Mericaku Sayang Hutanku Malang

Pengumuman bahwa pesawat akan segera mendarat di Sorowako, menghentikan pembicaraan kami. Kawan yang duduk disebelahku memang berbagi kisah denganku sepanjang perjalanan. Pun membuat perjalanan terasa singkat. 

Sejenak aku melongokkan kepala ke jendela dan sungguh terperanjat menyaksikan hutan yang semakin gundul bergantikan tiang-tiang penyangga merica. Namun semakin miris, hutan gundul itu tepat di tepi danau Matano, yang sementara digadang-gadang menjadi danau warisan dunia dengan segala keunikannya.

Road to Morowali, Sulawesi Tengah

Usai singgah sebentar di rumah, aku melanjutkan perjalanan menuju Morowali, Sulawesi Tengah. Namun, aku sempatkan singgah menyapa kawan-kawan SMP ku yang tengah arisan di rumah salah satu kawan. 

Setelah itu perjalanan kulanjutkan, menggunakan raft, menyebrangi danau Matano dari desa Sorowako menuju desa Nuha, kedua desa masih dalam lingkungan kecamatan Nuha, kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Sepanjang perjalanan, keindahan pemandangan danau sungguh terganggu dengan hutan yang gundul. Belum pemandangan pabrik yang terpampang, lahan pertambangan yang kecoklatan mengkilat sesekali terpantul sinar matahari. Dan tentu saja pemandangan batang-batang kayu bakal tempat melekatkan tanaman merica yang menjadi pencaharian baru masyarakat di kampungku.

Namun pemandangan batang-batang merica tidak hanya sampai disitu. Pun begitu tiba di Nuha, pemandangan itu terpampang dengan indahnya. Sepanjang perjalanan, hingga ke kebun karet, rupanya, merica telah mendominasi. 

Tapi satu hal yang aku suka setiap melintasi jalan antar provinsi ini, adalah saat melewati perkebunan karet. Meskipun aku tak begitu suka dengan baunya heheheh, tetapi keunikan kemiringan batang-batang karet sungguh mengagumkan. Walhasil, kebiasaan selfie pun kembali hehehhe.

Menghabiskan dua hari di Morowali, mengganti pemandanganku dari Merica ke Sawit dan tambang nikel. Memasuki kota bungku, pemandangan sawit menjadi sajian utama di mata. Setelah melewati ibukota kabupaten bungku dengan beberapa desa di pesisir pantai Bungku, pemandangan berubah dengan kendaraan-kendaraan berat dari perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Morowali.

Oleh pemandu setempat, aku bahkan memperoleh cerita rakyat tentang Bukit Mateantina yang artinya adalah rela mati demi seorang perempuan. Bukit ini terletak di Desa Kolono, Bungku Timur. Matea = tempat mati dan Tina = perempuan. Alkisah, dahulu kala di puncak bukit itu ditinggali oleh seorang puteri cantik yang membuat sayembara untuk pernikahannya. Datanglah laki-laki dari berbagai penjuru angin berusaha memenangkan sayembara mendapatkan puteri jelita itu. Namun musibah terjadi saat mereka saling membunuh untuk mencapai sang puteri. Saat pangeran terakhir akhirnya bisa mencapai sang puteri dalam keadaan berdarah-darah usai pertarungan, pangeran itu pun meninggal di pangkuan sang puteri dan menimbulkan kesedihan. Sang puteri pun menjatuhkan dirinya dari atas bukit karena janji sehidup semati dengan lelaki yang menyentuhnya. Di sisi bukit yang hanya ditumbuhu ilalang itulah tempat pertarungan dan jatuhnya sang puteri, dan hanya ditumbuhi rerumputan saja, seakan pohon enggan bertumbuh di atasnya. Bukit itu pun diberi nama Meteantina, sebagai pengabadian cerita rakyat itu. 

Aku juga sempat mengunjungi Kolonedale, ibukota kabupaten Morowali Utara, yang merupakan pemekaran dari Morowali. Aku selalu suka berkunjung ke kota ini, karena pemandangan laut yang sangat indah saat kita memasuki kota kolonedale. Hanya sayangnya, kota ini tidak berkembang pesat laiknya kota Bungku. Dan di kota ini, masyarakat masih hidup dari hasil laut, pelabuhan dan pertambangan nikel.

Menikmati Suasana Kantor

Usai perjalanan ke Morowali, aku kembali ke Sorowako dan masuk kantor dengan perjalanan PP Sorowako-Malili setiap hari. Perjalanan berjarak 60km yang berkelok-kelok itu ditempuh kurang lebih 40-45 menit dengan mobil. Dan kembali lagi, pemadangan merica menjadi sajian di beberapa titik-titik perjalanan. 

