DUTA LADA LUWU TIMUR

Istanbul Trip 4

Lada Indonesia yang mereka kenal adalah Lada Bangka. Percakapan pun berbuntut panjang dengan saya memperkenalkan Lada Luwu Timur di pasar Tradisional Eminönü. 😁

Kembali ke hotel

Malam mulai menyapa. Saatnya kembali ke hotel untuk beristirahat. Alhamdulillah, perjalanan hari ini mengajarkan banyak hal dan saya sangat bersyukur dengan perjalanan ini.

Teman-teman dari Izmir juga sudah tiba di Istanbul. Rencana mau keluar malam, tapi saya tidak jadi ikut, lebih memilih istirahat.

Saatnya Pamit

Saya bertemu teman-teman saat pagi. Saya menikmati sarapan terakhir di Istanbul, tentu saja dengan teh khas Turki dengan makanan sehat.

Kami di jemput staf KJRI Istanbul. Lalu diajak berkeliling kota dan singgah di tepi pantai Zeytinburnu Laut Marmara Istanbul. Laut ini memisahkan Turki Asia dan Turki Eropa.

Saat berpisah telah tiba dan Kami harus pamit. Terima kasih atas undangannya. Terima kasih atas jamuannya.. semoga kerjasama yang diharapkan dapat terwujud dalam pemanfaatan potensi lada luwu timur dan peluang pasar di Turki dan Eropa dapat menerima produk kami.

Menggunakan Ejtihad EY96 IST-AUH, EY470 AUH-SIN, EY8156 SIN-CGK kembali ke Indonesia dan ID6264 CGK-UPG kembali ke Makassar.

Wah… memang benar bahwa bandara Singapore merupakan bandara yang nyaman. Meskipun kami hanya transit, namun spot-spot foto tetap disiapkan pihak bandara Singapore. Sehingga menunggu tidak menjadi cerita yang membosankan.

Alhamdulillah, perjalanan ini pun selesai saat passport distempel kembali di imigrasi Bandara Soekarno Hatta. Tugas untuk memperkenalkan Lada Luwu Timur kepada para pengusaha Turki di Istanbul telah selesai dilaksanakan. Masih ada harapan semoga peluang pasar terbuka lebar untuk Lada Luwu Timur yang tentu saja menjadi peer bagi petani, pengusaha dan Pemerintah Daerah kabupaten Luwu Timur untuk meningkatkan kualitas dan menembus pasar Eropa.

