Catatan Vie Untuk FKN XIII Tana Luwu

Catatan Vie – 1

Semua bermula saat aku masih ditempatkan sebagai Pengelola Mess Pemda Luwu Timur di Jakarta. Kami baru saja selesai melaksanakan Event Matemmu Taung Kedatuan Luwu, Januari 2018. Saat itu, Ibu Harta Andi Djelling Opu Odeng dan diriku diminta untuk melanjutkan tugas persiapan Festival Keraton Nusantara XIII Tana Luwu 2019.

Malam-malam pun diisi dengan diskusi dan persiapan. Kami bahkan berkunjung ke Kesultanan Cirebon untuk bertemu Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat untuk mendapatkan arahan dan petunjuk pelaksanaan FKN yang merupakan program silaturahmi rutin Forum Komunikasi dan Indormasi Keraton Nusantara (FKIKN).

Untuk itu, kami juga diutus mengikuti Launching Festival Keraton Masyarakat Adat Asia Tenggara ke-V di Kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 20 Februari 2018.

Beberapa pertemuan diadakan guna persiapan proposal kegiatan yang melibatkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, 4 Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota se-Tana Luwu, serta beberapa perusahaan swasta dan individu yang ingin menyukseskan FKN XIII di Tana Luwu.

Namun rasa cemburu membuat nama baik Opu Odeng dan diriku tercoreng. Tidak ada lagi kebaikan. Lelah kami bahkan dibayar dengan sebuah pukulan di meja yang membuat semua mata pengunjung Cozyfield PIM 2 tertuju pada kami. Seolah-olah kami telah melakukan kesalahan yang tak termaafkan.

Sejak itulah kami sudah tidak dilibatkan lagi dalam persiapan FKN XIII. Hanya semangat dan titah Yang Mulia To Papoatae Datu Luwu XL La Maradang Mackulau Opu To Bau lah yang tetap menjadi penyemangat kami. Sehingga tidak mengendorkan semangat kami untuk tetap ikut serta menyukseskan FKN XIII meski bukan lagi di tim inti.

Seperti halnya saat kami diberikan mandat Datu Luwu XL untuk mengikuti Seminar dan Sarasehan Peringatan Kebangkitan Misi Suci Menuju Kemuliaan Juang Bangsa Amantubillah dari Juang Keliru bersama Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, M.Si., Raja Mempawah XIII Pangeran Ratu Mulawangsa DR. Ir. Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, M.Sc., ibunda Ratu Kencana Wangsa DR. Ir. Arini Maryam, M.Sc, serta kerabat Kerajaan Amantubillah di Puri Bagus Candi Dasa Bali pada 15-17 Maret 2019.

Kami juga mendapat mandat mengikuti Bazaar Ugik dalam Festival Bugis 2018 di Malay Heritage Centre Istana Kampung Glam Singapore pada 13-18 April 2018. Dimana kami memperkenalkan tentang Kedatuan Luwu dan budaya Luwu di Singapore serta mensosialisasikan FKn XIII di Tana Luwu.

Yang kemudian berlanjut ke Johor untuk mengikuti Peresmian Persatuan Zuriat Daeng Marewah Ibni Upu Malaysia yang diresmikan oleh YTM Kebawah Kaus Dato Johan Pahlawan Lela Perkasa Setiawan Undang luak Johol ke-15 Dato Undang Muhammad Bin Hj. Abdullah di kediaman DS. Tengku Daeng Baha Ismail pada 21 April 2018. Zuriat Daeng Marewah memiliki keterikatan saudara keturunan Luwu.

Setelah itu kami kembali ke Sulawesi dan mengikuti Launching Logo FKN XIII di Istana Datu Luwu, Palopo pada 12 Mei 2018.

Lalu kami juga mengikuti Dialog Publik Maccera Tasi di kota Belopa, Kabupaten Luwu pada 19 Januari 2019. Penting untuk mengikuti dialog ini yang kemudian memberikan rekomendasi apakah Maccera Tasi’ tetap masuk dalam agenda FKN XIII Tana Luwu.

Kami hanya mengikuti perkembangan persiapan FKN XIII lewat group-group dan postingan medsos teman-teman. Kadang kala merasa sangat gemes karena beberapa persiapan yang pernah kami diskusikan sama sekali tidak dilakukan. Tapi kami memilih go with the flow sajalah hehehe.

Hingga akhirnya beberapa kejadian membuatku berhubungan langsung dengan persiapan FKN XIII, seperti mempertemukan Ketua Panitia FKN XIII dengan Bupati Luwu Timur, mewakili Kabag Humas dalam rapat persiapan FKN XIII bersama Maddika Bua hingga keterlibatan penuh dalam persiapan FKN XIII di kecamatan Wotu Kabupaten Luwu Timur. Secara aku pun telah kembali bertugas di Luwu Timur sejak akhir Februari 2019.

