PROSESI MALEKKE WAE

Sebagaimana dijelaskan dalam Sinopsis Upacara Adat Matemmu Taung yang disusun oleh Andi Anthon Pangerang, budayawan Tana Luwu, prosesi adat Luwu Matemmu Taung (Menutup Tahun) terdiri dari 3 (tiga) episode yang secara kronologis sebagai berikut: 1. Malekke Wae 2. Ri Addoja 3. Matemmu Taung Sebelum memulai prosesi adat di Kedatuan Luwu, maka langkah pertama yang dilakukan adalah prosesi pengambilan air suci yang disebut Prosesi Malekke Wae. Menurut tradisi masyarakat Adat Luwu, setiap rumpun keluarga besar masing-masing memiliki Bubung Parani (Tarungeng) atau sumber air khusus untuk digunakan oleh keluarga tersebut dalam setiap upacara adat. Air merupakan simbol “kebersihan” karena air merupakan sarana untuk membersihkan segala noda. Dimana “air” juga merupakan kebutuhan paling vital bagi kehidupan setiap makhluk hidup yang juga merupakan simbol kesejahteraan hidup. Karena itu, “air khusus” yang diambil (rilekke) secara ritual untuk digunakan dalam upacara adat merupakan “kolektivitas” dari sebuah komunitas adat Luwu sekaligus sebagai simbol “kebersihan” dari niat atau Nawaitu dari segenap rumpun keluarga (Rara Buku) dari komunitas adat Luwu. Dalam pelaksanaan upacara adat ini demi mengharapkan “kesejahteraan hidup” bersama di bawah rahmat dan ridha Allah Subhanahu Wataalah. Untuk kegiatan Kedatuan Luwu, terdapat 3 lokasi pengambilan air suci: pertama di Ussu Cerekang Luwu Timur, kedua di Lampenai Luwu Utara dan ketiga di Manjapai Kolaka Utara. Dalam perjalanan kami menuju Manjapai, Kolaka Utara pada 16/1, Andi Sulolipu Sulthani Opu Pananrang menjelaskan bahwa prosesi Malekke Wae untuk kegiatan-kegiatan adat di istana Kedatuan Luwu dilakukan secara bergantian dari ketiga bubung parani diatas. Pergantian ini dilakukan untuk menjaga keadilan dan rasa kebersamaan dari masyarakat Tana Luwu. Berhubung Pua Cerekang telah mangkat dan belum ada pengganti maka belum bisa mengambil air di Cerekang, lalu pengambilan air suci terakhir dilakukan di Lampenai untuk proses peresmian nama jalan Andi djemma di Makassar (10/11/2017), maka air suci untuk acara Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018 diambil dari Manjapai sebutan dari desa Majapahit kecamatan Pakue Tengah kabupaten Kolaka Utara, propinsi Sulawesi Tenggara. Prosesi Malekke Wae dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00 wita dari Bubung Parani, milik rumpun keluarga dari Komunitas adat tersebut. Acara ini dilakukan pagi hari dengan harapan agar kesejahteraan hidup masyarakat adat akan senantiasa menanjak seperti matahari terbit di ufuk timur. Air suci yang diambil (ri lekke) melalui sebuah ritual adat dan kemudian diarak dengan Sinrangeng Lakko (usungan adat di atas pangkuan seorang gadis remaja yang beum aqil balik (tenna wette pa dara) sebagai simbol kesucian. Usungan adat (Sinrangeng Lakko) tersebut diiringi oleh Parullu Gau (instrument dan atribut-atribut adat) serta para pemuka adat. Prosesi Persiapan Sebelum Prosesi malekke Wae dilakukan, beberapa kelengkapan instrument dan atribut-atribut adat yang perlu dipersiapkan antara lain: 1. Wala suji atau Rakki yang terbuat dari anyaman bambu lalu dibungkus kain kuning 2. Cerek untuk tampungan air 3. Sokko patang rupa atau ketan 4 (empat) warna lengkap dengan hiasan telur atau lauk lainnya, juga sepasang ayam yang dibakar utuh 4. Kelapa kuning dan lilin masing-masing 2 buah. 5. Perlengkapan cera’ bambu untuk wala suji berupa 5 lembar daun sirih, 3 butir telur ayam kampung, 5 buah pinang, sejumput kapur sirih, sepasang ayam kampung yang disembelih di atas bambu yang akan dibelah untuk membuat anyaman rakki. 6. Lellung yang terbuat dari 4 (empat bilah bambu) yang dipasangkan kain kuning dan dihantarkan oleh 6 gadis belia yang belum aqil baligh. 7. 1 orang gadis belia pembawa cerek yang belum akil baligh. 8. Iring-iringan pemuka adat dan tokoh masyarakat. Setelah prosesi Malekke Wae untuk MTKL 2018 ini dilaksanakan maka air suci yang telah diambil itu kemudian dibawa untuk disemayamkan di baruga Maddika Bua di Bua sebelum dibawa ke Istana Datu Luwu. 18/1 air suci ini lalu diarak mengelilingi istana Datu Luwu sebelum peserta kirab masuk ke dalam istana sebagai awal dimulainya perhelatan akbar Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018.

