LEPAS 2017 SAMBUT 2018

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, Engkau sampaikan usiaku pada pergantian tahun Masehi lepas 2017 sambut 2018. Banyak hal yang aku telah jalani melewati tahun yang berlalu, dan masih ada harapan-harapan yang aku bingkai untuk tahun mendatang. Semoga Engkau berkenan memberikan ijin, ridha dan kehendakMu ya Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Besar keinginan untuk pulang dan menikmati masa-masa pergantian tahun bersama keluarga dan teman-temanku, namun rencana lain telah aku konfirmasi sebelumnya. Yakni menyongsong pergantian tahun bersama keluarga Tana Luwu di kediaman Ketua Umum Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) di Cibubur, dr. Andi Arus Viktor S.P.M(K).

Tanggal 31 siang, aku tiba di rumah dr. Andi Arvi, begitu kami menyingkat nama shohibul bait. Aku membuat salad buah sebagai buah tangan, sekaligus bekal karena rencananya kami akan berenang di kolam renang shohibul bait. Tidak lama kemudian, kakak sekaligus sahabatku Ismi datang bersama keluarganya, tentu saja dengan membawa bekal nasi kuning bersama telor balado dan sambal goreng hati. 

Kami memang tidak bermaksud merepotkan tuan rumah dengan rencana piknik kami. Namun ternyata, istri dr. Arvi telah menyiapkan beberapa menu yang kemudian menjadi sajian makan malam karena siang itu bekal kami menjadi sajian pembuka. Menu yang disiapkan ibu Theresia antara lain Coto Makassar lengkap dengan burasanya, Ayam Mayo, Ikan Bakar, Kerang juga es campur sebagai pencuci mulut.

Setelah ngobrol sebentar, aku dan anak-anak kak Ismi; Fatimah, Daeng Ahmad dan si ganteng Hasan akhirnya memilih berenang di kolam renang. Suasana sore itu sangat nyaman, apalagi ada tongkonan di rumah dr. Arvi, serasa kami sedang berlibur di Toraja. Tidak lama kemudian, tuan rumah, mertua dan saudara ipar kak Ismi pun ikut menikmati kesegaran air kolam renang itu.

Cukup puas bolak balik tepian kolam renang, kami pun naik dan berdiskusi tentang rencana pertunjukan yang akan dilaksanakan tahun 2018 ini. Wah, kami mendapatkan ide-ide segar yang menjadi olahan kak Sabil, ipar kak Ismi yang menjadi sutradara di pertunjukan nanti. Masih rahasia, sampai launching teasernya nanti hehhehe.

Hari menjelang sore saat Opu Odeng, panggilan ibu Hartawati Andi Djelling, salah satu warga KKTL lainnya tiba. Ceritapun semakin panjang hingga akhirnya tiba waktu makan malam. Beragam topik menjadi bahasan kami tepat di tepi jolam renang. Akhhh suasananya begitu asyik. Apalagi saat ikan-ikan itu mulai dibakar, aneka cemilan menjadi sajian di hadapan kami dan tentu saja, keluarga dr. Arvi mulai berdatangan menambah riuh suasana. 

Tidak banyak yang dilakukan malam itu, selain ngobrol santai di tepi kolam renang, hingga akhirnya petasan dan kembang api mulai bersahutan, tanda detik-detik pergantian tahun dimulai. Akh… tahun pun berganti, doapun terlantun diiringi harapan akan kebahagiaan dan kedamaian di muka bumi ini.

Bismillah “Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaaha ilallah, Allahu-Akbar, Laa haula wala quwata illa billahil aliyil adzim” 

Welcome 2018 😍😍😍

Advertisements

PAPA Leuwiliang Bogor

Niatnya sih ga pengen liburan jauh… pengen beres-beres kamar, merubah interior. Tapi permintaan itu tak bisa aku tolak. Judulnya menjadi sopir bantu mengantar ke Bogor. 

Walhasil, aku coba tidur lebih awal pada Jumat malam, 24/12/2017. Mengingat harus bangun subuh dan bawa mobil. Terbayang macetnya jalanan menuju Bogor. Seperti biasa, saat libur, Jakarta akan lengang berbanding terbalik dengan daerah-daerah sekitar Jakarta seperti Bogor, Bandung dan sebagainya.

Namun, perkiraanku salah. Jalanan cukup lengang. Hanya butuh 1.5jam akhirnya kami tiba di perumahan Cimanggu. Setelah melepas penat sejenak, hahahha aku justru membantu merapikan ruang tamu dan kamar tidur si empunya rumah. Maklum, rumah baru jadi masih awut-awutan.. hahahaha… jauh-jauh rapihin rumah orang, kamar sendiri terabaikan ckckckck. 

Anyway busway, hari masih panjang, akhirnya kami pun memutuskan untuk menjajal sebuah lokasi wisata baru di Bogor, tepatnya di kampung Pabangbon desa Leuwiliang. Nama lokasi wisatanya Panorama Pabangbon yang disingkat PAPA.

Wah, luar biasa perjalanan menuju obyek wisata ini. Jalan yang kecil dengan tanjakan curam, bahkan ada yang sampai 70Β° kemiringan. Setelah melewati perjalanan yang berliku dan penuh tantangan, kami tiba disebuah lahan kosong yang ternyata dijadikan tempat parkir. 

Awalnya kami bermaksud untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Syukurnya tidak kami lakukan. Setelah kami memutuskan untuk menyewa ojek ke lokasi yang dituju, subhanallah, ternyata tujuan kami masih butuh 15 menit berkendara motor melalui jalan yang berliku dan lebih terjal dari sebelumnya.

Deg-degan, perasaan was was serta takut jatuh menjadi teman sepanjang jalan. Apalagi kanan kiri yang dilalui adalah jurang yang sangat dalam. Subhanalah… akhirnya, begitu lega saat kami tiba di tempat tujuan. Eh, koq mirip Taman Wisata Malino ya? Hahahha.. cuma kurang kuda deh☺.

Menghitung semua rombongan cukup, kami pun memasuki lokasi wisata PAPA dengan membayar retribusi Rp. 10.000,- /orang. Berlaku sama untuk anak-anak maupun dewasa.