– Malili 2019 –

DUTA LADA LUWU TIMUR

Istanbul Trip 3

Gemetar diri ini, tercekat kerongkongan dan aku kehabisan kata-kata saat melihat kiriman foto-foto dan video yang kuterima pagi itu. Serasa ingin terbang kembali ke Indonesia. Rumahku kebanjiran. Hanya sangup menangis dan membayangkan seperti apa nanti kondisinya saat pulang, karena masih butuh beberapa hari untuk tiba di Malili.Butuh waktu beberapa saat untuk bisa menenangkan diri, menimbang-nimbang apakah ingin tetap di kamar dan meratap ataukah melanjutkan rencana menikmati keindahan Istanbul Turki. Sampai akhirnya kuputuskan untuk melupakan sejenak kejadian di Indonesia karena aku juga tak dapat berbuat apa-apa selain pasrah.Selain itu, Icha, mahasiswa Turki asal Kalimantan, Indonesia yang rencananya akan menemaniku berkeliling hari ini telah tiba dan menungguku di Loby hotel. Akupun bergegas mempersiapkan diri.Sebelum kami berangkat, segelas cay, teh hitam asli Turki menjadi hidangan pertama sebelum kami meninggalkan hotel. Hari ini rencana berpetualang menggunakan kendaraan umum yang ada di Istanbul.Emirgan Korusu Festival TulipNaik kereta bawah tanah, itulah kesan pertama naik kendaraan umum di Istanbul yang kemudian dilanjutkan dengan naik bus menuju lokasi Festival Tulip. Saya masih beruntung karena hari ini adalah penutupan lokasi Festival Tulip di Istam. Setiap tahunnya Festival Tulip diadakan dari tanggal 1-30 April.Sesampainya di taman Emirgan tak henti-henti saya mengucap alhamdulillah berkesempatan menyaksikan indahnya festival bunga tulip ini. Belum lagi saat saya mendapat penjelasan bahwa festival tulip tahun ini menghadirkan 192 jenis tulip dengan jumlah 2,8 juta tanaman tulip seluruh taman, Mashaallah.Lelah berkeliling, kami menuju restaurant yang terletak bukit Emirgan. Wah.. sistemnya sekali bayar, makan sepuasnya.. hehhehe yuummyyyyy.. walhasil.. kamipun makan sepuasnya 🤣 suka suka sukaaaa… strawberrynya besar-besar, madunya masih yang ambil potong dengan sarangnya belum lagi aneka salad dan keju … wah… surga dunia deh.Setelah makan lanjutkan perjalanan ke Musium Aya Sophia, yang mana selama 916 tahun pernah digunakan sebagai gereja dan 482 tahun sebagai mesjid sebelum menjadi musium.Banyak hal yang membuatku terkagum-kagum di Museum ini. Pertama kali masuk, aku mendapat penjelasan bahwa di depan pintu gerbang terdapat cekungan di sisi kiri dan kanan. Yang mana merupakan tempat berpijak para pengawal sepanjang hari, yang meskipun bergantian tetap dipijakan yang sama sehingga tanahnya tenggelam.Lalu, begitu masuk ke dalam, terdapat simbol Islam dan Kristen pada langit-langit bangunan. Rupanya, ketika Utsmani dibawah kepemimpinan Sultan Mehmed II menaklukkan Konstantinopel, gereja utama Kristen Ortodoks ini lalu diubah menjadi mesjid. Namun berbagai lambang Kristen seperti lonceng, gambar dan mosaik yang menggambarkan Yesus, Maria, orang-orang Suci Kristen dan para malaikat hanya di tutup kemudian ditambahkan atribut keislaman, mihtab, mimbar dan empat menara. Sehingga ketika dibuka sebagai musrum semua peninggalan Konstantinopel maupun Utsmani masih bisa ditemukan di museum ini.Atraksi ice cream TurkiSelesai berkeliling museum Aya Sofya. Udara cerah membuat ingin mencoba ice cream Turki yang sangat terkenal dengan kejahilannya tarik ulur mempermainkan pembelinya dengan berbagai trik sebelum benar-benar menyerahkan es krim ke tangan pembeli. Dan akhirnya saya menemukan sebuah stand ice cream yang membuat saya ngakak karena pembelinya benar-benar marah karena dipermainkan.Yang membuat saya kagum adalah penjual ice crem melakukan beberapa atraksi dengan jungkir balik bahkan akrobatik mirip tukang sulap. Anehnya, itu ice cream tidak jatuh maupun meleleh. Dan akhirnya saya googling dan menemukan bahwa keunikan ice cream turki ini karena menggunakan susu kambing yang creamy, menggunakan akar anggrek lokal yang disebut salep sebagai pengental membuat tekstur ice cream turki ini super elastis. Selain itu, kejahilan mereka hanyalah strategi marketing karena memang ice cream harus ditarik-tarik dulu sebelum disajikan supaya lembut.Foto Booth SultanBerhubung saya berada di daerah turis, maka saya pun dengan mudah menemukan booth foto ala-ala sultan dan putri bangsawan Turki. Jeeee rupanya pakaian-pakaian itu sangat tebal dan berat hufft… tapi sungguh sangat layak dicoba. Jadilah kita foto ala-ala putri bangsawan Turki 😁Pasar tradisional EminönüPengen keliling lagi tapi sudah jelang sore dan tujuan utama saya belum tercapai, yakni melihat pasar tradisional. Akhirnya Icha membawa saya ke pasar tradisional Eminönü. Wah… bener-bener pasar yang tertata dengan harga murah dibandingkan Grand Bazaar yang terkenal dikalangan turis.Fokus pertama saya adalah ke bagian rempah-rempah. Berhubung perjalanan saya terkait dengan peluang dan potensi Lada Luwu Timur. Sayangnya, 6 penjual rempah yang saya temui, tak satupun mengenal Lada Luwu Timur. Lada Indonesia yang mereka kenal adalah Lada Bangka. Percakapan pun berbuntut panjang dengan saya memperkenalkan Lada Luwu Timur 😁To be continue to Istanbul Trip 4

DUTA LADA LUWU TIMUR

Istanbul Trip 2

Ada kejadian unik dalam pertemuan Forum Bisnis Indonesia-Turki. Saat diminta menyiapkan bahan presentasi, kami boleh memberikan materi dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Jadi karena sudah lama tidak menggunakan bahasa Inggris secara aktif, maka proses pengembalian memori pun saya lakukan, persiapan presentasi lah ceritannya.