Next : Kirab Budaya MTKL 2018

Advertisements

Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018

Perintah telah diberikan, meski dengan pertimbangan waktu yang kasip tetap saja perintah itu harus dilaksanakan. Kadang timbul pertanyaan, siapa diri ini untuk dapat terlibat dalam perhelatan akbar Kedatuan Luwu seperti ini. Namun segala pemikiran itu kutepis dengan sebuah semangat mengembalikan Maruah Datu Luwu. Berbekalkan rekomendasi dari Ketua Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) usai Rapat koordinasi bersama TopapoataE Datu Luwu XL La Maradang Mackulau Opu To Bau dan ketua panitia Matemmu Taung Kedatuan Luwu (MTKL) 2018 serta beberapa Tokoh KKTL (Minggu, 7/1) maka dibentuklah tim kecil penggalangan dana dengan tugas pertama menyelesaikin proposal kegiatan Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018 dan membuat list partisipasi warga KKTL. Tim ini terdiri dari Hartawati Andi Djelling, Ismi Seneng Nuppu, Muzakkir Tovagho dan penulis. Selasa, 9/1 tim ini melakukan meeting internal bersama ketua Panitia di mess Pemda Luwu Timur di Jakarta. Dalam proses pertemuan ini, komunikasi dan koordinasi dengan panitia lokal di Palopo juga dilakukan untuk melengkapi bahan proposal yang dibutuhkan. Akhirnya proposal yang sudah ditunggu hampir 3 bulan bisa diselesaikan dan langsung dicetak demikian juga undangan. Sedangkan list partisipasi warga KKTL segera disebarluaskan melalu beberapa group whatsap pun perorangan. Keesokan harinya, audiens dilakukan bersama Presiden Direktur PT Vale Indonesia di Energy Building Jakarta. Dalam audiensi tersebut, dilakukan juga Conference Call bersama tim External Relations yang berkedudukan di Sorowako. Alhamdulillah, satu persatu proposal dan undangan yang disiapkan mulai terdistribusi, begitupun informasi partisipasi warga KKTL terus mengisi ruang komunikasi kami. Sehingga semangat pelaksanaan acara pun semakin terbakar dan optimisme terbangun dalan setiap komunikasi yang terjalin. Meskipun ada beberapa orang yang sempat “peccu” dan memutuskan untuk melepaskan diri dari kegiatan persiapan perhelatan MTKL 2018 ini. Hingga tiba hari dimana pelaksanaan perhelatan akbar Matemmu Taung semakin dekat. Hanya ibu Hartawati yang akrab disapa Opu Odeng bersama penulis yang berkesempatan berangkat ke Palopo. Kami memilih berangkat dengan penerbangan awal ke Makassar pada 15/1. Tiba di Makassar, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Palopo dengan panther. Dengan perhitungan kami bisa tiba sore hari. Sehingga masih berkesempatan berfoto di depan icon Kota Palopo. Setelah istirahat yang cukup, usai makan malam kami diajak mengecek beberapa persiapan panitia. Termasuk undangan yang akan disebar. Usai sarapan keesokan harinya (16/1), kami lalu bergeser ke Istana Datu Luwu untuk membantu persiapan lainnya. Wah, ternyata ruang sekretariatnya belum digunakan secara maksimal, sehingga kami bersihkan dulu kemudian ditata kembali dan membuka pintu besar sebagai pertanda sekretariat siap digunakan. Pada kesempatan itu, beberapa panitia mulai berdatangan, koordinasi dan pengecekan kesiapan-kesiapan satu persatu mulai diurai. Sehingga rundown acara bisa disusun. Entahlah, saya merasa bahwa panitia yang terlibat dalam acara ini sudah sangat terlatih untuk bagian masing-masing sehingga setiap ditanya, seringkali jawabannya sudah ada atau sudah disiapkan, namun bagi saya yang baru di lingkungan ini menjadi bingung dengan persiapannya hehehhe. Mungkin karena saya terbiasa kerja berdasarkan list uraian pekerjaan ☺ Menjelang siang, mobil yang akan kami gunakan ke Manjapai Kolaka Utara Sulawesu Tenggara pun tiba. Opu Odeng dan saya pun bergegas menyiapkan segala kebutuhan karena kami juga akan ikut untuk melakukan ritual Malekke Wae atau pengambilan air suci. Next : Prosesi Malekke Wae

Dia Masih Mencintaimu

Kadangkala cemburu membuat kita tidak lagi berfikir jernih. Apalagi ketika kita lebih mengikuti emosi di dada. Sudah tidak lagi mau berfikir secara logis dan jernih. Yang ada hanya penggalan-penggalan kemarahan dan prasangka yang apabila tidak dapat diatur, justru akan semakin menyakitkan.