Wah… serunya melihat semua orang yang datang. Suasana piknik pun menjadi pemandangan, melengkapi hijau pinus dan pemandangan kota Bogor yang nun jauh di mata. 

Akhirnya kami memutuskan untuk mulai hunting foto-foto keren dengan uji nyali ketinggian. Pilihan pertama pun jatuh pada flying fox bergantung di atas ketinggian dengan bersandar pada ikatan tali di badan. Jiahhhhh meskipun bukan yang pertama, tetap aja deg-degannya berasa hahaha…

Setelah itu, pilihan jatuh pada obor. Eh, ternyata pengikutnya banyak hahaha, semua pada mau foto. Jadinya berkumpul beramai-ramailah kita foto bareng. 

Nah, di obyek wisata PAPA ini, selain di pintu masuk, retribusi juga diberlakukan untuk setiap spot foto. Retribusinya Bervariasi 

Setelah itu, pilihan jatuh untuk foto pada perahu di atas pinus. Terbayang mimpi yang dulu pernah saya pikirkan, ketika pertama kali mengetahui kisah Sawerigading. Kala itu, Sawerigading harus pergi mencari We Cudai, lalu oleh saudara kembarnya, We Tenriabeng, maka ditebanglah pohon walenrenge untuk dijadikan perahu Sawerigading. 

Saat kapal sudah siap, tiang pancang utama kapal ternyata tumbang. lalu tiang itu jatuh tepat di atas daratan, sehingga membelah ujung daratan terpisah dan membentuk pulau kecil yang diberi nama Bulupoloe.

Ketika mengetahui cerita itu, saya pun membayangkan suatu waktu nanti, di pulau bulupoloe itu akan didirikan sebuah museum atau obyek wisata sejarah Perahu Sawerigading dilengkapi sarana penginapan dan restoran laut, tentu saja dilengkapi pelabuhan kecil dan sarana permainan air untuk pelayanan tamu yang menginap.

Akh.. kali ini cukup berpose saja di ujung perahu yang tertambat di atas dahan pinus. Sungguh luar biasa, menantang rasa takut akan ketinggian, dengan berjalan di jembatan kurang lebih 15-20 meter dari tanah. Takut akan goyangan jembatan di antara pepohonan pinus, takut akan goyangan jembatan karena jumlah pengunjung  cukup padat, takut akan jatuh karena tidak berpegang dengan erat, takut dan takut dan takut akan ketinggian.

Tapi ternyata tantangan itu menjadi addiction – kecanduan. Karena bukannya berhenti, bulan sabit dan rumah hobbit pun menjadi target berikutnya. Kalau di rumah hobbit sih hampir sama dengan perahu, tapi bulan sabit, wow… mesti menaiki tangga dulu lalu naik ke atas bulan sabit pakai berdiri pula hahahha…

Masih ingin melanjutkan petualangan -petualangan seru lainnya, tapi ingat bahwa masih ingin lanjut ke tajur halang, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti. lagipula waktu telah menunjukkan pukul 15.00 dan kami belum mengisi kampung tengah. Tapi yang paling berpengaruh adalah panjang antrian dari masing-masing target foto yang ga bisa dipendekkan hehehehe.

Belum puas rasanya mengeksplorasi obyek wisata Panorama Pabangbon, Bogor ini. Mesti datang kembali tapi lebih pagi bahkan kalau perlu menginap untuk merasakan nikmat yang alam sediakan di bukit pinus ini. ☺☺☺

Jelajah Malaysia 2017

Sambungan dari… Jelajah Singapore 2017

#Day1

Berbekalkan SGD 18, dini hari kami tiba di Petronas Matchap dengan menggunakan Qistna Express bus dengan rute Singapore menuju Kuala Lumpur. Sedikit was was saat kami melalui imigrasi, teringat kasus Dwi saat  tiba di bandara Singapore. Tapi alhamdulillah, semua baik-baik saja  dan lancar baik ketika kami melalui imigrasi Singapore juga ketika masuk ke imigrasi Malaysia. 

Kalau kita naik bus menyeberang Singapore – Malaysia, maka semua bus akan singgah di Woodlands Checkpoint. Disini, semua penumpang bus harus turun dari bus cukup membawa Passport untuk melakukan check out keluar dari Singapore. Nah, yang penting jangan lupa bus yang dinaiki, karena kita tidak menurunkan barang, jadi kebanyakan penumpang akan berlarian takut ditinggal bus hehhehe. Kecuali yang memang berganti bus.

Berhubung kita memang menaiki bus tujuan Kuala Lumpur, maka, kami tidak perlu menurunkan barang di Woodlands checkpoint. Kami hanya harus membawa pssport dan tiket pesawat kembali ke Indonesia. Setelah melalui proses imigrasi yang cukup singkat, kami kembali ke bus dan meneruskan perjalanan  ke Johor Bahru dengan jarak tempuh sekitat 15 menit. Disinilah kami melakukan check in imigrasi masuk ke Malaysia, sedikit rempong karena harus membawa semua barang bawaan dan melewati antrian yang panjang. 

Alhamdulillah, semua berjalan lancar hingga akhirnya kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Matchap. Usai proses imigrasi memasuki Malaysia, saya justru tidak bisa tidur seperti sebelumnya. Sampai akhirnya kami tiba di terminal besar Larkin. Terjadi perubahan rencana, ketika kami diminta turun dari bus dan diminta untuk berganti bus. Awalnya sedikit mengkhawatirkan, apalagi kami cewek bertiga di dini hari, di terminal besar pulak hahahaha. 

Namun ternyata kekhawatiran kami berlebihan karena kami segera mendapatkan bus pengganti. Bus ini bus tingkat. Namun sedikit kesal, karena kami harus menaikkan bagasi sendiri, tanpa bantuan dari sopir maupun kenek bus hehhehe… tempat bagasinya di lantai 2 bus, jadi lebih tinggi dari tempat bagasi bus biasanya. Mungkin juga karena kebiasaan dibantu kenek bus kalau di Indonesia, jadinya manja deh. Lalu kami masuk ke bus dan menunggu bus berangkat.

