DIMENNA LUWU

Aku adalah penikmat seni, tidak pernah membayangkan menjadi pelaku seni yang tampil sendiri, menjadi pusat perhatian semua orang dan menjadi sorotan lampu panggung. Dan ketika “cobaan” itu menyapaku, panik membuat kakiku tak mampu berdiri dan aku tak mampu berfikir. Serasa ingin lari meninggalkan semuanya, karena ketakutanku adalah menjadi perusak pertunjukan yang telah dipersiapkan dengan begitu matang.

Semua yang harus kubaca menjadi kabur, kucoba menenangkan diri dengan minum air, tersenyum, namun tetap tak mampu menghilangkan rasa panik di kepalaku. Membayangkan aku tampil seorang diri, tanpa Budi Prasetyo, gitaris yang semestinya mengiringiku membaca puisi. Akh… Mendadak semuanya serasa berputar dan aku tak mampu bernafas.

Aku pamit pada mas Didit, stage manager yang terus memberiku semangat dan menenangkanku. Aku coba mingle menyapa beberapa penonton yang aku kenal, sedikit bercanda dan berbincang sebelum akhirnya aku ditarik kembali untuk standbye karena acara segera dimulai. Syukurlah, berbaur membuatku sedikit melupakan ketegangan yang tadi melandaku.

Begitu gong ketiga terdengar, Bismillahirrahmanirrahim, aku mulai mengucap salam, menyapa dan membaca satu demi satu kata yang tertulis di lembaran-lembaran kertas di tanganku, sambil melangkah mengambil posisi di tangga pojok panggung. Kutenangkan diri, memanjatkan doa memohon kelancaran acara.

Tadaaaaa… Pertunjukan pun dimulai. Kupandangi penonton sebagaimana diajarkan kak Sabil, namun sorotan lampu membuatku kembali tertunduk. Sejenak terdiam lalu aku mulai bersenandung, seperti latihan meski tanpa iringan gitar. “Aku harus mampu mengalahkan ketakutanku! Harus tampil tanpa mengecewakan bang Jamal Gentayangan sang Maestro yang percaya akan kemampuanku, harus mampu!” Gumamku menenangkan hati dan menyemangati diriku sendiri.

Dan puisi itupun mengalir…

Tanahku Tana Luwu

Oleh Sulvi Suardi

Ooo Tana Luwu

Cahaya mentari menyinari tanahku

Menjuntai kasih sepanjang pegunungan Verbeek

Kuisi hari memandang hijau suburnya tanahku

Lukisan kekayaan alam Tana Luwu

Kurindukan mamaku menyapih si bungsu

Saat mendendangkan syair-syair mantra La Galigo

Yang dikenal sebagai kekayaan warisan dunia

Oooo tanahku Tana Luwu

Beragam rempah, mineral dan keindahan alamnya

Tanah yang subur

Kuhabiskan masa kecilku di tepi danau Matano

Sesekali bersampan mengail Butini

Sang ikan purba penguasa danau

Melimpah ruah kekayaan tanahku

Ooo tanahku Tana Luwu, Kedatuan Mata Allo

Ta’kilallai Pepasanna Tumatua

Muikita pantannene’ pantanaluk,

Pantanlaen turunanta

Misa’kadadipatuo, pantankada dipomate

Betapa lega rasanya setelah selesai tugas dilaksanakan, serasa beban berat itu telah terangkat dari pundak. Dan, semua hilang seiring pertunjukan Dimenna Luwu yang bercerita tentang kerinduan akan Tana Luwu. Pertunjukan yang memadukan gerak, musik, nyanyian, teks, rupa sehingga banyak imaginasi yang terbentuk.

Kesuksesan pertunjukan ini adalah hasil kolaborasi Jamal Gentayangan dan Iqbal Lagaligo, bersama Husni Utami sebagai penata gerak. Seluruh penampil berjumlah 13 orang terdiri dari 4 penari putra, 5 penari putri dan 4 pemusik dari Sugi Performing Arts kota Palopo bekerjasama dengan Aestetikarira Dance Theater dengan Produser Andi Tenriajeng Sulolipu.

Dimenna Luwu ini menampilkan tari PAJAGA dengan gerakan yang maha lembut dipadukan tarian menapi beras, menumbuk alu dan tarian Perang Rongkong. Bahkan pakar tari Prof Sardono W. Kusumo mengatakan “di Jawa orang menari lambat tapi kalah lambat dari Pajaga, saya tau karena saya adalah penari Keraton Solo.”

Pertunjukan Dimenna Luwu ini merupakan salah satu pertunjukan dalam rangka PostFest 2018 Institut Kesenian Jakarta yang berlangsung selama 17 hari sejak 20 Juli sampai 5 Agustus 2018 dengan tema β€˜The Arts for Awaken’.

Dari 150 penonton yang hadir, didominasi oleh warga Luwu dan Kerukunan Keluarga tana Luwu yang telah lama merantau . Dihadiri Kepala dinas Pariwisata pemprov Sulawesi Selatan, Kadis Pariwisata Kota Palopo, warga dan pengurus KKSS baik dari Jabodetabek, Surabaya bahkan Kaltim juga tampak hadir Ketua Kerukunan Keluarga Tana Luwu, Dr.dr. H. Andi Arus Viktor, Sp M (K) dan Sekretarisnya, H. Jaya Lupu. Hadir juga sejumlah pakar dan budayawan tari menyaksikan pertunjukan ini, diantaranya Yulianti Parani, Dedy Luthan, dan Wiwiek Sipala, dosen IKJ yang juga piawai membawakan tarian-tarian Sulawesi Selatan.

