Catatan QM untuk MDI

​DIK MARWAH, LANJUTKAN PERJALANANMU!

M. Qasim Mathar
Kalau benar itu adalah tulisanmu seutuhnya yang saya baca melalui media sosial yang terbaca juga oleh banyak pembaca media sosial, saya abangmu, Qasim Mathar, mengatakan: lanjutkan perjalananmu! Saya juga masih seperti dulu, saat engkau dan suamimu, Dik Ibrahim Taju, menyapaku dengan “Kak Qasim”. Tak banyak yang berubah, kecuali abang sudah berusia 69 tahun, kini. Karenanya, sudah begitu lama abang merasa tidak bertemu dengan adik berdua. Tiba-tiba pada hari-hari ini, adik berdua berada di pusat pemberitaan media.

Dik Marwah, saya sungguh memerhatikan, tulisanmu yang menyatakan bahwa yang engkau perjuangkan jauh lebih besar daripada Padepokan di mana engkau diamanahi sebagai Ketua Yayasan dan Tim Programnya; pun jauh lebih tinggi dan mulia daripada sekadar membela Guru Besar Padepokan, YM Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Abang tertarik, Dik Marwah. Karena itu, lanjutkan perjalananmu!

Abang mulai semakin tertarik, ketika engkau menyatakan bahwa engkau merasa “diperjalankan” dan “dipertemukan” oleh Allah SWT dengan orang “hebat” dan “berilmu” di banyak pulau Indonesia dan terutama di Pulau Jawa yang punya kemampuan setara Dimas Kanjeng… Tentu abang mengerti, jika Dik Marwah membaca banyak tentang sahabat yang belajar dari guru tasawuf dan sufi, lalu mereka menganggap fenomena Dimas Kanjeng adalah hal biasa saja. Namun, abang tidak mau mengatakan bahwa “tidak ada yang mustahil bila Allah SWT berkehendak”, seperti kata para sahabat itu. Sebab, bagi abang, Allah mustahil melakukan kejahatan.

Dik Marwah, saya tergoda untuk ikut di belakangmu, ketika engkau menulis bahwa pembelaanmu terhadap Dimas Kanjeng adalah demi “sebuah proses pencarian, penemuan dan atau peneguhan “Ideologi” untuk sebuah Peradaban Baru di Abad 21″. Kakiku mulai melangkah di belakangmu, saat dengan tangkas engkau berbicara tentang lumpuhnya Komunisme, runtuhnya tembok Berlin, bubarnya USSR, digugatnya Kapitalisme, keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Karenanya, lanjutkan perjalananmu, Dik Marwah! Kakiku yang satu turut kuangkat pula melangkah di belakangmu, saat engkau seolah berkata: lihat itu Timur Tengah, tempat para Rasul dan Nabi lahir, hidup dan wafat, yang kisah mereka terukir di kitab suci Yahudi, Kristen, dan Islam, yang salah satu inti ajaran mereka adalah perdamaian; bukankah di sana kini menjadi arena perang saudara yang memilukan!

Dik Marwah, bagai sebuah jembatan yang ujungnya di depan belum tampak, engkau sudah jauh menempuh ke tengahnya, sedang abang baru dua langkah menginjak ujung jembatan di belakangmu. Abang semakin tertarik untuk mempercepat langkahku, mengikuti langkahmu yang melampau teori gravitasi, relativitas dan Fisika Quantum, yang kata adik, semua itu go “beyond” metaphysics (melampaui metafisika). Padahal, di pulau-pulau Nusantara begitu kaya dengan “Genius Lokal” (Kecerdasan Setempat).

Dik Marwah, abang melangkah lebih cepat lagi untuk bisa lebih dekat kepadamu. Tapi, jarak kita di jembatan ini tidak mudah diretas begitu saja. Abang tetap berjalan di belakangmu dan semakin ingin berlari mengejarmu, ketika di tengah jembatan yang belum tampak ujungnya di depan, engkau berkata lantang: saya makin yakin bahwa fajar terbitnya matahari “Nusantara Jaya 2045” sedang menyingsing! Islam Rahmatan lil alamin harus siap dan menyusun shaf!

