LUTIM SAMBANGI JERMAN UNTUK PROMOSI

Beragam upaya dilakukan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur untuk membuka keran investasi guna pembangunan di wilayahnya. Salah satunya adalah melakukan road show kunjungan promosi ke beberapa Kedutaan yang ada di Jakarta.

Kunjungan Wakil Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam di Kedutaan Jerman di Jakarta pada Jumat (20/7) diterima oleh Deputy Ambassador Hendrik Barkeling, Head of The Economic Section dan Dr. Andreas Kleine, First Secretary Deputy Head of Economic Affairs.

Dalam pemaparannya, .Irwan menjelaskan 6 sektor peluang investasi di Luwu Timur. Sektor pertambangan, perkebunan, kelautan perikanan, sarana prasarana, energy dan Kawasan Industri Malili (KIMAL). “kami mengundang Kedutaan Jerman dan investornya untuk datang dan melihat potensi yang kami miliki secara langsung,” undang Irwan.

Undangan ini disambut baik oleh pihak Kedutaan Jerman yang akan diawali dengan pertemuan pihak investor dengan Pemda Luwu Timur, Kadin Luwu Timur dan BUMD Timur Agro. Selanjutnya akan diikuti dengan penandatanganan Nota Kesepemahaman diantara Kedutaan Jerman dan Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Timur yang kemudian akan ditindaklanjuti oleh Kadin dari Jerman dan Luwu Timur.

“Kami tertarik dengan investasi pabrik pengolahan kakao dan merica pasca panen. Tentu saja kami harapkan Pemda Luwu Timur dapat menyiapkan lahan dan kemudahan perizinan bagi investasi ini, jelas Hendrik.

Wakil Bupati Luwu Timur menyambut baik hal ini, demikian juga Ketua Kadin Luwu Timur, Hasan Basri. “Kita akan segera menindaklanjuti hasil pertemuan Bapak Wakil Bupati Luwu Timur dengan Kedutaan Jerman, sehingga harapan kita untuk terwujudnya pabrik-pabrik pengolahan hasil pertanian masyarakat Kabupaten Luwu Timur juga segera tercapai,” jelas Hasan.

Irwan menjelaskan bahwa Pemerintah kabupaten Luwu Timur terus berupaya meningkatkan kegiatan investasi. Berbagai kebijakan berinvestasi diberikan seperti pelayanan terintegrasi satu pintu secara online. Sebagaimana Visi dan Misi Bupati dan Wakil Bupati yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Luwu Timur.

Dinas Penanaman Modal dan PTSP menindaklanjutinya ke dalam dua Peraturan Bupati untuk memberikan kemudahan dan pelayanan investasi. Perbup nomor 55 tentang penyederhanaan perizinan dan perbup nomor 56 tahun 2017 tentang pendelegasian penyelenggaraan dan penanadatanganan perizinan dan non perizinan dari Bupati kepada Kepala DPMPTSP, sehingga proses pengurusan izin dilaksanakan satu pintu.

Turut mendampingi Wabup Lutim adalah Ketua Kadin Luwu Timur Hasan Basri, Direktur BUMD Bumi Timur Agro Reinaldi Sugihen, Plt. Kepala DPMPTSP Andi Habil Unru, Kabid Penanaman Modal DPMPTSP Abd. Wahid R. Sangka dan Exexutive Director of EMPATI Luwu Timur Bryan Balebu.

LUTIM BIDIK INVESTOR ITALY

Menjemput bola dilakukan Wakil Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam dalam kunjungannya ke kantor Kedutaan Besar Italia untuk Jakarta pada Kamis (19/7). Diterima Alessandro Garbellini, Konsulat dan Kepala Misi Perdagangan Italia untuk Indonesia, Wabup Lutim menjelaskan potensi investasi di Luwu Timur.

Dalam penjelasannya, Wabup Lutim membagi peluang investasi daerah Luwu Timur dalam bidang pertambangan, pariwisata, sarana prasarana, perikanan dan kelautan, perkebunan dan energi.

“Wilayah kami luas dengan jumlah penduduk yang kecil, sehingga masih banyak lahan-lahan yang bisa dimanfaatkan untuk bidang usaha”, jelas Irwan.

Dicontohkan pada bidang pertambangan, Luwu Timur hanya memiki satu smelter, sementara luas lahan tambang masih memungkinkan untuk penambahan dua smelter. Untuk bidang pariwisata, Irwan memberikan gambaran tiga danau purba yang besar di Luwu Timur yang belum dimanfaatkan dengan maksimal.

Di bidang infrastruktur sarana prasarana, Irwan menjelaskan kondisi pelabuhan Internasional yang baru saja diresmikan beberapa waktu lalu, sebagai dukungan export import, juga peluang pembangunan bandara komersial serta potensi pengembangan kawasan industri terpadu seluas 750 ha yang akan digunakan untuk agro dan mineral.

Membidik peluang pasar Italia, bidang perkebunan juga menjadi unggulan Pemda Luwu Timur. Peluang investasi pembangunan pabrik CFO, baru ataupun pembaharuan dibuka dengan luas kepada para investor. Demikian pula pengelolaan kakao, lada dan beras. Di sektor perikanan, potensi Luwu Timur untuk pengembangan rumput laut, lobster, ikan bandeng dan kepiting. Serta potensi energi PLTA di 10 titik di Luwu Timur.