Senang rasanya bisa bergabung dan mendukung pertunjukan yang mengangkat budaya Luwu di ibukota Jakarta. Meski harus melewati segala drama dan kepanikan, namun rasa syukur alhamdulillah membawa rasa damai dan kebersamaan. Apatah lagi, di luar teater kecil, disajikan beragam kuliner Tana Luwu sebagai pengobat rasa rindu yang ditawarkan oleh Aroma Palopo Swasembada Tanjung Priuk. 😍 Bagi yang berminat aneka kuliner khas Luwu bisa kontak ibu Harta Andi Djelling Opu Odeng +6281316689171 atau Andi Besse Vigeri Piccunang +6281319404247. Selain kuliner, mereka juga menyediakan jasa Wedding Organizer dan Make up Artist.

Semoga semakin sukses πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Pertunjukan ini terinspirasi dari lagu Dimenna Luwu karya H.B. Sibenteng

Dimenna Luwu (lagu)

Oleh H.B. Sibenteng

Maitta tongeng ndi ri rampe

Ri Luwu lippunna melle’e

Toppo ri wawonna di mengnge

De’pa ma’ dappi pakadanna

Ri Luwu pale ma kionro

Ulette puenna maccakkae

Menguju no naamu marennu

Mudappi nitumu pujie

* * *

Sudah lama disebut-sebut

Di Luwu tanah yang subur

Terletak di atas hamparan tanah

Tidak ada yang sama dengannya

Di Luwu tempat tinggal

Mencari kehidupan yang lebih cerah

Berangkatlah dengan senang

Kau dapat yang kau inginkan

#renunganvie

Senandung Rindu

Kuceritakan cinta, pada malam yang menyapa. Tentang kerinduan yang senantiasa memeluk pilu. Tentang mimpi untuk dapat bersamamu, mengisi hari dengan tawa dan canda.

Kerinduan yang senantiasa membawaku terbang jauh bersama angan dan mimpi. Kerinduan yang memaksaku untuk mengenang kembali masa-masa yang telah silam. Kerinduan yang membuatku terjatuh dalam linangan air mata.

Aku tak tahu harus bagaimana, aku merasa tiada berdaya, menginginkanmu, mengharapkanmu, memimpikanmu.

Namun, aku lebih memilih untuk diam, aku memilih untuk menjauh. Karena aku sadar, bahagiamu bukan bersamaku. Bahagiamu bersama dia dan buah hatimu. Bahagiaku telah hilang bersama teriakan mungilnya kala menyapa dunia.

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk rindu ini. Kerinduan yang kutorehkan lewat untaian kata tanpa makna. Karena makna itu telah berlalu bersamamu.

Sungguh, aku selalu ingin bersamamu. Menghabiskan sisa waktuku denganmu. Tapi aku memilih untuk diam dan berpaling. Meski aku tahu, rasa sakit dan pilu yang senantiasa menghentakkan jantungku.

Rasa ini semakin menyiksaku saat semilir angin berhembus dan membelai rambutku. Dalam diam dan heningnya malam, ingatanku terus kembali padamu. Menambah dalam rasa rindu yang selalu membawa bayanganmu kembali padaku.

Adakah kau mengingatku, kala aku mengingatmu? Adakah kau mengenangku, kala aku mengenangmu? Adakah kau merindukanku, kala aku merindukanmu?

Ampera 180215

Noted – puisi yang teronggok selama ini di sela-sela lembaran kusam catatan kuliahku πŸ˜‰

HBH IKA Unhas 2018

Kemarin (22/7/18) usai sholat subuh aku mengorder gojek untuk mengantarku ke kantor kementerian Perindustrian jalan Gatot Subroto Jakarta. Meski gelap masih mewarnai dan dingin masih membekap, aku mencoba menyemangati diri. Sedikit agak tergesa karena bangun kesiangan, syukur-syukur ada Tety sahabatku yang membangunkan. Padahal alarm dan telpon dari Giedha terus berdering namun tak ku dengar.

Akhirnya sampai juga aku di kantor kementerian perindustrian. Disana aku bertemu Giedha, kawan yang akan menemaniku bersama ribuan rombongan alumni Unhas menuju Istana Kepresidenan Cipanas dalam rangka Halal Bi Halal Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin 2018. Antrian cukup panjang saat aku tiba, kami semua harus melalui mesin screening sebelum naik ke bus yang akan ditumpangi.

Usai melewati mesin screening, kami dibagikan baju kaos. Lalu aku memilih untuk naik bus nomor lima, karena keempat bus di depan sudah hampir penuh dan berdua Giedha kami mau duduk di kursi depan πŸ˜€. Belum lama kami duduk, satu-persatu peserta akhirnya mengisi kursi kosong lainnya sehingga bus kami penuh. Total 8 bus yang berangkat pagi itu menuju Cipanas.

Dengan bantuan Ita, panitia khusus escort di bus kami, sticker dan kudapan pun dibagikan. Kudapan yang cukup untuk sarapan pagi, mengisi perut keroncongan yang hanya tersentuh segelas air putih hangat sebelum meninggalkan mess. Segelas air mineral ditemani arem-arem, roti manis dan risoles.

