Vie dan Bapak Berkunjung ke Jogya

Perjalanan pulang dari Kuching terasa begitu hangat bagi Vie dan Bapak. Setelah beberapa hari menikmati kebersamaan keluarga di Malaysia, keduanya melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta untuk bertemu Adhy, saudara Vie yang sudah lama menetap di kota pelajar itu. Pesawat yang mereka tumpangi mendarat menjelang sore. Dari balik jendela bandara, langit Jogja tampak teduh dengan semburat jingga matahari yang perlahan turun di ufuk barat.

Berpetualang bersama Bapak

Di area kedatangan, Adhy sudah berdiri sambil melambaikan tangan dengan senyum lebar. Di sampingnya ada Anisa, istrinya yang ramah, serta salah satu puteri mereka, Rayna, yang langsung berlari kecil menyambut Vie dan Bapak. Kehangatan keluarga itu terasa seketika.

Dijemput Anak, menantu dan cucu

“Capek perjalanan? Nanti di rumah istirahat dulu,” kata Anisa lembut sambil membantu membawa barang bawaan.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, suasana mobil dipenuhi cerita. Adhy banyak bertanya tentang Kuching, tentang keluarga besar di sana, hingga pengalaman Vie selama bertugas di perbatasan. Bapak sesekali tertawa mendengar celoteh Rayna yang bercerita tentang sekolah dan mainan baru mereka.

Sesampainya di rumah, suasana hangat langsung terasa. Aroma teh hangat dan makanan ringan memenuhi ruang tamu. Rumah Adhy sederhana namun nyaman, dipenuhi suara anak-anak dan foto keluarga yang menghiasi dinding. Vie merasa seperti pulang ke rumah sendiri.

Malam harinya, mereka memutuskan keluar menikmati kuliner khas Jogja. Jalanan kota mulai ramai dengan lampu-lampu yang menyala indah. Mereka mampir ke angkringan yang penuh pengunjung. Bapak terlihat sangat menikmati suasana sederhana namun akrab itu. Ia tersenyum sambil menikmati nasi kucing, dan segelas kopi panas. Raysa, puteri pertama adhy juga kembali dari sekolah dan bergabung bersama kami

“Jogja ini memang beda. Suasananya tenang,” ujar Bapak pelan.

Vie memandangi wajah Bapak yang tampak bahagia malam itu. Ada rasa syukur melihat beliau masih sehat menikmati perjalanan panjang bersama keluarga. Di tengah kesibukan pekerjaan dan jarak yang sering memisahkan, momen sederhana seperti itu terasa sangat berharga. Karena terakhir Bapak bertemu Adhy saat menghantarkan ibu ke pembaringan terakhirnya di Sorowako.

Bapak dan Adhy

Keesokan harinya, Adhy mengajak kami berkeliling Jogja. Melewati Titik Nol Kilometer, Keraton, hingga kawasan kampus yang ramai mahasiswa. Sesekali mereka berhenti membeli bakpia dan gudeg untuk dibawa pulang. Bapak tampak menikmati setiap sudut kota, seolah ingin menyimpan semua kenangan itu sebelum kembali ke Makassar.

Namun waktu selalu berjalan cepat. Hari kepulangan pun tiba. Di bandara, suasana berubah sedikit haru. Bapak akan kembali ke Makassar, sementara Vie harus melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk kembali bekerja.

“Jaga kesehatan kalian semua,” pesan Bapak sambil memeluk Vie dan Adhy bergantian.

Menikmati suasana Jogya

Raysa dan Rayna melambaikan tangan dengan wajah sedih ketika panggilan boarding mulai terdengar. Vie menarik napas panjang sambil tersenyum kecil. Perjalanan dari Kuching ke Jogja mungkin singkat, tetapi kehangatan keluarga yang mereka rasakan akan tinggal lama di hati. Di antara kota, bandara, dan jalanan yang mereka lewati, ada kenangan sederhana yang justru terasa paling berarti: kebersamaan.