Dik Marwah, abang juga melihat fajar itu. Ilmu pengetahuan tentang transdimensi. Nabi Ibrahim tidak terbakar api, Nabi Isa menghidupkan orang mati, Maryam yang suci, ibu Isa, hamil tanpa disentuh laki-laki, Nabi Muhammad dalam perjalanan Isra Mikrajnya bertemu dengan para seniornya, nabi-nabi terdahulu, di langit-langit tertentu,….salahkah kalau saya berpendapat bahwa semua kejadian itu adalah ilmu transdimensi Allah SWT yang menggoda manusia untuk belajar daripadanya? Karenanya, lanjutkan perjalananmu, Dik Marwah!

Dik Marwah, saya masih amat dekat pada ujung jembatan yang engkau sudah terlalu jauh meninggalkannya. Tapi, percayalah, abang tetap di belakang mengikutimu. Mungkin ujung jembatan di depan kita yang belum juga tampak, adalah sebuah dimensi baru yang sama sekali berbeda dengan dimensi yang sudah dan sedang dialami sekarang. Tapi, betapa pun kompleksnya dimensi baru di ujung jembatan, yang sedang kita berdua berjalan ke sana, ia mesti wajib dicerna oleh akal sehat manusia. Sebab, perkakas terpenting yang diberikan Allah SWT kepada manusia untuk memahami semesta, fenomenanya, dan semua dimensi, termasuk bertransdimensi, adalah akal. Bahkan, semua ideologi dan agama akan membawa mudarat bila tidak dibangun dengan akal sehat.

Karena itu, Dik Marwah, lanjutkan langkahmu menuju ujung jembatan yang masih belum tampak itu! Namun, jika kakimu terasa tersandung, jangan segan menoleh ke belakang. Saya, abangmu, Qasim, ada di belakang, siap menggenggam tanganmu untuk berjalan bersama melewati dimensi-dimensi baru yang indah, seperti dulu kita sama-sama menyanyikan lagu hymne HMI, setelah capek memperbincangkan NDP (Nilai-Nilai Dasar Perjuangan) HMI.

Kak Qasim.

Catatan MDI

​”IZINKAN SAYA MELANJUTKAN PERJALANAN….”

oleh: Marwah Daud Ibrahim.

Jurnal: Seri 1.

Bismillahirrahmanirrahim. 
Asww. Sahabat seperjuangan se Nusantara. Terima kasih atas perhatian dan simpatinya yang begitu dalam  kepada saya terkait dengan Padepokan Dimas Kanjeng  (PDK) Taat Pribadi.

Saya menerima dengan hati terbuka dan dgn rasa bahagia, ikhlas dan tulus sepenuh hati semua masukan kpd saya itu,  yang mendukung dan yang menghujat, semua saya terima dan  yakini sebagai tanda cinta dan sayang kpd saya.

Izinkan saya menyampaikan bahwa saya masih MARWAH YANG DULU, yang Anda kenal sebagai adik atau kakak di HMI, KAHMI dan sesama alumni Universitas Hasanuddin dan Alumni Amerika. Teman trainer atau peserta training di MHMMD. Sesama pengurus atau anggota di ICMI, YAAB ORBIT, MASIKA, Laznas BMT, KKSS,  Sobat Bumi, Agro Politan Sinergi Mulia, Alumni Beasiswa Habibie,  Masy Singkong Indonesia, KGN full..

Sahabat se Nusantara. Apa yang saya perjuangkan jauh LEBIH BESAR daripada Padepokan di mana saya diamanahi sebagai Ketua Yayasan dan Tim Programnya; pun   jauh LEBIH TINGGI dan MULIA daripada sekadar membela Guru Besar Padepokan,YM Dimas Kanjeng Taat Pribadi. 

Terus terang, sebelum dan sejak awal reformasi  sampai detik ini. saya merasa “diperjalankan” dan “dipertemukan”oleh Allah  SWT  dengan orang “hebat” dan “berilmu” di banyak pulau Indonesia dan terutama  di Pulau Jawa yang punya kemampuan SETARA DIMAS KANJENG.
 
