Jelajah Malaysia 2017

Sambungan dari… Jelajah Singapore 2017

#Day1

Berbekalkan SGD 18, dini hari kami tiba di Petronas Matchap dengan menggunakan Qistna Express bus dengan rute Singapore menuju Kuala Lumpur. Sedikit was was saat kami melalui imigrasi, teringat kasus Dwi saat  tiba di bandara Singapore. Tapi alhamdulillah, semua baik-baik saja  dan lancar baik ketika kami melalui imigrasi Singapore juga ketika masuk ke imigrasi Malaysia. 

Kalau kita naik bus menyeberang Singapore – Malaysia, maka semua bus akan singgah di Woodlands Checkpoint. Disini, semua penumpang bus harus turun dari bus cukup membawa Passport untuk melakukan check out keluar dari Singapore. Nah, yang penting jangan lupa bus yang dinaiki, karena kita tidak menurunkan barang, jadi kebanyakan penumpang akan berlarian takut ditinggal bus hehhehe. Kecuali yang memang berganti bus.

Berhubung kita memang menaiki bus tujuan Kuala Lumpur, maka, kami tidak perlu menurunkan barang di Woodlands checkpoint. Kami hanya harus membawa pssport dan tiket pesawat kembali ke Indonesia. Setelah melalui proses imigrasi yang cukup singkat, kami kembali ke bus dan meneruskan perjalanan  ke Johor Bahru dengan jarak tempuh sekitat 15 menit. Disinilah kami melakukan check in imigrasi masuk ke Malaysia, sedikit rempong karena harus membawa semua barang bawaan dan melewati antrian yang panjang. 

Alhamdulillah, semua berjalan lancar hingga akhirnya kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Matchap. Usai proses imigrasi memasuki Malaysia, saya justru tidak bisa tidur seperti sebelumnya. Sampai akhirnya kami tiba di terminal besar Larkin. Terjadi perubahan rencana, ketika kami diminta turun dari bus dan diminta untuk berganti bus. Awalnya sedikit mengkhawatirkan, apalagi kami cewek bertiga di dini hari, di terminal besar pulak hahahaha. 

Namun ternyata kekhawatiran kami berlebihan karena kami segera mendapatkan bus pengganti. Bus ini bus tingkat. Namun sedikit kesal, karena kami harus menaikkan bagasi sendiri, tanpa bantuan dari sopir maupun kenek bus hehhehe… tempat bagasinya di lantai 2 bus, jadi lebih tinggi dari tempat bagasi bus biasanya. Mungkin juga karena kebiasaan dibantu kenek bus kalau di Indonesia, jadinya manja deh. Lalu kami masuk ke bus dan menunggu bus berangkat.

Akhirnya kami tiba di Petronas Matchap. Begitu turun, saya baru paham bahwa yang dimaksud petronas itu adalah pertamina kalau di Indonesia hehehe, saya pikir awalnya kami akan disinggahkan di resting area yang di Malaysia disebut RnR (Rehat dan Rawat). Ternyata Petronasnya tidak jauh dari RnR Matchap.

Setelah memberitahu Dato Baha yang menjemput kami, sebuah mobil Harrier hitam berhenti di depan kami. Subhanallah, ternyata kami dijemput langsung oleh Dato Baha panggilan singkat untuk Dato Seri Dr.Tengku Daeng BahaIsmail bin Tengku Daeng H. Ahmad Alhaj ditemani istrinya ibu Ratih Safitri. Kami pun menuju rumah Dato Baha, alhamdulillah diberi pula kami tempat untuk beristirahat. Tidak banyak aktivitas sebelum kami akhirnya terlelap setelah seharian beraktivitas di Singapore sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaysia.

#Day2

Menghirup udara segar di hari yang indah, subhanallah sungguh “Fabi’ayyi ala’i rabbikuma tukazziban : maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Bangun pagi, menyaksikan pemandangan di depan mata sungguh luar biasa. Saya tidak lupa, pertama kali berkunjung ke kediaman Dato Baha adalah ketika saya mengikuti kunjungan Muhibah Datu Luwu XL, H. Andi Maradang Mackulau Opu To Bau medio 2016. Kunjungan waktu itu dilakukan di malam hari, dan hari ini saya bisa menyaksikan bangunan ini kembali di waktu siang, sedikit berbeda namun tidak menghilangkan kesan kemegahannya.