Pulang dari kantor, aku juga menyempatkan mengunjungi kebun Bapak, yang sudah ditanami merica. Subhanallah, yang sebelumnya, menjadi pertanyaan besar dalam hatiku, mengapa warga masyarakat rela menggunduli hutan, ternyata terjawab saat aku merasakan bulir-bulir merica yang aku petik di kebun Bapakku. Aku ikut berdiskusi dengan warga yang sedang berkumpul dan membicarakan tentang harga pupuk dan harga jual merica. Sungguh harga yang fantastis bagi seorang petani yang menghabiskan hari-harinya, merawat tanaman merica itu laiknya seorang bayi yang bertumbuh. 

Aku menyadari rasa yang membuncah dari seorang warga yang membuka lahan hutan untuk bertanam merica. Dia menceritakan kerumitan saat berkejar-kejaran dengan polisi hutan, saat hutan terbakar dengan dahsyatnya. Lalu saat api telah padam, dia kembali untuk membersihkan lahan itu, memasang tiang-tiang penyangga merica, lalu mencari bibit. 

Menanam bibit merica juga tidaklah semudah yang aku bayangkan. Bibit baru itu harus ditanam di tanah gembur yang telah dicampur pupuk. setelah ditanam, bibit itu harus dinaungi karena tidak boleh terkena terik matahari langsung dengan tingkat kelembaban yang harus dijaga. Belum lagi, sekelilingnya harus bersih dari rerumputan liar. Bahkan cerita beberapa petani merica, bagi yang berduit, malah membeli popok hanya untuk menadah air di sekitar bibit baru sehingga kelembaban tanah terjaga. Hehehehe…

Akupun merasakan rasa bahagia ketika menemukan lada-lada yang telah memerah, sebagaimana mereka yang setiap pagi dan sore memetik lada-lada yang telah matang. 
Road to Routa, Sulawesi Tenggara

Mendapat informasi bahwa Professor Kathryn Robinson bertolak dari Kendari ke Routa membuatku ingin bertemu dengannya. Miss Kathy, panggilannya, adalah peneliti antropologi dari Australia National University  yang melakukan penelitian kondisi masyarakat Sorowako di sekitar pertambangan nikel di Sorowako sejak tahun 1970-an. 

Bersama Mardiani Pandego, kami pun melakukan perjalanan si Bolang menuju Routa. Bertolak dari pelabuhan Timampu, kecamatan Towuti, Luwu Timur menggunakan raft melintasi danau Towuti menuju desa Lengkobale. Kurang lebih 2 jam perjalanan air yang kami lalui, memberikanku kesempatan berdiskusi dengan penumpang yang ada. 

Subhanallah, rupanya penumpang di atas raft itu kebanyakan baru saja kembali dari menjual hasil merica mereka dan membeli barang-barang keperluan rumah tangga. Ada yang membeli mobil hilux baru, motor baru, ada yang membeli televisi, kipas angin dan banyak peralatan dan keperluan dapur lainnya. 

Ternyata, kondisi tepian danau Towuti tidak jauh berbeda dengan tepian danau Matano. Banyak lahan-lahan hutan yang telah gundul dan berganti dengan tiang-tiang penyangga merica. Hampir sama kondisi di tepian danau Matano

Miris, namun menyaksikan sendiri si kecil Rian berlari memeluk televisi yang dibawa ayahnya, lalu berteriak kegirangan sambil berteriak “ada TVku, ada TV baruku”, sungguh trenyuh. 

Tiga tahun lalu, pertama kali menginjakkan kaki ke Routa, kampung ini sangat terpencil. Saat ini, kampung ini tetap terpencil dari ibukota kabupaten Konawe, namun dengan merica, kampung ini menjadi berbeda. Bahkan satu orang pemilik kebun, bisa memiliki hingga 12 ribu batang merica, yang artinya di lahan seluas 6 hektar.

Kalau di kampung lain, pagi dan sore ramai anak sekolahan yang terlihat, namun di kampung Routa ini, anak sekolahan terlihat hanya saat gurunya datang mengajar. Selebihnya, justru yang ramai adalah para petani merica saat pagi berangkat ke kebun dan kembali di sore hari. 

Sungguh mericaku sayang hutanku malang. Sepanjang kampung Routa, meskipun rumahnya masih berbadan kayu dan biasa-biasa saja, namun motor saja bisa 3-5 tergantung penghuni rumah. Dan semua dari hasil merica meninggalkan fungsi hutan sebagai penyerap air danauku.

Yaaaaa.. libur sudah selesai… Meskipun perjalanan ke Routa tidak sempat bertemu Miss Kathy, perjalanan mengelilingi tiga provinsi harus selesai. Menyisakan kisah mericaku sayang hutanku malang. Berharap, masyarakat tetap bijak mengelola hutan dengan memelihara lingkungan meskipun keuntungan merica sangat menggiurkan. Namun jika hutan tetap terjaga, maka danau pun akan terjaga dan kehidupan masa depan generasi kedepan juga akan terjaga.

Kerjakan yang Diperintahkan

بَلْ هُوَ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ فِيْ صُدُوْرِ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ  ؕ  وَمَا يَجْحَدُ بِاٰيٰتِنَاۤ اِلَّا الظّٰلِمُوْنَ
“Sebenarnya, (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami.”

