Simbol Luwu bukanlah Badik

Muhibah Kedatuan Luwu Day-1

Hari masih gelap, namun riuh telah menjadi akrab di telinga. Semua bangun cepat hari ini, bergantian mandi dan menuju Bandara. Hari ini, kami akan mengikuti perjalanan muhibah bersama Datu Luwu XL, Haji Andi Maradang Mackulau, SH Opu To Bau.

Meeting point ke-39 rombongan Muhibah ke kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu ini di Terminal 1b Bandara Soekarno Hatta. Semua berangkat dengan penerbangan Lion Air JT0374 Menuju Bandara Hang Nadim Batam Kepulauan Riau.

image

Setiba di Batam, kami dijemput kendaraan Pariwisata Riau dan diantar menuju Pelabuhan Punggur Pemprov Riau untuk melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Pinang. Di Pelabuhan Punggur, rombongan disambut oleh Opu Andi Ibrahim, Dituakan KKSS Batam beserta beberapa pengurua KKSS Batam juga ketua dan beberapa perangkat Perkumpulan Keluarga Luwu Raya Batam.

Mengendarai 2 Speed Boat milik Pemprov Riau, kami menempuh satu jam perjalanan menuju Sri Bintan Pura Ferry Terminal. Cuaca yang cerah mengawal perjalan kami hingga tiba di tujuan. Saat tiba, rupanya warga KKSS dan Perkumpulan Luwu Raya Tanjung Pinang.

Setiba di Tanjung Pinang, kami langsung bergerak melakukan Ziarah ke Makam Opu Daeng Cella dan Opu Daeng Marewa. Kedua almarhum Opu ini, merupakan pemersatu Luwu Melayu  dengan perkawinan antar bangsa dan hingga saat ini turunan kedua almarhum Opu ini masih eksis di Kepulauan Riau.

image

Usai ziarah makam, kami dijamu dengan sajian santap siang. Wah, saya menemukan sebuah menu unik yang dihidangkan yaitu kerang yang selama ini lebih sering saya lihat ditampilkan sebagai perhiasan namun ternyata sedap disantap dengan bumbu kacang. Sempat pula bercakap-cakap dengan Raja Malik Hafrizal yang merupakan satu dari keturunan langsung almarhum Opu Cella diantara yang hadir.

image

Usai santap siang, kami menuju hotel untuk beristirahat lalu bersiap diri mengikuti ramah tamah bersama Gubernur Kepulauan Riau.

Betapa nikmatnya menyaksikan sebuah keluarga besar yang saling menyapa. Datu Luwu XL dalam kesempatan ini merasa sangat terharu atas penyambutan keluarga besar Luwu-Melayu di Kepulauan Riau. Secara Kedatuan, kunjungan ke Kepulauan Riau diawali dengan Datu ke-12, lalu Datu ke-26 dn 27 dan saat ini Datu LuwuXL.

Perhelatan ramah tamah ini dimeriahkan  menampilk tari persembahan Kepulauan Riau berbalas Tari Pajaga Makkunrai dan Tari Sumpanglolo dari Tana Luwu.

image

Dalam sambutannya, Datu menjelaskan bahwa simbol Tana Luwu bukanlah pedang, bukanlah keris, juga bukan Badik. Simbol Tana luwu adalah Payung, sehingga kehadirannya bukan menjadi masalah namun memberikan solusi.

image

Pada kesempatan yang sama, Datu Luwu XL menyematkan pin Kedatuan Luwu kepada Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basitaun, Yang Dipertuan Besar Tengku Husen Saleh dan Ketua Lembaga Adat Melayu Prov. Kepri Haji Abdul Razak. Dan dibalas Gubernur Kepri dengan memasangkan Tudung Manto kepada Datu Luwu XL juga memasangkan selendang kepada Permaisuri, Opu Balirante Kedatuan Luwu Prof. Andi Ima Kesuma serta ketua Penyelenggara Festival Tana Luwu 2017.

Malam ramah tamah ditutup dengan foto bersama keluarga Luwu dan Melayu Kepulauan Riau.

image

Sumber foto : Dok Pribadi

la_vie

Kadang Kita Lupa

Kadang kita lupa, kita lebih memperturutkan emosi dan kebencian ketimbang empati dan persahabatan. Sehingga yang timbul adalah prasangka / prejudice tanpa melihat apakah itu merupakan sebab atau akibat.

Kadang kita suka lupa bahwa semua yang kita alami hari ini adalah dampak hari kemarin dan merupakan sebab pada apa yang akan terjadi keesokan hari. Jadi memperbanyak introspeksi diri akan membuat kita mengerti akan apa yang terjadi, bukan menduga-duga apa yang sedang terjadi.

Kadang kita lupa, bahwa orang lain akan bereaksi terhadap apa yang kita lakukan. Sehingga ketika kita ingin diperlakukan baik, maka berusahalah baik. Bukan kita saja yang mau diperlakukan baik tapi berbuat seenaknya pada orang lain.

Kadang kita lupa posisi kita berdiri, karena kemampuan kita lebih dari orang lain di sekitar kita. Karena itu kita berbuat sekehendak hati, menyepelekan mereka yang “tidak punya” di sekitar kita tanpa memperhatikan bahwa orang itu lebih berhak dari kita dan mereka pun berhak mendapat sebuah perlakuan.