Dia masih mencintaimu. Itu yang harus kau pahami. Itu yang harus kau mengerti. Tapi kau telah menyakitinya. Sakit yang teramat sulit untuk dia lupakan begitu saja. Kau telah menyinggung harga diri yang selama ini ditutupnya rapat. Meski begitu, dia masih mencintaimu.

Aku hanya ingin kau tahu, jangan birkan pikiran-pikiran negatif membuatmu lupa akan kasih sayang yang ada diantara kalian. Karena prasangkamu itu, justru akan menjadi jurang pemisah hubungan kalian. 

Kau hanya perlu mengikatnya kembali dengan cinta kasihmu. Justru disaat-saat seperti ini, kehadiranmu sangat berarti untuknya. Karena ketika kau bertahan dengan antipatimu, dengan segala tingkah keakuanmu, maka yakinlah, dia pun akan mengambil jarak darimu.

Yakinlah, bahwa dia masih sangat mencintaimu. Dia hanya terluka oleh sikapmu. Rangkul dia, sayangi dia, karena itu, kebersamaan kalian tidak boleh pudar hanya karena merasa saling kenal satu sama lain. 

Sangat disayangkan jika kebersamaan kalian selama ini harus retak hanya karena bertahan pada ego masing-masing. Jangan biarkan siapapun masuk diantara kalian karena jarak yang kalian ciptakan sendiri.

Yakinlah… bahwa dia masih mencintaimu, dia hanya terluka. Dan hanya kau yang bisa menyembuhkan lukanya dengan kasih sayangmu… bukan dengan sikap arogan dan rasa keakuanmu. Jangan biarkan dia mendapat penawarnya dari orang lain. Untuk itu, berdirilah disisinya, jadilah pelengkap hidupnya, jadilah ummi, sahabat, kawan dan pelipur laranya…

Ingatlah.. bahwa dia masih sangat mencintaimu, jangan biarkan luka itu semakin melebar… rawatlah dan jagalah hingga luka itu tertutup dan kalian bisa bersama kembali dengan rukun dan bahagia ☺☺🙏🙏
#myfreedomspace

RANGGON HILLS BOGOR

Usai menikmati malam pergantian tahun di rumah Ketua Umum Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) dr. Andi Arus Victor, S.P.M(K) di Cibubur,  aku dan Andi Hartawati melanjutkan perjalanan menuju Bogor. Sepanjang perjalanan pada malam pertama 1 Desember 2018 itu, kami menyaksikan langit yang cerah dengan warna-warni kembang api yang saling bersahutan. Sehingga perjalanan malam itu terasa singkat.

Kami menuju rumah Andi Ira untuk beristirahat disana. Kala pagi menjelang, kami pun bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju lokasi wisata Ranggon Hills dan Curug Pangerang di Gunung Salak Endah Bogor. Lokasi ini merupakan wilayah perbukitan yang saat ini menjadi trending topik di media sosial dengan panorama Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Butuh waktu 1,5 jam dari kota Bogor ke lokasi wisata Ranggon Hills ini, melalui jalan yang cukup berkelok menuju Gunung Picung, Pamijahan Bogor. Saat memasuki gerbang kawasan Hutan Lindung TNGHS, setiap pengunjung dikenakan tarif RP. 15.000,- per orang juga retribusi kendaraan sebesar Rp. 10.000,- per mobil atau Rp. 5.000,- per motor. Nah, ketika tiba di Ranggon hills, pengunjung masih dikenakan retribusi Rp. 10.000,- perorang dan biaya parkir  mobil Rp. 10.000,- dan motor Rp. 5.000,-.

Sepeda layang adalah tujuan kami ke Ranggon Hills ini. Karena sebelumnya saat kami mengunjungi obyek wisata Pabangbon Leuwiliang, yang tidak jauh dari Ranggon Hills ini, tidak menyediakan wahana Sepeda layang. Namun saat kami tiba di Ranggon Hills ini, ternyata bukan hanya wahana sepeda layang, ternyata banyak alternatif spot foto yang seru, seperti rumah pohon, sarang burung, ayunan gantung, kursi gantung, bunga matahari, spot foto love, klasik, perahu bambu. 

