PLBN ENTIKONG

Alhamdulillah, perjalanan bersama Bapak ke Kuching, Malaysia memberiku kesempatan untuk menunjukkan lingkup pekerjaanku yang baru dan jauh dari bayangan Bapak selama ini.

Selamat Datang di Pos Sempadan Tebedu / Entikong

Saat kembali dari Kuching, Vie dan Bapak memilih perjalanan darat melalui Pos Sempadan / Tebedu yang terhubung dengan PLBN Entikong. Meski sudah tiga tahun bergabung di Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI, ini juga pertama kali Vie berkunjung ke PLBN Entikong.

Vie dan Bapak diantar oleh Abah Zapari dan Paza Dan hingga ke batas negara. Setelah melewati pemeriksaan di pihak Malaysia, kami masuk ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong. Setelah itu kami masuk ke wilayah Indonesia.

PLBN Entikong kerap disebut PLBN pertama di Indonesia yang mulai beroperasi sejak 1 Oktober 1989. Berbatasan langsung dengan pintu perbatasan Tebedu, Sarawak, Malaysia. Sejak renovasi besar 2015-2016, PLBN Entikong berfungsi sebagai pusat aktivitas lintas batas, perdagangan, dan mobilitas masyarakat, serta memperkuat peran strategis Indonesia dalam menjaga kedaulatan dan mendorong pembangunan kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia.

Setelah melalui pemeriksaan imigrasi, kami di jemput oleh salah satu staf PLBN Entikong dan diajak untuk mengambil kenangan di Tugu Pancasila.

Di Tugu Pancasila PLBN Entikong

Selanjutnya kami diajak berkunjung ke kantor pengelola PLBN Entikong dan bersilaturahmi dengan Kepala PLBN Entikong, Teguh Priyadi. Suasana pertemuan begitu hangat dimana beliau berkesempatan menjelaskan berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan lintas batas, memperkuat koordinasi antarinstansi, serta mendorong pembangunan ekonomi masyarakat sekitar.

Foto Bersama Kepala Bidang PLBN Entikong

Selanjutnya kami berkeliling mengunjungi pasar PLBN Entikong yang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat perbatasan. Pasar ini menghadirkan suasana yang hidup dengan beragam produk lokal maupun barang dari Malaysia, mencerminkan dinamika perdagangan lintas batas yang berlangsung setiap hati. 

Bersama Abah Zapari di pasar PLBN Entikong

Usai berkeliling dan melihat fasilitas di sekitar PLBN Entikong, Abah Zapari dan Paza Dan pamit kembali ke Kuching, sedangkan Vie dan Bapak memutuskan untuk tinggal semalam di PLBN Entikong, sehingga dapat merasakan atmosfir kehidupan di perbatasan, sekaligus memahami bagaimana fasilitas ini bukan hanya berfungsi sebagai pintu gerbang negara, tetapi juga sebagai ruang yang menghubungkan budaya, ekonomi, dan kehidupan masyarakat di dua sisi perbatasan.

Wisma Indonesia di PLBN Entikong

Setelah istirahat semalam di PLBN Entikong, paginya Vie dan Bapak melanjutkan perjalanan menuju Bandara Internasional Supadio Pontianak  (PNK). Perjalanan darat dari Entikong ke Pontianak memberikan kesempatan untuk menyaksikan panorama Kalimantan Barat yang hijau dan penuh kehidupan, sekaligus merasakan dinamika mobilitas masyarakat perbatasan yang kerap melintasi jalur ini. Setibanya di bandara, suasana modern dan sibuk langsung terasa, menandai transisi dari kawasan perbatasan ke pusat transportasi internasional. Dari sini, perjalanan dilanjutkan dengan penerbangan menuju Yogyakarta, tempat salah satu adikku dan keluarganya tinggal.

Lanjut ke perjalanan menuju Yogyakarta ya…

Leave a comment