Pagi yang cerah. Apalagi sarapan yang disuguhkan di kota sejarah ini luar biasa.

Rasanya masih ingin berlama-lama meluruskan badan namun aktivitas hari ini telah menanti. Kegiatan Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018 akan launching hari ini, dimulai dengan Kirab Budaya. Namun sebelum ke istana, aku bersama Ketua Panitia MTKL 2018, Brigjen TNI Muslimin Akib juga sohibku Mardiani Pandego terlebih dahulu melakukan penjemputan raja-raja Nusantara yang tiba di Bandara Bua.

Setelah penjemputan itu, para raja-raja ini dihantarkan ke hotel Agro Wisata Palopo untuk bersalin pakaian kemudian diantarkan ke Istana Langkanae Kedatuan Luwu guna menyaksikan pembukaan MTKL 2018 dan Kirab Budaya.

Tampak diantara raja-raja yang hadir, diantaranya Pringgo Husodo dari Pakualam, Ratu Noerlizah Nurdin dari Kepulauan Riau, Sulthan Aji M Heriansyah Andrian Sulaeman dari Kesultanan Paser, Andi Bau Sawerigading Addatuang Sawitto dari Pinrang, Andi Pamadengrukka Mappasomba dari Makassar, Amsal Sampetondok dari Walmas, Andi Fatimah Bau Massepe dari Suppa, Hj. Andi Farina Karaeng Bau dari Selayar, Andi Mapparessa dari Makassar juga hadir tamu dari luar negeri seperti Pangeran Haji Muhammad Syah dari Brunei Darussalam dan Tengku Shawal dari Singapura.

Kirab budaya Tana Luwu diikuti sekitar 1.500 peserta dari 12 anak Suku Kerajaan Luwu, yakni, To Ugi (Bugis), To Ware, To Ala, To Raja, To Rongkong, To Pamona, To Limolang, To seko, To Wotu, To Padoe, To Bajo dan To Mengkoka.

Kirab Budaya dimulai pada pukul 13.00 dengan rute yang ditempuh kurang lebih 2km. Garis start dari Lapangan Pancasila di jalan Sudirman, menuju Jalan Andi Djemma, lalu belok kanan ke Jalan Yusuf Arif dan belok kiri ke Jalan Landau. Pasukan Istana Langkanae Kedatuan Luwu mengelilingi istana sebanyak 3 (tiga) kali lalu dilanjutkan oleh peserta kirab lainnya menuju Istana langkanae Kedatuan Luwu termasuk didalamnya adalah air suci dari Manjapai yang sehari sebelumnya disemayamkan di baruga Maddika Bua.

Kerajaan Luwu merupakan kerajaan yang dituakan diantara tiga kerajaan “TellumpoccoE” atau Tiga Kerajaan Utama di Sulawesi Selatan, yakni Kerajaan luwu, Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Dalam naskah Mitologi Lagaligo disebut bahwa: Silsilah cikal bakal Pajung atau Raja-Raja Luwu dimuai dari To PalanroE (Yang Maha Menciptakan) atau Patoto’E (Yang Maga Menentukan Nasib) yang bersemayam di Kayangan, di puncak langit ke tujuh (Botinglangi) bersama permaisurinya Palinge’E (Yang Maha Mengatur). Putera tertua bernama La Togelangi Batara Guru Sangkuru’ Wira’ diturunkan di muka vumi (Attawareng) yang kemudian menjadi Pajung Luwu pertama. Baginda digantikan oleh puteranya yang digekar I Hati Uleng Batara Lattu opunna Ware’. Baginda Batara Lattu kemudian melahirkan Sawerigading yang masyhur sebagai “Cultural Hero” (Pahlawan Budaya) bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Susunan Pasukan Kerajaan Luwu
- Pada bagian terdepan barisan kirab adalah PANGNGARU’ atau pasukan tempur yang terdiri dari kesatuan-kesatuan Para Anak Suku Palili yang pada Kirab kali ini oleh pasukan Pangngaru’ To Rongkong,

