KIRAB BUDAYA MTKL 2018

Pagi yang cerah. Apalagi sarapan yang disuguhkan di kota sejarah ini luar biasa.

Rasanya masih ingin berlama-lama meluruskan badan namun aktivitas hari ini telah menanti. Kegiatan Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018 akan launching hari ini, dimulai dengan Kirab Budaya. Namun sebelum ke istana, aku bersama Ketua Panitia MTKL 2018, Brigjen TNI Muslimin Akib juga sohibku Mardiani Pandego terlebih dahulu melakukan penjemputan raja-raja Nusantara yang tiba di Bandara Bua.

Setelah penjemputan itu, para raja-raja ini dihantarkan ke hotel Agro Wisata Palopo untuk bersalin pakaian kemudian diantarkan ke Istana Langkanae Kedatuan Luwu guna menyaksikan pembukaan MTKL 2018 dan Kirab Budaya.

Tampak diantara raja-raja yang hadir, diantaranya Pringgo Husodo dari Pakualam, Ratu Noerlizah Nurdin dari Kepulauan Riau, Sulthan Aji M Heriansyah Andrian Sulaeman dari Kesultanan Paser, Andi Bau Sawerigading Addatuang Sawitto dari Pinrang, Andi Pamadengrukka Mappasomba dari Makassar, Amsal Sampetondok dari Walmas, Andi Fatimah Bau Massepe dari Suppa, Hj. Andi Farina Karaeng Bau dari Selayar, Andi Mapparessa dari Makassar juga hadir tamu dari luar negeri seperti Pangeran Haji Muhammad Syah dari Brunei Darussalam dan Tengku Shawal dari Singapura.

Kirab budaya Tana Luwu diikuti sekitar 1.500 peserta dari 12 anak Suku Kerajaan Luwu, yakni, To Ugi (Bugis), To Ware, To Ala, To Raja, To Rongkong, To Pamona, To Limolang, To seko, To Wotu, To Padoe, To Bajo dan To Mengkoka.

Kirab Budaya dimulai pada pukul 13.00 dengan rute yang ditempuh kurang lebih 2km. Garis start dari Lapangan Pancasila di jalan Sudirman, menuju Jalan Andi Djemma, lalu belok kanan ke Jalan Yusuf Arif dan belok kiri ke Jalan Landau. Pasukan Istana Langkanae Kedatuan Luwu mengelilingi istana sebanyak 3 (tiga) kali lalu dilanjutkan oleh peserta kirab lainnya menuju Istana langkanae Kedatuan Luwu termasuk didalamnya adalah air suci dari Manjapai yang sehari sebelumnya disemayamkan di baruga Maddika Bua.

Kerajaan Luwu merupakan kerajaan yang dituakan diantara tiga kerajaan “TellumpoccoE” atau Tiga Kerajaan Utama di Sulawesi Selatan, yakni Kerajaan luwu, Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Dalam naskah Mitologi Lagaligo disebut bahwa: Silsilah cikal bakal Pajung atau Raja-Raja Luwu dimuai dari To PalanroE (Yang Maha Menciptakan) atau Patoto’E (Yang Maga Menentukan Nasib) yang bersemayam di Kayangan, di puncak langit ke tujuh (Botinglangi) bersama permaisurinya Palinge’E (Yang Maha Mengatur). Putera tertua bernama La Togelangi Batara Guru Sangkuru’ Wira’ diturunkan di muka vumi (Attawareng) yang kemudian menjadi Pajung Luwu pertama. Baginda digantikan oleh puteranya yang digekar I Hati Uleng Batara Lattu opunna Ware’. Baginda Batara Lattu kemudian melahirkan Sawerigading yang masyhur sebagai “Cultural Hero” (Pahlawan Budaya) bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Susunan Pasukan Kerajaan Luwu

  1. Pada bagian terdepan barisan kirab adalah PANGNGARU’ atau pasukan tempur yang terdiri dari kesatuan-kesatuan Para Anak Suku Palili yang pada Kirab kali ini oleh pasukan Pangngaru’ To Rongkong,
  2. Sesudah itu menyusul pembawa SULOLANGI, yaitu semacam obor penolakan marabahaya,
  3. Kemudian menyusul pembawa BESSI BANRANGA atau tombak pengawal sebagai simboljabatan resmi dari Kerajaan Luwu,
  4. Sesudah itu menyusul pembawa BESSI MANRAWE atau tombak pengawal sebagai simbol kedudukan tertinggi dalam Kerajaan Luwu yaitu Pajung Luwu,
  5. Sesudah itu menyusul pembawa BESSI PAKKA (Tombak Bercabang Dua) yang merupakan simbol kekuasaan politik tertinggi dalam Kerajaan Luwu, yaitu Pajung Luwu yang merupakan Penguasa Tunggal mewakili Dewata Mattanrumpulaweng-E (Dewata Bertanduk Emas) yang merupakan Dewata Tertinggi menurut mitologi Luwu
  6. Payung berwarna Kuning yang disebut “TEDDUNG PULAWENG” adalah payung kebesaran yang dipakai untuk mengiringi Datu Luwu,
  7. LELLUNG, yang digunakan oleh Datu Luwu untuk menghindarkan sinar matahari,
  8. Payung berwarna merah yang disebut “TEDDUNG PEROE(Payung MaEja) adalah payung yng digunakan untuk prosesi pelantikan Datu Luwu,
  9. PAKKALIAWO’ merupakan pasukan pengawal pribadi “Opu Cenning” atau Panglima Perang. Pasukan pengawal ini berjumlah 12 orang dengan menggunakan “KALIAWO” atau Perisai dengan logo “Singkerru Mulajaji” simbol Panglima Perang Kedatuan Luwu. Karena itu pasukan ini disebut PAKKALIAWO,
  10. Kemudian menyusul BATE-BATE’ TELLLUE yang terdiri dari: (a) Matoa Wate’ (b) Matoa Lalengtonro’ (c) Matoa Cenrana
  11. Selanjutnya menyusul bendera ANA’ TELLUE yang terdiri dari: (a) Mokole Baebuntan (b) Ma’dika Bua (c) Ma’dika Ponrang,
  12. Sesudah itu menyusul BENDERA TELLUE (Tiga Bendera Utama) yang masing-masing: (a) Macang-NgE (b) Kamummu-E (c) Goncing-E. Yang merupakan bendera kesatuan dari Pasukan Inti atau Pasukan Elit Kerajaan Luwu.

Setelah pasukan Kedatuan, berlanjut pasukan kirab dari Mokole Baebunta yang dipimpin langsung oleh We Masita Kampasu.

Disusul rombongan kirab budaya Kemaddikaan Bua dipimpin langsung oleh Maddika Bua La Saifuddin Kaddiraja bersama dengan beberapa Rumpun Maddika Bua, diataranya: Palempang Walenrang, Panggulu Kada Ilang Batu, Panggulu Kada Siteba, Panggulu Kada Lemo Tua, Panggulu Kada Bolong, Panggulu Kada Tombang beserta para Tomakakanya, Para Warga Tana Toraja Perantau Irian, Banua A’pa Tongkonan Annang Pulona beserta beberapa Parengngenya.

Disusul Kirab Budaya Kemaddikaan Ponrang dipimpin langsung oleh La Sana Kira (Maddika Ponrang) bersama dengan beberapa Parengnge dan Tomakakanya, diantaranya Parengge Padagusi Rante Balla yaitu Pa’Lairan Kanna serta Tomakaka Ulu Salu.

Selanjutnya Lili Pasiajing yang terdiri dari: Mokole Matano (Nuha) yang dipimpin langsung oleh Andi Baso dan sebelas wilayah Moholanya, Arung Senga dan Maddika Sangalla

Selanjutnya Kirab Budaya dari Tana Wajo Belawa.

Kehadiran Pasukan Kirab Keraton Kedatuan Luwu menggambarkan Ikatan “Maseddi Siri‘ yaitu Kemanunggalan dalam Keanekaragaman yang mengikat masyarakat Luwu dalam Prinsip Bhineka Tunggal Ika (Unity in Diversity).

