Vie Bali Trip 2026

Tetiba namaku disebut untuk dampingi pimpinan dinas ke pulau Dewata, Bali. Senang? Wah.. ini kejutan yang luar biasa. Apalagi sudah lama sejak terakhir aku menginjakkan kaki di pulau eksotik itu.

Mengunakan Batik Air ID 6508, aku ikut dalam rombongan Tasbara BNPP-RI pada Selasa, 5/5/2026. Saat akan mendarat, sebuah pengumuman memberitahukan bahwa kami akan berputar beberapa saat menunggu jadwal pendaratan karena padatnya arus perlintasan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Hingga akhirnya pesawat yang kami tumpangi berhenti dengan sempurna.

Welcome to Bali

Alhamdulillah, setelah dua jam perjalanan, pesawat mendarat mulus di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Begitu keluar dari bandara, aku langsung merasakan suasana yang berbeda. Udara Bali terasa lebih hangat dengan aroma khas laut dan bunga kamboja yang samar terbawa angin. Deretan patung, ukiran khas Bali, dan senyum ramah masyarakat membuatku merasa disambut dengan hangat. Bersama rombongan, kami pun melanjutkan perjalanan ke Aston Kuta Hotel & Residence untuk beristirahat.

Aston Kuta

Tring… Sebuah pesan masuk meminta kami berkumpul di lobby. Saatnya makan malam. Sate ayam menjadi pilihanku ditemani manggo lassi, sambil menikmati suasana malam di Kuta.

Dinner Time

Alhamdulillah, setelah santap malam dan diskusi yang cukup panjang, kamipun kembali dan beristirahat.

Matahari mengintip di balik jendela. Aku dan rekanku Dwi pun bersiap-siap untuk memulai aktivitas hari ini. Agenda panitia cukup padat, diawali dengan Rapat Koordinasi, class breaking games dan makan malam bersana.

Rapat dibuka oleh Sekretaris BNPP-RI

Rapat kerja berlangsung serius namun tetap cair. Berbagai pembahasan mengenai program kerja, evaluasi kegiatan, hingga rencana pengembangan ke depan dibicarakan secara mendalam.

Diskusi dalam tentang evaluasi program kerja
Class Breaking Games

Siang harinya, panitia mengadakan sesi games untuk mempererat kebersamaan. Para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan mengikuti tantangan-tantangan sederhana namun menghibur.  Momen itu membuat hubungan antar peserta menjadi lebih akrab.

Dinner Time

Hari yang panjang dan seru ditutup dengan makan malam yang santai.

Hari ketiga kami diajak untuk menikmati makan siang di Grand Puncak Sari dengan pemandangan gunung Batur yang masih aktif dan danau Batur. Kedua objek wisata ini terletak di lecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Perjalanan menuju dataran tinggi itu dipenuhi pemandangan hijau yang menenangkan. Jalanan berliku membawa mereka semakin dekat dengan panorama alam Bali yang memukau.

Lunch di Grand Puncak Sari, Kintamani

Saat tiba di restoran Grand Puncak Sari, tempat makan siang, kami terpukau oleh pemandangan di hadapannya. Gunung Batur berdiri megah dengan kabut tipis yang menyelimuti puncaknya. Di bawahnya, Danau Batur tampak tenang berkilau terkena cahaya matahari siang. Udara di Kintamani terasa sejuk dan segar.

Foto bersama dengan latar Gunung Batur dan Danau Batur, Kintamani

Sore harinya, rombongan kembali ke hotel. Perjalanan pulang terasa tenang karena sebagian peserta mulai kelelahan setelah aktivitas beberapa hari terakhir. Setibanya di hotel, aku memilih beristirahat di kamar. Menikmati suasana santai sambil meminum teh hangat dan memandangi langit Bali yang mulai berubah jingga menjelang malam.

Keesokan harinya, pesawat Batik Air ID 6517 membawaku kembali ke Jakarta lepas landas tepat waktu. Dari balik jendela, aku melihat perlahan Pulau Bali menjauh. Tersenyum kecil sambil membatin bahwa suatu hari nanti, aku ingin kembali lagi ke pulau indah itu—bukan hanya untuk bekerja, tetapi untuk menikmati lebih banyak cerita yang belum sempat aku temui.

Alhamdulillah, sampai jumpa lagi di kisah selanjutnya..

Aira

Di kota tambang bernama Sorowako, terhampar perbukitan hijau dan danau yang bening seperti kaca, lahirlah seorang anak perempuan bernama Aira. Sejak kecil, tawa Aira mudah sekali pecah—ringan dan jernih, seperti riak air yang disentuh angin pagi. Sorowako membesarkannya dengan keramahan orang-orang yang saling mengenal dalam kekerabatan.

Rumah Aira tak jauh dari Danau Matano. Setiap sore, setelah matahari mulai menyapa, ia berlari menuruni jalan setapak dengan rambut terikat asal-asalan. Danau itu baginya bukan sekadar air; ia adalah halaman bermain, cermin langit, dan sahabat yang selalu setia mendengar. Aira berenang dengan gaya bebas ciptaannya sendiri—kadang rapi, kadang kacau—sambil menghitung awan atau menebak bentuk ikan yang lewat di bawahnya. Air Matano dingin dan dalam, tapi Aira merasa aman, seolah danau itu memeluknya.

Ayahnya bekerja di tambang. Ibunya meski ibu rumah tangga biasa, tetapi cukup aktif dalam bermasyarakat. Dari mereka, Aira belajar disiplin dan sabar. Orang tua Aira terkenal ramah dan memiliki banyak kegiatan di masyarakat. Namun mereka tetap menyisihkan waktu yang cukup untuk Aira dan adik-adiknya.

Dari danau, Aira belajar keberanian. Ia pernah jatuh dari dermaga kecil dan terkejut oleh dingin yang menyergap, namun tak menangis. Ia muncul ke permukaan dengan napas terengah, lalu tertawa—tawa yang sama cerahnya dengan matahari Sorowako.

Di sekolah, Aira dikenal ceria dan mudah berteman. Ia suka bercerita tentang ikan-ikan kecil yang berkilau seperti koin dan tentang kedalaman danau yang katanya menyimpan rahasia. Teman-temannya mendengarkan dengan mata berbinar, seolah ikut berenang bersamanya. Guru-gurunya sering tersenyum melihat Aira yang selalu mengangkat tangan, penuh rasa ingin tahu.