Namun ternyata antrian untuk naik sepeda layang cukup panjang, bukan hanya itu, tetapi di semua wahana spot foto. antriannya semakin siang semakin panjang. Syukurnya kami datang masih lebih pagi, jadi bisa berfoto di beberapa spot selfie yang belum pernah kami foto di tempat lain. Semua spot foto selfie di tempat ini gratis, kecuali sepeda layang yang dikenakan Rp. 10.000,- per orang. Demikian pula dengan foto khusus DSLR dikenakan Rp. 10.000,- per 5-8 foto per orang per spot foto.

Saat perut mulai teriak-teriak minta diisi dan waktu sholat Dhuhur pun memanggil, kami memutuskan untuk turun ke musholla di sekitar parkiran. Cukup lama kami beristirahat sebelum akhirnya kami melanjutkan petualangan siang itu menuju curug Pangeran yang berjarak kurang lebih 500 meter dari musholla dengan jalan kaki. 

Curug Pangeran ini tidak tinggi. Kurang lebih 6 meter saja. Ketika kami tiba di curug ini, beberapa pemuda nampak sedang menikmati loncatan dari atas curug. Sebenarnya gregetan ingin ikutan melompat seperti mereka, tapi tidak ada perempuan lain yang melakukannya. Jadi, cukup terjun aja dari batu di tengah guyuran air terjun.

Brrrrr, ternyata airnya dingin sekali. Tidak bisa lama-lama berendam di kolam alami di bawah curug. Saya lebih memilih untuk kembali ke batu-batu alam yang besar di pinggiran kolam. Batu-batu ini menjadi hiasan sungai kecil dari curug. Memang tempat yang asyik buat berwisata, terutama jika membawa keluarga. Bahkan, di tengah kolam, ada bentangan tali sebagai tanda batas kedalaman bagi yang tidak bisa berenang. 

Cukup lama kami berendam dan berenang-renang di kolam curug Pangerang. Dan syukurnya karena ketika mengunjungi tempat itu, kami belum mengetahui bahwa terdapat beberapa legenda mitos dan cerita-cerita rakyat terkait dengan curug itu. Andaikata sebelumnya sudah kami ketahui, barangkali kami tidak akan menikmati curug Pangeran itu dengan bebas hiihihi. 

Dari beberapa blog yang saya baca, dipercaya bahwa Curug Pangeran memiliki legenda yang belum diketahui banyak orang. Konon ceritanya curug Pangeran ini merupakan petilasan teman dekat Raden Kian Santang, putera Prabu Siliwangi. Sahabat Raden Kian Santang ini berasal dari Kerajaan Pajajaran. Menurut penuturan beberapa warga, setiap malam jum’at sering terdengan suara orang mandi, permainan alat musik tradisional seperti jaipongan, dengungan dan suara kereta kencana. 

Tidak hanya legenda, pun terselip mitos yang cukup dipercaya oleh warga sekitar, utamanya muda-mudi yang belum mendapatkan jodoh. Penduduk kampung sekitar, percaya bahwa air Curug Pangeran memiliki khasiat seperti juga pada Curug Kondang dan Curug Cigamea, untuk mempermudah mendapatkan jodoh bagi para jomblo jika mandi di air kolam curug. Ahahahayy, untuk saya tidak tahu sebelum beranang di Curug Pangeran, wah, bisa jadi musryik deh kalau berenang terus niatnya percaya mitos hehehehhe.

Dari lokasi Ranggon Hills dan Curug Pangeran terlihat beberapa villa yang disewakan untuk para pengunjung yang ingin menikmati suasana malam di kawasan TNGHS Bogor ini. Bagi yang ingin camping dengan menggunakan tenda juga tersedia tempat-tempat yang bisa digunakan, dengan beragam pemandangan juga fasilitas seperti toilet, musholla, warung-warung makan. 

LEPAS 2017 SAMBUT 2018

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, Engkau sampaikan usiaku pada pergantian tahun Masehi lepas 2017 sambut 2018. Banyak hal yang aku telah jalani melewati tahun yang berlalu, dan masih ada harapan-harapan yang aku bingkai untuk tahun mendatang. Semoga Engkau berkenan memberikan ijin, ridha dan kehendakMu ya Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Besar keinginan untuk pulang dan menikmati masa-masa pergantian tahun bersama keluarga dan teman-temanku, namun rencana lain telah aku konfirmasi sebelumnya. Yakni menyongsong pergantian tahun bersama keluarga Tana Luwu di kediaman Ketua Umum Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) di Cibubur, dr. Andi Arus Viktor S.P.M(K).

Tanggal 31 siang, aku tiba di rumah dr. Andi Arvi, begitu kami menyingkat nama shohibul bait. Aku membuat salad buah sebagai buah tangan, sekaligus bekal karena rencananya kami akan berenang di kolam renang shohibul bait. Tidak lama kemudian, kakak sekaligus sahabatku Ismi datang bersama keluarganya, tentu saja dengan membawa bekal nasi kuning bersama telor balado dan sambal goreng hati. 

