Mengenal Aksara Kuno

Sejak mengenal Kedatuan Luwu, sedikit demi sedikit membuka mataku akan urgensitas atau pentingnya mengenal budaya masa lampau sebagai identitas kita. Kita selalu membuat statement sebagai anak muda yang mencari jati dirinya, namun kita seringkali diberikan petunjuk untuk mengikuti kebudayaan barat, yang notabene tidak kalah hebat dari kebudayaan kita di Nusantara.

Bersama Datu Luwu XL dan Opu Datu di Launching Logo Festival Keraton Nusantara XIII Tahun 2019 di Istana Datu Luwu, Palopo (12/05/2018)

Dan hari ini Selasa (18/09/2018), mata saya pun semakin terbelalak. Memang pernah saya mempelajari tentang adanya naskah kuno di Indonesia , yang digunakan pada masa kerajaan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, tapi yang tidak banyak diperkenalkan kepada generasi muda adalah bahwa Pancasila itu sendiri disusun berdasarkan konsensus bersumber pada pengetahuan khas Indonesia, sementara semboyan Bhineka Tunggal Ika bisa tergali dari pembacaan cermat naskah Jawa Kuno yang disebut Sutasoma.

Betapa kayanya bangsa Indonesia, 10.634 judul naskah kuno yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Namun sayangnya, pembaca naskah-naskah itu sangat terbatas bahkan sebagian terancam punah jika tidak dijaga, dilestarikan dan diajarkan kepada generasi muda.

Untuk itu, Prof. Jimly Asshiddique mengharapkan adanya cultural bridge untuk menyambungkan kehidupan modern dan budaya lokal.

Prof. Dr. Jimly Assidhique dalam ceramah Aktualisasi Hukum Adat dan Pemerintahan dalam Naskah Nusantara dalam rangka Festival Naskah Nusantara IV di Perpustakaan Nasional RI (18/9/2018)

Dan sebuah kesempatan langka, saya bisa berkenalan dengan kang Edo (49) asli Keturunan Jawa Sunda Madura yang dia singkat Jandamadu hahaha.. ketemu Kang Edo panghilan dari Edi Dolan saat dia sedang memperagakan teknik pembuatan kertas jaman dahulu dari kulit kayu saeh (paper mulberry) yang disebut Daluang juga memperlihatkan naskah pancasila yang dituliskan dengan aksara Sansekerta, Sandi Jawa, Cacarakan Sunda, Sunda Kuno dan Batak Karo.

Penulisan Pancasila oleh Edi Dolan dalam aksara Sansekerta, Sandi Jawa, Cacarakan Sunda, Sunda Kuno, Alcedo, dan Batak Karo

Teknik pembuatan Daluang, dimulai dengan memasak kulit kayu saeh hingga lembek lalu dibungkus daun pisang semalaman hingga berlendir. Pisang memiliki getah yang menjadi perekat sehingga dapat bertahan lama.

Setelah itu kulit kayu yang sudah lembek dan berlendir dipukul dengan Pameupeu atau palu dengan tekstur kasar sehingga kulit kayu itu menipis dan 2-3 kali dilapis sehingga tidak mudah sobek. Setelah lembaran-lembaran itu menyatu, maka dipukul menggunakan pameupeu yang alurnya lebih kecil. Jaman dahulu kala, untuk menjadikannya kertas, dipukul dengan menggunakan batu atau kayu keras.

Dalam proses pemukulan, sesekali dibasahi air sehingga lembaran kulit kayunya tidak melekat pada alas dan tidak sobek. Setelah jadi kemudian diangin-anginkan hingga kering dan siap untuk ditulisi.

Kang Edo adalah seorang pelukis aksara di kanvas yang mempelajari teknik ini secara otodidak mulai dari tahun 2007.

“Saya tertarik karena naskah kuno itu memiliki kandungan ajaran petuah yang bisa diterapkan di masa lalu hingga masa sekarang”, terangnya.

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal bidang seni, kang Edo berkolaborasi dengan beberapa alumni ITB untuk bisa menulis aksara sendiri.

“Saya diberi tantangan oleh kawan-kawan. Akhirnya saya membuat aksara saya sendiri yang saya sebut Alcedo – Aksara Edo.

