bakulku. Bunganya cantik. Berwarna biru keunguan dan sangat mudah berkembang ini disebut juga clitoria ternatea.

Untuk membuat teh, maka kembang telang ini dijemur sampai kering. Sebenarnya bisa saja dibuat teh dalam kondisi baru petik, tapi untuk membuatnya tahan lebih lama, maka baiknya dikeringkan. Akupun menyiapkan wadah untuk mengeringkannya, dan aku menggunakan bambu yang dibentangkan lalu menggunakan jaring sebagai alasnya.

Penjemurannya sendiri butuh 2 hari dibawah terik matahari sehingga kembang telang ini betul-betul kering dan siap untuk disimpan atau diseduh menjadi teh. Ketika disentuh juga seperti krispi dan wangi.

Begitu kering, maka kembang telang ini siap dibuat teh. Teh berwarna biru yang menurut Journal of Ethnopharmacology dilansir oleh teahow.com telah digunakan selama berabad-abad sebagai penambah daya ingat, nootropik, antistres, anxiolytic, antidepresan, antikonvulsan dan obat penenang.

(Sumber: https://www.google.com/amp/s/www.suara.com/health/2020/03/06/103421/manfaat-kesehatan-teh-telang-atau-teh-biru-termasuk-atasi-diabetes)

Sedikit penasaran, maka saya menambahkan air perasan jeruk nipis pada teh berwarna biru ini. Walhasil warna teh biru berubah menjadi ungu. Wow.. luar biasa manfaat teh ini sebagaimana juga dijelaskan dalam jurnal Ancient Science of Life, bahwa konsumsi bunga telang bisa mengatasi gangguan kecemasan (anxiety disorder) Bahkan, dalam satu sesi yoga saja,

(Sumber: https://www.sehatq.com/artikel/7-manfaat-bunga-telang-si-cantik-yang-menyehatkan/amp)

Setelah diskusi dengan teman-teman, akhirnya saya ber-eksperimen lagi dengan menambahkan lebih banyak jeruk maka warna tehnya berubah menjadi pink.

Mashaallah.. rupanya sebagai pencinta teh, saya masih harus banyak belajar dan mengeksplorasi ciptaan Allah SWT, sungguh kami tiada daya dan upaya melainkan petunjukNya. Dan untuk wanita, kembang telang ini juga saat bermanfaat pada organ-organ kewanitaan.

(Sumber: https://www.google.com/amp/s/www.harapanrakyat.com/2020/02/manfaat-bunga-telang/amp)

Sebagaimana aku yang mengambil manfaat dari setiap langkah yang kuambil, semoga kalian yang membaca tulisan ini juga mendapatkan manfaat dari tulisan ini. 🙏

Malili 03062020

Kelas Foto Advance Online

Belajar dasar fotography membuatku ingin melanjutkan ke kelas advance. Apalagi fotonya menggunakan handphone ku saja. Jadi tidak perlu bawa kamera kemana-mana, cukup hp saja.

Day-1 Street Food

Hari pertama saya kurang sehat sehingga baru bergerak di hari kedua. Demi mendapatkan foto street food maka saya memutuskan untuk sarapan bubur ayam di Lorong Dua sebelum ke kantor.

Day-2  Harsh Light

Nah, yang satu ini sempat delay juga, mendung menyelimuti Malili sehingga susah sekali ketemu sinar matahari. Akhirnya kita mencoba menggunakan senter, Alhamdulillah dapat juga harsh lightnya dan mendapat pelajaran tentang perbedaan cermin dan bayangan, alhamdulillah.


Day-3  Figure To Ground

Kalau teknik satu ini membutuhkan konsentrasi yang lebih. Karena tantangannya menemukan sebuah objek dengan warna yang mencolok dari sekitarnya sehingga langsung bisa menjadi pusat perhatian. Wah.. banyak foto yang disetor tapi belum masuk kategori hingga akhirnya bisa. Yeiii


Day-4  Splashing

Wah.. tantangan foto teknik ini lebih bikin hati merana, bukan aku loh yaaa, tapi asisten fotographer. Berhubung untuk membuat foto cipratan ini, harus menggunakan asisten. Sehingga benda yang jatuh di dalam air menjadi sebuah cipratan yang cantik. Percobaaannya hingga puluhan kali, bahkan sampai memenuhi memori hp dan filenya harus dipindahkan, hanya untuk mendapatkan 3 foto yang memenuhi kriteria, hehehe tapi melihat hasilnya, sungguh menjadi terkagum-kagum sendiri.


