Vie & Bapak Trip to Kuching

Vie jemput Bapak di bandara Soekarno Hatta, 25/9/2025. Alhamdulillah, senang sekali berjumpa Bapak dalam kondisi sehat dan bahagia untuk perjalanan ini. Perjalanan yang menjadi memorable yang indah bersama Bapak. Sedikit pelipur lara semenjak kepergian almarhumah ibunda tercinta, Al-Fatihah 🤲🏻

Vie bersama bapak di depan kantor BNPP-RI

Setelah beristirahat semalam di kost Delima, vie dan Bapak meninggalkan tanah air dari Jakarta, menuju Kuching, Malaysia menggunakan Malaysia Airlines MH 0710 dengan transit di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur.

Alhamdulillah, setibanya di Bandara Internasional Kuching, Vie dan Bapak langsung disambut hangat oleh Abah Zapari dan Friday. Senyum lebar dan pelukan hangat menjadi tanda betapa kehadiran mereka telah dinantikan. Perjalanan dari bandara menuju rumah terasa singkat karena sepanjang jalan mereka diisi dengan obrolan ringan, cerita keluarga, dan tawa yang membuat suasana menjadi akrab. Vie merasa seperti pulang ke rumah sendiri, meski berada di negara lain.

Welcome to Sarawak

Malam pertama di Kuching diisi dengan makan malam keluarga yang sederhana namun penuh makna. Di meja makan, berbagai hidangan khas Sarawak tersaji: laksa Sarawak yang harum, ayam pansuh yang dimasak dalam bambu, dan aneka lauk rumahan yang menggugah selera. Suasana makan malam begitu hangat. Cerita demi cerita mengalir, dari kisah masa kecil hingga kabar terbaru masing-masing anggota keluarga. Vie merasakan betapa kuatnya ikatan kekeluargaan yang melampaui batas negara.

Kumpul bersama keluarga

Keesokan harinya, Abah Za mengajak Vie dan Bapak menikmati hidangan di tepi sungai Sarawak. Menikmati sajian sarapan pagi nasi lemak, lalu menyusuri tepian sungai Kuching Waterfront dengan pemandangan bangunan Astana dan Gedung Undangan Negeri Sarawak tampak menonjol dengan warna kuning keemasan bahkan menjadi icon dari kawasan ini.

Kuching Waterfront

Tiba saat pesta pernikahan Anwar dan Amiza yang menjadi tujuan perjalanan ini, bersama rombongan Vie dan Bapak menuju gedung Dewan Majma di jl. P. Ramlee. Gedung ini meeupakan venue Majlis Kesyukuran putera pertama abah Za. Gedung tempat acara berlangsung dihiasi indah dengan nuansa tradisional Melayu yang elegan. Musik lembut, dekorasi bunga, dan senyum para tamu menciptakan suasana penuh kebahagiaan. Mashaallah, penerimaan yang luar biasa dari keluarga besar abah Za dan ummi.

Majlis Kesyukuran Anwar & Amiza

Di acara itu, Vie berkesempatan bertemu dengan keluarga besar yang selama ini hanya dikenalnya lewat cerita. Satu per satu wajah baru diperkenalkan, namun kehangatan sambutan mereka membuat Vie merasa diterima sepenuh hati. Bapak pun tampak sangat bahagia dapat berkumpul kembali dengan saudara-saudara baru. Hari itu menjadi pengingat bahwa keluarga adalah tempat pulang yang sesungguhnya.

Suasana kekeluargaan

Dalam perjalanan ini, Vie juga bertemu untuk pertama kalinya dengan Hani, sahabat pena sekaligus teman dari Toastmasters Club yang selama ini hanya dikenal lewat percakapan daring. Pertemuan itu terasa sangat istimewa. Hani ternyata sosok yang ramah, hangat, dan penuh energi. Mereka berbincang panjang tentang pengalaman di Toastmasters, mimpi-mimpi masa depan, hingga cerita keseharian. Vie merasa bersyukur akhirnya dapat bertemu langsung dengan seseorang yang selama ini memberi banyak inspirasi dari kejauhan.