Pancasila dalam Aksara Alcedo

Pengen punya museum sendiri untuk koleksi pribadinya dan membuat replika semua naskah nusantara adalah keinginan terbesar dan belum dicapainya hingga saat ini. Namun keinginannya untuk terus melestarikan naskah-naskah kuno memperkenalkannya dengan Perpustakaan Nasional, sehingga dapat terlibat dalam pembuatan replika beberapa naskah kuno di Perpustakaan Nasional.

Pancasila dalam Aksara Budha

Dari penelusuran saya tentang Daluang ini ternyata bukti keberadaan daluang dapat ditemukan pada naskah kuno Kakawin Ramayana yang berasal dari abad ke-9. Dalam naskah itu disebutkan daluang sebagai bahan pakaian pandita (sebutan untuk orang yang bijaksana). Pada abad ke-18, daluang dipergunakan bukan hanya sebagai pakaian pandita, tetapi juga kertas suci, ketu (mahkota penutup kepala), dan pakaian untuk menjauhkan dari ikatan duniawi.

Pradatangnya Islam, daluang digunakan sebagai bahan wayang beber, salah satu jenis wayang di Jawa yang memanfaatkan lembaran atau gulungan daluang untuk merekam kisahan atau cerita pewayangan dalam bentuk bahasa gambar.

Selanjutnya daluang digunakan dalam berbagai tradisi tulis di Indonesia, mulai dari tradisi pesantren sampai dengan pemanfaatan untuk keperluan administrasi di zaman kolonial hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Surah Al-Ashr dalam aksara Budha

Daluang sebagai bagian dari tradisi tulis di Indonesia diperkirakan sudah ada sejak abad ke-14. Hal ini tertuang pada naskah Undang-Undang Tanjung Tanah di Gunung Kerinci yang diteliti oleh Dr Uli Kozok dari Hawaiian University pada 2003. Adapun dalam khazanah naskah Sunda dapat ditelusuri melalui naskah Sunda kuno dari abad ke-18 koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Senang rasanya berkesempatan mengetahui bagaimana teknik pembuatan kertas dimasa lampau. Terima kasih kang, selamat berkarya.

Advertisements

Tentang Sahabatku dan mimpinya

Ya Allah… Ijinkan aku merintih kepadamu

Tentang rasa iri, rasa cemburu, rasa sakit yang membelengguku saat ini

Betapa tidak ya Allah…

Meski rasa bangga dan bahagia itu bersamaku

Namun harapanku untuk bisa seperti sahabat-sahabatku sungguhlah sangat besar

Mereka bermimpi untuk membuat celengan akhirat dengan membangun sebuah mesjid

Berilah aku kekuatan dan kemampuan seperti mereka ya Allah

Tidak semua orang kaya dan memiliki kelimpahan harta

Juga memiliki kemampuan untuk membelanjakan hartanya di jalanMu

Bahkan terkadang dipenuhi perhitungan-perhitungan duniawi semata

Sementara mereka, keempat sahabatku tersayang, sungguh telah memiliki perencanaan design mesjid, lokasi dan dana pembangunannya

Sungguh mulia hati mereka ya Allah…

Bantulah mereka mewujudkan mimpi dan cita-citanya ya Allah

Berilah mereka kekuatan dan keteguhan untuk menyelesaikan harapan-harapannya

Jauhkanlah sifat ke-aku-an dan kesombongan yang bisa menghapus segala amalan kami ya Allah

Dan jadikanlah kami selalu dekat dengan orang-orang yang berjihad di jalanMu ya Allah…

Jadikanlah kami orang-orang yang dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa di sekitar kami ya Allah


رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Robbii inni auudzubika an asalaka ma laisa lii bihi ‘ilmun wa illa taghfir lii wa tarhamnii akun minal khoosiriin

Artinya :

“Ya Allah, sungguh aku berlindung pada‐Mu dari sesuatu yang aku tidak tahu hakikatnya.Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun serta tidak menaruh belas kasihan padaku, niscaya aku termasuk orang‐orang yang merugi.” (QS. Hûd : 47)

Aamiin aamiin aamiin yaa rabbal alaamiin 🙏

#ampera16sep2018

Dedicated to my beautiful friends with golden heart 😍

ADDICTED ASIAN GAMES 2018

Semarak Asian Games begitu bergemuruh saat pesta pembukaan yang dilaksanakan di Gelora Bung Karno 18 Agustus 2018. Meski hanya menyaksikannya lewat layar kaca, namun semangat dan gelora yang di teriakkan dalam semboyan Feel the Energy of Asia sungguh menggetarkan jiwa dan kebanggaan Indonesia.