Day-5  Negative Space

Nah, teknik ini memberikan tantangan tersendiri. Mirip-mirip dengan FGT sampai-sampai beberapa foto untuk teknik NS ini disetorkan, tapi justru masuk kategori FTG. Rupanya, warnanya tidak boleh mencolol hehehhe..


Day-6  Bird Eye

Untuk teknik yang satu ini sungguh tidak cocok bagi yang phobia ketinggian, karena pengambilan fotonya dari ketinggian, seperti elang yang sedang melihat ke bawah mencari mangsa.


Day-7  Food on Messy

Awalnya aku pikir untuk pengambilan teknik ini, makanannya harus berantakan. Tapi kemudian dijelaskan, intinya adalah meski memperlihatkan makanan atau meja yang berantakan, tetapi tetap menimbulkan ketertarikan atas hidangan yang disajikan. Tadaaa…


Yah.. demikian lah, tujuh hari pernuh dengan teknik-teknik motret yang seru. Ternyata untuk mendapatkan hasil foto yang bagus, diperlukan teknik yang tepat. Bukan persoalan apakah kamera yang digunakan itu canggih dan mahal. Karena biar alatnya bagus, tapi teknik motonya belum dapat, hasilnya juga biasa-biasa saja.

Sangat berbeda ketika kita paham akan teknik pengambilan gambarnya, maka meskipun hpnya biasa, yang disajikan biasa, maka hasil fotonya  akan luar biasa..

Kelas Foto Basic Online

Awal mulanya tertarik melihat hasil foto beberapa teman di facebook. Koq bisa buat foto yang dramatisir begitu deh. Dan lebih wow lagi ketika tahu bahwa hasil foto-foto itu hanya diambil dan di edit melalui handphone. Padahal setahu saya, biasanya foto-foto seperti ini diambil menggunakan kamera DSLR atau kamera besar.Ketika ditawari, saya pun mencoba mengambil kesempatan ini. Dan saya tidak menyangka, hasilnya membuat saya terkagum-kagum sendiri, tidak percaya. Rupanya saya juga bisa.Saya masuk di kelas dasar, dengan mentor utama Ina Ghassani didampingi asisten mentor Rina Saraswati Aras. Kelas yang saya ikuti secara online melalui group Whatsapp sejak 11-17 April 2020. Pesertanya cukup banyak hingga 30-an orang.Day-1 Yellow Theme PhotographSaat diminta foto tema kuning, wah saya langsung senyum-senyum sendiri, mengingat kebetulan saya lagi menyiapkan kelengkapan saya untuk hari esok. Walhasil, jeprat jepret dah kita 🤭.Day-2 Raw Food FotographKalau yang satu ini, sempat jingkrak-jingkrak. Kebetulan, di halaman belakang tomat dan cabe rawit sudah pada merah-merah, trus petik daun jinten atau oregano leaves ditambah bawang bombay atau brown onion dan jadilah foto bahan dapur yang elegan.Day-3 Low Key PhotographKalau ini sedikit challenging menantang, karena bingung mesti pakai alas hitam. Intinya sih alasnya gelap dengan pencahayaan yang terbatas. Cuma mesti buat berulang, gegara minum capucino itu enaknya pas masih hangat hehheDay-4 Frog Eye PhotographTeknik satu ini membuat kita jungkir balik hehehe.. sempat bingung karena saat pengambilan gambarnya saya lagi tugas full day di rumah jabatan Bupati karena Video Conference yang berturut-turut, sehingga cari obyeknya menjadi terbatas. Eh, ketemu bunga kamboja pink di samping ruang Gubernur, dikumpulkan satu-satu deh buat difoto. Lumayanlah hasil nungging nya lumayan keren.Day-5 Mens Stuff PhotographSempat bingung disuruh foto benda-benda yang dipakai kaum pria. Persoalannya di rumah kan diriku sendiri, lah ga ada cowok. Pinjem punya tetangga nanti malah jadi runyam hehehe. Eh, rupanya sisa-sisa jaman baheula dulu waktu masih suka tampilan gaya cowok masih ada, bongkar- bongkar lah kita demi foto yang cakep nan keren ini.Day-6 Eye Level PhotographTantangan hari keenam adalah saya kena piket masuk kantor. Mau keluar kantor tapi kerjaan berkas bertumouk di mejaku. Walhasil keripik pisang menjadi objek foto kali ini. Setelah beberapa kali shoot, lumayan lah hasilnya. Untung bisa diterima, soalnya ga lama setelah foto, kripiknya pun jadi santapan.Day-7 Macro PhotographWalah, lihat foto-foto setoran peserta pelatihan lainnya keren-keren. Sebenarnya paling suka teknik foto makro begini, dari yang kecil menjadi besar dan keren. Hanya saja, barusan ambil dengan menggunakan hp, jadi punya tantangan tersendiri. Namun, tetap saja, terkagum-kagum ketika hasilnya luar biasa.Mashaallah… Sungguh diluar dugaan.. dan saya senang sekali bisa belajar teknik foto yang hasilnya luar biasa keren. Ternyata, dengan hp saja, bisa memghasilkan foto yang tidak kalah dengan hasil kamera DSLR, yeiiiii…Sorowako, 2020