Saya juga banyak membaca tentang dan bertemu dgn  sahabat yang belajar dari guru  tasawuf dan sufi. Yang menganggap fenomena Dimas Kanjeng itu biasa2 saja. Kata mereka Kalau Allah SWT berkehendak, tidak  ada yang mustahil. Hanya saja kisah spt ini beredar terbatas di lingkungan sendiri.

Pembelaan saya terhadap Mas Kanjeng adalah pembelaan menyangkut sebuah proses pencarian,  penemuan  dan atau peneguhan “IDEOLOGI” untuk sebuah Peradaban Baru di Abad 21.

Ketika KOMUNISME lumpuh, tembok berlin runtuh dan  USSR bubar menjadi serpihan negara di Eropa Timur. 

Tatkala KAPITALISME digugat dan di demo di jantung  keuangan dunia,  New York. Dan INGGRIS yang pernah berjaya di dunia tidak lagi diterima untuk memimpin di EROPA dan  bahkan Rakyat Inggeris kemudian memilih untuk menyatakan tidak mau lagi  bergabung di Uni Eropa. 

Ketika negara- negara di TIMUR TENGAH tempat para Rasul dan Nabi lahir, menjalani hidup dan dimakamkan ;  dan kisahnya terukir di kitab suci Yahudi, Kristen dan Islam, yang salah satu intinya mengajarkan   perdamaian,  justru kini menjadi arena perang saudara yang memilukan.

Ketika ilmuan mulai bicara Transdimensi, karena teori gravitasi, relativitas dan Fisika Quantum tidak bisa menjawab banyak dan bahkan harus go “beyond” methafisik, sementara di Pulau-Pulau Nusantara begitu kaya dgn “Genius Local.”

Semua fenomena ini membuat saya makin  yakin bahwa fajar terbitnya  matahari “NUSANTARA JAYA 2045” sedang menyingsing. “ISLAM Rahmatan lil alamin” harus siap dan menyusun Shaf.

Yakinlah Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Adil, dan Kuasa atas segala sesuatu.

Alhamdulillah saya sehat, insyaa Allah Aqidah saya terjaga. Perjalanan masih panjang dan berliku. Semoga Allah SWT menunjuki jalan yang lurus dan di Ridhoi- Nya.
 
Sahabat  “izinkan saya melanjutkan perjalanan.”

(Bintaro, Jakarta 07: 48, Kamis 6 Oktober 2016).

Bahagiamu Nak…

Setiap pulang ke Sorowako, kau selalu menangis setiap aku mau kembali ke Jakarta. Akirnya keinginanmu untuk ke Jakarta lagi, tercapai juga ya nak.

Meskipun kau ke Jakarta saat kondisiku kurang baik. Tapi melihat foto2mu tertawa, sungguh membahagiakanku. Lain kali datangnya pas aunty sehat ya nak… Jadi kita bisa liburan bareng.. 😘😘

Gayanya Bintang Menuju Jakarta

Berkawan dengan Margasatwa – Mall Depok

Birthday Bunda Shiey di RS. Bunda Margonda Depok

Snowbay TMII with aunty Wie, Bunda, Nenek n Kakek

Petualangan Dinosaurus with Aunty Wie – TMII

Ketemu Adek Fadey, aunty Dita n Om Berly di Ampera

Petualangan di Pejaten Village

Having Fun with Bunda n Aunty Novi

Ketemu adek Mika n aunty Shinta di Kalibata City

Meskipun langkah terbatas dan masih di seputaran rumah sakit, tapi tetap bisa kau nikmati ya anak ganteng #affanbintangsyandrie. Bersama bunda Shiey, nenek dan kakek juga teman-teman aunty Vie hehehehehe.

Perutku Kini Mengecil

Kisah ini dimulai ketika aku menggunakan pilihan go-massage pada applikasi go-jek di handphoneku pada Rabu 21/9 lalu. Ketika si-mba tukang pijatnya datang, aku minta tolong agar dia memijat perutku. Flu membuat badanku terasa tidak nyaman dan perutku pun terasa begah.

