DUTA LADA LUWU TIMUR

Istanbul Trip 3

Gemetar diri ini, tercekat kerongkongan dan aku kehabisan kata-kata saat melihat kiriman foto-foto dan video yang kuterima pagi itu. Serasa ingin terbang kembali ke Indonesia. Rumahku kebanjiran. Hanya sangup menangis dan membayangkan seperti apa nanti kondisinya saat pulang, karena masih butuh beberapa hari untuk tiba di Malili.Butuh waktu beberapa saat untuk bisa menenangkan diri, menimbang-nimbang apakah ingin tetap di kamar dan meratap ataukah melanjutkan rencana menikmati keindahan Istanbul Turki. Sampai akhirnya kuputuskan untuk melupakan sejenak kejadian di Indonesia karena aku juga tak dapat berbuat apa-apa selain pasrah.Selain itu, Icha, mahasiswa Turki asal Kalimantan, Indonesia yang rencananya akan menemaniku berkeliling hari ini telah tiba dan menungguku di Loby hotel. Akupun bergegas mempersiapkan diri.Sebelum kami berangkat, segelas cay, teh hitam asli Turki menjadi hidangan pertama sebelum kami meninggalkan hotel. Hari ini rencana berpetualang menggunakan kendaraan umum yang ada di Istanbul.Emirgan Korusu Festival TulipNaik kereta bawah tanah, itulah kesan pertama naik kendaraan umum di Istanbul yang kemudian dilanjutkan dengan naik bus menuju lokasi Festival Tulip. Saya masih beruntung karena hari ini adalah penutupan lokasi Festival Tulip di Istam. Setiap tahunnya Festival Tulip diadakan dari tanggal 1-30 April.Sesampainya di taman Emirgan tak henti-henti saya mengucap alhamdulillah berkesempatan menyaksikan indahnya festival bunga tulip ini. Belum lagi saat saya mendapat penjelasan bahwa festival tulip tahun ini menghadirkan 192 jenis tulip dengan jumlah 2,8 juta tanaman tulip seluruh taman, Mashaallah.Lelah berkeliling, kami menuju restaurant yang terletak bukit Emirgan. Wah.. sistemnya sekali bayar, makan sepuasnya.. hehhehe yuummyyyyy.. walhasil.. kamipun makan sepuasnya 🤣 suka suka sukaaaa… strawberrynya besar-besar, madunya masih yang ambil potong dengan sarangnya belum lagi aneka salad dan keju … wah… surga dunia deh.Setelah makan lanjutkan perjalanan ke Musium Aya Sophia, yang mana selama 916 tahun pernah digunakan sebagai gereja dan 482 tahun sebagai mesjid sebelum menjadi musium.Banyak hal yang membuatku terkagum-kagum di Museum ini. Pertama kali masuk, aku mendapat penjelasan bahwa di depan pintu gerbang terdapat cekungan di sisi kiri dan kanan. Yang mana merupakan tempat berpijak para pengawal sepanjang hari, yang meskipun bergantian tetap dipijakan yang sama sehingga tanahnya tenggelam.Lalu, begitu masuk ke dalam, terdapat simbol Islam dan Kristen pada langit-langit bangunan. Rupanya, ketika Utsmani dibawah kepemimpinan Sultan Mehmed II menaklukkan Konstantinopel, gereja utama Kristen Ortodoks ini lalu diubah menjadi mesjid. Namun berbagai lambang Kristen seperti lonceng, gambar dan mosaik yang menggambarkan Yesus, Maria, orang-orang Suci Kristen dan para malaikat hanya di tutup kemudian ditambahkan atribut keislaman, mihtab, mimbar dan empat menara. Sehingga ketika dibuka sebagai musrum semua peninggalan Konstantinopel maupun Utsmani masih bisa ditemukan di museum ini.Atraksi ice cream TurkiSelesai berkeliling museum Aya Sofya. Udara cerah membuat ingin mencoba ice cream Turki yang sangat terkenal dengan kejahilannya tarik ulur mempermainkan pembelinya dengan berbagai trik sebelum benar-benar menyerahkan es krim ke tangan pembeli. Dan akhirnya saya menemukan sebuah stand ice cream yang membuat saya ngakak karena pembelinya benar-benar marah karena dipermainkan.Yang membuat saya kagum adalah penjual ice crem melakukan beberapa atraksi dengan jungkir balik bahkan akrobatik mirip tukang sulap. Anehnya, itu ice cream tidak jatuh maupun meleleh. Dan akhirnya saya googling dan menemukan bahwa keunikan ice cream turki ini karena menggunakan susu kambing yang creamy, menggunakan akar anggrek lokal yang disebut salep sebagai pengental membuat tekstur ice cream turki ini super elastis. Selain itu, kejahilan mereka hanyalah strategi marketing karena memang ice cream harus ditarik-tarik dulu sebelum disajikan supaya lembut.Foto Booth SultanBerhubung saya berada di daerah turis, maka saya pun dengan mudah menemukan booth foto ala-ala sultan dan putri bangsawan Turki. Jeeee rupanya pakaian-pakaian itu sangat tebal dan berat hufft… tapi sungguh sangat layak dicoba. Jadilah kita foto ala-ala putri bangsawan Turki 😁Pasar tradisional EminönüPengen keliling lagi tapi sudah jelang sore dan tujuan utama saya belum tercapai, yakni melihat pasar tradisional. Akhirnya Icha membawa saya ke pasar tradisional Eminönü. Wah… bener-bener pasar yang tertata dengan harga murah dibandingkan Grand Bazaar yang terkenal dikalangan turis.Fokus pertama saya adalah ke bagian rempah-rempah. Berhubung perjalanan saya terkait dengan peluang dan potensi Lada Luwu Timur. Sayangnya, 6 penjual rempah yang saya temui, tak satupun mengenal Lada Luwu Timur. Lada Indonesia yang mereka kenal adalah Lada Bangka. Percakapan pun berbuntut panjang dengan saya memperkenalkan Lada Luwu Timur 😁To be continue to Istanbul Trip 4