Sampai jumpa di kisah selanjutnya…

PLBN ENTIKONG

Alhamdulillah, perjalanan bersama Bapak ke Kuching, Malaysia memberiku kesempatan untuk menunjukkan lingkup pekerjaanku yang baru dan jauh dari bayangan Bapak selama ini.

Selamat Datang di Pos Sempadan Tebedu / Entikong

Saat kembali dari Kuching, Vie dan Bapak memilih perjalanan darat melalui Pos Sempadan / Tebedu yang terhubung dengan PLBN Entikong. Meski sudah tiga tahun bergabung di Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI, ini juga pertama kali Vie berkunjung ke PLBN Entikong.

Vie dan Bapak diantar oleh Abah Zapari dan Paza Dan hingga ke batas negara. Setelah melewati pemeriksaan di pihak Malaysia, kami masuk ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong. Setelah itu kami masuk ke wilayah Indonesia.

PLBN Entikong kerap disebut PLBN pertama di Indonesia yang mulai beroperasi sejak 1 Oktober 1989. Berbatasan langsung dengan pintu perbatasan Tebedu, Sarawak, Malaysia. Sejak renovasi besar 2015-2016, PLBN Entikong berfungsi sebagai pusat aktivitas lintas batas, perdagangan, dan mobilitas masyarakat, serta memperkuat peran strategis Indonesia dalam menjaga kedaulatan dan mendorong pembangunan kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia.

Setelah melalui pemeriksaan imigrasi, kami di jemput oleh salah satu staf PLBN Entikong dan diajak untuk mengambil kenangan di Tugu Pancasila.

Di Tugu Pancasila PLBN Entikong

Selanjutnya kami diajak berkunjung ke kantor pengelola PLBN Entikong dan bersilaturahmi dengan Kepala PLBN Entikong, Teguh Priyadi. Suasana pertemuan begitu hangat dimana beliau berkesempatan menjelaskan berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan lintas batas, memperkuat koordinasi antarinstansi, serta mendorong pembangunan ekonomi masyarakat sekitar.

Foto Bersama Kepala Bidang PLBN Entikong

Selanjutnya kami berkeliling mengunjungi pasar PLBN Entikong yang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat perbatasan. Pasar ini menghadirkan suasana yang hidup dengan beragam produk lokal maupun barang dari Malaysia, mencerminkan dinamika perdagangan lintas batas yang berlangsung setiap hati. 

Bersama Abah Zapari di pasar PLBN Entikong

Usai berkeliling dan melihat fasilitas di sekitar PLBN Entikong, Abah Zapari dan Paza Dan pamit kembali ke Kuching, sedangkan Vie dan Bapak memutuskan untuk tinggal semalam di PLBN Entikong, sehingga dapat merasakan atmosfir kehidupan di perbatasan, sekaligus memahami bagaimana fasilitas ini bukan hanya berfungsi sebagai pintu gerbang negara, tetapi juga sebagai ruang yang menghubungkan budaya, ekonomi, dan kehidupan masyarakat di dua sisi perbatasan.

Wisma Indonesia di PLBN Entikong

Setelah istirahat semalam di PLBN Entikong, paginya Vie dan Bapak melanjutkan perjalanan menuju Bandara Internasional Supadio Pontianak  (PNK). Perjalanan darat dari Entikong ke Pontianak memberikan kesempatan untuk menyaksikan panorama Kalimantan Barat yang hijau dan penuh kehidupan, sekaligus merasakan dinamika mobilitas masyarakat perbatasan yang kerap melintasi jalur ini. Setibanya di bandara, suasana modern dan sibuk langsung terasa, menandai transisi dari kawasan perbatasan ke pusat transportasi internasional. Dari sini, perjalanan dilanjutkan dengan penerbangan menuju Yogyakarta, tempat salah satu adikku dan keluarganya tinggal.