Menanggapi penjelasan Wabup Lutim, Alessandro mengharapkan agar iklim investasi di Luwu Timur dapat dipermudah utamanya perizinan dan komunikasi yang efektif. “Mengingat jarak yang sangat jaih, maka komunikasi yang mudah dan terbuka memungkinkan kerjasama yang baik antara calon investor dengan pemerintah kabupaten Luwu Timur,” ujarnya.

Alessandro juga menjelaskan bahwa pengusaha atau investor Italy lebih mengarah pada kerjasama menggandeng pengusaha lokal untuk pengadaan peralatan mesin-mesin industri dan proses pengolahan produksi seperti yang dilakukan di pirelly yang bekerjasama dengan Astra untuk pembuatan mobil, juga Parvati perusahaan permen Italy dalam membuat permen karet.

“Hal yang menjadi perhatian para investor Italy dan Eropa secara umum adalah perbedaan standarisasi yang digunakan di Indonesia jauh lebih ringan dibandingkan standarisasi yang diberlakukan di Italy dan Eropa. Selain itu sertifikasi produk Indonesia dan sustainability produksinya”, Jelas Alesandro.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan perkenalan Luwu Timur membidik investor Italy, maka disepakati dalam pertemuan selanjutnya, Pemda Luwu Timur akan dipertemukan dengan para pelaku bisnis yang sudah ada di Indonesa, Kadin Italy, Asosiasi Pengusaha Italy untuk Indonesia, Bank of Italy dan bidang kerjasama Kedutaan Italia untuk Indonesia.

Kunjungan Wabup Lutim didampingi Ketua Kadin Luwu Timur Hasan Basri, Direktur BUMD Bumi Timur Agro Reinaldi Sugihen, Plt. Kepala DPMPTSP Andi Habil Unru dan Kabid Penanaman Modal DPMPTSP Abd. Wahid R. Sangka.

JEERA BINA NAPI LAPAS

Kalau mendengar kata Narapidana (NAPI), kesannya angker, jahat banget, orang-orang yang jalan hidupnya tidak benar, susah diatur dan sebagainya. Mengingatkan semua kisah-kisah kejahatan dan kelakuan orang-orang yang tidak baik. Tapi kali ini, hanya kata WOW yang terucap di bibir, tak percaya namun nyata.

Memang benar, mereka berkumpul di Lembaga Pemasyarakatan disingkat Lapas karena beragam alasan kejahatan yang mereka lakukan. Namun JEERA memberikan harapan baru The New Begining dan kesempatan kedua (second chance) kepada mereka yang ingin berubah dan memperbaiki diri.

JEERA merupakan program kerjasama Kanwil Kemenkumham DKI Jakarta dan KNPI DKI Jakarta yang memberikan peluang pada setiap narapidana dan petugas pemasyarakatan untuk mengembangkan produk industri kreatif di dalam penjara. Kegiatan ini dilaksanakan dengan keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pelatihan, peningkatan kualitas produk dalam bentuk pengadaan alat bantu produksi dan pemasaran produk narapidana keluar dari penjara.

Seperti halnya Sendi (26) yang masuk lapas karena kegiatan jual beli satwa liar, kukang online. Setelah berhasil melakukan perdagangan selama 6 bulan, akhirnya tertangkap dan dikenakan tahanan kurungan dua tahun satu bulan.

Ternyata setelah menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Sendi menemukan sebuah gairah hidup yang baru dengan bantuan JEERA. Sendi belajar menjadi seorang Barista dan mendapat kepercayaan bergabung dalam tim pameran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan pada Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Otonomi Expo, 6-8 Juli 2018 bertempat di Indonesia Convention Exhibition ICE BSD Tangerang.

Ternyata banyak Sendy-Sendy lain yang mendapatkan manfaat dari binaan JEERA ini. Sebagaimana mata saya tertuju pada sebuah lukisan berisi potret Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H. Laoly yang dibuat oleh Erik, narapidana buta warna, dari limbah kulit warna-warni. Erik mengerjakannya dengan bantuan teman-teman JEERA dan narapidana lainnya dengan membuat potongan-potongan kecil yang ditempelkan berdasarkan angka yang telah diatur sebelumnya.

Meskipun stand pameran ini dibuat seperti gambaran Lapas dengan dekorasi jeruji besi dan kawat besi, namun hasil buah tangan para napi yang ditampilkan sangatlah luar biasa. Kagum dengan semangat dan kerja keras mereka, bahkan WOW menjadi kata pamungkas ketika mengetahui produk-produk para Napi ini sudah banyak yang di ekspor seperti tas kulit, craft dan kopi.

Kunjungan ini memberikan gambaran baru kepada saya, dan tentunya kepada pengunjung lainnya di stand ini, bahwa masa lalu tidak akan menghalangi pencapaian tujuan hidup ini ke arah yang lebih baik. Masa lalu adalah keputusan yang telah kita ambil dan lalui, dan semestinya menjadi pelajaran untuk berbuat lebih baik lagi untuk masa depan yang lebih cemerlang.