Next : MATTOANA MTKL 2018

PROSESI MALEKKE WAE

Sebagaimana dijelaskan dalam Sinopsis Upacara Adat Matemmu Taung yang disusun oleh Andi Anthon Pangerang, budayawan Tana Luwu, prosesi adat Luwu Matemmu Taung (Menutup Tahun) terdiri dari 3 (tiga) episode yang secara kronologis sebagai berikut: 1. Malekke Wae 2. Ri Addoja 3. Matemmu Taung Sebelum memulai prosesi adat di Kedatuan Luwu, maka langkah pertama yang dilakukan adalah prosesi pengambilan air suci yang disebut Prosesi Malekke Wae. Menurut tradisi masyarakat Adat Luwu, setiap rumpun keluarga besar masing-masing memiliki Bubung Parani (Tarungeng) atau sumber air khusus untuk digunakan oleh keluarga tersebut dalam setiap upacara adat. Air merupakan simbol “kebersihan” karena air merupakan sarana untuk membersihkan segala noda. Dimana “air” juga merupakan kebutuhan paling vital bagi kehidupan setiap makhluk hidup yang juga merupakan simbol kesejahteraan hidup. Karena itu, “air khusus” yang diambil (rilekke) secara ritual untuk digunakan dalam upacara adat merupakan “kolektivitas” dari sebuah komunitas adat Luwu sekaligus sebagai simbol “kebersihan” dari niat atau Nawaitu dari segenap rumpun keluarga (Rara Buku) dari komunitas adat Luwu. Dalam pelaksanaan upacara adat ini demi mengharapkan “kesejahteraan hidup” bersama di bawah rahmat dan ridha Allah Subhanahu Wataalah. Untuk kegiatan Kedatuan Luwu, terdapat 3 lokasi pengambilan air suci: pertama di Ussu Cerekang Luwu Timur, kedua di Lampenai Luwu Utara dan ketiga di Manjapai Kolaka Utara. Dalam perjalanan kami menuju Manjapai, Kolaka Utara pada 16/1, Andi Sulolipu Sulthani Opu Pananrang menjelaskan bahwa prosesi Malekke Wae untuk kegiatan-kegiatan adat di istana Kedatuan Luwu dilakukan secara bergantian dari ketiga bubung parani diatas. Pergantian ini dilakukan untuk menjaga keadilan dan rasa kebersamaan dari masyarakat Tana Luwu. Berhubung Pua Cerekang telah mangkat dan belum ada pengganti maka belum bisa mengambil air di Cerekang, lalu pengambilan air suci terakhir dilakukan di Lampenai untuk proses peresmian nama jalan Andi djemma di Makassar (10/11/2017), maka air suci untuk acara Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018 diambil dari Manjapai sebutan dari desa Majapahit kecamatan Pakue Tengah kabupaten Kolaka Utara, propinsi Sulawesi Tenggara. Prosesi Malekke Wae dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00 wita dari Bubung Parani, milik rumpun keluarga dari Komunitas adat tersebut. Acara ini dilakukan pagi hari dengan harapan agar kesejahteraan hidup masyarakat adat akan senantiasa menanjak seperti matahari terbit di ufuk timur. Air suci yang diambil (ri lekke) melalui sebuah ritual adat dan kemudian diarak dengan Sinrangeng Lakko (usungan adat di atas pangkuan seorang gadis remaja yang beum aqil balik (tenna wette pa dara) sebagai simbol kesucian. Usungan adat (Sinrangeng Lakko) tersebut diiringi oleh Parullu Gau (instrument dan atribut-atribut adat) serta para pemuka adat. Prosesi Persiapan Sebelum Prosesi malekke Wae dilakukan, beberapa kelengkapan instrument dan atribut-atribut adat yang perlu dipersiapkan antara lain: 1. Wala suji atau Rakki yang terbuat dari anyaman bambu lalu dibungkus kain kuning 2. Cerek untuk tampungan air 3. Sokko patang rupa atau ketan 4 (empat) warna lengkap dengan hiasan telur atau lauk lainnya, juga sepasang ayam yang dibakar utuh 4. Kelapa kuning dan lilin masing-masing 2 buah. 5. Perlengkapan cera’ bambu untuk wala suji berupa 5 lembar daun sirih, 3 butir telur ayam kampung, 5 buah pinang, sejumput kapur sirih, sepasang ayam kampung yang disembelih di atas bambu yang akan dibelah untuk membuat anyaman rakki. 6. Lellung yang terbuat dari 4 (empat bilah bambu) yang dipasangkan kain kuning dan dihantarkan oleh 6 gadis belia yang belum aqil baligh. 7. 1 orang gadis belia pembawa cerek yang belum akil baligh. 8. Iring-iringan pemuka adat dan tokoh masyarakat. Setelah prosesi Malekke Wae untuk MTKL 2018 ini dilaksanakan maka air suci yang telah diambil itu kemudian dibawa untuk disemayamkan di baruga Maddika Bua di Bua sebelum dibawa ke Istana Datu Luwu. 18/1 air suci ini lalu diarak mengelilingi istana Datu Luwu sebelum peserta kirab masuk ke dalam istana sebagai awal dimulainya perhelatan akbar Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018.

Next : Kirab Budaya MTKL 2018

Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018

Perintah telah diberikan, meski dengan pertimbangan waktu yang kasip tetap saja perintah itu harus dilaksanakan. Kadang timbul pertanyaan, siapa diri ini untuk dapat terlibat dalam perhelatan akbar Kedatuan Luwu seperti ini. Namun segala pemikiran itu kutepis dengan sebuah semangat mengembalikan Maruah Datu Luwu. Berbekalkan rekomendasi dari Ketua Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) usai Rapat koordinasi bersama TopapoataE Datu Luwu XL La Maradang Mackulau Opu To Bau dan ketua panitia Matemmu Taung Kedatuan Luwu (MTKL) 2018 serta beberapa Tokoh KKTL (Minggu, 7/1) maka dibentuklah tim kecil penggalangan dana dengan tugas pertama menyelesaikin proposal kegiatan Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018 dan membuat list partisipasi warga KKTL. Tim ini terdiri dari Hartawati Andi Djelling, Ismi Seneng Nuppu, Muzakkir Tovagho dan penulis. Selasa, 9/1 tim ini melakukan meeting internal bersama ketua Panitia di mess Pemda Luwu Timur di Jakarta. Dalam proses pertemuan ini, komunikasi dan koordinasi dengan panitia lokal di Palopo juga dilakukan untuk melengkapi bahan proposal yang dibutuhkan. Akhirnya proposal yang sudah ditunggu hampir 3 bulan bisa diselesaikan dan langsung dicetak demikian juga undangan. Sedangkan list partisipasi warga KKTL segera disebarluaskan melalu beberapa group whatsap pun perorangan. Keesokan harinya, audiens dilakukan bersama Presiden Direktur PT Vale Indonesia di Energy Building Jakarta. Dalam audiensi tersebut, dilakukan juga Conference Call bersama tim External Relations yang berkedudukan di Sorowako. Alhamdulillah, satu persatu proposal dan undangan yang disiapkan mulai terdistribusi, begitupun informasi partisipasi warga KKTL terus mengisi ruang komunikasi kami. Sehingga semangat pelaksanaan acara pun semakin terbakar dan optimisme terbangun dalan setiap komunikasi yang terjalin. Meskipun ada beberapa orang yang sempat “peccu” dan memutuskan untuk melepaskan diri dari kegiatan persiapan perhelatan MTKL 2018 ini. Hingga tiba hari dimana pelaksanaan perhelatan akbar Matemmu Taung semakin dekat. Hanya ibu Hartawati yang akrab disapa Opu Odeng bersama penulis yang berkesempatan berangkat ke Palopo. Kami memilih berangkat dengan penerbangan awal ke Makassar pada 15/1. Tiba di Makassar, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Palopo dengan panther. Dengan perhitungan kami bisa tiba sore hari. Sehingga masih berkesempatan berfoto di depan icon Kota Palopo. Setelah istirahat yang cukup, usai makan malam kami diajak mengecek beberapa persiapan panitia. Termasuk undangan yang akan disebar. Usai sarapan keesokan harinya (16/1), kami lalu bergeser ke Istana Datu Luwu untuk membantu persiapan lainnya. Wah, ternyata ruang sekretariatnya belum digunakan secara maksimal, sehingga kami bersihkan dulu kemudian ditata kembali dan membuka pintu besar sebagai pertanda sekretariat siap digunakan. Pada kesempatan itu, beberapa panitia mulai berdatangan, koordinasi dan pengecekan kesiapan-kesiapan satu persatu mulai diurai. Sehingga rundown acara bisa disusun. Entahlah, saya merasa bahwa panitia yang terlibat dalam acara ini sudah sangat terlatih untuk bagian masing-masing sehingga setiap ditanya, seringkali jawabannya sudah ada atau sudah disiapkan, namun bagi saya yang baru di lingkungan ini menjadi bingung dengan persiapannya hehehhe. Mungkin karena saya terbiasa kerja berdasarkan list uraian pekerjaan ☺ Menjelang siang, mobil yang akan kami gunakan ke Manjapai Kolaka Utara Sulawesu Tenggara pun tiba. Opu Odeng dan saya pun bergegas menyiapkan segala kebutuhan karena kami juga akan ikut untuk melakukan ritual Malekke Wae atau pengambilan air suci. Next : Prosesi Malekke Wae