Namun kejadiannya diluar rencana. Ternyata translator yang disiapkan KJRI justru tidak fasih berbahasa Inggris, sehingga saat menterjemahkan sambutan Bapak Konjen justru terbata-bata. Akhirnya Pak Henry Sudrajat, Konjen RI Istanbul melanjutkan sambutan dalam bahasa Indonesia dan terjemahannya pun menjadi lancar. Walhasil kami yang presentasi pun menggunakan bahasa Indonesia yang ditranslate ke Bahasa Turki dengan fasihnya.

Rombongan Lutim Terbagi

Setelah pertemuan bisnis selesai, maka saya pun harus berpisah dengan Pak Sakir dan Pak Ikbal. Berdua, mereka bersama Pak Toary dari Konjen RI melanjutkan perjalanan ke Ismir dengan jarak tempuh 6 jam, sehingga pihak konjen menyarankan untuk menggunakan kendaraan kecil supaya bisa pp. Berhubung kapasitas mercy hanya untuk 4 orang, saya pun tetap tinggal di Istanbul.

Saya pun berpindah dari Hotel Veyron ke Villa Blanche Hotel dan mendapatkan kamar vintage 😍

Semua ada hikmahnya koq. Berhubung saya tetap tinggal di Istanbul, maka Pak Hasan, staf KJRI Istanbul mengajak saya berjalan-jalan sore itu bersama pak Rapolo Hutabarat. Pertama-tama tujuan kami adalah ke Mesjid Sultan Ahmet, mesjid terbesar di Turki. Mesjid ini dibangun pada masa Kesultanan Utsmaniyah (1435-1923) yang juga dikenal dengan sebutan mesjid Biru larena interiornya dominan berwarna biru.

Saya pun tertarik dengan kerumunan orang di depan mesjid Biru. Setelah melihat ke lokasi itu, rupanya terhampar permadani tulip yang tersusun dari bunga tulip di depan mesjid Hagia Sophia.

Mesjid Biru berada dalam satu kawasan dengan Hagia Sophia atau aya sophia. Namun berhubung waktunya kasip, saya tidak sempat masuk ke dalam musium Aya Sophia. Saya hanya sempat berkeliling di sekitatnya, dan menikmati pemandangan bangunan-bangunan indah yang telah berdiri sejak abad 15 dan masih terjaga hingga saat ini.

Lalu kami melintasi selat Bosphorus Turki melalui terowongan Eurasia yang dalam bahasa turkinya disebut Avrasya Tüp Tüneli yakni terowongan jalan raya yang menghubungkan Kazliçeşme di Bagian Eropa dan Göztepe di bagian Asia dari Istanbul.

Keunikan tunnel ini adalah warna biru yang muncul di atapnya, yang menandakan bahwa kita persis di bawah air laut. Segala jenis pikiran muncul di kepalaki. Termasuk kekaguman akan kemampuan Turki untuk memungkinkan yang dulu pasti dianggap mustahil oleh sebagian orang.

Lalu kami menuju Yaman Ve Bahçeler Müdürlügü untuk menikmati sunset dengan pemandangan jembatan Bosphorus yang sangat terkenal sebagai penghubung antara benua Asia dan Eropa.

Malam menjelang dan kami diantarkan kembali ke hotel. Karena belum terlalu larut maka saya menyempatkan singgah di tepi kolam renang dan menikmati malam dengan kebab Turki.

Akh.. selesai sudah perjalanan hari ini. Mari beristirahat dan menyiapkan tenaga untuk perjalanan besok.