Akhirnya bus berangkat menuju Cipanas. Peserta HBH di bus kami semua koplak dan membuat perut sakit karena tertawa. Belum lagi sopir bus dan keneknya yang selalu punya topik pembicaraan yang tak kunjung usai. Ditambah suara merdu seorang peserta yang berkaraoke sepanjang perjalanan menuju puncak. Pokoke seruu

Ketika tiba di Cipanas, kami langsung menuju lokasi acara. Di bawah tenda besar, berkumpul ribuan peserta HBH. Tak lama kemudian, acara dimulai, semilir angin berhembus, meski terik matahari membakar kulit, namun sejuk Bogor kota Hujan terasa menyambut suasana kekeluargaan dalam kebersamaan ikatan alumni Unhas.

Rangkaian-demi rangkaian acara pembukaan dilalui, dilanjutkan jalan santai bersama mengitari halaman istana kepresidenan Cipanas. Aneka tanaman hias dan pepohonan diatur sedemikian rupa sehingga menjadi hutan kecil yang cantik. Jalan santai ini dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia HM Jusuf Kalla yang juga adalah Ketua IKA Unhas.

Turut hadir Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Aswanto, Ketua MK 2013-2015 Hamdan Zoelva, Dirjen Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe, Rektor Universitas Hasanuddin periode 2006-2014 Prof dr Idrus Paturusi dan Gubernur Sulsel terpilih 2018-2023 Prof Nurdin Abdullah serta para Civitas Akademika Unhas.

Beragam kegiatan mewarnai Halal Bi Halal. Berbeda dari lazimnya sambutan, dalam suasana kekeluargaan Jusuf Kalla menerima kehadiran para alumni dan rombongan dengan beragam gurauan. Tak lepas dari pandangan, sosok wakil presiden RI dua periode inj senantiasa berkelakar disambut tawa bersama alumni dan civitas Unhas.
Bahkan saat memberikan sambutan, sang cucu tak melepaskan diri dari JK. Sambil berseloroh, JK pun menceritakan bahwa hanya ada tiga orang yang bisa memerintah dirinya, meskipun sebagai Wakil Presiden. β€œTiga orang yang dapat memerintah saya; Presiden, Cucu saya dan Tukang Foto saat pengambilan gambar resmi,” gurau Jusuf Kalla disambut tawa hadirin.

Suasana kekeluargaan ini diisi dengan beragam aktivitas. Setelah jalan santai mengelilingi hutan kecil di pekarangan istana, juga dilakukan penanaman pohon alpokat dan jambu bool, donor darah dan aneka permainan seru seperti lomba joget, lomba bakiak untuk perempuan, lomba Engrang untuk laki-laki, dan lomba bawa kelereng untuk anak-anak.

Sebagaimana harapan pak JK, bahwa kegiatan halal bi halal merupakan wadah silaturahmi, tentu saja bertemu kembali dengan rekan-rekan alumni Unhas bisa memberikan beragam informasi unik dan dapat diambil manfaatnya. Utamanya kontak dan hubungan relasi yang semakin luas.

Tentu saja bisa bergembira karena saya #I’MSOSPOL Bersama, Bersatu, Berjaya πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ.

Thanks to Giedha yang udah mau menemani dan tanpa drama πŸ˜‰ πŸ™πŸ™πŸ™ .

* * * *

LUTIM SAMBANGI JERMAN UNTUK PROMOSI

Beragam upaya dilakukan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur untuk membuka keran investasi guna pembangunan di wilayahnya. Salah satunya adalah melakukan road show kunjungan promosi ke beberapa Kedutaan yang ada di Jakarta.

Kunjungan Wakil Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam di Kedutaan Jerman di Jakarta pada Jumat (20/7) diterima oleh Deputy Ambassador Hendrik Barkeling, Head of The Economic Section dan Dr. Andreas Kleine, First Secretary Deputy Head of Economic Affairs.

Dalam pemaparannya, .Irwan menjelaskan 6 sektor peluang investasi di Luwu Timur. Sektor pertambangan, perkebunan, kelautan perikanan, sarana prasarana, energy dan Kawasan Industri Malili (KIMAL). β€œkami mengundang Kedutaan Jerman dan investornya untuk datang dan melihat potensi yang kami miliki secara langsung,” undang Irwan.

Undangan ini disambut baik oleh pihak Kedutaan Jerman yang akan diawali dengan pertemuan pihak investor dengan Pemda Luwu Timur, Kadin Luwu Timur dan BUMD Timur Agro. Selanjutnya akan diikuti dengan penandatanganan Nota Kesepemahaman diantara Kedutaan Jerman dan Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Timur yang kemudian akan ditindaklanjuti oleh Kadin dari Jerman dan Luwu Timur.

β€œKami tertarik dengan investasi pabrik pengolahan kakao dan merica pasca panen. Tentu saja kami harapkan Pemda Luwu Timur dapat menyiapkan lahan dan kemudahan perizinan bagi investasi ini, jelas Hendrik.

Wakil Bupati Luwu Timur menyambut baik hal ini, demikian juga Ketua Kadin Luwu Timur, Hasan Basri. β€œKita akan segera menindaklanjuti hasil pertemuan Bapak Wakil Bupati Luwu Timur dengan Kedutaan Jerman, sehingga harapan kita untuk terwujudnya pabrik-pabrik pengolahan hasil pertanian masyarakat Kabupaten Luwu Timur juga segera tercapai,” jelas Hasan.

Irwan menjelaskan bahwa Pemerintah kabupaten Luwu Timur terus berupaya meningkatkan kegiatan investasi. Berbagai kebijakan berinvestasi diberikan seperti pelayanan terintegrasi satu pintu secara online. Sebagaimana Visi dan Misi Bupati dan Wakil Bupati yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Luwu Timur.

