Kalau mendengar kata Narapidana (NAPI), kesannya angker, jahat banget, orang-orang yang jalan hidupnya tidak benar, susah diatur dan sebagainya. Mengingatkan semua kisah-kisah kejahatan dan kelakuan orang-orang yang tidak baik. Tapi kali ini, hanya kata WOW yang terucap di bibir, tak percaya namun nyata.
Memang benar, mereka berkumpul di Lembaga Pemasyarakatan disingkat Lapas karena beragam alasan kejahatan yang mereka lakukan. Namun JEERA memberikan harapan baru The New Begining dan kesempatan kedua (second chance) kepada mereka yang ingin berubah dan memperbaiki diri.

JEERA merupakan program kerjasama Kanwil Kemenkumham DKI Jakarta dan KNPI DKI Jakarta yang memberikan peluang pada setiap narapidana dan petugas pemasyarakatan untuk mengembangkan produk industri kreatif di dalam penjara. Kegiatan ini dilaksanakan dengan keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pelatihan, peningkatan kualitas produk dalam bentuk pengadaan alat bantu produksi dan pemasaran produk narapidana keluar dari penjara.
Seperti halnya Sendi (26) yang masuk lapas karena kegiatan jual beli satwa liar, kukang online. Setelah berhasil melakukan perdagangan selama 6 bulan, akhirnya tertangkap dan dikenakan tahanan kurungan dua tahun satu bulan.
Ternyata setelah menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Sendi menemukan sebuah gairah hidup yang baru dengan bantuan JEERA. Sendi belajar menjadi seorang Barista dan mendapat kepercayaan bergabung dalam tim pameran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan pada Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Otonomi Expo, 6-8 Juli 2018 bertempat di Indonesia Convention Exhibition ICE BSD Tangerang.

Ternyata banyak Sendy-Sendy lain yang mendapatkan manfaat dari binaan JEERA ini. Sebagaimana mata saya tertuju pada sebuah lukisan berisi potret Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H. Laoly yang dibuat oleh Erik, narapidana buta warna, dari limbah kulit warna-warni. Erik mengerjakannya dengan bantuan teman-teman JEERA dan narapidana lainnya dengan membuat potongan-potongan kecil yang ditempelkan berdasarkan angka yang telah diatur sebelumnya.

Meskipun stand pameran ini dibuat seperti gambaran Lapas dengan dekorasi jeruji besi dan kawat besi, namun hasil buah tangan para napi yang ditampilkan sangatlah luar biasa. Kagum dengan semangat dan kerja keras mereka, bahkan WOW menjadi kata pamungkas ketika mengetahui produk-produk para Napi ini sudah banyak yang di ekspor seperti tas kulit, craft dan kopi.


Kunjungan ini memberikan gambaran baru kepada saya, dan tentunya kepada pengunjung lainnya di stand ini, bahwa masa lalu tidak akan menghalangi pencapaian tujuan hidup ini ke arah yang lebih baik. Masa lalu adalah keputusan yang telah kita ambil dan lalui, dan semestinya menjadi pelajaran untuk berbuat lebih baik lagi untuk masa depan yang lebih cemerlang.
Tertarik mengetahui JEERA lebih lanjut silahkan kunjungi http://www.mauberubah.com @jeerafoundation



























































