ANGGREK TANAH SOROWAKO

Barusan kali ini saya pulang kampung agak lama setelah bertahun-tahun pindah ke ibukota Jakarta. Ternyata masih banyak hal-hal yang membuat saya terperanjat ketika mengetahui satu demi satu cerita tentang tanah kelahiran saya, SOROWAKO.

Sorowako terkenal dengan keberadaan perusahaan tambang nikel PT Vale Indonesia, dulu bernama PT INCO, Tbk. Perusahaan internasional atau PMA ini sudah berada di Sorowako sejak tahun 1968. Awalnya merupakan perusahan dengan kepemilikan Canada namun sejak 2007 telah beralih ke Brazil.

Sorowako sendiri merupakan sebuah nama desa yang berada di wilayah kecamatan Nuha, kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan. Meskipun secara administrasi desa ini telah terpecah menjadi 1 kelurahan dan 2 desa namun, kami tetap menyebut Sorowako sebagai asal tempat kelahiran. ☺

Nah, kali ini saya ingin bercerita tentang anggrek tanah yang tumbuh liar dan bisa ditemukan di sepanjang jalan dan hutan di sorowako. Ketertarikan saya akan anggrek ini, paska berbincang dengan bang Hary, aktifis lingkungan yang juga suami penyanyi konservasi alam kondang, Ully Sigar Rusady. Saya sampai terheran-heran ketika beliau menjelaskan bahwa jenis anggrek hutan yang ada di Sorowako itu sampai ratusan jenis. “Akh, masa?” Hahaha.. jauh-jauh saya ke Jakarta ternyata baru tau informasi ini.

Lalu dalam perjalanan pulkam kemarin, saya pun mulai mengeksplore. Dan rasa penasaran saya pun mulai bertambah. Ketika dalam perjalanan saya dari ibukota kabupaten Luwu Timur, Malili menuju Sorowako saya sempatkan singgah di tepi jalan yang banyak bunga anggreknya, ternyata saya menemukan 4 jenis bunga anggrek yang berbeda, oalahhhh… 👍👍👍

Namun saya sedih, setelah singgah itu, saya tidak sempat melanjutkan pencarian lagi karena padatnya jadwal perjalanan #soksibuk. Namun sebelum kembali ke ibukota, saya menyempatkan untuk mengambil serumpun bunga yang kemudian coba saya keringkan secara konservatif.

Lalu, iseng saya coba mencari nama anggrek tanah tersebut, keterkejutan saya pun berlanjut, lah, ternyata anggrek-anggrek ini sudah sangat terkenal bahkan bibitnya pun diperjualbelikan. Anggrek-anggrek penghias kamar ku ini ternyata lebih dikenal sebagai Anggrek Tanah Philippine 😭 padahal di Sorowako ada banyak sekali dan mudah ditemukan, tumbuh secara liar di tanah. Akhirnya saya pun mulai mencari nama-nama anggrek yang saya temukan dan hasilnya seperti dibawah ini..

Spathoglottis Augustorum

Anggrek putih cantik ini bernama Spathoglottis Augustorum (White Ground Orchid) atau juga disebut anggrek congkok. Anggrek jenis Apathoglottis memiliki varian warna bunga yang banyak. Sedikit unik karena memiliki kelopak bunga tersembunyi.

Spathoglottis Plicata

Yang satu ini bernama Spathoglottis Plicata atau anggrek tanah ungu (purple ground orchid). Spathoglottis Plicata merupakan jenis yang paling banyak dijumpai. Nama generik spathoglottis berasal dari bahasa Yunani “spathe” berarti pedang dan “glossa” atau “glotta” yang berarti lidah. Plicata sendiri diperoleh dari penampilan atau lekukan daunnya.

Bletilla Striata (Thunb.) Reichb.f.

Anggrek tanah ini disebut Bletilla Striata (Thunb.) Reichb.f. dengan bunga merah muda keunguan. Sangat lembut dengan daun kelopak hampir sama panjang dengan mahkota tapi sedikit sempit. Bibir bunga merah muda dengan garis-garis ungu dan kuning.

Arundina Graminifolia

Yang satu ini disebut Arundina Graminifolia dengan bunga didominasi warna putih. Bibir bunhanya unik membentuk corong dengan tepian ungu melebar keluar. Dan didalamnya berbercak kuning dan kecoklatan membentuk garis ke pangkal bibir.