Akhirnya kami tiba di Petronas Matchap. Begitu turun, saya baru paham bahwa yang dimaksud petronas itu adalah pertamina kalau di Indonesia hehehe, saya pikir awalnya kami akan disinggahkan di resting area yang di Malaysia disebut RnR (Rehat dan Rawat). Ternyata Petronasnya tidak jauh dari RnR Matchap.

Setelah memberitahu Dato Baha yang menjemput kami, sebuah mobil Harrier hitam berhenti di depan kami. Subhanallah, ternyata kami dijemput langsung oleh Dato Baha panggilan singkat untuk Dato Seri Dr.Tengku Daeng BahaIsmail bin Tengku Daeng H. Ahmad Alhaj ditemani istrinya ibu Ratih Safitri. Kami pun menuju rumah Dato Baha, alhamdulillah diberi pula kami tempat untuk beristirahat. Tidak banyak aktivitas sebelum kami akhirnya terlelap setelah seharian beraktivitas di Singapore sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaysia.

#Day2

Menghirup udara segar di hari yang indah, subhanallah sungguh “Fabi’ayyi ala’i rabbikuma tukazziban : maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Bangun pagi, menyaksikan pemandangan di depan mata sungguh luar biasa. Saya tidak lupa, pertama kali berkunjung ke kediaman Dato Baha adalah ketika saya mengikuti kunjungan Muhibah Datu Luwu XL, H. Andi Maradang Mackulau Opu To Bau medio 2016. Kunjungan waktu itu dilakukan di malam hari, dan hari ini saya bisa menyaksikan bangunan ini kembali di waktu siang, sedikit berbeda namun tidak menghilangkan kesan kemegahannya.

Tidak berapa lama, kami diajak ibu Ratih untuk sarapan pagi, sebelum melanjutkan petualangan hari ini menuju Kuala Lumpur. Namun, sebelum berangkat, tuan rumah mengizinkan kami untuk melihat koleksi pribadinya. Kamipun diajak berkeliling dan mendapatkan penjelasan. Dato Baha merupakan zuriat langsung keturunan dari Opu Daeng Marewah, satu dari bersaudara Lima Opu Daeng.

Dari zuriat Opu Daeng Marewah inilah pertalian darah Bugis menyatukan Dato Baha dengan kerajaan Luwu. Dalam pencarian silsilah keluarga inilah, Dato Baha bahkan berkunjung ke Kedatuan Luwu dan memperat kembali benang merah kekeluargaan yang sempat terurai. Dan kunjungan itu mendapat balasan dari Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu to Bau yang melakukan perjalanan muhibah di semenanjung Melayu pertengahan tahun 2016 lalu. 

Usai melihat-lihat koleksi pribadi Dato Baha, maka kami pun berangkat menuju Kuala Lumpur. Namun sebelum itu, kami diajak untuk singgah dan menikmati nasi briyani Gam yang terkenal di Batupahat Johor lalu melanjutkan perjalanan ke Melaka.

Perjalanan ke Melaka kami tempuh kurang lebih 3 jam melewati perkampungan. Suasananya asri dan tertata rapi. Begitu tiba, kami langsung menuju pusat kota. Subhanallah, bangunan tua bersejarah terpampang di hadapan kami. Benarlah, kota ini merupakan kota warisan dunia oleh UNESCO. 

Meskipun tak lama, kami sempat berfoto di depan museum, di depan Gedung Proklamasi kemerdekaan melaka, benteng pertahanan Portugis Porta de Santiago atau kerap disebut gerbang benteng A famosa. Juga di depan replika Istana Kesultanan Melaka. 

Usai berkeliling, Dato Baha membawa kami berkeliling memasuki pusat kota Melaka, dimana tampak bangunan-bangunan dicat merah. Yang akhirnya kami mendapat penjelasan bahwa daerah dengan cat merah itu adalah bangunan Belanda sebagai ciri khas kota Melaka. Lalu berakhir di depan Gereja Tua Malaka dengan pemandangan Tugu Queen Victoria Fountain atau air mancur Ratu Victoria.

Saat memasuki waktu Dzuhur, kami pun beranjak menuju Mesjid Selat Melaka. Subhanallah, di bawah terik matahari, mesjid ini berada di tepi laut, mengingatkanku akan mesjid terapung di Makassar. 

Perjalananpun berlanjut ke pusat kota baru Putera Jaya. Kali ini kami melewati tol besar. Semoat singgah di RnR Seremban dan menikmati kacang tanah yang 4 kali lipat besarnya dari kacang tanah di Indonesia hehehe. Besar dan montok seperti yang makan hehehehhe. 

Begitu tiba di pusat kota Putera Jaya, mata saya tak berhenti berkedip. Subhanallah, saya mengagumi siapapun yang merencanakan pembangunan kota ini. Kantor Pemerintahan Perdana Menteri Malaysia berada di tengah, dengan bangunan-bangunan pemerintahan yang megah di kanan kiri jalan, belum lagi mesjid Putera dengan perpaduan Persia Melayu dengan warna lembut. 

Lanjut, akhirnya kami tiba di Kuala Lumpur, tepatnya di Istana Sultan. Bangunan megah yang berhiaskan kuning sebagai simbol kekuasaan. 

Meski terik, kami tetap menikmati perjalanan itu. Apalagi tuan rumah sudah menerima kami dengan baik. Mengantarkan kami untuk melihat-lihat, memberikan penjelasan, mengabadikan gaya-gaya kami yang acakadul sampai kami tiba di Kuala Lumpur menjelang Isya.

Malam tidak menjadikan petualangan hari ini berakhir. Setelah check in di City Comfort Hotel, kami hanya diberi waktu sejam untuk bersih-bersih. Setelah itu kami dibawa ke Hokkaido Seafood untuk santap malam. Dato Baha pun mengajak putera puterinya santap malam bersama kami, Bob, Hana dan Arif.

Setelah itu kami ke twin tower sebelum akhirnya kembali ke hotel untuk istirahat. 