Suatu hari, saat senja menguning, Aira duduk di tepi Danau Matano. Air tenang memantulkan langit, dan ia melihat bayangannya sendiri—kecil, tapi teguh. Ia berjanji dalam hati untuk terus tumbuh seperti danau itu: tenang di permukaan, kuat di kedalaman. Sorowako akan selalu menjadi rumahnya, dan Danau Matano akan selalu menjadi tempat ia belajar mencintai hidup—dengan tawa, keberanian, dan hati yang lapang.
* * *
Suatu sore yang teduh, ketika angin berembus pelan dari arah perbukitan, Aira kembali duduk di tepi Danau Matano. Kali ini ia tidak langsung berenang. Di bangku kayu tua dekat dermaga, ia melihat seorang nenek duduk sendiri, mengenakan kain sederhana dan selendang tipis yang warnanya telah pudar dimakan waktu. Rambutnya putih seluruhnya, namun matanya tajam dan hangat, seperti menyimpan banyak cerita.

Aira menyapa dengan sopan dan duduk di sampingnya. Nenek itu tersenyum, menatap danau sejenak sebelum berkata, “Danau ini sudah melihat banyak hal, Nak. Jauh sebelum kau lahir.”

Kalimat itu membuat Aira penasaran.

Pelan-pelan, nenek mulai bercerita. Tentang masa ketika Sorowako belum seramai sekarang, ketika jalanan masih tanah merah dan listrik belum menyala sepanjang hari. Ia bercerita tentang kedatangan orang-orang asing dari jauh—dari Kanada—yang membawa peta, mesin besar, dan mimpi tentang nikel yang tersimpan di perut bumi. Mereka datang dengan kapal dan pesawat kecil, membuka hutan, membangun rumah-rumah baru, dan perlahan mengubah wajah Sorowako.

“Waktu itu kami bingung dan takut,” kata sang nenek sambil tersenyum tipis. “Takut kehilangan tanah, takut danau ini berubah. Tapi kami juga berharap—akan ada sekolah, pekerjaan, dan masa depan yang lebih baik.”

Aira mendengarkan dengan saksama. Ia membayangkan Sorowako di masa lalu, sunyi dan hijau, lalu berubah sedikit demi sedikit menjadi kota tambang yang ia kenal hari ini. Ia teringat ayahnya yang berangkat pagi-pagi ke tambang dan pulang di sore hari.

Nenek itu menghela napas. “Perusahaan itu membawa perubahan. Ada yang baik, ada yang berat. Tapi Danau Matano tetap di sini, menjaga kita semua—asal kita juga mau menjaganya.”

Aira menatap permukaan air yang berkilau. Cerita itu membuat dadanya hangat dan penuh. Ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar—sejarah panjang yang mengalir seperti air danau, dari masa lalu ke masa depan.

Sebelum berpisah, Aira berjanji pada nenek itu untuk terus belajar dan merawat danau yang ia cintai. Saat ia akhirnya berenang, gerakannya terasa berbeda—lebih tenang, lebih sadar. Seolah setiap kayuhan membawa cerita Sorowako bersamanya, cerita tentang tanah, manusia, dan harapan yang tak pernah benar-benar tenggelam.

* * *
Hari-hari berikutnya dipenuhi tawa. Aira kembali menjadi anak yang berlari tanpa beban, dan kebahagiaan itu terasa berlipat saat ia bersama teman-temannya—Citra yang cerewet tapi setia, Achy yang selalu membawa ide-ide usil, Juwi yang pendiam namun paling berani saat berenang, dan masih banyak lainnya yang datang dan pergi seperti angin sore Sorowako.

Suatu pagi yang cerah, mereka berjanji bertemu di ujung lapangan. Dari sana, sebuah jalan kecil membelah pematang sawah yang hijau, memanjang tenang di tengah hamparan lapangan golf yang rapi dan indah. Rumput golf terpangkas halus, kontras dengan padi yang menguning pelan di pematang. Anak-anak itu berjalan beriringan, kadang berlari, kadang berhenti untuk menyeimbangkan langkah di tepi pematang yang sempit.

“Siapa jatuh, terakhir nyebur!” teriak Achy, disambut tawa riuh.

Aira melangkah ringan, matanya menyapu pemandangan—langit biru yang luas, bukit-bukit yang memeluk Sorowako, dan Danau Matano yang berkilau di kejauhan seperti memanggil. Angin membawa aroma rumput basah dan tanah, membuat langkah mereka terasa seperti petualangan kecil yang selalu dinanti.

Sesampainya di tepi danau, sepatu dan sandal dilempar sembarang. Mereka berlarian, menghitung sampai tiga, lalu melompat bersamaan. Air memercik, tawa meledak, dan dunia seolah berhenti sejenak. Citra tertawa paling keras, Juwi menyelam paling dalam, Achy membuat lomba dadakan, sementara Aira berenang memutar, memimpin permainan dengan wajah penuh cahaya.

Di antara jeda napas, mereka berbaring mengapung, menatap langit. Aira teringat cerita nenek tentang masa lalu Sorowako, dan ia merasa bersyukur—memiliki teman, danau yang setia, dan hari-hari yang sederhana namun penuh arti. Di tempat itu, di jalur pematang sawah yang mengantar mereka ke Danau Matano, Aira tahu: kebahagiaan sering kali sesederhana berjalan bersama teman, menuju air yang selalu menunggu.

* * *
Matahari perlahan turun di balik perbukitan. Cahaya jingga menari di permukaan Danau Matano, membuat airnya tampak keemasan. Satu per satu, Aira dan teman-temannya naik ke darat. Rambut mereka basah, baju menempel di badan, tapi wajah-wajah itu penuh kepuasan.

“Besok kita ke sini lagi, ya!” kata Citra sambil memeras ujung bajunya.

“Iya, tapi jangan lupa PR,” sahut Juwi singkat, membuat yang lain tertawa.

Mereka pulang menyusuri jalan yang sama, kini lebih tenang. Di rumah, Aira mandi hingga bersih, mengganti baju dengan mukena kecil berwarna putih. Saat azan magrib berkumandang, suaranya menggema lembut di Sorowako, memanggil anak-anak yang baru saja melepas hari.

Di masjid, Aira kembali bertemu Citra, Achy, Juwi, dan teman-teman lainnya. Mereka duduk rapi bersila, mushaf kecil di tangan. Guru mengaji mereka, Ustaz Rahman, tersenyum melihat barisan yang hampir lengkap.

“Wah, sepertinya hari ini habis berenang, ya?” godanya.

Achy mengangkat tangan, pura-pura serius. “Izin ustaz, kami latihan jadi ikan Matano.”

Masjid pun dipenuhi tawa kecil.

“Kalau begitu,” kata Ustaz Rahman sambil tersenyum, “ikannya harus rajin mengaji juga, supaya makin pintar.”

Mereka mulai membaca. Aira mengeja ayat demi ayat dengan khusyuk, sesekali dibenarkan lembut. Saat giliran Citra, ia tersendat di satu ayat.