DUTA LADA LUWU TIMUR

Istanbul Trip 2

Ada kejadian unik dalam pertemuan Forum Bisnis Indonesia-Turki. Saat diminta menyiapkan bahan presentasi, kami boleh memberikan materi dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Jadi karena sudah lama tidak menggunakan bahasa Inggris secara aktif, maka proses pengembalian memori pun saya lakukan, persiapan presentasi lah ceritannya.

Namun kejadiannya diluar rencana. Ternyata translator yang disiapkan KJRI justru tidak fasih berbahasa Inggris, sehingga saat menterjemahkan sambutan Bapak Konjen justru terbata-bata. Akhirnya Pak Henry Sudrajat, Konjen RI Istanbul melanjutkan sambutan dalam bahasa Indonesia dan terjemahannya pun menjadi lancar. Walhasil kami yang presentasi pun menggunakan bahasa Indonesia yang ditranslate ke Bahasa Turki dengan fasihnya.

Rombongan Lutim Terbagi

Setelah pertemuan bisnis selesai, maka saya pun harus berpisah dengan Pak Sakir dan Pak Ikbal. Berdua, mereka bersama Pak Toary dari Konjen RI melanjutkan perjalanan ke Ismir dengan jarak tempuh 6 jam, sehingga pihak konjen menyarankan untuk menggunakan kendaraan kecil supaya bisa pp. Berhubung kapasitas mercy hanya untuk 4 orang, saya pun tetap tinggal di Istanbul.

Saya pun berpindah dari Hotel Veyron ke Villa Blanche Hotel dan mendapatkan kamar vintage 😍

Semua ada hikmahnya koq. Berhubung saya tetap tinggal di Istanbul, maka Pak Hasan, staf KJRI Istanbul mengajak saya berjalan-jalan sore itu bersama pak Rapolo Hutabarat. Pertama-tama tujuan kami adalah ke Mesjid Sultan Ahmet, mesjid terbesar di Turki. Mesjid ini dibangun pada masa Kesultanan Utsmaniyah (1435-1923) yang juga dikenal dengan sebutan mesjid Biru larena interiornya dominan berwarna biru.

