CATATAN MTKL 2018

Ternyata, ada juga catatan saya untuk pelaksanaan MTKL 2018. Dari ketidaksiapan pelaksanaan hingga pelaksanaan “nekad” yang menciptakan banyak drama.

Pertama, Mulai dari orang-orang yang “PECCU”

Kedua, Kerja yang menjadi tidak profesional

Ketiga, Manajemen Tukang Sate

Keempat, Kamuflase πŸ™Š

Kelima, Manajemen Tertutup,

Keenam, kurangnya budaya “BERBAGI”

Ketujuh, sebaiknya Dewan Adat Kedatuan Luwu lebih memegang peran sebagai pengawas, bukan pelaksana.

Kedelapan, perlu dokumentasi dengan baik.

Kesembilan, Perlu disadari, apapun yang kita lakukan, tentu akan mendapat penilaian dari orang lain.

Kesepuluh dalam catatan kami, lebih mengedepankan dugaan dan prasangka daripada saling mensupport satu sama lain. Baru kali ini saya mengikuti sebuah kegiatan, dimana Ketua Tim lah yang membuat laporan persiapan kepada para koordinator kegiatan, bukankah semestinya koordinator yang melaporkan progres kepada Ketua hehehe.

Tabe kapolo, hasil evaluasi saya ini bukanlah sebuah kebenaran mutlak, tentu bisa didiskusikan sebagaimana setiap tindakan memiliki alasan dan argumentasi. Cukup dijadikan catatan, tanpa upaya untuk mendiskreditkan. Mari mengambil hikmah dari setiap kejadian. πŸ™πŸ™πŸ™

Advertisements

MATTOANA MTKL 2018

Usai Kirab Budaya Matemmu Taung 2018 di sore hari, kegiatan di Istana Langkanae Kedatuan Luwu dilanjutkan dengan pembacaan Barzanji. Barzanji ini dilakukan sebagai pengucapan doa kesyukuran yang berisi puji-pujian kepada junjungan Rasulullah SAW, sebagai teladan manusia.

Usai Sholat Magrib, para Raja se-Nusantara kembali hadir di Istana Langkanae Kedatuan Luwu untuk jamuan Makan Malam secara adat atau Mattoana. Sebelum jamuan untuk To PapoataE Datu Luwu dihidangkan, Maddika Bua mewakili Kedatuan Luwu mengucapkan selamat datang kepada para Raja Se-Nusantara yang telah hadir dalam perhelatan Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018.

Selanjutnya, To PapoataE Datu Luwu mendapat persembahan dari orang Toraja sebagai pertanda kecintaan mereka kepada To PapoataE Datu Luwu.

Selanjutnya, hadirlah dua belas gadis belia yang dipimpin oleh sepasang muda mudi yang bertugas untuk menyerahkan dua belas AKKA atau suguhan kepada To PapoataE Datu Luwu. Dalam jamuan ini, To PapoataE Datu Luwu disuguhi “AKKA” (suguhan) berupa 12 bosara kiaje yang masing-masing dibawa oleh seorang gadis “PANGGOLO” (pelayan).

Didalam acara Mattoana ini, berlaku kaidah adat Luwu yang mengatakan “Maggati maneng akka rakkinna to Maegae” yang berarti bahwa akka seluruh para (undangan) yang hadir mengikuti Akka dari To PapoataE Datu Luwu. Yang berarti bahwa apabila Akka dari To PapoataE Datu Luwu telah dianggap sempurna secara adat, maka tidak seorangpun yang boleh protes atas AKKA (suguhan) bagi dirinya. Itu adalah simbol bahwa kehadiran To PapoataE Datu Luwu adalah simbol keharmonisan dan ketertiban sosial.

Sambil menikmati suguhan (AKKA) hadirin dihibur dengan pertunjukan tari Pajaga. Dimana esensi dari gerak dan irama tari Pajaga adalah sebagai latihan meditative (semedi) berupa pengendalian diri, membangkitkan kepekaan (sensitiveness) serta membangkitkan tenaga atau energi batin penarinya.