To be continue… to Istanbul Trip 3

DUTA LADA LUWU TIMUR

Istanbul Trip 1

Berbekal undangan dari Konsulat Jendral Republik Indonesia untuk Turki, kami berangkat ke Turki. Awalnya undangan ini akan dihadiri Bupati Luwu Timur Muhammad Thorig Husler. Namun, adanya himbauan Menteri Dalam Negeri agar semua Kepala Daerah tidak keluar negeri 1-30 April 2019 terkait kondisi pra dan paska pemilu serta rangkaian Hari Jadi Luwu Timur ke-16, Bupati mengutus saya mendampingi 2 pedagang lada Luwu Timur yang akan berangkat ke Turki.

Sungguh saya beruntung, karena secara kedinasan, anggaran daerah perjalanan luar negeri hanya disiapkan untuk Bupati. Sementara staf seperti saya tidak dianggarkan untuk perjalanan dinas keluar negeri. Namun karena kebaikan hati kedua pedagang lada yakni pak Sakir (44) dan Ikbal (40) untuk membiayai keberangkatan saya, maka saya bisa menginjakkan kaki di Istanbul bersama mereka.

Insiden Tiket

Astaghfirullah, belum juga kami berangkat, masalah pertama kami hadapi. Nama di passport pak Sakir berbeda dengan nama di Visa dan Tiketnya. Jadinya Visa dan tiketnya harus diganti dengan membeli yang baru. Oughhh saya merasa sangat bersalah.. namun apa daya karena saya memesannya berdasarkan data yang diberikan. Walhasil, kami pun berangkat dengan pesawat yang berbeda, dan sedikit saja kami terlambat masuk ke imigrasi, kami bertiga bisa batal berangkat.

Kampungan

Meninggalkan Indonesia menuju Istanbul, kami menggunakan Etihad Airways dengan transit di Abu Dhabi. Pertama kalinya saya menaiki sebuah pesawat yang menyediakan akses wifi di dalam pesawat. Wow… dan saya menjadi sangat kampungan. Dengan penasaran saya pun membeli paket dan benar saja.. saya bisa online sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Abu Dhabi.

Sedih Tak Bertemu Hana

Cukup lama kami transit di Abu Dhabi. Akhirnya saya kontak Hana Al Ali, teman kuliah di Griffith University, Australia. Sayangnya tidak dapat bertemu. Karena kalau saya keluar bandara, maka saya harus mengambil Visa UAE dan Hana pun tidak memiliki akses untuk masuk ke Bandara. Sedihnya, cukup berkabar-kabar saja, padahal sudah berada di kotanya meski hanya beberapa jam saja.

Tiba di Turki

Alhamdulillah, meski badan terasa lelah, kami tiba di Turki dengan perasaan lega. Perbedaan waktu kedatangan dengan pak Sakir membuat kami menunggunya di bandara. Tapi tentu saja tidak menjemukan karena spot fotonya buanyakkk sekali hehehhee. Dan serasa orang penting banget, seperti tamu2 VIP wuish, kami dijemput staf protokol KJRI bernama Oki sehingga semua lancar-lancar saja. Orangnya ceria jadi banyak menjelaskan sepanjang perjalanan menuju kantor Konjen RI Istanbul.

Beda Hotel

Begitu kami tiba di hotel Villa Blanche di belakang KJRI, ternyata bookingan untuk kami tidak terbaca menjadi tantangan lagi. Hanya ada satu kamar dengan 2 tempat tidur yang siap. Jadilah Pak Sakir dan Pak Ikbal yang check in, sedangkan saya harus pisah hotel dan diantarkan ke Hotel Veyron.

Hotelnya tidak begitu jauh, tapi tetap harus berkendaraan untuk sampai kesana. Hotelnya unik, namun pegawainya sedikit kurang ramah. Saya diberikan kamar di lantai 7 sedangkan lift hanya sampai lantai 6. Terpaksa naik tangga untuk ke kamar saya. Tapi begitu tiba di kamar, WOW, kamarnya luar biasa megah 😁.

Makan malam di L’event

Kami hanya diberi waktu setengah jam untuk bersih-bersih karena ada welcome dinner dengan pak Toary di L’event. Wah.. senangnya bisa merasakan salmon Istanbul, bahan boleh sama… namun rasa sangat beda. Kami juga bertemu dengan beberapa tamu dari Indonesia yang dijamu oleh Konsulat Jenderal Indonesia untuk Turki.