Dinas Penanaman Modal dan PTSP menindaklanjutinya ke dalam dua Peraturan Bupati untuk memberikan kemudahan dan pelayanan investasi. Perbup nomor 55 tentang penyederhanaan perizinan dan perbup nomor 56 tahun 2017 tentang pendelegasian penyelenggaraan dan penanadatanganan perizinan dan non perizinan dari Bupati kepada Kepala DPMPTSP, sehingga proses pengurusan izin dilaksanakan satu pintu.

Turut mendampingi Wabup Lutim adalah Ketua Kadin Luwu Timur Hasan Basri, Direktur BUMD Bumi Timur Agro Reinaldi Sugihen, Plt. Kepala DPMPTSP Andi Habil Unru, Kabid Penanaman Modal DPMPTSP Abd. Wahid R. Sangka dan Exexutive Director of EMPATI Luwu Timur Bryan Balebu.

LUTIM BIDIK INVESTOR ITALY

Menjemput bola dilakukan Wakil Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam dalam kunjungannya ke kantor Kedutaan Besar Italia untuk Jakarta pada Kamis (19/7). Diterima Alessandro Garbellini, Konsulat dan Kepala Misi Perdagangan Italia untuk Indonesia, Wabup Lutim menjelaskan potensi investasi di Luwu Timur.

Dalam penjelasannya, Wabup Lutim membagi peluang investasi daerah Luwu Timur dalam bidang pertambangan, pariwisata, sarana prasarana, perikanan dan kelautan, perkebunan dan energi.

“Wilayah kami luas dengan jumlah penduduk yang kecil, sehingga masih banyak lahan-lahan yang bisa dimanfaatkan untuk bidang usaha”, jelas Irwan.

Dicontohkan pada bidang pertambangan, Luwu Timur hanya memiki satu smelter, sementara luas lahan tambang masih memungkinkan untuk penambahan dua smelter. Untuk bidang pariwisata, Irwan memberikan gambaran tiga danau purba yang besar di Luwu Timur yang belum dimanfaatkan dengan maksimal.

Di bidang infrastruktur sarana prasarana, Irwan menjelaskan kondisi pelabuhan Internasional yang baru saja diresmikan beberapa waktu lalu, sebagai dukungan export import, juga peluang pembangunan bandara komersial serta potensi pengembangan kawasan industri terpadu seluas 750 ha yang akan digunakan untuk agro dan mineral.

Membidik peluang pasar Italia, bidang perkebunan juga menjadi unggulan Pemda Luwu Timur. Peluang investasi pembangunan pabrik CFO, baru ataupun pembaharuan dibuka dengan luas kepada para investor. Demikian pula pengelolaan kakao, lada dan beras. Di sektor perikanan, potensi Luwu Timur untuk pengembangan rumput laut, lobster, ikan bandeng dan kepiting. Serta potensi energi PLTA di 10 titik di Luwu Timur.

Menanggapi penjelasan Wabup Lutim, Alessandro mengharapkan agar iklim investasi di Luwu Timur dapat dipermudah utamanya perizinan dan komunikasi yang efektif. “Mengingat jarak yang sangat jaih, maka komunikasi yang mudah dan terbuka memungkinkan kerjasama yang baik antara calon investor dengan pemerintah kabupaten Luwu Timur,” ujarnya.

Alessandro juga menjelaskan bahwa pengusaha atau investor Italy lebih mengarah pada kerjasama menggandeng pengusaha lokal untuk pengadaan peralatan mesin-mesin industri dan proses pengolahan produksi seperti yang dilakukan di pirelly yang bekerjasama dengan Astra untuk pembuatan mobil, juga Parvati perusahaan permen Italy dalam membuat permen karet.

“Hal yang menjadi perhatian para investor Italy dan Eropa secara umum adalah perbedaan standarisasi yang digunakan di Indonesia jauh lebih ringan dibandingkan standarisasi yang diberlakukan di Italy dan Eropa. Selain itu sertifikasi produk Indonesia dan sustainability produksinya”, Jelas Alesandro.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan perkenalan Luwu Timur membidik investor Italy, maka disepakati dalam pertemuan selanjutnya, Pemda Luwu Timur akan dipertemukan dengan para pelaku bisnis yang sudah ada di Indonesa, Kadin Italy, Asosiasi Pengusaha Italy untuk Indonesia, Bank of Italy dan bidang kerjasama Kedutaan Italia untuk Indonesia.

Kunjungan Wabup Lutim didampingi Ketua Kadin Luwu Timur Hasan Basri, Direktur BUMD Bumi Timur Agro Reinaldi Sugihen, Plt. Kepala DPMPTSP Andi Habil Unru dan Kabid Penanaman Modal DPMPTSP Abd. Wahid R. Sangka.

JEERA BINA NAPI LAPAS

Kalau mendengar kata Narapidana (NAPI), kesannya angker, jahat banget, orang-orang yang jalan hidupnya tidak benar, susah diatur dan sebagainya. Mengingatkan semua kisah-kisah kejahatan dan kelakuan orang-orang yang tidak baik. Tapi kali ini, hanya kata WOW yang terucap di bibir, tak percaya namun nyata.

Memang benar, mereka berkumpul di Lembaga Pemasyarakatan disingkat Lapas karena beragam alasan kejahatan yang mereka lakukan. Namun JEERA memberikan harapan baru The New Begining dan kesempatan kedua (second chance) kepada mereka yang ingin berubah dan memperbaiki diri.