Tarian Pajaga yang ditampilkan pada MATTOANA MTKL2018 ini berjudul Ininnawa Mappatakko – sesuai syair dari pengiringnya sebagai berikut:

Ininnawa mappatakko

Alai-pakka waru

Toto teng-lessangmu

Yang secara bebas berarti:

“Tabahlah wahai jiwa

Jadikanlah pegangan hidup

Bahwa segala yang menimpa dirimu

Adalah takdir dari Yang Maha Kuasa

Yang tidak dapat dielakkan.

Setelah tari Pajaga, diikuti oleh pertunjukan tari Palili, lalu dilanjutkan dengan tampilan tari Sajo yang ditarikan oleh dua orang gadis yang suci. BIasanya tari Sajo ini diberi hadiah “ri cebbang” oleh kerabat dan handai taulan. Yang ditafsirkan oleh para hadirin sebagai refleksi “citra kepribadian” sang penari. Semakin banyak orang yang ‘Macebbang” semakin baik reputasi sang penari.

Usai tarian Sajo, maka para Pangngolo akan mengambil kembali bosara yang hidangannya telah disantap dan berlalu dari hadapan To PapoataE Datu Luwu juga hadirin yang dijamu.

Usai pelaksanaan Mattoana dan para tamu undangan telah meninggalkan Istana Langkanae Kedatuan Luwu, kegiatan di Istana dilanjutkan dengan Maddoja Roja atau berjaga semalam suntuk. PRosesi adat ini secara harfiah bermakna menjaga kesadaran atau Paringerrang yang dalam masyarakat Luwu dianggap memiliki kekuatan Adil Kodrati.

Acara Maddoja Roja juga dimaknai sebagai semedi (meditasi) secara kolektif di malam hari untuk menyempurnakan “kesadaran kolektif” dari rumpun keluarga Kedatuan Luwu sebelum melaksanakan acara adat keesokan harinya.

Inti acara Maddoja Roja adalah pembacaan Hatmul-Hauj atau Matemmu Lahoja. Yakni pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran sera tata cara melakukan Matemmu Lahoja sebagaimana yang telah disusun oleh Datok Sulaiman yang diberikan kepada Datu Luwu untuk dibacakan pada setiap kesempatan demi mendoakan keselamatan dan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Luwu.

Ayat-ayat suci Al-Quran yang dibaca ribuan kali oleh sembilan (9) ulama. Selama pembacaan doa tidak seorangpun dari kesembilan ulama tersebut boleh mengucapkan kata-kata selain rangkaian ayat-ayat suci Al-Quran. Apabila ada seorang pembaca yang melanggar ketentuan tersebut maka pembacaan harus dimulai lagi dari awal.

Sesudah membaca ayat suci maka kesembilan ulama membacakan doa dan kemudian dilanjutkan dengan sholat berjamaan 2 (dua) rakaat. Acara ini diakhiri dengan memakan manisan secara bersama-sama. Semoga kehidupan seluruh lapisan masyarakat Adat Luwu semakin terus makmur dan sejahtera di bawah Rahmat dan hidayah Yang Maha Pengasih.

Next : SEMINAR BUDAYA MTKL 2018

KIRAB BUDAYA MTKL 2018

Pagi yang cerah. Apalagi sarapan yang disuguhkan di kota sejarah ini luar biasa.

Rasanya masih ingin berlama-lama meluruskan badan namun aktivitas hari ini telah menanti. Kegiatan Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018 akan launching hari ini, dimulai dengan Kirab Budaya. Namun sebelum ke istana, aku bersama Ketua Panitia MTKL 2018, Brigjen TNI Muslimin Akib juga sohibku Mardiani Pandego terlebih dahulu melakukan penjemputan raja-raja Nusantara yang tiba di Bandara Bua.

Setelah penjemputan itu, para raja-raja ini dihantarkan ke hotel Agro Wisata Palopo untuk bersalin pakaian kemudian diantarkan ke Istana Langkanae Kedatuan Luwu guna menyaksikan pembukaan MTKL 2018 dan Kirab Budaya.