Tidak berapa lama, kami diajak ibu Ratih untuk sarapan pagi, sebelum melanjutkan petualangan hari ini menuju Kuala Lumpur. Namun, sebelum berangkat, tuan rumah mengizinkan kami untuk melihat koleksi pribadinya. Kamipun diajak berkeliling dan mendapatkan penjelasan. Dato Baha merupakan zuriat langsung keturunan dari Opu Daeng Marewah, satu dari bersaudara Lima Opu Daeng.

Dari zuriat Opu Daeng Marewah inilah pertalian darah Bugis menyatukan Dato Baha dengan kerajaan Luwu. Dalam pencarian silsilah keluarga inilah, Dato Baha bahkan berkunjung ke Kedatuan Luwu dan memperat kembali benang merah kekeluargaan yang sempat terurai. Dan kunjungan itu mendapat balasan dari Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu to Bau yang melakukan perjalanan muhibah di semenanjung Melayu pertengahan tahun 2016 lalu. 

Usai melihat-lihat koleksi pribadi Dato Baha, maka kami pun berangkat menuju Kuala Lumpur. Namun sebelum itu, kami diajak untuk singgah dan menikmati nasi briyani Gam yang terkenal di Batupahat Johor lalu melanjutkan perjalanan ke Melaka.

Perjalanan ke Melaka kami tempuh kurang lebih 3 jam melewati perkampungan. Suasananya asri dan tertata rapi. Begitu tiba, kami langsung menuju pusat kota. Subhanallah, bangunan tua bersejarah terpampang di hadapan kami. Benarlah, kota ini merupakan kota warisan dunia oleh UNESCO. 

Meskipun tak lama, kami sempat berfoto di depan museum, di depan Gedung Proklamasi kemerdekaan melaka, benteng pertahanan Portugis Porta de Santiago atau kerap disebut gerbang benteng A famosa. Juga di depan replika Istana Kesultanan Melaka. 

Usai berkeliling, Dato Baha membawa kami berkeliling memasuki pusat kota Melaka, dimana tampak bangunan-bangunan dicat merah. Yang akhirnya kami mendapat penjelasan bahwa daerah dengan cat merah itu adalah bangunan Belanda sebagai ciri khas kota Melaka. Lalu berakhir di depan Gereja Tua Malaka dengan pemandangan Tugu Queen Victoria Fountain atau air mancur Ratu Victoria.

Saat memasuki waktu Dzuhur, kami pun beranjak menuju Mesjid Selat Melaka. Subhanallah, di bawah terik matahari, mesjid ini berada di tepi laut, mengingatkanku akan mesjid terapung di Makassar. 

Perjalananpun berlanjut ke pusat kota baru Putera Jaya. Kali ini kami melewati tol besar. Semoat singgah di RnR Seremban dan menikmati kacang tanah yang 4 kali lipat besarnya dari kacang tanah di Indonesia hehehe. Besar dan montok seperti yang makan hehehehhe. 

Begitu tiba di pusat kota Putera Jaya, mata saya tak berhenti berkedip. Subhanallah, saya mengagumi siapapun yang merencanakan pembangunan kota ini. Kantor Pemerintahan Perdana Menteri Malaysia berada di tengah, dengan bangunan-bangunan pemerintahan yang megah di kanan kiri jalan, belum lagi mesjid Putera dengan perpaduan Persia Melayu dengan warna lembut. 

Lanjut, akhirnya kami tiba di Kuala Lumpur, tepatnya di Istana Sultan. Bangunan megah yang berhiaskan kuning sebagai simbol kekuasaan. 

Meski terik, kami tetap menikmati perjalanan itu. Apalagi tuan rumah sudah menerima kami dengan baik. Mengantarkan kami untuk melihat-lihat, memberikan penjelasan, mengabadikan gaya-gaya kami yang acakadul sampai kami tiba di Kuala Lumpur menjelang Isya.