Kadang kita lupa bahwa hidup ini tidak hanya tentang kita, tapi bagaimana kita berbagi, bagaimana kita berinteraksi dan bagaimana kita menempatkan posisi kita. Karena setiap orang memiliki hak untuk menentukan dengan siapa dan bagaimana dia menikmati hidup.

Kadang kita lupa bahwa bahagia itu milik semua orang. Bahagia itu bukan hanya tentang dirimu. Bagiku, bahagia itu ketika kita mampu berbagi, ketika saya menjadi manfaat bagi orang lain, dimana saya ikhlas dan ridha untuk berbagi. Karena meski kau memiliki segalanya, bagiku, ridha Allah, SWT adalah segalanya dan itu jauh lebih berarti dari segalanya.

Kadang kita lupa bahwa nikmat hari ini bisa saja menjadi nikmat terakhir yang kita miliki. Karena ajal itu adalah hak mutlak Allah SWT. Jadi berbuat baiklah, berprasangka baiklah… bisa saja itu adalah kebajikan terakhir darimu.

#menungguwaktu

la_vie

Ini Hari Apa

Tergelitik membaca postingan-postingan di medsos hari ini. Kebanyakan memang postingan foto anak-anak para sahabat-sahabat saya yang sedang mengikuti lomba dan karnaval dengan beragam jenis pakaian, apakah itu pakaian adat, apakah itu pakaian kerja yang menjadi cita-cita anak-anak yang menggunakanannya. Intinya adalah, karnaval seperti ini dilakukan tiap tahun mengenang R.A. Kartini setiap tanggal 21 April seperti hari ini.

image

Namun yang menggelitik saya adalah komentar menyampaikan nada protes bahwa R.A. Kartini itu bukan pahlawan bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan pejuang-pejuang wanita lainnya di Indonesia. Bahkan sampai menyimpulkan terjadinya pembohongan sejarah dan itu hanya rekayasa Belanda saja.

Memang benar, banyak wanita-wanita hebat di Nusantara ini yang patut dikisahkan perjuangannya, diangkat namanya, dikenang sebagai pahlawan, lantas mengapa hanya R.A. Kartini yang disebutkan?

Kenapa tidak ada hari Cut Nyak Dien dan Cuk Nyak Meutia, pejuang Aceh? Kenapa tidak ada hari Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto atau hari Hj. Fatmawati Soekarno? Padahal mereka masuk dalam 12 tokoh pejuang wanita Indonesia selain Hj. Rangkayo Rasuna Said yang pernah dipenjara di Belanda tahun 1932 karena memprotes ketidakadilan Pemerintah Hindia Belanda dan aktif memperjuangkan persamaan hak pria dan wanita terutama saat menjadi anggota DPR-RIS dan pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung.

Kenapa pula tidak ada hari Maria Walanda Maramis dari Sulawesi Utara yang berjuang agar wanita memiliki hak suara di perwakilan Minahasa tahun 1969, atau Martha Christina Tiahahu dari Maluku, atau Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan dari Yogyakarta.

Belum lagi tokoh wanita Nyi Ageng Serang dari Jawa Tengah, Opu Daeng Risadju dari Palopo Sulawesi Selatan, atau Raden Dewi Sartika dari Jawa Barat. Mereka yang sudah tercatat sebagai pahlawan wanita Indonesia, dan masih banyak lagi, Lantas mengapa hanya hari Kartini??

Dari tulisan Bayu Galih di Kompas Memahami Kepahlawanan Kartini Melalui Surat-suratnya dijelaskan bahwa, keinginan Kartini hanyalah pendidikan dan itu mewakili harapan wanita Indonesia utamanya dalam pendidikan dimana saat dia menulis surat-suratnya, pendidikan merupakan hal yang sulit untuk perempuan di zamannya.

“Kartini pun menuntut perempuan untuk dapat pendidikan. Ini dilakukan, menurut Kartini, bukan untuk menyaingi laki-laki. Namun, Kartini memahami bahwa perempuan dikodratkan menjadi ibu, dan ibu merupakan pendidik pertama untuk tiap manusia. Alasan itulah yang dinilai Kartini perlunya perempuan mendapat pendidikan.”

Kita hanya bisa berasumsi, memperkirakan apa yang dipikirkan Kartini saat itu. Harapan itu, ide itu bahkan mungkin dianggap gila pada zamannya. Bahkan tindakan politik etis yang dilakukan oleh Belanda menjadi terpengaruh dengan tulisan-tulisan Kartini, karena semangatnya.

Saya membayangkan, andai saat itu perjuangan wanita-wanita Indonesia lainnya pun telah dilukiskan dalam kata-kata, digoreskan dalam lembaran-lembaran kertas, bisa saja perjuangan mereka yang diangkat, bukan Kartini seperti saat ini. Namun Kartini mendapatkan kesempatan itu. Kartini menjadi ikon perjuangan wanita-wanita Indonesia, lantas, apa yang salah dengan hal itu?

