Maksud Hati…

Selalu terngiang di kepalaku.. kata-kata mantan Manajer HRD ku dulu ketika aku masih bekerja di perusahaan tambang Nikel di Sorowako.

“Jangan pernah mengambil keputusan apapun berdasarkan asumsi!”

image

Meskipun pada saat itu aku yakin sekali dengan apa yang aku kerjakan dan berontak ketika dinyatakan bahwa itu salah.

Namun akhirnya pelajaran itu mendidik aku untuk senantiasa bertanya memperjelas, ketimbang aku sok tau terhadap suatu kejadian lalu ternyata aku salah. Walhasil, aku lebih sering dikatakan bego, bodoh, tidak bisa diandalkan sehingga aku lebih suka melepaskan daripada bertahan pada suatu kondisi, meski aku sangat menginginkannya.

image

Keputusan itu tidak harus selalu keputusan yang besar dalam hidup ini. Bisa keputusan sehari-hari, misalnya pemilihan pakaian, pemilihan bahasa, pemilihan tindakan, keputusan untuk menghadiri suatu acara, dan banyak lagi yang intinya adalah keputusan yang kita ambil dari memilih dalam suatu kondisi dengan segala pilihan dan alternatifnya.

Contoh kecil ketika aku memutuskan menggunakan pakaian dinas dengan asumsi kegiatan itu dihadiri pak Menteri dan dilaksanakan pada hari kerja, tanpa bertanya lagi, aku mengenakan pakaian resmi padahal ketika menghadiri rapat, ternyata peserta diminta memakai batik.

Atau seperti kejadian, aku membayangkan, ketika pimpinan dijemput di bandara sekitar jam 6 sore, tentu perjalanan macet membuatnya lelah dan langsung menuju mess sehingga tidak sempat makan. Maka dengan senang hati kuhidangkan sajian santap malam. Namun ternyata beliau tiba di mess pukul 22.00 dengan kondisi kenyang. Maka dari itu makanan yang tersaji pun sia-sia. Sehingga pada kejadian berikutnya, dimana aku tidak siap apa-apa, pimpinan datang dengan belum makan, jadinya kita buatkan indomie saja hehehe

image

Banyak hal-hal kecil yang kita putuskan dalam hidup ini hanya berdasarkan asumsi tanpa suatu kejelasan. Karena kita menganggap keadaan itu akan sama dengan keadaan sebelumnya, padahal belum tentu demikian. Ada saja faktor yang mempengaruhi sehingga dampaknya beda. Dan bisa saja dalam.proses pengambilan keputusan itu, kita bisa bertanya untuk memperjelasnya.

Karena itulah, beberapa orang yakin bahwa sebenarnya aku sangat bodoh, aku dinilai lamban, tidak dapat mengambil keputusan, aku tidak kreatif, aku masih perlu belajar banyak dan pendidikan tinggi tidak membuatku pintar, justru membuatku semakin terbelakang.

image

Mungkin ada benarnya juga yak. Meskipun di awal aku menolak pernyataan itu. Aku sedih, kesal, marah karena mereka menyinggung pendidikanku, menyinggung posisi aku di kerjaan, menyinggung hal-hal yang sebenarnya tidak ada  sangkut pautnya dengan keputusan yang aku ambil. Hanya karena aku mempertanyakan pendapat mereka. Memperjelas kondisi yang mereka ciptakan sendiri.

Lantas.. mengapa itu menjadi masalah?

Jika kita menelusuri permasalahan-demi permasalahan, ternyata kebanyakan adalah bersumber pada komunikasi yang tidak efektif. Lantas, dimana ketidakefektifannya? Hehehe, terpulang kembali pada asumsi yang terbangun saat komunikasi itu tercipta.

image

Kecenderungan manusia adalah melakukan mental blok pada dirinya sendiri. Ketika bertemu dengan sebuah situasi, maka akan langsung terbayang pengalaman saat berada pada situasi yang sama di masa sebelumnya. Sehingga, jalur keputusan bisa menjadi sangat cepat, seiring dengan istilah ala bisa karena biasa.

Nah ketika kondisi itu masih sama, pelakunya masih sama, sifatnya juga masih sama, maka.. tidak akan ada persoalan. Namun ketika ada sedikit saja yang berubah, maka yang muncul adalah masalah. Nah bagi orang-orang tertentu, masalah itu bisa diselesaikan atau semakin dipertajam, kembali lagi pada jenis keputusannya.

image

Sama saja diriku. Ketika aku diberikan satu kebijakan untuk mengelola suatu dana. Perintah yang aku terima adalah, dana itu dikelola untuk keperluan operasional. Tapi yang terjadi ketika terjadi perubahan pucuk pimpinan adalah, kebijakan itu salah dan aku yang dipersalahkan karena aku menjelaskan dengan asumsi bahwa pimpinan yang baru sudah paham tentang kebijakan itu sebelumnya.

Dan ternyata, pimpinan yang baru memang sudah melakukan blok mental bahwa aku salah dalam mengelola kebijakan itu sehingga aku harus diberikan hukuman bahkan aku harus diganti.

image

Hahaha, banyak kasus kehidupan tidak sejalan karena kita melakukan mental block dengan asumsi. Lalu menjadikannya dasar dalam pengambilan keputusan, yang pada akhirnya, berujung pada penyesalan. Entahlah, kembali berpulang pada kita semua.. sasaran tujuan, dan akhir dari keputusan itu, menguntungkan kah… atau justru sebaliknya, merugikan..

Hanya saja, pemikiran positiflah yang akan membawa kita pada jawabannya, bisa saja itu merugikan, namun jika kita bisa melihat sisi positifnya, maka akan positif hasilnya, jika kita melihatnya negatif, maka yakinlah, biar dicarikan jalan keluar, sampai perang urat leherpun, tetap akan negatif… hehhehe.. selamat memikirkannya..

image

Walhasil, jadilah aku tergantikan, namun ketika aku kembali ke tempat itu dan melihat gerangan perbaikan apakah yang terjadi, ternyata kondisinya bukan membaik, malah memburuk. Wah, sedih, ingin membantu, namun apa daya, kemampuanku terbatas.

image

Images source: googling

la_vie

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s