TALAJA PINKERS

Entah kapan sebutan talaja menjadi viral. Tapi yang jelas, bu bidan cantik Nasmasriati atau dikenal dengan sebutan Bidan Nur, Rihul dan diriku akhirnya sering disebut talaja. Padahal kami memiliki group sendiri yang disebut kwek-kwek. Dalam group ini, ada satu lelaki yang bernama Untung Pitoyo disingkat mas Upit, yang disebut-sebut sebagai pengikat talaja.

Dalam beberapa kegiatan memang kami sering bersama. Kalau diingat-ingat sepertinya belum lama kami ini berkumpul, hanya setelah saya kembali ke Luwu Timur. Tapi sekarang, rasanya seperti keluarga sendiri, rinduuu rasanya jika tak berkabar.

Bidan Nur

Sebelum bertandang ke rumahnya, saya hanya mendengar cerita bahwa bu bidan yang kami kenal ini adalah juga seorang ASN yang juga kontraktor. Rupanya memang beliau adalah seorang bidan ASN dengan penugasan di Puskesmas Mangkutana, tetapi juga memiliki klinik bersalin di rumahnya, yang tidak memungut bayaran.. mashaallah…

Bahkan yang paling mengejutkan, adalah ketika dia membantu proses melahirkan seorang ibu di tengah-tengah kebun, di atas sebuah mobil pick up, yang kemudian membuat ibu bidan cantik ini melakukan wawancara live dengan beberapa stasiun TV Indonesia. Menjadikannya seorang bidan yang siap bertugas kapan saja, dimana saja dan dalam kondisi apapun.

Iseng saya pernah menanyakan, benarkah dia seorang kontraktor? Ternyata secara administrasi memang bukan, tetapi dalam pelaksanaan pekerjaan, dia selalu memastikan bahwa pekerjaan yang dikerjakan oleh perusahaan keluarganya, dilaksanakan dengan penuh amanah dan tentu saja, dari hasil pekerjaan kontraktor inilah, dia bisa membiayai klinik pribadinya terutama petugas kesehatan yang membantunya menangani kasus-kasus kesehatan khususnya di sekitar Kasintuwu Mangkutana tempatnya tinggal.

Selain itu, keseruan bidan cantik ini adalah kemampuannya meloby sebuah perusahaan supply kendaraan berat untuk memberikannya sebuah escavator berwarna pink sebagaimana warna kesukaannya.

Rihul Rahim

Si hidung mancung ini bernama Rihul Rahim, entah mengapa aku nyaman memanggilnya “hul’ bukan hulk loh hahaha… Memiliki perawakan khas kental Wotu, saya mengenalnya sejak pertama kali bergabung sebagai ASN di kabupaten Luwu Timur tahun 2009. Setelah itu saya ditugaskan ke Jakarta tahun 2012.