Menurutku.. bukan siapa yang diperingati. Tetapi nilai apa yang diangkat, bagaimana kita menyikapi nilai-nilai itu. Kartini merupakan ikon, ada nilai lebih dari keputusan yang diambilnya. Tidak bijaklah ketika kita membanding-bandingkan para pahlawan wanita itu satu dengan lainnya, justru akan mengkerdilkan nilai teladan mereka.

Kenapa tidak kita tuliskan saja tentang wanita-wanita hebat di nusantara ini. Kenapa kita menganggap mereka hebat, nilai perjuangan apa yang mereka angkat, sehingga kita dan generasi kita ke depan dapat mengambil pelajaran daripadanya. Seperti tulisan Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca (1988)  “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Raden Ajeng Kartini pun seperti menjadi bukti atas pandangan Pramoedya tersebut. Namanya dikenang sebagai salah satu pejuang perempuan karena tulisannya.

image

Untuk wanita-wanita Indonesiaku yang hebat. Berjuanglah dan tuliskanlah, jadikan itu sebagai warisanmu pada generasi muda kita ke depan. Bukan untuk berbuat riya, tetapi untuk menjadi teladan, sehingga mereka bisa berbuat lebih baik lagi, menyempurnakan setiap kelemahan yang dilakukan pendahulunya.

Lantas, hari ini hari apa??

#wanitaindonesia #indonesiahebat

la_vie

Perkara Hati

🌿BIARLAH CINTA MILIK KITA AGAR HATI SENTIASA DEKAT🌿

Seorang Syeikh berjalan dengan para muridnya. Mereka  melihat ada sebuah keluarga yang sedang bertengkar dan saling berteriak.

Syeikh tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya : “Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?”

Salah seorang murid menjawab : “Karena kehilangan sabar sebab itulah mereka  berteriak.”

“Tetapi, mengapa harus berteriak kepada orang yang berada di sebelahnya? Bukankah pesan yang ia sampaikan boleh diucapkan dengan perlahan saja?” Tanya Syeikh menguji murid-muridnya.

Muridnya pun saling memberikan jawaban, namun tidak satu pun jawaban yang mereka sepakati.

Akhirnya Syeikh berkata:

“Bila dua orang sedang marah, ketahuilah hati mereka saling berjauhan. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka mesti berteriak agar perkataannya dapat didengar. Semakin marah, maka akan semakin kuat teriakannya. Karena jarak kedua hati semakin jauh.”

“Begitu juga sebaliknya, di saat kedua insan saling jatuh cinta,” Lanjut Syeikh.

“Mereka tidak saling berteriak antara yang satu dengan yang  lain. Mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan. Jarak antara kedua hati sangat dekat.”

“Bila mereka semakin lagi saling mencintai, apa yang terjadi? Mereka tidak lagi bicara. Mereka hanya berbisik dan saling mendekat dalam kasih-sayang. Pada Akhirnya, mereka bahkan tidak perlu lagi berbisik. Mereka cukup hanya dengan saling memandang. Itu saja. Sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi.”

Syeikh memandang muridnya dan mengingatkan dengan lembut:

“Jika terjadi pertengkaran di antara kalian, jangan biarkan hati kalian berjauhan. Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh. Karena jika kita biarkan, satu hari jaraknya tidak akan lagi boleh ditempuh.”

Sumber: Diskusi keluarga KKTL

la_vie

Semua adalah Ujian

Orang yg paling beruntung hanyalah mereka yang menyadari, menerima dan menjalani hidup ini sebagai ujian semata. Dan setiap ujiaan senantiasa Allah sediakan jawabannya, yaitu jalani saja dengan Ikhlas.

Ada diantara mereka yg lahir dengan fisik tidak sempurna,  ada juga hampir seluruh waktunya ditemani dengan penyakit. Ada yang sangat miskin, ada yang sangat sangat kaya. Namun semua keadaan itu tidak lain hanyalah fitnah belaka bila tdk mampu diterima sebagai wasilah ujian, sarana terbaik mendekatkan diri kepada yang Maha Berkehendak.

Yang total dalam ketaatan saja masih diuji terus, sedangkan yang ingkar ujiannnya sangat ringan,  atau mungkin saja  dibebaskan dari ujian karena tidak lagi masuk nominasi.

Diberi dua macam ujian “ujian kebaikan dan ujian keburukan” pun juga di beri kunci jawaban dari Allah yg maha bijaksana “Apabila di beri ujian kebaikan maka bersyukurlah bila diberi ujian keburukan maka bersabarlah.

Kebanyakan orang kaya tidak sabar dan kebanyakan orang miskin tidak bersyukur.

Kekayaan(materi) itu bukan pilihan, bila itu pilihan maka kebanyakan orang jadi kaya karena kebanyakan orang condong pada kekayaan. Karena bukan pilihan jadilah itu kesempatan. Dan setiap orang yang punya kesempatan rata rata tidak sabar. Bisa di test, suruh orang kaya atau pejabat ngantri, bisa panas pantatnya, he he he.
Suruh orang kaya tampil sederhana, jangan beli Ferrari nanti ketahuan korupsi,  tetap saja beli Ferrari dan ketahuan korupsi. Maka hanya mereka yg sabar dalam mendapatkan kekayaan dan sabar dalam memperlakukan kekayaannya kemudian menempatkan   sebagai materi ujian,  akan tampil tidak melampaui batas yaitu tetap menyadari dirinya bukan siapa siapa, tetap tiada daya dan upaya.