“Pelan-pelan, Citra,” ujar ustaz. “Al-Qur’an itu bukan untuk dikejar, tapi untuk ditemani.”

Setelah mengaji, mereka berdiri menunaikan salat isya berjamaah. Suasana masjid hening dan hangat. Aira merasakan ketenangan yang berbeda—seperti danau di malam hari, tenang dan dalam.

Usai salam, Ustaz Rahman berpesan, “Anak-anak, bermain itu boleh, senang itu perlu. Tapi jangan lupa pulang pada waktu dan ingat kepada Allah.”

“Iya, Ustaz!” jawab mereka serempak.

Di luar, malam telah turun. Aira berjalan pulang dengan hati penuh—hari yang dimulai dengan tawa di danau, ditutup dengan doa dan kebersamaan. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, dan Sorowako kembali tenang. Aira tahu, esok hari cerita baru akan menunggunya, tapi kenangan hari ini akan tinggal lama, seperti cahaya senja yang perlahan menyatu dengan malam.

* * *
Setibanya di rumah, lampu ruang makan sudah menyala terang. Aroma ikan goreng dan sayur bening menyambut Aira begitu ia melangkah masuk. Ibunya tersenyum dari dapur, sementara ayahnya duduk di ujung meja, menunggu semua berkumpul.

Tak lama kemudian, tiga adiknya datang berlarian. Rahman langsung duduk rapi. Reza menyusul sambil masih membawa mobil-mobilan di tangan, dan Aisyah yang paling kecil naik ke kursinya dengan bantuan ibu.

“Cuci tangan dulu, Reza,” tegur ayah lembut.

“Sebentar, Yah… mobilnya parkir dulu,” jawab Reza polos, membuat Aira terkekeh.

Mereka makan bersama, saling bercerita tentang hari masing-masing. Aira bercerita tentang danau dan senja, Rahman tentang pelajaran di sekolah, Reza tentang “balapan” mobilnya, dan Aisyah yang hanya menimpali dengan senyum dan anggukan kecil. Di meja sederhana itu, tawa dan syukur menyatu.

Usai makan malam, piring dibereskan bersama. Lalu keempat bersaudara itu duduk di ruang tengah, membuka buku dan alat tulis. Aira membantu Rahman mengulang pelajaran, sesekali membetulkan tulisan Reza, dan menemani Aisyah mewarnai gambar. Ayah membaca koran, ibu menjahit sambil sesekali menoleh memastikan semuanya baik-baik saja.

Malam semakin larut. Satu per satu buku ditutup, lampu diredupkan. Aira merapikan tas untuk esok hari, lalu berbaring di tempat tidur. Dari jendela, ia melihat bintang berkelip di atas Sorowako.

Hari itu terasa utuh—bermain, belajar, beribadah, dan berkumpul bersama keluarga. Dengan hati hangat, Aira memejamkan mata. Esok, danau, sekolah, dan cerita-cerita kecil lainnya akan menunggu.

* * *
Namun sebelum benar-benar terlelap, Aira bangkit kembali. Ia meraih buku kecil bersampul biru dari laci meja—buku kesayangannya. Di sanalah ia menulis apa saja yang singgah di hatinya: danau, tawa, senja, juga hal-hal yang belum sepenuhnya ia mengerti. Menulis membuatnya merasa dekat dengan dirinya sendiri.

Malam itu sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar jendela dan napas lembut adik-adiknya yang telah tertidur. Cahaya lampu meja temaram, cukup untuk menemani pikirannya yang mengembara. Aira memandang langit sebentar, lalu menunduk dan mulai menulis. Ia menulis tentang malam yang tenang, tentang rindu yang datang tanpa alasan—rindu pada siang yang telah berlalu, pada tawa di danau, pada hal-hal yang suatu hari mungkin akan berubah.

Tulisannya mengalir pelan, jujur, seperti air Matano di bawah bulan.

Ia menulis puisi itu tanpa banyak berhenti, seolah kata-kata telah lama menunggu untuk dituliskan. Ketika selesai, Aira membaca ulang dengan senyum kecil. Ada kehangatan di dadanya—perasaan dimengerti oleh kata-kata ciptaannya sendiri.

Malam dan Kerinduan

Malam datang perlahan,
menutup riuh siang dengan sunyi
bintang-bintang menyala pelan
seperti mata yang menjaga mimpi.

Angin berbisik di jendela,
membawa cerita yang tak sempat terucap
tentang tawa yang baru saja pulang,
dan rindu yang diam-diam menetap.

Aku merindu tanpa tahu pada siapa,
mungkin pada waktu yang berlalu,
pada langkah-langkah kecil hari ini,
pada hangat yang ingin tinggal lebih lama.

Malam mengajarkanku satu hal:
rindu tak selalu tentang kehilangan,
kadang ia hanya cara hati
mengucap syukur dengan pelan.

Di bawah langit yang luas dan tenang,
aku titipkan doa pada gelap,
semoga esok datang dengan cahaya,
dan rindu menemukan rumahnya kembali.

Buku itu ia tutup perlahan. Aira memeluknya sebentar, lalu meletakkannya kembali ke laci. Ia berbaring, menarik selimut hingga ke dada. Malam Sorowako terasa ramah, menyimpan puisi kecil seorang anak yang belajar mengenal rindu.

Dengan pikiran tenang dan hati penuh, Aira akhirnya terlelap—membawa malam, kerinduan, dan mimpinya ke dalam tidur.


* * * * *

#rindurumah

Welcome 2026

Alhamdulillah @010126

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas junjungan kami, Nabi Muhammad, shalawat yang memenuhi khazanah-Mu dengan cahaya, dan menjadi bagi kami dan kaum mukminin jalan keluar, kebahagiaan, dan kesenangan. Dan (limpahkan pula) kepada keluarganya dan para sahabatnya, serta berilah salam sebanyak-banyaknya.

Ya Allah, Engkaulah Yang Abadi, Yang Dahulu, Yang Pertama. Kepada anugerah-Mu yang agung dan karunia-Mu yang luas tempat kami menggantungkan harapan.