Sejak saya kembali ke Luwu Timur di tahun 2019 kami menjadi dekat, terlebih lagi karena saya membutuhkan seorang protokol yang benar-benar mengerjakan tugas sebagai seorang protokol, tidak hanya menjadi MC saja. Atau hanya menjadi protokol pada acara-acara besar saja, itupun hanya sebatas pengurusan tempat duduk dan MC (lagi). Syukurlah, Rihul bersedia saya gembleng dan ternyata cepat belajar sehingga dia bisa bekerja sebagaimana yang diharapkan.

Semakin menambah kedekatan kami, saat Rihul bersedia membantuku membuat Iklan Layanan Masyarakat tentang Potensi Rumput Laut Luwu Timur dan Kerajinan Luwu Timur. Ibu dari si cantik Nandra ini bersedia berulang-ulang dalam proses pengambilan gambar sampai semua benar-benar pas pengambilannya menurutku sebagai sutradara dan pengarah heheheh, maafkan ya Hul…

Tapi hal ini berbuah perjalanan ke Jakarta mengikuti pameran Apkasi tahun 2019. Lah, kaget juga ternyata bekerja sekian tahun, baru kali itu dia menginjak ibukota Indonesia di Jakarta. Jadilah sekali mengayuh, dua tiga pulau terlampaui. Berhubung pamerannya beberapa hari dan ada penjadwalan tugas penjagaan stand, aku pun mengajak timku ke Bogor dan belajar langsung dari Radar Bogor, kebetulan direkturnya adalah sahabatku sejak dari Unhas dulu.

Eh, rupanya, kebersamaan ini justru membawa kami semakin dekat. Bahkan berdampak pada kedekatan bersama bu Bidan Nur.

Untung Pitoyo a.k.a Upit

Kalau lelaki satu ini, aslinya Jawa. Aku panggilnya mas Upit. Beliau ini ajudan Bupati Luwu Timur yang sok ganteng hehehhe meski pada dasarnya emang ganteng pada masanya. Entah mengapa dia bisa berada di tengah kami-kami. Bahkan parahnya menjadi salah satu the pinkers.

Tapi yaaa, tentu saja hal ini semakin menambah keseruan geng kwek-kwek kami. Setidaknya, ada kehidupan lain yang kami miliki diluar pekerjaan yang sepertinya tak berujung. Apalagi si mas satu ini ternyata cerewet sekali. Saya ingat saat itu kami bertiga baru kembali dari Palopo. Dan Rihul mendapat omelan dahsyat, gara-gara membiarkan saya pulang dari Wotu ke Malili naik motor tengah malam. Jiahhh bener-bener dah.

Trus si mas ini rela pakai baju pink dan menjadi pinkers demi sebuah kebersamaan. Wah, pokoknya lengkap deh.

Terima kasih atas kebersamaannya semua yaa.. sempat galau saat harus meninggalkan ibukota kembali ke kampung tercinta. Namun kehadiran kalian membuatku merasa bahagia dan tentu saja memiliki ikatan baru dalam sebuah kebersamaan.

Salam pinkers telolet 😍

Lutim Tanggap Covid-19

Tetiba booming sebuah penyakit bernama Coronavirus. Virus ini bahkan dijelaskan berbentuk sangat kecil namun ternyata cantik sekali, seperti bunga batik. Rupanya, Coronavirus memiliki ratusan jenis, covid-19 hanya merupakan salah satu jenis yang diklasifikasikan dalam kategori Beta atau yang menginfeksi manusia. Covid -19 ditemukan pertama kali di Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019.


Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara, termasuk Indonesia. Syukurlah kemenakan cantikku Alifia Pramudita Budijanto yang sedang kuliah di Harbin Medical University, Cina ditarik lebih cepat ke Indonesia pada akhir Januari 2020.