Malam tidak menjadikan petualangan hari ini berakhir. Setelah check in di City Comfort Hotel, kami hanya diberi waktu sejam untuk bersih-bersih. Setelah itu kami dibawa ke Hokkaido Seafood untuk santap malam. Dato Baha pun mengajak putera puterinya santap malam bersama kami, Bob, Hana dan Arif.

Setelah itu kami ke twin tower sebelum akhirnya kembali ke hotel untuk istirahat. 

#Day3

Bangun pagi, kami sarapan. Hari ini resmi petualangan kami sendiri, karena Dato Baha dan istri ada kegiatan lain setelah seharian kemarin menemani kami keliling-keliling. Sebenarnya sih, tidak banyak tempat yang ingin kami kunjungi selain berburu barang-barang pesanan hehehhe. Secara, hari ini waktu kami juga tidak banyak sebelum bersiap-siap ke bandara Kuala Lumpur. 

Setelah sarapan, kami check out dari hotel, namun tetap menitipkan koper-koper kami di lobby hotel. Setelah itu, kami menuju Jalan India karena Opu Odeng ingin mencari pernak-pernik pesta perkawinan. Secara, beliau adalah seorang wedding organizer jadi kemana-mana memang yang dicari adalah barang-barang unik atribut pernikahan.

Usai berkeliling-keliling dan mendapatkan barang-barang yang diinginkan, kami pun beranjak ke Pasar Sentral Kuala Lumpur. Wah.. pasarnya keren dan bersih, berasa di Thamrin City sih hehehe. Masih ingin lanjut, namun mengingat kami harus ke bandara, maka kami pun segera kembali ke hotel dan menuju bandara Kuala Lumpur.

Tidak panjang proses antrian saat check in maupun imigrasi di bandara Kuala Lumpur. Dengan Batik Air kami kembali ke Jakarta, Indonesia. Alhamdulillah, kami pun tiba dengan selamat. Seru rasanya jalan-jalan bertiga dalam rangka kunjungan budaya ini. Semoga ada kesempatan lain lagi, di petualangan yang baru serta cerita yang lebih seru dan heboh…

#viestory

Advertisements

Jelajah Singapore 2017

Sambungan : Malam Bugis di Singapore

#Day1

Trip Budaya, begitulah aku menyebut perjalananku kali ini. Meskipun sedikit ribet untuk mendapat izin perjalanan hehehhe, bertepatan dengan beberapa kegiatan di kantor. Namun berhubung tiket sudah confirmed dan pekerjaan dapat didelegasikan, jadilah ijinpun diberikan, alhamdulillah. 😀

Kali ini perjalananku bersama Opu Odeng dan Dwi terbilang cukup nyentrik. Dikarenakan kami bertemu kawan-kawan baru yang mewarnai perjalanan kami dengan indahnya. Tentu saja beragam perbedaan menjadi sebuah kewajaran, apalagi saat saling ingat mengingatkan itu menjadi cerita yang menyegarkan. 

Seperti halnya saat kami tiba di Singapore, Tengku Shawal menjemput kami di bandara. Sedikit menunggu karena Dwi harus menghadap ke petugas Imigrasi. Hehehh, dia menyelipkan KTP di buku passportnya, sehingga petugas menemukan perbedaan nama yang tertulis di Kartu Tanda Penduduknya dengan yang tertera di Passport. Sehingga perbedaan huruf itupun menjadi persoalan. Untungnya, nama Tengku Shawal dan nomor teleponnya sedikit mujarab untuk diberikan kepada petugas imigrasi sehingga Dwi dapat bergabung dengan kami untuk melanjutkan perjalanan hehehhe.

Kami meninggalkan bandara dengan lega. Berhubung cuaca sangat cerah, bahkan sedikit panas, kami diajak menikmati santap siang di pusat jajanan lokal Singapore, di Bedok Food Corner. Makanannya beragam, kalau di Indonesia seperti foodcourt gitu deh. Pilihan makanan pun jatuh pada menu ayam Singapore yang dimasak steam dan digoreng. Yummm lezat sekali. 