(QS. Al-‘Ankabut: Ayat 49)
اِتَّبِعُوْا مَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ    ؕ  قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.”

(QS. Al-A’raf: Ayat 3)
وَلْتَكُنْ  مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ  عَنِ الْمُنْكَرِ  ؕ  وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Ali ‘Imran: Ayat 104)
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ  نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ  لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

(QS. At-Tahrim: Ayat 6)
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاحْذَرُوْا  ۚ  فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْۤا اَنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat) dengan jelas.”

(QS. Al-Ma’idah: Ayat 92)
Disadur dari Kajian DIIAN

Allah di Kalbuku

Pada suatu kesempatan, di tengah danau Towuti, aku melipat mukenah yang baru selesai kugunakan usai menunaikan sholat ashar. Kala itu aku mengikuti tim Towuti Drilling Project yang melakukan penelitian iklim dengan subject endapan lumpur danau Towuti.

Diyakini, bahwa endapan lumpur yang tersimpan di dasar danau Towuti, dapat bercerita tentang perubahan iklim hingga 60juta tahun lamanya. Endapan itu sendiri tampak seperti layer atau lapisan menyerupai buku dengan lembaran-lembaran halamannya. 

Ketertarikan akan lapisan-lapisan ini yang membuat kami penduduk lokal juga bertanya-tanya, mengapa para peneliti asing tertarik untuk datang ke kampung kami, bahkan dengan rangkaian peralatan yang sangat wah, bahkan membutuhkan crane yang paling besar untuk mengangkatnya.

Alhasil, dengan ketertarikanku pun, aku mem-volunteer-kan diri untuk ikut bersama-sama menyaksikan langsung kegiatan penelitian ini. Begitupun hari itu saat tim peneliti berusaha mengambil endapan lumpur dengan sebuah alat.

Baru saja kulipat mukenahku, aku mendengar teguran dari salah satu peneliti. “Sulvi, shalat itu seperti break ya. Di tengah pekerjaan, kalian berhenti dan membasuh wajah kalian, tentu rasanya segar sekali. Apalagi ditengah cuaca dan teriknya matahari.”

Kalimat itu tidak salah. Di melihat posisi sholat sesuai dengan kacamata akal pikiran semata. Padahal sholat itu memiliki makna yang sangat dalam. 

Dalam sholat, kita meminta, memohon dengan doa, agar segala aktivitas kita mendapat perlindungan, mendapat ijin, ridha dan kehendak. 

“Tidakkah Allah Maha Melihat diriku? Hasbunallahu wanikmal wakil. Cukuplah Allah bagiku. Sungguh Ia adalah sebaik-baik penolong.

Allah SWT telah berfirman: “Ingatlah diri-Ku supaya Aku pun akab mengingatmu.”

Dalam firmaNya yang lain “jikalau para hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku maka katakanlah bahwa Aku lebih dekat dengan mereka. Bilamana mereka berdoa, maka Aku pun akan mengabulkannya. Oleh karena itu, berimanlah mereka kepada-Ku dan tunaikanlah panggilan-Ku. Semoga mereka mendapati jalan yang benar.”

Hakikat doa adalah meminta untuk kebaikan hidup di dunia dan di akhirat, kebaikan untuk diri sendiri dan seluruh umat manusia. 

Kekuatan doa dan pengaruhnya pada stres bahkan menjadi dasar penelitian di RS. San Fransisco kepada 393 penderita penyakit jantung. Dari penelitian itu, 150 pasien mengalami kesembuhan lebih cepat karena selalu didoakan. Begitupun hasil yang diperoleh Dr. Mehmet OZ dari Universitas Cornell. Dari 750 penderita gangguan jantung, pasien yang cepat sembuh adalah yang sering berdoa.

Seorang ilmuwan Harvard bernama dr. Herbert Benson bahkan menghabiskan 30 tahun melakukan penelitian memgenai pengaruh doa terhadap fisiologi manusia. Dari hasil peneleitiannya dia mendapatkan bukti bahwa doa dapat menghilanhkan stres, menenangkan jiwa dan mempercepat kesembuhan. dr. Benson juga mendapatu adanya pergerakan aktif dalam otak dari foto MR saat seseorang sedang berdoa.

Intinya, sholat senantiasa akan mengingatkan kita kepada sang pencipta, sang Khalik, Pemilik langit dan bumi. Sholat merupakan wadah komunikasi langsung kita kepada Allah. Tempat kita meminta dan memohon pertolongan kepada Allah, SWT. Sehingga, alangkah meruginya orang-orang yang tidak sholat. Merugilah orang-orang yang tidak mengingat Allah di kalbunya.

Pohon Tua 

Niatnya mencari lokasi berkuda, ternyata begitu tiba, kami tak beruntung. “Jalanannya sedang proses betonisasi” ucap seorang bapak di pos ronda menjawab pertanyaan kami.”Cari jalan lain saja mba, lurus saja, nanti belok kiri. Tidak lama setelah itu belok kiri lagi, itu jalan masuk. Tapi mungkin tutup mba” lanjutnya menjelaskan.

Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun berlalu. Tapi rasa penasaran membuat Rinie, Wie dan dirikupun melanjutkan pencarian, menelusuri jalan yang disebutkan oleh si Bapak di pos ronda.

Walhasil, akupun membelokkan mobil ke sebuah jalan kecil. Wah…. Yang terpampang di hadapan kami adalah sebuah potret hutan dengan kayu-kayu besar dan tua yang ternyata berusia hingga ratusan tahun.

Hujan pun turun, menemani perjalanan kami. Kami berhenti pada jalanan yang semakin rusak, setelah berbalik, kami pun mengetahui bahwa jalanan itu tidak mengarah ke tempat yang kami tuju. 

Hujan yang tercurah dari langit menambah efek semakin mendramatisir suasana siang itu. Rintik hujan yang semakin deras, ternyata tak mampu menahan keinginan kami untuk mengabadikan suasana dan keindahan yang tercipta.

Akhirnya kami bertemu pak Heri yang bercerita tentang usaha keluarga yang telah dirintis Abah Ubay sejak tahun 60-an. Usaha yang sebelumnya dimulai di Rawa Belong ini, mendapat kerjasama dengan Graha Bintaro sehingga mereka memilih pindah dan mendapatkan lahan sekitar 3000 meter.

Kami bahkan diperlihatkan sebuah pohon yang berusia lebih dari 100 tahun dengan nilai jual diatas Rp. 200jt. Dari tekstur saja sudah berbeda, begitupun warna dan guratan pada dasar pohon tua itu. wah… Saya jadi penasaran siapakah gerangan yanh akan membeli pohon ini, yang menurut pak Heri, kisaran harga pohon-pohon tua yang di jual di harga 7jt – 200an juta. Ihhhhhh kebayang deh.. pasti pembelinya kolektor atau penyayang pepohonan tua yakkkk hehehhehe.

Namun yang tak ketinggalan, kami pun mengambil kesempatan berpose di antara pohon-pohon tua yang ada di lokasi itu. Fantastik…

Meskipun tak bertemu kuda yang kami cari, setidaknya perjalanan kami tidak sia-sia. Kami mememukan alternatif menikmati turunnya hujan yang awet. Xoxo

Kegelisahan Hati

Entah mengapa

Gelisah ini semakin menyiksaku

Kata demi kata yang kubaca

Terasa semakin menyesakkan dada
Gemuruh keraguan menenggelamkanku

Kerapuhan semakin menyiksaku

Akankah ketakutan ini akan selalu

Menyelimutiku
Setiap mereka hanya peduli

Dirinya, kelompoknya, kekuasannya

Sedang aku terdiam disini

Memilih untuk berdiam tak menyapa
Kuharap duka negeriku

Tidak akan lagi meneteskan air mata

Ibu pertiwi

Karena Tuhan tidak akan diam

Saat nista menjadi aksi atas firman-Nya
@ampera, 22.11.2016

Maaf Ku Tak Bisa Bantu

Handphoneku berdering. Melihat nama penelpon yang tertera di layar membuatku berfikir untuk segera mengangkatnya. Tentu ada hal yang  urgent hingga ia menelponku. 

“Anakku harus masuk rumah sakit. Jika saat ini aku mengurus  Prudential apakah bisa aku gunakan segera untuk pengobatan anakku, karena sekarang harus dirawat di rumah sakit?” Tanyanya dengan nada kecemasan.

“Siapa sakit mba?”tanyaku ingin tahu.

“Dede”, jawabnya.

Ya Allah… Pikirku dalam hati, ku sangat ingin membantu, sayangnya, saat ini ku tak bisa bantu apa-apa selain doa.

                                * * * * *

Sesaat kulihat ada missedcall di hp ku. Ada apa orang rumah menelponku. Ku-dial nomor kontak kembali, dan kudapatkan informasi yang membuatku freezing.

“Kak, anakku kecelakaan. Tadi dia tertabrak motor.”,jelas suara di seberang.

“Astaghfirullah, bagaimana kejadiannya?”, tanyaku khawatir.

Cerita itupun mengalir dan membuatku sangat terpukul. Terbayang polis Prudential yang lapsed atas nama kemenakanku. 

“Ya Allah, berikan kekuatanMu… Aku tak bisa bantu selain doa untuk keselamatannya”, pekikku dalam hati.

                              * * * * *

“Ping!”

Lampu notifikasi bbm ku menyala, rupanya ada colekan dari kawan yang juga calon nasabahku.

“Kak, tabungan yang kakak buatkan sepertinya terlalu besar. Aku dapat informasi, bisa menabung Rp. 300.000,- saja.” isi pesan yang kuterima.

Panjang lebar ku menjelaskan, selalu ada jawaban agar nilai premi bulanan yang kami sepakati bisa diturunkan ke nilai yang lebih kecil. 