Tertarik mengetahui JEERA lebih lanjut silahkan kunjungi http://www.mauberubah.com @jeerafoundation

Hasil STIFIn Saya THINKING EXTROVERT

Sahabat saya, Tety Shyntia memberi kabar akan ke Mess dan janjian bertemu senior saya We Aisyah Lamboge untuk melakukan tes STIFIn. Seperti biasa, saya pun mengiyakan, karena saya juga tertarik untuk mengetahui, seperti apa sih tes STIFIn ini.

Akhirnya bertemulah kami bertiga. Secara singkat, senior yang saya panggil kak Icha ini pun menjelaskan bahwa STIFIn adalah sebuah alat tes mesin kecerdasan. Dimana tes ini anak memetakan mesin kecerdasan dan kepribadian seseorang cukup dengan mengambil sidik jari dari peserta tes. Tes ini memetakan sistem operasi otak yang menjawab 2 pertanyaan dasar:

1. Dimana letak belahan otak dominan

2. Pada belahan otak yang dominan itu, dimana lapisan otak yang dominan.

Data guratan atau sidik jari kita kemudian diolah oleh aplikasi komputer untuk menentukan belahan dan lapisan otak dominan, dari situ kemudian diketahui jenis kecerdasan kita; salah sati diantara 5 mesin kecerdasan dan salah satu diantara 9 personaliti genetik.

Kelima jenis kecerdasan adalah Sensing introvert (Si), Sensing extrovert (Se), Thinking introvert (Ti), Thinking extrovert (Te) dan Intuiting intovert (Ii).

Tes STIFIn mengukur unsur genetik seseorang, sesuatu yang dibawa lahir dan tidak berubah sepanjang hayat. Sedangkan alat seperti pencil dan paper test seringkali hanya bisa mengukur fenotip seseorang, sesuatu yang tampak secara lahiriah ketika tes sedang dilaksanakan. Itu sama artinya dengan tampilan yang berubah sesuai dengan kondisi lingkungan. Ahli kedokteran olahraga dari University of London, Nicola Maffulli, mengatakan faktor gen menemukan 30-60 persen keberhasilan latihan fisik orang biasa. Pada atlet, gen menentukan keberhasilan hingga 83 persen. Sedang menurut Stephen Roth ahli genetika dari University of Maryland di Baltimore, 80 persen kemampuan fisik ditentukan oleh gen bukan oleh latihan (Koran Tempo 2 Agustus 2012 halaman A12)

Konsep STIFIn diperkenalkan oleh Farid Poniman dengan mengkompilasi teori-teori psikologi, neuroscience, dan ilmu Sumber Daya Manusia yang pada prinsipnya mengacu pada konsep kecerdasan tunggal dari Carl Gustaav Jung. Tujuan dari konsep ini adalah untuk mengenali cara belajar, memilih profesi yang tepat, dan menghindari spekulasi kemampuan peserta tes.

Nah, setelah mengambil ke-sepuluh sidik jari saya, maka saya hanya menunggu sekitar 15 menit dan mengetahui hasilnya. Ternyata saya bertipe Te. Otak dominan yang bekerja adalah bagian sebelah kiri, atau disebut otak kiri. Kemudian kecerdasanku di lapisan abu-abu yang terletak di luar atau permukaan otak.

Tipe sepertiku sangat membutuhkan rangsangan energi luar yang kata lainnya adalah tantangan dan ambisi sebagai motor penggerak.

* * *

THINKING itu ibarat besi. Kokoh, tegak, dan tidak memerlukan bantuan benda lain untuk berdiri sendiri. Besi adalah simbol kemandi-rian, ketegasan, dan kepandaian. Besi memang kaku. Faktor kakunya itulah yang membuat besi dipilih menjadi kerangka rumah. Besi merupakan unsur tanah tertentu yang berbentuk butiran, bijian, atau lempengan yang mengandung elemen keras dan padat.
Sifat besi terkerangka, kait mengait secara sistematis. Orang T: tegas, mandiri, kokoh seperti besi, memiliki kepandaian menunjukkan kesalahan dengan kepandaiannya, dan diberikan kemampuan untuk memerintah memegang kekuasaan.

Dan hasilnya “VERY ME” banget. Jadi tes ini sangat bermanfaat untuk mengetahui bakat kita yang sebenarnya. Jadi, kalau belum, ikutilah tes ini, agar kita bisa lebih fokus dalam menjalani hidup ini. Kalau ada yang minat, isi komen aja yaaa 😀

Sumber foto : google

ANGGREK TANAH SOROWAKO

Barusan kali ini saya pulang kampung agak lama setelah bertahun-tahun pindah ke ibukota Jakarta. Ternyata masih banyak hal-hal yang membuat saya terperanjat ketika mengetahui satu demi satu cerita tentang tanah kelahiran saya, SOROWAKO.

Sorowako terkenal dengan keberadaan perusahaan tambang nikel PT Vale Indonesia, dulu bernama PT INCO, Tbk. Perusahaan internasional atau PMA ini sudah berada di Sorowako sejak tahun 1968. Awalnya merupakan perusahan dengan kepemilikan Canada namun sejak 2007 telah beralih ke Brazil.