Lantas kami disuguhkan minuman khas yang namanya Bandung. Sedikit unik kelihatannya, namun begitu diminum, saya jadi teringat minuman khas yang sering saya minum di Makassar. Syrup DHT merah, dicampur susu ditambah air soda heehheh.. warnanya yang pink, membuat tergoda, ditambah dingin es yang mencair. Sambil sedikit belajar bahasa melayu, dingin mereka sebut sejuk. 😀

Usai menikmati santap siang, kami diajak berkeliling kota Singapore yang luasnya hampir sama dengan Kota Jakarta sekitar 710km persegi saja. Tapi penataan kotanya lebih rapi dan apik. Semua sangat teratur, meski nampak pembangunan di kanan kiri jalan. Hingga akhirnya kami mengarah ke Kampung Gelam tempat kami akan menginap di kota metropolitan ini.

Kami memilih tempat ini, karena dekat dengan tempat acara Sirri na Pesse di Malay Heritage Centre Kampunh Glam yang akan kami ikuti malam harinya. Awalnya kami ke ABC Hostels, persis di belakang mesjid Sultan, namun berhubung sedang renovasi, sehingga barang-barang sedikit berantakan jadi kami memutuskan untuk mencari hostel lainnya. Akhirnya, setelah putar-putar, kami pun memilih Five Stone Hotel di Beach Rd.

Setelah rehat sebentar, kami pun bersiap-siap untuk menghadiri acara di Istana Kampung Glam. Acaranya meriah, unik dan menampilkan banyak tarian serta pementasan lainnya. Beberapa tokoh penting juga hadir utamanya para keturunan Lima Opu Daeng yang berdarah Bugis di Singapore, Malaysia dan Indonesia.

Kawan kecilku yang bermukim di Singapore, Titik, pun menyempatkan hadir pada malam itu. Walhasil, alih-alih beristirahat, usai menghadiri malam Sirri na Pesse itu, kami hanya kembali ke hostel untuk berganti pakaian lalu menuju Mustafa Centre, salah satu kompleks perbelanjaan ramah lingkungan di Singapore. Kompleks perbelanjaaan ini buka 24 jam. Jadi kami berkeliling untuk melihat-lihat beberapa cinderamata dan tentu saja mengisi kantong tengah yang kelaparan di tengah malam hihihihi…

Waktu menunjukkan waktu tengah malam saat kami melangkahkan kaki kembali ke hostel. Ingin menikmati udara malam, kami pun berjalan kaki. Sungguh asyik berjalan kaki di Singapore. Bahkan di siang hari pun, orang cenderung berjalan kaki atau naik bus berkeliling kota. Pemerintah Singapore tidak hanya mengakomodir kebutuhan transportasi warganya, tetapi juga para pejalan kaki. Bisa dilihat dari peta-peta yang terpampang di beberapa halte bus/MRT yang memberikan gambaran rute pejalan kaki bahkan kalori yang terbakar untuk rute yang dilalui.

#Day2

Mata ini masih sangat berat, memang masih subuh, dan senyap. Namun kami harus bangun, hari yang indah sudah menanti. Perjalanan masih harus kami lanjutkan. Namun, percakapan kami sedikit terganggu karena harus berbisik. Betapa tidak, kalau kami bertiga berbicara, berasa sekampung yang berkomunikasi hahahhha. Ternyata, suara kami cukup mengganggu tidur satu kawan baru kami di kamar. 

Ana, asal Jerman, telah lebih dulu di kamar ini sebelum kami tiba. Ternyata, kesunyian adalah sahabatnya, sehingga sedikit suara saat bergerak dapat mengganggunya, apalagi korokanku hahahaha. Maafkan kami Ana. Walhasil, kami merapikan barang-barang dengan perlahan, sebisa mungkin tanpa suara, termasuk keluar masuk pintu kamar karena harus ke kamar mandi.