Tampak diantara raja-raja yang hadir, diantaranya Pringgo Husodo dari Pakualam, Ratu Noerlizah Nurdin dari Kepulauan Riau, Sulthan Aji M Heriansyah Andrian Sulaeman dari Kesultanan Paser, Andi Bau Sawerigading Addatuang Sawitto dari Pinrang, Andi Pamadengrukka Mappasomba dari Makassar, Amsal Sampetondok dari Walmas, Andi Fatimah Bau Massepe dari Suppa, Hj. Andi Farina Karaeng Bau dari Selayar, Andi Mapparessa dari Makassar juga hadir tamu dari luar negeri seperti Pangeran Haji Muhammad Syah dari Brunei Darussalam dan Tengku Shawal dari Singapura.

Kirab budaya Tana Luwu diikuti sekitar 1.500 peserta dari 12 anak Suku Kerajaan Luwu, yakni, To Ugi (Bugis), To Ware, To Ala, To Raja, To Rongkong, To Pamona, To Limolang, To seko, To Wotu, To Padoe, To Bajo dan To Mengkoka.

Kirab Budaya dimulai pada pukul 13.00 dengan rute yang ditempuh kurang lebih 2km. Garis start dari Lapangan Pancasila di jalan Sudirman, menuju Jalan Andi Djemma, lalu belok kanan ke Jalan Yusuf Arif dan belok kiri ke Jalan Landau. Pasukan Istana Langkanae Kedatuan Luwu mengelilingi istana sebanyak 3 (tiga) kali lalu dilanjutkan oleh peserta kirab lainnya menuju Istana langkanae Kedatuan Luwu termasuk didalamnya adalah air suci dari Manjapai yang sehari sebelumnya disemayamkan di baruga Maddika Bua.

Kerajaan Luwu merupakan kerajaan yang dituakan diantara tiga kerajaan “TellumpoccoE” atau Tiga Kerajaan Utama di Sulawesi Selatan, yakni Kerajaan luwu, Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Dalam naskah Mitologi Lagaligo disebut bahwa: Silsilah cikal bakal Pajung atau Raja-Raja Luwu dimuai dari To PalanroE (Yang Maha Menciptakan) atau Patoto’E (Yang Maga Menentukan Nasib) yang bersemayam di Kayangan, di puncak langit ke tujuh (Botinglangi) bersama permaisurinya Palinge’E (Yang Maha Mengatur). Putera tertua bernama La Togelangi Batara Guru Sangkuru’ Wira’ diturunkan di muka vumi (Attawareng) yang kemudian menjadi Pajung Luwu pertama. Baginda digantikan oleh puteranya yang digekar I Hati Uleng Batara Lattu opunna Ware’. Baginda Batara Lattu kemudian melahirkan Sawerigading yang masyhur sebagai “Cultural Hero” (Pahlawan Budaya) bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Susunan Pasukan Kerajaan Luwu

  1. Pada bagian terdepan barisan kirab adalah PANGNGARU’ atau pasukan tempur yang terdiri dari kesatuan-kesatuan Para Anak Suku Palili yang pada Kirab kali ini oleh pasukan Pangngaru’ To Rongkong,
  2. Sesudah itu menyusul pembawa SULOLANGI, yaitu semacam obor penolakan marabahaya,
  3. Kemudian menyusul pembawa BESSI BANRANGA atau tombak pengawal sebagai simboljabatan resmi dari Kerajaan Luwu,
  4. Sesudah itu menyusul pembawa BESSI MANRAWE atau tombak pengawal sebagai simbol kedudukan tertinggi dalam Kerajaan Luwu yaitu Pajung Luwu,
  5. Sesudah itu menyusul pembawa BESSI PAKKA (Tombak Bercabang Dua) yang merupakan simbol kekuasaan politik tertinggi dalam Kerajaan Luwu, yaitu Pajung Luwu yang merupakan Penguasa Tunggal mewakili Dewata Mattanrumpulaweng-E (Dewata Bertanduk Emas) yang merupakan Dewata Tertinggi menurut mitologi Luwu
  6. Payung berwarna Kuning yang disebut “TEDDUNG PULAWENG” adalah payung kebesaran yang dipakai untuk mengiringi Datu Luwu,
  7. LELLUNG, yang digunakan oleh Datu Luwu untuk menghindarkan sinar matahari,
  8. Payung berwarna merah yang disebut “TEDDUNG PEROE(Payung MaEja) adalah payung yng digunakan untuk prosesi pelantikan Datu Luwu,
  9. PAKKALIAWO’ merupakan pasukan pengawal pribadi “Opu Cenning” atau Panglima Perang. Pasukan pengawal ini berjumlah 12 orang dengan menggunakan “KALIAWO” atau Perisai dengan logo “Singkerru Mulajaji” simbol Panglima Perang Kedatuan Luwu. Karena itu pasukan ini disebut PAKKALIAWO,
  10. Kemudian menyusul BATE-BATE’ TELLLUE yang terdiri dari: (a) Matoa Wate’ (b) Matoa Lalengtonro’ (c) Matoa Cenrana
  11. Selanjutnya menyusul bendera ANA’ TELLUE yang terdiri dari: (a) Mokole Baebuntan (b) Ma’dika Bua (c) Ma’dika Ponrang,
  12. Sesudah itu menyusul BENDERA TELLUE (Tiga Bendera Utama) yang masing-masing: (a) Macang-NgE (b) Kamummu-E (c) Goncing-E. Yang merupakan bendera kesatuan dari Pasukan Inti atau Pasukan Elit Kerajaan Luwu.

