Allah Tempatku Berserah

Dunia Vie seakan runtuh dalam sekejap mata. Baru kemarin lusa hatinya melambung penuh rasa syukur. Gangguan penglihatan yang telah mengganggunya akhirnya dinyatakan sembuh total oleh dokter. Kebahagiaan Vie terasa makin sempurna saat sang ibu tercinta, yang tanpa terduga, akhirnya luluh untuk menemui dokter dan memeriksakan diri.

Vie dan ibu

“Vie, Ibu ikut kata dokter. Mudah-mudahan kondisi ibu bisa lebih baik,” ujar ibunya malam itu, mencoba tersenyum tipis sembari menyembunyikan tangan yang gemetar menahan sesak di dada.

Vie bersimpuh, menggenggam jemari ibunya yang mulai keriput dengan erat. “Bu. Inshaallah Vie sudah sembuh, sekarang giliran Ibu. Tolong jangan sembunyikan sakit ini lagi. Tiga puluh empat tahun Ibu menahan semuanya sendiri demi kami. Vie mohon, Bu… Vie ingin melihat Ibu sehat dan menikmati masa tua tanpa rasa sakit.”

Air mata Vie yang menetes malam itu akhirnya meruntuhkan keteguhan sang ibu. Sambil mengusap kepala putrinya, sang ibu mengangguk pelan. Vie merajut harapan bahwa ini adalah awal dari babak baru yang bahagia. Namun, ketetapan Allah SWT adalah misteri yang tidak pernah bisa diintervensi oleh rencana manusia.

Setelah kunjungan dokter, Vie dan adik-adiknya kembali ke kontrakan untuk bersih-bersih sebelum kembali ke rumah sakit. Namun, belum juga tiba, hp adiknya berdering, setelah diangkat dan berbicara singkat, Shiey adik Vie meminta untuk kembali ke rumah sakit.

“Ibu? Ibu lihat Vie! Ibu jangan tidur!” seru Vie panik. ” teriaknya histeris saat merasakan telapak tangan ibunya dingin. Innalillahi wainnailaihi roji’un.

Adiknya; Dhie dan Shiey mencoba menenangkannya. Dada Vie bergemuruh hebat oleh rasa takut dan kehilangan.

Melepas kepergian ibu

“Pak, mohon maaf… Kami sudah mengerahkan seluruh upaya terbaik kami. Namun, tubuh Ibu sudah terlalu lelah untuk menahan sakit yang terpendam selama puluhan tahun. Ibu telah berpulang dengan sangat tenang,” cerita Bapak saat dokter mengkonfirmasi kepergian ibu dengan suara rendah, menyampaikan takdir yang memutus seluruh harapan Vie.

Allah SWT ternyata lebih menyayangi ibunya. Allah memilih untuk menyembuhkan sang ibu dengan cara-Nya sendiri; menjemputnya pulang ke haribaan-Nya, membebaskannya dari segala penderitaan duniawi yang telah dipikul dengan sabar selama lebih dari tiga dekade.

Bagi Vie, kenyataan ini adalah sebuah hantaman yang luar biasa pedih. Rasa bahagia yang baru saja dikecapnya menguap, digantikan oleh kabut duka yang teramat pekat. Kepergian ibunya begitu memukul batinnya hingga ke titik terdalam. Rumah yang biasanya hangat kini menjelma menjadi ruang yang asing dan sunyi. Vie merasa sebatang kara di tengah dunia yang bising.

d’suardis

“Vie, kamu harus ikhlas. Ini sudah takdir dan jalan terbaik yang Allah gariskan untuk ibumu,” hibur seorang kerabat yang datang melayat, mencoba menguatkan sembari menepuk lembut pundaknya yang bergetar hebat.

Vie hanya terdiam membisu, menatap kosong ke arah lantai. Di dalam lubuk hatinya, dia menjerit perih, Bagaimana bisa aku kuat saat duniaku baru saja hancur? Kenapa di saat aku siap membahagiakannya, Ibu justru pergi? Tidak satu pun ucapan manusia yang mampu menyembuhkan badai kesedihan di dadanya.

Kepedihan itu bahkan terbawa hingga ke alam bawah sadar. Dalam tidurnya yang singkat dan gelisah, air mata Vie tetap mengalir deras membasahi bantal. Dadanya sesak oleh kerinduan yang mencekik. Dalam kesunyian sepertiga malam yang buta, Vie terbangun dengan napas memburu dan sisa isak tangis yang tertahan di tenggorokan.

Pada momen itulah, Vie menyadari satu hakikat terdalam: dia tidak memiliki tempat untuk bercerita, mengadu, dan menumpahkan segala kepedihan ini selain kepada Allah SWT. Manusia memiliki batas untuk mendengarkan, tetapi pintu rahmat Allah selalu terbuka lebar. Di atas sajadah yang terbentang, dalam sujudnya yang panjang dan pasrah, Vie menumpahkan seluruh kerapuhannya.

“Ya Allah…” bisik Vie, tangisnya pecah mengadu pada kain sajadah. “Hamba rindu… Hamba pedih sekali, Ya Allah. Kenapa Engkau mengambil Ibu di saat hamba baru saja sembuh? Mengapa kesempatan untuk berbakti dan membahagiakannya tidak Engkau sisakan sedikit saja untukku?”
Vie mencurahkan segala rasa hancurnya, tentang pengorbanan ibunya yang belum sempat dia balas, dan tentang rasa sepi yang kini mencengkeram hidupnya.

Dalam sujud ku berserah

“Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, hamba tidak memiliki kekuatan jika harus melangkah sendiri. Hanya Engkau yang tahu seberapa hancur dan remuknya dada hamba saat ini. Tolong peluk hati hamba dengan rahmat-Mu, Ya Allah… Kuatkan hamba,” rintihnya pasrah, membiarkan air matanya membanjiri tempat sujud.

Dia menceritakan segalanya kepada Allah, Zat yang Maha Mendengar tanpa pernah jemu. Vie melepaskan seluruh egonya, berserah diri sepenuhnya atas takdir yang telah digariskan.

Perlahan tapi pasti, keajaiban dari sebuah pengaduan yang tulus mulai merasuk dan membalut lukanya. Seiring dengan untaian doa dan zikir yang terus dilantunkan, ketenangan yang tak kasat mata mulai menyelimuti hatinya. Isak tangisnya yang semula sarat akan keputusasaan berubah menjadi helaan napas yang lebih teratur dan damai.

Allah SWT menurunkan sakinah ke dalam hati Vie. Melalui dialog sunyinya dengan Sang Khalik, sebuah pemahaman baru hadir menyentuh jiwanya: Allah membawa ibunya pulang sebagai bentuk istirahat terbaik setelah 34 tahun berjuang dalam kesakitan yang tak pernah dikeluhkan.

Vie menyadari bahwa meskipun ibunya telah tiada, dia tidak benar-benar sendiri. Selama dia menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bersandar dan mencurahkan isi hati, dia akan selalu memiliki kekuatan untuk menatap hari esok. Kini, hatinya jauh lebih tenang, siap memeluk takdir dengan keikhlasan yang utuh.

Moment Idul Fitri bersama kenangan Ibu

Untuk itu, moment Idul Fitri menjadi saat dimana Vie berusaha kembali ke rumah, karena disana, hati Vie selalu tenang dalam pelukan ibu, Al-Fatihah 🤲🏻

-untuk ibuku tersayang-