Sorowako sendiri merupakan sebuah nama desa yang berada di wilayah kecamatan Nuha, kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan. Meskipun secara administrasi desa ini telah terpecah menjadi 1 kelurahan dan 2 desa namun, kami tetap menyebut Sorowako sebagai asal tempat kelahiran. ☺

Nah, kali ini saya ingin bercerita tentang anggrek tanah yang tumbuh liar dan bisa ditemukan di sepanjang jalan dan hutan di sorowako. Ketertarikan saya akan anggrek ini, paska berbincang dengan bang Hary, aktifis lingkungan yang juga suami penyanyi konservasi alam kondang, Ully Sigar Rusady. Saya sampai terheran-heran ketika beliau menjelaskan bahwa jenis anggrek hutan yang ada di Sorowako itu sampai ratusan jenis. “Akh, masa?” Hahaha.. jauh-jauh saya ke Jakarta ternyata baru tau informasi ini.

Lalu dalam perjalanan pulkam kemarin, saya pun mulai mengeksplore. Dan rasa penasaran saya pun mulai bertambah. Ketika dalam perjalanan saya dari ibukota kabupaten Luwu Timur, Malili menuju Sorowako saya sempatkan singgah di tepi jalan yang banyak bunga anggreknya, ternyata saya menemukan 4 jenis bunga anggrek yang berbeda, oalahhhh… 👍👍👍

Namun saya sedih, setelah singgah itu, saya tidak sempat melanjutkan pencarian lagi karena padatnya jadwal perjalanan #soksibuk. Namun sebelum kembali ke ibukota, saya menyempatkan untuk mengambil serumpun bunga yang kemudian coba saya keringkan secara konservatif.

Lalu, iseng saya coba mencari nama anggrek tanah tersebut, keterkejutan saya pun berlanjut, lah, ternyata anggrek-anggrek ini sudah sangat terkenal bahkan bibitnya pun diperjualbelikan. Anggrek-anggrek penghias kamar ku ini ternyata lebih dikenal sebagai Anggrek Tanah Philippine 😭 padahal di Sorowako ada banyak sekali dan mudah ditemukan, tumbuh secara liar di tanah. Akhirnya saya pun mulai mencari nama-nama anggrek yang saya temukan dan hasilnya seperti dibawah ini..

Spathoglottis Augustorum

Anggrek putih cantik ini bernama Spathoglottis Augustorum (White Ground Orchid) atau juga disebut anggrek congkok. Anggrek jenis Apathoglottis memiliki varian warna bunga yang banyak. Sedikit unik karena memiliki kelopak bunga tersembunyi.

Spathoglottis Plicata

Yang satu ini bernama Spathoglottis Plicata atau anggrek tanah ungu (purple ground orchid). Spathoglottis Plicata merupakan jenis yang paling banyak dijumpai. Nama generik spathoglottis berasal dari bahasa Yunani “spathe” berarti pedang dan “glossa” atau “glotta” yang berarti lidah. Plicata sendiri diperoleh dari penampilan atau lekukan daunnya.

Bletilla Striata (Thunb.) Reichb.f.

Anggrek tanah ini disebut Bletilla Striata (Thunb.) Reichb.f. dengan bunga merah muda keunguan. Sangat lembut dengan daun kelopak hampir sama panjang dengan mahkota tapi sedikit sempit. Bibir bunga merah muda dengan garis-garis ungu dan kuning.

Arundina Graminifolia

Yang satu ini disebut Arundina Graminifolia dengan bunga didominasi warna putih. Bibir bunganya unik membentuk corong dengan tepian ungu melebar keluar. Dan didalamnya berbercak kuning dan kecoklatan membentuk garis ke pangkal bibir.

Akh… selalu ada hal baru yang bisa dipelajari setiap hari. Dan ternyata anggrek-anggrek liar ini juga cantik menjadi pajangan meja. 😍😍

Sumber: dari berbagai sumber

#renunganvie

Bazaar Ugik 2018

Rasa haru dan bangga ketika melihat warga asing lain senang dan antusias mencoba mengenakan pakaian tradisional kita. Itulah yang kami rasakan ketika baju bodo dan jas tutup khas Luwu Sulawesi Selatan Indonesia tidak hanya dipamerkan tapi juga dikenakan oleh warga negara asing di Singapore.

Kesempatan ini didapatkan di Bazar Ugik, Bugis Festival di Malay Heritage Centre (MHC) Kampong Glam Singapore pada Sabtu 14 April 2018. Festival ini dilaksanakan Bugis Melayu Society Singapore bekerja sama dengan Malay Heritage Centre, Kedatuan Luwu, Kerajaan Riau Lingga dan Persatuan Pencak Silat Sendeng Ritz Singapore.

Sesungguhnya, hampir saja perjalanan ini batal karena izin cuti keluar last minutes hehhehe. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai rencana bahkan dengan beberapa perubahan yang sangat membahagiakan. Yang mana berdasarkan Surat Tugas Datu Luwu XL Nomor 01/ST/KDL-PLP/IV/2018 maka ibu Hartawati Andi Djelling Opu Odeng dan penulis bertindak mewakili Kedatuan Luwu dan disponsori oleh CV Mario Putra Tana Manai Jakarta.

Selain kami berdua, turut hadir dari Indonesia, Ketua Umum Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) Dr. dr. Andi Arus Viktor, SpM(K) dan Nuhudawi Andi Affan Naja Opu Ireng, juga istri dari Gubernur Kepulauan Riau, Noorlizah Nurdin dan rombongan dari Batam dan Tanjung Pinang.