Si mba-nya juga anteng-anteng saja, karena sudah sering membantu perempuan yang turun kandungan, katanya. Namun ketika mulai memegang perutku, si ibu langsung berhenti dan memberikan saran agar aku memeriksakan perutku ke dokter. “Ke dokter kandungan atau ke bidan ya bu, bukan dokter umum pesannya” seraya mengepak perlengkapannya.

Agak sedikit bingung, tapi penjelasannya membuatku memaklumi keputusannya untuk tidak melanjutkan memijat perutku. Perutku terlalu kencang untuk kondisi perempuan yang turun kandungan, jelasnya.

Memang aku tidak langsung bertemu dokter seperti pesannya. Flu memacu rasa malasku untuk meninggalkan tempat tidur kecuali sangat terpaksa. Hingga dua hari setelah itu, barulah aku merasa sedikit lebih baik dan mengayunkan langkah ke rumah sakit Kemang Medical Centre yang tidak jauh dari kost-an ku.

Ada rasa enggan ketika harus berhubungan dengan dokter kandungan, terutama karena statusku. Apalagi perutku yang buncit membuat orang apalagi suster tentu berfikir bahwa aku tengah hamil. Tapi beberapa kali aku juga memanfaatkan asumsi orang-orang di sekitarku, terutama saat berada di kendaraan umum hehehhee, supaya mendapatkan tempat duduk seperti di kereta dan busway tentunya 😂.

Meskipun terlambat, akhirnya dokternya pun tiba. Melewati sedikit proses wawancara, akhirnya dr. Lilia Mufida, SpOG menyarankan untuk USG. Walhasil, baru saja dokter menyentuhkan alat USG ke perutku, dokter langsung menyatakan ada kista yang sangat besar di perutku. “Mba, bener ga ada keluhan selama ini? Kistanya dah gede banget. Kita ukur ya… 16.9 x 10.77 x 13.50 cm.

Astaghfirullah… aku langsung membayangkan penggaris panjang untuk mengukur besaran kista di perutku. Pening rasanya. Dokter Lilia bahkan sempat berkelakar, wah, berarti perut besarnya karena berisi kista ya. Sedikit menghiburku tapi menjadi menyeramkan saat dokter Lilia menyampaikan, tidak boleh ada herbal atau alternatif. “Kistanya harus segera diangkat ya. Tidak pakai menunggu ya mba.”

Rasanya melayang saat meninggalkan ruang dokter. Aku melangkah menuju laboratorium untuk melakukan pemeriksaan CA 125. Untuk mengetahui tingkat keganasan. Pasrah saja saat petugas lab mengambil darahku, bahkan tidak berasa sampai selesai, walhasil, tanganku menjadi lebam, karena semestinya dia menggunakan jarum halus bukan yang besar.

Tidak tenang mendapatkan berita itu. Aku menelpon dr. Sintha Utami, SpOG seorang kawan yang juga dokter kandungan. Alhamdulillah, malamnya dia praktek di JMC Mampang. Jadi pemeriksaannya bisa sekalian buat second opinion.

Bukannya melegakan, ternyata hasilnya malah lebih besar dari ukuran dr. Lilia di KMC. Ya Allah, sepertinya tidak sanggup menerima berita ini. Tapi ini sudah menjadi takdirku. Tanpa keluhan sedikitpun. Perut yang selama ini kupikir hanya berisi lemak dari kegemukan, ternyata berisi cairan yang setiap saat bisa membunuhku kalau pecah di dalam.

Alhamdulillah, perjalanan mereka dimudahkan. Bapak dan ibuku mendapat seat dari Sorowako ke Makassar lalu berlanjut ke Jakarta hari Senin pagi. Lalu adikku susy menyusul di hari selasa bersama Bintang anaknya.

Selasa, usai menjemput Susy dan Bintang di bandara, kami langsung menuju Rumah Sakit Bunda Margonda di Depok. Cukup jauh memang, tetapi aku ingin kawanku yang memberiku tindakan sekaligus merawatku dan juga di rumah sakit rekanan Prudential.

Seharian aku melewati beragam pemeriksaan, mulai dari rontgen, pemeriksaan Darah juga pemeriksaan CA 724 untuk tingkat keganasan Cancer hingga bertemu dokter penyakit dalam dan fokter anastesi untuk diagnosa kesiapan operasi pengangkatan kista.