#Day3

Bangun pagi, kami sarapan. Hari ini resmi petualangan kami sendiri, karena Dato Baha dan istri ada kegiatan lain setelah seharian kemarin menemani kami keliling-keliling. Sebenarnya sih, tidak banyak tempat yang ingin kami kunjungi selain berburu barang-barang pesanan hehehhe. Secara, hari ini waktu kami juga tidak banyak sebelum bersiap-siap ke bandara Kuala Lumpur. 

Setelah sarapan, kami check out dari hotel, namun tetap menitipkan koper-koper kami di lobby hotel. Setelah itu, kami menuju Jalan India karena Opu Odeng ingin mencari pernak-pernik pesta perkawinan. Secara, beliau adalah seorang wedding organizer jadi kemana-mana memang yang dicari adalah barang-barang unik atribut pernikahan.

Usai berkeliling-keliling dan mendapatkan barang-barang yang diinginkan, kami pun beranjak ke Pasar Sentral Kuala Lumpur. Wah.. pasarnya keren dan bersih, berasa di Thamrin City sih hehehe. Masih ingin lanjut, namun mengingat kami harus ke bandara, maka kami pun segera kembali ke hotel dan menuju bandara Kuala Lumpur.

Tidak panjang proses antrian saat check in maupun imigrasi di bandara Kuala Lumpur. Dengan Batik Air kami kembali ke Jakarta, Indonesia. Alhamdulillah, kami pun tiba dengan selamat. Seru rasanya jalan-jalan bertiga dalam rangka kunjungan budaya ini. Semoga ada kesempatan lain lagi, di petualangan yang baru serta cerita yang lebih seru dan heboh…

#viestory

Jelajah Singapore 2017

Sambungan : Malam Bugis di Singapore

#Day1

Trip Budaya, begitulah aku menyebut perjalananku kali ini. Meskipun sedikit ribet untuk mendapat izin perjalanan hehehhe, bertepatan dengan beberapa kegiatan di kantor. Namun berhubung tiket sudah confirmed dan pekerjaan dapat didelegasikan, jadilah ijinpun diberikan, alhamdulillah. πŸ˜€

Kali ini perjalananku bersama Opu Odeng dan Dwi terbilang cukup nyentrik. Dikarenakan kami bertemu kawan-kawan baru yang mewarnai perjalanan kami dengan indahnya. Tentu saja beragam perbedaan menjadi sebuah kewajaran, apalagi saat saling ingat mengingatkan itu menjadi cerita yang menyegarkan. 

Seperti halnya saat kami tiba di Singapore, Tengku Shawal menjemput kami di bandara. Sedikit menunggu karena Dwi harus menghadap ke petugas Imigrasi. Hehehh, dia menyelipkan KTP di buku passportnya, sehingga petugas menemukan perbedaan nama yang tertulis di Kartu Tanda Penduduknya dengan yang tertera di Passport. Sehingga perbedaan huruf itupun menjadi persoalan. Untungnya, nama Tengku Shawal dan nomor teleponnya sedikit mujarab untuk diberikan kepada petugas imigrasi sehingga Dwi dapat bergabung dengan kami untuk melanjutkan perjalanan hehehhe.

Kami meninggalkan bandara dengan lega. Berhubung cuaca sangat cerah, bahkan sedikit panas, kami diajak menikmati santap siang di pusat jajanan lokal Singapore, di Bedok Food Corner. Makanannya beragam, kalau di Indonesia seperti foodcourt gitu deh. Pilihan makanan pun jatuh pada menu ayam Singapore yang dimasak steam dan digoreng. Yummm lezat sekali. 

Lantas kami disuguhkan minuman khas yang namanya Bandung. Sedikit unik kelihatannya, namun begitu diminum, saya jadi teringat minuman khas yang sering saya minum di Makassar. Syrup DHT merah, dicampur susu ditambah air soda heehheh.. warnanya yang pink, membuat tergoda, ditambah dingin es yang mencair. Sambil sedikit belajar bahasa melayu, dingin mereka sebut sejuk. πŸ˜€

Usai menikmati santap siang, kami diajak berkeliling kota Singapore yang luasnya hampir sama dengan Kota Jakarta sekitar 710km persegi saja. Tapi penataan kotanya lebih rapi dan apik. Semua sangat teratur, meski nampak pembangunan di kanan kiri jalan. Hingga akhirnya kami mengarah ke Kampung Gelam tempat kami akan menginap di kota metropolitan ini.

Kami memilih tempat ini, karena dekat dengan tempat acara Sirri na Pesse di Malay Heritage Centre Kampunh Glam yang akan kami ikuti malam harinya. Awalnya kami ke ABC Hostels, persis di belakang mesjid Sultan, namun berhubung sedang renovasi, sehingga barang-barang sedikit berantakan jadi kami memutuskan untuk mencari hostel lainnya. Akhirnya, setelah putar-putar, kami pun memilih Five Stone Hotel di Beach Rd.

Setelah rehat sebentar, kami pun bersiap-siap untuk menghadiri acara di Istana Kampung Glam. Acaranya meriah, unik dan menampilkan banyak tarian serta pementasan lainnya. Beberapa tokoh penting juga hadir utamanya para keturunan Lima Opu Daeng yang berdarah Bugis di Singapore, Malaysia dan Indonesia.

Kawan kecilku yang bermukim di Singapore, Titik, pun menyempatkan hadir pada malam itu. Walhasil, alih-alih beristirahat, usai menghadiri malam Sirri na Pesse itu, kami hanya kembali ke hostel untuk berganti pakaian lalu menuju Mustafa Centre, salah satu kompleks perbelanjaan ramah lingkungan di Singapore. Kompleks perbelanjaaan ini buka 24 jam. Jadi kami berkeliling untuk melihat-lihat beberapa cinderamata dan tentu saja mengisi kantong tengah yang kelaparan di tengah malam hihihihi…

Waktu menunjukkan waktu tengah malam saat kami melangkahkan kaki kembali ke hostel. Ingin menikmati udara malam, kami pun berjalan kaki. Sungguh asyik berjalan kaki di Singapore. Bahkan di siang hari pun, orang cenderung berjalan kaki atau naik bus berkeliling kota. Pemerintah Singapore tidak hanya mengakomodir kebutuhan transportasi warganya, tetapi juga para pejalan kaki. Bisa dilihat dari peta-peta yang terpampang di beberapa halte bus/MRT yang memberikan gambaran rute pejalan kaki bahkan kalori yang terbakar untuk rute yang dilalui.