Pukul 8 pagi, kami memulai persiapan penataan stand bazaar di halaman Malay Heritage Centre. Dari Stand Kedatuan Luwu, kami memajang pakaian tradisional bugis dengan aneka model dan warna baju bodo lengkap dengan aksesorisnya, jas tutup untuk laki-laki, makanan ringan seperti jipang dan baruasa, serta pisang epek dengan rasa original dan durian.

Menjenguk ke stand sebelah, ada stand dari perkumpulan pencak silat Singapore, aneka makanan khas Bugis seperti kapurung, lawa, coto pangkal pinang, ayam lekku dan masih banyak lagi buah tangan dari Kepulauan Riau disamping pameran baju bodo, lalu ada stand dari Bugis Melayu Society singapore dan kelas memasak kue Bugis yakni metode pembuatan barongko dan sanggara balanda.

Selain itu ada sajian tari-tarian diantaranya tari Pakarena Bugis, Zapin Melayu, Tari Pagellu Toraja, ada pula peragaan pakaian pengantin Bugis dan tabuhan gendang.

Ini adalah pengalaman pertama kami melakukan pameran di luar Indonesia, sehingga semua terasa excited dan penuh rasa ingin tahu – curiosity. Namun kami memiliki pemandu yang cantik dan baik hati Haslinna Jaaman yang senantiasa memberikan penjelasan sehingga kami tidak terlalu kaku dalam kegiatan itu.

Walhasil, kami merasa senang ketika rombongan wisatawan Eropa berkunjung ke stand kami. Mereka mencoba pisang epek bahkan menggunakan baju bodo dan jas tutup. Bahkan sempat membuat heboh, seorang bloger asal Mexico Edgar mendadak menjadi pusat perhatian dengan menggunakan jas tutup warna hijau. Dengan gayanya yang lucu dan mengundang perhatian, Edgar “diserbu” untuk berfoto bahkan dipanggil Datuk Museng 😂😂. Frankly said, he is so charming.

Pameran ditutup dengan hujan dan insiden kecil yang membuat Ibu Noorlizah Nurdin sangat terluka. Dia menumpahkan isi hatinya melalui media sosial miliknya.

Namun demikian, semoga insiden ini menjadi koreksi bersama. Teringat pepatah dimana langit dipijak disitu langit dijunjung. Terkadang, kekurangan informasi menyebabkan keputusan yang kita ambil menjadi sepihak dan tidak mengindahkan pihak lain sehingga terkesan individualistik. Apalagi sampai menyinggung tetamu yang hadir.

Salam budaya 🙏🙏🙏

Nila Passure’ Luwu

Dia masih muda dan cantik, jauh dari bayanganku tentang seorang wanita sepuh yang bisa melantunkan bait demi bait dalam kitab kuno I La Galigo (sure’). Kitab ini merupakan pedoman hidup pembelajaran masyarakat Luwu dan Bugis sebelum Islam diterima sebagai agama ilahi di tanah Luwu. Bahkan masih ada penduduk Bugis yang masih memedomani kitab ini di sekitar kabupaten wajo sebagai pedoman hidup. Mereka disebut To Lotang.

Sedikit pendiam menurutku, tidak banyak berbicara, suaranya halus dan sungguh menyejukkan. Sebuah kacamata kerap menjadi teman perjalanannya. Gemulai gaya jalannya menempatkan dirinya pada derajat kebangsawanan Luwu. Namanya Andi Nilaferawati Opu Tari.
Entah mengapa rasa ini tak dapat kubendung ketika mendengarkan sedikit cuplikan suaranya ketika massure’ atau melantunkan ayat / sure’ lontara La Galigo. Berdiri bulu kuduk, bergetar hati ini, entah apa arti sure’ yang dibacanya, namun sangat berbekas dalam hati. Lalu dia pun menjelaskan beberapa ritual sebelum memulai membaca sure’ La Galigo.

“Sama halnya berwudhu ketika kita hendak sholat, maka yang pertama dilakukan sabagai syarat sahnya massure’ adalah menyucikan diri dengan melakukan puasa muteh dan maccera” jelas Andi Nila. Puasa muteh yang dimaksud adalah puasa sehari sebelum massure’ dengan hanya memakan semua makanan yang putih, seperti nasi putih, putih telur dan minum air putih.
Setelah puasa muteh, berikutnya dilanjutkan dengan ritual Maccera. Andi Nila menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan maccera adalah menyembelih sepasang ayam jantan dan betina.
“Tapi maccera itu sangat tergantung pada besar kecilnya acara yang dilakukan.” Jelas Andi Nila. Dia mencontohkan ketika Bissu Saidi dari Barru diminta untuk massure’ oleh Robert Wilson, sutradara pementasan I La Galigo yang berkeliling dunia. Sebelum mulai massure’ Bissu Saidi meminta agar dilakukan cera’ dengan mengorbankan seekor sapi karena acara besar. Namun permintaan ini tidak dipenuhi hingga akhir pementasan di Makassar.
Saat itu Bissu Saidi’ sempat mengungkapkan “iya’ naseng na kenna – saya mi pasti yang dikenna’ yang dipercaya sebagai dampak tidak dilakukannya ritual maccera’ untuk pementasan. Wallahu alam, namun sekitar dua minggu dari pementasan terakhir I La Galigo di makassar, Bissu Saidi’ pun mangkat.
Hal mistis seperti ini pun kerap terjadi ketika awal-awal andi nila massure’ tanpa melakukan ritul. “Pernah sekali, saya massure’ tanpa melakukan ritual, paska massure’ saya pun tidak bisa melangkah beberapa bulan. Dipercaya atau tidak, namun hal itu membawa pelajaran untuk saya bahwa setiap kali saya mau massure’ maka saya harus membersihkan diri dengan ritual puasa muteh, maccera dan bersih hati,” jelasnya.