Di lain sisi , kemiskinan itu juga bukan pilihan. Itu juga materi ujian dalam bentuk lain. Tapi yang jelas bagi yg materinya kemiskinan pertanyaannya tidak banyak. Maka kecenderungan untuk lulus ujian sangat besar. Jadi klop,  kenapa Rosulullah tidak mengkhawatirkan kemiskinan. Makanya yang istimewa itu ketika orang yang diberi ujian  kemiskinan itu banyak bersyukur, karena pertanyaannya tidak banyak, kewajiban mereka yang miskin tidak sebanyak si kaya.

Dan yang perlu diperhatikan adalah jangan pernah tergoda oleh materi ujian orang lain, kemudian nyontek. Karena percuma, materi pertanyaannya pasti berbeda. Manusia itu unik, punya peran dan ujian yang pasti juga unik.

Demikianlah Kegunaan  Kehendak Allah, mampu menjadikan setiap ciptaanNya unik. Maka sambut Kehendak Nya dengan adap yang paling baik. Jangan pernah iri, dengki ataupun sekedar membayangkan ingin menjadi orang lain. Jangan pula bertanya kenapa kebaikan itu dari dia? Kenapa bukan dari saya? . tetaplah istiqomah dan menerima peran masing masing. Syurga (menuju Allah) itu luasnya seluas langit dan bumi, maka setiap diri punya pintu masuk masing masing tidak perlu berebut atau iri kepada pintu masuk orang lain.

Menjadi penyampai itu juga bukan sebuah pilihan, semua sekedar peran. Semua sandarannya Kehendak Allah. Maka ketika ada  anak kecil , perempuan lagi, menjadi asbab hidayah bagi pertaubatan orang tuanya ya jangan heran, sesuatu yang tidak dialami oleh Nabi Ibrahim sekalipun.
Demikianlah harap difahami, Allah penuh dengan kejutan yang tanpa batas.

Begitu banyak kejutan Allah perlihatkan, ada fenomena negara yg dinilai lebih  islami  dibandingkan dg negara lain yg mayoritas penduduknya orang Islam. Atau figur islami dari mereka yang non muslim.  Ini realita yg tidak perlu diperdebatkan tetapi perlu dibaca dan jadikan pelajaran.

Gerakan amar makruf nahi mungkar itu menurut Al Quran sudah diprakarsai oleh Mbah Lukman, di zaman sebelum Al Quran di wahyukan kepada Nabi Muhammad. Al Quran “membenarkan” apa yg dilakukan oleh Mbah Lukman.
Sekarang kalau kita ketemu dg seseorang yang tidak jelas status nya apalagi agamanya, tetapi perilaku nya “dibenarkan”  oleh Al Quran , pantaskah kita menilai kafir (ingkar)?
Ayo mikir. …

Bahkan sekarang tata nilai yang dibenarkan oleh Al Quran itu bisa dikemas dalam bentuk aplikasi atau system. Yang dengan system tersebut amar  makruf dan nahi mungkar bisa diimplementasikan, apa lagi yg diragukan?

Itulah qadar dan qadla. Manusia disuruh muncul dibumi menjalankan peran sesuai ketetapan Allah. Dan sebenarnya ketetapan itu sudah dibakukan sebagai sunatullah yang berlaku sepanjang zaman. Manusia mengemban peran sebagai khalifah atau perwakilan Allah di bumi, dengan dibekali berbagai kebutuhan untuk menjalani kehidupan di bumi. Ada orang-orang yang menyadari hal tersebut, karena dengan pertolonganNya mereka dikarunia kekekuatan dan keimanan. Ada juga orang yang tergiur dengan kehidupan duniawi karena tidak mendapatkan pertolongan Allah.

Ya bagaimana dapat pertolongan Allah, mereka tidak berusaha dengab sungguh-sungguh untuk menggapai pertolonganNya. Mereka lebih mengandalkan pada kekuatan dan kemampuan dirinya yang sebenarnya bukan apa-apa dihadapan Allah.

Al Quran itu tolok ukur, sesuatu untuk mengukur. Jadi gunakan sebagai alat ukur. Jadi ketika sesuatu diukur dengan Al Quran muncul kebenaran nya ya terimalah kebenaran nya. Sebaliknya bilia salah ya terimalah apa adanya.
Jangan perlakuan Al Quran sekedar “pembukuan” , sekedar dibaca arabnya tidak mau tau maknanya dengan dalih sudah dapat pahalanya. Pahala dari hongkong?

Ada tiga orang, 2 orang berseragam polisi, 1 orang berpakaian sipil. Yang berseragam polisi pertama, dia berpendidikan polisi, berpangkat polisi, tetapi tingkah laku bertolak belakang dengan tugasnya yang diembannya.
Yang berseragam satu lagi dia polisi gadungan, yang berseragam polisi untuk tipu sana tipu sini. Dan yang berpakaian sipil dia bukan polisi, tetapi tingkah lakunya sebagai seorang polisi. Taat pada hukum, membantu masyarakat yg butuh pertolongan,  mencegah kejahatan dan sebagainya. Pilih mana yang cocok sebagai polisi ?