#Day2

Mata ini masih sangat berat, memang masih subuh, dan senyap. Namun kami harus bangun, hari yang indah sudah menanti. Perjalanan masih harus kami lanjutkan. Namun, percakapan kami sedikit terganggu karena harus berbisik. Betapa tidak, kalau kami bertiga berbicara, berasa sekampung yang berkomunikasi hahahhha. Ternyata, suara kami cukup mengganggu tidur satu kawan baru kami di kamar. 

Ana, asal Jerman, telah lebih dulu di kamar ini sebelum kami tiba. Ternyata, kesunyian adalah sahabatnya, sehingga sedikit suara saat bergerak dapat mengganggunya, apalagi korokanku hahahaha. Maafkan kami Ana. Walhasil, kami merapikan barang-barang dengan perlahan, sebisa mungkin tanpa suara, termasuk keluar masuk pintu kamar karena harus ke kamar mandi.

Pagipun menjelang, koper-koper kami telah siap. Ana pun sudah terbangun dan kami bisa leluasa berbicara. Namun tetap kami menjaga bahasa yang kami lontarkan. Biar bagaimanapun, ketegangan sempat menguasai kami, saat Ana merasa terusik oleh suara kami sebelumnya. 

Setelah berpamitan, kami pun meninggalkan kamar, menuju lobby dan menitipkan koper-koper kami. Memang kami belum meninggalkan Singapore, tetapi kami ingin mengunjungi beberapa tempat sehingga memilih check out lebih awal.

Tujuan pertama kami adalah Mesjid Sultan. Mesjid ini letaknya persis di depan Malay Heritage Centre atau Istana Kampong Gelam. Secara, Mesjid Sultan didirikan semasa pemerintahan Sultan Hussain Shah di tahun 1824 dan oleh Pemerintah Singapore dijadikan Monumen Kebangsaan di tahun 1975.

Titik menemui kami di depan Istana Kampong Glam sebelum kami bertolak ke Orchard Rd. Orchard Rd ini sangat terkenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan utama di Asia. Rumah bagi fashion favorit, toko-toko retail dan tentu saja memiliki beragam pilihan lifestyle. 

Begitu tiba di tempat ini, kami langsung diajak Titik menuju ke sebuah gedung. Menggunakan Lift, kami naik ke lantai 6, dan saya batu tahu bahwa ada sebuah produk bra khusus untuk pasien paska operasi kanker payudara. Bra yang dibuat khusus itu harus mengikut pada ukuran pasien, tidak seperti bra pada umumnya.

Setelah transaksi, kami pun meninggalkan gedung itu menuju Marina Bay. Perjalanan hari ini kami pilih menggunakan bus. Pelayanan bus di Singapore pada dasarnya sangat nyaman, kecuali saat melakukan pembayaran tunai, sebaiknya menyiapkan receh koin sesuai harga tiket. Karena sopir bus tidak menyiapkan kembalian jika kita membayar lebih. Sebagian besar transaksi dilakukan secara cashless menggunakan kartu.

Meskipun sudah berulang kali ke Marina bay, tetap saja tempat ini menjadi tujuan saat ke Singapore. Pertama karena rekan perjalanan yang berbeda, kedua karena tempat kunjungan umum di Singapore memang terbatas hehehehe. Begitupun kali ini. Berempat, the three musketeermistress – tellu makkunrai warani namakanja plus Titik, kami berpetualang seharian di sepanjang Marina Bay.

Sampai sore menjelang, kami kembali ke Five Stone Hostels. Setelah memdapatkan karcis bus ke Johor, kami pun bersantai sejenak menikmati suasana sore di Bussorah St. Keunikan lain dari Singapore adalah sebahagian besar penduduknya adalah warga negara asing. Sehingga beragam menu makanan dari berbagai negara terhidang di sepanjang Bussorah St.

Pukul 7.30 etang, kamipun bergeser ke Halte Bus yang akan menghantarkan kami ke Johor. Awalnya kami ingin memcoba sleeper train langsung dari Singapore ke Kuala Lumpur, Malaysia. Namun ternyata tujuan kami berubah sehingga kami diarahkan untuk naik bus. Meskipun bus yang kami tumpangi tujuan Kuala Lumpur, namun kami akan turun di Machap setelah berganti bus di terminal besar Larkin. 

Perjalanan kami di singapore pun berhenti saat stempel imigrasi yang menyatakan kami telah keluar dari Singapore dibubuhkan di passport kami di perbatasan Singapore-Malaysia. Terbayang perjalanan panjang masih menanti sebelum kami kembali ke tanah air.

Bersambung ke… Jelajah Malaysia 2017

#viestory #myday #myfreedomspace #ceritavie

Malam Bugis di Singapore

Akhirnya ada juga sela-sela bisa menuliskan kisah perjalanan lintas negara yang penuh drama dan bahagia. Mengulang perjalanan muhibah lalu, alhamdulillah, kesempatan untuk berkeliling 2 negara tetangga dapat terwujud kembali, yakni Singapore dan Malaysia. Bahkan perjalanan itu meninggalkan kisah yang fantastis, sedramatis kepergian kami bertiga, the three musketeermistress – tellu makkunrai warani namakanja πŸ˜Ž. Opu Odeng, Dwi dan diriku πŸ˜€.

Awalnya sedikit sedih mendapat kabar bahwa Datu Luwu XL berhalangan hadir pada malam Sirri Na Pesse, di Malay Heritage Centre, Singapore (13/10). Kabar itu saya terima dari salah satu rekan Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) di Jakarta, Hartawati Andi Djelling atau disapa Opu Odeng. Walhasil, berembuklah kami berdua dan dengan segala keterbatasan akhirnya memutuskan untuk tetap berangkat dan menghadiri kegiatan itu.