Berusaha untuk tegar, ternyata ketenanganku sempat terganggu oleh ketidaknyamanan pelayanan rumah sakit. Aku yang mencoba memahami bahwa operasiku memang harus dilakukan meskipun dengan pemberitahuan yang begitu tiba-tiba, pergulatan dengan perasaanku sendiri, hingga aku tidak peduli untuk naik turun tangga ketimbang menunggu lift.

Ternyata ujian kesabaranku belum cukup sampai disitu, sampai aku harus membentak perawat yang tidak memberikan penjelasan tahapan-tahapan yang harus dilalui sampai aku harus bolak balik naik turun tangga dari ruang OK ke lantai 2 dan kembali lagi ke ruang OK. Dia memintaku untuk menunggu di depan ruang OK, aku menunggu sampai ketiduran. Dibangunkan karena informasinya kamar sudah ready. Begitu tiba di kamar, perawat di bagian rawat inap malah mempertanyakan pasien poli atau OK. Jiah… jadi harus balik lagi ke ruang OK sebelum kembali ke kamar rawat inap. Luar biasa…

Hampir saja aku membatalkan jadwal operasi yang sudah confirmed. Sampai akhirnya aku menelpon Prudential Customer Line 24 jam dan keluargaku untuk masukan mereka. Bahkan aku sempat maen ke Margo Mall untuk menenangkan hatiku yang gundah. Andai saja bukan dokternya yang aku inginkan untuk menanganiku, pasti sudah kutinggalkan rumah sakit ini.

Akhirnya, pukul 20.00 aku kembali ke RS. Bunda Margonda untuk masuk ke ruang OK. Setelah lebih tenang, aku mulai menjalani persiapan OK sebelum diantar ke kamar untuk beristirahat.

Kamis, 28/9 pukul 4.00 wib aku dibangunkan suster. Usai sholat subuh, kami pun turun ke ruang OK dan memulai persiapan operasi. Dimulai dengan pengukuran tensi. Sedikit tinggi, sepertinya aku cukup tegang, hingga para mantri yang berada di ruang OK memberiku semangat. Lalu aku disuntik untuk pengetesan obat antibiotik di bawah kulit dilanjutkan dengan pemasangan infus.

Dokter anastesi datang dan memberikan penjelasan tentang tahapan anastesi yang akan kulalui. Bukannya menenangkan, malah semakin tegang jadinya. Tapi ehemmm dokternya ramah, dan para mantrinya asek2 jadinya seru dan penuh canda. Terlihat lebih rilex, lalu aku diantar masuk ke ruangan Operasi.

Melihat lampu besar di ruang Operasi membuatku membayangkan lampu sorot di pusat panggung hahahaha… sedikit berusaha menenangkan diri. Lalu dokter anastesi mulai melakukan bius lokal sebelum bius setengah badan.

Serasa gajah bengkak deh. Emang ga bisa lihat seh, tapi terasa koq perutnya dipegang. Akh… ternyata dikasih tidur, bangun2 sudah disuruh pindah tempat tidur. Jiahhhh sakitnyaaaa di perut. Ternyata dah selesai dan diantar ke kamar.

Ya Allah, 2 liter lebih cairan yang dikeluarkan dari dalam perut ini ternyata membuat timbanganku turun 2kg hahahaha… kebayang aku ngangkat 2 liter aqua gede 2 botol… selama ini itu pula yang aku bawa kemana-mana di perut ini.

Dan paska operasi ini, perutku pun mengecil. Wah… badan terasa lebih ringan. Alhamdulillah…

Kerja Sambil Jokka

Dapat perintah kerjaan saat jadwal sosial padat itu rasanya gimanaaa gitu. Sedih, penat, bahagia, semua bersatu rasa nano-nano.