Pertemuan Bisnis

Paginya, aku dijemput di hotel dan menuju skyline lounge Mövenpick Hotel Istanbul guna mengikuti Forum Bisnis Indonesia-Istanbul. FBII ini dibuka secara resmi oleh Henry Sudrajat, Konjen RI Istanbul bersama Ketua Dewan Bisnis Turki-Indonesia (DEIK) Ilhan Erdal.

Kehadiran saya di Forum Bisnis ini mewakili Bupati Luwu Timur untuk memaparkan presentasi tentang potensi dan peluang pengembangan dan pemasaran Lada Luwu Timur. Saya hadir bersama 2 pengusaha lada Luwu Timur.

Selain saya, pemateri lainnya adalah Rapolo Hutabarat, Ketua Umum Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) sekaligus mewakili Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia yang berbicara tentang potensi pengembangan Kelapa Sawit Indonesia.

Ada kejadian unik dalam pertemuan ini. Saat diminta menyiapkan bahan presentasi, kami boleh memberikan materi dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris…

To be continue… to Istanbul Trip 2

Reference link :

https://kemlu.go.id/portal/lc/read/238/berita/forum-bisnis-indonesia-turki-buka-peluang-ekspor-lada-dan-produk-kimia-turunan-kelapa-sawit-indonesia

https://www.beritasatu.com/ekonomi/552718/turki-jajaki-impor-lada-dan-kimia-dari-indonesia

BINTANG dan CAT

Banyak hal yang mengagumkan ketika kita berani meng-explore kemampuan diri. Bahkan sesuatu yang tidak disangka-sangka. Seperti lukisan cat air yang ternyata menjadi latar iklan kegiatan kawan saya Mardiani.

Mardiani memiliki klub membaca yang disebut Iniaku Mobasa. Nama ini diambil dari bahasa lokal Sorowako yang artinya saya membaca. Kegiatannya rutin setiap minggu. Disini anak-anak TK hingga SD diajak untuk mencintai buku dengan rajin membaca.

Nah, minggu ini anak-anak diajak untuk merayakan hari air sedunia.

Eh, ternyata lukisan ini adalah hasil karya keponakan saya yang bernama Affan Bintang Syandrie. Dan terharunya lagi, menurut Mardiani, karya ini merupakan hasil eksplorasi guru lukisnya Yuni ‘Ian’ Yuliawan yang berusaha mengeluarkan imaginasi Bintang dari zona nyamannya dalam menggambar dan melukis sistem tatasurya Solar System. Seperti yang dia ceritakan dalam story Facebooknya tentang Bintang.

KOTA PALOPO

Beberapa kali ke Palopo membuat saya ingin menulis tentang kota ini. Kota yang baru beberapa tahun ini sering saya kunjungi terkait dengan kegiatan yang dilaksanakan di Kedatuan Luwu.

Kali ini saya kembali ke Palopo karena undangan Festival Pesona Tana Luwu dalam rangkaian Hari Jadi Luwu ke-751 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-73 dan Persiapan Festival Keraton XIII Kedatuan Luwu Tahun 2019.

Namun dalam tulisan ini saya ingin share beberapa hal dan spot foto keren di seputar kota Palopo yang belum lama ini saya kunjungi.

Kambo

Landmark

Enzym

The Icon

Istana Datu Luwu

Dan jangan lupa mencicipi Pugalu a.k.a Kapurung

Welcome 2019

I closed the book of 2018. Open a new book of 2019. I have 365 pages to write down all memories.

I had an increadible closing of year end 2018. Simple memory that leads to happiness I hope. Everything so sweet, it takes my heartbeat away.

I felt the fireworks, running through my blood. Giving more pressure to load and burned the desire into a big of heart. I want it more and more as I am addicted to it.

My new hope grows so fast. As the new hope for 2019 for better life, better dreams and better achievement.

Have a best new year 2019 everyone 😍

Mengenal Aksara Kuno

Sejak mengenal Kedatuan Luwu, sedikit demi sedikit membuka mataku akan urgensitas atau pentingnya mengenal budaya masa lampau sebagai identitas kita. Kita selalu membuat statement sebagai anak muda yang mencari jati dirinya, namun kita seringkali diberikan petunjuk untuk mengikuti kebudayaan barat, yang notabene tidak kalah hebat dari kebudayaan kita di Nusantara.

