Mereka Melihat dan Meniru

Melihat foto-foto anak rekan kerjaku yang begitu lucu, gagah dan menggemaskan membuatku ingin bertemu di sekembar Athala dan Athaya. Cukup lama aku tidak bertemu mereka sehingga perjalanan ke Tanggerang menjadi sangat menarik. Apalagi aku berangkat dengan kereta api, pengalaman baru lagi sejak aku mengenal kereta. Karena biasanya aku berangkat menggunakan mobil.

Perjalananku ini ditemani Wati, anak baru di mess pemda Lutim di Jakarta. Seperti orang baru di Jakarta, banyak cerita-cerita seram yang membuatku tidak ingin kemanapun sendirian. Dan terasa lebih nyaman kalau bepergian dengan seorang teman, sehingga bisa berbagi dan saling bercerita.

image

Tapi ada kejadian yang menggelitik di atas kereta. Di hadapan kami, duduk seorang lelaki separuh baya dengan segala kepongahannya. Bak sedang bercengkerama di rumah, disaat semua orang berjejal berebut ingin mendapatkan tempat duduk, beliau dengan santainya mengangkat kaki di kursi penumpang.

image

Sementara di depannya, berdiri seorang little princess- anak perempuan yang lucu dan cantik yang terus memperhatikannya. Sangat disayangkan… andai saja beliau paham, bahwa seorang anak belajar dari melihat dan mencontoh lingkungannya. Karena pelajaran pertama mereka dimulai dari keluarga dan lingkungannya, sehingga baik buruknya akan berdampak pada perkembangan kepribadian mereka.

Dan anak-anak itu belajar dengan mencontoh apa yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya. Sehingga melihat seorang kakek yang duduk seenaknya di angkutan umum, bisa saja tersimpan dalam memorinya bahwa dia juga bisa melakukan apapun sesuai keinginannya sendiri.

image

Dengan melihat dan ingin mencontoh inilah, walhasil si little princess mengamuk ingin bergelantungan seperti orang-orang dewasa yang dilihatnya berdiri. Tentu karena dia mencontohi mereka. Sungguh miris menyaksikannya.

image

Ketika sang ayah berusaha untuk melarangnya.. bukannya diam, tangis si little pincess justru semakin kencang. Akhirnya sang ayah merengkuhnya dan mencoba mengikuti kemauannya. Namun sayang, semakin ramai orang yang masuk ke kereta pada pemberhentian berikutnya, maka mereka tidak bisa melanjutkan menuruti keinginan si gadis kecil dan dia menjerit-jerit dalam tangisnya.

Entah apa yang terjadi selanjutnya, karena kami pun telah tiba pada pemberhentian kami. Hanya senyum simpul yang bisa kulemparkan pada sang kakek… berharap beliau bisa lebih bijaksana dalam bersikap ketika berada di kendaraan umum, terlebih lagi banyak anak-anak kecil di sekitarnya.

image

#RenunganVie

Sumber foto: Pribadi dan google image

la_vie

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s