Saya pun tertarik dengan kerumunan orang di depan mesjid Biru. Setelah melihat ke lokasi itu, rupanya terhampar permadani tulip yang tersusun dari bunga tulip di depan mesjid Hagia Sophia.

Mesjid Biru berada dalam satu kawasan dengan Hagia Sophia atau aya sophia. Namun berhubung waktunya kasip, saya tidak sempat masuk ke dalam musium Aya Sophia. Saya hanya sempat berkeliling di sekitatnya, dan menikmati pemandangan bangunan-bangunan indah yang telah berdiri sejak abad 15 dan masih terjaga hingga saat ini.

Lalu kami melintasi selat Bosphorus Turki melalui terowongan Eurasia yang dalam bahasa turkinya disebut Avrasya Tüp Tüneli yakni terowongan jalan raya yang menghubungkan Kazliçeşme di Bagian Eropa dan Göztepe di bagian Asia dari Istanbul.

Keunikan tunnel ini adalah warna biru yang muncul di atapnya, yang menandakan bahwa kita persis di bawah air laut. Segala jenis pikiran muncul di kepalaki. Termasuk kekaguman akan kemampuan Turki untuk memungkinkan yang dulu pasti dianggap mustahil oleh sebagian orang.

Lalu kami menuju Yaman Ve Bahçeler Müdürlügü untuk menikmati sunset dengan pemandangan jembatan Bosphorus yang sangat terkenal sebagai penghubung antara benua Asia dan Eropa.

Malam menjelang dan kami diantarkan kembali ke hotel. Karena belum terlalu larut maka saya menyempatkan singgah di tepi kolam renang dan menikmati malam dengan kebab Turki.

Akh.. selesai sudah perjalanan hari ini. Mari beristirahat dan menyiapkan tenaga untuk perjalanan besok.

To be continue… to Istanbul Trip 3

DUTA LADA LUWU TIMUR

Istanbul Trip 1

Berbekal undangan dari Konsulat Jendral Republik Indonesia untuk Turki, kami berangkat ke Turki. Awalnya undangan ini akan dihadiri Bupati Luwu Timur Muhammad Thorig Husler. Namun, adanya himbauan Menteri Dalam Negeri agar semua Kepala Daerah tidak keluar negeri 1-30 April 2019 terkait kondisi pra dan paska pemilu serta rangkaian Hari Jadi Luwu Timur ke-16, Bupati mengutus saya mendampingi 2 pedagang lada Luwu Timur yang akan berangkat ke Turki.

Sungguh saya beruntung, karena secara kedinasan, anggaran daerah perjalanan luar negeri hanya disiapkan untuk Bupati. Sementara staf seperti saya tidak dianggarkan untuk perjalanan dinas keluar negeri. Namun karena kebaikan hati kedua pedagang lada yakni pak Sakir (44) dan Ikbal (40) untuk membiayai keberangkatan saya, maka saya bisa menginjakkan kaki di Istanbul bersama mereka.

Insiden Tiket

Astaghfirullah, belum juga kami berangkat, masalah pertama kami hadapi. Nama di passport pak Sakir berbeda dengan nama di Visa dan Tiketnya. Jadinya Visa dan tiketnya harus diganti dengan membeli yang baru. Oughhh saya merasa sangat bersalah.. namun apa daya karena saya memesannya berdasarkan data yang diberikan. Walhasil, kami pun berangkat dengan pesawat yang berbeda, dan sedikit saja kami terlambat masuk ke imigrasi, kami bertiga bisa batal berangkat.

Kampungan

Meninggalkan Indonesia menuju Istanbul, kami menggunakan Etihad Airways dengan transit di Abu Dhabi. Pertama kalinya saya menaiki sebuah pesawat yang menyediakan akses wifi di dalam pesawat. Wow… dan saya menjadi sangat kampungan. Dengan penasaran saya pun membeli paket dan benar saja.. saya bisa online sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Abu Dhabi.