Dia Masih Mencintaimu

Kadangkala cemburu membuat kita tidak lagi berfikir jernih. Apalagi ketika kita lebih mengikuti emosi di dada. Sudah tidak lagi mau berfikir secara logis dan jernih. Yang ada hanya penggalan-penggalan kemarahan dan prasangka yang apabila tidak dapat diatur, justru akan semakin menyakitkan.

Dia masih mencintaimu. Itu yang harus kau pahami. Itu yang harus kau mengerti. Tapi kau telah menyakitinya. Sakit yang teramat sulit untuk dia lupakan begitu saja. Kau telah menyinggung harga diri yang selama ini ditutupnya rapat. Meski begitu, dia masih mencintaimu.

Aku hanya ingin kau tahu, jangan birkan pikiran-pikiran negatif membuatmu lupa akan kasih sayang yang ada diantara kalian. Karena prasangkamu itu, justru akan menjadi jurang pemisah hubungan kalian. 

Kau hanya perlu mengikatnya kembali dengan cinta kasihmu. Justru disaat-saat seperti ini, kehadiranmu sangat berarti untuknya. Karena ketika kau bertahan dengan antipatimu, dengan segala tingkah keakuanmu, maka yakinlah, dia pun akan mengambil jarak darimu.

Yakinlah, bahwa dia masih sangat mencintaimu. Dia hanya terluka oleh sikapmu. Rangkul dia, sayangi dia, karena itu, kebersamaan kalian tidak boleh pudar hanya karena merasa saling kenal satu sama lain. 

Sangat disayangkan jika kebersamaan kalian selama ini harus retak hanya karena bertahan pada ego masing-masing. Jangan biarkan siapapun masuk diantara kalian karena jarak yang kalian ciptakan sendiri.

Yakinlah… bahwa dia masih mencintaimu, dia hanya terluka. Dan hanya kau yang bisa menyembuhkan lukanya dengan kasih sayangmu… bukan dengan sikap arogan dan rasa keakuanmu. Jangan biarkan dia mendapat penawarnya dari orang lain. Untuk itu, berdirilah disisinya, jadilah pelengkap hidupnya, jadilah ummi, sahabat, kawan dan pelipur laranya…

Ingatlah.. bahwa dia masih sangat mencintaimu, jangan biarkan luka itu semakin melebar… rawatlah dan jagalah hingga luka itu tertutup dan kalian bisa bersama kembali dengan rukun dan bahagia ☺☺🙏🙏
#myfreedomspace

RANGGON HILLS BOGOR

Usai menikmati malam pergantian tahun di rumah Ketua Umum Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) dr. Andi Arus Victor, S.P.M(K) di Cibubur,  aku dan Andi Hartawati melanjutkan perjalanan menuju Bogor. Sepanjang perjalanan pada malam pertama 1 Desember 2018 itu, kami menyaksikan langit yang cerah dengan warna-warni kembang api yang saling bersahutan. Sehingga perjalanan malam itu terasa singkat.

Kami menuju rumah Andi Ira untuk beristirahat disana. Kala pagi menjelang, kami pun bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju lokasi wisata Ranggon Hills dan Curug Pangerang di Gunung Salak Endah Bogor. Lokasi ini merupakan wilayah perbukitan yang saat ini menjadi trending topik di media sosial dengan panorama Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Butuh waktu 1,5 jam dari kota Bogor ke lokasi wisata Ranggon Hills ini, melalui jalan yang cukup berkelok menuju Gunung Picung, Pamijahan Bogor. Saat memasuki gerbang kawasan Hutan Lindung TNGHS, setiap pengunjung dikenakan tarif RP. 15.000,- per orang juga retribusi kendaraan sebesar Rp. 10.000,- per mobil atau Rp. 5.000,- per motor. Nah, ketika tiba di Ranggon hills, pengunjung masih dikenakan retribusi Rp. 10.000,- perorang dan biaya parkir  mobil Rp. 10.000,- dan motor Rp. 5.000,-.

Sepeda layang adalah tujuan kami ke Ranggon Hills ini. Karena sebelumnya saat kami mengunjungi obyek wisata Pabangbon Leuwiliang, yang tidak jauh dari Ranggon Hills ini, tidak menyediakan wahana Sepeda layang. Namun saat kami tiba di Ranggon Hills ini, ternyata bukan hanya wahana sepeda layang, ternyata banyak alternatif spot foto yang seru, seperti rumah pohon, sarang burung, ayunan gantung, kursi gantung, bunga matahari, spot foto love, klasik, perahu bambu. 

Namun ternyata antrian untuk naik sepeda layang cukup panjang, bukan hanya itu, tetapi di semua wahana spot foto. antriannya semakin siang semakin panjang. Syukurnya kami datang masih lebih pagi, jadi bisa berfoto di beberapa spot selfie yang belum pernah kami foto di tempat lain. Semua spot foto selfie di tempat ini gratis, kecuali sepeda layang yang dikenakan Rp. 10.000,- per orang. Demikian pula dengan foto khusus DSLR dikenakan Rp. 10.000,- per 5-8 foto per orang per spot foto.

Saat perut mulai teriak-teriak minta diisi dan waktu sholat Dhuhur pun memanggil, kami memutuskan untuk turun ke musholla di sekitar parkiran. Cukup lama kami beristirahat sebelum akhirnya kami melanjutkan petualangan siang itu menuju curug Pangeran yang berjarak kurang lebih 500 meter dari musholla dengan jalan kaki. 

Curug Pangeran ini tidak tinggi. Kurang lebih 6 meter saja. Ketika kami tiba di curug ini, beberapa pemuda nampak sedang menikmati loncatan dari atas curug. Sebenarnya gregetan ingin ikutan melompat seperti mereka, tapi tidak ada perempuan lain yang melakukannya. Jadi, cukup terjun aja dari batu di tengah guyuran air terjun.

Brrrrr, ternyata airnya dingin sekali. Tidak bisa lama-lama berendam di kolam alami di bawah curug. Saya lebih memilih untuk kembali ke batu-batu alam yang besar di pinggiran kolam. Batu-batu ini menjadi hiasan sungai kecil dari curug. Memang tempat yang asyik buat berwisata, terutama jika membawa keluarga. Bahkan, di tengah kolam, ada bentangan tali sebagai tanda batas kedalaman bagi yang tidak bisa berenang. 