Kami memang tidak bermaksud merepotkan tuan rumah dengan rencana piknik kami. Namun ternyata, istri dr. Arvi telah menyiapkan beberapa menu yang kemudian menjadi sajian makan malam karena siang itu bekal kami menjadi sajian pembuka. Menu yang disiapkan ibu Theresia antara lain Coto Makassar lengkap dengan burasanya, Ayam Mayo, Ikan Bakar, Kerang juga es campur sebagai pencuci mulut.

Setelah ngobrol sebentar, aku dan anak-anak kak Ismi; Fatimah, Daeng Ahmad dan si ganteng Hasan akhirnya memilih berenang di kolam renang. Suasana sore itu sangat nyaman, apalagi ada tongkonan di rumah dr. Arvi, serasa kami sedang berlibur di Toraja. Tidak lama kemudian, tuan rumah, mertua dan saudara ipar kak Ismi pun ikut menikmati kesegaran air kolam renang itu.

Cukup puas bolak balik tepian kolam renang, kami pun naik dan berdiskusi tentang rencana pertunjukan yang akan dilaksanakan tahun 2018 ini. Wah, kami mendapatkan ide-ide segar yang menjadi olahan kak Sabil, ipar kak Ismi yang menjadi sutradara di pertunjukan nanti. Masih rahasia, sampai launching teasernya nanti hehhehe.

Hari menjelang sore saat Opu Odeng, panggilan ibu Hartawati Andi Djelling, salah satu warga KKTL lainnya tiba. Ceritapun semakin panjang hingga akhirnya tiba waktu makan malam. Beragam topik menjadi bahasan kami tepat di tepi jolam renang. Akhhh suasananya begitu asyik. Apalagi saat ikan-ikan itu mulai dibakar, aneka cemilan menjadi sajian di hadapan kami dan tentu saja, keluarga dr. Arvi mulai berdatangan menambah riuh suasana. 

Tidak banyak yang dilakukan malam itu, selain ngobrol santai di tepi kolam renang, hingga akhirnya petasan dan kembang api mulai bersahutan, tanda detik-detik pergantian tahun dimulai. Akh… tahun pun berganti, doapun terlantun diiringi harapan akan kebahagiaan dan kedamaian di muka bumi ini.

Bismillah “Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaaha ilallah, Allahu-Akbar, Laa haula wala quwata illa billahil aliyil adzim” 

Welcome 2018 😍😍😍

PAPA Leuwiliang Bogor

Niatnya sih ga pengen liburan jauh… pengen beres-beres kamar, merubah interior. Tapi permintaan itu tak bisa aku tolak. Judulnya menjadi sopir bantu mengantar ke Bogor. 

Walhasil, aku coba tidur lebih awal pada Jumat malam, 24/12/2017. Mengingat harus bangun subuh dan bawa mobil. Terbayang macetnya jalanan menuju Bogor. Seperti biasa, saat libur, Jakarta akan lengang berbanding terbalik dengan daerah-daerah sekitar Jakarta seperti Bogor, Bandung dan sebagainya.

Namun, perkiraanku salah. Jalanan cukup lengang. Hanya butuh 1.5jam akhirnya kami tiba di perumahan Cimanggu. Setelah melepas penat sejenak, hahahha aku justru membantu merapikan ruang tamu dan kamar tidur si empunya rumah. Maklum, rumah baru jadi masih awut-awutan.. hahahaha… jauh-jauh rapihin rumah orang, kamar sendiri terabaikan ckckckck. 

Anyway busway, hari masih panjang, akhirnya kami pun memutuskan untuk menjajal sebuah lokasi wisata baru di Bogor, tepatnya di kampung Pabangbon desa Leuwiliang. Nama lokasi wisatanya Panorama Pabangbon yang disingkat PAPA.

Wah, luar biasa perjalanan menuju obyek wisata ini. Jalan yang kecil dengan tanjakan curam, bahkan ada yang sampai 70° kemiringan. Setelah melewati perjalanan yang berliku dan penuh tantangan, kami tiba disebuah lahan kosong yang ternyata dijadikan tempat parkir. 

Awalnya kami bermaksud untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Syukurnya tidak kami lakukan. Setelah kami memutuskan untuk menyewa ojek ke lokasi yang dituju, subhanallah, ternyata tujuan kami masih butuh 15 menit berkendara motor melalui jalan yang berliku dan lebih terjal dari sebelumnya.