- Sesudah itu menyusul pembawa SULOLANGI, yaitu semacam obor penolakan marabahaya,
- Kemudian menyusul pembawa BESSI BANRANGA atau tombak pengawal sebagai simboljabatan resmi dari Kerajaan Luwu,
- Sesudah itu menyusul pembawa BESSI MANRAWE atau tombak pengawal sebagai simbol kedudukan tertinggi dalam Kerajaan Luwu yaitu Pajung Luwu,
- Sesudah itu menyusul pembawa BESSI PAKKA (Tombak Bercabang Dua) yang merupakan simbol kekuasaan politik tertinggi dalam Kerajaan Luwu, yaitu Pajung Luwu yang merupakan Penguasa Tunggal mewakili Dewata Mattanrumpulaweng-E (Dewata Bertanduk Emas) yang merupakan Dewata Tertinggi menurut mitologi Luwu

- Payung berwarna Kuning yang disebut “TEDDUNG PULAWENG” adalah payung kebesaran yang dipakai untuk mengiringi Datu Luwu,
- LELLUNG, yang digunakan oleh Datu Luwu untuk menghindarkan sinar matahari,

- Payung berwarna merah yang disebut “TEDDUNG PEROE” (Payung MaEja) adalah payung yng digunakan untuk prosesi pelantikan Datu Luwu,
- PAKKALIAWO’ merupakan pasukan pengawal pribadi “Opu Cenning” atau Panglima Perang. Pasukan pengawal ini berjumlah 12 orang dengan menggunakan “KALIAWO” atau Perisai dengan logo “Singkerru Mulajaji” simbol Panglima Perang Kedatuan Luwu. Karena itu pasukan ini disebut PAKKALIAWO,
- Kemudian menyusul BATE-BATE’ TELLLUE yang terdiri dari: (a) Matoa Wate’ (b) Matoa Lalengtonro’ (c) Matoa Cenrana
- Selanjutnya menyusul bendera ANA’ TELLUE yang terdiri dari: (a) Mokole Baebuntan (b) Ma’dika Bua (c) Ma’dika Ponrang,
- Sesudah itu menyusul BENDERA TELLUE (Tiga Bendera Utama) yang masing-masing: (a) Macang-NgE (b) Kamummu-E (c) Goncing-E. Yang merupakan bendera kesatuan dari Pasukan Inti atau Pasukan Elit Kerajaan Luwu.
Setelah pasukan Kedatuan, berlanjut pasukan kirab dari Mokole Baebunta yang dipimpin langsung oleh We Masita Kampasu.


Disusul rombongan kirab budaya Kemaddikaan Bua dipimpin langsung oleh Maddika Bua La Saifuddin Kaddiraja bersama dengan beberapa Rumpun Maddika Bua, diataranya: Palempang Walenrang, Panggulu Kada Ilang Batu, Panggulu Kada Siteba, Panggulu Kada Lemo Tua, Panggulu Kada Bolong, Panggulu Kada Tombang beserta para Tomakakanya, Para Warga Tana Toraja Perantau Irian, Banua A’pa Tongkonan Annang Pulona beserta beberapa Parengngenya.


Disusul Kirab Budaya Kemaddikaan Ponrang dipimpin langsung oleh La Sana Kira (Maddika Ponrang) bersama dengan beberapa Parengnge dan Tomakakanya, diantaranya Parengge Padagusi Rante Balla yaitu Pa’Lairan Kanna serta Tomakaka Ulu Salu.

Selanjutnya Lili Pasiajing yang terdiri dari: Mokole Matano (Nuha) yang dipimpin langsung oleh Andi Baso dan sebelas wilayah Moholanya, Arung Senga dan Maddika Sangalla


Selanjutnya Kirab Budaya dari Tana Wajo Belawa.