Bersama Datu Luwu XL dan Opu Datu di Launching Logo Festival Keraton Nusantara XIII Tahun 2019 di Istana Datu Luwu, Palopo (12/05/2018)

Dan hari ini Selasa (18/09/2018), mata saya pun semakin terbelalak. Memang pernah saya mempelajari tentang adanya naskah kuno di Indonesia , yang digunakan pada masa kerajaan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, tapi yang tidak banyak diperkenalkan kepada generasi muda adalah bahwa Pancasila itu sendiri disusun berdasarkan konsensus bersumber pada pengetahuan khas Indonesia, sementara semboyan Bhineka Tunggal Ika bisa tergali dari pembacaan cermat naskah Jawa Kuno yang disebut Sutasoma.

Betapa kayanya bangsa Indonesia, 10.634 judul naskah kuno yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Namun sayangnya, pembaca naskah-naskah itu sangat terbatas bahkan sebagian terancam punah jika tidak dijaga, dilestarikan dan diajarkan kepada generasi muda.

Untuk itu, Prof. Jimly Asshiddique mengharapkan adanya cultural bridge untuk menyambungkan kehidupan modern dan budaya lokal.

Prof. Dr. Jimly Assidhique dalam ceramah Aktualisasi Hukum Adat dan Pemerintahan dalam Naskah Nusantara dalam rangka Festival Naskah Nusantara IV di Perpustakaan Nasional RI (18/9/2018)

Dan sebuah kesempatan langka, saya bisa berkenalan dengan kang Edo (49) asli Keturunan Jawa Sunda Madura yang dia singkat Jandamadu hahaha.. ketemu Kang Edo panghilan dari Edi Dolan saat dia sedang memperagakan teknik pembuatan kertas jaman dahulu dari kulit kayu saeh (paper mulberry) yang disebut Daluang juga memperlihatkan naskah pancasila yang dituliskan dengan aksara Sansekerta, Sandi Jawa, Cacarakan Sunda, Sunda Kuno dan Batak Karo.

Penulisan Pancasila oleh Edi Dolan dalam aksara Sansekerta, Sandi Jawa, Cacarakan Sunda, Sunda Kuno, Alcedo, dan Batak Karo

Teknik pembuatan Daluang, dimulai dengan memasak kulit kayu saeh hingga lembek lalu dibungkus daun pisang semalaman hingga berlendir. Pisang memiliki getah yang menjadi perekat sehingga dapat bertahan lama.

Setelah itu kulit kayu yang sudah lembek dan berlendir dipukul dengan Pameupeu atau palu dengan tekstur kasar sehingga kulit kayu itu menipis dan 2-3 kali dilapis sehingga tidak mudah sobek. Setelah lembaran-lembaran itu menyatu, maka dipukul menggunakan pameupeu yang alurnya lebih kecil. Jaman dahulu kala, untuk menjadikannya kertas, dipukul dengan menggunakan batu atau kayu keras.

Dalam proses pemukulan, sesekali dibasahi air sehingga lembaran kulit kayunya tidak melekat pada alas dan tidak sobek. Setelah jadi kemudian diangin-anginkan hingga kering dan siap untuk ditulisi.

Kang Edo adalah seorang pelukis aksara di kanvas yang mempelajari teknik ini secara otodidak mulai dari tahun 2007.

“Saya tertarik karena naskah kuno itu memiliki kandungan ajaran petuah yang bisa diterapkan di masa lalu hingga masa sekarang”, terangnya.

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal bidang seni, kang Edo berkolaborasi dengan beberapa alumni ITB untuk bisa menulis aksara sendiri.

“Saya diberi tantangan oleh kawan-kawan. Akhirnya saya membuat aksara saya sendiri yang saya sebut Alcedo – Aksara Edo.

Pancasila dalam Aksara Alcedo

Pengen punya museum sendiri untuk koleksi pribadinya dan membuat replika semua naskah nusantara adalah keinginan terbesar dan belum dicapainya hingga saat ini. Namun keinginannya untuk terus melestarikan naskah-naskah kuno memperkenalkannya dengan Perpustakaan Nasional, sehingga dapat terlibat dalam pembuatan replika beberapa naskah kuno di Perpustakaan Nasional.