JEERA merupakan program kerjasama Kanwil Kemenkumham DKI Jakarta dan KNPI DKI Jakarta yang memberikan peluang pada setiap narapidana dan petugas pemasyarakatan untuk mengembangkan produk industri kreatif di dalam penjara. Kegiatan ini dilaksanakan dengan keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pelatihan, peningkatan kualitas produk dalam bentuk pengadaan alat bantu produksi dan pemasaran produk narapidana keluar dari penjara.

Seperti halnya Sendi (26) yang masuk lapas karena kegiatan jual beli satwa liar, kukang online. Setelah berhasil melakukan perdagangan selama 6 bulan, akhirnya tertangkap dan dikenakan tahanan kurungan dua tahun satu bulan.

Ternyata setelah menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Sendi menemukan sebuah gairah hidup yang baru dengan bantuan JEERA. Sendi belajar menjadi seorang Barista dan mendapat kepercayaan bergabung dalam tim pameran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan pada Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Otonomi Expo, 6-8 Juli 2018 bertempat di Indonesia Convention Exhibition ICE BSD Tangerang.

Ternyata banyak Sendy-Sendy lain yang mendapatkan manfaat dari binaan JEERA ini. Sebagaimana mata saya tertuju pada sebuah lukisan berisi potret Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H. Laoly yang dibuat oleh Erik, narapidana buta warna, dari limbah kulit warna-warni. Erik mengerjakannya dengan bantuan teman-teman JEERA dan narapidana lainnya dengan membuat potongan-potongan kecil yang ditempelkan berdasarkan angka yang telah diatur sebelumnya.

Meskipun stand pameran ini dibuat seperti gambaran Lapas dengan dekorasi jeruji besi dan kawat besi, namun hasil buah tangan para napi yang ditampilkan sangatlah luar biasa. Kagum dengan semangat dan kerja keras mereka, bahkan WOW menjadi kata pamungkas ketika mengetahui produk-produk para Napi ini sudah banyak yang di ekspor seperti tas kulit, craft dan kopi.

Kunjungan ini memberikan gambaran baru kepada saya, dan tentunya kepada pengunjung lainnya di stand ini, bahwa masa lalu tidak akan menghalangi pencapaian tujuan hidup ini ke arah yang lebih baik. Masa lalu adalah keputusan yang telah kita ambil dan lalui, dan semestinya menjadi pelajaran untuk berbuat lebih baik lagi untuk masa depan yang lebih cemerlang.

Tertarik mengetahui JEERA lebih lanjut silahkan kunjungi http://www.mauberubah.com @jeerafoundation

Hasil STIFIn Saya THINKING EXTROVERT

Sahabat saya, Tety Shyntia memberi kabar akan ke Mess dan janjian bertemu senior saya We Aisyah Lamboge untuk melakukan tes STIFIn. Seperti biasa, saya pun mengiyakan, karena saya juga tertarik untuk mengetahui, seperti apa sih tes STIFIn ini.

Akhirnya bertemulah kami bertiga. Secara singkat, senior yang saya panggil kak Icha ini pun menjelaskan bahwa STIFIn adalah sebuah alat tes mesin kecerdasan. Dimana tes ini anak memetakan mesin kecerdasan dan kepribadian seseorang cukup dengan mengambil sidik jari dari peserta tes. Tes ini memetakan sistem operasi otak yang menjawab 2 pertanyaan dasar:

1. Dimana letak belahan otak dominan

2. Pada belahan otak yang dominan itu, dimana lapisan otak yang dominan.

Data guratan atau sidik jari kita kemudian diolah oleh aplikasi komputer untuk menentukan belahan dan lapisan otak dominan, dari situ kemudian diketahui jenis kecerdasan kita; salah sati diantara 5 mesin kecerdasan dan salah satu diantara 9 personaliti genetik.

Kelima jenis kecerdasan adalah Sensing introvert (Si), Sensing extrovert (Se), Thinking introvert (Ti), Thinking extrovert (Te) dan Intuiting intovert (Ii).

Tes STIFIn mengukur unsur genetik seseorang, sesuatu yang dibawa lahir dan tidak berubah sepanjang hayat. Sedangkan alat seperti pencil dan paper test seringkali hanya bisa mengukur fenotip seseorang, sesuatu yang tampak secara lahiriah ketika tes sedang dilaksanakan. Itu sama artinya dengan tampilan yang berubah sesuai dengan kondisi lingkungan. Ahli kedokteran olahraga dari University of London, Nicola Maffulli, mengatakan faktor gen menemukan 30-60 persen keberhasilan latihan fisik orang biasa. Pada atlet, gen menentukan keberhasilan hingga 83 persen. Sedang menurut Stephen Roth ahli genetika dari University of Maryland di Baltimore, 80 persen kemampuan fisik ditentukan oleh gen bukan oleh latihan (Koran Tempo 2 Agustus 2012 halaman A12)

Konsep STIFIn diperkenalkan oleh Farid Poniman dengan mengkompilasi teori-teori psikologi, neuroscience, dan ilmu Sumber Daya Manusia yang pada prinsipnya mengacu pada konsep kecerdasan tunggal dari Carl Gustaav Jung. Tujuan dari konsep ini adalah untuk mengenali cara belajar, memilih profesi yang tepat, dan menghindari spekulasi kemampuan peserta tes.

Nah, setelah mengambil ke-sepuluh sidik jari saya, maka saya hanya menunggu sekitar 15 menit dan mengetahui hasilnya. Ternyata saya bertipe Te. Otak dominan yang bekerja adalah bagian sebelah kiri, atau disebut otak kiri. Kemudian kecerdasanku di lapisan abu-abu yang terletak di luar atau permukaan otak.