Setelah pasukan Kedatuan, berlanjut pasukan kirab dari Mokole Baebunta yang dipimpin langsung oleh We Masita Kampasu.

Disusul rombongan kirab budaya Kemaddikaan Bua dipimpin langsung oleh Maddika Bua La Saifuddin Kaddiraja bersama dengan beberapa Rumpun Maddika Bua, diataranya: Palempang Walenrang, Panggulu Kada Ilang Batu, Panggulu Kada Siteba, Panggulu Kada Lemo Tua, Panggulu Kada Bolong, Panggulu Kada Tombang beserta para Tomakakanya, Para Warga Tana Toraja Perantau Irian, Banua A’pa Tongkonan Annang Pulona beserta beberapa Parengngenya.

Disusul Kirab Budaya Kemaddikaan Ponrang dipimpin langsung oleh La Sana Kira (Maddika Ponrang) bersama dengan beberapa Parengnge dan Tomakakanya, diantaranya Parengge Padagusi Rante Balla yaitu Pa’Lairan Kanna serta Tomakaka Ulu Salu.

Selanjutnya Lili Pasiajing yang terdiri dari: Mokole Matano (Nuha) yang dipimpin langsung oleh Andi Baso dan sebelas wilayah Moholanya, Arung Senga dan Maddika Sangalla

Selanjutnya Kirab Budaya dari Tana Wajo Belawa.

Kehadiran Pasukan Kirab Keraton Kedatuan Luwu menggambarkan Ikatan “Maseddi Siri‘ yaitu Kemanunggalan dalam Keanekaragaman yang mengikat masyarakat Luwu dalam Prinsip Bhineka Tunggal Ika (Unity in Diversity).