Akh… selalu ada hal baru yang bisa dipelajari setiap hari. Dan ternyata anggrek-anggrek liar ini juga cantik menjadi pajangan meja. 😍😍

Sumber: dari berbagai sumber

#renunganvie

Advertisements

Bazaar Ugik 2018

Rasa haru dan bangga ketika melihat warga asing lain senang dan antusias mencoba mengenakan pakaian tradisional kita. Itulah yang kami rasakan ketika baju bodo dan jas tutup khas Luwu Sulawesi Selatan Indonesia tidak hanya dipamerkan tapi juga dikenakan oleh warga negara asing di Singapore.

Kesempatan ini didapatkan di Bazar Ugik, Bugis Festival di Malay Heritage Centre (MHC) Kampong Glam Singapore pada Sabtu 14 April 2018. Festival ini dilaksanakan Bugis Melayu Society Singapore bekerja sama dengan Malay Heritage Centre, Kedatuan Luwu, Kerajaan Riau Lingga dan Persatuan Pencak Silat Sendeng Ritz Singapore.

Sesungguhnya, hampir saja perjalanan ini batal karena izin cuti keluar last minutes hehhehe. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai rencana bahkan dengan beberapa perubahan yang sangat membahagiakan. Yang mana berdasarkan Surat Tugas Datu Luwu XL Nomor 01/ST/KDL-PLP/IV/2018 maka ibu Hartawati Andi Djelling Opu Odeng dan penulis bertindak mewakili Kedatuan Luwu dan disponsori oleh CV Mario Putra Tana Manai Jakarta.

Selain kami berdua, turut hadir dari Indonesia, Ketua Umum Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) Dr. dr. Andi Arus Viktor, SpM(K) dan Nuhudawi Andi Affan Naja Opu Ireng, juga istri dari Gubernur Kepulauan Riau, Noorlizah Nurdin dan rombongan dari Batam dan Tanjung Pinang.

Pukul 8 pagi, kami memulai persiapan penataan stand bazaar di halaman Malay Heritage Centre. Dari Stand Kedatuan Luwu, kami memajang pakaian tradisional bugis dengan aneka model dan warna baju bodo lengkap dengan aksesorisnya, jas tutup untuk laki-laki, makanan ringan seperti jipang dan baruasa, serta pisang epek dengan rasa original dan durian.

Menjenguk ke stand sebelah, ada stand dari perkumpulan pencak silat Singapore, aneka makanan khas Bugis seperti kapurung, lawa, coto pangkal pinang, ayam lekku dan masih banyak lagi buah tangan dari Kepulauan Riau disamping pameran baju bodo, lalu ada stand dari Bugis Melayu Society singapore dan kelas memasak kue Bugis yakni metode pembuatan barongko dan sanggara balanda.

Selain itu ada sajian tari-tarian diantaranya tari Pakarena Bugis, Zapin Melayu, Tari Pagellu Toraja, ada pula peragaan pakaian pengantin Bugis dan tabuhan gendang.

Ini adalah pengalaman pertama kami melakukan pameran di luar Indonesia, sehingga semua terasa excited dan penuh rasa ingin tahu – curiosity. Namun kami memiliki pemandu yang cantik dan baik hati Haslinna Jaaman yang senantiasa memberikan penjelasan sehingga kami tidak terlalu kaku dalam kegiatan itu.

Walhasil, kami merasa senang ketika rombongan wisatawan Eropa berkunjung ke stand kami. Mereka mencoba pisang epek bahkan menggunakan baju bodo dan jas tutup. Bahkan sempat membuat heboh, seorang bloger asal Mexico Edgar mendadak menjadi pusat perhatian dengan menggunakan jas tutup warna hijau. Dengan gayanya yang lucu dan mengundang perhatian, Edgar “diserbu” untuk berfoto bahkan dipanggil Datuk Museng 😂😂. Frankly said, he is so charming.

Pameran ditutup dengan hujan dan insiden kecil yang membuat Ibu Noorlizah Nurdin sangat terluka. Dia menumpahkan isi hatinya melalui media sosial miliknya.

Namun demikian, semoga insiden ini menjadi koreksi bersama. Teringat pepatah dimana langit dipijak disitu langit dijunjung. Terkadang, kekurangan informasi menyebabkan keputusan yang kita ambil menjadi sepihak dan tidak mengindahkan pihak lain sehingga terkesan individualistik. Apalagi sampai menyinggung tetamu yang hadir.