Sekali lagi, aku minta maaf, ku tak bisa bantu. Jika dengan nilai itu, asuransi lain mungkin bisa membantu, tetapi karena aku memikirkan masa depannya, maaf, aku tak bisa membantu.

                          * * * * *

Tak banyak yang bisa memahami kesedihan yang aku rasakan, saat tak bisa membantu mereka yang aku sayangi. Aku hanya bisa berteriak dalam hatiku, “apa guna aku berada di sekitar mereka yang membutuhkan bantuanku di saat-saat seperti itu?”

Memiliki asuransi lebih sering dianggap sebagai pemborosan, hanya sekedar membuang-buang uang, tidak berguna sama sekali. Lebih baik uangnya ditabung, dibelikan aset, diinvestasikan di beragam metode investasi.

Tapi bagaimana meyakinkan mereka, bahwa semua itu bisa mereka lakukan setelah kebutuhan asuransi mereka terpenuhi. Terutama kesehatan, kecelakaan dan jiwa. 

Kenapa asuransi menjadi kebutuhan? Karena asuransi adalah proteksi atau perlindungan yang tidak nampak secara fisik. Fungsinya sama dengan life jacket atau parasut di pesawat terbang, sama dengan payung atau jas hujan, sama dengan fire extinguisher atau tabung pemadam kebakaran, sama dengan helm saat berkendara motor atau sepeda. Sama dengan Auto Breaking System (ABS) pada mobil.

Apakah semua itu dibutuhkan saat kita beraktifitas? TIDAK adalah jawabannya. Tapi saat dibutuhkan, kita bisa menggunakannya karena telah tersedia. Karena kalau tidak ada, tidak akan ada artinya lagi saat resiko hidup kita hadapi.

Sama seperti kejadian 1, kejadian 2 dan kejadian 3 diatas. Pertimbangan yang berlebih untuk kepemilikan asuransi akan sangat berdampak pada kondisi finansial kita saat kondisi kritis itu terjadi. Tak peduli berapapun banyak uang, aset dan segala yang kita miliki, biaya kesehatan tidak pernah murah.

Tak banyak yang bisa memahami kesedihanku, saat aku tak dapat membantu mereka yang aku sayangi. Padahal ada sebuah produk bagus yang aku mengerti yang dapat membantu kerugian finansial mereka saat kondisi kritis terjadi pada diri mereka.

Tak banyak yang bisa memahami kesedihanku, saat aku tak bisa memaksakan mereka membeli produk asuransi. Aku memahami kondisi ekonomi mereka, memahami kecemasan mereka, meskipun asuransi itu dapat meringankan beban mereka dari kondisi kritis.

Tak banyak yang bisa memahami, betapa sedih diriku, saat aku hanya bisa memanjatkan doa untuk kesembuhan mereka, membawakan buah tangan dan menemani mereka melewati waktu, dan memberikan semangat, saat aku tahu ada produk hoki Two in One  yang dapat mereka angsur untuk masa pemanfaatan yang panjang secara maksimal.

Sekali lagi maaf, aku tak bisa bantu, saat kondisi itu menimpamu, dan kau tak memiliki proteksi apa-apa pada dirimu. Namun dengan segala keterbatasanku, hanya satu harapku, saat usiamu masih produktif, kalau betul kau menyayangi keluargamu, milikilah proteksi kesehatan, kecelakaan dan jiwa yang akan sangat membantu saat kondisi kritis menimpamu dan berdampak pada kondisi financial keluargamu.

*Catatan 19112016 saat aku sedih tak dapat membantu lebih selain doa demi kesembuhan mereka yang aku sayang dan keluarga harus bergumul dengan kondisi financial karena tidak memiliki proteksi kesehatan… 😢😢😢

Jogya Ngangenin

Part 1-

Pulang ke kotamu – ada setangkup haru dalam rindu – masih seperti dulu – tiap sudut menyapaku bersahabat – penuh selaksa makna….. (Kla Project)

Lagu itu kembali terngiang, saat menjejakkan kaki kembali ke kota yang ngangenin ini. Pesawat GA 214 telah membawaku kembali ke Jogyakarta. Dan hebohnya, bertemu adek cantik Ismi Azis dengan seragam pramugarinya dalam perjalanan dari Cengkareng Jakarta menuju Jogyakarta.

Tidak menyangka akan kembali ke Jogyakarta dalam rangka tugas. Usai menyelesaikan urusan sertifikat asrama, aku berfikir suatu saat akan kembali ke kota ini untuk berlibur saja. Karena 3 tahun bukan waktu yang singkat untuk bolak balik menyelesaikan tugas di kota ini. Tapi nasib berkehendak lain, rupanya masih bertemu kota ini dalam rangka tugas.

Usai meninjau asrama putera puteri Langkanae Luwu Timur Sulawesi Selatan dan melakukan beberapa koordinasi, lima orang mahasiswa pun menemaniku menuju hutan pinus Jogyakarta. Impianku untuk ber- hammock di tengah hutan pinus pun menjadi kenyataan.