Mari mengambil pelajaran daripadanya…

Sumber : Diskusi keluarga DIIAN

la_vie

Bersyukurlah

Orang yang diberi hikmah baik perihal ayat-ayat kauniyah maupun kauliyah biasanya diberi petunjuk oleh Allah apa hikmah yang ada dibalik ayat-ayat atau tanda-tanda (info) yang didengar, dilihat, dirasa (dibaca)

Contoh pelajaran hikmah yang dicontohkan ketika nabi Musa belajar pada nabi Khidr, atau kisah isra mi’raj nya Rasulullah.

Ingat bahwa setiap ayat mengandung 7 (banyak) paraf (tingkatan / ragam) pemahamannya. Untuk mengetahui makna setiap paraf dari suatu ayat kita harus memperoleh petunjuk dan hikmah. Hikmah bisa diberikan melalui pengalaman pribadi (ilmu pengetahuan) atau langsung mendapatkannya dari Allah.

Coba apa hikmah dari ayat berikut :

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَّا نُهُوْا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خٰسِـئِیْنَ
Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang. Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.”
[QS. Al-A’raf: Ayat 166]

Karakter kera akan melekat pada diri kita….. Sifat moyet adlh rakus dan tamak serta pandai berekting….

Ada sebuah artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika, caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun.  Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika. 

Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit.  Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya,agar mengundang monyet-monyet datang.  Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.   

 Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di  dalam botol tak bisa dikeluarkan.  Kok, bisa? Tentu kita sudah tahu jawabnya. 
  
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang,  monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat.  Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana ! 
  
Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. 
Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang. 

Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf.. 

Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya. 
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi.  Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenamya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.

Ternyata kalau hanya mengandalkan pengetahuan dan ilmu dunia untuk menjelaskan ayatpun tidak sesuai apa yang tersirat didalamnya.

Kembali pada Qs 7:166 “sikap sombong dengan apa yang dilarang” —>> jadi kera.
Penjelasan ayat lain :

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِيْ السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ  كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاسِئِـيْنَ  ۚ
Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!”
[QS. Al-Baqarah: Ayat 65]

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًا    ؕ  اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ ۚ
Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.
[QS. Luqman: Ayat 18]

Menyombongkan diri terhadap larangan Allah adalah fasik. Ancamannya sangat berat (Qs 7:40-41).

Monyet adalah poster / figur mahluk yang susah dilarang, kalau dilarang dia akan melotot bahkan marah sambil teriak-teriak meringis.

وَلَقَدْ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍ ۚ  وَمَا يَكْفُرُ بِهَآ اِلَّا  الْفٰسِقُوْنَ
Dan sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang jelas kepadamu (Muhammad) dan tidaklah ada yang mengingkarinya selain orang-orang fasik.
[QS. Al-Baqarah: Ayat 99]

قُلْ هَلْ اُنَـبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِّنْ ذٰ لِكَ مَثُوْبَةً عِنْدَ اللّٰهِ   ؕ  مَنْ لَّعَنَهُ اللّٰهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَـنَازِيْرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوْتَ    ؕ  اُولٰٓئِكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَّاَضَلُّ عَنْ سَوَآءِ السَّبِيْلِ
Katakanlah (Muhammad), “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang fasik) di sisi Allah? Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah Tagut.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.
[QS. Al-Ma’idah: Ayat 60]

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَآؤُكُمْ وَاَبْنَآؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَ اَمْوَالُ   ۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَ مَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَاۤ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَ جِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَ بَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖ    ؕ  وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ
Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
[QS. At-Taubah: Ayat 24]

Semoga kita senantiasa dapat mengambil pelajaran dan banyak-banyak bersyukur dengan apa yang kita miliki. Insyaallah…

Sumber: Diskusi keluarga DIIAN

la_vie

Tana Luwu

Sejarah telah menceritakan sebuah untaian kisah tentang kearifan budaya masyarakat di suatu tempat. Dalam konteks kekinian, sejarah itu kadangkala menjadi terkuburkan oleh keangkuhan dan keegoisan sekelompok orang yang memiliki kekuasaan di masanya.

Demikian pula dengan masyarakat Luwu. Yang dulu merupakan sebuah bangsa yang besar dibawah kekuasaan Raja Luwu. Kebesaran Raja Luwu bahkan merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka, Melayu hingga ke Afrika Selatan.

Namun terdapat dua kekuatan besar yang tidak pernah bertemu dalam upaya mengembalikan kebesaran Bangsa Luwu. PERTAMA, hirarki kebangsawanan tana Luwu. Dimana, struktur masyarakat yang bertingkat menjadikan aristokrasi tidak diterima lagi di masyarakat modern sekarang ini. Struktur Andi dan Opu dianggap memisahkan strata manusia dianggap hanya memisahkan struktur kemasyarakatan.