Setelah melakukan konfirmasi dengan Raja M Khalid, selaku kontak person pelaksana kegiatan Malay Culture Fest 2017, kami diminta untuk melakukan reservasi, dikarenakan tempat terbatas. Alhamdulillah, reservasi kami berhasil, dan undangan pun dikirimkan secara online. 
Senangnya lagi, ternyata sahabatku Dwi Astuti juga berkesempatan untuk ikut serta dalam perjalanan. Meski dengan syarat hahahhaha. πŸ€‘

Walhasil, dimulailah segala persiapan. Mulai dari mencari tiket murah meriah, lokasi penginapan yang dekat dengan tempat acara, serta transportasi yang akan digunakan selama perjalanan. Tak lupa pula, kami melakukan koordinasi dengan beberapa kawan yang berdomisili di Singapore dan Malaysia. Dan tidak kalah penting dalam persiapan, kami harus menentukan pakaian yang akan digunakan untuk menghadiri acara itu. 

Dalam undangan, disebutkan bahwa pakaian yang dikenakan bisa memilih antara etnis maupun batik. Sehingga pertimbangan kami pun lebih condong pada penggunaan pakaian adat Bugis, sesuai tema acara. Hehehhe, intinya untuk tampil berpakaian adat Bugis di Singapore πŸ˜€.

Keberangkatan

Berhubung penerbangan internasional, jadinya ke Bandara Soekarno Hatta jadi lebih awal. Masih ngantuk-ngantuk deh hehehhee. Apalagi badan letih karena sehari sebelum berangkat masih sempat latihan Maumere dengan ibu-ibu Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) DKI.

Kami berangkat menggunakan Tiger Airways menuju Singapore. Begitu tiba, kami sedikit terhambat dengan urusan imigrasi. Si cantik Dwi Astutik ternyata harus berhubungan dengan petugas imigrasi karena perbedaan nama di Passport dan KTP. Jadi, pelajaran juga, lain kali, tidak usah menyertakan KTP pada passport, jadi tidak perlu jadi masalah hehehehe.

Alhamdulillah, kami dijemput seorang kawan, Tengku Shawal Tengku Azis yang datang bersama kawannya Man. Tengku Shawal merupakan keturunan ke-7 dari Sultan Hussein Mohammed Shah Ibni Almarhum Sultan Mahmud Riayat Shah III, Singapore 1819-1835 yang seyogyanya merupakan penghuni Istana Kampong Gelam Singapore sebelum diubah menjadi Malay Heritage Centre oleh Pemerintah Singapore.

Dari bandara, kami diajak makan siang di pusat kuliner Bedok Food Corner. Mengaku pencinta kuliner, maka pilihan siang itu adalah chicken rice, dengan pilihan ayam bakar dan ayam tim yummmm… Ditambah lagi minuman Bandung, soda dicampur syrop merah yang di kota Bandung sendiri ga bakal ketemu. Tidak berlama-lama di tempat makan, kami pun beranjak dan berkeliling Singapore sebelum akhirnya kami menuju hostel tempat kami nginap.

Hostel Five Stone yang kami tempati cukup nyaman. Kami mengambil kamar untuk ber empat. Pilihannya memang kamar berempat, berenam, berdelapan atau berduabelas. Ranjangnya tingkat dan kamar mandi bersama. Hmmm, begitu tiba di kamar, kami punya satu teman sekamar asal Jerman, namanya Ana. 
Tidak banyak waktu tersisa untuk bersantai, kamipun segera bersiap untuk menghadiri acara Sirri Na Pesse. 

Malam Sirri Na Pesse

Sungguh malam yang luar biasa. Tidak menyangka, kami disambut baik, bahkan menjadi artis semalam, karena banyak yang minta foto bersama hehehehe.

Acara dimulai dengan pertunjukan Sang Maestro Gendang Daeng Serang dan kawan-kawan dari Makassar. Mereka tampil memukau penonton dengan tabuhan gendang yang mampu memainkan rasa dan jiwa dengan sentuhan melodinya.

Malam Sirri Na Pesse ini menjadi malam puncak dari pengembaraan penelusuran identitas keturunan Bugis di Singapura. Konon dalam kisah yang dipentaskan malam itu, diawali dengan pertarungan Sultan Hasanuddin dan Arung Palaka, maka kelima anak muda keturunan Luwu Bugis memutuskan untuk mengembara mengelilingi lautan hingga mereka tiba di Riau.

Keturunan Luwu Bugis ini dikenal sebagai sebutan Lima Opu Daeng, adalah Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewa, Opu Daeng Menambung, Opu Daeng Cellak dan Opu Daeng Kamase. Pengembaraan mereka ditemani sang ayah, Opu Daeng Ri Lakke setelah perang antara Sultan Hasanuddin dan Arung Palaka.

Dalam kisahnya, kelima Opu Daeng ini banyak terlibat dalam upaya menggagalkan rencana Raja Kecik untuk merebut tahta kekuasaan Sultan Selangor, Johor di Malaysia juga Riau. Sedangkan kaitan dengan Singapore, adalah dari pernikahan puteri ketiga Opu Daeng Cellak, Tengku Puteh dengan Sri Sultan Abdul Jalil V Mu’azzam menurut data dari Kerabat Kesultanan Johol – Riau Lingga – Singapura – di Istana Kampong Gelam Singapura.

Malam yang cerah, dipadankan dengan teknologi pencahayaan serta iringan alunan melodi musik Bugis yang mendayu bersahutan dengan tabuhan gendang yang menghentak menambah pesona Istana Kampong Gelam di malam itu. Belum lagi ramai pengunjung yang hadir, seolah terhipnotis mengikuti rangkaian kegiatan Sirri Na Pesse. Keingintahuan, ketertarikan serta keterlibatan penonton menjadi benang merah dalam memeriahkan suasana.

Kegiatan yang dikemas dalam Pesta Budaya Melayu 2017 dan Sirri Na Pesse –  Menelusuri Identiti Masyarakat Bugis diSingapura, diadakan pada Jumat, 13 Oktober 2017, jam 8.30 malam di Taman Warisan Melayu Singapura. Hadir dalam acara tersebut, Zuraidah Abdullah, Pengurus Yayasan Warisan Melayu, Chang Hwee Nee, Ketua Pegawai Eksekutif Lembaga Warisan Negara dan Alvin Tan Penolong Ketua Pegawai Eksekutif Lembaga Warisan Negara. 