“Ya Allah, ampunilah perbuatanku sepanjang tahun 2025 yang melanggar larangan-Mu padahal aku belum sempat bertobat. Engkau begitu sabar meski berkuasa menghukumku. Engkau mengajakku bertobat walau aku lancang bermaksiat. Kini kuharap Engkau menerima amal baikku yang Kau ridhai serta Kau janjikan pahalanya. Jangan biarkan harapanku sirna, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”

“Ya Allah, Engkau Yang Kekal, Qadim, dan Pertama. Hanya pada anugerah-Mu yang agung dan kedermawanan-Mu yang mulia kami bergantung. Tahun baru telah datang. Bimbinglah agar kesibukan kami mendekatkan diri kepada-Mu, wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

Maha Suci Engkau, Ya Allah wahai Rabbku, dan dengan memuji-Mu, tiada Ilah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Yaa Allah… Bukakanlah atas kami pintu kebajikan, pintu berkah-Mu, pintu rahmat-Mu, pintu kekuatan, pintu rezeki-MU, pintu kesehatan, dan pintu keselamatan, karena Engkaulah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Yaa Allah, tiada yang mudah selain yang Engkau mudahkan. Bukakanlah untuk kami jalan keluar dari segala kesulitan, dan penuhilah segala kebutuhan kami. Jadikanlah kami termasuk golongan orang yang senantiasa ingat kepada-Mu, selalu mensyukuri nikmat-Mu dan selalu beribadah serta mengabdikan diri kepada-Mu.

Ya Allah Ya Tuhan kami, Engkau-lah Sang Maha Pengampun.Ampunilah dosa dan kesalahan kami, dosa pemimpin kami serta dosa dan kesalahan kedua orang tua kami. Perkenankanlah doa dan pinta kami ini.

Aamiin Ya Rabbal Aalaamiin

#viestory
#ceritavie
#thankyou

Vie dan Bapak Berkunjung ke Jogya

Perjalanan pulang dari Kuching terasa begitu hangat bagi Vie dan Bapak. Setelah beberapa hari menikmati kebersamaan keluarga di Malaysia, keduanya melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta untuk bertemu Adhy, saudara Vie yang sudah lama menetap di kota pelajar itu. Pesawat yang mereka tumpangi mendarat menjelang sore. Dari balik jendela bandara, langit Jogja tampak teduh dengan semburat jingga matahari yang perlahan turun di ufuk barat.

Berpetualang bersama Bapak

Di area kedatangan, Adhy sudah berdiri sambil melambaikan tangan dengan senyum lebar. Di sampingnya ada Anisa, istrinya yang ramah, serta salah satu puteri mereka, Rayna, yang langsung berlari kecil menyambut Vie dan Bapak. Kehangatan keluarga itu terasa seketika.

Dijemput Anak, menantu dan cucu

“Capek perjalanan? Nanti di rumah istirahat dulu,” kata Anisa lembut sambil membantu membawa barang bawaan.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, suasana mobil dipenuhi cerita. Adhy banyak bertanya tentang Kuching, tentang keluarga besar di sana, hingga pengalaman Vie selama bertugas di perbatasan. Bapak sesekali tertawa mendengar celoteh Rayna yang bercerita tentang sekolah dan mainan baru mereka.

Sesampainya di rumah, suasana hangat langsung terasa. Aroma teh hangat dan makanan ringan memenuhi ruang tamu. Rumah Adhy sederhana namun nyaman, dipenuhi suara anak-anak dan foto keluarga yang menghiasi dinding. Vie merasa seperti pulang ke rumah sendiri.

Malam harinya, mereka memutuskan keluar menikmati kuliner khas Jogja. Jalanan kota mulai ramai dengan lampu-lampu yang menyala indah. Mereka mampir ke angkringan yang penuh pengunjung. Bapak terlihat sangat menikmati suasana sederhana namun akrab itu. Ia tersenyum sambil menikmati nasi kucing, dan segelas kopi panas. Raysa, puteri pertama adhy juga kembali dari sekolah dan bergabung bersama kami

“Jogja ini memang beda. Suasananya tenang,” ujar Bapak pelan.

Vie memandangi wajah Bapak yang tampak bahagia malam itu. Ada rasa syukur melihat beliau masih sehat menikmati perjalanan panjang bersama keluarga. Di tengah kesibukan pekerjaan dan jarak yang sering memisahkan, momen sederhana seperti itu terasa sangat berharga. Karena terakhir Bapak bertemu Adhy saat menghantarkan ibu ke pembaringan terakhirnya di Sorowako.

Bapak dan Adhy

Keesokan harinya, Adhy mengajak kami berkeliling Jogja. Melewati Titik Nol Kilometer, Keraton, hingga kawasan kampus yang ramai mahasiswa. Sesekali mereka berhenti membeli bakpia dan gudeg untuk dibawa pulang. Bapak tampak menikmati setiap sudut kota, seolah ingin menyimpan semua kenangan itu sebelum kembali ke Makassar.

Namun waktu selalu berjalan cepat. Hari kepulangan pun tiba. Di bandara, suasana berubah sedikit haru. Bapak akan kembali ke Makassar, sementara Vie harus melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk kembali bekerja.

“Jaga kesehatan kalian semua,” pesan Bapak sambil memeluk Vie dan Adhy bergantian.

Menikmati suasana Jogya

Raysa dan Rayna melambaikan tangan dengan wajah sedih ketika panggilan boarding mulai terdengar. Vie menarik napas panjang sambil tersenyum kecil. Perjalanan dari Kuching ke Jogja mungkin singkat, tetapi kehangatan keluarga yang mereka rasakan akan tinggal lama di hati. Di antara kota, bandara, dan jalanan yang mereka lewati, ada kenangan sederhana yang justru terasa paling berarti: kebersamaan.

Sampai jumpa di kisah selanjutnya…

PLBN ENTIKONG

Alhamdulillah, perjalanan bersama Bapak ke Kuching, Malaysia memberiku kesempatan untuk menunjukkan lingkup pekerjaanku yang baru dan jauh dari bayangan Bapak selama ini.

Selamat Datang di Pos Sempadan Tebedu / Entikong

Saat kembali dari Kuching, Vie dan Bapak memilih perjalanan darat melalui Pos Sempadan / Tebedu yang terhubung dengan PLBN Entikong. Meski sudah tiga tahun bergabung di Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI, ini juga pertama kali Vie berkunjung ke PLBN Entikong.

Vie dan Bapak diantar oleh Abah Zapari dan Paza Dan hingga ke batas negara. Setelah melewati pemeriksaan di pihak Malaysia, kami masuk ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong. Setelah itu kami masuk ke wilayah Indonesia.

PLBN Entikong kerap disebut PLBN pertama di Indonesia yang mulai beroperasi sejak 1 Oktober 1989. Berbatasan langsung dengan pintu perbatasan Tebedu, Sarawak, Malaysia. Sejak renovasi besar 2015-2016, PLBN Entikong berfungsi sebagai pusat aktivitas lintas batas, perdagangan, dan mobilitas masyarakat, serta memperkuat peran strategis Indonesia dalam menjaga kedaulatan dan mendorong pembangunan kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia.

Setelah melalui pemeriksaan imigrasi, kami di jemput oleh salah satu staf PLBN Entikong dan diajak untuk mengambil kenangan di Tugu Pancasila.