Gimana tidak, H-1 prosesi inti Luwu Royal Wedding, harus berangkat ke Makassar lanjut ke Padang. Andaikata bisa memilih, pengennya sih setelah acara selesai baru berangkat. Tapi yang namanya kerjaan, dikerjakan jadi duit, dilepas jadi kehilangan duit. Semoga duit tidak menjadi Tuhan bagiku. 😆😆

Tapi ternyata sedihku berubah menjadi senyum lebar, saat aku melihat foto-foto kesuksesan Pernikahan Putri Paduka datu Luwu, Andi Kartika Mackulau dan Ahmad Thayyib di group pernikahan Ngka juga pada wall teman-teman di facebook. Alhamdulillah…

image

Kemeriahan Pesta Pernikahaan Putri Paduka Datu Luwu, Andi Kartika Mackulau juga dihadiri Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Ani Yudhoyono, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Raja2 se Nusantara dan sulsel, nampak hadir Somba Gowa Andi Maddusila, dan kerabat Tana Luwu di dalam dan luar negeri dari berbagai kalangan.

                   *   *   *   *   *

Syukur alhamdulillah juga kurasakan karena hasil pertemuan sangat baik dengan penandatanganan kontrak sesuai kesepakatan mufakat. Yeiii, meskipun melewati diskusi yang alot. ;););)

Menikmati perjalanan juga membawa kehabagiaan. Apalagi, bisa menikmati buah durian dengan teknik yang berbeda. Di kampungku, makan durian hanya buahnya saja. Di Padang, buah durian dimakan dengan ketan, baik itu ketan putih dengan bentuk nasi biasa seperti yang aku coba di Ganting Padang.

Sedikit berbeda saat aku makan durian di Kota Baru Padang Panjang. Karena ketan putihnya dimasak di dalam bambu yang kalau dikampungku disebut “pa’peong”. Setelah jadi peong, maka durian dimakan dengan peong yang dicelup ke dalam tapai ketan hitam.

image

Meskipun beberapa kali tertimpa bencana Gempa, Padang tetap bersinar. Pertama kali aku ke Padang setelah Gempa Padang 2009. Saat itu aku mendapat tugas menyampaikan hasil donasi masyarakat Sorowako dan digunakan untuk membangun sebuah puskesmas plus di kabupaten Agam.

Memang banyak sekali perbaikan yang telah dilakukan di Padang. Bahkan banyak bangunan-bangunan baru didirikan. Kebanyakan merupakan museum. Aku sempat berkunjung ke pantai Padang, Tugu Merpati Perdamaian, museum Gempa Padang 2009 yang terletak di Museum Adityawarman,Tugu Gempa Padang 2009, Museum Rumah kelahiran bung Hatta Wakil Presiden Indonesia Pertama

image

Selain itu, keindahan alam juga terukir dengan banyaknya tujuan-tujuan wisata yang telah ditata dengan baik, seperti pantai Padang, Air terjun Lembah Anai, Janjang Seribu Great Wall of Koto Gadang, atau Tangga seribu yang sering disebut tembok Cinanya Sumbar, juga ada Lobang Jepang, Jam Gadang Bukit Tinggi, Danau Singkarak, Lembah Hijau Green Canyon ala Sumatera Barat (Sumbar), Benteng Fort de Cock yang menjadi bukti sejarah jejak Perang Paderi. Juga terlihat pada Istano Basa Pagaruyung, Kota Batusangkar.

image

Akh… masih banyak tempat yang belum sempat ku kunjungi sedangkan waktu kembali ke Jakarta telah tiba. Puskesmas Agam yang juga ingin kukunjungi juga tidak cukup waktu.
Tapi perjalanan 2 hari kemarin sungguh meninggalkan kesan yang luar biasa.

image

Yang penting.. dah berpose laiknya Bundo Kanduang dengan pakaian gadis minang. Luar biasa…

la_vie

Semua adalah Cobaan

“Wahai Rob Yang Maha Hidup, wahai Rob Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan janganlah Engkau pasrahkan semua urusanku kepada diriku sendiri sekalipun hanya sekejap mata, melainkan Engkau telah menyertakan petunjuk dan pertolongan di dalamnya.” 

Hidup itu ujian,
Hidup itu karunia Tuhan,
Segala karunia itu ujian.
Istri, suami itu karunia sekaligus ujian.
Anak itu karunia sekaligus ujian.
Kepintaran itu karunia sekaligus ujian.
Amanah itu karunia sekaligus ujian.

Hanya mereka yg selamat yang dinyatakan lulus dari ujian.

Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ  ؕ  وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً   ؕ  وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”
(QS. Al-Anbiya: Ayat 35)

Diuji dengan kebaikan harus bersyukur dan sabar, demikian pula diuji dengan keburukan tetap harus sabar dan bersyukur serta ikhlas.

Kadang karena pintar orang merasa bisa ngajari orang lain, karena merasa kaya merasa bisa nyantuni orang lain, karena merasa kuat merasa bisa melindungi orang lain….. padahal semua itu bukan karena pintar, karena kaya, karena kuat ….. tetapi karena Allah…

Tiada daya dan upaya kecuali dengan izin-ridha-kehendak Allah SWT.

#selfreminder

la_vie

Menjadi Baik

Kalau ditanya, semua orang pasti akan menjawab, “saya ingin menjadi orang baik”. Tidak ada satupun yang suka disebut orang jahat. Bahkan orang terjahat sekalipun, pasti akan mengelak dan tetap mau memperlihatkan kebaikannya pada orang lain.

Ketika kita ditanya, seperti apa kita ingin diperlakukan. Maka semua orang akan menjawab “saya ingin diperlakukan dengan baik”. Namun terkadang kita lupa, bagaimana memperlakukan orang lain, meskipun kita selalu ingin diperlakukan dengan baik.

Menjadi baik sangatlah mudah. Namun lebih banyak yang merasa sulit melakukannya. Meskipun dianggap kecil, tersenyum pun adalah sebuah kebaikan, kecuali saat kita tersenyum ketika orang lain sedang berduka. Tentu itu akan sangat menyakitkan hati.

Begitupun ketika kita menyapa dengan santun, membantu dengan ikhlas, melakukan kebajikan-kebajikan yang sifatnya biasa-biasa saja namun berdampak pada kebahagiaan dan kegembiraan orang lain. Hal itu menjadi kebaikan-kebaikan kecil yang tentu akan berdampak besar dalam kehidupan ini jika kita mengambil hikmah daripadanya.

Yang pasti, saya ingin menjadi baik, lebih baik, terus terus dan terus baik.

Meskipun terkadang, saya sendiri bingung dengan makna kebaikan itu sendiri. Kenapa orang-orang baik banyak yang hidup menderita. apakah karena mereka selalu memikirkan orang lain, dan tidak memperdulikan kondisi mereka sendiri. apakah mereka terlalu naif dan menganggap semua orang itu baik, sampai akhirnya dia mendapat perlakuan yang tidak baik?

Intinya, menjadi baik adalah pilihan. Semua terpulang pada diri kita masing-masing. kita sendirilah yang menentukan kita ingin menjadi baik atau sebaliknya…..

#renunganvie

SEMUA SEMU

Seorang bapak kira-kira usia 65 tahunan duduk sendiri di sebuah lounge bandara Halim Perdana Kusuma, menunggu pesawat yang akan menerbangkannya ke Jogja. Kami bersebelahan hanya berjarak satu kursi kosong. Beberapa  menit kemudian ia menyapa saya.

“Dik hendak ke Jogja juga?”

“Saya ke Blitar via Malang, Pak. Bapak ke Jogja?”

“Iya.”

“Bapak sendiri?”

“Iya.” Senyumnya datar. Menghela napas panjang.“Dik kerja dimana?”

“Saya serabutan, Pak,” sahut saya sekenanya.

“Serabutan tapi mapan, ya?” Ia tersenyum. “Kalau saya mapan tapi jiwanya serabutan.”

Saya tertegun. “Kok begitu, Pak?”

Ia pun mengisahkan, istrinya telah meninggal setahun lalu. Dia memiliki dua orang anak yang sudah besar-besar. Yang sulung sudah mapan bekerja. Di Amsterdam. Di sebuah perusahaan farmasi terkemuka dunia.  Yang bungsu, masih kuliah S2 di USA. 

Ketika ia berkisah tentang rumahnya yang mentereng di kawasan elit Pondok Indah Jakarta, yang hanya dihuni olehnya seorang, dikawani seorang satpam, 2 orang pembantu dan seorang sopir pribadinya, ia menyeka airmata di kelopak matanya dengan tisue.