Satu demi satu perolehan medali direbut oleh putera puteri terbaik bangsa Indonesia hingga melampaui target yang dicanangkan. Menjadi bukti sejarah bahwa Indonesia mampu mengalihkan pandangan dunia akan kehebatannya dalam melaksanakan pesta olahraga bertaraf internasional.

Pun ketika saya kembali dari Luwu Timur bersama Giedha, kawan dari Sorowako, kami pun memutuskan untuk menikmati antrian panjang memasuki Festival Asian Games. Sungguh di luar dugaan, bukan hanya antri untuk masuk ke lokasi festival, antrian untuk mendapatkan official merchandise pun tak kalah panjangnya. Membutuhkan waktu 4 jam untuk kami antri dibawah terik matahari dan bisa masuk ke store merchandise itupun dalam kondisi barang sudah hampir seluruhnya sold out.

“Aku nyampe GBK jam setengah lima untuk antri merchandise mba.. itupun storenya baru buka jam delapan pagi. Baru aku bisa dapat boneka Asian Games, makanya aku buka “Justip” (jasa titip -red) mba, jelas Indah, salah satu pengunjung.

Meski kamipun akhirnya tetap ikutan antri, terbukti kata-kata Indah, saat kami masuk, sebagian besar souvenir Asian games terutama boneka, gantungan kunci telah habis. Setiap hari kami re-stock souvenir pagi dan sore hari dan selalu kehabisan, sampai-sampai ada antrian untuk pre-order pemesanan boneka maskot Asian Games, dan seperti yang lain, antriannya pun sangat panjang.

Namun, semangat gelora the energy of Asia ini tidak hanya terasa di Jakarta. Bahkan membuat seorang kawan rela terbang dari Semarang ke Jakarta dengan tujuan menyaksikan Closing Ceremony Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Minggu 2 September 2018.

Namanya Cicie, panggilan dari Susilowati. Berhubung aku menjemput kakakku yang pulang dari ibadah haji pada 1 September malam, maka akhirnya aku stay di Bandara Soekarno Hatta sepanjang malam karena Cicie tiba dari semarang tanggal 2 September pagi. Walhasil, kami bertemu dan sempat berganti kostum hijau Asian Games sebelum menuju ke GBK.

Berhubung Minggu adalah moment Car Free Day di Jakarta, jadilah kami turun dari Damri di kawasan Semanggi dan lanjut berjalan kaki ke GBK. Wah, hari yang luar biasa, karena antri pengunjung Festival Asian Games 2018 jauh lebih ramai dari hari-hati sebelumnya.

Kamipun membeli tiket Festival, lalu mojok menunggu Giedha, Opu Odeng dan Opu Besse sambil menikmati hilir mudik lalu lalang orang yang antri mau masuk ke GBK. Setelah kami berkumpul, segera kami masuk ke area Festival. Dan tidak lupa beragam pose foto andalan pun menjadi bagian dari pengingat moment bahagia itu.

Ketika waktu menunjukkan pukul empat sore kami pun berpisah, karena aku dan Cicie memiliki tiket penutupan Asian Games dan kami harus segera masuk ke Istora mengingat akan panjangnya antrian masuk. Kamipun berganti kostun merah bertuliskan INDONESIA dengan aksesoris tempelan di pipi dan pengikat kepala. Dan syukurlah kami dapat masuk lebih awal, karena kami mendapatkan tempat di lantai 3 dan harus menaiki tangga karena tidak ada lift atau escalator. Dan lebih syukur lagi, beberapa meter antrian di belakang kami, ternyata sampai kehujanan saat antri, karena hujan yang sangat lebat tiba-tiba berlaga di panggung istora.

Hanya ucapan alhamdulillah dan rasa kagum yang tak henti-hentinya kami ucapkan, teriakan demi teriakan menjadi gemuruh yang bersahutan dengan kembang api yang ditembakkan ke udara. Sungguh malam yang luar biasa. Segala penampilan, antusias penonton dan dramatisasi acara yang mengalirkan darah secara cepat, memompa andrenalin yang hanya bisa terlampiaskan oleh teriakan teriakan panjang selama durasi acara berlangsung.