Next : MATTOANA MTKL 2018

PROSESI MALEKKE WAE

Sebagaimana dijelaskan dalam Sinopsis Upacara Adat Matemmu Taung yang disusun oleh Andi Anthon Pangerang, budayawan Tana Luwu, prosesi adat Luwu Matemmu Taung (Menutup Tahun) terdiri dari 3 (tiga) episode yang secara kronologis sebagai berikut: 1. Malekke Wae 2. Ri Addoja 3. Matemmu Taung Sebelum memulai prosesi adat di Kedatuan Luwu, maka langkah pertama yang dilakukan adalah prosesi pengambilan air suci yang disebut Prosesi Malekke Wae. Menurut tradisi masyarakat Adat Luwu, setiap rumpun keluarga besar masing-masing memiliki Bubung Parani (Tarungeng) atau sumber air khusus untuk digunakan oleh keluarga tersebut dalam setiap upacara adat. Air merupakan simbol “kebersihan” karena air merupakan sarana untuk membersihkan segala noda. Dimana “air” juga merupakan kebutuhan paling vital bagi kehidupan setiap makhluk hidup yang juga merupakan simbol kesejahteraan hidup. Karena itu, “air khusus” yang diambil (rilekke) secara ritual untuk digunakan dalam upacara adat merupakan “kolektivitas” dari sebuah komunitas adat Luwu sekaligus sebagai simbol “kebersihan” dari niat atau Nawaitu dari segenap rumpun keluarga (Rara Buku) dari komunitas adat Luwu. Dalam pelaksanaan upacara adat ini demi mengharapkan “kesejahteraan hidup” bersama di bawah rahmat dan ridha Allah Subhanahu Wataalah. Untuk kegiatan Kedatuan Luwu, terdapat 3 lokasi pengambilan air suci: pertama di Ussu Cerekang Luwu Timur, kedua di Lampenai Luwu Utara dan ketiga di Manjapai Kolaka Utara. Dalam perjalanan kami menuju Manjapai, Kolaka Utara pada 16/1, Andi Sulolipu Sulthani Opu Pananrang menjelaskan bahwa prosesi Malekke Wae untuk kegiatan-kegiatan adat di istana Kedatuan Luwu dilakukan secara bergantian dari ketiga bubung parani diatas. Pergantian ini dilakukan untuk menjaga keadilan dan rasa kebersamaan dari masyarakat Tana Luwu. Berhubung Pua Cerekang telah mangkat dan belum ada pengganti maka belum bisa mengambil air di Cerekang, lalu pengambilan air suci terakhir dilakukan di Lampenai untuk proses peresmian nama jalan Andi djemma di Makassar (10/11/2017), maka air suci untuk acara Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018 diambil dari Manjapai sebutan dari desa Majapahit kecamatan Pakue Tengah kabupaten Kolaka Utara, propinsi Sulawesi Tenggara. Prosesi Malekke Wae dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00 wita dari Bubung Parani, milik rumpun keluarga dari Komunitas adat tersebut. Acara ini dilakukan pagi hari dengan harapan agar kesejahteraan hidup masyarakat adat akan senantiasa menanjak seperti matahari terbit di ufuk timur. Air suci yang diambil (ri lekke) melalui sebuah ritual adat dan kemudian diarak dengan Sinrangeng Lakko (usungan adat di atas pangkuan seorang gadis remaja yang beum aqil balik (tenna wette pa dara) sebagai simbol kesucian. Usungan adat (Sinrangeng Lakko) tersebut diiringi oleh Parullu Gau (instrument dan atribut-atribut adat) serta para pemuka adat. Prosesi Persiapan Sebelum Prosesi malekke Wae dilakukan, beberapa kelengkapan instrument dan atribut-atribut adat yang perlu dipersiapkan antara lain: 1. Wala suji atau Rakki yang terbuat dari anyaman bambu lalu dibungkus kain kuning 2. Cerek untuk tampungan air 3. Sokko patang rupa atau ketan 4 (empat) warna lengkap dengan hiasan telur atau lauk lainnya, juga sepasang ayam yang dibakar utuh 4. Kelapa kuning dan lilin masing-masing 2 buah. 5. Perlengkapan cera’ bambu untuk wala suji berupa 5 lembar daun sirih, 3 butir telur ayam kampung, 5 buah pinang, sejumput kapur sirih, sepasang ayam kampung yang disembelih di atas bambu yang akan dibelah untuk membuat anyaman rakki. 6. Lellung yang terbuat dari 4 (empat bilah bambu) yang dipasangkan kain kuning dan dihantarkan oleh 6 gadis belia yang belum aqil baligh. 7. 1 orang gadis belia pembawa cerek yang belum akil baligh. 8. Iring-iringan pemuka adat dan tokoh masyarakat. Setelah prosesi Malekke Wae untuk MTKL 2018 ini dilaksanakan maka air suci yang telah diambil itu kemudian dibawa untuk disemayamkan di baruga Maddika Bua di Bua sebelum dibawa ke Istana Datu Luwu. 18/1 air suci ini lalu diarak mengelilingi istana Datu Luwu sebelum peserta kirab masuk ke dalam istana sebagai awal dimulainya perhelatan akbar Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018.