Deg-degan, perasaan was was serta takut jatuh menjadi teman sepanjang jalan. Apalagi kanan kiri yang dilalui adalah jurang yang sangat dalam. Subhanalah… akhirnya, begitu lega saat kami tiba di tempat tujuan. Eh, koq mirip Taman Wisata Malino ya? Hahahha.. cuma kurang kuda deh☺.

Menghitung semua rombongan cukup, kami pun memasuki lokasi wisata PAPA dengan membayar retribusi Rp. 10.000,- /orang. Berlaku sama untuk anak-anak maupun dewasa.

Wah… serunya melihat semua orang yang datang. Suasana piknik pun menjadi pemandangan, melengkapi hijau pinus dan pemandangan kota Bogor yang nun jauh di mata. 

Akhirnya kami memutuskan untuk mulai hunting foto-foto keren dengan uji nyali ketinggian. Pilihan pertama pun jatuh pada flying fox bergantung di atas ketinggian dengan bersandar pada ikatan tali di badan. Jiahhhhh meskipun bukan yang pertama, tetap aja deg-degannya berasa hahaha…

Setelah itu, pilihan jatuh pada obor. Eh, ternyata pengikutnya banyak hahaha, semua pada mau foto. Jadinya berkumpul beramai-ramailah kita foto bareng. 

Nah, di obyek wisata PAPA ini, selain di pintu masuk, retribusi juga diberlakukan untuk setiap spot foto. Retribusinya Bervariasi 

Setelah itu, pilihan jatuh untuk foto pada perahu di atas pinus. Terbayang mimpi yang dulu pernah saya pikirkan, ketika pertama kali mengetahui kisah Sawerigading. Kala itu, Sawerigading harus pergi mencari We Cudai, lalu oleh saudara kembarnya, We Tenriabeng, maka ditebanglah pohon walenrenge untuk dijadikan perahu Sawerigading. 

Saat kapal sudah siap, tiang pancang utama kapal ternyata tumbang. lalu tiang itu jatuh tepat di atas daratan, sehingga membelah ujung daratan terpisah dan membentuk pulau kecil yang diberi nama Bulupoloe.

Ketika mengetahui cerita itu, saya pun membayangkan suatu waktu nanti, di pulau bulupoloe itu akan didirikan sebuah museum atau obyek wisata sejarah Perahu Sawerigading dilengkapi sarana penginapan dan restoran laut, tentu saja dilengkapi pelabuhan kecil dan sarana permainan air untuk pelayanan tamu yang menginap.

Akh.. kali ini cukup berpose saja di ujung perahu yang tertambat di atas dahan pinus. Sungguh luar biasa, menantang rasa takut akan ketinggian, dengan berjalan di jembatan kurang lebih 15-20 meter dari tanah. Takut akan goyangan jembatan di antara pepohonan pinus, takut akan goyangan jembatan karena jumlah pengunjung  cukup padat, takut akan jatuh karena tidak berpegang dengan erat, takut dan takut dan takut akan ketinggian.

Tapi ternyata tantangan itu menjadi addiction – kecanduan. Karena bukannya berhenti, bulan sabit dan rumah hobbit pun menjadi target berikutnya. Kalau di rumah hobbit sih hampir sama dengan perahu, tapi bulan sabit, wow… mesti menaiki tangga dulu lalu naik ke atas bulan sabit pakai berdiri pula hahahha…

Masih ingin melanjutkan petualangan -petualangan seru lainnya, tapi ingat bahwa masih ingin lanjut ke tajur halang, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti. lagipula waktu telah menunjukkan pukul 15.00 dan kami belum mengisi kampung tengah. Tapi yang paling berpengaruh adalah panjang antrian dari masing-masing target foto yang ga bisa dipendekkan hehehehe.

Belum puas rasanya mengeksplorasi obyek wisata Panorama Pabangbon, Bogor ini. Mesti datang kembali tapi lebih pagi bahkan kalau perlu menginap untuk merasakan nikmat yang alam sediakan di bukit pinus ini. ☺☺☺

Jelajah Malaysia 2017

Sambungan dari… Jelajah Singapore 2017

#Day1

Berbekalkan SGD 18, dini hari kami tiba di Petronas Matchap dengan menggunakan Qistna Express bus dengan rute Singapore menuju Kuala Lumpur. Sedikit was was saat kami melalui imigrasi, teringat kasus Dwi saat  tiba di bandara Singapore. Tapi alhamdulillah, semua baik-baik saja  dan lancar baik ketika kami melalui imigrasi Singapore juga ketika masuk ke imigrasi Malaysia. 

Kalau kita naik bus menyeberang Singapore – Malaysia, maka semua bus akan singgah di Woodlands Checkpoint. Disini, semua penumpang bus harus turun dari bus cukup membawa Passport untuk melakukan check out keluar dari Singapore. Nah, yang penting jangan lupa bus yang dinaiki, karena kita tidak menurunkan barang, jadi kebanyakan penumpang akan berlarian takut ditinggal bus hehhehe. Kecuali yang memang berganti bus.