Sedih Tak Bertemu Hana

Cukup lama kami transit di Abu Dhabi. Akhirnya saya kontak Hana Al Ali, teman kuliah di Griffith University, Australia. Sayangnya tidak dapat bertemu. Karena kalau saya keluar bandara, maka saya harus mengambil Visa UAE dan Hana pun tidak memiliki akses untuk masuk ke Bandara. Sedihnya, cukup berkabar-kabar saja, padahal sudah berada di kotanya meski hanya beberapa jam saja.

Tiba di Turki

Alhamdulillah, meski badan terasa lelah, kami tiba di Turki dengan perasaan lega. Perbedaan waktu kedatangan dengan pak Sakir membuat kami menunggunya di bandara. Tapi tentu saja tidak menjemukan karena spot fotonya buanyakkk sekali hehehhee. Dan serasa orang penting banget, seperti tamu2 VIP wuish, kami dijemput staf protokol KJRI bernama Oki sehingga semua lancar-lancar saja. Orangnya ceria jadi banyak menjelaskan sepanjang perjalanan menuju kantor Konjen RI Istanbul.

Beda Hotel

Begitu kami tiba di hotel Villa Blanche di belakang KJRI, ternyata bookingan untuk kami tidak terbaca menjadi tantangan lagi. Hanya ada satu kamar dengan 2 tempat tidur yang siap. Jadilah Pak Sakir dan Pak Ikbal yang check in, sedangkan saya harus pisah hotel dan diantarkan ke Hotel Veyron.

Hotelnya tidak begitu jauh, tapi tetap harus berkendaraan untuk sampai kesana. Hotelnya unik, namun pegawainya sedikit kurang ramah. Saya diberikan kamar di lantai 7 sedangkan lift hanya sampai lantai 6. Terpaksa naik tangga untuk ke kamar saya. Tapi begitu tiba di kamar, WOW, kamarnya luar biasa megah 😁.

Makan malam di L’event

Kami hanya diberi waktu setengah jam untuk bersih-bersih karena ada welcome dinner dengan pak Toary di L’event. Wah.. senangnya bisa merasakan salmon Istanbul, bahan boleh sama… namun rasa sangat beda. Kami juga bertemu dengan beberapa tamu dari Indonesia yang dijamu oleh Konsulat Jenderal Indonesia untuk Turki.

Pertemuan Bisnis

Paginya, aku dijemput di hotel dan menuju skyline lounge Mövenpick Hotel Istanbul guna mengikuti Forum Bisnis Indonesia-Istanbul. FBII ini dibuka secara resmi oleh Henry Sudrajat, Konjen RI Istanbul bersama Ketua Dewan Bisnis Turki-Indonesia (DEIK) Ilhan Erdal.

Kehadiran saya di Forum Bisnis ini mewakili Bupati Luwu Timur untuk memaparkan presentasi tentang potensi dan peluang pengembangan dan pemasaran Lada Luwu Timur. Saya hadir bersama 2 pengusaha lada Luwu Timur.

Selain saya, pemateri lainnya adalah Rapolo Hutabarat, Ketua Umum Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) sekaligus mewakili Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia yang berbicara tentang potensi pengembangan Kelapa Sawit Indonesia.

Ada kejadian unik dalam pertemuan ini. Saat diminta menyiapkan bahan presentasi, kami boleh memberikan materi dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris…

To be continue… to Istanbul Trip 2

Reference link :

https://kemlu.go.id/portal/lc/read/238/berita/forum-bisnis-indonesia-turki-buka-peluang-ekspor-lada-dan-produk-kimia-turunan-kelapa-sawit-indonesia

https://www.beritasatu.com/ekonomi/552718/turki-jajaki-impor-lada-dan-kimia-dari-indonesia

BINTANG dan CAT

Banyak hal yang mengagumkan ketika kita berani meng-explore kemampuan diri. Bahkan sesuatu yang tidak disangka-sangka. Seperti lukisan cat air yang ternyata menjadi latar iklan kegiatan kawan saya Mardiani.