Next : Kirab Budaya MTKL 2018

Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018

Perintah telah diberikan, meski dengan pertimbangan waktu yang kasip tetap saja perintah itu harus dilaksanakan. Kadang timbul pertanyaan, siapa diri ini untuk dapat terlibat dalam perhelatan akbar Kedatuan Luwu seperti ini. Namun segala pemikiran itu kutepis dengan sebuah semangat mengembalikan Maruah Datu Luwu. Berbekalkan rekomendasi dari Ketua Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) usai Rapat koordinasi bersama TopapoataE Datu Luwu XL La Maradang Mackulau Opu To Bau dan ketua panitia Matemmu Taung Kedatuan Luwu (MTKL) 2018 serta beberapa Tokoh KKTL (Minggu, 7/1) maka dibentuklah tim kecil penggalangan dana dengan tugas pertama menyelesaikin proposal kegiatan Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018 dan membuat list partisipasi warga KKTL. Tim ini terdiri dari Hartawati Andi Djelling, Ismi Seneng Nuppu, Muzakkir Tovagho dan penulis. Selasa, 9/1 tim ini melakukan meeting internal bersama ketua Panitia di mess Pemda Luwu Timur di Jakarta. Dalam proses pertemuan ini, komunikasi dan koordinasi dengan panitia lokal di Palopo juga dilakukan untuk melengkapi bahan proposal yang dibutuhkan. Akhirnya proposal yang sudah ditunggu hampir 3 bulan bisa diselesaikan dan langsung dicetak demikian juga undangan. Sedangkan list partisipasi warga KKTL segera disebarluaskan melalu beberapa group whatsap pun perorangan. Keesokan harinya, audiens dilakukan bersama Presiden Direktur PT Vale Indonesia di Energy Building Jakarta. Dalam audiensi tersebut, dilakukan juga Conference Call bersama tim External Relations yang berkedudukan di Sorowako. Alhamdulillah, satu persatu proposal dan undangan yang disiapkan mulai terdistribusi, begitupun informasi partisipasi warga KKTL terus mengisi ruang komunikasi kami. Sehingga semangat pelaksanaan acara pun semakin terbakar dan optimisme terbangun dalan setiap komunikasi yang terjalin. Meskipun ada beberapa orang yang sempat “peccu” dan memutuskan untuk melepaskan diri dari kegiatan persiapan perhelatan MTKL 2018 ini. Hingga tiba hari dimana pelaksanaan perhelatan akbar Matemmu Taung semakin dekat. Hanya ibu Hartawati yang akrab disapa Opu Odeng bersama penulis yang berkesempatan berangkat ke Palopo. Kami memilih berangkat dengan penerbangan awal ke Makassar pada 15/1. Tiba di Makassar, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Palopo dengan panther. Dengan perhitungan kami bisa tiba sore hari. Sehingga masih berkesempatan berfoto di depan icon Kota Palopo. Setelah istirahat yang cukup, usai makan malam kami diajak mengecek beberapa persiapan panitia. Termasuk undangan yang akan disebar. Usai sarapan keesokan harinya (16/1), kami lalu bergeser ke Istana Datu Luwu untuk membantu persiapan lainnya. Wah, ternyata ruang sekretariatnya belum digunakan secara maksimal, sehingga kami bersihkan dulu kemudian ditata kembali dan membuka pintu besar sebagai pertanda sekretariat siap digunakan. Pada kesempatan itu, beberapa panitia mulai berdatangan, koordinasi dan pengecekan kesiapan-kesiapan satu persatu mulai diurai. Sehingga rundown acara bisa disusun. Entahlah, saya merasa bahwa panitia yang terlibat dalam acara ini sudah sangat terlatih untuk bagian masing-masing sehingga setiap ditanya, seringkali jawabannya sudah ada atau sudah disiapkan, namun bagi saya yang baru di lingkungan ini menjadi bingung dengan persiapannya hehehhe. Mungkin karena saya terbiasa kerja berdasarkan list uraian pekerjaan ☺ Menjelang siang, mobil yang akan kami gunakan ke Manjapai Kolaka Utara Sulawesu Tenggara pun tiba. Opu Odeng dan saya pun bergegas menyiapkan segala kebutuhan karena kami juga akan ikut untuk melakukan ritual Malekke Wae atau pengambilan air suci. Next : Prosesi Malekke Wae

Dia Masih Mencintaimu

Kadangkala cemburu membuat kita tidak lagi berfikir jernih. Apalagi ketika kita lebih mengikuti emosi di dada. Sudah tidak lagi mau berfikir secara logis dan jernih. Yang ada hanya penggalan-penggalan kemarahan dan prasangka yang apabila tidak dapat diatur, justru akan semakin menyakitkan.