Pagipun menjelang, koper-koper kami telah siap. Ana pun sudah terbangun dan kami bisa leluasa berbicara. Namun tetap kami menjaga bahasa yang kami lontarkan. Biar bagaimanapun, ketegangan sempat menguasai kami, saat Ana merasa terusik oleh suara kami sebelumnya. 

Setelah berpamitan, kami pun meninggalkan kamar, menuju lobby dan menitipkan koper-koper kami. Memang kami belum meninggalkan Singapore, tetapi kami ingin mengunjungi beberapa tempat sehingga memilih check out lebih awal.

Tujuan pertama kami adalah Mesjid Sultan. Mesjid ini letaknya persis di depan Malay Heritage Centre atau Istana Kampong Gelam. Secara, Mesjid Sultan didirikan semasa pemerintahan Sultan Hussain Shah di tahun 1824 dan oleh Pemerintah Singapore dijadikan Monumen Kebangsaan di tahun 1975.

Titik menemui kami di depan Istana Kampong Glam sebelum kami bertolak ke Orchard Rd. Orchard Rd ini sangat terkenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan utama di Asia. Rumah bagi fashion favorit, toko-toko retail dan tentu saja memiliki beragam pilihan lifestyle. 

Begitu tiba di tempat ini, kami langsung diajak Titik menuju ke sebuah gedung. Menggunakan Lift, kami naik ke lantai 6, dan saya batu tahu bahwa ada sebuah produk bra khusus untuk pasien paska operasi kanker payudara. Bra yang dibuat khusus itu harus mengikut pada ukuran pasien, tidak seperti bra pada umumnya.

Setelah transaksi, kami pun meninggalkan gedung itu menuju Marina Bay. Perjalanan hari ini kami pilih menggunakan bus. Pelayanan bus di Singapore pada dasarnya sangat nyaman, kecuali saat melakukan pembayaran tunai, sebaiknya menyiapkan receh koin sesuai harga tiket. Karena sopir bus tidak menyiapkan kembalian jika kita membayar lebih. Sebagian besar transaksi dilakukan secara cashless menggunakan kartu.

Meskipun sudah berulang kali ke Marina bay, tetap saja tempat ini menjadi tujuan saat ke Singapore. Pertama karena rekan perjalanan yang berbeda, kedua karena tempat kunjungan umum di Singapore memang terbatas hehehehe. Begitupun kali ini. Berempat, the three musketeermistress – tellu makkunrai warani namakanja plus Titik, kami berpetualang seharian di sepanjang Marina Bay.

Sampai sore menjelang, kami kembali ke Five Stone Hostels. Setelah memdapatkan karcis bus ke Johor, kami pun bersantai sejenak menikmati suasana sore di Bussorah St. Keunikan lain dari Singapore adalah sebahagian besar penduduknya adalah warga negara asing. Sehingga beragam menu makanan dari berbagai negara terhidang di sepanjang Bussorah St.

Pukul 7.30 etang, kamipun bergeser ke Halte Bus yang akan menghantarkan kami ke Johor. Awalnya kami ingin memcoba sleeper train langsung dari Singapore ke Kuala Lumpur, Malaysia. Namun ternyata tujuan kami berubah sehingga kami diarahkan untuk naik bus. Meskipun bus yang kami tumpangi tujuan Kuala Lumpur, namun kami akan turun di Machap setelah berganti bus di terminal besar Larkin. 

Perjalanan kami di singapore pun berhenti saat stempel imigrasi yang menyatakan kami telah keluar dari Singapore dibubuhkan di passport kami di perbatasan Singapore-Malaysia. Terbayang perjalanan panjang masih menanti sebelum kami kembali ke tanah air.

Bersambung ke… Jelajah Malaysia 2017

#viestory #myday #myfreedomspace #ceritavie

Malam Bugis di Singapore

Akhirnya ada juga sela-sela bisa menuliskan kisah perjalanan lintas negara yang penuh drama dan bahagia. Mengulang perjalanan muhibah lalu, alhamdulillah, kesempatan untuk berkeliling 2 negara tetangga dapat terwujud kembali, yakni Singapore dan Malaysia. Bahkan perjalanan itu meninggalkan kisah yang fantastis, sedramatis kepergian kami bertiga, the three musketeermistress – tellu makkunrai warani namakanja 😎. Opu Odeng, Dwi dan diriku 😀.