KEDUA, dampak dari Pergerakan DI/TII 1951 dibawah kepemimpinan Kahar Muzakkar yang merupakan orang Luwu. Kahar juga dikenal sebagai anti feodal dan menolak sistim kebangsawanan di Sulawesi Selatan. Karena melawan pihak Istana, Kahar bahkan dijatuhi hukuman ri paoppangi tana atau keluar dari kampung sebelum akhirnya pindah ke Solo lalu ke Jakarta dan menjadi tentara sebelum kembali lagi ke Sulawesi Selatan dan memimpin pemberontakan DI/TII terhadap Indonesia.

DI/TII menjadikan daerah Luwu sebagai daerah “merah” bagi NKRI. Bahkan menjadikan NKRI lupa bahwa Raja Luwu lah yang menginisiasi kerajaan-kerajaan untuk mendukung pembentukan NKRI. NKRI seharusnya memberikan hak istimewa kepada Kerajaan Luwu, namun yang terjadi adalah, Istana Luwu bahkan tidak mendapat perhatian sedikitpun dari NKRI.

Bahkan upaya untuk menjadi sebuah provinsipun tidak pernah mendapatkan restu dari Penguasa NKRI. Beberapa kali upaya menjadikan Tana Luwu sebagai sebuah Provinsi dengan kewenangan Daerah Istimewa sejak Raja Luwu Andi Djemma Pajung’e ri Luwu tidak pernah berhasil meskipun telah disetujui Presiden Soekarno sebelum Andi Djemma meninggal tahun 1965.

Andi Djemma dan NKRI

Ketika masih hidup raja (Datu atau Pajung’e Ri Luwu), Andi Djemma’, beliau menemui Presiden R.I, Ir Soekarno pada tahun 1958. Beliau mengusulkan kepada presiden R.I satu Pemerintahan Daerah Istimewa di Luwu.

Alasan Andi Jemma pajungng’e ri Luwu meminta hal ini, karena raja dan rakyat Luwu, sepenuhnya mendukung proklamasi kemerdekaan R.I, yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan malah pada tanggal 18 Agustus 1945, beliau membentuk ‘Gerakan Sukarno Muda’ yang dipimpin langsung oleh beliau; selain dari pada itu, beliau memimpin rakyat Luwu tanggal 23 Januari 1946 mengangkat senjata melawan tentara Sekutu yang diboncengi oleh tentara NICA (Nedelands Indische Company Admisnistration) di kota Palopo.

Karena tekanan lawan disebabkan kekuatan tidak seimbang, hingga beliua terpaksa meninggalkan istana bersama permaisyurinya, memimpin rakyatnya bergerilya didalam wilaya kerajaannya, yang akhirnya tertangkap oleh tentara NICA dan dibuang ke Ternate.

Atas jaza-jaza beliau ini, beliau telah dianugrahi Bintang Kehormatan, lencana ‘Bintang Gerilya’ pada tertanggal 10 November 1958, dengan nomor 36.822 yang ditanda tangani langsung oleh Presiden Republik Indonesia Sukarno.

Permintaan dari beliau direstui oleh Presiden Sukarnoo pada saat itu, namun Daerah Istimewa yang dimaksud tidak pernah kunjung dalam wujud nyata, sebagai mana diharapkan beliau, karena saat itu di Luwu, sementara bergejolak pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Abdul Kahhar Mudzakkar, dan sampai Datu Andi Jemma wafat pada tanggal 23 Feberuari 1965 belum terwujud ciata-citanya.]

Sumber : http://www.rappang.com/2009/12/sri-paduka-datu-luwu-andi-djemma.html?m=1

Sehingga menjadi tugas Wija To Luwu untuk meneruskan cita-cita Andi Jemma demi mendapatkan kembali kedaulatan Tana Luwu sebagai sebuah bagian penting dari NKRI.

la_vie

Issengi Alemu

Kata-kata ini sederhana, tapi maknanya akan membuat kita senantiasa bersyukur dan introspeksi diri atas semua yang kita lakukan. Karena kadangkala, kita sering terjebak pada sebuah kekuatan Ego yang bersarang pada hati.

Lambat laun, usia akan meninggalkan kita, meskipun sebegitu sayangnya kita pada sebuah keadaan kehidupan itu. Usia itu pula yang secara sengaja maupun tidak sengaja mengajarkan kita tentang kearifan hidup. Bagaimana kita bertahan, mengolah bahkan mengubah sebuah keadaan.

Hanya saja, kadangkala kita lupa siapa diri kita sendiri, sehingga pepatah Bugis “Issengi Alemu – Tahu Dirimu’ menjadi sangat penting dalam kehidupan ini.

Seperti halnya hari ini. Saya marah. Meskipun saya berusaha untuk marah secara baik. Saya tidak pernah melarang siapapun untuk mencari lebih banyak atau berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih dalam hidup ini… tapi kalau itu membuatmu lupa hakekat kita hidup di dunia ini, lalu, untuk apa semua pencapaian itu?

Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, kadangkala kita menyadari hal itu tidak baik, kita bergeliat keluar dari situasi itu tapi kita tidak mencari solusi karena langkah-langkah yang kita ambil ternyata hanya sekedar proses “delay” semata. Menunda. Sehingga yang terjadi, muatan “issengi alemu” pun menjadi titik nadir kesemuan. Masalah itu hanya selesai sementara saja, tidak selesai.