Belajar massure’ dilakukan pada tengah malam ketika seluruh makhluk hidup di dunia ini sudah diperkirakan terlelap dalam sepertiga malam. Dan ketika belajar, maka passure’ akan mengenakan baju bodo dan sarung yang yang keduanya berwarna kuning. Hal ini disebut massangiang, di dahului dengan mandi bersih.
Pertama kali belajar Massure’ tahun 2013, Andi Nila bahkan tidak mengerti bahasa Bugis, apalagi bahasa Lontara dalam kitab La Galigo. Tingkatan Passure’ yang tertinggi disebut Bissu. Dan Bissu pertama adalah saudara kembar Sawerigading yang bernama We Tenri Abeng dengan gelar Bissu Ri Langi’.
Perbedaan passure Luwu dan Bugis adalah di Luwu Passure’ itu adalah perempuan. Sedangkan di Bugis, passure’ itu laki-laki tapi kita lihat, secara mistis mereka akan berubah menjadi keperempuanan. Semakin tinggi tingkatan passure’nya maka laki-laki itu akan bertingkah menjadi seperti perempuan, bukan hal yang disengaja apalagi kalau tingkatannya menjadi bissuE maka laki-laki itu akan mengebiri dirinya sendiri. Mereka biasa disebut Calabai.

Perbedaan lainnya adalah kalau di Luwu hanya boleh ada satu Passure’. “Saya bisa mengajar massure’ ketika anre gurukku mangkat, atau ketika saya lebih duluan meninggal maka Anre gurukku bisa mengajar orang lain,” jelas Andi Nila.
“Massure’ itu berbeda dengan pelantunan biasa yang kita dengarkan yang disebut massaleang. Massure’ itu membaca sure’ La Galigo secara datar namun sangat dalam dan dilalui dengan ritual sedangkan massaleang itu melantunkan sure’ La Galigo seperti oramg bernyanyi dengan membaca sure’ Galigo yang bahasanya telah diubah namun memiliki arti yang sama dan tidak harus melalui prosesi ritual sebelum massure’.
Untuk massure’ ini biasa diiringi suling atau alat musik tradisional Sulawesi selatan keso’-keso’ yang alatnya mirip biola. Alat musik inilah yang memberikan ritme pada pembacaan sure’.
Kitab I La Galigo (sure’) dikenal secara dunia paska diakui UNESCO sebagai Memory of the World. Untuk melestarikannya, kitab I La Galigo ini diperkenalkan dalam bentuk pertunjukan teater I La Galigo oleh Robert Wilson, sutradara asal Amerika Serikat secara internasional pada tahun 2004.

Kitab I La Galigo tertulis dalam bahasa Luwu kuno ini bercerita tentang awal mula kerajaan Bumi dan seluruh peristiwa kehidupan, mulai dari pernikahan, bercocok tanam hingga perjalan cinta Sawerigading sang tokoh utama. Selain itu kitab ini memberikan gambaran tentang kebudayaan Luwu dan Bugis sebelum abad ke-14.

#renunganvie

YOUNG DIPLOMATS @AMERICA

Senang rasanya bisa berada di tengah-tengah semangat muda, jadi teringat masa-masa ketika awal kuliah, dengan segala informasi baru yang membentuk gagasan-gagasan baru. Apalagi mendengarkan kisah-kisah seru para diplomat muda yang di panel dalam acara Young Diplomats Behind The Scenes bertempat di @america Pacifik Place, Jakarta, Jumat (2/3).

Kegiatan ini diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dengan menghadirkan para pembicara perwakilan dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Dimas Muhammad, para ambassador dari Kedutaan Amerika Maxwell Harington, Kedutaan Perancis Quentin Biehler, Kedutaan Cina Yin Siyan, Kedutaan Afrika Selatan Tafula Shai dan Kedutaan Australia Scott Bradford.

Masing-masing ambassador memiliki keunikan terkait proses perekrutan mereka sebagai diplomat. Namun secara umum, dimulai dari proses lamaran kerja, mengikuti tes, melalui tahapan wawancara, pengecekan referensi, pemeriksaan kesehatan hingga program internship di awal karir sebagai diplomat muda.

Versi Yin Sian, diplomat China, para Diplomat ini secara umum bekerja mewakili kedutaan masing-masing untuk 1. Mengurus keperluan warga negaranya di negara tempat diplomat itu ditugaskan, 2. Mengurus warga asing yang ingin berkunjung di negara asal para diplomat, 3. Mengurus kasus-kasus yang melibatkan warga negaranya, 4. Membina hubungan yang baik dengan negara penempatan dan 5. Untuk mempromosikan negara asal mereka.