Dia masih mencintaimu. Itu yang harus kau pahami. Itu yang harus kau mengerti. Tapi kau telah menyakitinya. Sakit yang teramat sulit untuk dia lupakan begitu saja. Kau telah menyinggung harga diri yang selama ini ditutupnya rapat. Meski begitu, dia masih mencintaimu.

Aku hanya ingin kau tahu, jangan birkan pikiran-pikiran negatif membuatmu lupa akan kasih sayang yang ada diantara kalian. Karena prasangkamu itu, justru akan menjadi jurang pemisah hubungan kalian. 

Kau hanya perlu mengikatnya kembali dengan cinta kasihmu. Justru disaat-saat seperti ini, kehadiranmu sangat berarti untuknya. Karena ketika kau bertahan dengan antipatimu, dengan segala tingkah keakuanmu, maka yakinlah, dia pun akan mengambil jarak darimu.

Yakinlah, bahwa dia masih sangat mencintaimu. Dia hanya terluka oleh sikapmu. Rangkul dia, sayangi dia, karena itu, kebersamaan kalian tidak boleh pudar hanya karena merasa saling kenal satu sama lain. 

Sangat disayangkan jika kebersamaan kalian selama ini harus retak hanya karena bertahan pada ego masing-masing. Jangan biarkan siapapun masuk diantara kalian karena jarak yang kalian ciptakan sendiri.

Yakinlah… bahwa dia masih mencintaimu, dia hanya terluka. Dan hanya kau yang bisa menyembuhkan lukanya dengan kasih sayangmu… bukan dengan sikap arogan dan rasa keakuanmu. Jangan biarkan dia mendapat penawarnya dari orang lain. Untuk itu, berdirilah disisinya, jadilah pelengkap hidupnya, jadilah ummi, sahabat, kawan dan pelipur laranya…

Ingatlah.. bahwa dia masih sangat mencintaimu, jangan biarkan luka itu semakin melebar… rawatlah dan jagalah hingga luka itu tertutup dan kalian bisa bersama kembali dengan rukun dan bahagia β˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™
#myfreedomspace

RANGGON HILLS BOGOR

Usai menikmati malam pergantian tahun di rumah Ketua Umum Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) dr. Andi Arus Victor, S.P.M(K) di Cibubur,  aku dan Andi Hartawati melanjutkan perjalanan menuju Bogor. Sepanjang perjalanan pada malam pertama 1 Desember 2018 itu, kami menyaksikan langit yang cerah dengan warna-warni kembang api yang saling bersahutan. Sehingga perjalanan malam itu terasa singkat.

Kami menuju rumah Andi Ira untuk beristirahat disana. Kala pagi menjelang, kami pun bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju lokasi wisata Ranggon Hills dan Curug Pangerang di Gunung Salak Endah Bogor. Lokasi ini merupakan wilayah perbukitan yang saat ini menjadi trending topik di media sosial dengan panorama Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Butuh waktu 1,5 jam dari kota Bogor ke lokasi wisata Ranggon Hills ini, melalui jalan yang cukup berkelok menuju Gunung Picung, Pamijahan Bogor. Saat memasuki gerbang kawasan Hutan Lindung TNGHS, setiap pengunjung dikenakan tarif RP. 15.000,- per orang juga retribusi kendaraan sebesar Rp. 10.000,- per mobil atau Rp. 5.000,- per motor. Nah, ketika tiba di Ranggon hills, pengunjung masih dikenakan retribusi Rp. 10.000,- perorang dan biaya parkir  mobil Rp. 10.000,- dan motor Rp. 5.000,-.