Pancasila dalam Aksara Budha

Dari penelusuran saya tentang Daluang ini ternyata bukti keberadaan daluang dapat ditemukan pada naskah kuno Kakawin Ramayana yang berasal dari abad ke-9. Dalam naskah itu disebutkan daluang sebagai bahan pakaian pandita (sebutan untuk orang yang bijaksana). Pada abad ke-18, daluang dipergunakan bukan hanya sebagai pakaian pandita, tetapi juga kertas suci, ketu (mahkota penutup kepala), dan pakaian untuk menjauhkan dari ikatan duniawi.

Pradatangnya Islam, daluang digunakan sebagai bahan wayang beber, salah satu jenis wayang di Jawa yang memanfaatkan lembaran atau gulungan daluang untuk merekam kisahan atau cerita pewayangan dalam bentuk bahasa gambar.

Selanjutnya daluang digunakan dalam berbagai tradisi tulis di Indonesia, mulai dari tradisi pesantren sampai dengan pemanfaatan untuk keperluan administrasi di zaman kolonial hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Surah Al-Ashr dalam aksara Budha

Daluang sebagai bagian dari tradisi tulis di Indonesia diperkirakan sudah ada sejak abad ke-14. Hal ini tertuang pada naskah Undang-Undang Tanjung Tanah di Gunung Kerinci yang diteliti oleh Dr Uli Kozok dari Hawaiian University pada 2003. Adapun dalam khazanah naskah Sunda dapat ditelusuri melalui naskah Sunda kuno dari abad ke-18 koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Senang rasanya berkesempatan mengetahui bagaimana teknik pembuatan kertas dimasa lampau. Terima kasih kang, selamat berkarya.

Tentang Sahabatku dan mimpinya

Ya Allah… Ijinkan aku merintih kepadamu

Tentang rasa iri, rasa cemburu, rasa sakit yang membelengguku saat ini

Betapa tidak ya Allah…

Meski rasa bangga dan bahagia itu bersamaku

Namun harapanku untuk bisa seperti sahabat-sahabatku sungguhlah sangat besar

Mereka bermimpi untuk membuat celengan akhirat dengan membangun sebuah mesjid

Berilah aku kekuatan dan kemampuan seperti mereka ya Allah

Tidak semua orang kaya dan memiliki kelimpahan harta

Juga memiliki kemampuan untuk membelanjakan hartanya di jalanMu

Bahkan terkadang dipenuhi perhitungan-perhitungan duniawi semata

Sementara mereka, keempat sahabatku tersayang, sungguh telah memiliki perencanaan design mesjid, lokasi dan dana pembangunannya

Sungguh mulia hati mereka ya Allah…

Bantulah mereka mewujudkan mimpi dan cita-citanya ya Allah

Berilah mereka kekuatan dan keteguhan untuk menyelesaikan harapan-harapannya

Jauhkanlah sifat ke-aku-an dan kesombongan yang bisa menghapus segala amalan kami ya Allah

Dan jadikanlah kami selalu dekat dengan orang-orang yang berjihad di jalanMu ya Allah…

Jadikanlah kami orang-orang yang dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa di sekitar kami ya Allah


رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Robbii inni auudzubika an asalaka ma laisa lii bihi ‘ilmun wa illa taghfir lii wa tarhamnii akun minal khoosiriin

Artinya :

“Ya Allah, sungguh aku berlindung pada‐Mu dari sesuatu yang aku tidak tahu hakikatnya.Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun serta tidak menaruh belas kasihan padaku, niscaya aku termasuk orang‐orang yang merugi.” (QS. Hûd : 47)

Aamiin aamiin aamiin yaa rabbal alaamiin 🙏

#ampera16sep2018

Dedicated to my beautiful friends with golden heart 😍

ADDICTED ASIAN GAMES 2018

Semarak Asian Games begitu bergemuruh saat pesta pembukaan yang dilaksanakan di Gelora Bung Karno 18 Agustus 2018. Meski hanya menyaksikannya lewat layar kaca, namun semangat dan gelora yang di teriakkan dalam semboyan Feel the Energy of Asia sungguh menggetarkan jiwa dan kebanggaan Indonesia.