Cukup lama kami berendam dan berenang-renang di kolam curug Pangerang. Dan syukurnya karena ketika mengunjungi tempat itu, kami belum mengetahui bahwa terdapat beberapa legenda mitos dan cerita-cerita rakyat terkait dengan curug itu. Andaikata sebelumnya sudah kami ketahui, barangkali kami tidak akan menikmati curug Pangeran itu dengan bebas hiihihi. 

Dari beberapa blog yang saya baca, dipercaya bahwa Curug Pangeran memiliki legenda yang belum diketahui banyak orang. Konon ceritanya curug Pangeran ini merupakan petilasan teman dekat Raden Kian Santang, putera Prabu Siliwangi. Sahabat Raden Kian Santang ini berasal dari Kerajaan Pajajaran. Menurut penuturan beberapa warga, setiap malam jum’at sering terdengan suara orang mandi, permainan alat musik tradisional seperti jaipongan, dengungan dan suara kereta kencana. 

Tidak hanya legenda, pun terselip mitos yang cukup dipercaya oleh warga sekitar, utamanya muda-mudi yang belum mendapatkan jodoh. Penduduk kampung sekitar, percaya bahwa air Curug Pangeran memiliki khasiat seperti juga pada Curug Kondang dan Curug Cigamea, untuk mempermudah mendapatkan jodoh bagi para jomblo jika mandi di air kolam curug. Ahahahayy, untuk saya tidak tahu sebelum beranang di Curug Pangeran, wah, bisa jadi musryik deh kalau berenang terus niatnya percaya mitos hehehehhe.

Dari lokasi Ranggon Hills dan Curug Pangeran terlihat beberapa villa yang disewakan untuk para pengunjung yang ingin menikmati suasana malam di kawasan TNGHS Bogor ini. Bagi yang ingin camping dengan menggunakan tenda juga tersedia tempat-tempat yang bisa digunakan, dengan beragam pemandangan juga fasilitas seperti toilet, musholla, warung-warung makan. 

LEPAS 2017 SAMBUT 2018

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, Engkau sampaikan usiaku pada pergantian tahun Masehi lepas 2017 sambut 2018. Banyak hal yang aku telah jalani melewati tahun yang berlalu, dan masih ada harapan-harapan yang aku bingkai untuk tahun mendatang. Semoga Engkau berkenan memberikan ijin, ridha dan kehendakMu ya Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Besar keinginan untuk pulang dan menikmati masa-masa pergantian tahun bersama keluarga dan teman-temanku, namun rencana lain telah aku konfirmasi sebelumnya. Yakni menyongsong pergantian tahun bersama keluarga Tana Luwu di kediaman Ketua Umum Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) di Cibubur, dr. Andi Arus Viktor S.P.M(K).

Tanggal 31 siang, aku tiba di rumah dr. Andi Arvi, begitu kami menyingkat nama shohibul bait. Aku membuat salad buah sebagai buah tangan, sekaligus bekal karena rencananya kami akan berenang di kolam renang shohibul bait. Tidak lama kemudian, kakak sekaligus sahabatku Ismi datang bersama keluarganya, tentu saja dengan membawa bekal nasi kuning bersama telor balado dan sambal goreng hati. 

Kami memang tidak bermaksud merepotkan tuan rumah dengan rencana piknik kami. Namun ternyata, istri dr. Arvi telah menyiapkan beberapa menu yang kemudian menjadi sajian makan malam karena siang itu bekal kami menjadi sajian pembuka. Menu yang disiapkan ibu Theresia antara lain Coto Makassar lengkap dengan burasanya, Ayam Mayo, Ikan Bakar, Kerang juga es campur sebagai pencuci mulut.

Setelah ngobrol sebentar, aku dan anak-anak kak Ismi; Fatimah, Daeng Ahmad dan si ganteng Hasan akhirnya memilih berenang di kolam renang. Suasana sore itu sangat nyaman, apalagi ada tongkonan di rumah dr. Arvi, serasa kami sedang berlibur di Toraja. Tidak lama kemudian, tuan rumah, mertua dan saudara ipar kak Ismi pun ikut menikmati kesegaran air kolam renang itu.

Cukup puas bolak balik tepian kolam renang, kami pun naik dan berdiskusi tentang rencana pertunjukan yang akan dilaksanakan tahun 2018 ini. Wah, kami mendapatkan ide-ide segar yang menjadi olahan kak Sabil, ipar kak Ismi yang menjadi sutradara di pertunjukan nanti. Masih rahasia, sampai launching teasernya nanti hehhehe.

Hari menjelang sore saat Opu Odeng, panggilan ibu Hartawati Andi Djelling, salah satu warga KKTL lainnya tiba. Ceritapun semakin panjang hingga akhirnya tiba waktu makan malam. Beragam topik menjadi bahasan kami tepat di tepi jolam renang. Akhhh suasananya begitu asyik. Apalagi saat ikan-ikan itu mulai dibakar, aneka cemilan menjadi sajian di hadapan kami dan tentu saja, keluarga dr. Arvi mulai berdatangan menambah riuh suasana. 

Tidak banyak yang dilakukan malam itu, selain ngobrol santai di tepi kolam renang, hingga akhirnya petasan dan kembang api mulai bersahutan, tanda detik-detik pergantian tahun dimulai. Akh… tahun pun berganti, doapun terlantun diiringi harapan akan kebahagiaan dan kedamaian di muka bumi ini.

Bismillah “Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaaha ilallah, Allahu-Akbar, Laa haula wala quwata illa billahil aliyil adzim” 

Welcome 2018 😍😍😍

PAPA Leuwiliang Bogor

Niatnya sih ga pengen liburan jauh… pengen beres-beres kamar, merubah interior. Tapi permintaan itu tak bisa aku tolak. Judulnya menjadi sopir bantu mengantar ke Bogor. 

Walhasil, aku coba tidur lebih awal pada Jumat malam, 24/12/2017. Mengingat harus bangun subuh dan bawa mobil. Terbayang macetnya jalanan menuju Bogor. Seperti biasa, saat libur, Jakarta akan lengang berbanding terbalik dengan daerah-daerah sekitar Jakarta seperti Bogor, Bandung dan sebagainya.

Namun, perkiraanku salah. Jalanan cukup lengang. Hanya butuh 1.5jam akhirnya kami tiba di perumahan Cimanggu. Setelah melepas penat sejenak, hahahha aku justru membantu merapikan ruang tamu dan kamar tidur si empunya rumah. Maklum, rumah baru jadi masih awut-awutan.. hahahaha… jauh-jauh rapihin rumah orang, kamar sendiri terabaikan ckckckck. 

Anyway busway, hari masih panjang, akhirnya kami pun memutuskan untuk menjajal sebuah lokasi wisata baru di Bogor, tepatnya di kampung Pabangbon desa Leuwiliang. Nama lokasi wisatanya Panorama Pabangbon yang disingkat PAPA.

Wah, luar biasa perjalanan menuju obyek wisata ini. Jalan yang kecil dengan tanjakan curam, bahkan ada yang sampai 70° kemiringan. Setelah melewati perjalanan yang berliku dan penuh tantangan, kami tiba disebuah lahan kosong yang ternyata dijadikan tempat parkir. 

Awalnya kami bermaksud untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Syukurnya tidak kami lakukan. Setelah kami memutuskan untuk menyewa ojek ke lokasi yang dituju, subhanallah, ternyata tujuan kami masih butuh 15 menit berkendara motor melalui jalan yang berliku dan lebih terjal dari sebelumnya.

Deg-degan, perasaan was was serta takut jatuh menjadi teman sepanjang jalan. Apalagi kanan kiri yang dilalui adalah jurang yang sangat dalam. Subhanalah… akhirnya, begitu lega saat kami tiba di tempat tujuan. Eh, koq mirip Taman Wisata Malino ya? Hahahha.. cuma kurang kuda deh☺.