Acara juga dihadiri dan dibuka secara resmi oleh, Tamu Kehormatan, Baey Yam Keng, Setiausaha Parlimen Kementerian Kebudayaan, Masyarakat dan Pemuda dengan memukul Gendang Ubi sebanyak tiga kali…

Beberapa tarian pun dipentaskan oleh sanggar Ida El Bahra dari Makassar juga lakonan Lima Opu Daeng yang sangat memukau.

Meskipun acaranya terbilang singkat untuk sebuah pentas seni, namun karena keterpaduan, kesinambungan cerita, serta alur yang terplot rapi membuat malam  Sirri na Pesse menjadi buah bibir hingga akhir pertunjukan. Decak kagum senantiasa terlontar dari pengunjung yang hadir. Kiranya, identitas Bugis di tanah Melayu khususnya di Singapore menambah khasanah kekayaan budaya dan pemersatu Nusantara. Aamiin yra.

Bersambung… 

*Jelajah Singapore 2017

#viestory #myday #myfreedomspace #ceritavie

Muliakanlah Istrimu

Bismillah… Kisah Inspiratif : Keluhkan Kelakuan Istri pada Ibu, Justru Ini yang Didapatkan Adam

.

Suatu pagi Adam ke rumah ibunya dan mengambil makanan.

.

Ibu : Adam, kenapa kamu makan di sini? Istrimu gak masak?

Adam : Masak

Ibu : Lalu?

Adam : Biarlah aku mau makan di sini, aku malas makan di rumah.

Ibu : Kenapa? Kamu ada masalah dengan istrimu?

Adam : Iya Bu, dia seharian di rumah gak ngapa-ngapain, aku yang capek pulang dari kantor tapi dia ngeluh capek.

Ibu: Memang dia selalu ngeluh? 

Adam: Enggak si Bu akhir-akhir ini aja, tapi kan dia gak aku suruh kerja di luar cuma di rumah aja, jagain anak

.

Kemudian si Ibu menelpon istri Adam dan kembali ke meja makan menemui anaknya yang sedang makan.

.

Adam: Ibu sudah memarahinya?

Ibu: Iyaa.

.

Keesokan harimya Adam pulang sore, ia melihat anaknya masih memakai baju tidur sambil main lumpur di depan rumah, yang satu tiduran di lumpur dan yang satu lagi hampir saja tercebur ke got di samping rumah. Ia lalu membawa anaknya masuk, sesampainya di rumah dia melihat banyak sekali kotoran ayam berserakan di dalam rumah. Belum lagi rumah dan isi lemari sudah habis berserakan di bongkar anaknya tadi. Kaset-kaset berserakan di lantai, bedak sudah bercampur dengan pasir di depan ruang TV. Lalu ia hendak ke kamar mandi memandikan anaknya, sampai di kamar mandi dia melihat air sudah membanjiri lantai sabun dan sikat gigi semua berserakan isi kulkas sudah bercampur dengan rak piring. 

.

Adam makin emosi ketika melihat di tudung tidak ada apa-apa, tidak ada nasi atau yang lain yang bisa di makan, bahkan piring bekas kemarin masih berserakan di meja makan, susu anak sudah habis berserakan, baju pun masih menumpuk di kamar mandi. Rumah seperti kapal pecah.

.

Lalu dia ke kamar dan mendapati istrinya sedang berbaring sambil mendengarkan musik pake headset dan ngemil sembari berbalas chat di sosial media melalu HP nya.

.

Amarah adam memuncak, dia membawa kedua anaknya ke rumah ibunya hendak memberitahukan perilaku istrinya itu, ketika sampai di rumah, ibunya menyambutnya dengan senyuman, namun Adam penuh dengan amarah. Saat Adam ingin memulai berbicara, ibunya lalu berkata, “Iya nak, ibu sudah tau, Ibu yang menyuruh dia untuk membiarkan semuanya berantakan, Ibu yang menyuruh dia untuk diam tanpa mengerjakan apa-apa, tidak memasak, tidak menyapu, tidak menyuci pakaian, tidak mencuci piring, tidak menjaga anakmu, tidak mengurus rumah, Ibu menyuruhnya agar diam saja tanpa melakukan apa pun, lalu, bagaimana menurut mu? Apakah ada yang mengurus anakmu jika istrimu hanya diam? Apa ada yan memasak makanan untukmu jika istrimu hanya diam? Apa ada yang mengurus pakaianmu dan anak-anakmu jika istrimu hanya diam?

Apa ada yang mengurus rumahmu jika istrimu hanya diam? Apa ada yang menjaga anakmu untuk tidak membongkar semua isi lemari? Untuk tidak membongkar isi kulkas? Untukk tidak keluar rumah dan main di lumpur? Menjaga mereka agar tidak masuk ke got?

.

Agar mereka tidak menabur bedak di lantai, membawa pasir masuk ke rumah, mencorat-coret dinding, dan lain sebagainya, apa ada yang mengurus itu semua jika istrimu hanya diam di

rumah? Jika kau bisa memilih, pa kau mau menjadi seoran istri yang hanya “diam” di rumah? Ibu rasa istrimu juga bisa cari duit pergi ke kantor bekerja dan pulang sore, tapi apa kamu bisa “diam” di rumah seperti istrimu yang kamu anggap hanya diam di rumah? Jangankan 24 jam mengurus anak, 10 menit aja disuruh nemenin anak maon bentar kamu gak betah karena anakmu bandel, kamu capek kejar sana kejar sini. Lalu, apa kamu masih menganggap istrimu itu hanya diam di rumah? Apa istrimu tidak pantas untuk mengeluh capek walau hanya sekali saja? Apa hanya kamu yang lelah? Dan apa sekarang kamu mau bertanya kenapa istrimu sudah tidak secantik dulu? Apa kamu mau bertanya juga kenapa payudara istrimu kendor, apa kamu mau bertanya juga kenapa istrimu gak pernah dandan? Kenapa istrimu gak secantik wanita-wanita di luar sana? Biar ibu kasih tau, jangan pernah kamu bandingkan kecantikan istrimu dengan wanita muda di luar sana, karena istrimu sudah mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk mengabdi padamu

jgn pernah banding kan payudara istri mu dgn payudara wanita muda di luar sana yg masih kencang tegak menantang,,, 

karena istri mu rela bentuk badan nya berubah demi supaya anak anak mu mendapatkan ASI yg manfaat nya tidak bisa kau beli dengan Uang sebanyak apa pun ,, 

jgn pernah kau banding kan istri mu dgn wanita muda di luar sana yg terawat,, karena istri mu sudah menumpahkan segala waktu nya utk merawat anak2 mu dan mengurus rumah tanggamu ,,,jangan kan ke salon,, pake lipstik aja boro2, Harga lipstik mahal ,, cukup utk beli susu anak .. 