Mardiani memiliki klub membaca yang disebut Iniaku Mobasa. Nama ini diambil dari bahasa lokal Sorowako yang artinya saya membaca. Kegiatannya rutin setiap minggu. Disini anak-anak TK hingga SD diajak untuk mencintai buku dengan rajin membaca.

Nah, minggu ini anak-anak diajak untuk merayakan hari air sedunia.

Eh, ternyata lukisan ini adalah hasil karya keponakan saya yang bernama Affan Bintang Syandrie. Dan terharunya lagi, menurut Mardiani, karya ini merupakan hasil eksplorasi guru lukisnya Yuni ‘Ian’ Yuliawan yang berusaha mengeluarkan imaginasi Bintang dari zona nyamannya dalam menggambar dan melukis sistem tatasurya Solar System. Seperti yang dia ceritakan dalam story Facebooknya tentang Bintang.

KOTA PALOPO

Beberapa kali ke Palopo membuat saya ingin menulis tentang kota ini. Kota yang baru beberapa tahun ini sering saya kunjungi terkait dengan kegiatan yang dilaksanakan di Kedatuan Luwu.

Kali ini saya kembali ke Palopo karena undangan Festival Pesona Tana Luwu dalam rangkaian Hari Jadi Luwu ke-751 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-73 dan Persiapan Festival Keraton XIII Kedatuan Luwu Tahun 2019.

Namun dalam tulisan ini saya ingin share beberapa hal dan spot foto keren di seputar kota Palopo yang belum lama ini saya kunjungi.

Kambo

Landmark

Enzym

The Icon

Istana Datu Luwu

Dan jangan lupa mencicipi Pugalu a.k.a Kapurung

Pesona Tana Luwu 2019

Tetiba sebuah pesan whatsapp membuyarkan lamunanku. Ternyata aku menerima sebuh foto undangan yang dikirimkan Sekretaris Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) di jakarta. Undangan untuk menghadiri Peringatan Festival Pesona Tana Luwu di Palopo.

Festival ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Luwu ke-751 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-73. Dimana pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran di empat kabupaten Kota se-Tana Luwu. Tahun 2019 ini dipusatkan di Palopo.

Jadilah Jumat sore saya meninggalkan Malili menuju Palopo dan berlanjut ke Belopa. Karena agenda pertama yang akan saya ikuti adalah Diskusi Publik Maccera Tasi’ dalam perspektif agama, budaya dan sains.

Diskusi ini dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan Festival Keraton Nusantara XIII yang rencananya akan diadakan September 2019 di Tana Luwu. Pelaksana Dialog Publik ini adalah Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Tana Luwu bekerjasama dengan Pemdakab Luwu serta panitia Festival Keraton Nusantara XIII di aula Kantor Bappeda Pemda kabupaten Luwu (19/1/2019).

Usai Diskusi Publik kamipun bergeser ke Kota Palopo. Sebelum kembali beristirahat, tempat wisata baru kota Palopo yaitu Kambo pun menjadi tujuan kami. Walhasil, setelah melihat keindahan Kambo, berharap banyak investor lokal mau membuka tempat-tempat seindah Kambo di Tanah Luwu ini.

Minggu (20/1/2019) pagi dilaksanakan eksebisi sepakbola di stadion I La Galigo. Dari tim kesebelasan Luwu Timur dipimpin langsung Wakil Bupati Irwan Bachry Syam.

Usai Eksibisi Bola, rombongan bergeser ke Lapangan Pancasila untuk pembukaan Tana Luwu Expo (TLE). Beragam potensi daerah Tana Luwu dipamerkan di Lapangan Pancasila Palopo. Baik Pemdakab Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu dan seluruh instasi di Kota Palopo ikut meramaikan Tana Luwu Expo yang dibuka secara resmi oleh Walikota Palopo.

Rangkaian demi rangkaian acara Festival Pesona Tana Luwu pun disajikan baik pada siang hari maupun dalam pertunjukan budaya dan kesenian pada malam hari di Lapangan Pancasila.

