Perutku Kini Mengecil

Kisah ini dimulai ketika aku menggunakan pilihan go-massage pada applikasi go-jek di handphoneku pada Rabu 21/9 lalu. Ketika si-mba tukang pijatnya datang, aku minta tolong agar dia memijat perutku. Flu membuat badanku terasa tidak nyaman dan perutku pun terasa begah.

Si mba-nya juga anteng-anteng saja, karena sudah sering membantu perempuan yang turun kandungan, katanya. Namun ketika mulai memegang perutku, si ibu langsung berhenti dan memberikan saran agar aku memeriksakan perutku ke dokter. “Ke dokter kandungan atau ke bidan ya bu, bukan dokter umum pesannya” seraya mengepak perlengkapannya.

Agak sedikit bingung, tapi penjelasannya membuatku memaklumi keputusannya untuk tidak melanjutkan memijat perutku. Perutku terlalu kencang untuk kondisi perempuan yang turun kandungan, jelasnya.

Memang aku tidak langsung bertemu dokter seperti pesannya. Flu memacu rasa malasku untuk meninggalkan tempat tidur kecuali sangat terpaksa. Hingga dua hari setelah itu, barulah aku merasa sedikit lebih baik dan mengayunkan langkah ke rumah sakit Kemang Medical Centre yang tidak jauh dari kost-an ku.

Ada rasa enggan ketika harus berhubungan dengan dokter kandungan, terutama karena statusku. Apalagi perutku yang buncit membuat orang apalagi suster tentu berfikir bahwa aku tengah hamil. Tapi beberapa kali aku juga memanfaatkan asumsi orang-orang di sekitarku, terutama saat berada di kendaraan umum hehehhee, supaya mendapatkan tempat duduk seperti di kereta dan busway tentunya πŸ˜‚.

Meskipun terlambat, akhirnya dokternya pun tiba. Melewati sedikit proses wawancara, akhirnya dr. Lilia Mufida, SpOG menyarankan untuk USG. Walhasil, baru saja dokter menyentuhkan alat USG ke perutku, dokter langsung menyatakan ada kista yang sangat besar di perutku. “Mba, bener ga ada keluhan selama ini? Kistanya dah gede banget. Kita ukur ya… 16.9 x 10.77 x 13.50 cm.

Astaghfirullah… aku langsung membayangkan penggaris panjang untuk mengukur besaran kista di perutku. Pening rasanya. Dokter Lilia bahkan sempat berkelakar, wah, berarti perut besarnya karena berisi kista ya. Sedikit menghiburku tapi menjadi menyeramkan saat dokter Lilia menyampaikan, tidak boleh ada herbal atau alternatif. “Kistanya harus segera diangkat ya. Tidak pakai menunggu ya mba.”

Rasanya melayang saat meninggalkan ruang dokter. Aku melangkah menuju laboratorium untuk melakukan pemeriksaan CA 125. Untuk mengetahui tingkat keganasan. Pasrah saja saat petugas lab mengambil darahku, bahkan tidak berasa sampai selesai, walhasil, tanganku menjadi lebam, karena semestinya dia menggunakan jarum halus bukan yang besar.

Tidak tenang mendapatkan berita itu. Aku menelpon dr. Sintha Utami, SpOG seorang kawan yang juga dokter kandungan. Alhamdulillah, malamnya dia praktek di JMC Mampang. Jadi pemeriksaannya bisa sekalian buat second opinion.

Bukannya melegakan, ternyata hasilnya malah lebih besar dari ukuran dr. Lilia di KMC. Ya Allah, sepertinya tidak sanggup menerima berita ini. Tapi ini sudah menjadi takdirku. Tanpa keluhan sedikitpun. Perut yang selama ini kupikir hanya berisi lemak dari kegemukan, ternyata berisi cairan yang setiap saat bisa membunuhku kalau pecah di dalam.

Alhamdulillah, perjalanan mereka dimudahkan. Bapak dan ibuku mendapat seat dari Sorowako ke Makassar lalu berlanjut ke Jakarta hari Senin pagi. Lalu adikku susy menyusul di hari selasa bersama Bintang anaknya.