Hingga jelang pelaksanaan FKN XIII, konfirmasi beberapa Raja dan undangan yang akan datang aku sampaikan pada pihak panitia karena mereka menghubungiku lebih dahulu. Eh, Opu Odeng pun menghubungiku menanyakan apakah aku bersedia membantunya mengurusi beberapa tamu dari Luar Negeri sesuai permintaan Ketua Panitia.

Berat rasanya, setelah semua yang terjadi. Rasa kurang nyaman atas perlakuan yang tidak adil dan kekhawatiran akhirnya harus aku buang jauh-jauh mengingat utang budi yang telah diberikan para tamu khususnya dari Singapore dan Malaysia saat aku mengunjungi negara mereka dalam beberapa kesempatan sebelumnya.

Meskipun para tamu-tamu ini sudah mendapatkan Liaison Officer (LO) atau pendamping lokal selama acara, namun Opu Odeng dan diriku diminta menjadi pendamping LO khusus untuk tamu-tamu Malaysia dsn Singapore utamanya yang sudah kami kenal.

Walhasil, karena semua saling terkait, maka aku pun berangkat lebih awal untuk melakukan koordinasi di Palopo. Alhamdulillah, pelaksanaan FKN XIII untuk Luwu Timur berada di akhir jadi waktu persiapan lebih banyak.

Begitu tiba di Palopo, aku langsung membantu di sekretariat Panitia berhubung aku juga butuh konfirmasi undangan untuk rombongan Luwu Timur baik di Gala Dinner, Pembukaan, dan Penutupan, rombongan Raja dan Sultan yang akan ke Luwu Timur, perlakuan kepada para Raja dan Sultan yang akan hadir.

Alhamdulillah, para Raja dan Sultan sudah mulai berdatangan di Kota Palopo. Persiapan demi persiapan dilaksanakan dan saya menjadi bingung karena cukup banyak tugas yang harus diselesaikan sementara show must go on.

Bersambung ke Catatan Vie – 2

Advertisements

One Day Exploring Tentena

Tujuan awal ke Tentena adalah menyaksikan langsung bagaimana pelaksanaan Festival Danau Poso. Namun kecantikannya membuatku ingin mengeksplorasi setiap sudut yang kutemui.

Saat tiba di Tentena, setelah check in di Hotel, kami menikmati malam di pusat kota Tentena, tepatnya di Taman Kota Tentena. Suasananya asyik, terlihat sebuah rumah adat berdiri kokoh menggambarkan sejarah yang tak lekang oleh waktu, Budaya Sintuwu Raya.

Lalu berdiri pula sebuah bangunan yang rupanya sering digunakan sebagai tempat pertemuan masyarakat. Tetap bercirikan adat budaya setempat.

Di tengah-tengah taman Tentena terdapat juga monumen ikan sogili atau ikan belut dan ikan mas yang merupakan simbol bersatunya penduduk asli dan penduduk pendatang dalam membangun Tentena. Ikan Sogili adalah ikan khas danau Poso yang dilambangkan sebagai penduduk asli. Dan ikan mas adalah perlambang penduduk pendatang. Yang mana keduanya hidup bersama di bumi Sintuwu Raya.

Malam semakin larut dan udara semakin dingin. Kami akhirnya kembali ke peraduan, meluruskan badan setelah perjalanan yang cukup panjang.

Matahari mengintip dari ufuk timur. Hanya saja dinginnya membuat mata tetap ingin terpejam. Tapi Bu Bidan Nur yang mengajakku ke Tentena sudah siap-siap dan membangunkan semua orang. Walhasil aku juga mesti bangun yaaa.

Setelah sarapan kami sempat foto bersama tim trail Sorowako yang juga nginap di hotel yang sama. Setelah itu kami berpencar menuju tempat pelaksanaan Festival Danau Poso.

Lalu kami merapat ke lokasi Festival Danau Poso. Disana telah berkumpul ribuan trailer yang siap mengikuti One Day Tentena Trail.