Indonesiaku bisa Indonesiaku hebat. Kebanggaan menjadikan malam itu semakin dahsyat.

TELADAN SEORANG TRANSMIGRAN

Dia duduk di bagian tengah barisan terdepan kelompok transmigran. Dia lebih sering tertunduk, mengikuti seluruh rangkaian acara hingga saat mendengarkan namanya disebut sebagai Juara 1 Transmigran Teladan. Dia menoleh kanan kiri, seakan tidak percaya, lalu berdiri ketika diingatkan rekan disamping kanannya untuk maju ke depan bersama pemenang lainnya.

Namanya Solikin, usia 50 tahun. Asli Surakarta Solo. Anak pertamanya yang kuliah semester tiga di Universitas Gajah Mada Yogyakarta butuh biaya menjadi alasan Solikin menjual motor dan dengan bantuan Walikota Solo berjumlah tiga juta rupiah, dia berangkat ke Luwu Timur sebagai transmigran.

\n

“Saya ingin merubah hidup” terangnya. Bercerita Solikin, kehidupannya di Surakarta sebelum menjadi transmigran sangatlah terbatas. Mengais rejeki sebagai sopir angot tembak dengan penghasilan rata-rata Rp. 800.000,- setiap bulan. Namun iti tak mematahkan semangatnya untuk terus berbuat.

Berbekal uang sedikit, Solikin mulai berdagang merica sebagai pedagang perantara di Mahalona. Hingga akhirnya mendapat kepercayaan dari pedagang besar yang memfasilitasi Solikin untuk membeli lada dari petani. Hingga akhirnya mampu memiliki 900 pohon lada yang tersebar di 5 ha lahan miliknya dengan omzet 600 juta pertahun.
“Saya senang tadi kita memberikan penghargaan terhadap transmigran teladan dan pembina teladan, kita bisa lihat bahwa transmigran teladan yang lima tahun lalu masih hidup miskin di Pulau Jawa sekarang bisa hidup di daerah transmigran dengan penghasilan Rp 600 juta per tahun. Tentunya tidak semua transmigran bisa sukses seperti yang teladan-teladan ini, tapi sekarang dengan adanya era teknologi saya minta untuk dibuatkan video kisah, tantangan para transmigran, hingga mereka jadi sukses, supaya jadi inspirasi buat transmigran-transmigran yang lain,” jelas Eko Putro Sandjojo, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi usai menyerahkan piala penghargaan di Balai Makarti Mukti Tama Jakarta (15/08/2018)


Pemilihan teladan di bidang transmigrasi ini bertujuan untuk memberikan pengakuan atas keteladanan para transmigran dan pembina permukiman transmigrasi dalam meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi keluarga dan peran serta dalam pengembangan permukiman transmigrasi.

Transmigran Teladan dan Pembina Permukiman Transmigrasi ini berasal dari 18 Provinsi Daerah Tujuan yang berpredikat teladan tingkat provinsi dari sejumlah 23.490 KK transmigran pada 154 unit permukiman transmigrasi di 105 kabupaten.

RUSA ISTANA BOGOR

Informasinya sampai sudah malam, minta konfirmasi kehadiran Bupati Luwu Timur untuk audiens bersama Presiden Republik Indonesia di Istana Bogor pada Selasa 31 Juli 2018. Jadilah aku kamacca-macca memberanikan diri mengambil resiko, mengingat lebih baik terjadwal meski batal daripada pas mau hadir tapi tidak masuk dalam list.

Alhamdulillah, usai jalan santai di Makassar pada Minggu pagi, dua hari sebelum jadwal pertemuan dengan RI 1, konfirmasi kehadiran Bupati pun disampaikan ajudan. “Bu, pak Bupati bisa ikut audiensi, tolong diagendakan. Kami berangkat besok pagi”, kata ajudan menginformasikan. Lega rasa hati, serasa hilang beban yang menghimpit.

Selasa pagi, semua rombongan berkumpul di Sahid Tower Lt. 21 bertempat di ruang pertemuan Apkasi, Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia. Kegiatan pagi itu diawali pembekalan sebelum rombongan berangkat ke Istana Presiden di Bogor. Tampak pula beberapa group-group diskusi kecil, saling menyapa dan konsolidasi hingga mengucapkan selamat kepada Kepala Daerah yang baru terpilih di pesta demokrasi Juni lalu, diantaranya kepada Sekjen Apkasi Profesor Nurdin Abdullah yang terpilih menjadi Gubernur Sulawesi Selatan.