Foto bersama Diplomat Cina Yin Siyan

Selain itu, beberapa hal yang menjadi tantangan downtown para ambassador di negara penempatan mereka antara lain 1. Jauh dari rumah, keluarga dan teman-teman 2. Keluarga yang ikut pindah tapi pasangan tidak boleh bekerja yang profesional seperti di negara asal seperti yang disampaikan Quentin, sedang Dimas menceritakan beda pendapatan saat tugas di dalam indonesia dan ketika ditugaskan di negara lain 😁.

Foto bersama Quentin Biehler, diplomat Perancis

Banyak stereotype diberikan kepada para diplomat, bahwa mereka kerjanya pesta, berjabat tangan, foto-foto, namun dibalik itu masyarakat tidak tahu bahwa ada pekerjaan-pekerjaan analisis yang membutuhkan kejelian dan konsentrasi yang tinggi.” Jelas Dimas Muhammad, diplomat muda yang saat ini menjadi interpreter Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Foto bersama Dimas Muhammad Diplomat Indonesia

Bukan hanya terhadap tugas dan tanggung jawab mereka, juga terkait negara tempat mereka ditempatkan seperti Indonesia. Scott, diplomat Australia misalnya menjadikan Indonesia sebagai pilihan pertama penempatan tugas diplomasi. Dan dia sangat senang ketika pilihannya menjadi kenyataan. Karena dia suka Indonesia.

Foto bersama Scott Bradford, diplomat Australia

Beda dengan Maxwell, diplomat asal Amerika. Ketika pertama tiba di Indonesia. Sepanjang jalan menuju kediamannya, dia nenyaksikan gedung-gedung menjulang di sepanjang jalan. Padahal infonya, Indonesia adalah negara kecil dan sedang membangun. Hal lain yang menarik perhatiannya adalah mesjid tersebar dimana-mana, tidak seperti di Amerika. Dan yang paling berkesan ketika dia mengikuti Festival Keraton Nusantara di Cirebon tahun 2017, pertama kalinya dia melihat raja-raja dengan pakaian kebesaran masing-masing dan berkumpul dengan adat budaya yang santun yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya.

Foto bersama Maxwell Harington diplomat asal USA

Sayang tidak sempat foto bersama Diplomat Afrika Selatan Tafula Shai karena meninggalkan lokasi acara lebih awal. Tapi secara keseluruhan Tafula menyampaikan bahwa menjadi diplomat itu fun. “Meskipun terjadi ketidaksepahaman secara formal kenegaraan, namun sesama diplomat harus menjaga komunikasi yang baik, karena disitulah indahnya diplomasi,” jelasnya.

Secara umum, untuk menjadi seorang diplomat, kompetensi dasar sangat dibutuhkan, namun yang paling penting adalah keinginan untuk terus belajar baik itu isu internasional, budaya internasional, bahasa dan be yourself.

Setiap orang punya keunikan masing-masing. Gali potensimu, kembangkan dirimu. Karena kesuksesanmu adalah pilihanmu – Sulvi Suardi, Pacific Place, Jakarta, 02032018

Where diplomacys is more than what meets your eyes – FPCIndo

CATATAN MTKL 2018

Ternyata, ada juga catatan saya untuk pelaksanaan MTKL 2018. Dari ketidaksiapan pelaksanaan hingga pelaksanaan “nekad” yang menciptakan banyak drama.

Pertama, Mulai dari orang-orang yang “PECCU”

Kedua, Kerja yang menjadi tidak profesional

Ketiga, Manajemen Tukang Sate

Keempat, Kamuflase 🙊

Kelima, Manajemen Tertutup,

Keenam, kurangnya budaya “BERBAGI”

Ketujuh, sebaiknya Dewan Adat Kedatuan Luwu lebih memegang peran sebagai pengawas, bukan pelaksana.

Kedelapan, perlu dokumentasi dengan baik.

Kesembilan, Perlu disadari, apapun yang kita lakukan, tentu akan mendapat penilaian dari orang lain.

Kesepuluh dalam catatan kami, lebih mengedepankan dugaan dan prasangka daripada saling mensupport satu sama lain. Baru kali ini saya mengikuti sebuah kegiatan, dimana Ketua Tim lah yang membuat laporan persiapan kepada para koordinator kegiatan, bukankah semestinya koordinator yang melaporkan progres kepada Ketua hehehe.

Tabe kapolo, hasil evaluasi saya ini bukanlah sebuah kebenaran mutlak, tentu bisa didiskusikan sebagaimana setiap tindakan memiliki alasan dan argumentasi. Cukup dijadikan catatan, tanpa upaya untuk mendiskreditkan. Mari mengambil hikmah dari setiap kejadian. 🙏🙏🙏

MATTOANA MTKL 2018

Usai Kirab Budaya Matemmu Taung 2018 di sore hari, kegiatan di Istana Langkanae Kedatuan Luwu dilanjutkan dengan pembacaan Barzanji. Barzanji ini dilakukan sebagai pengucapan doa kesyukuran yang berisi puji-pujian kepada junjungan Rasulullah SAW, sebagai teladan manusia.