Di Tugu Pancasila PLBN Entikong

Selanjutnya kami diajak berkunjung ke kantor pengelola PLBN Entikong dan bersilaturahmi dengan Kepala PLBN Entikong, Teguh Priyadi. Suasana pertemuan begitu hangat dimana beliau berkesempatan menjelaskan berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan lintas batas, memperkuat koordinasi antarinstansi, serta mendorong pembangunan ekonomi masyarakat sekitar.

Foto Bersama Kepala Bidang PLBN Entikong

Selanjutnya kami berkeliling mengunjungi pasar PLBN Entikong yang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat perbatasan. Pasar ini menghadirkan suasana yang hidup dengan beragam produk lokal maupun barang dari Malaysia, mencerminkan dinamika perdagangan lintas batas yang berlangsung setiap hati. 

Bersama Abah Zapari di pasar PLBN Entikong

Usai berkeliling dan melihat fasilitas di sekitar PLBN Entikong, Abah Zapari dan Paza Dan pamit kembali ke Kuching, sedangkan Vie dan Bapak memutuskan untuk tinggal semalam di PLBN Entikong, sehingga dapat merasakan atmosfir kehidupan di perbatasan, sekaligus memahami bagaimana fasilitas ini bukan hanya berfungsi sebagai pintu gerbang negara, tetapi juga sebagai ruang yang menghubungkan budaya, ekonomi, dan kehidupan masyarakat di dua sisi perbatasan.

Wisma Indonesia di PLBN Entikong

Setelah istirahat semalam di PLBN Entikong, paginya Vie dan Bapak melanjutkan perjalanan menuju Bandara Internasional Supadio Pontianak  (PNK). Perjalanan darat dari Entikong ke Pontianak memberikan kesempatan untuk menyaksikan panorama Kalimantan Barat yang hijau dan penuh kehidupan, sekaligus merasakan dinamika mobilitas masyarakat perbatasan yang kerap melintasi jalur ini. Setibanya di bandara, suasana modern dan sibuk langsung terasa, menandai transisi dari kawasan perbatasan ke pusat transportasi internasional. Dari sini, perjalanan dilanjutkan dengan penerbangan menuju Yogyakarta, tempat salah satu adikku dan keluarganya tinggal.

Lanjut ke perjalanan menuju Yogyakarta ya…

Vie & Bapak Trip to Kuching

Vie jemput Bapak di bandara Soekarno Hatta, 25/9/2025. Alhamdulillah, senang sekali berjumpa Bapak dalam kondisi sehat dan bahagia untuk perjalanan ini. Perjalanan yang menjadi memorable yang indah bersama Bapak. Sedikit pelipur lara semenjak kepergian almarhumah ibunda tercinta, Al-Fatihah 🤲🏻

Vie bersama bapak di depan kantor BNPP-RI

Setelah beristirahat semalam di kost Delima, vie dan Bapak meninggalkan tanah air dari Jakarta, menuju Kuching, Malaysia menggunakan Malaysia Airlines MH 0710 dengan transit di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur.

Alhamdulillah, setibanya di Bandara Internasional Kuching, Vie dan Bapak langsung disambut hangat oleh Abah Zapari dan Friday. Senyum lebar dan pelukan hangat menjadi tanda betapa kehadiran mereka telah dinantikan. Perjalanan dari bandara menuju rumah terasa singkat karena sepanjang jalan mereka diisi dengan obrolan ringan, cerita keluarga, dan tawa yang membuat suasana menjadi akrab. Vie merasa seperti pulang ke rumah sendiri, meski berada di negara lain.

Welcome to Sarawak

Malam pertama di Kuching diisi dengan makan malam keluarga yang sederhana namun penuh makna. Di meja makan, berbagai hidangan khas Sarawak tersaji: laksa Sarawak yang harum, ayam pansuh yang dimasak dalam bambu, dan aneka lauk rumahan yang menggugah selera. Suasana makan malam begitu hangat. Cerita demi cerita mengalir, dari kisah masa kecil hingga kabar terbaru masing-masing anggota keluarga. Vie merasakan betapa kuatnya ikatan kekeluargaan yang melampaui batas negara.

Kumpul bersama keluarga

Keesokan harinya, Abah Za mengajak Vie dan Bapak menikmati hidangan di tepi sungai Sarawak. Menikmati sajian sarapan pagi nasi lemak, lalu menyusuri tepian sungai Kuching Waterfront dengan pemandangan bangunan Astana dan Gedung Undangan Negeri Sarawak tampak menonjol dengan warna kuning keemasan bahkan menjadi icon dari kawasan ini.

Kuching Waterfront

Tiba saat pesta pernikahan Anwar dan Amiza yang menjadi tujuan perjalanan ini, bersama rombongan Vie dan Bapak menuju gedung Dewan Majma di jl. P. Ramlee. Gedung ini meeupakan venue Majlis Kesyukuran putera pertama abah Za. Gedung tempat acara berlangsung dihiasi indah dengan nuansa tradisional Melayu yang elegan. Musik lembut, dekorasi bunga, dan senyum para tamu menciptakan suasana penuh kebahagiaan. Mashaallah, penerimaan yang luar biasa dari keluarga besar abah Za dan ummi.

Majlis Kesyukuran Anwar & Amiza

Di acara itu, Vie berkesempatan bertemu dengan keluarga besar yang selama ini hanya dikenalnya lewat cerita. Satu per satu wajah baru diperkenalkan, namun kehangatan sambutan mereka membuat Vie merasa diterima sepenuh hati. Bapak pun tampak sangat bahagia dapat berkumpul kembali dengan saudara-saudara baru. Hari itu menjadi pengingat bahwa keluarga adalah tempat pulang yang sesungguhnya.

Suasana kekeluargaan

Dalam perjalanan ini, Vie juga bertemu untuk pertama kalinya dengan Hani, sahabat pena sekaligus teman dari Toastmasters Club yang selama ini hanya dikenal lewat percakapan daring. Pertemuan itu terasa sangat istimewa. Hani ternyata sosok yang ramah, hangat, dan penuh energi. Mereka berbincang panjang tentang pengalaman di Toastmasters, mimpi-mimpi masa depan, hingga cerita keseharian. Vie merasa bersyukur akhirnya dapat bertemu langsung dengan seseorang yang selama ini memberi banyak inspirasi dari kejauhan.

Bertemu Hani Toastmasters

Setelah makan siang bersama, kami mengunjungi Borneo Cultures Museum bersama Bapak. Museum megah itu menjadi salah satu destinasi yang paling berkesan bagi Vie dan Bapak. Di setiap lantainya, tersimpan cerita tentang sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Kalimantan serta Borneo secara luas. Sulvi dan Bapak berjalan perlahan, membaca setiap informasi dengan penuh minat.