Dan sedihnya lagi, terkadang kita berteriak pada orang lain supaya “issengi alemu” lantas kita sendiri tidak mampu bercermin dan melihat, bagaimana kita jika berada pada situasi itu. Sehingga kita selalu merasa lebih dari orang lain, padahal diatas langit ada langit.

Jika dibawa dalam konteks budaya, ada makna yang sering saya temui bahwa.. ketika ungkapan “Issengi Alemu” itu disampaikan, intinya adalah kita paham dimana keberadaan kita. Kita paham, bagaimana posisi kita. Sehingga kita bisa meredam keinginan-keinginan yang berlebihan untuk menciptakan suasana kondusif, aman, nyaman dan tentram.

Coba saja, apa kira-kira yang terjadi ketika kaki harus bertindak sebagai kepala, tentu beban tubuh itu akan berbeda, fungsi tubuh akan berubah. Jika hidung itu harus mencari makanan, semua sudah memiliki tempat dan peran masing-masing dalam sebuah badan. Sehingga menjadi tidak sopanlah ketika kita berjabat kaki dengan posisi dan kondisi tangan yang masih utuh. Tentunya kecuali suatu kondisi tertentu yang dikecualikan yang diterima dalam kesepakatan.

So… cobalah kita senantiasa mengingatkan diri untuk “Issengi Alemu” sebelum bertindak sehingga tujuan kita bisa tercapai dengan baik..

#menunggu #bored

la_vie

Aku Cemburu

Ya Allah, berikanlah izin, ridha dan kehendakMu, berikanlah petunjukMu, berikanlah hidayahMu, berikanlah kesabaran yang melintasi ruang dan waktu, berikanlah keimanan dan ketaqwaan agar aku senantiasa bisa bersandar kepadaMu.

Ya Allah, sungguh rasa ini membakarku. Di sela kebahagiaan yang menyelimutiku, ada rasa cemburu yang berdiri pongah di hadapanku. Membatasi gerakanku, membutakan mataku, menghimpit pernafasanku, memacu deru jantungku, menghilangkan akal sehatku.

Ampuni aku ya Allah. Janganlah Engkau sesatkan aku setelah Engkau memberi petunjuk. Janganlah engkau hinakan setelah Engkau muliakan. Sungguh aku tiada berdaya tanpa pertolonganMu.

Jauhkanlah rasa cemburu ini dari hatiku Ya Allah. Hilangkanlah kepalsuan dari diriku. Tuntunlah aku ke jalanMu, jalan orang-orang yang Engkau kehendaki dan Engkau ridhai. Bukan jalan orang-orang yang sesat yang telah hilang keimanan dalam diri mereka, yang menyekutukanMu dengan nafsu amarah yang membakar jiwa.

Ya Allah, berikanlah petunjukMu agar hilang kegalauan diri dari rasa cemburu ini. Sungguh aku berserah diri padaMu. Jadikanlah akal sehat, ketabahan dan kesabaran sebagai teman-temanku. Jadikanlah angkara murka menjauh dan menjadi musuhku. Jadikanlah tipu muslihat menjadi hal yang sulit untukku. Karena Engkaulah sebaik-baik penolong orang-orang yang Engkau kehendaki.

Ya Allah, bukakanlah pintu hatinya dan jadikanlah dia ingat akan dirinya dan kuasaMu. Bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendakMu. Aku berpasrah kepadaMu dan mengikhlaskan segala keputusanMu. Aku tiada daya dan upaya tanpa pertolonganMu.

Ya Allah, jika Engkau menghendaki cemburu menjadi temanku. Jadikanlah cemburu itu membuatku aku semakin dekat denganMu. Buatlah aku cemburu untuk senantiasa menyebut namaMu, jadikanlah cemburu itu sebagai pengingat segala kesalahan-kesalahanku sehingga aku senantiasa bisa memohon ampunan dan memuja namaMu. Jadikanlah cemburu itu sebagai motivasi aku selalu berbuat kebaikan, melakukan yang haq dan menjauhi yang bathil.

Aku tiada daya dan upaya selain pertolonganMu ya Allah. Maka bantulah aku ya Allah. Tiada aku bisa melakukan apapun jika Engkau menjauh dariku. Karena sesungguhnya pertolonganMu sangatlah dekat. Tolonglah aku dari rasa cemburu ini ya Allah. Engkaulah sebaik-baiknya penolong bagi hambaMu yang lemah ini.

Kabulkanlah permohonan hambaMu yang hina ini ya Allah. #ss

Aamiin ya rabbal alaamiin….

la_vie

FITNAH LEBIH KEJAM DARIPADA PEMBUNUHAN

“Kiai, ajarkan saya sesuatu yang bisa menghapuskan kesalahan saya ini.” Aku berusaha menjaga nada bicaraku, tak ingin sedikitpun sekali lagi menyinggung perasaannya.

Kiai Husain terkekeh. “Apa kau serius?” Katanya.

Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan. “Saya serius, Kiai. Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.”

Kiai Husain terdiam beberapa saat. Ia tampak berfikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan Kiai Husain kepadaku, yang jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan sebuah laku, atau tirakat, atau apa saja yang bisa menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku. Beberapa jenak kemudian, Kiai Husain mengucapkan sesuatu yang benar-benar di luar perkiraanku.