Tipe sepertiku sangat membutuhkan rangsangan energi luar yang kata lainnya adalah tantangan dan ambisi sebagai motor penggerak.

* * *

THINKING itu ibarat besi. Kokoh, tegak, dan tidak memerlukan bantuan benda lain untuk berdiri sendiri. Besi adalah simbol kemandi-rian, ketegasan, dan kepandaian. Besi memang kaku. Faktor kakunya itulah yang membuat besi dipilih menjadi kerangka rumah. Besi merupakan unsur tanah tertentu yang berbentuk butiran, bijian, atau lempengan yang mengandung elemen keras dan padat.
Sifat besi terkerangka, kait mengait secara sistematis. Orang T: tegas, mandiri, kokoh seperti besi, memiliki kepandaian menunjukkan kesalahan dengan kepandaiannya, dan diberikan kemampuan untuk memerintah memegang kekuasaan.

Dan hasilnya “VERY ME” banget. Jadi tes ini sangat bermanfaat untuk mengetahui bakat kita yang sebenarnya. Jadi, kalau belum, ikutilah tes ini, agar kita bisa lebih fokus dalam menjalani hidup ini. Kalau ada yang minat, isi komen aja yaaa πŸ˜€

Sumber foto : google

ANGGREK TANAH SOROWAKO

Barusan kali ini saya pulang kampung agak lama setelah bertahun-tahun pindah ke ibukota Jakarta. Ternyata masih banyak hal-hal yang membuat saya terperanjat ketika mengetahui satu demi satu cerita tentang tanah kelahiran saya, SOROWAKO.

Sorowako terkenal dengan keberadaan perusahaan tambang nikel PT Vale Indonesia, dulu bernama PT INCO, Tbk. Perusahaan internasional atau PMA ini sudah berada di Sorowako sejak tahun 1968. Awalnya merupakan perusahan dengan kepemilikan Canada namun sejak 2007 telah beralih ke Brazil.

Sorowako sendiri merupakan sebuah nama desa yang berada di wilayah kecamatan Nuha, kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan. Meskipun secara administrasi desa ini telah terpecah menjadi 1 kelurahan dan 2 desa namun, kami tetap menyebut Sorowako sebagai asal tempat kelahiran. ☺

Nah, kali ini saya ingin bercerita tentang anggrek tanah yang tumbuh liar dan bisa ditemukan di sepanjang jalan dan hutan di sorowako. Ketertarikan saya akan anggrek ini, paska berbincang dengan bang Hary, aktifis lingkungan yang juga suami penyanyi konservasi alam kondang, Ully Sigar Rusady. Saya sampai terheran-heran ketika beliau menjelaskan bahwa jenis anggrek hutan yang ada di Sorowako itu sampai ratusan jenis. “Akh, masa?” Hahaha.. jauh-jauh saya ke Jakarta ternyata baru tau informasi ini.

Lalu dalam perjalanan pulkam kemarin, saya pun mulai mengeksplore. Dan rasa penasaran saya pun mulai bertambah. Ketika dalam perjalanan saya dari ibukota kabupaten Luwu Timur, Malili menuju Sorowako saya sempatkan singgah di tepi jalan yang banyak bunga anggreknya, ternyata saya menemukan 4 jenis bunga anggrek yang berbeda, oalahhhh… πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Namun saya sedih, setelah singgah itu, saya tidak sempat melanjutkan pencarian lagi karena padatnya jadwal perjalanan #soksibuk. Namun sebelum kembali ke ibukota, saya menyempatkan untuk mengambil serumpun bunga yang kemudian coba saya keringkan secara konservatif.

Lalu, iseng saya coba mencari nama anggrek tanah tersebut, keterkejutan saya pun berlanjut, lah, ternyata anggrek-anggrek ini sudah sangat terkenal bahkan bibitnya pun diperjualbelikan. Anggrek-anggrek penghias kamar ku ini ternyata lebih dikenal sebagai Anggrek Tanah Philippine 😭 padahal di Sorowako ada banyak sekali dan mudah ditemukan, tumbuh secara liar di tanah. Akhirnya saya pun mulai mencari nama-nama anggrek yang saya temukan dan hasilnya seperti dibawah ini..

Spathoglottis Augustorum

Anggrek putih cantik ini bernama Spathoglottis Augustorum (White Ground Orchid) atau juga disebut anggrek congkok. Anggrek jenis Apathoglottis memiliki varian warna bunga yang banyak. Sedikit unik karena memiliki kelopak bunga tersembunyi.

Spathoglottis Plicata

Yang satu ini bernama Spathoglottis Plicata atau anggrek tanah ungu (purple ground orchid). Spathoglottis Plicata merupakan jenis yang paling banyak dijumpai. Nama generik spathoglottis berasal dari bahasa Yunani “spathe” berarti pedang dan “glossa” atau “glotta” yang berarti lidah. Plicata sendiri diperoleh dari penampilan atau lekukan daunnya.

Bletilla Striata (Thunb.) Reichb.f.

Anggrek tanah ini disebut Bletilla Striata (Thunb.) Reichb.f. dengan bunga merah muda keunguan. Sangat lembut dengan daun kelopak hampir sama panjang dengan mahkota tapi sedikit sempit. Bibir bunga merah muda dengan garis-garis ungu dan kuning.