Senin (21/1/2019) dilaksanakan Dzikir Bersama di Istana Datu Luwu.

Lalu pada Selasa (22/1/2019) dilaksanakan Gala Dinner di Istana Datu Luwu. Turut hadir Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah.

Malam panjang ini pun semakin meriah ketika di penghujung acara, Norma Hande Patabi dari suku To Konde Tana Luwu mengundang Gubernur Sulawesi Selatan, Datu Luwu XL, Walikota Palopo dan seluruh undangan bersama-sama mengikuti langkah kaki dan lingkaran tarian dero yang disebut maddero.

Puncak acara digelar pada Rabu (23/1/2019) yang dimulai dengan pelepasan peserta Karnaval oleh Gubernur Sulawesi Selatan di depan Istana Datu Luwu. Iring-iringan peserta karnaval ini mengenakan pakaian daerah masing-masing dan diikuti oleh peserta dari Kota Palopo, Kab Luwu Timur, Kab Luwu Utara, Kab Luwu, Kab Toraja Utara dan Kab Kolaka Utara.

Setelah seluruh peserta karnaval dan undangan berkumpul di Stadion I La Galigo Palopo, upacara Peringatan Hari Jadi Luwu ke-751 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-73 dimulai dengan pengibaran Pataka, pembacaan sejarah dan sambutan-sambutan.

Alhamdulillah seluruh rangkaian acara Festival Pesona Tana Luwu sebagai peringatan Hari Jadi Luwu ke-751 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-73 terlaksana dengan sukses.

Semoga semangat Toddopuli Temmalara, TebbakkE TongengngE, Taro Ada Taro Gau hingga ikatan Masseddi Siri’ tertanam dan mengakar dalam diri dan kehidupan kita sebagai Refleksi 23 Januari 1946.

Welcome 2019

I closed the book of 2018. Open a new book of 2019. I have 365 pages to write down all memories.

I had an increadible closing of year end 2018. Simple memory that leads to happiness I hope. Everything so sweet, it takes my heartbeat away.

I felt the fireworks, running through my blood. Giving more pressure to load and burned the desire into a big of heart. I want it more and more as I am addicted to it.

My new hope grows so fast. As the new hope for 2019 for better life, better dreams and better achievement.

Have a best new year 2019 everyone 😍

Festival I La Galigo 2018 (Part 3 – end)

Sesungguhnya perjalanan akhir tahun itu membutuhkan pertimbangan yang banyak buatku. Namun kehadiran Profesor Kathryn Robinson dari Australia National University (ANU) membuatku melupakan segala pertimbangan untuk bisa menghadiri Festival I La Galigo ke-3 di Watan Soppeng, Sulawesi Selatan.

Setelah bersepakat dengan sahabatku Mardiani juga Opu Odeng Harta andi Djelling untuk bertemu di Soppeng, maka kami memutuskan untuk registrasi online.

Aku mengenal Prof. Kathy, begitu kami memanggilnya, ketika aku baru kembali ke Indonesia tahun 2009. Saat itu beliau sedang berkunjung ke Sorowako dan Mardiani membawanya ke sanggar Measa Aroa. Jadilah kami bercerita panjang dan membuat saya tertarik mengenal Sorowako lewat hasil penelitiannya yang dibukukan tahun 1986 dengan judul Stepchildren of Progress yang bercerita tentang kisah Dampak kehadiran tambang nikel pada masyarakat Sorowako, tempatku dilahirkan.

Sejak itu, komunikasi kami terus berlanjut. Bahkan dalam beberapa kali kunjungan beliau ke Sorowako, saya berusaha bisa menemani bersama Mardiani. Kami pernah menempuh perjalanan menuju Mahalona melewati Petea, bahkan ke Routa Sulawesi Tenggara dengan menyeberangi danau Towuti.

Selain itu, saya juga pernah diundang sebagai salah satu pembicara dalam workshop tambang di Australia National University tempat Ibu Kathy mengajar tahun 2015 dengan mengangkat judul Issues of Mining Investment and Government Relation in Decentralised Indonesia (in case of Luwu Timur, Sulawesi Selatan).