Alert sudah disampaikan pemerintah Indonesia. Tanpa rencana aku ketemu dr. Darius dan kak Siska yang bekerja di Perusahaan Tambang Nikel PT Vale Indonesia Sorowako saat kegiatan Senam Nusantara bergerak di lapangan Iniaku Sorowako pada Ahad, 8/3/2020. Dalam pertemuan itu, kami membahas tentang coronavirus ini, dan harapanku membuat iklan layanan masyarakat Luwu Timur Tanggap Covid-19 apalagi informasi kontak Luwu Timur Tanggap Covid-19 sudah tersebar dimana-mana.
Gayung bersambut, Senin, 9/3/2020 aku mendapat undangan dari dr. Irfan untuk menghadiri konferensi Pers dan Simulasi Penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) I Lagaligo Wotu. Syukurlah, setelah mendapat ijin dari kepala bagian humas dan protokol Sekretariat Daerah, maka bertiga Hendra, Muslihin dan diriku pun menghadiri kegiatan ini.


Saat Konferensi Pers, Selasa (10/3), aku belum terlalu memahami betapa berbahayanya virus ini. Tapi untuk kesiap-siagaan maka memahami langkah-langkah penanganannya sangat dibutuhkan. Kemudian menjadi kontroversi dalam diriku, saat mengikuti simulasi dan melihat para petugas yang diminta mengenakan pakaian Alat Pelindung Diri (APD) seperti seorang astronot. Entah mengapa, rasa horrorpun menyelimutiku.


Malamnya, segera kubuat narasi Iklan Layanan Masyarakat yang memang menjadi salah satu kegiatan di bagianku Publikasi dan Dokumentasi. ILM tentang Luwu Timur Tanggap Covid-19 dengan lokus pengambilan gambar titik masuk Luwu Timur. Walhasil, aku dan timku mulai merangkai satu demi satu mata rantai tentang Covid-19 ini, Protokol Komunikasi menjadi acuan demikian pula Himbauan Bupati yang telah disiapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Timur.
Koordinasi pun berlanjut, langkah kami berikutnya adalah mengambil gambar episode cerita pasien suspect simulasi dengan latar rujukan Puskesmas Wotu. Hal ini dilakukan, sekaligus pengecekan kesiapan penanganan virus yang telah ditetapkan menjadi Pandemi di dunia pada Rabu 11/3 setelah virus ini menyerang 114 negara.


Maka Kamis, 12/3 kami mengambil gambar di Puskesmas Wotu. Awalnya sedikit kaku, namun rupanya semua bisa segera mencair meski harus beberapa kali mengulang pemgambilan gambar untuk satu adegan dan ini membuktikan menjadi artis itu ternyata sulit.  🤭


Setelah itu, Jumat (13/3) kami melakukan koordinasi dengan Bapak Halide Syahbandar Malili dan Bapak Karyadi Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan Malili untuk pengambilan gambar pemeriksaan kesehatan di Kapal.  Demikian pula koordinasi dengan Pak Jimmy di Pelabuhan Balantang milik PT Vale Indonesia. Siangnya, kami ke Sorowako berkoordinasi dengan dr. Inggrid dari RS PT Inco Awal Bros Sorowako, External Relations PT Vale Indonesia dan mengambil gambar pemeriksaan kesehatan penumpang pesawat yang baru tiba, termasuk Bupati Luwu Timur. Pemeriksaan ini sudah dilakukan sejak lama, namun secara intensif sejak pengumuman WHO tentang kondisi pandemik ini.


Mendapatkan ijin pengambilan gambar kondisi penanganan kesehatan dan kebersihan di kapal rupanya tidak semudah yang saya bayangkan. Sebagaimana penjelasan Kapten Yahya, sangat terkait dengan aturan internasional maritime Organization (IMO) ada protokol yang harus diikuti, terutama naik kapal asing. Alhamdulillah, ijin naik ke kapal dan mengambil gambar kami dapatkan, sehingga Senin (16/3), kami pun kembali bertugas di Kapal Tanker Pertamina Papandayan yang berlabuh di Mangkasa Point, Lampia. Mashaallah… Justru tamu dari darat yang diperiksa, fasilitas kesehatannya lengkap dan kebersihan kapal terjaga dengan baik, bahkan kapal ini dilengkapi fasilitas penunjang dan protokol penanganan medis baik yang biasa, apalagi Covid-19.


Setelah pengambilan gambar di kapal kami pun mengatur jadwal untuk simulasi penanganan Covid-19 di RS PT Inco Awal Bros Sorowako. Rupaya sudah dipersiapkan, sehingga kami bisa mengikut pada jadwal.