Meskipun saat kami tiba, gelap mulai menyapa, namun aroma pinus dan pemandangan malam kota Jogyakarta tanpa hujan menjadi hal yang luar biasa. 

Sungguh kota yang luar biasa, membuatku selalu rindu untuk kembali ke kota ini. 

Can’t wait to see what to explore tomorrow 😉😉😉

Selfreminder #1

​Wahai orang-orang beriman, mohon perhatikan firman Allah ini :
وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْۤ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖ    ؕ  وَاِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

“Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.”

(QS. Al-An’am: Ayat 68)
وَمَا عَلَى الَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ  مِنْ حِسَابِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ وَّلٰـكِنْ ذِكْرٰى لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

“Orang-orang yang bertakwa tidak ada tanggung jawab sedikit pun atas (dosa-dosa) mereka; tetapi (berkewajiban) mengingatkan agar mereka (juga) bertakwa.”

(QS. Al-An’am: Ayat 69)
ذَرْنِيْ وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيْدًا  

“Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya,”

(QS. Al-Muddassir: Ayat 11)

API NERAKA HARAM UNTUK MEREKA

​*ADA EMPAT ORANG YANG HARAM TERSENTUH API NERAKA. YAITU :*
ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ، ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ،ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻛُﻢْ ﺑِﻤَﻦْ ﺗُﺤَﺮَّﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ؟ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﺑَﻠَﻰ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻫَﻴِّﻦ ٍ، ﻟَﻴِّﻦٍ ، ﻗَﺮِﻳﺐ ٍ، ﺳَﻬْﻞٍ . 
Artinya: 
Nabi Saw bersabda, _”Maukah kalian aku tunjukkan orang yang haram (tersentuh api) neraka?”_
 Jawab para sahabat, “Iya, wahai Rasulallah!”. 
Beliau menjawab, 

_”(Haram tersentuh api neraka) yaitu orang yang *Hayyin*, *Layyin*, *Qorib*, dan *Sahl*._
1. *Hayyin*

Orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan, dzahir maupun batin. Tidak labil, *tidak kagetan*, tidak grusah-grusuh dalam segala hal, tetapi justtu penuh pertimbangan dan bijak. Tidak gampangan memaki, menghujat, mendemo, ngamukan, apalagi sampai *mengafirkan* dan *menerakakan*.
2. *Layyin* 

Orang yang lembut dan kalem, baik dalam bertutur-kata atau berbuat. Tidak kasar, bermain cantik sesuai aturan, tidak semaunya sendiri, segalanya tertata rapi. Tidak memaksakan pendapat tetapi justru mentoleransi orang yang berbeda pendapat.
3. *Qorib*

Bahasa jawanya *gati*, yakni akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan orang yang diajak bicara. Tidak acuh tak acuh, tidak cuek-bebek, tidak suka berpaling. Biasanya murah senyum jika bertemu dan wajahnya berseri-seri dan sedap dipandang.
4. *Sahl*

Orang yang gampangan, tidak mempersulit sesuatu. Pandai bersolusi terhadap setiap masalah. Tidak suka berbelit-belit, tidak menyusahkan, dan tidak membuat orang lain lari dan menghindar.
Keempat karakter tersebut di aras memiliki makna yang mirip, sama, dan saling melengkapi dalam bingkai *Akhlakul karimah*.
Semoga bermanfaat dan maslahat dan keimanan dan ketaqwaan kita terus istiqomah dan bertambah.
*Aamiin Yaa Robbal … Aalaamiiin….* :)👍🙏🙏
*والله اعلم بالصواب…..*
*بارك الله في حياتكم….*