pas mau dandan anak Mu menjerit karena jatuh dr atas meja , entah apa yg di lakukan anak mu di atas meja, semua di panjat nya ,, lemari, kulkas, dll 

kau pikir istri mu sempat bergaya ?? dan bagaimana dgn kamu ??

apa kamu pernah berinisiatif menjaga anak mu sebentar agar istri mu bisa ke salon melakukan perawatan ? 

ato apa kamu mau sekedar membantu nya menjemurkan kain saat pinggangnya sudah hampir patah Abis nyuci se gerobak ??

dan … apa pernah kamu tanya dia ush mkn ato blm ? dia capek perlu di pijit ato tidak ??

hanya dia yg bertanya seperti itu padamu ,,, walau pun dia ingin sekali kau tanya demikian ,., 

.

Adam tertegun,, terdiam sambil melihat kedua anak nya yg dalam waktu sebentar sudah berhasil membuat rumah nenek mereka menjadi lapangan bola yang semua benda berjatuhan terkena tendangan bola, karena tidak ada yg mengawasi selama Adam dan ibu nya berbicara 

Dia baru sadar.. bahwa jerih payah seorang istri tak bisa di bayar dengan apapun,, perjuangan seorang istri tak tergantikan oleh apapun,, tak ada yg mampu se tegar dan sehebat seorg istri … 

Air mata nya Hampir menetes jika teringat saat dia plg kantor, dia membangunkan istri nya yg baru terlelap utk membuatkan secangkir teh ,, walopun mgkn istri nya lelah dan mengantuk, dia tetap bangun dgn ceria dan membuat kan teh utk suami nya yg tidak tau kelelahan nya ,.. 

.

Adam ingin kembali ke rumah utk meminta maaf kepada istri nya, dan saat dia membuka pintu, dia melihat istri nya sudah ada di depan pintu dan langsung memeluk nya.. istri nya juga menangis… 

“Maafkan aku sayang ,,, ” kata adam sambil menangis,,

.

=====

THE END

Doa meminta pasangan yang baik :

“Rabbana hablana milladunka zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah”

.

Ya tuhan kami, berikanlah kami pasangan yang terbaik dari sisi-mu, pasangan yang juga menjadi sahabat kami dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat. Aamiin.

.

Ya Allah…

πŸ˜Šβœ” Muliakanlah orang yang membaca tulisan ini

πŸ˜Šβœ” Lapangkanlah hatinya

πŸ˜Šβœ” Bahagiakanlah keluarganya

πŸ˜Šβœ” Luaskan rezekinya seluas lautan

πŸ˜Šβœ” Mudahkan segala urusannya

πŸ˜Šβœ” Kabulkan cita-citanya

πŸ˜Šβœ” Jauhkan dari segala Musibah

πŸ˜Šβœ” Jauhkan dari segala Penyakit, Fitnah,Prasangka Keji, Berkata Kasar, dan Mungkar

πŸ˜Šβœ” Dan semoga yg me-LIKE, komen Aamiin dan membagikan status ini rezekinya berlimpah aamiin.. 

.

Boleh di SHARE sebanyak mungkin!! #copas

Mudik 2017

Ada yang berbeda di Idul Fitri tahun ini. Mungkin karena waktu pulang dekat, membuatku berfikir untuk tidak mudik. Namun ternyata, mudik menjadi sebuah keharusan karena kondisi ibuku yang beritanya kurang sehat. Menuju rumah, kami berkunjung dulu di Pangkep, rumah keluarga kakakku. Tentu saja dengan menu iftar yang istimewa hahahha.

Begitu tiba saat hari raya, alhamdulillah ibuku masih diberikan nikmat kekuatan dan kesehatan, sehingga kami menikmati kebersamaan di hari Fitri 1438 Hijriah dengan nuansa keceriaan. Apalagi, saudara-saudara ibuku datang dan merayakan hari raya bersama kami.

Alhamdulillah, suasana di hari Fitri ini juga jauh dari perkiraan kami. Awalnya kami membayangkan suasana akan sepi sekali, berhubung adik laki2ku yang tinggal serumah ibu bapakku di kampung, memilih untuk merayakan hari fitri jauh dari orang tua di Makassar. Namun, video call menjadikan jarak itu terasa dekat. Begitupun dengan saudara kami yang di Jogyakarta.

Alhamdulillah juga ketika teman dan kerabat juga masih berkenan berkunjung ke kediaman kami. Pun kami masih berkesempatan berkunjung ke rumah beberapa sahabat. Bahkan, kami mendapatkan kawan-kawan baru yang baik serta bersilaturahmi dengan keluarga-keluarga baru.

Tentu saja, salah satu kegiatan yang tidak pernah lepas dari agenda mudik adalah menikmati danau Matano di kampungku Sorowako. Bahkan piknik kali ini jauh lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya.

Beberapa spot foto pun tak lepas dari aktivitas petualangan mudik kali ini. Seperti di lokasi air terjun kecil di jalan baru poros Malili-Sorowako serta tulisan nama kecamatan yang sempat heboh di dunia maya, khususnya di beberapa laman teman dan kerabat dari Sorowako.


Dan tentu yang tak kalah heboh adalah berkumpul dengan rekan-rekan alumni sekolah di YPS. Love-love-love ketika masih berkesempatan mudik dan berkumpul dengan keluarga dan sahabat dalam suasana hari raya yang fitrah… 😍😍😍

Taqabbalallahu Minna Waminkum Taqabbal yaa Kareem….

Mohon Maaf lahir dan Batin