Salam budaya 🙏🙏🙏

Nila Passure’ Luwu

Dia masih muda dan cantik, jauh dari bayanganku tentang seorang wanita sepuh yang bisa melantunkan bait demi bait dalam kitab kuno I La Galigo (sure’). Kitab ini merupakan pedoman hidup pembelajaran masyarakat Luwu dan Bugis sebelum Islam diterima sebagai agama ilahi di tanah Luwu. Bahkan masih ada penduduk Bugis yang masih memedomani kitab ini di sekitar kabupaten wajo sebagai pedoman hidup. Mereka disebut To Lotang.

Sedikit pendiam menurutku, tidak banyak berbicara, suaranya halus dan sungguh menyejukkan. Sebuah kacamata kerap menjadi teman perjalanannya. Gemulai gaya jalannya menempatkan dirinya pada derajat kebangsawanan Luwu. Namanya Andi Nilaferawati Opu Tari.
Entah mengapa rasa ini tak dapat kubendung ketika mendengarkan sedikit cuplikan suaranya ketika massure’ atau melantunkan ayat / sure’ lontara La Galigo. Berdiri bulu kuduk, bergetar hati ini, entah apa arti sure’ yang dibacanya, namun sangat berbekas dalam hati. Lalu dia pun menjelaskan beberapa ritual sebelum memulai membaca sure’ La Galigo.

“Sama halnya berwudhu ketika kita hendak sholat, maka yang pertama dilakukan sabagai syarat sahnya massure’ adalah menyucikan diri dengan melakukan puasa muteh dan maccera” jelas Andi Nila. Puasa muteh yang dimaksud adalah puasa sehari sebelum massure’ dengan hanya memakan semua makanan yang putih, seperti nasi putih, putih telur dan minum air putih.
Setelah puasa muteh, berikutnya dilanjutkan dengan ritual Maccera. Andi Nila menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan maccera adalah menyembelih sepasang ayam jantan dan betina.
“Tapi maccera itu sangat tergantung pada besar kecilnya acara yang dilakukan.” Jelas Andi Nila. Dia mencontohkan ketika Bissu Saidi dari Barru diminta untuk massure’ oleh Robert Wilson, sutradara pementasan I La Galigo yang berkeliling dunia. Sebelum mulai massure’ Bissu Saidi meminta agar dilakukan cera’ dengan mengorbankan seekor sapi karena acara besar. Namun permintaan ini tidak dipenuhi hingga akhir pementasan di Makassar.
Saat itu Bissu Saidi’ sempat mengungkapkan “iya’ naseng na kenna – saya mi pasti yang dikenna’ yang dipercaya sebagai dampak tidak dilakukannya ritual maccera’ untuk pementasan. Wallahu alam, namun sekitar dua minggu dari pementasan terakhir I La Galigo di makassar, Bissu Saidi’ pun mangkat.
Hal mistis seperti ini pun kerap terjadi ketika awal-awal andi nila massure’ tanpa melakukan ritul. “Pernah sekali, saya massure’ tanpa melakukan ritual, paska massure’ saya pun tidak bisa melangkah beberapa bulan. Dipercaya atau tidak, namun hal itu membawa pelajaran untuk saya bahwa setiap kali saya mau massure’ maka saya harus membersihkan diri dengan ritual puasa muteh, maccera dan bersih hati,” jelasnya.

Belajar massure’ dilakukan pada tengah malam ketika seluruh makhluk hidup di dunia ini sudah diperkirakan terlelap dalam sepertiga malam. Dan ketika belajar, maka passure’ akan mengenakan baju bodo dan sarung yang yang keduanya berwarna kuning. Hal ini disebut massangiang, di dahului dengan mandi bersih.
Pertama kali belajar Massure’ tahun 2013, Andi Nila bahkan tidak mengerti bahasa Bugis, apalagi bahasa Lontara dalam kitab La Galigo. Tingkatan Passure’ yang tertinggi disebut Bissu. Dan Bissu pertama adalah saudara kembar Sawerigading yang bernama We Tenri Abeng dengan gelar Bissu Ri Langi’.
Perbedaan passure Luwu dan Bugis adalah di Luwu Passure’ itu adalah perempuan. Sedangkan di Bugis, passure’ itu laki-laki tapi kita lihat, secara mistis mereka akan berubah menjadi keperempuanan. Semakin tinggi tingkatan passure’nya maka laki-laki itu akan bertingkah menjadi seperti perempuan, bukan hal yang disengaja apalagi kalau tingkatannya menjadi bissuE maka laki-laki itu akan mengebiri dirinya sendiri. Mereka biasa disebut Calabai.