Olehnya itu, kehadiran beliau dalam Seminar International La Galigo ini tentu menjadi penting untuk saya hadiri juga Mardiani. Karena begitu banyak informasi dan up-date issue yang kami diskusikan dalam setiap kunjungan beliau ke Indonesia.

Walhasil, meskipun jadwal yang sangat padat dari panitia untuk para pembicara, usai mengikuti seminar hari pertama, kami berhasil membawa Ibu Kathy berkeliling kota Soppeng. Tentu saja tak lupa kami berkunjung ke Taman Kota Kalong atau Kelelawar.

Setelah itu kami beristirahat di Triple 8 Riverside Resort yang ternyata juga menjadi tempat makan malam para pembicara dan panitia Seminar dari Universitas Hasanuddin atau Unhas.

Satu hal yang sangat saya sukai ketika melakukan perjalanan seperti ini adalah informal talk yang berisi muatan informasi dalam bentuk brainstorming. Sedikit lebih detail jika informasi itu kami dapatkan dalam kelas apalagi ruang seminar.

Meski hari berikutnya kami tidak sempat lagi bercerita panjang dengan ibu Kathy karena beliau lebih dahulu meninggalkan Soppeng menuju Makassar. Namun pertemuan kami saat menjemput dan mengantarnya ke bandara di Makassar cukup menambah referensi.

Mardiani dan aku memang masih menyelesaikan seminar hari kedua bersama kak Ida el Bahra. Selain itu kami menunggu kedatangan Opu Odeng Harta Andi Djelling. Meski singkat, namun padat aktivitas. Mulai dari kunjungan ke Taman Kalong, berfoto di depan Villa Yuliana dan menikmati hidangan khas Soppeng di Pusat Kuliner Festival La Galigo 2018.

Dan akhirnya kami meninggalkan kota Soppeng dengan segala kisah tentang Festival La Galigo International ke-3 yang unik dan tentu saja seru 😍.

XXX

Festival I La Galigo 2018 (Part 2)

SEMINAR INTERNATIONAL I LA GALIGO III

Sebelum mengikuti seminar, peserta terlebih dahulu melakukan registrasi ulang. Setelah mendapatkan bagde tanda peserta, kami dipersilahkan masuk ke ruangan seminar.

Selang beberapa saat setelah semua peserta memenuhi ruangan, bertempat di Gedung Pertemuan Masyarakat, Bupati Soppeng H.A.Kaswadi Razak membuka secara resmi Seminar Internasional III I La Galigo pada Selasa, 18 Desember 2018.

Seminar yang dilaksanakan dua hari (18-19 Desember 2018) berturut-turut difasilitasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin dengan menghadirkan pembicara nasional dan internasional dari 10 negara. Diantaranya, Belanda, Amerika, Australia, Malaysia, Indonesia, Canada, Jepang, German, Singapore, Inggris dan New Zealand.

Sebagai manuskrip terpanjang di dunia, Naskah atau Kitab La Galigo telah diakui sebagai kekayaan warisan dunia atau Memory of thr World yang ditetapkan oleh Unesco tahun 2016. Keberadaan La Galigo tidak hanya terdapat di Sulawesi selatan Indonesia saja, lembaran-lembarannya bahkan ditemukan di beberapa negara lain. Sehingga panitia mengangkat tema “La Galigo dalam bingkai peradaban dunia“.

Saat ini, naskah La Galigo baru 1/4 yang telah diterbitkan. Masih ada 3/4 yang menjadi peer untuk dituntaskan. Dalam catatan katalog Ilmuwan Belanda R.A Kern, naskah I La Galigo terdiri dari 113 naskah terpisah dengan total halaman mencapai 31.500. R.A Kern menyaring dan membuat ringkasan menjadi 1.356 halaman. Pada abad ke 19, seorang perempuan Bangsawan Bugis, I Colli Puji’e Arung Tanete, menuliskan kembali sepertiga dari keseluruhan pokok cerita I La Galigo setebal 2.851 halaman berukuran folio.