09.30 wib

Rombongan pun bergeser ke Bogor dengan menggunakan bus pariwisata Blue Bird. Beruntung masih ada available seat di atas bus, sehingga aku bisa bergabung di atas bus menuju istana Bogor. Perjalanan ditempuh sekitar 40 menit saja dan ketika kami tiba, rombongan dipersilahkan melewati mesin sensor pertama saat melewati pagar istana.

Sekali lagi keberuntungan memihak pada kami para pendamping, karena diijinkan mengikuti para KDH masuk ke dalam istana. Hanya saja kami terhenti pada mesin sensor kedua. “Hanya untuk Bupati saja yang dipersilahkan masuk,” ujar salah satu paspampres.

Setelah rombongan berjalan masuk le istana, aku lalu memberanikan diri meminta ijin bisa foto dengan rusa istana.

“Bolehkah foto dengan rusa istana Dan?, Tanyaku pada paspampres yang berjaga.

Entah karena kasian atau emang baik hati, bertiga dengan ajudan Bupati Luwu Timur Rupidin, ajudan Bupati Enrekang Saifullah, kami pun dipersilahkan untuk masuk melewati mesin screening ke arah teras. Tapi yaa. Tetap saja tidak boleh melewati batas teras. Setelah sempat berkelakar dengan Komandan Komplex yang sedang bertugas, akhirnya kami keluar saja, toh juga rombongan Bupati baru saja masuk, yah minimal 1-2 jam kemudian baru selesai.

Bingung mau kemana, aku pun iseng bertanya apakah boleh masuk ke dalam museum istana yang bernama Galeri Kebangsaan. Sedikit celingak selinguk, akhirnya petugas museum membukakan kami pintu dan kamipun diijinkan masuk. Dengan syarat harus ditemani berkeliling, mengingat museum ini tidak berbuka untuk umum kecuali yang sudah teragenda. 😍

Walhasil, Rupidin ajudan Bupati Luwu Timur, Syaifullah ajudan Bupati Enrekang dan tentu saja diriku, senyum kami bertiga pun melebar. Dan bukan hanya kami bertiga, teman-teman ajudan dan pendamping lainnya pun diijinkan masuk dan melihat-lihat museum.

Tidak berhenti disitu, kami bahkan ditawari untuk naik ke lantai dua dan melihat-lihat koleksi Presiden RI. Hanya saja saat memasuki ruang koleksi Presiden, kami tidak diperkenankan memotret.

SUMPAH PRESIDEN

Demi Allah saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala Undang-undang dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada nusa dan bangsa.

Meski tak boleh mengambil gambar di dalam ruang koleksi, namun, diperbolehkan mencatat, dan saya meng-quote-tulisan yang terpajang di dinding koleksi setiap Presiden RI.

Soekarno

Jas merah,

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah

Soekarno, Pidato Jas Merah 17-8-1966

Soeharto

Hanya sebutir pasir yang dapat kami beri untuk memperkokoh pondasi negara Republik Indonesia 17-8-1945

Ditulis tangan oleh Bapak Presiden Soeharto pada tanggal 23-8-93 dalam rangka memperingati 10 tahun gelar BAPAk PEMBANGUNAN berdasarkan TAP MPR No. V/MPR/1983

BJ. Habibie

INDONESIA HARUS MENGANDALKAN PADA SUMBER DAYA MANUSIA YANG BERBUDAYA, MERDEKA, BEBAS, PRODUKTIF DAN BERDAYA SAING TINGGI.

BJ Habibie mengenai Pembangunan Sumber Daya Manusia 1998-1999

Abdurrahman Wahid

TIDAK ADA KEKUASAAN YANG LAYAK DIPERTAHANKAN DEMGAN PERTUMPAHAN DARAH

KH. Abdurrahman Wahid, disampaikan pada Pidato Kepresidenan Tahun 2001

Megawati

BENDERA TELAH DIKIBARKAN

PANTANG SURUT LANGKAHKU WALAU TINGGAL SENDIRIAN

Megawati Soekarnoputri, Jakarta 28-Okt-1993

Susilo Bambang Yudhoyono

Kekuasaan itu menggoda,

Gunakan dengan penuh amanah untuk lepentingan bangsa

Susilo Bambang Yudhoyono

Buku Selalu ada Pilihan, 2014

Setelah berkeliling museum, kami pun beranjak ke kantin. Cuaca sedikit terik hingga segelas es teh manis menjadi pilihan menemani semangkuk soto bandung yang seger.