Di salah satu ruang pameran, kami berhenti cukup lama di depan koleksi artefak tradisional suku Dayak. Vie melihat mata Bapak berbinar saat mendiskusikan nilai-nilai budaya yang selama ini diwariskan oleh leluhur. Momen itu terasa sangat intim—bukan sekadar wisata museum, tetapi juga perjalanan mengenal akar budaya dan identitas diri.

Bapak di rumah adat Borneo

Hari-hari berikutnya berlalu dengan begitu menyenangkan. Vie dan Bapak menikmati waktu bersama keluarga Abah Za, berbincang santai di beberapa kesempatan, menikmati waktu di sudut-sudut kota Kuching yang tenang. Tidak ada agenda besar, namun justru kesederhanaan itulah yang membuat perjalanan ini begitu bermakna.


Vie menyadari bahwa perjalanan bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang orang-orang yang ditemui dan kenangan yang diciptakan bersama mereka. Kuching telah memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar wisata; kota itu menghadirkan kehangatan, persaudaraan, dan rasa syukur.

Bersama Bapak, Abah dan Ummi
Foto Bersama di Màjlis Makan Malam Waris Keturunan Paduka Nan Basusu Ampek

Namun seperti semua perjalanan indah, tibalah saatnya untuk pulang. Hari perpisahan datang terlalu cepat. Pagi itu, suasana rumah terasa sedikit berbeda—lebih hening, seolah semua orang enggan mengucapkan selamat tinggal. Abah Zapari kembali mengantar Vie dan Bapak, kali ini menuju perjalanan pulang melalui PLBN Entikong.

Perjalanan darat menuju perbatasan menjadi waktu refleksi yang panjang. Dari balik jendela kendaraan, Vie memandangi hutan hijau yang membentang, desa-desa kecil yang terlewati, dan langit yang seolah ikut mengiringi kepulangan mereka. Sesekali ia menoleh ke arah Bapak yang duduk tenang di sampingnya. Tanpa banyak kata, keduanya sama-sama tahu bahwa perjalanan ini akan menjadi salah satu kenangan terindah dalam hidup mereka.

Bersama Bapak

Menjelang tiba di PLBN Entikong, Vie tampak begitu antusias. Dengan penuh kebanggaan, ia mulai memperkenalkan kawasan perbatasan tersebut kepada Bapak dan Abah Zapari. Vie menjelaskan bahwa Pos Lintas Batas Negara Entikong bukan sekadar pintu keluar masuk antarnegara, tetapi juga simbol kehadiran negara dalam menjaga kedaulatan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan. Ia menceritakan bagaimana kawasan itu kini semakin modern, tertata rapi, dan menjadi wajah Indonesia di perbatasan. Dengan mata berbinar, Sulvi juga bercerita bahwa dirinya kini bertugas di BNPP-RI, lembaga yang memiliki peran penting dalam pengelolaan batas wilayah negara dan pembangunan kawasan perbatasan. Bapak dan Abah Zapari mendengarkan dengan penuh perhatian dan rasa bangga. Bagi Vie, momen itu terasa sangat berarti, karena untuk pertama kalinya ia dapat menunjukkan secara langsung bagian dari pengabdiannya kepada negara kepada orang-orang yang paling ia hormati.

Bersama Bapak dan Abah

Saat melintasi PLBN Entikong dan kembali menginjak tanah Indonesia, Vie menarik napas panjang. Ada rasa haru, bahagia, sekaligus rindu yang sudah mulai tumbuh pada Kuching dan orang-orang yang ditinggalkan di sana.
Perjalanan itu memang telah usai, tetapi kenangannya akan selalu tinggal di hati—tentang keluarga, persahabatan, budaya, dan cinta yang melintasi batas negara.

Lanjut ke sebelah tentang PLBN Entikong ya…. #viestory

Lamaran Rara

Sebuah pesan whatsapp dari sahabatku, dr. Sintha mengabarkan puteri keduanya, Rara akan dilamar. Alhamdulillah, senang sekali menerima berita bahagia ini.

Lepas magrib pada Jumat (4/7) aku berangkat ke rumah bu dokter menggunakan kereta. Aku mulai nyaman berkendara kereta, meskipun tetap memilih untuk berangkat pada jam-jam tidak terlalu padat.

Perpaduan dalam balutan keasrian

Alhamdulillah perjalanan lancar. Saat tiba, rupanya semua keluarga masih berada di venue untuk persiapan. Tapi karena aku cukup letih, istirahat menjadi pilihan. Apalagi tidur di kamar eyang alamarhum mama dr. Sintha, membuatku rindu pada beliau. Kukirimkan salam dan Al-Fatihah untuk eyang. Aamiin YRA 🤲🏻

Cahaya

Pagi-pagi sekali kami berangkat ke venue acara, Panggonan Ciracas, Mengenakan dress code biru, aku kembali merasakan hangatnya keluarga besar. Semua tampak bahagia, terutama Rara yang akan menerima lamaran. Senyum merekah membalut letih pada wajahnya. Barakallahu dek.

Pangonan Ciracas

Tiba di venue, kami langsung bersiap-siap. Suasana romantis membuat flow acara semakin hikmat dan berkesan. Bangunan kayu dengan halaman asri, dipadu padankan dengan aneka bunga memberikan sentuhan keunikan dan ekslusifitas acara ini.

Prosesi pelamaran di Pangonan Ciracas

Kehadiran keluarga dan teman-teman dekat menjadi semangat dan support kekhidmatan acara. Sepenggal cerita kenangan perkenalan pasangan Rara dan Rizky menambah keseruan mengurai ketegangan prosesi lamaran.

dr.sintha, Norma, Rizky, Rara dan Sulvi (ki-ka)

Alhamdulillah, niat tulus Rizky dan keluarga bak gayung bersambut. Harapan yang dibawa oleh keluarga besar dari Lampung diterima dengan baik oleh keluarga dr. Sintha. Kedua pasangan telah menerima restu untuk menuju jenjang pernikahan demi men”sah” kan hubungan mereka menjadi keluarga SAMAWA, inshaallah.

Rara & Rizky

Turut bersuka cita. Semoga segala doa dan harapan terwujud. Kedua calon mempelai beserta keluarga diberi nikmat sehat dan segala persiapan dimudahkan serta dilancarkan, Aamiin YRA.

#

Happy Birthday Vie

Pantun untukku ❤️

Burung merpati terbang tinggi,

Hinggap sejenak di atas dahan,

Usia bertambah ku syukuri,

Semoga hidup penuh kemudahan.

Cakeppppp…..