Alhamdulillah, rupanya semua lini telah bersiaga. Simulasi dimulai dari penumpang pesawat charter PT Vale yang suhu tubuhnya diatas 38°C lalu dibawa ke ruang karantina. Tak lama kemudian, ambulance tiba dari rs PT Inco Awal Bros, menjemput ke depan ruang karantina dan membawa pasien ke RS, segera dimasukkan ke ruang foto torax lalu diantat ke ruang isolasi untuk pengambilan darah dan pemeriksaan lebih lanjut.



Kami juga mengecek potensi di jalur masuk lewat danau Matano. Rupanya sudah ada pengecekan suhu dilakukan selain mengisi manifestasi penumpang kapal-kapal yang melintasi jalur danau.



Terpenting juga adalah telah dibentuk pula Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang berposko di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah Luwu Timur di Malili.



Penyemprotan-penyemprotan pun di lakukan, baik di kantor-kantor, pada kendaraan utamanya bus di perbatasan, luwu utara dan luwu timur, perbatasan sulsel dan sultra juga perbatasan sulsel dan sulteng.


Dalam perjalanan giat dalam 2 pekan ini, sungguh membuatku sedikit lebih lega, mengingat Covid-19 ini kasat mata, wujud tak nyata kecuali menggunakan alat. Alhamdulillah, bukan hanya Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang bergerak, namun semua lini masyarakat Luwu Timur Tanggap terhadap wabah ini.


Tidak hanya itu, koordinasi baik lingkup kabupaten hingga provinsi juga dilaksanakan, dengan menggunakan IT berupa teleconference yang diikuti 60 peserta melibatkan Forkopimda Sulsel dan seluruh Kepala Daerah Tingkat Kabupaten/Kota Se-sulawesi Selatan juga dilakukan.


Berbagai cara telah dilakukan guna memutus tali rantai penyebaran virus Corona ini. Beragam himbauan bahkan pelarangan telah dikeluarkan, semoga kita semua bisa melewati ujian ini dan wabah ini dan segera berakhir sehingga kita bisa menjalani hidup seperti biasanya lagi, aamiin yaa rabbal alaamiin…

Catatan ini kubuat setelah mengikuti rangkaian persiapan penanganan Covid-19 dalam dua pekan ini. Sebagai simpulan, mari kita menjaga diri kita dan keluarga yang kita sayangi dengan memperbanyak tinggal di rumah, mengurangi bepergian keluar rumah jika tidak terlalu penting, menjaga kesehatan diri dan banyak berdoa semoga kita semua terhindarkan dari hal-hal yang tidak baik.

Sorowako, Maret 2020

Bupati Lutim Keasyikan Mengayuh

Sebentar lagi sebuah event internasional akan dilaksanakan di kampungku, Luwu Timur. Event passapeda yang diberi nama Malili Urban Enduro 2020. Seperti apa eventnya, setelah kucari-cari referensi di internet adalah lomba sepeda dengan waktu yang telah ditetapkan, baik naik ke pos 1 lokasi start hingga penurunan menuju finish.

Kelihatannya bakalan seru, apalagi teman-teman passapeda mulai ramai berdatangan ke Landmark Luwu Timur untuk mencoba jalur lintasan. Bahkan beberapa minggu lalu, saya melihat kesibukan teman-teman membuat jalur jembatan dari arah bukit di belakang kantor Bupati menuju Parkiran Kantor Bupati.


Karena serunya, kami meminta waktu Bupati Luwu Timur Ir. H. Muhammad Thoriq Husler untuk mengambil gambar bersepeda sebagai salah satu materi video untuk mengajak masyarakat ikut meramaikan dan mensukseskan kegiatan ini. Alhamdulillah, beliau bersedia. Ahad pagi 15/03/2020 , kami pun berkumpul di rumah jabatan Bupati Luwu Timur.


Rupanya Kapolres Luwu Timur AKBP Indratmoko juga berkesempatan bergabung di Landmark Luwu Timur. Walhasil terjadi sedikit penyesuaian skenario. Namun alhamdulillah, rupanya pak Kapolres baru ini orangnya fleksibel dan fun tidak sependiam kelihatannya dan bersedia mengikuti skenario 🤭🙏.