Sepertinya memang sudah takdir untuk foto bersama rusa istana, kami bertemu lagi dengan Danplex yang sedang santap siang.

“Bagaimana, sudah keliling istana, foto dengan rusa?” Tanya Danplex padaku.

“Belum Dan, lah kami tidak dapat ijin keliling, hanya di teras tadi,” jawabku.

“Hayo, kalau mau keliling.” Jawabnya.

“Serius Dan?” Tanyaku memperjelas. “Temanku ini juga boleh ikut?” Kataku sambil menujuk dua ajudan Bupati yang bersamaku.

“Hayo…,” Kata si Danplex. “Kamu ikut ngebonceng saya,” seraya menunjuk motornya,” Teman-temanmu suruh jalan kembali ke pintu masuk Bupatimu tadi,” ujarnya sambil berdiri.

Serasa bermimpi tapi saya memilih cepat sadar hehehhe… kami pun bergegas mengikuti Danplex. Rupidin dan Saifullah berjalan melewati museum dan kami bertemu di mesin screening.

“Jangan lupa hpnya di bawa, kan mau foto-foto,” kata Danplexnya mengingatkan. Kami pun tertawa, mengingat para Bupati sebelumnya bisa masuk tapi HP semua di simpan di Paspampres, sedangkan kami justru diingatkan untuk membawanya 😂

Tapi yang lebih menggemaakan adalah melihat wajah-wajah Paspampres yang memperhatikan kami satu-persatu, akh paling dikira keluarga Danplex, pikirku menenangkan diri. Biar bagaimanapun, pandangan mereka tetap awas heheheh.

“Kalian jalan kaki menuju gedung yang sana ya, kita ketemu di sana, kata Danplex seraya menunjuk ke Gedung Istana persis dimana para Bupati berkumpul.

Wah, rasa hati pun berbunga-bunga. Segeralah kami berjalan menuju arah yang ditunjukkan. Eh, ternyata masih ada lagi mesin screening ketiga yang harus dilewati. Tapi seperti sebelumnya, kami disapa dengan ramah. Bener-bener tidak disangka.

Kamipun mengabadikan moment-moment di teras istana, yang sebelumnya sudah sering saya lihat dari seberang pagar, persisnya dari arah kebun raya Bogor. Hingga akhirnya saya pun melihat rombongan rusa istana yang liar itu semakin mendekat. Wah, rejeki yang luar biasa. Selama ini bisa melihat mereka hanya dari luar pagar istana.

Rusa-rusa itu hidup liar di dalam istana, jadi agak susah didekati. Begitu melihat manusia, biasanya mereka langsung lari,” Jelas Zainal Arifin, komandan komplex yang menemani kami. Dan memang benar. Begitu saya mendekat, mereka pun menyingkir hehehe. Gpplah, foto dari jauh aja. Yang penting bisa foto dekat dengan rusa-rusa Istana Bogor ini bisa kesampaian 👍

Pokoknya, senang rasanya mendapatkan kesempatan untuk bisa masuk ke dalam istana Bogor ini. Karena biasanya istana ini terbuka untuk umum hanya pada saat-saat tertentu merujuk pada Sesuai dengan Protap Nomor 01/RTK/06/2009, tentang Pelayanan Kunjungan Masyarakat Ke Istana-Istana Presiden (Progran Istana Untuk Rakyat).

Setelah kegiatan Bupati selesai, kami pun kembali ke Jakarta. Meski sedih juga tidak sempat bertemu Pemred Radar Bogor, Nihrawati yang super duper sibuk. Next time ya Ira 🙏

DIMENNA LUWU

Aku adalah penikmat seni, tidak pernah membayangkan menjadi pelaku seni yang tampil sendiri, menjadi pusat perhatian semua orang dan menjadi sorotan lampu panggung. Dan ketika “cobaan” itu menyapaku, panik membuat kakiku tak mampu berdiri dan aku tak mampu berfikir. Serasa ingin lari meninggalkan semuanya, karena ketakutanku adalah menjadi perusak pertunjukan yang telah dipersiapkan dengan begitu matang.