Perbedaan lainnya adalah kalau di Luwu hanya boleh ada satu Passure’. “Saya bisa mengajar massure’ ketika anre gurukku mangkat, atau ketika saya lebih duluan meninggal maka Anre gurukku bisa mengajar orang lain,” jelas Andi Nila.
“Massure’ itu berbeda dengan pelantunan biasa yang kita dengarkan yang disebut massaleang. Massure’ itu membaca sure’ La Galigo secara datar namun sangat dalam dan dilalui dengan ritual sedangkan massaleang itu melantunkan sure’ La Galigo seperti oramg bernyanyi dengan membaca sure’ Galigo yang bahasanya telah diubah namun memiliki arti yang sama dan tidak harus melalui prosesi ritual sebelum massure’.
Untuk massure’ ini biasa diiringi suling atau alat musik tradisional Sulawesi selatan keso’-keso’ yang alatnya mirip biola. Alat musik inilah yang memberikan ritme pada pembacaan sure’.
Kitab I La Galigo (sure’) dikenal secara dunia paska diakui UNESCO sebagai Memory of the World. Untuk melestarikannya, kitab I La Galigo ini diperkenalkan dalam bentuk pertunjukan teater I La Galigo oleh Robert Wilson, sutradara asal Amerika Serikat secara internasional pada tahun 2004.

Kitab I La Galigo tertulis dalam bahasa Luwu kuno ini bercerita tentang awal mula kerajaan Bumi dan seluruh peristiwa kehidupan, mulai dari pernikahan, bercocok tanam hingga perjalan cinta Sawerigading sang tokoh utama. Selain itu kitab ini memberikan gambaran tentang kebudayaan Luwu dan Bugis sebelum abad ke-14.

#renunganvie

YOUNG DIPLOMATS @AMERICA

Senang rasanya bisa berada di tengah-tengah semangat muda, jadi teringat masa-masa ketika awal kuliah, dengan segala informasi baru yang membentuk gagasan-gagasan baru. Apalagi mendengarkan kisah-kisah seru para diplomat muda yang di panel dalam acara Young Diplomats Behind The Scenes bertempat di @america Pacifik Place, Jakarta, Jumat (2/3).

Kegiatan ini diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dengan menghadirkan para pembicara perwakilan dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Dimas Muhammad, para ambassador dari Kedutaan Amerika Maxwell Harington, Kedutaan Perancis Quentin Biehler, Kedutaan Cina Yin Siyan, Kedutaan Afrika Selatan Tafula Shai dan Kedutaan Australia Scott Bradford.

Masing-masing ambassador memiliki keunikan terkait proses perekrutan mereka sebagai diplomat. Namun secara umum, dimulai dari proses lamaran kerja, mengikuti tes, melalui tahapan wawancara, pengecekan referensi, pemeriksaan kesehatan hingga program internship di awal karir sebagai diplomat muda.

Versi Yin Sian, diplomat China, para Diplomat ini secara umum bekerja mewakili kedutaan masing-masing untuk 1. Mengurus keperluan warga negaranya di negara tempat diplomat itu ditugaskan, 2. Mengurus warga asing yang ingin berkunjung di negara asal para diplomat, 3. Mengurus kasus-kasus yang melibatkan warga negaranya, 4. Membina hubungan yang baik dengan negara penempatan dan 5. Untuk mempromosikan negara asal mereka.

Foto bersama Diplomat Cina Yin Siyan

Selain itu, beberapa hal yang menjadi tantangan downtown para ambassador di negara penempatan mereka antara lain 1. Jauh dari rumah, keluarga dan teman-teman 2. Keluarga yang ikut pindah tapi pasangan tidak boleh bekerja yang profesional seperti di negara asal seperti yang disampaikan Quentin, sedang Dimas menceritakan beda pendapatan saat tugas di dalam indonesia dan ketika ditugaskan di negara lain 😁.