Selasa, usai menjemput Susy dan Bintang di bandara, kami langsung menuju Rumah Sakit Bunda Margonda di Depok. Cukup jauh memang, tetapi aku ingin kawanku yang memberiku tindakan sekaligus merawatku dan juga di rumah sakit rekanan Prudential.

Seharian aku melewati beragam pemeriksaan, mulai dari rontgen, pemeriksaan Darah juga pemeriksaan CA 724 untuk tingkat keganasan Cancer hingga bertemu dokter penyakit dalam dan fokter anastesi untuk diagnosa kesiapan operasi pengangkatan kista.

Berusaha untuk tegar, ternyata ketenanganku sempat terganggu oleh ketidaknyamanan pelayanan rumah sakit. Aku yang mencoba memahami bahwa operasiku memang harus dilakukan meskipun dengan pemberitahuan yang begitu tiba-tiba, pergulatan dengan perasaanku sendiri, hingga aku tidak peduli untuk naik turun tangga ketimbang menunggu lift.

Ternyata ujian kesabaranku belum cukup sampai disitu, sampai aku harus membentak perawat yang tidak memberikan penjelasan tahapan-tahapan yang harus dilalui sampai aku harus bolak balik naik turun tangga dari ruang OK ke lantai 2 dan kembali lagi ke ruang OK. Dia memintaku untuk menunggu di depan ruang OK, aku menunggu sampai ketiduran. Dibangunkan karena informasinya kamar sudah ready. Begitu tiba di kamar, perawat di bagian rawat inap malah mempertanyakan pasien poli atau OK. Jiah… jadi harus balik lagi ke ruang OK sebelum kembali ke kamar rawat inap. Luar biasa…

Hampir saja aku membatalkan jadwal operasi yang sudah confirmed. Sampai akhirnya aku menelpon Prudential Customer Line 24 jam dan keluargaku untuk masukan mereka. Bahkan aku sempat maen ke Margo Mall untuk menenangkan hatiku yang gundah. Andai saja bukan dokternya yang aku inginkan untuk menanganiku, pasti sudah kutinggalkan rumah sakit ini.

Akhirnya, pukul 20.00 aku kembali ke RS. Bunda Margonda untuk masuk ke ruang OK. Setelah lebih tenang, aku mulai menjalani persiapan OK sebelum diantar ke kamar untuk beristirahat.

Kamis, 28/9 pukul 4.00 wib aku dibangunkan suster. Usai sholat subuh, kami pun turun ke ruang OK dan memulai persiapan operasi. Dimulai dengan pengukuran tensi. Sedikit tinggi, sepertinya aku cukup tegang, hingga para mantri yang berada di ruang OK memberiku semangat. Lalu aku disuntik untuk pengetesan obat antibiotik di bawah kulit dilanjutkan dengan pemasangan infus.

Dokter anastesi datang dan memberikan penjelasan tentang tahapan anastesi yang akan kulalui. Bukannya menenangkan, malah semakin tegang jadinya. Tapi ehemmm dokternya ramah, dan para mantrinya asek2 jadinya seru dan penuh canda. Terlihat lebih rilex, lalu aku diantar masuk ke ruangan Operasi.

Melihat lampu besar di ruang Operasi membuatku membayangkan lampu sorot di pusat panggung hahahaha… sedikit berusaha menenangkan diri. Lalu dokter anastesi mulai melakukan bius lokal sebelum bius setengah badan.

Serasa gajah bengkak deh. Emang ga bisa lihat seh, tapi terasa koq perutnya dipegang. Akh… ternyata dikasih tidur, bangun2 sudah disuruh pindah tempat tidur. Jiahhhh sakitnyaaaa di perut. Ternyata dah selesai dan diantar ke kamar.

Ya Allah, 2 liter lebih cairan yang dikeluarkan dari dalam perut ini ternyata membuat timbanganku turun 2kg hahahaha… kebayang aku ngangkat 2 liter aqua gede 2 botol… selama ini itu pula yang aku bawa kemana-mana di perut ini.

Dan paska operasi ini, perutku pun mengecil. Wah… badan terasa lebih ringan. Alhamdulillah…

Advertisements

One thought on “Perutku Kini Mengecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s