Sepeda layang adalah tujuan kami ke Ranggon Hills ini. Karena sebelumnya saat kami mengunjungi obyek wisata Pabangbon Leuwiliang, yang tidak jauh dari Ranggon Hills ini, tidak menyediakan wahana Sepeda layang. Namun saat kami tiba di Ranggon Hills ini, ternyata bukan hanya wahana sepeda layang, ternyata banyak alternatif spot foto yang seru, seperti rumah pohon, sarang burung, ayunan gantung, kursi gantung, bunga matahari, spot foto love, klasik, perahu bambu. 

Namun ternyata antrian untuk naik sepeda layang cukup panjang, bukan hanya itu, tetapi di semua wahana spot foto. antriannya semakin siang semakin panjang. Syukurnya kami datang masih lebih pagi, jadi bisa berfoto di beberapa spot selfie yang belum pernah kami foto di tempat lain. Semua spot foto selfie di tempat ini gratis, kecuali sepeda layang yang dikenakan Rp. 10.000,- per orang. Demikian pula dengan foto khusus DSLR dikenakan Rp. 10.000,- per 5-8 foto per orang per spot foto.

Saat perut mulai teriak-teriak minta diisi dan waktu sholat Dhuhur pun memanggil, kami memutuskan untuk turun ke musholla di sekitar parkiran. Cukup lama kami beristirahat sebelum akhirnya kami melanjutkan petualangan siang itu menuju curug Pangeran yang berjarak kurang lebih 500 meter dari musholla dengan jalan kaki. 

Curug Pangeran ini tidak tinggi. Kurang lebih 6 meter saja. Ketika kami tiba di curug ini, beberapa pemuda nampak sedang menikmati loncatan dari atas curug. Sebenarnya gregetan ingin ikutan melompat seperti mereka, tapi tidak ada perempuan lain yang melakukannya. Jadi, cukup terjun aja dari batu di tengah guyuran air terjun.

Brrrrr, ternyata airnya dingin sekali. Tidak bisa lama-lama berendam di kolam alami di bawah curug. Saya lebih memilih untuk kembali ke batu-batu alam yang besar di pinggiran kolam. Batu-batu ini menjadi hiasan sungai kecil dari curug. Memang tempat yang asyik buat berwisata, terutama jika membawa keluarga. Bahkan, di tengah kolam, ada bentangan tali sebagai tanda batas kedalaman bagi yang tidak bisa berenang. 

Cukup lama kami berendam dan berenang-renang di kolam curug Pangerang. Dan syukurnya karena ketika mengunjungi tempat itu, kami belum mengetahui bahwa terdapat beberapa legenda mitos dan cerita-cerita rakyat terkait dengan curug itu. Andaikata sebelumnya sudah kami ketahui, barangkali kami tidak akan menikmati curug Pangeran itu dengan bebas hiihihi. 

Dari beberapa blog yang saya baca, dipercaya bahwa Curug Pangeran memiliki legenda yang belum diketahui banyak orang. Konon ceritanya curug Pangeran ini merupakan petilasan teman dekat Raden Kian Santang, putera Prabu Siliwangi. Sahabat Raden Kian Santang ini berasal dari Kerajaan Pajajaran. Menurut penuturan beberapa warga, setiap malam jum’at sering terdengan suara orang mandi, permainan alat musik tradisional seperti jaipongan, dengungan dan suara kereta kencana. 

Tidak hanya legenda, pun terselip mitos yang cukup dipercaya oleh warga sekitar, utamanya muda-mudi yang belum mendapatkan jodoh. Penduduk kampung sekitar, percaya bahwa air Curug Pangeran memiliki khasiat seperti juga pada Curug Kondang dan Curug Cigamea, untuk mempermudah mendapatkan jodoh bagi para jomblo jika mandi di air kolam curug. Ahahahayy, untuk saya tidak tahu sebelum beranang di Curug Pangeran, wah, bisa jadi musryik deh kalau berenang terus niatnya percaya mitos hehehehhe.

Dari lokasi Ranggon Hills dan Curug Pangeran terlihat beberapa villa yang disewakan untuk para pengunjung yang ingin menikmati suasana malam di kawasan TNGHS Bogor ini. Bagi yang ingin camping dengan menggunakan tenda juga tersedia tempat-tempat yang bisa digunakan, dengan beragam pemandangan juga fasilitas seperti toilet, musholla, warung-warung makan.