Foto bersama Quentin Biehler, diplomat Perancis

Banyak stereotype diberikan kepada para diplomat, bahwa mereka kerjanya pesta, berjabat tangan, foto-foto, namun dibalik itu masyarakat tidak tahu bahwa ada pekerjaan-pekerjaan analisis yang membutuhkan kejelian dan konsentrasi yang tinggi.” Jelas Dimas Muhammad, diplomat muda yang saat ini menjadi interpreter Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Foto bersama Dimas Muhammad Diplomat Indonesia

Bukan hanya terhadap tugas dan tanggung jawab mereka, juga terkait negara tempat mereka ditempatkan seperti Indonesia. Scott, diplomat Australia misalnya menjadikan Indonesia sebagai pilihan pertama penempatan tugas diplomasi. Dan dia sangat senang ketika pilihannya menjadi kenyataan. Karena dia suka Indonesia.

Foto bersama Scott Bradford, diplomat Australia

Beda dengan Maxwell, diplomat asal Amerika. Ketika pertama tiba di Indonesia. Sepanjang jalan menuju kediamannya, dia nenyaksikan gedung-gedung menjulang di sepanjang jalan. Padahal infonya, Indonesia adalah negara kecil dan sedang membangun. Hal lain yang menarik perhatiannya adalah mesjid tersebar dimana-mana, tidak seperti di Amerika. Dan yang paling berkesan ketika dia mengikuti Festival Keraton Nusantara di Cirebon tahun 2017, pertama kalinya dia melihat raja-raja dengan pakaian kebesaran masing-masing dan berkumpul dengan adat budaya yang santun yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya.

Foto bersama Maxwell Harington diplomat asal USA

Sayang tidak sempat foto bersama Diplomat Afrika Selatan Tafula Shai karena meninggalkan lokasi acara lebih awal. Tapi secara keseluruhan Tafula menyampaikan bahwa menjadi diplomat itu fun. “Meskipun terjadi ketidaksepahaman secara formal kenegaraan, namun sesama diplomat harus menjaga komunikasi yang baik, karena disitulah indahnya diplomasi,” jelasnya.

Secara umum, untuk menjadi seorang diplomat, kompetensi dasar sangat dibutuhkan, namun yang paling penting adalah keinginan untuk terus belajar baik itu isu internasional, budaya internasional, bahasa dan be yourself.

Setiap orang punya keunikan masing-masing. Gali potensimu, kembangkan dirimu. Karena kesuksesanmu adalah pilihanmu – Sulvi Suardi, Pacific Place, Jakarta, 02032018

Where diplomacys is more than what meets your eyes – FPCIndo

CATATAN MTKL 2018

Ternyata, ada juga catatan saya untuk pelaksanaan MTKL 2018. Dari ketidaksiapan pelaksanaan hingga pelaksanaan “nekad” yang menciptakan banyak drama.

Pertama, Mulai dari orang-orang yang “PECCU”

Kedua, Kerja yang menjadi tidak profesional

Ketiga, Manajemen Tukang Sate

Keempat, Kamuflase 🙊

Kelima, Manajemen Tertutup,

Keenam, kurangnya budaya “BERBAGI”

Ketujuh, sebaiknya Dewan Adat Kedatuan Luwu lebih memegang peran sebagai pengawas, bukan pelaksana.

Kedelapan, perlu dokumentasi dengan baik.

Kesembilan, Perlu disadari, apapun yang kita lakukan, tentu akan mendapat penilaian dari orang lain.

Kesepuluh dalam catatan kami, lebih mengedepankan dugaan dan prasangka daripada saling mensupport satu sama lain. Baru kali ini saya mengikuti sebuah kegiatan, dimana Ketua Tim lah yang membuat laporan persiapan kepada para koordinator kegiatan, bukankah semestinya koordinator yang melaporkan progres kepada Ketua hehehe.

Tabe kapolo, hasil evaluasi saya ini bukanlah sebuah kebenaran mutlak, tentu bisa didiskusikan sebagaimana setiap tindakan memiliki alasan dan argumentasi. Cukup dijadikan catatan, tanpa upaya untuk mendiskreditkan. Mari mengambil hikmah dari setiap kejadian. 🙏🙏🙏

MATTOANA MTKL 2018

Usai Kirab Budaya Matemmu Taung 2018 di sore hari, kegiatan di Istana Langkanae Kedatuan Luwu dilanjutkan dengan pembacaan Barzanji. Barzanji ini dilakukan sebagai pengucapan doa kesyukuran yang berisi puji-pujian kepada junjungan Rasulullah SAW, sebagai teladan manusia.