Berhubung kita memang menaiki bus tujuan Kuala Lumpur, maka, kami tidak perlu menurunkan barang di Woodlands checkpoint. Kami hanya harus membawa pssport dan tiket pesawat kembali ke Indonesia. Setelah melalui proses imigrasi yang cukup singkat, kami kembali ke bus dan meneruskan perjalanan  ke Johor Bahru dengan jarak tempuh sekitat 15 menit. Disinilah kami melakukan check in imigrasi masuk ke Malaysia, sedikit rempong karena harus membawa semua barang bawaan dan melewati antrian yang panjang. 

Alhamdulillah, semua berjalan lancar hingga akhirnya kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Matchap. Usai proses imigrasi memasuki Malaysia, saya justru tidak bisa tidur seperti sebelumnya. Sampai akhirnya kami tiba di terminal besar Larkin. Terjadi perubahan rencana, ketika kami diminta turun dari bus dan diminta untuk berganti bus. Awalnya sedikit mengkhawatirkan, apalagi kami cewek bertiga di dini hari, di terminal besar pulak hahahaha. 

Namun ternyata kekhawatiran kami berlebihan karena kami segera mendapatkan bus pengganti. Bus ini bus tingkat. Namun sedikit kesal, karena kami harus menaikkan bagasi sendiri, tanpa bantuan dari sopir maupun kenek bus hehhehe… tempat bagasinya di lantai 2 bus, jadi lebih tinggi dari tempat bagasi bus biasanya. Mungkin juga karena kebiasaan dibantu kenek bus kalau di Indonesia, jadinya manja deh. Lalu kami masuk ke bus dan menunggu bus berangkat.

Akhirnya kami tiba di Petronas Matchap. Begitu turun, saya baru paham bahwa yang dimaksud petronas itu adalah pertamina kalau di Indonesia hehehe, saya pikir awalnya kami akan disinggahkan di resting area yang di Malaysia disebut RnR (Rehat dan Rawat). Ternyata Petronasnya tidak jauh dari RnR Matchap.

Setelah memberitahu Dato Baha yang menjemput kami, sebuah mobil Harrier hitam berhenti di depan kami. Subhanallah, ternyata kami dijemput langsung oleh Dato Baha panggilan singkat untuk Dato Seri Dr.Tengku Daeng BahaIsmail bin Tengku Daeng H. Ahmad Alhaj ditemani istrinya ibu Ratih Safitri. Kami pun menuju rumah Dato Baha, alhamdulillah diberi pula kami tempat untuk beristirahat. Tidak banyak aktivitas sebelum kami akhirnya terlelap setelah seharian beraktivitas di Singapore sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaysia.

#Day2

Menghirup udara segar di hari yang indah, subhanallah sungguh “Fabi’ayyi ala’i rabbikuma tukazziban : maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Bangun pagi, menyaksikan pemandangan di depan mata sungguh luar biasa. Saya tidak lupa, pertama kali berkunjung ke kediaman Dato Baha adalah ketika saya mengikuti kunjungan Muhibah Datu Luwu XL, H. Andi Maradang Mackulau Opu To Bau medio 2016. Kunjungan waktu itu dilakukan di malam hari, dan hari ini saya bisa menyaksikan bangunan ini kembali di waktu siang, sedikit berbeda namun tidak menghilangkan kesan kemegahannya.

Tidak berapa lama, kami diajak ibu Ratih untuk sarapan pagi, sebelum melanjutkan petualangan hari ini menuju Kuala Lumpur. Namun, sebelum berangkat, tuan rumah mengizinkan kami untuk melihat koleksi pribadinya. Kamipun diajak berkeliling dan mendapatkan penjelasan. Dato Baha merupakan zuriat langsung keturunan dari Opu Daeng Marewah, satu dari bersaudara Lima Opu Daeng.

Dari zuriat Opu Daeng Marewah inilah pertalian darah Bugis menyatukan Dato Baha dengan kerajaan Luwu. Dalam pencarian silsilah keluarga inilah, Dato Baha bahkan berkunjung ke Kedatuan Luwu dan memperat kembali benang merah kekeluargaan yang sempat terurai. Dan kunjungan itu mendapat balasan dari Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu to Bau yang melakukan perjalanan muhibah di semenanjung Melayu pertengahan tahun 2016 lalu. 

Usai melihat-lihat koleksi pribadi Dato Baha, maka kami pun berangkat menuju Kuala Lumpur. Namun sebelum itu, kami diajak untuk singgah dan menikmati nasi briyani Gam yang terkenal di Batupahat Johor lalu melanjutkan perjalanan ke Melaka.

