Issengi Alemu

Kata-kata ini sederhana, tapi maknanya akan membuat kita senantiasa bersyukur dan introspeksi diri atas semua yang kita lakukan. Karena kadangkala, kita sering terjebak pada sebuah kekuatan Ego yang bersarang pada hati.

Lambat laun, usia akan meninggalkan kita, meskipun sebegitu sayangnya kita pada sebuah keadaan kehidupan itu. Usia itu pula yang secara sengaja maupun tidak sengaja mengajarkan kita tentang kearifan hidup. Bagaimana kita bertahan, mengolah bahkan mengubah sebuah keadaan.

Hanya saja, kadangkala kita lupa siapa diri kita sendiri, sehingga pepatah Bugis “Issengi Alemu – Tahu Dirimu’ menjadi sangat penting dalam kehidupan ini.

Seperti halnya hari ini. Saya marah. Meskipun saya berusaha untuk marah secara baik. Saya tidak pernah melarang siapapun untuk mencari lebih banyak atau berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih dalam hidup ini… tapi kalau itu membuatmu lupa hakekat kita hidup di dunia ini, lalu, untuk apa semua pencapaian itu?

Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, kadangkala kita menyadari hal itu tidak baik, kita bergeliat keluar dari situasi itu tapi kita tidak mencari solusi karena langkah-langkah yang kita ambil ternyata hanya sekedar proses “delay” semata. Menunda. Sehingga yang terjadi, muatan “issengi alemu” pun menjadi titik nadir kesemuan. Masalah itu hanya selesai sementara saja, tidak selesai.

Dan sedihnya lagi, terkadang kita berteriak pada orang lain supaya “issengi alemu” lantas kita sendiri tidak mampu bercermin dan melihat, bagaimana kita jika berada pada situasi itu. Sehingga kita selalu merasa lebih dari orang lain, padahal diatas langit ada langit.

Jika dibawa dalam konteks budaya, ada makna yang sering saya temui bahwa.. ketika ungkapan “Issengi Alemu” itu disampaikan, intinya adalah kita paham dimana keberadaan kita. Kita paham, bagaimana posisi kita. Sehingga kita bisa meredam keinginan-keinginan yang berlebihan untuk menciptakan suasana kondusif, aman, nyaman dan tentram.

Coba saja, apa kira-kira yang terjadi ketika kaki harus bertindak sebagai kepala, tentu beban tubuh itu akan berbeda, fungsi tubuh akan berubah. Jika hidung itu harus mencari makanan, semua sudah memiliki tempat dan peran masing-masing dalam sebuah badan. Sehingga menjadi tidak sopanlah ketika kita berjabat kaki dengan posisi dan kondisi tangan yang masih utuh. Tentunya kecuali suatu kondisi tertentu yang dikecualikan yang diterima dalam kesepakatan.

So… cobalah kita senantiasa mengingatkan diri untuk “Issengi Alemu” sebelum bertindak sehingga tujuan kita bisa tercapai dengan baik..

#menunggu #bored

la_vie

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s