Kehadiran Pasukan Kirab Keraton Kedatuan Luwu menggambarkan Ikatan “Maseddi Siri‘ yaitu Kemanunggalan dalam Keanekaragaman yang mengikat masyarakat Luwu dalam Prinsip Bhineka Tunggal Ika (Unity in Diversity).
Next : MATTOANA MTKL 2018
Menurut tradisi masyarakat Adat Luwu, setiap rumpun keluarga besar masing-masing memiliki Bubung Parani (Tarungeng) atau sumber air khusus untuk digunakan oleh keluarga tersebut dalam setiap upacara adat. Air merupakan simbol “kebersihan” karena air merupakan sarana untuk membersihkan segala noda. Dimana “air” juga merupakan kebutuhan paling vital bagi kehidupan setiap makhluk hidup yang juga merupakan simbol kesejahteraan hidup. Karena itu, “air khusus” yang diambil (rilekke) secara ritual untuk digunakan dalam upacara adat merupakan “kolektivitas” dari sebuah komunitas adat Luwu sekaligus sebagai simbol “kebersihan” dari niat atau Nawaitu dari segenap rumpun keluarga (Rara Buku) dari komunitas adat Luwu. Dalam pelaksanaan upacara adat ini demi mengharapkan “kesejahteraan hidup” bersama di bawah rahmat dan ridha Allah Subhanahu Wataalah.
Untuk kegiatan Kedatuan Luwu, terdapat 3 lokasi pengambilan air suci: pertama di Ussu Cerekang Luwu Timur, kedua di Lampenai Luwu Utara dan ketiga di Manjapai Kolaka Utara. Dalam perjalanan kami menuju Manjapai, Kolaka Utara pada 16/1, Andi Sulolipu Sulthani Opu Pananrang menjelaskan bahwa prosesi Malekke Wae untuk kegiatan-kegiatan adat di istana Kedatuan Luwu dilakukan secara bergantian dari ketiga bubung parani diatas. Pergantian ini dilakukan untuk menjaga keadilan dan rasa kebersamaan dari masyarakat Tana Luwu. Berhubung Pua Cerekang telah mangkat dan belum ada pengganti maka belum bisa mengambil air di Cerekang, lalu pengambilan air suci terakhir dilakukan di Lampenai untuk proses peresmian nama jalan Andi djemma di Makassar (10/11/2017), maka air suci untuk acara Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018 diambil dari Manjapai sebutan dari desa Majapahit kecamatan Pakue Tengah kabupaten Kolaka Utara, propinsi Sulawesi Tenggara.
Prosesi Malekke Wae dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00 wita dari Bubung Parani, milik rumpun keluarga dari Komunitas adat tersebut. Acara ini dilakukan pagi hari dengan harapan agar kesejahteraan hidup masyarakat adat akan senantiasa menanjak seperti matahari terbit di ufuk timur.
Air suci yang diambil (ri lekke) melalui sebuah ritual adat dan kemudian diarak dengan Sinrangeng Lakko (usungan adat di atas pangkuan seorang gadis remaja yang beum aqil balik (tenna wette pa dara) sebagai simbol kesucian. Usungan adat (Sinrangeng Lakko) tersebut diiringi oleh Parullu Gau (instrument dan atribut-atribut adat) serta para pemuka adat. Prosesi Persiapan Sebelum Prosesi malekke Wae dilakukan, beberapa kelengkapan instrument dan atribut-atribut adat yang perlu dipersiapkan antara lain: 1. Wala suji atau Rakki yang terbuat dari anyaman bambu lalu dibungkus kain kuning
2. Cerek untuk tampungan air 3. Sokko patang rupa atau ketan 4 (empat) warna lengkap dengan hiasan telur atau lauk lainnya, juga sepasang ayam yang dibakar utuh
4. Kelapa kuning dan lilin masing-masing 2 buah. 5. Perlengkapan cera’ bambu untuk wala suji berupa 5 lembar daun sirih, 3 butir telur ayam kampung, 5 buah pinang, sejumput kapur sirih, sepasang ayam kampung yang disembelih di atas bambu yang akan dibelah untuk membuat anyaman rakki.
6. Lellung yang terbuat dari 4 (empat bilah bambu) yang dipasangkan kain kuning dan dihantarkan oleh 6 gadis belia yang belum aqil baligh.
7. 1 orang gadis belia pembawa cerek yang belum akil baligh. 8. Iring-iringan pemuka adat dan tokoh masyarakat.