Menghitung semua rombongan cukup, kami pun memasuki lokasi wisata PAPA dengan membayar retribusi Rp. 10.000,- /orang. Berlaku sama untuk anak-anak maupun dewasa.

Wah… serunya melihat semua orang yang datang. Suasana piknik pun menjadi pemandangan, melengkapi hijau pinus dan pemandangan kota Bogor yang nun jauh di mata. 

Akhirnya kami memutuskan untuk mulai hunting foto-foto keren dengan uji nyali ketinggian. Pilihan pertama pun jatuh pada flying fox bergantung di atas ketinggian dengan bersandar pada ikatan tali di badan. Jiahhhhh meskipun bukan yang pertama, tetap aja deg-degannya berasa hahaha…

Setelah itu, pilihan jatuh pada obor. Eh, ternyata pengikutnya banyak hahaha, semua pada mau foto. Jadinya berkumpul beramai-ramailah kita foto bareng. 

Nah, di obyek wisata PAPA ini, selain di pintu masuk, retribusi juga diberlakukan untuk setiap spot foto. Retribusinya Bervariasi 

Setelah itu, pilihan jatuh untuk foto pada perahu di atas pinus. Terbayang mimpi yang dulu pernah saya pikirkan, ketika pertama kali mengetahui kisah Sawerigading. Kala itu, Sawerigading harus pergi mencari We Cudai, lalu oleh saudara kembarnya, We Tenriabeng, maka ditebanglah pohon walenrenge untuk dijadikan perahu Sawerigading. 

Saat kapal sudah siap, tiang pancang utama kapal ternyata tumbang. lalu tiang itu jatuh tepat di atas daratan, sehingga membelah ujung daratan terpisah dan membentuk pulau kecil yang diberi nama Bulupoloe.

Ketika mengetahui cerita itu, saya pun membayangkan suatu waktu nanti, di pulau bulupoloe itu akan didirikan sebuah museum atau obyek wisata sejarah Perahu Sawerigading dilengkapi sarana penginapan dan restoran laut, tentu saja dilengkapi pelabuhan kecil dan sarana permainan air untuk pelayanan tamu yang menginap.

Akh.. kali ini cukup berpose saja di ujung perahu yang tertambat di atas dahan pinus. Sungguh luar biasa, menantang rasa takut akan ketinggian, dengan berjalan di jembatan kurang lebih 15-20 meter dari tanah. Takut akan goyangan jembatan di antara pepohonan pinus, takut akan goyangan jembatan karena jumlah pengunjung  cukup padat, takut akan jatuh karena tidak berpegang dengan erat, takut dan takut dan takut akan ketinggian.

Tapi ternyata tantangan itu menjadi addiction – kecanduan. Karena bukannya berhenti, bulan sabit dan rumah hobbit pun menjadi target berikutnya. Kalau di rumah hobbit sih hampir sama dengan perahu, tapi bulan sabit, wow… mesti menaiki tangga dulu lalu naik ke atas bulan sabit pakai berdiri pula hahahha…

Masih ingin melanjutkan petualangan -petualangan seru lainnya, tapi ingat bahwa masih ingin lanjut ke tajur halang, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti. lagipula waktu telah menunjukkan pukul 15.00 dan kami belum mengisi kampung tengah. Tapi yang paling berpengaruh adalah panjang antrian dari masing-masing target foto yang ga bisa dipendekkan hehehehe.

Belum puas rasanya mengeksplorasi obyek wisata Panorama Pabangbon, Bogor ini. Mesti datang kembali tapi lebih pagi bahkan kalau perlu menginap untuk merasakan nikmat yang alam sediakan di bukit pinus ini. ☺☺☺

Jelajah Malaysia 2017

Sambungan dari… Jelajah Singapore 2017

#Day1

Berbekalkan SGD 18, dini hari kami tiba di Petronas Matchap dengan menggunakan Qistna Express bus dengan rute Singapore menuju Kuala Lumpur. Sedikit was was saat kami melalui imigrasi, teringat kasus Dwi saat  tiba di bandara Singapore. Tapi alhamdulillah, semua baik-baik saja  dan lancar baik ketika kami melalui imigrasi Singapore juga ketika masuk ke imigrasi Malaysia. 

Kalau kita naik bus menyeberang Singapore – Malaysia, maka semua bus akan singgah di Woodlands Checkpoint. Disini, semua penumpang bus harus turun dari bus cukup membawa Passport untuk melakukan check out keluar dari Singapore. Nah, yang penting jangan lupa bus yang dinaiki, karena kita tidak menurunkan barang, jadi kebanyakan penumpang akan berlarian takut ditinggal bus hehhehe. Kecuali yang memang berganti bus.

Berhubung kita memang menaiki bus tujuan Kuala Lumpur, maka, kami tidak perlu menurunkan barang di Woodlands checkpoint. Kami hanya harus membawa pssport dan tiket pesawat kembali ke Indonesia. Setelah melalui proses imigrasi yang cukup singkat, kami kembali ke bus dan meneruskan perjalanan  ke Johor Bahru dengan jarak tempuh sekitat 15 menit. Disinilah kami melakukan check in imigrasi masuk ke Malaysia, sedikit rempong karena harus membawa semua barang bawaan dan melewati antrian yang panjang. 

Alhamdulillah, semua berjalan lancar hingga akhirnya kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Matchap. Usai proses imigrasi memasuki Malaysia, saya justru tidak bisa tidur seperti sebelumnya. Sampai akhirnya kami tiba di terminal besar Larkin. Terjadi perubahan rencana, ketika kami diminta turun dari bus dan diminta untuk berganti bus. Awalnya sedikit mengkhawatirkan, apalagi kami cewek bertiga di dini hari, di terminal besar pulak hahahaha. 

Namun ternyata kekhawatiran kami berlebihan karena kami segera mendapatkan bus pengganti. Bus ini bus tingkat. Namun sedikit kesal, karena kami harus menaikkan bagasi sendiri, tanpa bantuan dari sopir maupun kenek bus hehhehe… tempat bagasinya di lantai 2 bus, jadi lebih tinggi dari tempat bagasi bus biasanya. Mungkin juga karena kebiasaan dibantu kenek bus kalau di Indonesia, jadinya manja deh. Lalu kami masuk ke bus dan menunggu bus berangkat.

Akhirnya kami tiba di Petronas Matchap. Begitu turun, saya baru paham bahwa yang dimaksud petronas itu adalah pertamina kalau di Indonesia hehehe, saya pikir awalnya kami akan disinggahkan di resting area yang di Malaysia disebut RnR (Rehat dan Rawat). Ternyata Petronasnya tidak jauh dari RnR Matchap.

Setelah memberitahu Dato Baha yang menjemput kami, sebuah mobil Harrier hitam berhenti di depan kami. Subhanallah, ternyata kami dijemput langsung oleh Dato Baha panggilan singkat untuk Dato Seri Dr.Tengku Daeng BahaIsmail bin Tengku Daeng H. Ahmad Alhaj ditemani istrinya ibu Ratih Safitri. Kami pun menuju rumah Dato Baha, alhamdulillah diberi pula kami tempat untuk beristirahat. Tidak banyak aktivitas sebelum kami akhirnya terlelap setelah seharian beraktivitas di Singapore sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaysia.

#Day2

Menghirup udara segar di hari yang indah, subhanallah sungguh “Fabi’ayyi ala’i rabbikuma tukazziban : maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Bangun pagi, menyaksikan pemandangan di depan mata sungguh luar biasa. Saya tidak lupa, pertama kali berkunjung ke kediaman Dato Baha adalah ketika saya mengikuti kunjungan Muhibah Datu Luwu XL, H. Andi Maradang Mackulau Opu To Bau medio 2016. Kunjungan waktu itu dilakukan di malam hari, dan hari ini saya bisa menyaksikan bangunan ini kembali di waktu siang, sedikit berbeda namun tidak menghilangkan kesan kemegahannya.