Usai Sholat Magrib, para Raja se-Nusantara kembali hadir di Istana Langkanae Kedatuan Luwu untuk jamuan Makan Malam secara adat atau Mattoana. Sebelum jamuan untuk To PapoataE Datu Luwu dihidangkan, Maddika Bua mewakili Kedatuan Luwu mengucapkan selamat datang kepada para Raja Se-Nusantara yang telah hadir dalam perhelatan Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018.

Selanjutnya, To PapoataE Datu Luwu mendapat persembahan dari orang Toraja sebagai pertanda kecintaan mereka kepada To PapoataE Datu Luwu.

Selanjutnya, hadirlah dua belas gadis belia yang dipimpin oleh sepasang muda mudi yang bertugas untuk menyerahkan dua belas AKKA atau suguhan kepada To PapoataE Datu Luwu. Dalam jamuan ini, To PapoataE Datu Luwu disuguhi “AKKA” (suguhan) berupa 12 bosara kiaje yang masing-masing dibawa oleh seorang gadis “PANGGOLO” (pelayan).

Didalam acara Mattoana ini, berlaku kaidah adat Luwu yang mengatakan “Maggati maneng akka rakkinna to Maegae” yang berarti bahwa akka seluruh para (undangan) yang hadir mengikuti Akka dari To PapoataE Datu Luwu. Yang berarti bahwa apabila Akka dari To PapoataE Datu Luwu telah dianggap sempurna secara adat, maka tidak seorangpun yang boleh protes atas AKKA (suguhan) bagi dirinya. Itu adalah simbol bahwa kehadiran To PapoataE Datu Luwu adalah simbol keharmonisan dan ketertiban sosial.

Sambil menikmati suguhan (AKKA) hadirin dihibur dengan pertunjukan tari Pajaga. Dimana esensi dari gerak dan irama tari Pajaga adalah sebagai latihan meditative (semedi) berupa pengendalian diri, membangkitkan kepekaan (sensitiveness) serta membangkitkan tenaga atau energi batin penarinya.

Tarian Pajaga yang ditampilkan pada MATTOANA MTKL2018 ini berjudul Ininnawa Mappatakko – sesuai syair dari pengiringnya sebagai berikut:

Ininnawa mappatakko

Alai-pakka waru

Toto teng-lessangmu

Yang secara bebas berarti:

“Tabahlah wahai jiwa

Jadikanlah pegangan hidup

Bahwa segala yang menimpa dirimu

Adalah takdir dari Yang Maha Kuasa

Yang tidak dapat dielakkan.

Setelah tari Pajaga, diikuti oleh pertunjukan tari Palili, lalu dilanjutkan dengan tampilan tari Sajo yang ditarikan oleh dua orang gadis yang suci. BIasanya tari Sajo ini diberi hadiah “ri cebbang” oleh kerabat dan handai taulan. Yang ditafsirkan oleh para hadirin sebagai refleksi “citra kepribadian” sang penari. Semakin banyak orang yang ‘Macebbang” semakin baik reputasi sang penari.

Usai tarian Sajo, maka para Pangngolo akan mengambil kembali bosara yang hidangannya telah disantap dan berlalu dari hadapan To PapoataE Datu Luwu juga hadirin yang dijamu.

Usai pelaksanaan Mattoana dan para tamu undangan telah meninggalkan Istana Langkanae Kedatuan Luwu, kegiatan di Istana dilanjutkan dengan Maddoja Roja atau berjaga semalam suntuk. PRosesi adat ini secara harfiah bermakna menjaga kesadaran atau Paringerrang yang dalam masyarakat Luwu dianggap memiliki kekuatan Adil Kodrati.

Acara Maddoja Roja juga dimaknai sebagai semedi (meditasi) secara kolektif di malam hari untuk menyempurnakan “kesadaran kolektif” dari rumpun keluarga Kedatuan Luwu sebelum melaksanakan acara adat keesokan harinya.

Inti acara Maddoja Roja adalah pembacaan Hatmul-Hauj atau Matemmu Lahoja. Yakni pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran sera tata cara melakukan Matemmu Lahoja sebagaimana yang telah disusun oleh Datok Sulaiman yang diberikan kepada Datu Luwu untuk dibacakan pada setiap kesempatan demi mendoakan keselamatan dan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Luwu.

Ayat-ayat suci Al-Quran yang dibaca ribuan kali oleh sembilan (9) ulama. Selama pembacaan doa tidak seorangpun dari kesembilan ulama tersebut boleh mengucapkan kata-kata selain rangkaian ayat-ayat suci Al-Quran. Apabila ada seorang pembaca yang melanggar ketentuan tersebut maka pembacaan harus dimulai lagi dari awal.