Ke pantai berjalan kaki,

Menikmati angin sepoi-sepoi,

Bertambah usia kian berarti,

Semoga hidup makin termotivasi

Inshaallah Aamiin YRA 🤲🏻

Terima kasih bu dr.Ety

Terima kasih atas cinta dan dukungan dari keluarga, sahabat, teman-teman dan rekan kerja yang selalu memberikan arti dalam hidup ini.

Banyak yang telah terjadi, namun masih banyak pula yang akan kualami, semoga selalu mendapatkan ijin, ridha dan kehendak dariNya, Aamiin YRA 🤲🏻

Keluarga besar Tasbara, BNPP
Special dari Dapur Umichy
Terima kasih Echy ❤️
Alhamdulillah 🤲🏻

Hari yang istimewa dari keluarga dan sahabat tercinta. Terima kasih atas dukungan dan semua cinta yang diberikan.

Alhamdulillah, bertambah satu tahun usiaku. Semoga perjalanan hidupku semakin diberi keberkahan oleh Allah SWT. Barakallah!

Ya Allah panjangkanlah umur kami, sehatkanlah badan kami, terangilah hati kami, kuatkanlah hati kami, baikkanlah amal kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami dengan kebaikan dan jauhkan kami dengan kejahatan.

Aamiin Allahumma Aamiin

Aamiin Aamiin Aamiin Ya Rabbal Aalaamiin 🤲🏻

Gebyar Sambut 2025

Jelang akhir tahun 2024 aku tetap masuk kantor seperti biasa. Tak ada libur selain di akhir pekan dan hari raya Natal. Bahkan kami sempat mengabadikan moment bersama Asisten Deputi Pengelolaan Lintas Batas Negara, Bapak Budi Setyono dan istrinya, ibu dr. Caroline di ruang Tasbara BNPP-RI.

Keluarga Tasbara BNPP-RI, Selasa, 31 Desember 2024

Kembali ke rumah, aku istirahat sejenak sebelum kakak sepupuku, Sri Mulyati tiba dengan Eca dan Saki. Kami berencana menikmati malam pergantian tahun di Monas, yang merupakan salah satu titik kumpul masyarakat di Jakarta.

Wah, begitu antusias masyarakat yang ingin menyambut tahun baru 2025. Bahkan terdapat beberapa titik panggung di sekitaran monas yang ramai oleh pengunjung.

Alhamdulillah, akhirnya kami berhasil menembus kerumunan dan masuk ke pelataran monas, menggelar alas di atas rerumputan dan menikmati pagelaran musik hingga pesta kembang api menjemput tahun 2025.

Mashaallah, Allah SWT perkenankan kami menyaksikan  malam pergantian tahun 2024 ke 2025 dalam keadaan sehat bersama keluarga dengan suasana yang indah di Halaman Monumen Nasional (Monas) Jakarta.

اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

Arab Latin: Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa ‘alâ fadhlikal ‘azhîmi wa karîmi jûdikal mu’awwal. Hâdzâ ‘âmun jadîdun qad aqbal. As’alukal ‘ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ’ih, wal ‘auna ‘alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû’I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.

Artinya: “Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.”

Sumber: “Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun: Arab, Latin dan Artinya” selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-7710999/doa-akhir-tahun-dan-awal-tahun-arab-latin-dan-artinya.

Banyak hal yang menjadi pencapaian juga evaluasi dari aktivitas di tahun 2024. Mari kita perbaiki diri menjadi lebih baik di tahun 2025. Harus tetap optimis, semangat dan hati-hati dalam melangkah serta mengambil keputusan. Menjadi pribadi yang lebih baik lagi namun tidak berputus asa saat menemui kegagalan. Tetap semangat untuk bangkit dan mencoba untuk mendapatkan izin, ridha dan kehendak Allah SWT.

Semoga tahun 2025 kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi, senantiasa bersyukur dan introspeksi diri dalam lindungan Allah SWT, Aamiin YRA 🤲🏻

Mengenal Diri Sendiri: Kunci Meraih Hidup yang Bermakna

Siapa saya? Sebuah pertanyaan yang belum tentu pernah kita tanyakan pada diri sendiri. Padahal, mengenal diri merupakan proses pemahaman yang mendalam terhadap pikiran, perasaan, keinginan, serta nilai-nilai yang membentuk kepribadian kita.

Meskipun terdengar sederhana, mengenal diri sendiri adalah perjalanan yang kompleks dan penuh tantangan. Banyak orang mungkin menghabiskan seumur hidup tanpa benar-benar mengetahui siapa mereka sebenarnya, apa yang mereka inginkan, dan apa yang membuat mereka merasa hidup. Bagaimana denganmu?

Rasulullah SAW bahkan pernah bersabda: من عرف نفسه، فقد عرف ربّه “
Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu,”. Artinya: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”

1. Mengenali lebih dalam terhadap diri sendiri perlu dilakukan secara lahiriah hingga batiniah. Meskipun setiap orang memiliki caranya masing-masing, tetapi sebelum lebih lanjut, sangat penting untuk mengenal diri sendiri. Memahami bagaimana cara untuk memulai proses pengenalan diri. Serta manfaat yang dapat dirasakan ketika kita mencapai pemahaman diri yang lebih baik.1. Mengapa Mengenal Diri Sendiri Penting?
Mengenal diri sendiri adalah pondasi utama untuk mencapai keseimbangan hidup dan kebahagiaan yang sejati. Dengan mengetahui siapa diri kita, maka teknik pengambilan keputsan hingga proses pengambilan keputusan dalam hidup ini dapat dilakukan dengan lebih baik.Hal ini akan membantu diri untuk memahami apa yang membuat kita bahagia. Hal ini juga dapat merancang hidup yang sesuai dengan nilai-nilai dan keinginan kita.

    Berikut beberapa alasan mengapa mengenal diri sendiri menjadi penting:

    • Kepercayaan Diri yang Lebih Besar: Ketika kita tahu siapa kita, kita menjadi lebih percaya diri. Kita tidak mudah tergoyahkan oleh pendapat orang lain karena kita memiliki keyakinan yang kuat terhadap diri sendiri.
    • Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik: Dengan pemahaman yang jelas tentang diri sendiri, kita dapat membuat keputusan yang sejalan dengan tujuan dan nilai hidup kita, tanpa terlalu dipengaruhi oleh tekanan eksternal.
    • Hidup yang Lebih Bermakna: Mengenal diri sendiri memungkinkan kita menemukan tujuan hidup yang sejati. Ini memberikan rasa makna dan kebahagiaan yang lebih mendalam karena kita hidup sesuai dengan siapa kita sebenarnya, bukan sekadar mengikuti harapan orang lain.