Arundina Graminifolia

Yang satu ini disebut Arundina Graminifolia dengan bunga didominasi warna putih. Bibir bunganya unik membentuk corong dengan tepian ungu melebar keluar. Dan didalamnya berbercak kuning dan kecoklatan membentuk garis ke pangkal bibir.

Akh… selalu ada hal baru yang bisa dipelajari setiap hari. Dan ternyata anggrek-anggrek liar ini juga cantik menjadi pajangan meja. 😍😍

Sumber: dari berbagai sumber

#renunganvie

Bazaar Ugik 2018

Rasa haru dan bangga ketika melihat warga asing lain senang dan antusias mencoba mengenakan pakaian tradisional kita. Itulah yang kami rasakan ketika baju bodo dan jas tutup khas Luwu Sulawesi Selatan Indonesia tidak hanya dipamerkan tapi juga dikenakan oleh warga negara asing di Singapore.

Kesempatan ini didapatkan di Bazar Ugik, Bugis Festival di Malay Heritage Centre (MHC) Kampong Glam Singapore pada Sabtu 14 April 2018. Festival ini dilaksanakan Bugis Melayu Society Singapore bekerja sama dengan Malay Heritage Centre, Kedatuan Luwu, Kerajaan Riau Lingga dan Persatuan Pencak Silat Sendeng Ritz Singapore.

Sesungguhnya, hampir saja perjalanan ini batal karena izin cuti keluar last minutes hehhehe. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai rencana bahkan dengan beberapa perubahan yang sangat membahagiakan. Yang mana berdasarkan Surat Tugas Datu Luwu XL Nomor 01/ST/KDL-PLP/IV/2018 maka ibu Hartawati Andi Djelling Opu Odeng dan penulis bertindak mewakili Kedatuan Luwu dan disponsori oleh CV Mario Putra Tana Manai Jakarta.

Selain kami berdua, turut hadir dari Indonesia, Ketua Umum Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) Dr. dr. Andi Arus Viktor, SpM(K) dan Nuhudawi Andi Affan Naja Opu Ireng, juga istri dari Gubernur Kepulauan Riau, Noorlizah Nurdin dan rombongan dari Batam dan Tanjung Pinang.

Pukul 8 pagi, kami memulai persiapan penataan stand bazaar di halaman Malay Heritage Centre. Dari Stand Kedatuan Luwu, kami memajang pakaian tradisional bugis dengan aneka model dan warna baju bodo lengkap dengan aksesorisnya, jas tutup untuk laki-laki, makanan ringan seperti jipang dan baruasa, serta pisang epek dengan rasa original dan durian.

Menjenguk ke stand sebelah, ada stand dari perkumpulan pencak silat Singapore, aneka makanan khas Bugis seperti kapurung, lawa, coto pangkal pinang, ayam lekku dan masih banyak lagi buah tangan dari Kepulauan Riau disamping pameran baju bodo, lalu ada stand dari Bugis Melayu Society singapore dan kelas memasak kue Bugis yakni metode pembuatan barongko dan sanggara balanda.

Selain itu ada sajian tari-tarian diantaranya tari Pakarena Bugis, Zapin Melayu, Tari Pagellu Toraja, ada pula peragaan pakaian pengantin Bugis dan tabuhan gendang.

Ini adalah pengalaman pertama kami melakukan pameran di luar Indonesia, sehingga semua terasa excited dan penuh rasa ingin tahu – curiosity. Namun kami memiliki pemandu yang cantik dan baik hati Haslinna Jaaman yang senantiasa memberikan penjelasan sehingga kami tidak terlalu kaku dalam kegiatan itu.

Walhasil, kami merasa senang ketika rombongan wisatawan Eropa berkunjung ke stand kami. Mereka mencoba pisang epek bahkan menggunakan baju bodo dan jas tutup. Bahkan sempat membuat heboh, seorang bloger asal Mexico Edgar mendadak menjadi pusat perhatian dengan menggunakan jas tutup warna hijau. Dengan gayanya yang lucu dan mengundang perhatian, Edgar “diserbu” untuk berfoto bahkan dipanggil Datuk Museng πŸ˜‚πŸ˜‚. Frankly said, he is so charming.

Pameran ditutup dengan hujan dan insiden kecil yang membuat Ibu Noorlizah Nurdin sangat terluka. Dia menumpahkan isi hatinya melalui media sosial miliknya.

Namun demikian, semoga insiden ini menjadi koreksi bersama. Teringat pepatah dimana langit dipijak disitu langit dijunjung. Terkadang, kekurangan informasi menyebabkan keputusan yang kita ambil menjadi sepihak dan tidak mengindahkan pihak lain sehingga terkesan individualistik. Apalagi sampai menyinggung tetamu yang hadir.

Salam budaya πŸ™πŸ™πŸ™

Nila Passure’ Luwu

Dia masih muda dan cantik, jauh dari bayanganku tentang seorang wanita sepuh yang bisa melantunkan bait demi bait dalam kitab kuno I La Galigo (sure’). Kitab ini merupakan pedoman hidup pembelajaran masyarakat Luwu dan Bugis sebelum Islam diterima sebagai agama ilahi di tanah Luwu. Bahkan masih ada penduduk Bugis yang masih memedomani kitab ini di sekitar kabupaten wajo sebagai pedoman hidup. Mereka disebut To Lotang.