Menurut tradisi masyarakat Adat Luwu, setiap rumpun keluarga besar masing-masing memiliki Bubung Parani (Tarungeng) atau sumber air khusus untuk digunakan oleh keluarga tersebut dalam setiap upacara adat. Air merupakan simbol “kebersihan” karena air merupakan sarana untuk membersihkan segala noda. Dimana “air” juga merupakan kebutuhan paling vital bagi kehidupan setiap makhluk hidup yang juga merupakan simbol kesejahteraan hidup. Karena itu, “air khusus” yang diambil (rilekke) secara ritual untuk digunakan dalam upacara adat merupakan “kolektivitas” dari sebuah komunitas adat Luwu sekaligus sebagai simbol “kebersihan” dari niat atau Nawaitu dari segenap rumpun keluarga (Rara Buku) dari komunitas adat Luwu. Dalam pelaksanaan upacara adat ini demi mengharapkan “kesejahteraan hidup” bersama di bawah rahmat dan ridha Allah Subhanahu Wataalah.
Untuk kegiatan Kedatuan Luwu, terdapat 3 lokasi pengambilan air suci: pertama di Ussu Cerekang Luwu Timur, kedua di Lampenai Luwu Utara dan ketiga di Manjapai Kolaka Utara. Dalam perjalanan kami menuju Manjapai, Kolaka Utara pada 16/1, Andi Sulolipu Sulthani Opu Pananrang menjelaskan bahwa prosesi Malekke Wae untuk kegiatan-kegiatan adat di istana Kedatuan Luwu dilakukan secara bergantian dari ketiga bubung parani diatas. Pergantian ini dilakukan untuk menjaga keadilan dan rasa kebersamaan dari masyarakat Tana Luwu. Berhubung Pua Cerekang telah mangkat dan belum ada pengganti maka belum bisa mengambil air di Cerekang, lalu pengambilan air suci terakhir dilakukan di Lampenai untuk proses peresmian nama jalan Andi djemma di Makassar (10/11/2017), maka air suci untuk acara Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018 diambil dari Manjapai sebutan dari desa Majapahit kecamatan Pakue Tengah kabupaten Kolaka Utara, propinsi Sulawesi Tenggara.
Prosesi Malekke Wae dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00 wita dari Bubung Parani, milik rumpun keluarga dari Komunitas adat tersebut. Acara ini dilakukan pagi hari dengan harapan agar kesejahteraan hidup masyarakat adat akan senantiasa menanjak seperti matahari terbit di ufuk timur.
Air suci yang diambil (ri lekke) melalui sebuah ritual adat dan kemudian diarak dengan Sinrangeng Lakko (usungan adat di atas pangkuan seorang gadis remaja yang beum aqil balik (tenna wette pa dara) sebagai simbol kesucian. Usungan adat (Sinrangeng Lakko) tersebut diiringi oleh Parullu Gau (instrument dan atribut-atribut adat) serta para pemuka adat. Prosesi Persiapan Sebelum Prosesi malekke Wae dilakukan, beberapa kelengkapan instrument dan atribut-atribut adat yang perlu dipersiapkan antara lain: 1. Wala suji atau Rakki yang terbuat dari anyaman bambu lalu dibungkus kain kuning
2. Cerek untuk tampungan air 3. Sokko patang rupa atau ketan 4 (empat) warna lengkap dengan hiasan telur atau lauk lainnya, juga sepasang ayam yang dibakar utuh
4. Kelapa kuning dan lilin masing-masing 2 buah. 5. Perlengkapan cera’ bambu untuk wala suji berupa 5 lembar daun sirih, 3 butir telur ayam kampung, 5 buah pinang, sejumput kapur sirih, sepasang ayam kampung yang disembelih di atas bambu yang akan dibelah untuk membuat anyaman rakki.
6. Lellung yang terbuat dari 4 (empat bilah bambu) yang dipasangkan kain kuning dan dihantarkan oleh 6 gadis belia yang belum aqil baligh.
7. 1 orang gadis belia pembawa cerek yang belum akil baligh. 8. Iring-iringan pemuka adat dan tokoh masyarakat.
Setelah prosesi Malekke Wae untuk MTKL 2018 ini dilaksanakan maka air suci yang telah diambil itu kemudian dibawa untuk disemayamkan di baruga Maddika Bua di Bua sebelum dibawa ke Istana Datu Luwu.
18/1 air suci ini lalu diarak mengelilingi istana Datu Luwu sebelum peserta kirab masuk ke dalam istana sebagai awal dimulainya perhelatan akbar Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018. 