Semua yang harus kubaca menjadi kabur, kucoba menenangkan diri dengan minum air, tersenyum, namun tetap tak mampu menghilangkan rasa panik di kepalaku. Membayangkan aku tampil seorang diri, tanpa Budi Prasetyo, gitaris yang semestinya mengiringiku membaca puisi. Akh… Mendadak semuanya serasa berputar dan aku tak mampu bernafas.

Aku pamit pada mas Didit, stage manager yang terus memberiku semangat dan menenangkanku. Aku coba mingle menyapa beberapa penonton yang aku kenal, sedikit bercanda dan berbincang sebelum akhirnya aku ditarik kembali untuk standbye karena acara segera dimulai. Syukurlah, berbaur membuatku sedikit melupakan ketegangan yang tadi melandaku.

Begitu gong ketiga terdengar, Bismillahirrahmanirrahim, aku mulai mengucap salam, menyapa dan membaca satu demi satu kata yang tertulis di lembaran-lembaran kertas di tanganku, sambil melangkah mengambil posisi di tangga pojok panggung. Kutenangkan diri, memanjatkan doa memohon kelancaran acara.

Tadaaaaa… Pertunjukan pun dimulai. Kupandangi penonton sebagaimana diajarkan kak Sabil, namun sorotan lampu membuatku kembali tertunduk. Sejenak terdiam lalu aku mulai bersenandung, seperti latihan meski tanpa iringan gitar. “Aku harus mampu mengalahkan ketakutanku! Harus tampil tanpa mengecewakan bang Jamal Gentayangan sang Maestro yang percaya akan kemampuanku, harus mampu!” Gumamku menenangkan hati dan menyemangati diriku sendiri.

Dan puisi itupun mengalir…

Tanahku Tana Luwu

Oleh Sulvi Suardi

Ooo Tana Luwu

Cahaya mentari menyinari tanahku

Menjuntai kasih sepanjang pegunungan Verbeek

Kuisi hari memandang hijau suburnya tanahku

Lukisan kekayaan alam Tana Luwu

Kurindukan mamaku menyapih si bungsu

Saat mendendangkan syair-syair mantra La Galigo

Yang dikenal sebagai kekayaan warisan dunia

Oooo tanahku Tana Luwu

Beragam rempah, mineral dan keindahan alamnya

Tanah yang subur

Kuhabiskan masa kecilku di tepi danau Matano

Sesekali bersampan mengail Butini

Sang ikan purba penguasa danau

Melimpah ruah kekayaan tanahku

Ooo tanahku Tana Luwu, Kedatuan Mata Allo

Ta’kilallai Pepasanna Tumatua

Muikita pantannene’ pantanaluk,

Pantanlaen turunanta

Misa’kadadipatuo, pantankada dipomate

Betapa lega rasanya setelah selesai tugas dilaksanakan, serasa beban berat itu telah terangkat dari pundak. Dan, semua hilang seiring pertunjukan Dimenna Luwu yang bercerita tentang kerinduan akan Tana Luwu. Pertunjukan yang memadukan gerak, musik, nyanyian, teks, rupa sehingga banyak imaginasi yang terbentuk.

Kesuksesan pertunjukan ini adalah hasil kolaborasi Jamal Gentayangan dan Iqbal Lagaligo, bersama Husni Utami sebagai penata gerak. Seluruh penampil berjumlah 13 orang terdiri dari 4 penari putra, 5 penari putri dan 4 pemusik dari Sugi Performing Arts kota Palopo bekerjasama dengan Aestetikarira Dance Theater dengan Produser Andi Tenriajeng Sulolipu.

Dimenna Luwu ini menampilkan tari PAJAGA dengan gerakan yang maha lembut dipadukan tarian menapi beras, menumbuk alu dan tarian Perang Rongkong. Bahkan pakar tari Prof Sardono W. Kusumo mengatakan “di Jawa orang menari lambat tapi kalah lambat dari Pajaga, saya tau karena saya adalah penari Keraton Solo.”

Pertunjukan Dimenna Luwu ini merupakan salah satu pertunjukan dalam rangka PostFest 2018 Institut Kesenian Jakarta yang berlangsung selama 17 hari sejak 20 Juli sampai 5 Agustus 2018 dengan tema ‘The Arts for Awaken’.