Setelah prosesi Malekke Wae untuk MTKL 2018 ini dilaksanakan maka air suci yang telah diambil itu kemudian dibawa untuk disemayamkan di baruga Maddika Bua di Bua sebelum dibawa ke Istana Datu Luwu.
18/1 air suci ini lalu diarak mengelilingi istana Datu Luwu sebelum peserta kirab masuk ke dalam istana sebagai awal dimulainya perhelatan akbar Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018. 
Berbekalkan rekomendasi dari Ketua Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) usai Rapat koordinasi bersama TopapoataE Datu Luwu XL La Maradang Mackulau Opu To Bau dan ketua panitia Matemmu Taung Kedatuan Luwu (MTKL) 2018 serta beberapa Tokoh KKTL (Minggu, 7/1) maka dibentuklah tim kecil penggalangan dana dengan tugas pertama menyelesaikin proposal kegiatan Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018 dan membuat list partisipasi warga KKTL.
Tim ini terdiri dari Hartawati Andi Djelling, Ismi Seneng Nuppu, Muzakkir Tovagho dan penulis. Selasa, 9/1 tim ini melakukan meeting internal bersama ketua Panitia di mess Pemda Luwu Timur di Jakarta. Dalam proses pertemuan ini, komunikasi dan koordinasi dengan panitia lokal di Palopo juga dilakukan untuk melengkapi bahan proposal yang dibutuhkan.
Akhirnya proposal yang sudah ditunggu hampir 3 bulan bisa diselesaikan dan langsung dicetak demikian juga undangan. Sedangkan list partisipasi warga KKTL segera disebarluaskan melalu beberapa group whatsap pun perorangan.
Keesokan harinya, audiens dilakukan bersama Presiden Direktur PT Vale Indonesia di Energy Building Jakarta. Dalam audiensi tersebut, dilakukan juga Conference Call bersama tim External Relations yang berkedudukan di Sorowako.
Alhamdulillah, satu persatu proposal dan undangan yang disiapkan mulai terdistribusi, begitupun informasi partisipasi warga KKTL terus mengisi ruang komunikasi kami. Sehingga semangat pelaksanaan acara pun semakin terbakar dan optimisme terbangun dalan setiap komunikasi yang terjalin. Meskipun ada beberapa orang yang sempat “peccu” dan memutuskan untuk melepaskan diri dari kegiatan persiapan perhelatan MTKL 2018 ini.
Hingga tiba hari dimana pelaksanaan perhelatan akbar Matemmu Taung semakin dekat. Hanya ibu Hartawati yang akrab disapa Opu Odeng bersama penulis yang berkesempatan berangkat ke Palopo. Kami memilih berangkat dengan penerbangan awal ke Makassar pada 15/1.
Tiba di Makassar, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Palopo dengan panther. Dengan perhitungan kami bisa tiba sore hari. Sehingga masih berkesempatan berfoto di depan icon Kota Palopo.
Setelah istirahat yang cukup, usai makan malam kami diajak mengecek beberapa persiapan panitia. Termasuk undangan yang akan disebar.
Usai sarapan keesokan harinya (16/1), kami lalu bergeser ke Istana Datu Luwu untuk membantu persiapan lainnya. Wah, ternyata ruang sekretariatnya belum digunakan secara maksimal, sehingga kami bersihkan dulu kemudian ditata kembali dan membuka pintu besar sebagai pertanda sekretariat siap digunakan.
Pada kesempatan itu, beberapa panitia mulai berdatangan, koordinasi dan pengecekan kesiapan-kesiapan satu persatu mulai diurai. Sehingga rundown acara bisa disusun. Entahlah, saya merasa bahwa panitia yang terlibat dalam acara ini sudah sangat terlatih untuk bagian masing-masing sehingga setiap ditanya, seringkali jawabannya sudah ada atau sudah disiapkan, namun bagi saya yang baru di lingkungan ini menjadi bingung dengan persiapannya hehehhe. Mungkin karena saya terbiasa kerja berdasarkan list uraian pekerjaan ☺ Menjelang siang, mobil yang akan kami gunakan ke Manjapai Kolaka Utara Sulawesu Tenggara pun tiba. Opu Odeng dan saya pun bergegas menyiapkan segala kebutuhan karena kami juga akan ikut untuk melakukan ritual Malekke Wae atau pengambilan air suci.
Next : 














































