Saat peserta trail kumpul dan mulai bergerak, kami pun berpindah untuk makan siang di seberang hotel yang kami tempati semalam. Aish.. hanya jembatanlah sebagai penghubung kedua sisi di seberang muara danau Poso ini. Belum lagi ikan yang dihidangkan adalah ikan segar yang dipilih saat kita baru masuk mencari tempat duduk. Ikan-ikan yang dihidangkan, diambil langsung dari kerambah danau tepat dibawah rumah makan yang kami tempati Onggobale is a recomended reataurant for your meals at Tentena. 😍

Setelah kenyang, kami menuju airterjun Saluopa waterfall huaaa.. cuantiknyoooo dan saya dapat lagi bunga anggrek hutan sebagai buah tangan yeiii.. itupun setelah menyantap hidangan binte dari keluarga ibu bidan cantik yang saya temani jalan-jalan kali ini. 🙏😍

Belum puas rasanya mengelilingi Tentena, namun saya harus kembali ke Luwu Timur. Dan kami memilih mengitari danau Poso dan tiba di puncak tertinggi di tepian danau poso, puncak Padamari. Lalu lanjut kembali ke Luwu Timur.

#vietrip

Festival Danau Poso 2019

Namanya rejeki tidak kemana. Semua bermula dari status facebook ibu bidan cantik Nur Nasmasriati yang lebih suka dipanggil bidan Nur. Statusnya sederhana, hanya menanyakan “siapa yang mau ikut Festival Danau Poso di Tentena silahkan mendaftar terutama yang bisa jadi driver, ayo cuuuzzz”

Padahal saya termasuk orang yang jarang sekali membaca status teman-teman facebook. Kecuali di colek atau di tag. Sekedar menjawab dan akhirnya percakapan berlanjut di whatsapp. 😁

Rupanya saya memang berkesempatan untuk ikut berangkat ke Tentena, padahal biasanya kalau weekend justru padat-padatnya acara pimpinan untuk didampingi. Walhasil, jelang jam pulang kantor, kita cuz ke Mangkutana, rumah bidan Nur.

Jalur Buka Tutup Jalan

Mobil kuparkir di rumah bidan Nur, kami pun menggunakan Pajero yang isinya pink semua, berangkat ke Tentena.

Namun tak disangka, rupanya kami kena jadwal tutup jalan arah Mangkutana-Tentena. Dengan adanya proyek perbaikan jalan yang longsor, maka kami harus menunggu jadwal buka jalanannya. Lumayan juga menunggunya, sempat habis semangkok mie goreng telur dan segelas teh panas, berhubung udaranya sangat dingin.

Pasir Putih Tepian Danau Poso

Kami singgah di National Cottage Pendolo untuk berfoto di pantai pasir putih Danau Poso. Jadi ingat, saya pernah singgah juga di Cottage ini waktu ikut rombongan Off Road beberapa tahun lalu 😁

Bertemu Riders Lutim

Rupanya bukan hanya kami saja yang menuju Tentena. Kami bertemu Riders Lutim juga yang akan ikut One Day Trail Adventures Explore Wisata Danau Poso dalam rangka Festival Danau Poso.

Jadilah kami beriringan menuju Tentena. Namun secara tak terduga, mobil di depan kami berhenti, rupanya minta ganti sopir. Jadilah saya bebas tugas dari sopir menjadi penumpang. Sempat agak protes sih, tapi ga apalah kalau memang bersedia menggantikan hehehe.

Welcome Tentena

Wah, rupanya saya salah kira. Saya pikir Tentena itu panas, ternyata dinginnya minta ampun. Walhasil, begitu tiba langsung lapar hehehe, untung langsung diarahkan ke warung makan. Lumayanlah seporsi ayam geprek pedas di malam yang dingin memberikan sedikit rasa hangat.

Kami lalu diantar ke tempat penginapan. Letaknya di atas bukit dengan pemandangan hilir Danau Poso yang cantik dengan segala lampu-lampunya.

Berhubung kami excited sekali, bukannya istirahat, malah memilih untuk keluar menikmati malam di Tentena. Tujuan kami adalah ke Taman Kota atau Taman Tentena yang juga memiliki tugu ikan mas dan masapi.

Trail Day

Hari yang cerah, terbangun karena suara deru mesin motor trail yang dipanaskan. Informasinya, seluruh hotel dan penginapan di Tentena habis di booking para riders se-Indonesia untuk menyukseskan Festival Danau Poso ke 21.

Ternyata, tidak seperti bayangan saya sebelum datang ke tempat ini. Festival Danau Poso atau FDP rupanya terfokus pada tempat yang dibangun khusus untuk Festival ini, terletak di tepi Danau Poso. Untuk masuk ke lokasi FDP, kita melewati gerbang khusus. Selama ini kalau saya meghadiri sebuah festival biasanya terletak di taman tengah kota hehhee, kutemukan suatu yang beda di kota ini.

Tiba di tepi Danau Poso, pengunjung langsung disambut semilir angin dan ratusan umbul-umbul yang berkibar, berjejer laksana pasukan penjemput tamu. Kesan event besar secara lantang tergambarkan.