Perjalanan ke Melaka kami tempuh kurang lebih 3 jam melewati perkampungan. Suasananya asri dan tertata rapi. Begitu tiba, kami langsung menuju pusat kota. Subhanallah, bangunan tua bersejarah terpampang di hadapan kami. Benarlah, kota ini merupakan kota warisan dunia oleh UNESCO. 

Meskipun tak lama, kami sempat berfoto di depan museum, di depan Gedung Proklamasi kemerdekaan melaka, benteng pertahanan Portugis Porta de Santiago atau kerap disebut gerbang benteng A famosa. Juga di depan replika Istana Kesultanan Melaka. 

Usai berkeliling, Dato Baha membawa kami berkeliling memasuki pusat kota Melaka, dimana tampak bangunan-bangunan dicat merah. Yang akhirnya kami mendapat penjelasan bahwa daerah dengan cat merah itu adalah bangunan Belanda sebagai ciri khas kota Melaka. Lalu berakhir di depan Gereja Tua Malaka dengan pemandangan Tugu Queen Victoria Fountain atau air mancur Ratu Victoria.

Saat memasuki waktu Dzuhur, kami pun beranjak menuju Mesjid Selat Melaka. Subhanallah, di bawah terik matahari, mesjid ini berada di tepi laut, mengingatkanku akan mesjid terapung di Makassar. 

Perjalananpun berlanjut ke pusat kota baru Putera Jaya. Kali ini kami melewati tol besar. Semoat singgah di RnR Seremban dan menikmati kacang tanah yang 4 kali lipat besarnya dari kacang tanah di Indonesia hehehe. Besar dan montok seperti yang makan hehehehhe. 

Begitu tiba di pusat kota Putera Jaya, mata saya tak berhenti berkedip. Subhanallah, saya mengagumi siapapun yang merencanakan pembangunan kota ini. Kantor Pemerintahan Perdana Menteri Malaysia berada di tengah, dengan bangunan-bangunan pemerintahan yang megah di kanan kiri jalan, belum lagi mesjid Putera dengan perpaduan Persia Melayu dengan warna lembut. 

Lanjut, akhirnya kami tiba di Kuala Lumpur, tepatnya di Istana Sultan. Bangunan megah yang berhiaskan kuning sebagai simbol kekuasaan. 

Meski terik, kami tetap menikmati perjalanan itu. Apalagi tuan rumah sudah menerima kami dengan baik. Mengantarkan kami untuk melihat-lihat, memberikan penjelasan, mengabadikan gaya-gaya kami yang acakadul sampai kami tiba di Kuala Lumpur menjelang Isya.

Malam tidak menjadikan petualangan hari ini berakhir. Setelah check in di City Comfort Hotel, kami hanya diberi waktu sejam untuk bersih-bersih. Setelah itu kami dibawa ke Hokkaido Seafood untuk santap malam. Dato Baha pun mengajak putera puterinya santap malam bersama kami, Bob, Hana dan Arif.

Setelah itu kami ke twin tower sebelum akhirnya kembali ke hotel untuk istirahat. 

#Day3

Bangun pagi, kami sarapan. Hari ini resmi petualangan kami sendiri, karena Dato Baha dan istri ada kegiatan lain setelah seharian kemarin menemani kami keliling-keliling. Sebenarnya sih, tidak banyak tempat yang ingin kami kunjungi selain berburu barang-barang pesanan hehehhe. Secara, hari ini waktu kami juga tidak banyak sebelum bersiap-siap ke bandara Kuala Lumpur. 

Setelah sarapan, kami check out dari hotel, namun tetap menitipkan koper-koper kami di lobby hotel. Setelah itu, kami menuju Jalan India karena Opu Odeng ingin mencari pernak-pernik pesta perkawinan. Secara, beliau adalah seorang wedding organizer jadi kemana-mana memang yang dicari adalah barang-barang unik atribut pernikahan.

Usai berkeliling-keliling dan mendapatkan barang-barang yang diinginkan, kami pun beranjak ke Pasar Sentral Kuala Lumpur. Wah.. pasarnya keren dan bersih, berasa di Thamrin City sih hehehe. Masih ingin lanjut, namun mengingat kami harus ke bandara, maka kami pun segera kembali ke hotel dan menuju bandara Kuala Lumpur.

Tidak panjang proses antrian saat check in maupun imigrasi di bandara Kuala Lumpur. Dengan Batik Air kami kembali ke Jakarta, Indonesia. Alhamdulillah, kami pun tiba dengan selamat. Seru rasanya jalan-jalan bertiga dalam rangka kunjungan budaya ini. Semoga ada kesempatan lain lagi, di petualangan yang baru serta cerita yang lebih seru dan heboh…

#viestory