Jadilah kita mulai pengambilan gambar. Diawali dengan pengambilan gambar dengan pemandangan cantik dari landmark Luwu Timur, lalu pengambilan testimoni dan mencoba jalur lintasan.

Usai pengambilan testimoni Push Your Limit Malili Urban Enduro 2020, orang nomor satu di Bumi Batara Guru ini pun menjajal arena bersama Kapolres Luwu Timur, Kepala Dinas Pariwisata Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Luwu Timur serta passapeda lainnya.


Mashaallah… Hal yang tak terduga dilakukan orang nomor satu di Luwu Timur ini. Rupanya beliau keasyikan mengayuh sepeda. Walhasil, kami yang hanya bersiap pengambilan gambar di jalur lintasan atas sangat menyesal tidak bisa mengambil gambar beliau secara utuh, padahal 1 jalur mulai dari landmark hingga ke parkiran kantor Bupati beliau lalui dengan enteng. Panitia pun berdiri dengan sangat tegang karena khawatir kondisi keselamatan beliau dengan kondisi mengayuh di jalur lintasan yang licin paska hujan.


Namun karena beliau dapat melalui pos 2 dengan selamat dan tetap semangat, kami pun terbawa suasana gembira. Akhirnya kami minta ijin beliau untuk mengulang sedikit adegan utamanya di jembatan jalur SS. Naik lagi trus turun lagi deh… dan beliau bersedia naik bersama passapeda lainnya lalu turun untuk reka adegan.


Dan tidak hanya berhenti disini, beliau pun lanjut ke anak tangga di halaman upacara kantor Bupati Luwu Timur. Sebelum naik kembali ke landmark Luwu Timur.


Wah… luar biasa dampak dari kejadian hari ini. Semangat para passapeda semakin berkobar. Meski harus tertunda karena issue pandemik Covid-19 Coronavirus Disease atau virus Corona.


Harapannya, semoga wabah Pandemic Covid-19 ini segera berakhir dan dapat kita lalui dengan aman. Sehingga semua kegiatan-kegiatan yang kita rencanakan bisa dilaksanakan dan sukses.. aamiin yra.

Salam 2 pedal

KEIKI

I love green garden, either front yard and backyard. So I decided to maintain both yards 🤭. To fill the yards, I plant keiki or baby orchids, various flowers and vegetable plant.

Front Yard

There are various plant at the front yard. Since it is the face of the house, a sunkist tree is the chosen one as the main tree. There is also a climbing rose and I made it as the entrance of the house. The other thing were various batik flower as well as the orchid tree.

The orchid stems has different orchids. It was given by few friends as a collection. Even though it is not blooming yet, but the leaves make me smile every morning, especially with the new shoots.

I am in love, love, love with orchids. So I decided to buy keiki or baby orchid in a bottle.

Tadaaaa i was so amazed to see these tiny keiki. Even though I need to learn to grow it and taking care of them carefully. I hope it will well growth.

Backyard

Last year, I saved two different vine plants from agriculture and plantation office which were almost died. They were vitis or grape and passion fruit. I planted them in a big pot and placed it at the backyard.

My dad helped me build an overhead arbor. It inspired me to make a little spot for tea time. Than I decorated it with keiki, a pair of chair, a little dramatic light bulb and a small fish pond with another orchid stems.

I love the light when the dark comes. With the sound of gurgling, watching keiki and a zip of mint honey lemon tea, I am hardly moves from my chair.

Keiki
One way to propagate orchids is to use a keiki. Keiki is a sapling that grows on pseudo bulb or moon orchid flower stalks. Plants from keiki have the same properties as their mother.

Luckily, I already bought cutted fern for the young orchid. So I stick them together and hang them.

I can not wait to see them grow and blooming.

Ps. Please do not hesitate to comment on how can I look after for the keiki, since I am still learning on how to plant an orchid.

23 Januari 2020

Tidak terasa, gaung peringatan Hari Jadi Luwu 752 tahun dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu 74 tahun semakin terasa. Peringatan yang dilaksanakan setiap tanggal 23 Januari ini merupakan kegiatan bersama empat kabupaten / kota se-Tana Luwu; Luwu, Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur. Yang mana untuk penentuan tuan rumah dilakukan secara bergiliran.