Yang unik dari seminar yang dilaksanakan adalah upaya panitia untuk tetap menjaga kehadiran peserta dengan memberikan pertunjukan tambahan di sela-sela sesi seminar seperti penampilan Tari Bissu, massure’ dan penampilan cerita rakyat Palu Sulawesi Tengah.

PERTUNJUKAN SENI DAN BUDAYA

Festival Budaya La Galigo di kabupaten Soppeng digelar selama 7 hari 7 malam. Selain Seminar Internasional, dilaksanakan pula Tudang Sipulung, Pengukuhan Umpungeng sebagai Med Poin/ Center Poin Indonesia, Penyajian
Sastra dan Tradisi Lisan, Massureq, Permainan Rakyat, Pentas lagu lagu rakyat, Kirab Budaya Berciri La Galigo dan Pameran Budaya diantaranya pameran Benda-Benda Pusaka.


Kirab Budaya yang dilaksanakan pada senin 17 Desember 2018 dimeriahkan oleh seluruh SKPD, Kecamatan se Kabupaten Soppeng, salah satunya Kecamatan Lillirilau yang akan menampilkan budaya adat bugis Mattoana Arajang, atau yang biasa disebut Mattola bala dimana didalamnya terdapat “Sokko Pitung Rupa” sebagai salah satu persyaratan dalam melaksanakan adat tersebut.

Di lokasi pembukaan bahkan ditampilkan aneka kreasi rumah-rumah adat sebagai tempat kemah budaya. Dan pada malam hari di lapangan Gasis, halaman gedung pertemuan masyarakat, dilaksanakan malam seni dan budaya.

To be continued…

Festival I La Galigo 2018 (Part 1)

It was so hectic, just before leaving Jakarta with all those paperwork for the end of year. Lucky I have my besties Tety to help me completed all the task, reassuring all is arranged in order 😍. And time to leave.

Arrived safe in Makassar, Monday Des 17th 2018. I took taxi to drop few things to Perwakilan Bintang Khatulistiwa. Than I waited for another taxi to Soppeng. I want to attend the international seminar of La Galigo. Another lucky for me, i knew Ware, who assisted me with all information about Soppeng.

She provided information about the transportation, the accomodation, the event venues as well as the cullinary which is very important to know before visiting a new place. Eventhough this is the third time I visit Soppeng but known someone there for all information is so much better.

Than Mr. Cambang arrived and I got a seat leaving for Soppeng. On the way, we suddenly have to stop due to the traffic. I thought it was a car accident, evidently its a fallen tree and closed the road.

Mr. Cambang is the hero. With several guys, he began sawing the fallen tree. He didn’t care it was raining. And the other guy also help him to pull and clean the cutting tree so we could pass. It took an hour to pass the closed road and thanks to Mr. Cambang.

We than continue the trip. I met an intereating pensioner sit next to me. He kept talking along the way. He was so proud about the event. He told me all he could about the venue, the beauty of Soppeng people, the history. Only onething he didn’t realise that I was so tired and sleepy but excited to listened too hehehhee.

I was the last passenger to droped off. We arrived ad ADA hotel. Nice, small, cozy hotel and I like my room. It was early arriving since Mardiani is still on her way from Sorowako to soppeng. So I tried my luck to called a friend and another lucky, she just left the hotel and willing to return, yeiy.

She is one of the best coreographer in makassar also a traditional contemporer dance lecture from Makassar National University. Ida El Bahra she called. And I didn’t have to missed the afternoon doing nothing. Because we end up attending the opening ceremony for the Festival together, alhamdulillah.

Another lucky, we met few friends in common, what a small world. We were giggling, meet and greet, off course enjoyed the show.

Together we returned to the hotel and Kak Ida finally agreed to stay with Mardiani and I with an extra bed in the room. After Mardiani arrived, we went to have dinner. It took ages to find a restaurant as it is not many in Soppeng, even a small restaurant.

To be continued ..