Bertemu Hani Toastmasters

Setelah makan siang bersama, kami mengunjungi Borneo Cultures Museum bersama Bapak. Museum megah itu menjadi salah satu destinasi yang paling berkesan bagi Vie dan Bapak. Di setiap lantainya, tersimpan cerita tentang sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Kalimantan serta Borneo secara luas. Sulvi dan Bapak berjalan perlahan, membaca setiap informasi dengan penuh minat.


Di salah satu ruang pameran, kami berhenti cukup lama di depan koleksi artefak tradisional suku Dayak. Vie melihat mata Bapak berbinar saat mensiskusikan nilai-nilai budaya yang selama ini diwariskan oleh leluhur. Momen itu terasa sangat intim—bukan sekadar wisata museum, tetapi juga perjalanan mengenal akar budaya dan identitas diri.

Bapak di rumah adat Borneo

Hari-hari berikutnya berlalu dengan begitu menyenangkan. Vie dan Bapak menikmati waktu bersama keluarga Abah Za, berbincang santai di beberapa kesempatan, menikmati waktu di sudut-sudut kota Kuching yang tenang. Tidak ada agenda besar, namun justru kesederhanaan itulah yang membuat perjalanan ini begitu bermakna.


Vie menyadari bahwa perjalanan bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang orang-orang yang ditemui dan kenangan yang diciptakan bersama mereka. Kuching telah memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar wisata; kota itu menghadirkan kehangatan, persaudaraan, dan rasa syukur.

Bersama Bapak, Abah dan Ummi
Foto Bersama di MĂ jlis Makan Malam Waris Keturunan Paduka Nan Basusu Ampek

Namun seperti semua perjalanan indah, tibalah saatnya untuk pulang. Hari perpisahan datang terlalu cepat. Pagi itu, suasana rumah terasa sedikit berbeda—lebih hening, seolah semua orang enggan mengucapkan selamat tinggal. Abah Zapari kembali mengantar Vie dan Bapak, kali ini menuju perjalanan pulang melalui PLBN Entikong.

Perjalanan darat menuju perbatasan menjadi waktu refleksi yang panjang. Dari balik jendela kendaraan, Vie memandangi hutan hijau yang membentang, desa-desa kecil yang terlewati, dan langit yang seolah ikut mengiringi kepulangan mereka. Sesekali ia menoleh ke arah Bapak yang duduk tenang di sampingnya. Tanpa banyak kata, keduanya sama-sama tahu bahwa perjalanan ini akan menjadi salah satu kenangan terindah dalam hidup mereka.

Bersama Bapak

Menjelang tiba di PLBN Entikong, Vie tampak begitu antusias. Dengan penuh kebanggaan, ia mulai memperkenalkan kawasan perbatasan tersebut kepada Bapak dan Abah Zapari. Vie menjelaskan bahwa Pos Lintas Batas Negara Entikong bukan sekadar pintu keluar masuk antarnegara, tetapi juga simbol kehadiran negara dalam menjaga kedaulatan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan. Ia menceritakan bagaimana kawasan itu kini semakin modern, tertata rapi, dan menjadi wajah Indonesia di perbatasan. Dengan mata berbinar, Sulvi juga bercerita bahwa dirinya kini bertugas di BNPP-RI, lembaga yang memiliki peran penting dalam pengelolaan batas wilayah negara dan pembangunan kawasan perbatasan. Bapak dan Abah Zapari mendengarkan dengan penuh perhatian dan rasa bangga. Bagi Vie, momen itu terasa sangat berarti, karena untuk pertama kalinya ia dapat menunjukkan secara langsung bagian dari pengabdiannya kepada negara kepada orang-orang yang paling ia hormati.

Bersama Bapak dan Abah

Saat melintasi PLBN Entikong dan kembali menginjak tanah Indonesia, Vie menarik napas panjang. Ada rasa haru, bahagia, sekaligus rindu yang sudah mulai tumbuh pada Kuching dan orang-orang yang ditinggalkan di sana.
Perjalanan itu memang telah usai, tetapi kenangannya akan selalu tinggal di hati—tentang keluarga, persahabatan, budaya, dan cinta yang melintasi batas negara.

Lanjut ke sebelah tentang PLBN Entikong ya…. #viestory