Awalnya sedikit sedih mendapat kabar bahwa Datu Luwu XL berhalangan hadir pada malam Sirri Na Pesse, di Malay Heritage Centre, Singapore (13/10). Kabar itu saya terima dari salah satu rekan Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) di Jakarta, Hartawati Andi Djelling atau disapa Opu Odeng. Walhasil, berembuklah kami berdua dan dengan segala keterbatasan akhirnya memutuskan untuk tetap berangkat dan menghadiri kegiatan itu.

Setelah melakukan konfirmasi dengan Raja M Khalid, selaku kontak person pelaksana kegiatan Malay Culture Fest 2017, kami diminta untuk melakukan reservasi, dikarenakan tempat terbatas. Alhamdulillah, reservasi kami berhasil, dan undangan pun dikirimkan secara online. 
Senangnya lagi, ternyata sahabatku Dwi Astuti juga berkesempatan untuk ikut serta dalam perjalanan. Meski dengan syarat hahahhaha. 🤑

Walhasil, dimulailah segala persiapan. Mulai dari mencari tiket murah meriah, lokasi penginapan yang dekat dengan tempat acara, serta transportasi yang akan digunakan selama perjalanan. Tak lupa pula, kami melakukan koordinasi dengan beberapa kawan yang berdomisili di Singapore dan Malaysia. Dan tidak kalah penting dalam persiapan, kami harus menentukan pakaian yang akan digunakan untuk menghadiri acara itu. 

Dalam undangan, disebutkan bahwa pakaian yang dikenakan bisa memilih antara etnis maupun batik. Sehingga pertimbangan kami pun lebih condong pada penggunaan pakaian adat Bugis, sesuai tema acara. Hehehhe, intinya untuk tampil berpakaian adat Bugis di Singapore 😀.

Keberangkatan

Berhubung penerbangan internasional, jadinya ke Bandara Soekarno Hatta jadi lebih awal. Masih ngantuk-ngantuk deh hehehhee. Apalagi badan letih karena sehari sebelum berangkat masih sempat latihan Maumere dengan ibu-ibu Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) DKI.

Kami berangkat menggunakan Tiger Airways menuju Singapore. Begitu tiba, kami sedikit terhambat dengan urusan imigrasi. Si cantik Dwi Astutik ternyata harus berhubungan dengan petugas imigrasi karena perbedaan nama di Passport dan KTP. Jadi, pelajaran juga, lain kali, tidak usah menyertakan KTP pada passport, jadi tidak perlu jadi masalah hehehehe.

Alhamdulillah, kami dijemput seorang kawan, Tengku Shawal Tengku Azis yang datang bersama kawannya Man. Tengku Shawal merupakan keturunan ke-7 dari Sultan Hussein Mohammed Shah Ibni Almarhum Sultan Mahmud Riayat Shah III, Singapore 1819-1835 yang seyogyanya merupakan penghuni Istana Kampong Gelam Singapore sebelum diubah menjadi Malay Heritage Centre oleh Pemerintah Singapore.

Dari bandara, kami diajak makan siang di pusat kuliner Bedok Food Corner. Mengaku pencinta kuliner, maka pilihan siang itu adalah chicken rice, dengan pilihan ayam bakar dan ayam tim yummmm… Ditambah lagi minuman Bandung, soda dicampur syrop merah yang di kota Bandung sendiri ga bakal ketemu. Tidak berlama-lama di tempat makan, kami pun beranjak dan berkeliling Singapore sebelum akhirnya kami menuju hostel tempat kami nginap.

Hostel Five Stone yang kami tempati cukup nyaman. Kami mengambil kamar untuk ber empat. Pilihannya memang kamar berempat, berenam, berdelapan atau berduabelas. Ranjangnya tingkat dan kamar mandi bersama. Hmmm, begitu tiba di kamar, kami punya satu teman sekamar asal Jerman, namanya Ana. 
Tidak banyak waktu tersisa untuk bersantai, kamipun segera bersiap untuk menghadiri acara Sirri Na Pesse. 