Lanjut ke perjalanan menuju Yogyakarta ya…

Vie & Bapak Trip to Kuching

Vie jemput Bapak di bandara Soekarno Hatta, 25/9/2025. Alhamdulillah, senang sekali berjumpa Bapak dalam kondisi sehat dan bahagia untuk perjalanan ini. Perjalanan yang menjadi memorable yang indah bersama Bapak. Sedikit pelipur lara semenjak kepergian almarhumah ibunda tercinta, Al-Fatihah 🤲🏻

Vie bersama bapak di depan kantor BNPP-RI

Setelah beristirahat semalam di kost Delima, vie dan Bapak meninggalkan tanah air dari Jakarta, menuju Kuching, Malaysia menggunakan Malaysia Airlines MH 0710 dengan transit di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur.

Alhamdulillah, setibanya di Bandara Internasional Kuching, Vie dan Bapak langsung disambut hangat oleh Abah Zapari dan Friday. Senyum lebar dan pelukan hangat menjadi tanda betapa kehadiran mereka telah dinantikan. Perjalanan dari bandara menuju rumah terasa singkat karena sepanjang jalan mereka diisi dengan obrolan ringan, cerita keluarga, dan tawa yang membuat suasana menjadi akrab. Vie merasa seperti pulang ke rumah sendiri, meski berada di negara lain.

Welcome to Sarawak

Malam pertama di Kuching diisi dengan makan malam keluarga yang sederhana namun penuh makna. Di meja makan, berbagai hidangan khas Sarawak tersaji: laksa Sarawak yang harum, ayam pansuh yang dimasak dalam bambu, dan aneka lauk rumahan yang menggugah selera. Suasana makan malam begitu hangat. Cerita demi cerita mengalir, dari kisah masa kecil hingga kabar terbaru masing-masing anggota keluarga. Vie merasakan betapa kuatnya ikatan kekeluargaan yang melampaui batas negara.

Kumpul bersama keluarga

Keesokan harinya, Abah Za mengajak Vie dan Bapak menikmati hidangan di tepi sungai Sarawak. Menikmati sajian sarapan pagi nasi lemak, lalu menyusuri tepian sungai Kuching Waterfront dengan pemandangan bangunan Astana dan Gedung Undangan Negeri Sarawak tampak menonjol dengan warna kuning keemasan bahkan menjadi icon dari kawasan ini.

Kuching Waterfront

Tiba saat pesta pernikahan Anwar dan Amiza yang menjadi tujuan perjalanan ini, bersama rombongan Vie dan Bapak menuju gedung Dewan Majma di jl. P. Ramlee. Gedung ini meeupakan venue Majlis Kesyukuran putera pertama abah Za. Gedung tempat acara berlangsung dihiasi indah dengan nuansa tradisional Melayu yang elegan. Musik lembut, dekorasi bunga, dan senyum para tamu menciptakan suasana penuh kebahagiaan. Mashaallah, penerimaan yang luar biasa dari keluarga besar abah Za dan ummi.

Majlis Kesyukuran Anwar & Amiza

Di acara itu, Vie berkesempatan bertemu dengan keluarga besar yang selama ini hanya dikenalnya lewat cerita. Satu per satu wajah baru diperkenalkan, namun kehangatan sambutan mereka membuat Vie merasa diterima sepenuh hati. Bapak pun tampak sangat bahagia dapat berkumpul kembali dengan saudara-saudara baru. Hari itu menjadi pengingat bahwa keluarga adalah tempat pulang yang sesungguhnya.

Suasana kekeluargaan

Dalam perjalanan ini, Vie juga bertemu untuk pertama kalinya dengan Hani, sahabat pena sekaligus teman dari Toastmasters Club yang selama ini hanya dikenal lewat percakapan daring. Pertemuan itu terasa sangat istimewa. Hani ternyata sosok yang ramah, hangat, dan penuh energi. Mereka berbincang panjang tentang pengalaman di Toastmasters, mimpi-mimpi masa depan, hingga cerita keseharian. Vie merasa bersyukur akhirnya dapat bertemu langsung dengan seseorang yang selama ini memberi banyak inspirasi dari kejauhan.