Belum lagi tenda-tenda raksasa dari semua instansi Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) meskipun di beberapa tenda tertulis bantuan pusat seperti tenda Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB). Ditambah tenda-tenda kerucut, tenda-tenda terowongan lalu 2 panggung besar yang berhadapan dan terhubung satu sama lain membuat venue FDP ini semakin megah.

Semakin mendekat ke pusat keramaian, semakin terasa kecil diri ini apalagi bersama 1.550 riders yang berkumpul di depan panggung dan saling menyapa. Mereka akan mengikuti Trail Adventure Explore Wisata Danau Poso dari Tim Amstrac (Ampana) sebagai rangkaian dari FDP ini.

Saya pun memperkirakan, sekitar 5.000 hingga 6.000 orang dapat tertampung di dalam pagar dan mencapai 20.000 orang yang dapat tertampung hingga di area parkiran.

Sambil menanti saat para riders persiapan, kami pun menyapa Mc cantik pada pagi itu, miss Wanda. Seperti biasa, dia selalu tampil ceria dan heboh bahkan beberapa kali terlihat melakukan welfie dengan para riders.

Hingga tibalah saat para riders ini dilepaskan oleh Bupati Poso Darmin Agustinus Sigilipu. Wah… sangking banyaknya riders yang ikut, bendera start berulang kali diangkat untuk mengatur jarak dan keberangkatan para riders.

Meskipun cuaca sangat panas, namun semilir angin yang berhembus memberikan rasa sejuk bahkan dingin di tepi Danau Poso ini. Sayangnya, tidak banyak pohon yang ditemukan di sekitar lokasi FDP ini. Sehingga kesan gersang dan panas tergambar dengan jelas. Namun tetap saja, kesan megah dan event besar tergambar jelas sejak kita baru pertama kali memasuki venue event ini.

Lanjut ke Explore Tentena

Saat Kau Memilihnya

Namun Dia Menyakitimu

Tidak sebentar aku mengenalmu. Beraneka cerita sudah menjadi hiasan kisah kita. Semua kulakukan hanya dengan satu alasan bahwa kubelajar menerima kenyataan dan berusaha mencintaimu.

Namun, disaat aku mulai menikmati kasih sayangmu, disaat rasa sakit mulai terobati dan cinta mulai merekah, kau dengan sadar membenamkan belati beracun tepat menyentuh relung hati yang paling dalam.

Sakit yang kauberikan sungguh perih, hingga rasa itu menjadi tak terbayangkan. Hanya lembaran putih yang menyilaukan dalam bingkai amarah.

Butuh waktu untuk melupakan yang telah kau lakukan. Saat keputusan ternobatkan dan kau memilih bersamanya. Kau melegitimasi sebuah keadaan yang selama ini kau ingkari sendiri.

Sungguh, pertanyaanku tak terhenti, namun tersekat di ujung kerongkongan, tanpa terucapkan. Air mata tak terbendung dan kulewati hari tanpa senyum. Pekat, gelap, hilang asa karena kepergianmu.

Kini, saat aku mendengar bahwa dia menyakitimu dengan cerita yang memenjarakan ke-Aku-an mu selama ini. Entah mengapa rasa sakit kembali menghampiriku. Dia yang kau pilih dengan meninggalkanku, ternyata tak memberimu damai dan bahagia.

Aku ingin tertawa, menertawakan pilihanmu. Tapi entah mengapa, justru sakit yang kurasakan laksana luka yang kembali menganga lebar. Entah kemana rasa benciku padamu karena memilih dia, tapi aku bersyukur, tak perlu menghakimimu dengan tanganku karena sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui atas segala apa yang terjadi.

#catatanvie – Tapu Ondau, 28072019

TUGAS Mempertemukanku dengan I La Galigo

Sedikit rasa sedih menyelimuti saat mendapat informasi pertunjukan I La Galigo karya Sutradara dunia Robert Wilson yang akan dilangsungkan di Jakarta pada 3, 5, 6, 7 Juli 2019. Bukan hanya harga tiket pertunjukannya yang bikin kliyeng-kliyeng tetapi lebih-lebih harga tiket pesawat PP Makassar-Jakarta yang tidak turun-turun.

Namun ternyata Allah SWT berkehendak lain. Tugas membawaku ke Jakarta dengan menjadi bagian dari tim Luwu Timur untuk Apkasi Expo 2019 di Jakarta Convention Center, Jakarta 3-5 Juli 2019.