Untuk tahun 2020 ini, Luwu Timur lah yang menjadi tuan rumah. Semua kegiatan dipusatkan di Lapangan Merdeka Malili. Berbagai kegiatan mewarnai khidmatnya pelaksanaan hari peringatan ini. Meski terdapat satu dua kekurangan, namun alhamdulillah secara umum semua terlaksana dengan baik.

Secara ekspektasi, sesungguhnya banyak yang menjadi ganjalan dan pertanyaan dalam hatiku. Namun ada satu hal yang kurasa perlu diklarifikasi, utamanya terkait dengan tata tempat untuk para undangan VVIP, VIP dan biasa.

Persiapan

Tidak banyak yang menjadi tugasku dalam event kali ini. Meski demikian, beberapa hal yang menurutku cukup penting, seperti meminta persetujuan Datu Luwu XL terkait design baligho ucapan selamat yang akan dipasang serta foto Bupati Luwu Timur.

Saya juga berkesempatan ikut ke Makassar bersama rombongan Bupati Luwu Timur dalam menyampaikan undangan kepada Gubernur Sulawesi Selatan dan berkoordinasi terkait kunjungan pak Gubernur ke Luwu Timur.

Selain itu juga koordinasi dan penjemputan tamu-tamu di Rumah Jabatan Bupati Luwu Timur di Malili.

Ada beberapa penyampaian yang saya terima tentang persiapan acara, namun berhubung bukan ranah kewenangan saya, maka saya hanya bisa meneruskan kepada yang bersangkutan.

Hari-H

Pada saat pelaksanaan upacara 23 Januari, saya pun menuju rumah jabatan Bupati Luwu Timur. Setelah melihat persiapan, maka saya pun menuju lapangan merdeka tempat pelaksanaan upacara.

Seperti biasa, saya menjadi pilot drone karena semua teman-teman publikasi dokumentasi sudah terbagi dengan peralatan masing-masing. Opi, Feby n ully di rumah jabatan pagi-pagi, Hendra standbye di lokasi pelepasan karnaval, Issak di lapangan merdeka sampai semua berkumpul di lapangan merdeka.

Sesaat setelah menerbangkan drone, saya dihampiri oleh seorang pejabat. Amarah terlihat dari wajah dan suaranya yang komplain terkait tata aturan tempat duduk. Kali ini meskipun bukan ranah saya, namun akhirnya saya menjelaskan aturan keprotokolan menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan Pasal 15 bahwa yang mewakili tetap mendapat tempat sesuai dengan jabatannya.

Jadi, kalau seorang pejabat diwakili, maka yang mewakilinya tetap mendapatkan tempat duduk sesuai kedudukannya, bukan sesuai jabatan yang diwakilinya. Meskipun beliau hadir dan memberikan kata sambutan. Untuk itu pemilihan orang yang mewakili sebaiknya minimal setingkat dengan tuan rumah.

Namun, moment setelahnya merupakan kebahagiaan buat saya dan tim publikasi dan dokumentasi. Setelah kurang lebih setahun bergabung bersama tim pubdok humas Luwu Timur, baru kali ini kami bisa menggunakan pakaian adat bersama yang seragam 😍 I love you guys…

(ki-ka) Taufik, Issak, Sulvi, Feby, Hendra, Muslihin

Unity is strength… When there is teamwork and collaboration, wonderful things can be achieved – Mattie Stepanek

Kata-kata Mattie menginspirasiku dalam bekerja teamwork. Apalagi ditambah dengan Vince Lambardi. You’re event will not be a success if you don’t put the effort in, because nothing comes if you don’t work hard, it’s that simple.

The only place success comes before work is in the dictionary – Vince Lambardi

Jadi, tidak peduli sepintar apa dirimu, seberapa berpengalamannya dirimu hingga puluhan tahun, tetap saja, untuk sukses harus bekerja.

Some people look for a beautiful place, others make a place beautiful – Hazrat Inavat Khan

Untuk itu, saya berterima kasih juga ke Rihul Rahim, my partner in action yang telah mencarikan baju bodo untuk teman-teman humas yang perempuan. Setidaknya, kali ini kita bisa tampil beda namun sesuai dengan moment yang ada dan cantik-cantik.