Sedikit pendiam menurutku, tidak banyak berbicara, suaranya halus dan sungguh menyejukkan. Sebuah kacamata kerap menjadi teman perjalanannya. Gemulai gaya jalannya menempatkan dirinya pada derajat kebangsawanan Luwu. Namanya Andi Nilaferawati Opu Tari.
Entah mengapa rasa ini tak dapat kubendung ketika mendengarkan sedikit cuplikan suaranya ketika massure’ atau melantunkan ayat / sure’ lontara La Galigo. Berdiri bulu kuduk, bergetar hati ini, entah apa arti sure’ yang dibacanya, namun sangat berbekas dalam hati. Lalu dia pun menjelaskan beberapa ritual sebelum memulai membaca sure’ La Galigo.

“Sama halnya berwudhu ketika kita hendak sholat, maka yang pertama dilakukan sabagai syarat sahnya massure’ adalah menyucikan diri dengan melakukan puasa muteh dan maccera” jelas Andi Nila. Puasa muteh yang dimaksud adalah puasa sehari sebelum massure’ dengan hanya memakan semua makanan yang putih, seperti nasi putih, putih telur dan minum air putih.
Setelah puasa muteh, berikutnya dilanjutkan dengan ritual Maccera. Andi Nila menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan maccera adalah menyembelih sepasang ayam jantan dan betina.
“Tapi maccera itu sangat tergantung pada besar kecilnya acara yang dilakukan.” Jelas Andi Nila. Dia mencontohkan ketika Bissu Saidi dari Barru diminta untuk massure’ oleh Robert Wilson, sutradara pementasan I La Galigo yang berkeliling dunia. Sebelum mulai massure’ Bissu Saidi meminta agar dilakukan cera’ dengan mengorbankan seekor sapi karena acara besar. Namun permintaan ini tidak dipenuhi hingga akhir pementasan di Makassar.
Saat itu Bissu Saidi’ sempat mengungkapkan “iya’ naseng na kenna – saya mi pasti yang dikenna’ yang dipercaya sebagai dampak tidak dilakukannya ritual maccera’ untuk pementasan. Wallahu alam, namun sekitar dua minggu dari pementasan terakhir I La Galigo di makassar, Bissu Saidi’ pun mangkat.
Hal mistis seperti ini pun kerap terjadi ketika awal-awal andi nila massure’ tanpa melakukan ritul. “Pernah sekali, saya massure’ tanpa melakukan ritual, paska massure’ saya pun tidak bisa melangkah beberapa bulan. Dipercaya atau tidak, namun hal itu membawa pelajaran untuk saya bahwa setiap kali saya mau massure’ maka saya harus membersihkan diri dengan ritual puasa muteh, maccera dan bersih hati,” jelasnya.

Belajar massure’ dilakukan pada tengah malam ketika seluruh makhluk hidup di dunia ini sudah diperkirakan terlelap dalam sepertiga malam. Dan ketika belajar, maka passure’ akan mengenakan baju bodo dan sarung yang yang keduanya berwarna kuning. Hal ini disebut massangiang, di dahului dengan mandi bersih.
Pertama kali belajar Massure’ tahun 2013, Andi Nila bahkan tidak mengerti bahasa Bugis, apalagi bahasa Lontara dalam kitab La Galigo. Tingkatan Passure’ yang tertinggi disebut Bissu. Dan Bissu pertama adalah saudara kembar Sawerigading yang bernama We Tenri Abeng dengan gelar Bissu Ri Langi’.
Perbedaan passure Luwu dan Bugis adalah di Luwu Passure’ itu adalah perempuan. Sedangkan di Bugis, passure’ itu laki-laki tapi kita lihat, secara mistis mereka akan berubah menjadi keperempuanan. Semakin tinggi tingkatan passure’nya maka laki-laki itu akan bertingkah menjadi seperti perempuan, bukan hal yang disengaja apalagi kalau tingkatannya menjadi bissuE maka laki-laki itu akan mengebiri dirinya sendiri. Mereka biasa disebut Calabai.

Perbedaan lainnya adalah kalau di Luwu hanya boleh ada satu Passure’. “Saya bisa mengajar massure’ ketika anre gurukku mangkat, atau ketika saya lebih duluan meninggal maka Anre gurukku bisa mengajar orang lain,” jelas Andi Nila.
“Massure’ itu berbeda dengan pelantunan biasa yang kita dengarkan yang disebut massaleang. Massure’ itu membaca sure’ La Galigo secara datar namun sangat dalam dan dilalui dengan ritual sedangkan massaleang itu melantunkan sure’ La Galigo seperti oramg bernyanyi dengan membaca sure’ Galigo yang bahasanya telah diubah namun memiliki arti yang sama dan tidak harus melalui prosesi ritual sebelum massure’.
Untuk massure’ ini biasa diiringi suling atau alat musik tradisional Sulawesi selatan keso’-keso’ yang alatnya mirip biola. Alat musik inilah yang memberikan ritme pada pembacaan sure’.
Kitab I La Galigo (sure’) dikenal secara dunia paska diakui UNESCO sebagai Memory of the World. Untuk melestarikannya, kitab I La Galigo ini diperkenalkan dalam bentuk pertunjukan teater I La Galigo oleh Robert Wilson, sutradara asal Amerika Serikat secara internasional pada tahun 2004.

Kitab I La Galigo tertulis dalam bahasa Luwu kuno ini bercerita tentang awal mula kerajaan Bumi dan seluruh peristiwa kehidupan, mulai dari pernikahan, bercocok tanam hingga perjalan cinta Sawerigading sang tokoh utama. Selain itu kitab ini memberikan gambaran tentang kebudayaan Luwu dan Bugis sebelum abad ke-14.

#renunganvie