Tidak berapa lama, kami diajak ibu Ratih untuk sarapan pagi, sebelum melanjutkan petualangan hari ini menuju Kuala Lumpur. Namun, sebelum berangkat, tuan rumah mengizinkan kami untuk melihat koleksi pribadinya. Kamipun diajak berkeliling dan mendapatkan penjelasan. Dato Baha merupakan zuriat langsung keturunan dari Opu Daeng Marewah, satu dari bersaudara Lima Opu Daeng.

Dari zuriat Opu Daeng Marewah inilah pertalian darah Bugis menyatukan Dato Baha dengan kerajaan Luwu. Dalam pencarian silsilah keluarga inilah, Dato Baha bahkan berkunjung ke Kedatuan Luwu dan memperat kembali benang merah kekeluargaan yang sempat terurai. Dan kunjungan itu mendapat balasan dari Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu to Bau yang melakukan perjalanan muhibah di semenanjung Melayu pertengahan tahun 2016 lalu. 

Usai melihat-lihat koleksi pribadi Dato Baha, maka kami pun berangkat menuju Kuala Lumpur. Namun sebelum itu, kami diajak untuk singgah dan menikmati nasi briyani Gam yang terkenal di Batupahat Johor lalu melanjutkan perjalanan ke Melaka.

Perjalanan ke Melaka kami tempuh kurang lebih 3 jam melewati perkampungan. Suasananya asri dan tertata rapi. Begitu tiba, kami langsung menuju pusat kota. Subhanallah, bangunan tua bersejarah terpampang di hadapan kami. Benarlah, kota ini merupakan kota warisan dunia oleh UNESCO. 

Meskipun tak lama, kami sempat berfoto di depan museum, di depan Gedung Proklamasi kemerdekaan melaka, benteng pertahanan Portugis Porta de Santiago atau kerap disebut gerbang benteng A famosa. Juga di depan replika Istana Kesultanan Melaka. 

Usai berkeliling, Dato Baha membawa kami berkeliling memasuki pusat kota Melaka, dimana tampak bangunan-bangunan dicat merah. Yang akhirnya kami mendapat penjelasan bahwa daerah dengan cat merah itu adalah bangunan Belanda sebagai ciri khas kota Melaka. Lalu berakhir di depan Gereja Tua Malaka dengan pemandangan Tugu Queen Victoria Fountain atau air mancur Ratu Victoria.

Saat memasuki waktu Dzuhur, kami pun beranjak menuju Mesjid Selat Melaka. Subhanallah, di bawah terik matahari, mesjid ini berada di tepi laut, mengingatkanku akan mesjid terapung di Makassar. 

Perjalananpun berlanjut ke pusat kota baru Putera Jaya. Kali ini kami melewati tol besar. Semoat singgah di RnR Seremban dan menikmati kacang tanah yang 4 kali lipat besarnya dari kacang tanah di Indonesia hehehe. Besar dan montok seperti yang makan hehehehhe. 

Begitu tiba di pusat kota Putera Jaya, mata saya tak berhenti berkedip. Subhanallah, saya mengagumi siapapun yang merencanakan pembangunan kota ini. Kantor Pemerintahan Perdana Menteri Malaysia berada di tengah, dengan bangunan-bangunan pemerintahan yang megah di kanan kiri jalan, belum lagi mesjid Putera dengan perpaduan Persia Melayu dengan warna lembut. 

Lanjut, akhirnya kami tiba di Kuala Lumpur, tepatnya di Istana Sultan. Bangunan megah yang berhiaskan kuning sebagai simbol kekuasaan. 

Meski terik, kami tetap menikmati perjalanan itu. Apalagi tuan rumah sudah menerima kami dengan baik. Mengantarkan kami untuk melihat-lihat, memberikan penjelasan, mengabadikan gaya-gaya kami yang acakadul sampai kami tiba di Kuala Lumpur menjelang Isya.

Malam tidak menjadikan petualangan hari ini berakhir. Setelah check in di City Comfort Hotel, kami hanya diberi waktu sejam untuk bersih-bersih. Setelah itu kami dibawa ke Hokkaido Seafood untuk santap malam. Dato Baha pun mengajak putera puterinya santap malam bersama kami, Bob, Hana dan Arif.

Setelah itu kami ke twin tower sebelum akhirnya kembali ke hotel untuk istirahat. 

#Day3

Bangun pagi, kami sarapan. Hari ini resmi petualangan kami sendiri, karena Dato Baha dan istri ada kegiatan lain setelah seharian kemarin menemani kami keliling-keliling. Sebenarnya sih, tidak banyak tempat yang ingin kami kunjungi selain berburu barang-barang pesanan hehehhe. Secara, hari ini waktu kami juga tidak banyak sebelum bersiap-siap ke bandara Kuala Lumpur. 

Setelah sarapan, kami check out dari hotel, namun tetap menitipkan koper-koper kami di lobby hotel. Setelah itu, kami menuju Jalan India karena Opu Odeng ingin mencari pernak-pernik pesta perkawinan. Secara, beliau adalah seorang wedding organizer jadi kemana-mana memang yang dicari adalah barang-barang unik atribut pernikahan.

Usai berkeliling-keliling dan mendapatkan barang-barang yang diinginkan, kami pun beranjak ke Pasar Sentral Kuala Lumpur. Wah.. pasarnya keren dan bersih, berasa di Thamrin City sih hehehe. Masih ingin lanjut, namun mengingat kami harus ke bandara, maka kami pun segera kembali ke hotel dan menuju bandara Kuala Lumpur.

Tidak panjang proses antrian saat check in maupun imigrasi di bandara Kuala Lumpur. Dengan Batik Air kami kembali ke Jakarta, Indonesia. Alhamdulillah, kami pun tiba dengan selamat. Seru rasanya jalan-jalan bertiga dalam rangka kunjungan budaya ini. Semoga ada kesempatan lain lagi, di petualangan yang baru serta cerita yang lebih seru dan heboh…

#viestory

Jelajah Singapore 2017

Sambungan : Malam Bugis di Singapore

#Day1

Trip Budaya, begitulah aku menyebut perjalananku kali ini. Meskipun sedikit ribet untuk mendapat izin perjalanan hehehhe, bertepatan dengan beberapa kegiatan di kantor. Namun berhubung tiket sudah confirmed dan pekerjaan dapat didelegasikan, jadilah ijinpun diberikan, alhamdulillah. 😀

Kali ini perjalananku bersama Opu Odeng dan Dwi terbilang cukup nyentrik. Dikarenakan kami bertemu kawan-kawan baru yang mewarnai perjalanan kami dengan indahnya. Tentu saja beragam perbedaan menjadi sebuah kewajaran, apalagi saat saling ingat mengingatkan itu menjadi cerita yang menyegarkan. 

Seperti halnya saat kami tiba di Singapore, Tengku Shawal menjemput kami di bandara. Sedikit menunggu karena Dwi harus menghadap ke petugas Imigrasi. Hehehh, dia menyelipkan KTP di buku passportnya, sehingga petugas menemukan perbedaan nama yang tertulis di Kartu Tanda Penduduknya dengan yang tertera di Passport. Sehingga perbedaan huruf itupun menjadi persoalan. Untungnya, nama Tengku Shawal dan nomor teleponnya sedikit mujarab untuk diberikan kepada petugas imigrasi sehingga Dwi dapat bergabung dengan kami untuk melanjutkan perjalanan hehehhe.

Kami meninggalkan bandara dengan lega. Berhubung cuaca sangat cerah, bahkan sedikit panas, kami diajak menikmati santap siang di pusat jajanan lokal Singapore, di Bedok Food Corner. Makanannya beragam, kalau di Indonesia seperti foodcourt gitu deh. Pilihan makanan pun jatuh pada menu ayam Singapore yang dimasak steam dan digoreng. Yummm lezat sekali. 