Sesudah membaca ayat suci maka kesembilan ulama membacakan doa dan kemudian dilanjutkan dengan sholat berjamaan 2 (dua) rakaat. Acara ini diakhiri dengan memakan manisan secara bersama-sama. Semoga kehidupan seluruh lapisan masyarakat Adat Luwu semakin terus makmur dan sejahtera di bawah Rahmat dan hidayah Yang Maha Pengasih.

Next : SEMINAR BUDAYA MTKL 2018

KIRAB BUDAYA MTKL 2018

Pagi yang cerah. Apalagi sarapan yang disuguhkan di kota sejarah ini luar biasa.

Rasanya masih ingin berlama-lama meluruskan badan namun aktivitas hari ini telah menanti. Kegiatan Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018 akan launching hari ini, dimulai dengan Kirab Budaya. Namun sebelum ke istana, aku bersama Ketua Panitia MTKL 2018, Brigjen TNI Muslimin Akib juga sohibku Mardiani Pandego terlebih dahulu melakukan penjemputan raja-raja Nusantara yang tiba di Bandara Bua.

Setelah penjemputan itu, para raja-raja ini dihantarkan ke hotel Agro Wisata Palopo untuk bersalin pakaian kemudian diantarkan ke Istana Langkanae Kedatuan Luwu guna menyaksikan pembukaan MTKL 2018 dan Kirab Budaya.

Tampak diantara raja-raja yang hadir, diantaranya Pringgo Husodo dari Pakualam, Ratu Noerlizah Nurdin dari Kepulauan Riau, Sulthan Aji M Heriansyah Andrian Sulaeman dari Kesultanan Paser, Andi Bau Sawerigading Addatuang Sawitto dari Pinrang, Andi Pamadengrukka Mappasomba dari Makassar, Amsal Sampetondok dari Walmas, Andi Fatimah Bau Massepe dari Suppa, Hj. Andi Farina Karaeng Bau dari Selayar, Andi Mapparessa dari Makassar juga hadir tamu dari luar negeri seperti Pangeran Haji Muhammad Syah dari Brunei Darussalam dan Tengku Shawal dari Singapura.

Kirab budaya Tana Luwu diikuti sekitar 1.500 peserta dari 12 anak Suku Kerajaan Luwu, yakni, To Ugi (Bugis), To Ware, To Ala, To Raja, To Rongkong, To Pamona, To Limolang, To seko, To Wotu, To Padoe, To Bajo dan To Mengkoka.

Kirab Budaya dimulai pada pukul 13.00 dengan rute yang ditempuh kurang lebih 2km. Garis start dari Lapangan Pancasila di jalan Sudirman, menuju Jalan Andi Djemma, lalu belok kanan ke Jalan Yusuf Arif dan belok kiri ke Jalan Landau. Pasukan Istana Langkanae Kedatuan Luwu mengelilingi istana sebanyak 3 (tiga) kali lalu dilanjutkan oleh peserta kirab lainnya menuju Istana langkanae Kedatuan Luwu termasuk didalamnya adalah air suci dari Manjapai yang sehari sebelumnya disemayamkan di baruga Maddika Bua.

Kerajaan Luwu merupakan kerajaan yang dituakan diantara tiga kerajaan “TellumpoccoE” atau Tiga Kerajaan Utama di Sulawesi Selatan, yakni Kerajaan luwu, Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Dalam naskah Mitologi Lagaligo disebut bahwa: Silsilah cikal bakal Pajung atau Raja-Raja Luwu dimuai dari To PalanroE (Yang Maha Menciptakan) atau Patoto’E (Yang Maga Menentukan Nasib) yang bersemayam di Kayangan, di puncak langit ke tujuh (Botinglangi) bersama permaisurinya Palinge’E (Yang Maha Mengatur). Putera tertua bernama La Togelangi Batara Guru Sangkuru’ Wira’ diturunkan di muka vumi (Attawareng) yang kemudian menjadi Pajung Luwu pertama. Baginda digantikan oleh puteranya yang digekar I Hati Uleng Batara Lattu opunna Ware’. Baginda Batara Lattu kemudian melahirkan Sawerigading yang masyhur sebagai “Cultural Hero” (Pahlawan Budaya) bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Susunan Pasukan Kerajaan Luwu