Usai Sholat Magrib, para Raja se-Nusantara kembali hadir di Istana Langkanae Kedatuan Luwu untuk jamuan Makan Malam secara adat atau Mattoana. Sebelum jamuan untuk To PapoataE Datu Luwu dihidangkan, Maddika Bua mewakili Kedatuan Luwu mengucapkan selamat datang kepada para Raja Se-Nusantara yang telah hadir dalam perhelatan Matemmu Taung Kedatuan Luwu 2018.

Selanjutnya, To PapoataE Datu Luwu mendapat persembahan dari orang Toraja sebagai pertanda kecintaan mereka kepada To PapoataE Datu Luwu.

Selanjutnya, hadirlah dua belas gadis belia yang dipimpin oleh sepasang muda mudi yang bertugas untuk menyerahkan dua belas AKKA atau suguhan kepada To PapoataE Datu Luwu. Dalam jamuan ini, To PapoataE Datu Luwu disuguhi “AKKA” (suguhan) berupa 12 bosara kiaje yang masing-masing dibawa oleh seorang gadis “PANGGOLO” (pelayan).

Didalam acara Mattoana ini, berlaku kaidah adat Luwu yang mengatakan “Maggati maneng akka rakkinna to Maegae” yang berarti bahwa akka seluruh para (undangan) yang hadir mengikuti Akka dari To PapoataE Datu Luwu. Yang berarti bahwa apabila Akka dari To PapoataE Datu Luwu telah dianggap sempurna secara adat, maka tidak seorangpun yang boleh protes atas AKKA (suguhan) bagi dirinya. Itu adalah simbol bahwa kehadiran To PapoataE Datu Luwu adalah simbol keharmonisan dan ketertiban sosial.

Sambil menikmati suguhan (AKKA) hadirin dihibur dengan pertunjukan tari Pajaga. Dimana esensi dari gerak dan irama tari Pajaga adalah sebagai latihan meditative (semedi) berupa pengendalian diri, membangkitkan kepekaan (sensitiveness) serta membangkitkan tenaga atau energi batin penarinya.

Tarian Pajaga yang ditampilkan pada MATTOANA MTKL2018 ini berjudul Ininnawa Mappatakko – sesuai syair dari pengiringnya sebagai berikut:

Ininnawa mappatakko

Alai-pakka waru

Toto teng-lessangmu

Yang secara bebas berarti:

“Tabahlah wahai jiwa

Jadikanlah pegangan hidup

Bahwa segala yang menimpa dirimu

Adalah takdir dari Yang Maha Kuasa

Yang tidak dapat dielakkan.

Setelah tari Pajaga, diikuti oleh pertunjukan tari Palili, lalu dilanjutkan dengan tampilan tari Sajo yang ditarikan oleh dua orang gadis yang suci. BIasanya tari Sajo ini diberi hadiah “ri cebbang” oleh kerabat dan handai taulan. Yang ditafsirkan oleh para hadirin sebagai refleksi “citra kepribadian” sang penari. Semakin banyak orang yang ‘Macebbang” semakin baik reputasi sang penari.

Usai tarian Sajo, maka para Pangngolo akan mengambil kembali bosara yang hidangannya telah disantap dan berlalu dari hadapan To PapoataE Datu Luwu juga hadirin yang dijamu.

Usai pelaksanaan Mattoana dan para tamu undangan telah meninggalkan Istana Langkanae Kedatuan Luwu, kegiatan di Istana dilanjutkan dengan Maddoja Roja atau berjaga semalam suntuk. PRosesi adat ini secara harfiah bermakna menjaga kesadaran atau Paringerrang yang dalam masyarakat Luwu dianggap memiliki kekuatan Adil Kodrati.

Acara Maddoja Roja juga dimaknai sebagai semedi (meditasi) secara kolektif di malam hari untuk menyempurnakan “kesadaran kolektif” dari rumpun keluarga Kedatuan Luwu sebelum melaksanakan acara adat keesokan harinya.

Inti acara Maddoja Roja adalah pembacaan Hatmul-Hauj atau Matemmu Lahoja. Yakni pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran sera tata cara melakukan Matemmu Lahoja sebagaimana yang telah disusun oleh Datok Sulaiman yang diberikan kepada Datu Luwu untuk dibacakan pada setiap kesempatan demi mendoakan keselamatan dan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Luwu.

Ayat-ayat suci Al-Quran yang dibaca ribuan kali oleh sembilan (9) ulama. Selama pembacaan doa tidak seorangpun dari kesembilan ulama tersebut boleh mengucapkan kata-kata selain rangkaian ayat-ayat suci Al-Quran. Apabila ada seorang pembaca yang melanggar ketentuan tersebut maka pembacaan harus dimulai lagi dari awal.

Sesudah membaca ayat suci maka kesembilan ulama membacakan doa dan kemudian dilanjutkan dengan sholat berjamaan 2 (dua) rakaat. Acara ini diakhiri dengan memakan manisan secara bersama-sama. Semoga kehidupan seluruh lapisan masyarakat Adat Luwu semakin terus makmur dan sejahtera di bawah Rahmat dan hidayah Yang Maha Pengasih.

Next : SEMINAR BUDAYA MTKL 2018