    2. Langkah-Langkah dalam Mengenal Diri Sendiri
    2.1 Refleksi Diri
    Langkah pertama dalam mengenal diri sendiri adalah melakukan refleksi diri. Ini berarti meluangkan waktu untuk merenung dan bertanya pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan penting, seperti:

      • Apa yang membuat saya bahagia?
      • Apa yang membuat saya merasa bangga?
      • Apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan saya?

      Tuliskan jawaban Anda untuk setiap pertanyaan ini. Menuliskan pemikiran dan perasaan dapat membantu memperjelas pikiran Anda dan memungkinkan Anda untuk melihat pola-pola yang mungkin tidak Anda sadari sebelumnya.

      2.2 Temukan Nilai-Nilai yang Anda Anut


      Nilai adalah prinsip-prinsip yang kita pegang teguh dalam hidup, seperti kejujuran, kedamaian, atau kebebasan. Mengetahui nilai-nilai yang penting bagi kita membantu dalam menentukan arah hidup. Nilai yang kita anut mencerminkan apa yang benar-benar kita pedulikan. Anda bisa mencoba menuliskan daftar nilai yang menurut Anda penting dan memilih tiga atau lima nilai utama yang paling berpengaruh dalam hidup Anda.

      2.3 Perhatikan Minat dan Hobi
      Mengenal diri sendiri juga berarti mengetahui apa yang benar-benar menarik minat kita. Aktivitas yang kita lakukan dengan penuh antusiasme dapat menjadi petunjuk tentang siapa kita sebenarnya. Tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang membuat saya merasa hidup?” “Apa yang membuat saya merasa bersemangat dan penuh energi?”

      2.4 Kenali Kekuatan dan Kelemahan Anda
      Kita semua memiliki kekuatan dan kelemahan. Menerima kelemahan tanpa merasa rendah diri, serta memahami kekuatan tanpa merasa sombong adalah bagian penting dalam mengenal diri. Kenali apa yang menjadi keunggulan Anda, serta area yang masih bisa Anda kembangkan. Ini akan membantu Anda untuk lebih realistis terhadap diri sendiri dan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.

      2.5 Terima dan Hargai Diri Sendiri
      Proses mengenal diri sering kali mengungkap hal-hal yang mungkin sulit diterima, seperti kesalahan masa lalu atau sifat yang kurang menyenangkan. Terima bahwa diri Anda memiliki ketidaksempurnaan dan berikan penghargaan pada usaha yang telah Anda lakukan. Menerima diri sepenuhnya adalah langkah penting dalam perjalanan mengenal diri.

      3. Teknik dan Alat untuk Mengenal Diri
      Beberapa teknik dan alat yang bisa digunakan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam, antara lain:

        • Jurnal Pribadi: Menulis jurnal adalah cara yang efektif untuk memahami pikiran dan perasaan yang mungkin tersembunyi. Setiap hari, tuliskan pengalaman, pikiran, dan perasaan Anda. Tinjau ulang setelah beberapa waktu untuk melihat pola atau kebiasaan dalam kehidupan Anda.
        • Tes Kepribadian: Tes seperti Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), Enneagram, atau Big Five Personality Test dapat membantu Anda mendapatkan gambaran tentang kepribadian dan sifat-sifat yang Anda miliki. Tes ini tidak akan memberikan jawaban pasti tentang siapa Anda, tetapi bisa menjadi titik awal yang berguna.
        • Meditasi dan Mindfulness: Meditasi membantu kita untuk menjadi lebih sadar akan pikiran, perasaan, dan emosi. Dengan melatih mindfulness, kita dapat memahami respons dan reaksi kita terhadap situasi tertentu, serta menyadari bagaimana perasaan-perasaan ini memengaruhi diri kita.

        4. Tantangan dalam Mengenal Diri Sendiri
        Mengenal diri sangat penting, tapi bukanlah proses yang mudah, dan kita mungkin menghadapi beberapa tantangan, seperti:

          • Takut Akan Apa yang Kita Temukan: Kadang-kadang, kita takut menghadapi bagian dari diri yang mungkin kita anggap kurang baik atau bahkan memalukan. Namun, menghadapi ketakutan ini adalah bagian penting dari proses untuk berkembang.
          • Perubahan Diri yang Terus Berlangsun*: Diri kita terus berkembang seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup. Mengenal diri berarti juga memahami bahwa perubahan adalah bagian dari hidup, dan kita harus fleksibel dalam memahami siapa kita.
          • Tekanan Sosial dan Harapan Eksternal: Seringkali, harapan dari keluarga, teman, dan masyarakat membuat kita sulit mengenali diri yang sesungguhnya. Kita mungkin terbawa arus untuk mengikuti jalan yang diinginkan orang lain, bukan yang sebenarnya kita inginkan.

          5. Manfaat Mengenal Diri Sendiri


          Setelah melalui proses ini, ada banyak manfaat yang dapat Anda rasakan ketika berhasil mengenal diri sendiri dengan lebih baik:

            • Kebahagiaan yang Lebih Mendalam: Dengan mengetahui apa yang membuat kita bahagia dan hidup sesuai dengan keinginan kita, kita dapat merasakan kebahagiaan yang lebih autentik dan bermakna.
            • Pengambilan Keputusan yang Lebih Terarah: Mengenal diri sendiri memungkinkan kita untuk membuat pilihan yang sesuai dengan tujuan dan nilai hidup kita, sehingga kita tidak mudah terombang-ambing oleh situasi atau pengaruh orang lain.
            • Hubungan yang Lebih Baik dengan Orang Lain: Ketika kita sudah mengenal dan menerima diri sendiri, kita menjadi lebih mampu menerima orang lain apa adanya. Ini akan memperkuat hubungan kita dengan orang-orang terdekat dan meningkatkan kualitas interaksi sosial kita.
            • Pengembangan Potensi Diri: Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan kita, kita dapat lebih fokus dalam mengembangkan potensi yang ada dan bekerja pada aspek-aspek diri yang perlu diperbaiki.

            Kesimpulan
            Mengenal diri sendiri adalah proses penting yang memungkinkan kita untuk menjalani hidup yang lebih bermakna, bahagia, dan autentik. Meskipun prosesnya bisa jadi panjang dan menantang, hasil yang kita dapatkan akan sangat berharga. Dengan memahami siapa kita, kita akan mampu menjalani hidup yang sesuai dengan keinginan dan nilai kita sendiri, menciptakan hubungan yang lebih baik, serta meraih kebahagiaan yang lebih dalam. Jadi, mulailah perjalanan ini dengan langkah-langkah kecil dan bukalah diri terhadap pengalaman-pengalaman baru yang akan membantu Anda mengenal diri sendiri dengan lebih baik.