Bukan hanya menjadi bagian dari tim pameran, ternyata tugas protokol pun harus dilaksanakan berhubung Bupati Luwu Timur Muhammad Thorig Husler juga berkenan hadir pada pembukaan Apkasi Expo 2019 dan mengikuti Rapat Pengurus Apkasi setelah pembukaan Expo pada 3 Juli 2019.

Malam harinya, orang nomor satu di Bumi Batara Guru ini berkenan menyaksikan pertunjukan I La Galigo di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta.

Berhubung tiket yang disiapkan Kadis Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga Luwu Timur hanya 4, maka loby-loby pun dilakukan untuk bisa mendampingi Bapak sampai ke ruangan. Apalagi kamera DSLR tidak diperkenankan dibawa masuk ke dalam ruang pertunjukan. Padahal tugas kami yang utama adalah mendokumentasikan kegiatan pimpinan, dan moment langka seperti ini sangatlah penting untuk didokumentasikan.

Alhamdulillah, akhirnya kami diperkenankan masuk ke dalam ruangan pertunjukan bahkan boleh membawa kamera. Bukan itu saja, berhubung banyak kursi kosong, kami pun bisa duduk dan alhamdulillah menyaksikan pertunjukan spektakuler ini yang juga dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Muh Jusuf Kalla dan ibu Mufidah JK.

Namun, hati ini tak dapat menerima begitu lama konsep menonton tanpa karcis. Setelah melewati beberapa scene dengan penuh rasa kagum dan terhipnotis dengan setiap langkah dan gerak yang dilakukan, saya memutuskan untuk keluar dari ruang pertunjukan. Ternyata ada TV yang disiapkan dan bisa menyaksikan pertunjukannya kembali.

Eh, diluar malah bisa bertemu dan berbincang dengan Sri Muliani, Technical Advisor Ciputra Artpreneur. Kami pun berbincang-bincang tentang pertunjukan ini dan Sri menyatakan kekagumannya akan kisah dari Tana Luwu ini sehingga berusaha meyakinkan manajemen Ciputra agar pertunjukan ini dapat dilaksanakan di Ciputra Artpreneur sebagai sumbangsih pelestarian budaya Indonesia.

Teringat statement seorang kawan, “lakukan saja pekerjaan yang diberikan dengan ikhlas dan tulus. Akan banyak hal-hal positif yang akan terjadi bahkan yang tidak terduga sekalipun”.

Benar saja.. akhirnya TUGAS membawaku bertemu I La Galigo. Tidak hanya bersama Bupati Luwu Timur pada 3/7, juga menemani Datu Luwu XL La Maradang Mackulau Opu To Bau dan Opu Datu Lina Widyastuti Wahyuningsih pada 5/7.

Beruntungnya lagi karena kami tiba lebih awal, sehingga saat menemani Datu Luwu XL masuk ke dalam ruang teater, kami bisa berkenalan dengan salah satu Co-Director pertunjukan spektakuler ini, Charles Chemin dan berbincang sejenak tentang pertunjukan ini. Kehadiran Datu Luwu XL rupanya cukup mengejutkan Charles dan sangat menyayangkan karena tidak sempat bertemu Robert Wilson yang telah kembali ke Amerika Serikat usai pertunjukan tanggal 3/7.

Alhamdulillah…. kebahagiaanku tidak berhenti disini saja.. karena saya bisa bertemu salah satu koreografer andalan Makassar kak Ida El Bahra yang juga menyaksikan pertunjukan ini.

Dan rupanyaaaa.. adik cantikku Fitrya Ali Imran merupakan pemeran tokoh We Tenriabeng dalam pertunjukan ini 😍😍😍 aishhh bahagianya.

Benar-benar sebuah anugerah yang membuatku semakin bersyukur dapat bertemu dengan orang-orang yang hebat dan mengambil pelajaran daripadanya. Setiap langkah yang tertuang dalam lembar-lembar memori memberiku pelajaran bahwa apapun bisa terjadi dengan izin Allah SWT.

Catatan kecil, Jakarta 4 Juli 2019

DUKAKU UNTUK PALU

Malam itu luka lama terbuka kembali. 14 tahun lamanya luka itu tersimpan, ternyata masih tetap sakit tak terperih. Ternyata belum sembuh seperti yang kukira.

Malam itu, gelisah mencari kabar ibu, bapak dan adik-adikku di Sorowako. Karena tanah kelahiranku pun terdampak gempa yang bermula di Palu, Sulawesi Tengah. Sejurus mata melihat berita-berita yang berseliweran di HP, media sosial bahkan televisi tentang tsunami yang meluluhlantakkan Palu, Donggala dan Sigi.

Ya Allah, gempa, tsunami dan likuifaksi itu