Satu demi satu perolehan medali direbut oleh putera puteri terbaik bangsa Indonesia hingga melampaui target yang dicanangkan. Menjadi bukti sejarah bahwa Indonesia mampu mengalihkan pandangan dunia akan kehebatannya dalam melaksanakan pesta olahraga bertaraf internasional.

Pun ketika saya kembali dari Luwu Timur bersama Giedha, kawan dari Sorowako, kami pun memutuskan untuk menikmati antrian panjang memasuki Festival Asian Games. Sungguh di luar dugaan, bukan hanya antri untuk masuk ke lokasi festival, antrian untuk mendapatkan official merchandise pun tak kalah panjangnya. Membutuhkan waktu 4 jam untuk kami antri dibawah terik matahari dan bisa masuk ke store merchandise itupun dalam kondisi barang sudah hampir seluruhnya sold out.

“Aku nyampe GBK jam setengah lima untuk antri merchandise mba.. itupun storenya baru buka jam delapan pagi. Baru aku bisa dapat boneka Asian Games, makanya aku buka “Justip” (jasa titip -red) mba, jelas Indah, salah satu pengunjung.

Meski kamipun akhirnya tetap ikutan antri, terbukti kata-kata Indah, saat kami masuk, sebagian besar souvenir Asian games terutama boneka, gantungan kunci telah habis. Setiap hari kami re-stock souvenir pagi dan sore hari dan selalu kehabisan, sampai-sampai ada antrian untuk pre-order pemesanan boneka maskot Asian Games, dan seperti yang lain, antriannya pun sangat panjang.

Namun, semangat gelora the energy of Asia ini tidak hanya terasa di Jakarta. Bahkan membuat seorang kawan rela terbang dari Semarang ke Jakarta dengan tujuan menyaksikan Closing Ceremony Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Minggu 2 September 2018.

Namanya Cicie, panggilan dari Susilowati. Berhubung aku menjemput kakakku yang pulang dari ibadah haji pada 1 September malam, maka akhirnya aku stay di Bandara Soekarno Hatta sepanjang malam karena Cicie tiba dari semarang tanggal 2 September pagi. Walhasil, kami bertemu dan sempat berganti kostum hijau Asian Games sebelum menuju ke GBK.

Berhubung Minggu adalah moment Car Free Day di Jakarta, jadilah kami turun dari Damri di kawasan Semanggi dan lanjut berjalan kaki ke GBK. Wah, hari yang luar biasa, karena antri pengunjung Festival Asian Games 2018 jauh lebih ramai dari hari-hati sebelumnya.

Kamipun membeli tiket Festival, lalu mojok menunggu Giedha, Opu Odeng dan Opu Besse sambil menikmati hilir mudik lalu lalang orang yang antri mau masuk ke GBK. Setelah kami berkumpul, segera kami masuk ke area Festival. Dan tidak lupa beragam pose foto andalan pun menjadi bagian dari pengingat moment bahagia itu.

Ketika waktu menunjukkan pukul empat sore kami pun berpisah, karena aku dan Cicie memiliki tiket penutupan Asian Games dan kami harus segera masuk ke Istora mengingat akan panjangnya antrian masuk. Kamipun berganti kostun merah bertuliskan INDONESIA dengan aksesoris tempelan di pipi dan pengikat kepala. Dan syukurlah kami dapat masuk lebih awal, karena kami mendapatkan tempat di lantai 3 dan harus menaiki tangga karena tidak ada lift atau escalator. Dan lebih syukur lagi, beberapa meter antrian di belakang kami, ternyata sampai kehujanan saat antri, karena hujan yang sangat lebat tiba-tiba berlaga di panggung istora.

Hanya ucapan alhamdulillah dan rasa kagum yang tak henti-hentinya kami ucapkan, teriakan demi teriakan menjadi gemuruh yang bersahutan dengan kembang api yang ditembakkan ke udara. Sungguh malam yang luar biasa. Segala penampilan, antusias penonton dan dramatisasi acara yang mengalirkan darah secara cepat, memompa andrenalin yang hanya bisa terlampiaskan oleh teriakan teriakan panjang selama durasi acara berlangsung.

Indonesiaku bisa Indonesiaku hebat. Kebanggaan menjadikan malam itu semakin dahsyat.