Lantas kami disuguhkan minuman khas yang namanya Bandung. Sedikit unik kelihatannya, namun begitu diminum, saya jadi teringat minuman khas yang sering saya minum di Makassar. Syrup DHT merah, dicampur susu ditambah air soda heehheh.. warnanya yang pink, membuat tergoda, ditambah dingin es yang mencair. Sambil sedikit belajar bahasa melayu, dingin mereka sebut sejuk. 😀

Usai menikmati santap siang, kami diajak berkeliling kota Singapore yang luasnya hampir sama dengan Kota Jakarta sekitar 710km persegi saja. Tapi penataan kotanya lebih rapi dan apik. Semua sangat teratur, meski nampak pembangunan di kanan kiri jalan. Hingga akhirnya kami mengarah ke Kampung Gelam tempat kami akan menginap di kota metropolitan ini.

Kami memilih tempat ini, karena dekat dengan tempat acara Sirri na Pesse di Malay Heritage Centre Kampunh Glam yang akan kami ikuti malam harinya. Awalnya kami ke ABC Hostels, persis di belakang mesjid Sultan, namun berhubung sedang renovasi, sehingga barang-barang sedikit berantakan jadi kami memutuskan untuk mencari hostel lainnya. Akhirnya, setelah putar-putar, kami pun memilih Five Stone Hotel di Beach Rd.

Setelah rehat sebentar, kami pun bersiap-siap untuk menghadiri acara di Istana Kampung Glam. Acaranya meriah, unik dan menampilkan banyak tarian serta pementasan lainnya. Beberapa tokoh penting juga hadir utamanya para keturunan Lima Opu Daeng yang berdarah Bugis di Singapore, Malaysia dan Indonesia.

Kawan kecilku yang bermukim di Singapore, Titik, pun menyempatkan hadir pada malam itu. Walhasil, alih-alih beristirahat, usai menghadiri malam Sirri na Pesse itu, kami hanya kembali ke hostel untuk berganti pakaian lalu menuju Mustafa Centre, salah satu kompleks perbelanjaan ramah lingkungan di Singapore. Kompleks perbelanjaaan ini buka 24 jam. Jadi kami berkeliling untuk melihat-lihat beberapa cinderamata dan tentu saja mengisi kantong tengah yang kelaparan di tengah malam hihihihi…

Waktu menunjukkan waktu tengah malam saat kami melangkahkan kaki kembali ke hostel. Ingin menikmati udara malam, kami pun berjalan kaki. Sungguh asyik berjalan kaki di Singapore. Bahkan di siang hari pun, orang cenderung berjalan kaki atau naik bus berkeliling kota. Pemerintah Singapore tidak hanya mengakomodir kebutuhan transportasi warganya, tetapi juga para pejalan kaki. Bisa dilihat dari peta-peta yang terpampang di beberapa halte bus/MRT yang memberikan gambaran rute pejalan kaki bahkan kalori yang terbakar untuk rute yang dilalui.

#Day2

Mata ini masih sangat berat, memang masih subuh, dan senyap. Namun kami harus bangun, hari yang indah sudah menanti. Perjalanan masih harus kami lanjutkan. Namun, percakapan kami sedikit terganggu karena harus berbisik. Betapa tidak, kalau kami bertiga berbicara, berasa sekampung yang berkomunikasi hahahhha. Ternyata, suara kami cukup mengganggu tidur satu kawan baru kami di kamar. 

Ana, asal Jerman, telah lebih dulu di kamar ini sebelum kami tiba. Ternyata, kesunyian adalah sahabatnya, sehingga sedikit suara saat bergerak dapat mengganggunya, apalagi korokanku hahahaha. Maafkan kami Ana. Walhasil, kami merapikan barang-barang dengan perlahan, sebisa mungkin tanpa suara, termasuk keluar masuk pintu kamar karena harus ke kamar mandi.

Pagipun menjelang, koper-koper kami telah siap. Ana pun sudah terbangun dan kami bisa leluasa berbicara. Namun tetap kami menjaga bahasa yang kami lontarkan. Biar bagaimanapun, ketegangan sempat menguasai kami, saat Ana merasa terusik oleh suara kami sebelumnya. 

Setelah berpamitan, kami pun meninggalkan kamar, menuju lobby dan menitipkan koper-koper kami. Memang kami belum meninggalkan Singapore, tetapi kami ingin mengunjungi beberapa tempat sehingga memilih check out lebih awal.

Tujuan pertama kami adalah Mesjid Sultan. Mesjid ini letaknya persis di depan Malay Heritage Centre atau Istana Kampong Gelam. Secara, Mesjid Sultan didirikan semasa pemerintahan Sultan Hussain Shah di tahun 1824 dan oleh Pemerintah Singapore dijadikan Monumen Kebangsaan di tahun 1975.

Titik menemui kami di depan Istana Kampong Glam sebelum kami bertolak ke Orchard Rd. Orchard Rd ini sangat terkenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan utama di Asia. Rumah bagi fashion favorit, toko-toko retail dan tentu saja memiliki beragam pilihan lifestyle. 

Begitu tiba di tempat ini, kami langsung diajak Titik menuju ke sebuah gedung. Menggunakan Lift, kami naik ke lantai 6, dan saya batu tahu bahwa ada sebuah produk bra khusus untuk pasien paska operasi kanker payudara. Bra yang dibuat khusus itu harus mengikut pada ukuran pasien, tidak seperti bra pada umumnya.

Setelah transaksi, kami pun meninggalkan gedung itu menuju Marina Bay. Perjalanan hari ini kami pilih menggunakan bus. Pelayanan bus di Singapore pada dasarnya sangat nyaman, kecuali saat melakukan pembayaran tunai, sebaiknya menyiapkan receh koin sesuai harga tiket. Karena sopir bus tidak menyiapkan kembalian jika kita membayar lebih. Sebagian besar transaksi dilakukan secara cashless menggunakan kartu.

Meskipun sudah berulang kali ke Marina bay, tetap saja tempat ini menjadi tujuan saat ke Singapore. Pertama karena rekan perjalanan yang berbeda, kedua karena tempat kunjungan umum di Singapore memang terbatas hehehehe. Begitupun kali ini. Berempat, the three musketeermistress – tellu makkunrai warani namakanja plus Titik, kami berpetualang seharian di sepanjang Marina Bay.

Sampai sore menjelang, kami kembali ke Five Stone Hostels. Setelah memdapatkan karcis bus ke Johor, kami pun bersantai sejenak menikmati suasana sore di Bussorah St. Keunikan lain dari Singapore adalah sebahagian besar penduduknya adalah warga negara asing. Sehingga beragam menu makanan dari berbagai negara terhidang di sepanjang Bussorah St.

Pukul 7.30 etang, kamipun bergeser ke Halte Bus yang akan menghantarkan kami ke Johor. Awalnya kami ingin memcoba sleeper train langsung dari Singapore ke Kuala Lumpur, Malaysia. Namun ternyata tujuan kami berubah sehingga kami diarahkan untuk naik bus. Meskipun bus yang kami tumpangi tujuan Kuala Lumpur, namun kami akan turun di Machap setelah berganti bus di terminal besar Larkin. 

Perjalanan kami di singapore pun berhenti saat stempel imigrasi yang menyatakan kami telah keluar dari Singapore dibubuhkan di passport kami di perbatasan Singapore-Malaysia. Terbayang perjalanan panjang masih menanti sebelum kami kembali ke tanah air.

Bersambung ke… Jelajah Malaysia 2017

#viestory #myday #myfreedomspace #ceritavie

Malam Bugis di Singapore

Akhirnya ada juga sela-sela bisa menuliskan kisah perjalanan lintas negara yang penuh drama dan bahagia. Mengulang perjalanan muhibah lalu, alhamdulillah, kesempatan untuk berkeliling 2 negara tetangga dapat terwujud kembali, yakni Singapore dan Malaysia. Bahkan perjalanan itu meninggalkan kisah yang fantastis, sedramatis kepergian kami bertiga, the three musketeermistress – tellu makkunrai warani namakanja 😎. Opu Odeng, Dwi dan diriku 😀.