“Apakah kau punya sebuah kemoceng di rumahmu?” Aku benar-benar heran Kiai Husain justru menanyakan sesuatu yang tidak relevan untuk permintaanku tadi.

image

“Maaf, Kiai?” Aku berusaha memperjelas maksud Kiai Husain.

Kiai Husain tertawa, seperti Kiai Husain yang biasanya. Diujung tawanya, ia sedikit terbatuk. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghampiriku, “Ya, temukanlah sebuah kemoceng di rumahmu,” katanya.

Tampaknya Kiai Husain benar-benar serius dengan permintaannya. “Ya, saya punya sebuah kemoceng di rumah, Kiai. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

Kiai Husain tersenyum.

“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku,” katanya, “Berjalanlah sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kau mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kau lalui.”

Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud Kiai Husain adalah agar aku merenungkan kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan waktu…

“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata Kiai Husain. Ada senyum yang sedikit terkembang di wajahku.

***

Keesokan harinya, aku menemui Kiai Husain dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulupun pada gagangnya. Aku segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada beliau.

“Ini, Kiai, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Kiai. Saya menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah saya tentang Kiai yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang. Maafkan saya, Kiai. Maafkan saya…”

Kiai Husain mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya. “Seperti aku katakana kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kau hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar seusatu…,” katanya.

Aku hanya terdiam mendengar perkataan Kiai Husain yang lembut, menyejukkan hatiku.

“Kini pulanglah…” kata Kiai Husain.

Aku baru saja akan segera beranjak untuk pamit dan mencium tangannya, tetapi Kiai Husain melanjutkan kalimatnya, “Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kau menuju pondokku tadi…”

Aku terkejut mendengarkan permintaan Kiai Husain kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya: “Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kaucabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kau kumpulkan.”

Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Kiai Husain.

“Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Kiai Husain.

***

Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di sebuah kendaraan yang sedang menuju kota yang jauh, atau tersapu ke mana saja ke tempat yang kini tak mungkin aku ketahui.

Tapi aku harus menemukan mereka! Aku harus terus mencari ke setiap sudut jalanan, ke gang-gang sempit, ke mana saja!

Aku terus berjalan.

Setelah berjam-jam, aku berdiri di depan rumahku dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasku berat. Tenggorokanku kering. Di tanganku, kugenggam lima helai bulu kemoceng yang berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan.

Hari sudah menjelang petang. Dari ratusan yang kucabuti dan kujatuhkan dalam perjalanan pergi, hanya lima helai yang berhasil kutemukan dan kupungut lagi di perjalanan pulang. Ya, hanya lima helai. Lima helai.

***

Hari berikutnya aku menemui Kiai Husain dengan wajah yang murung. Aku menyerahkan lima helai bulu kemoceng itu pada Kiai Husain. “Ini, Kiai, hanya ini yang berhasil saya temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menyodorkannya pada Kiai Husain.

image

Kiai Husain terkekeh. “Kini kau telah belajar sesuatu,”katanya.

Aku mengernyitkan dahiku. “Apa yang telah aku pelajari, Kiai?” Aku benar-benar tak mengerti.

“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab Kiai Husain.

Tiba-tiba aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat.

“Bulu-bulu yang kaucabuti dan kaujatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kausebarkan. Meskipun kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kau duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kauhitung!”

Tiba-tiba aku menggigil mendengarkan kata-kata Kiai Husain. Seolah-olah ada tabrakan pesawat yang paling dahsyat di dalam kepalaku. Seolah-olah ada hujan mata pisau yang menghujam jantungku. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri.

“Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kau akan berusaha meluruskannya, karena kau benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kau tak tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kau tak bisa menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kau bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kau kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya.”

“Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah. Dosa yang terus berjalan diluar kendali pelaku pertamanya. Maka tentang fitnah-fitnah itu, meskipun aku atau siapapun saja yang kau fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kau tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai. “Astagfirullah al-adzhim… Astagfirullahal-adzhim… Astagfirullah al-adzhim…” Aku hanya bisa terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua ujung mataku.

“Ajari saya apa saja untuk membunuh fitnah-fitnah itu, Kiai. Ajari saya! Ajari saya! Astagfirullahal-adzhim…” Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.

Kiai Husain tertunduk. Beliau tampak meneteskan air matanya.“ Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak,” katanya, “Kini, aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahwa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah zat yang maha terus menerus menerima taubat manusia… InnaLlaha tawwabur-rahiim…”

Aku disambar halilintar jutaan megawatt yang mengguncangkan batinku! Aku ingin mengucapkan sejuta atau semiliar istighfar untuk semua yang sudah kulakukan! Aku ingin membacakan doa-doa apa saja untuk menghentikan fitnah-fitnah itu!

Kini kau telah belajar sesuatu,” kata Kiai Husain, setengah berbisik. Pipinya masih basah oleh air mata, “Fitnah-fitnah itu bukan hanya tentang dirimu dan seseorang yang kausakiti. Ia lebih luas lagi. Demikianlah, anakku, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan…”

[Anonymous]

la_vie