Bertemu Hani Toastmasters

Setelah makan siang bersama, kami mengunjungi Borneo Cultures Museum bersama Bapak. Museum megah itu menjadi salah satu destinasi yang paling berkesan bagi Vie dan Bapak. Di setiap lantainya, tersimpan cerita tentang sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Kalimantan serta Borneo secara luas. Sulvi dan Bapak berjalan perlahan, membaca setiap informasi dengan penuh minat.


Di salah satu ruang pameran, kami berhenti cukup lama di depan koleksi artefak tradisional suku Dayak. Vie melihat mata Bapak berbinar saat mendiskusikan nilai-nilai budaya yang selama ini diwariskan oleh leluhur. Momen itu terasa sangat intim—bukan sekadar wisata museum, tetapi juga perjalanan mengenal akar budaya dan identitas diri.

Bapak di rumah adat Borneo

Hari-hari berikutnya berlalu dengan begitu menyenangkan. Vie dan Bapak menikmati waktu bersama keluarga Abah Za, berbincang santai di beberapa kesempatan, menikmati waktu di sudut-sudut kota Kuching yang tenang. Tidak ada agenda besar, namun justru kesederhanaan itulah yang membuat perjalanan ini begitu bermakna.


Vie menyadari bahwa perjalanan bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang orang-orang yang ditemui dan kenangan yang diciptakan bersama mereka. Kuching telah memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar wisata; kota itu menghadirkan kehangatan, persaudaraan, dan rasa syukur.

Bersama Bapak, Abah dan Ummi
Foto Bersama di Màjlis Makan Malam Waris Keturunan Paduka Nan Basusu Ampek

Namun seperti semua perjalanan indah, tibalah saatnya untuk pulang. Hari perpisahan datang terlalu cepat. Pagi itu, suasana rumah terasa sedikit berbeda—lebih hening, seolah semua orang enggan mengucapkan selamat tinggal. Abah Zapari kembali mengantar Vie dan Bapak, kali ini menuju perjalanan pulang melalui PLBN Entikong.

Perjalanan darat menuju perbatasan menjadi waktu refleksi yang panjang. Dari balik jendela kendaraan, Vie memandangi hutan hijau yang membentang, desa-desa kecil yang terlewati, dan langit yang seolah ikut mengiringi kepulangan mereka. Sesekali ia menoleh ke arah Bapak yang duduk tenang di sampingnya. Tanpa banyak kata, keduanya sama-sama tahu bahwa perjalanan ini akan menjadi salah satu kenangan terindah dalam hidup mereka.

Bersama Bapak

Menjelang tiba di PLBN Entikong, Vie tampak begitu antusias. Dengan penuh kebanggaan, ia mulai memperkenalkan kawasan perbatasan tersebut kepada Bapak dan Abah Zapari. Vie menjelaskan bahwa Pos Lintas Batas Negara Entikong bukan sekadar pintu keluar masuk antarnegara, tetapi juga simbol kehadiran negara dalam menjaga kedaulatan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan. Ia menceritakan bagaimana kawasan itu kini semakin modern, tertata rapi, dan menjadi wajah Indonesia di perbatasan. Dengan mata berbinar, Sulvi juga bercerita bahwa dirinya kini bertugas di BNPP-RI, lembaga yang memiliki peran penting dalam pengelolaan batas wilayah negara dan pembangunan kawasan perbatasan. Bapak dan Abah Zapari mendengarkan dengan penuh perhatian dan rasa bangga. Bagi Vie, momen itu terasa sangat berarti, karena untuk pertama kalinya ia dapat menunjukkan secara langsung bagian dari pengabdiannya kepada negara kepada orang-orang yang paling ia hormati.

Bersama Bapak dan Abah

Saat melintasi PLBN Entikong dan kembali menginjak tanah Indonesia, Vie menarik napas panjang. Ada rasa haru, bahagia, sekaligus rindu yang sudah mulai tumbuh pada Kuching dan orang-orang yang ditinggalkan di sana.
Perjalanan itu memang telah usai, tetapi kenangannya akan selalu tinggal di hati—tentang keluarga, persahabatan, budaya, dan cinta yang melintasi batas negara.

Lanjut ke sebelah tentang PLBN Entikong ya…. #viestory