  1. Pada bagian terdepan barisan kirab adalah PANGNGARU’ atau pasukan tempur yang terdiri dari kesatuan-kesatuan Para Anak Suku Palili yang pada Kirab kali ini oleh pasukan Pangngaru’ To Rongkong,
  2. Sesudah itu menyusul pembawa SULOLANGI, yaitu semacam obor penolakan marabahaya,
  3. Kemudian menyusul pembawa BESSI BANRANGA atau tombak pengawal sebagai simboljabatan resmi dari Kerajaan Luwu,
  4. Sesudah itu menyusul pembawa BESSI MANRAWE atau tombak pengawal sebagai simbol kedudukan tertinggi dalam Kerajaan Luwu yaitu Pajung Luwu,
  5. Sesudah itu menyusul pembawa BESSI PAKKA (Tombak Bercabang Dua) yang merupakan simbol kekuasaan politik tertinggi dalam Kerajaan Luwu, yaitu Pajung Luwu yang merupakan Penguasa Tunggal mewakili Dewata Mattanrumpulaweng-E (Dewata Bertanduk Emas) yang merupakan Dewata Tertinggi menurut mitologi Luwu
  6. Payung berwarna Kuning yang disebut “TEDDUNG PULAWENG” adalah payung kebesaran yang dipakai untuk mengiringi Datu Luwu,
  7. LELLUNG, yang digunakan oleh Datu Luwu untuk menghindarkan sinar matahari,
  8. Payung berwarna merah yang disebut “TEDDUNG PEROE(Payung MaEja) adalah payung yng digunakan untuk prosesi pelantikan Datu Luwu,
  9. PAKKALIAWO’ merupakan pasukan pengawal pribadi “Opu Cenning” atau Panglima Perang. Pasukan pengawal ini berjumlah 12 orang dengan menggunakan “KALIAWO” atau Perisai dengan logo “Singkerru Mulajaji” simbol Panglima Perang Kedatuan Luwu. Karena itu pasukan ini disebut PAKKALIAWO,
  10. Kemudian menyusul BATE-BATE’ TELLLUE yang terdiri dari: (a) Matoa Wate’ (b) Matoa Lalengtonro’ (c) Matoa Cenrana
  11. Selanjutnya menyusul bendera ANA’ TELLUE yang terdiri dari: (a) Mokole Baebuntan (b) Ma’dika Bua (c) Ma’dika Ponrang,
  12. Sesudah itu menyusul BENDERA TELLUE (Tiga Bendera Utama) yang masing-masing: (a) Macang-NgE (b) Kamummu-E (c) Goncing-E. Yang merupakan bendera kesatuan dari Pasukan Inti atau Pasukan Elit Kerajaan Luwu.

Setelah pasukan Kedatuan, berlanjut pasukan kirab dari Mokole Baebunta yang dipimpin langsung oleh We Masita Kampasu.

Disusul rombongan kirab budaya Kemaddikaan Bua dipimpin langsung oleh Maddika Bua La Saifuddin Kaddiraja bersama dengan beberapa Rumpun Maddika Bua, diataranya: Palempang Walenrang, Panggulu Kada Ilang Batu, Panggulu Kada Siteba, Panggulu Kada Lemo Tua, Panggulu Kada Bolong, Panggulu Kada Tombang beserta para Tomakakanya, Para Warga Tana Toraja Perantau Irian, Banua A’pa Tongkonan Annang Pulona beserta beberapa Parengngenya.

Disusul Kirab Budaya Kemaddikaan Ponrang dipimpin langsung oleh La Sana Kira (Maddika Ponrang) bersama dengan beberapa Parengnge dan Tomakakanya, diantaranya Parengge Padagusi Rante Balla yaitu Pa’Lairan Kanna serta Tomakaka Ulu Salu.

Selanjutnya Lili Pasiajing yang terdiri dari: Mokole Matano (Nuha) yang dipimpin langsung oleh Andi Baso dan sebelas wilayah Moholanya, Arung Senga dan Maddika Sangalla

Selanjutnya Kirab Budaya dari Tana Wajo Belawa.

Kehadiran Pasukan Kirab Keraton Kedatuan Luwu menggambarkan Ikatan “Maseddi Siri‘ yaitu Kemanunggalan dalam Keanekaragaman yang mengikat masyarakat Luwu dalam Prinsip Bhineka Tunggal Ika (Unity in Diversity).

Next : MATTOANA MTKL 2018