Malam Sirri Na Pesse

Sungguh malam yang luar biasa. Tidak menyangka, kami disambut baik, bahkan menjadi artis semalam, karena banyak yang minta foto bersama hehehehe.

Acara dimulai dengan pertunjukan Sang Maestro Gendang Daeng Serang dan kawan-kawan dari Makassar. Mereka tampil memukau penonton dengan tabuhan gendang yang mampu memainkan rasa dan jiwa dengan sentuhan melodinya.

Malam Sirri Na Pesse ini menjadi malam puncak dari pengembaraan penelusuran identitas keturunan Bugis di Singapura. Konon dalam kisah yang dipentaskan malam itu, diawali dengan pertarungan Sultan Hasanuddin dan Arung Palaka, maka kelima anak muda keturunan Luwu Bugis memutuskan untuk mengembara mengelilingi lautan hingga mereka tiba di Riau.

Keturunan Luwu Bugis ini dikenal sebagai sebutan Lima Opu Daeng, adalah Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewa, Opu Daeng Menambung, Opu Daeng Cellak dan Opu Daeng Kamase. Pengembaraan mereka ditemani sang ayah, Opu Daeng Ri Lakke setelah perang antara Sultan Hasanuddin dan Arung Palaka.

Dalam kisahnya, kelima Opu Daeng ini banyak terlibat dalam upaya menggagalkan rencana Raja Kecik untuk merebut tahta kekuasaan Sultan Selangor, Johor di Malaysia juga Riau. Sedangkan kaitan dengan Singapore, adalah dari pernikahan puteri ketiga Opu Daeng Cellak, Tengku Puteh dengan Sri Sultan Abdul Jalil V Mu’azzam menurut data dari Kerabat Kesultanan Johol – Riau Lingga – Singapura – di Istana Kampong Gelam Singapura.

Malam yang cerah, dipadankan dengan teknologi pencahayaan serta iringan alunan melodi musik Bugis yang mendayu bersahutan dengan tabuhan gendang yang menghentak menambah pesona Istana Kampong Gelam di malam itu. Belum lagi ramai pengunjung yang hadir, seolah terhipnotis mengikuti rangkaian kegiatan Sirri Na Pesse. Keingintahuan, ketertarikan serta keterlibatan penonton menjadi benang merah dalam memeriahkan suasana.

Kegiatan yang dikemas dalam Pesta Budaya Melayu 2017 dan Sirri Na Pesse –  Menelusuri Identiti Masyarakat Bugis diSingapura, diadakan pada Jumat, 13 Oktober 2017, jam 8.30 malam di Taman Warisan Melayu Singapura. Hadir dalam acara tersebut, Zuraidah Abdullah, Pengurus Yayasan Warisan Melayu, Chang Hwee Nee, Ketua Pegawai Eksekutif Lembaga Warisan Negara dan Alvin Tan Penolong Ketua Pegawai Eksekutif Lembaga Warisan Negara. 

Acara juga dihadiri dan dibuka secara resmi oleh, Tamu Kehormatan, Baey Yam Keng, Setiausaha Parlimen Kementerian Kebudayaan, Masyarakat dan Pemuda dengan memukul Gendang Ubi sebanyak tiga kali…

Beberapa tarian pun dipentaskan oleh sanggar Ida El Bahra dari Makassar juga lakonan Lima Opu Daeng yang sangat memukau.

Meskipun acaranya terbilang singkat untuk sebuah pentas seni, namun karena keterpaduan, kesinambungan cerita, serta alur yang terplot rapi membuat malam  Sirri na Pesse menjadi buah bibir hingga akhir pertunjukan. Decak kagum senantiasa terlontar dari pengunjung yang hadir. Kiranya, identitas Bugis di tanah Melayu khususnya di Singapore menambah khasanah kekayaan budaya dan pemersatu Nusantara. Aamiin yra.

Bersambung… 

*Jelajah Singapore 2017

#viestory #myday #myfreedomspace #ceritavie