Catatan BG untuk MDI

Dikutip dari halaman FB Bang Gegen 

​TERIMA KASIH, DR. MARWAH DAUD BRAHIM…
Saya punya beberapa kanal medsos, FB, Twitter, Instagram, Linkedln dan blog saya. Tapi yang paling aktif memantau situasi terkini cuma FB. Jadi, seorang adik rupanya sudah mulai paham, kalo FB saya diam, berarti saya dalam perjalanan. Traveling gitu, bahasa kerennya. “Kalo abang lagi diam soal Ahok, pasti lagi traveling somewhere,” komenG-nya. Ya, 1-2 minggu lalu saya memang pasif. Sebenarnya, karena memang tak semua hal perlu saya ulas atau komentari. Saya hanya bersandar pada hal-hal yang MASUK AKAL.
Di luar itu saya enggan berpendapat. Nah, dalam dua minggu ini, sambil urus perjalanan, saya berpikir, apa yang sebenarnya terjadi? Saya malas komentari Kanjeng Dimas, dukun klenik pengganda uang. Paling, jadi cemoohan atau meme lucu-lucuan aja. Tapi ketika isyu Marwah Daud Ibrahim mengemuka, tepatlah dugaan saya bahwa kita itu semakin hari semakin ngawur bersama-sama, istilah plesetan yang gak bagus: “ngawur berjamaah”.
Pertama, pengajaran agama bertujuan untuk memperbaiki ruhani manusia, agar manusia selamat, dan bahagia untuk kehidupan selanjutnya. Itu yang diinginkan Tuhan. Tapi manusia punya free will, “HAM”, berbuat sekehendak hatinya. Silakan. Tapi agama untuk mengurus ruh, agar dirinya baik, dan dunia yang dijalaninya baik. Tapi dunia bukanlah tujuan, melainkan kehidupan akhirat yang selamat dan bahagia. Serahkan urusan pada ahlinya. Ustadz tidak mengajar artitektur bangunan. Para bankir tidak mengajar religi tentang ruh manusia. Dan seterusnya. Kalau ada guru spiritual punya kemampuan sulap “membuat uang”, maka tinggalkan. Kata Beliau, tinggalkan, arah kamu sudah salah.
Maka selesailah urusan Kanjeng Dimas, yang sejak awal sudah malas saya komentari. Kalo ada pemimpin percaya pada Kanjeng Dimas, tinggalkan. Itu sama saja percaya pada dukun. Klenik. TINGGALKAN. Itu musyrik. Pemimpin seperti itu pun, TINGGALKAN. Selesai.
Tapi persoalannya; bagaimana dengan uang Kanjeng Dimas yang ASPAL? Pada telaah awal, polisi dan bank menyatakakan uang Kanjeng Dimas asli, rilis dari Bank Indonesia. Jangan-jangan memang, secara fisik asli, tapi sebenarnya “palsu” karena tidak boleh beredar karena belum disertai Standing Instruction? Kalo begitu, kenapa Kanjeng Dimas bisa mengakses uang tersebut? Bukankah seharusnya uang seperti itu terkunci rapih di gudang BI? Kalau demikian, berarti persoalannya bukan klenik lagi, melainkan sebuah transaksi politik kekuasaan yang besar. Dan melibatkan banyak orang. Apakah ada hubungannya dengan kesaksian Akbar Faisal, Anggota DPR RI dari Partai Nasdem, bahwa Kanjeng Dimas beberapa kali keluar-masuk Istana Kepresidenan dipanggil Jokowi? Ada apa di baliknya? Sayangnya, pernyataan Akbar pada forum ILC TV One 4 Oktober 2016 itu tidak dicecar oleh Karni Ilyas. Tapi foto Kanjeng Dimas bersalaman dengan Jokowi sudah telanjur beredar.
Tapi saya mau menggarisbawahi persoalan Dr. Marwah Daud Ibrahim, senior saya di kampus, yang memiliki keyakinan akan Kanjeng Dimas. Dalam konteks keyakinan agama, bagi saya Kanjeng Dimas sudah tamat. Tapi dalam konteks politik kekuasaan, saya kuatir menyisakan persoalan panjang. Sementara Marwah Daud, dan keyakinannya pada Kanjeng Dimas, adalah refleksi dari hancurnya keyakinan kita.
Sejak pembelaannya atas keyakinannya pada Kanjeng Dimas mengemuka, Marwah Daud dihujat sana-sini. Bahkan Akbar Faisal, politisi yang terlibat dalam persoalan ini juga bersuara dengan diksi khasnya, “Pulanglah Kakanda”.
Dikarenakan pandangan saya bahwa “dukun pengganda uang” adalah sesat dalam kacamata religi, maka otomatis pengikutnya juga sesat. Termasuk Dr. Marwah Daud Ibrahim. Apapun argumen sang kakanda itu. Marwah Daud kemudian merespons pernyataan Akbar, bahwa dia akan tetap berjalan dengan keyakinannya. Hanya, di sini tersisip pertanyaan: Kalau “dukun pengganda uang” itu sesat, berikut pengikutnya, kenapa ia bolak-balik dipanggil Jokowi ke Istana? Siapa guru siapa murid, siapa yang diikut siapa pengikut? Ingat logika itu; siapa yang setuju dan berhubungan baik dengan cara dan pekerjaan sang “dukun pengganda uang” itu, maka dia sesat. Celakanya, dari Istana Kepresidenan hingga rakyat jelata telah jadi “share holder” Kanjeng Dimas. Inilah “ngawur berjamaah” yang saya maksud. Kita telah berobah menjadi negeri klenik. Negeri para dukun. Istana pun telah runtuh, bukan lagi simbol Republik Indonesia yang sakral diproklamasikan pada bulan Ramadan 71 tahun lalu. Istana telah berobah menjadi tempat beroperasi para praktisi nujum.