Awalnya sedikit sedih mendapat kabar bahwa Datu Luwu XL berhalangan hadir pada malam Sirri Na Pesse, di Malay Heritage Centre, Singapore (13/10). Kabar itu saya terima dari salah satu rekan Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) di Jakarta, Hartawati Andi Djelling atau disapa Opu Odeng. Walhasil, berembuklah kami berdua dan dengan segala keterbatasan akhirnya memutuskan untuk tetap berangkat dan menghadiri kegiatan itu.

Setelah melakukan konfirmasi dengan Raja M Khalid, selaku kontak person pelaksana kegiatan Malay Culture Fest 2017, kami diminta untuk melakukan reservasi, dikarenakan tempat terbatas. Alhamdulillah, reservasi kami berhasil, dan undangan pun dikirimkan secara online. 
Senangnya lagi, ternyata sahabatku Dwi Astuti juga berkesempatan untuk ikut serta dalam perjalanan. Meski dengan syarat hahahhaha. 🤑

Walhasil, dimulailah segala persiapan. Mulai dari mencari tiket murah meriah, lokasi penginapan yang dekat dengan tempat acara, serta transportasi yang akan digunakan selama perjalanan. Tak lupa pula, kami melakukan koordinasi dengan beberapa kawan yang berdomisili di Singapore dan Malaysia. Dan tidak kalah penting dalam persiapan, kami harus menentukan pakaian yang akan digunakan untuk menghadiri acara itu. 

Dalam undangan, disebutkan bahwa pakaian yang dikenakan bisa memilih antara etnis maupun batik. Sehingga pertimbangan kami pun lebih condong pada penggunaan pakaian adat Bugis, sesuai tema acara. Hehehhe, intinya untuk tampil berpakaian adat Bugis di Singapore 😀.

Keberangkatan

Berhubung penerbangan internasional, jadinya ke Bandara Soekarno Hatta jadi lebih awal. Masih ngantuk-ngantuk deh hehehhee. Apalagi badan letih karena sehari sebelum berangkat masih sempat latihan Maumere dengan ibu-ibu Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) DKI.

Kami berangkat menggunakan Tiger Airways menuju Singapore. Begitu tiba, kami sedikit terhambat dengan urusan imigrasi. Si cantik Dwi Astutik ternyata harus berhubungan dengan petugas imigrasi karena perbedaan nama di Passport dan KTP. Jadi, pelajaran juga, lain kali, tidak usah menyertakan KTP pada passport, jadi tidak perlu jadi masalah hehehehe.

Alhamdulillah, kami dijemput seorang kawan, Tengku Shawal Tengku Azis yang datang bersama kawannya Man. Tengku Shawal merupakan keturunan ke-7 dari Sultan Hussein Mohammed Shah Ibni Almarhum Sultan Mahmud Riayat Shah III, Singapore 1819-1835 yang seyogyanya merupakan penghuni Istana Kampong Gelam Singapore sebelum diubah menjadi Malay Heritage Centre oleh Pemerintah Singapore.

Dari bandara, kami diajak makan siang di pusat kuliner Bedok Food Corner. Mengaku pencinta kuliner, maka pilihan siang itu adalah chicken rice, dengan pilihan ayam bakar dan ayam tim yummmm… Ditambah lagi minuman Bandung, soda dicampur syrop merah yang di kota Bandung sendiri ga bakal ketemu. Tidak berlama-lama di tempat makan, kami pun beranjak dan berkeliling Singapore sebelum akhirnya kami menuju hostel tempat kami nginap.

Hostel Five Stone yang kami tempati cukup nyaman. Kami mengambil kamar untuk ber empat. Pilihannya memang kamar berempat, berenam, berdelapan atau berduabelas. Ranjangnya tingkat dan kamar mandi bersama. Hmmm, begitu tiba di kamar, kami punya satu teman sekamar asal Jerman, namanya Ana. 
Tidak banyak waktu tersisa untuk bersantai, kamipun segera bersiap untuk menghadiri acara Sirri Na Pesse. 

Malam Sirri Na Pesse

Sungguh malam yang luar biasa. Tidak menyangka, kami disambut baik, bahkan menjadi artis semalam, karena banyak yang minta foto bersama hehehehe.

Acara dimulai dengan pertunjukan Sang Maestro Gendang Daeng Serang dan kawan-kawan dari Makassar. Mereka tampil memukau penonton dengan tabuhan gendang yang mampu memainkan rasa dan jiwa dengan sentuhan melodinya.

Malam Sirri Na Pesse ini menjadi malam puncak dari pengembaraan penelusuran identitas keturunan Bugis di Singapura. Konon dalam kisah yang dipentaskan malam itu, diawali dengan pertarungan Sultan Hasanuddin dan Arung Palaka, maka kelima anak muda keturunan Luwu Bugis memutuskan untuk mengembara mengelilingi lautan hingga mereka tiba di Riau.

Keturunan Luwu Bugis ini dikenal sebagai sebutan Lima Opu Daeng, adalah Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewa, Opu Daeng Menambung, Opu Daeng Cellak dan Opu Daeng Kamase. Pengembaraan mereka ditemani sang ayah, Opu Daeng Ri Lakke setelah perang antara Sultan Hasanuddin dan Arung Palaka.

Dalam kisahnya, kelima Opu Daeng ini banyak terlibat dalam upaya menggagalkan rencana Raja Kecik untuk merebut tahta kekuasaan Sultan Selangor, Johor di Malaysia juga Riau. Sedangkan kaitan dengan Singapore, adalah dari pernikahan puteri ketiga Opu Daeng Cellak, Tengku Puteh dengan Sri Sultan Abdul Jalil V Mu’azzam menurut data dari Kerabat Kesultanan Johol – Riau Lingga – Singapura – di Istana Kampong Gelam Singapura.

Malam yang cerah, dipadankan dengan teknologi pencahayaan serta iringan alunan melodi musik Bugis yang mendayu bersahutan dengan tabuhan gendang yang menghentak menambah pesona Istana Kampong Gelam di malam itu. Belum lagi ramai pengunjung yang hadir, seolah terhipnotis mengikuti rangkaian kegiatan Sirri Na Pesse. Keingintahuan, ketertarikan serta keterlibatan penonton menjadi benang merah dalam memeriahkan suasana.

Kegiatan yang dikemas dalam Pesta Budaya Melayu 2017 dan Sirri Na Pesse –  Menelusuri Identiti Masyarakat Bugis diSingapura, diadakan pada Jumat, 13 Oktober 2017, jam 8.30 malam di Taman Warisan Melayu Singapura. Hadir dalam acara tersebut, Zuraidah Abdullah, Pengurus Yayasan Warisan Melayu, Chang Hwee Nee, Ketua Pegawai Eksekutif Lembaga Warisan Negara dan Alvin Tan Penolong Ketua Pegawai Eksekutif Lembaga Warisan Negara. 

Acara juga dihadiri dan dibuka secara resmi oleh, Tamu Kehormatan, Baey Yam Keng, Setiausaha Parlimen Kementerian Kebudayaan, Masyarakat dan Pemuda dengan memukul Gendang Ubi sebanyak tiga kali…

Beberapa tarian pun dipentaskan oleh sanggar Ida El Bahra dari Makassar juga lakonan Lima Opu Daeng yang sangat memukau.

Meskipun acaranya terbilang singkat untuk sebuah pentas seni, namun karena keterpaduan, kesinambungan cerita, serta alur yang terplot rapi membuat malam  Sirri na Pesse menjadi buah bibir hingga akhir pertunjukan. Decak kagum senantiasa terlontar dari pengunjung yang hadir. Kiranya, identitas Bugis di tanah Melayu khususnya di Singapore menambah khasanah kekayaan budaya dan pemersatu Nusantara. Aamiin yra.

Bersambung… 

*Jelajah Singapore 2017

#viestory #myday #myfreedomspace #ceritavie