Dari 150 penonton yang hadir, didominasi oleh warga Luwu dan Kerukunan Keluarga tana Luwu yang telah lama merantau . Dihadiri Kepala dinas Pariwisata pemprov Sulawesi Selatan, Kadis Pariwisata Kota Palopo, warga dan pengurus KKSS baik dari Jabodetabek, Surabaya bahkan Kaltim juga tampak hadir Ketua Kerukunan Keluarga Tana Luwu, Dr.dr. H. Andi Arus Viktor, Sp M (K) dan Sekretarisnya, H. Jaya Lupu. Hadir juga sejumlah pakar dan budayawan tari menyaksikan pertunjukan ini, diantaranya Yulianti Parani, Dedy Luthan, dan Wiwiek Sipala, dosen IKJ yang juga piawai membawakan tarian-tarian Sulawesi Selatan.

Senang rasanya bisa bergabung dan mendukung pertunjukan yang mengangkat budaya Luwu di ibukota Jakarta. Meski harus melewati segala drama dan kepanikan, namun rasa syukur alhamdulillah membawa rasa damai dan kebersamaan. Apatah lagi, di luar teater kecil, disajikan beragam kuliner Tana Luwu sebagai pengobat rasa rindu yang ditawarkan oleh Aroma Palopo Swasembada Tanjung Priuk. 😍 Bagi yang berminat aneka kuliner khas Luwu bisa kontak ibu Harta Andi Djelling Opu Odeng +6281316689171 atau Andi Besse Vigeri Piccunang +6281319404247. Selain kuliner, mereka juga menyediakan jasa Wedding Organizer dan Make up Artist.

Semoga semakin sukses 👍👍👍

Pertunjukan ini terinspirasi dari lagu Dimenna Luwu karya H.B. Sibenteng

Dimenna Luwu (lagu)

Oleh H.B. Sibenteng

Maitta tongeng ndi ri rampe

Ri Luwu lippunna melle’e

Toppo ri wawonna di mengnge

De’pa ma’ dappi pakadanna

Ri Luwu pale ma kionro

Ulette puenna maccakkae

Menguju no naamu marennu

Mudappi nitumu pujie

* * *

Sudah lama disebut-sebut

Di Luwu tanah yang subur

Terletak di atas hamparan tanah

Tidak ada yang sama dengannya

Di Luwu tempat tinggal

Mencari kehidupan yang lebih cerah

Berangkatlah dengan senang

Kau dapat yang kau inginkan

#renunganvie

Senandung Rindu

Kuceritakan cinta, pada malam yang menyapa. Tentang kerinduan yang senantiasa memeluk pilu. Tentang mimpi untuk dapat bersamamu, mengisi hari dengan tawa dan canda.

Kerinduan yang senantiasa membawaku terbang jauh bersama angan dan mimpi. Kerinduan yang memaksaku untuk mengenang kembali masa-masa yang telah silam. Kerinduan yang membuatku terjatuh dalam linangan air mata.

Aku tak tahu harus bagaimana, aku merasa tiada berdaya, menginginkanmu, mengharapkanmu, memimpikanmu.

Namun, aku lebih memilih untuk diam, aku memilih untuk menjauh. Karena aku sadar, bahagiamu bukan bersamaku. Bahagiamu bersama dia dan buah hatimu. Bahagiaku telah hilang bersama teriakan mungilnya kala menyapa dunia.

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk rindu ini. Kerinduan yang kutorehkan lewat untaian kata tanpa makna. Karena makna itu telah berlalu bersamamu.

Sungguh, aku selalu ingin bersamamu. Menghabiskan sisa waktuku denganmu. Tapi aku memilih untuk diam dan berpaling. Meski aku tahu, rasa sakit dan pilu yang senantiasa menghentakkan jantungku.

Rasa ini semakin menyiksaku saat semilir angin berhembus dan membelai rambutku. Dalam diam dan heningnya malam, ingatanku terus kembali padamu. Menambah dalam rasa rindu yang selalu membawa bayanganmu kembali padaku.

Adakah kau mengingatku, kala aku mengingatmu? Adakah kau mengenangku, kala aku mengenangmu? Adakah kau merindukanku, kala aku merindukanmu?

Ampera 180215

Noted – puisi yang teronggok selama ini di sela-sela lembaran kusam catatan kuliahku 😉