Jadi, dalam situasi negeri klenik hingga istana yang dikuasai para ahli nujum, ajakan Akbar Faisal “Kembalilah Kakanda” seperti retorika dunia infotainment belaka: Marwah Daud Ibrahim mau kembali kemana? Negerinya sudah berobah jadi negeri nujum. Pertanyaannya, apa Akbar Faisal atau siapapun yang menghujat Marwah Daud tidak tau atau pura-pura tidak tau? Kalau pura-pura tidak tau, itu dusta namanya.
Saya setuju kita berdoa, semoga Marwah Daud mendapat hidayah dan petunjuk dari Allah SWT. Tapi ironisnya, kenapa kita tidak berdoa untuk diri kita untuk kepentingan yang sama? Atau kita semakin sibuk dengan klaim bahwa kita yang benar?
Rasulullah sudah bersabda, bahwa pada akhir zaman ummat Beliau akan terpecah menjadi 73 golongan. SEMUANYA MASUK NERAKA. KECUALI SATU. Yakni yang sama dengan Beliau dan Para Sahabat, baik Syariat dan Hakikatnya. Pertanyaannya: Ada di mana kita? Apakah Marwah Daud ada di kelompok 72 golongan itu; lalu kita masuk ke dalam golongan yang SATU itu? BELUM TENTU. Tanyakanlah pada diri kita; apakah kita sama dengan Rasul dan Para Sahabat, baik Syariat dan Hakikatnya? Apakah kalau kita ikut menyembah nabi palsu kita masuk golongan yang SATU itu?
Mari kita uji diri kita. Bila anda sholat nanti, angkatlah takbiratul ihram. Dalam sholat itu ada rukun qauli, qolbi dan fi’li; yang terucap, yang terniat dalam hati, dan gerakan tubuh. Ketetapan Hakikat itu pada Ingatan. Pertanyaannya, pada saat takbiratul ihram; “apa” atau “siapa” yang Anda ingat? Harusnya Tuhan. Tapi bagaimana caranya?
Dalam QS Al Baqarah 149-150 sebenarnya ada petunjuk, bahwa di manapun kita berada agar menghadapkan wajah kita ke “Tempat Sujud Yang Mulia”. Maksudnya, apalagi di dalam sholat, agar hakikat ruhaniah kita mengarah ke Masjidil Haram, di mana Baitullah adalah episentrumnya, episentrum semesta alam. Orang kafir adalah orang yang tidak sholat, tidak memelihara hubungannya dengan Tuhannya. Maaf, KTP tidak berlaku, meski tertulis Islam di situ, maaf. Di akhirat, malaikat tidak tanya KTP. Itu statistik dunia. Ketetapan Islam itu pada ikrar dan amal. Maka sholat harus juga mengingat Tuhan. Di mana? Di Baitullah. Yang tidak mengingat Tuhan di Baitullah, maka pada hakikatnya telah mengambil “tuhan” yang lain untuk disembah. Maka dia telah ingkar di dalam sholat. Ingkar bahasa Indonesia, bahasa Arab-nya: Kafir. Bahkan di dalam sholat. Ancamannya: Siksa. Siapa yang bilang? Buka QS Al Anfaal 35: “Dan tidaklah sholat kamu di sisi Baitullah melainkan hanya bertepuk-tepuk tangan dan bersiul-siul belaka, maka rasailah siksa disebabkan kamu ingkar.”
Berdasarkan keterangan demikian, kajilah sendiri, kita ingkar atau tidak? Kalau kita ingkar, mana bisa kita masuk ke dalam golongan yang SATU itu? Marwah Daud atau orang-orang yang mencela dan menghujatnya silakan mengkaji sendiri; mereka masuk golongan yang SATU atau 72 lainnya? Bukannya kita ini saat sholat, baru angkat takbiratul ihram, ingatan kita langsung ke pasar, mall, kantor, kafe, perempuan cantik, laki-laki ganteng, kisah cinta, cucian, sepatu, kunci mobil, hape yang tertinggal, dan sebagainya? Maka kantor, kafe, mall, perempuan cantik, laki-laki ganteng telah menjadi sesembahan di dalam sholat. Tuhan di mana?
Satu setengah miliar orang Islam di permukaan Bumi mengangkat takbiratul ihram, apa sama semua hakikatnya ke Baitullah? Walahualam.
Apa yang terjadi sekarang adalah “sesat berjamaah” untuk tujuan masing-masing dalam konteks yang massif karena sudah melibatkan istana hingga jelata dalam level yang sangat memprihatinkan. Saya berterima kasih pada Dr. Marwah Daud Ibrahim, karena kisah pencariannya menjadi cermin bagi saya, untuk mengontrol diri saya sendiri agar jangan tersesat. Kalau Marwah Daud tersesat, kita doakan mendapat petunjuk, kesenangan dan hidayah, seperti yang terkandung dalam doa Qunut, sehingga itulah mengapa kita membaca Qunut pada Sholat Subuh. Tapi tentu doa itu seyogyanya bagi kita sendiri. Jangan kita sombong mengata-ngatai orang “dikau sesat, kakanda, kembalilah ke jalan yang benar”, tapi kita juga terhempas ke dalam 72 golongan itu. Apa bedanya kalau begitu?
Tapi kalau tersesat di Baitullah tak apa. Justru itu yang kita inginkan. Bahkan selamanya di Baitullah;  Baitul Atiq pada teks kitab-kitab terdahulu, Rumah Lama, atapnya Langit Dunia…
Salam.

Gegen W.