“Dik jangan sampai mengalami hidup seperti saya ya. Semua yang saya kejar dari masa muda, kini hanyalah kesia-siaan. Tiada guna sama sekali dalam keadaan seperti ini. Saya tak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi saya sadar, semua ini akibat kesalahan saya yang selalu memburu duit, duit, dan duit, sampai lalai mendidik anak tentang agama, ibadah, silaturrahmi dan berbakti pada orang tua.

Hal yang paling menyesakkan dada saya ialah saat istri saya menjelang meninggal dunia karena sakit kanker rahim yang dideritanya, anak kami yang sulung hanya berkirim SMS tak bisa pulang mendampingi akhir hayat mamanya gara-gara harus meeting dengan koleganya dari Swedia. Sibuk. Iya, sibuk sekali…. Sementara anak bungsu saya mengabari via WA bahwa ia sedang mid – test di kampusnya sehingga tidak bisa pulang…”

“Bapak, Bapak yang sabar ya….” Tidak ada kalimat lain yang bisa saya ucapkan selain itu. 

Ia tersenyum kecut. “Sabar sudah saya jadikan lautan terdalam dan terluas untuk membuang segala sesal saya dik…
Meski telat, saya telah menginsafi satu hal yang paling berharga dalam hidup manusia, yakni sangkan paraning dumadi. Bukan materi sebanyak apa pun. Tetapi, dari mana dan hendak ke mana kita akhirnya. Saya yakin, hanya dari Allah dan kepada-Nya kita kembali. Di luar itu, semua semu. Tidak hakiki…  
Adik bisa menjadikan saya contoh kegagalan hidup manusia yang merana di masa tuanya….”

Ia mengelus bahu saya –saya tiba-tiba teringat ayah saya. 

Di pesawat, seusai take off, saya melempar pandangan ke luar jendela, ke kabut-kabut yang berserak bergulung-gulung, bertimbun-timbun bagai permadani putih. 
Semua manusia sungguh semata hanya sedang menunggu giliran dijemput maut. Manusia sama sekali tiada nilainya, tiada harganya, tiada pengaruhnya bagi jagat raya ini. Sangat nisbi, naif, dhaif, fana, sumir, kerdil, sebutir debu, senoktah hikayat… 

Subhaanaka…Laa ilaaha illaa Anta ini kuntu minazh-zhaalimiin. Maha suci Engkau, Tuhanku…. Bimbing diri ini agar tidak tersesat dlm menjalani hidup dan kehidupan ini. Di luar itu, semua semu. Tidak hakiki…

*****
Semoga Allah selalu memberi petunjuk dan bimbingan-Nya kepada kita semua dalam menjalani kehidupan yang fana ini…

*Disadur dari unknown WA*

la_vie

Bakat Terpendam

Tidak menyangka sama sekali, ternyata ada bakat terpendam selama ini. Padahal sebelumnya, belum pernah aku lakukan. Tapi sepertinya waktu dan kesempatan memberikan ijin aku mengetahui, ada hal yang bisa aku lakukan selain rutinitas aktivitasku selama ini.

Kesempatan itu datang, ketika aku mengorder kue ulang tahun untuk kemenakanku Affan Bintang Syandrie yang ke-4. Sedikit sedih, karena pesananku tidak dapat dipenuhi. Aku mulai mencari dimana aku bisa memesan kue yang aku inginkan. Tapi ternyata tidak semudah yang aku harapkan.

Akhirnya, mengumpulkan semua keberanian diri, aku mulai membuka, mencari resep yang selama ini aku idam-idamkan. Maka jadilah kue ulang tahun pondant pertama buatanku, untuk anak ganteng pencinta Boboy dan pesawat.

image

Lalu kesempatan kedua pun tiba, saat aku diingatkan akan ulang tahun rekan kerja yang sudah aku anggap adikku sendiri. Sedikit agak terburu-buru, namun aku berhasil menyelesaikannya.

image

Senangnya.. ketika mengetahui bahwa kue itu membawa kebahagiaan pada kawan-kawanku. Tapi menjadi lucu dan bangga ketika mengetahui cerita bagaimana kue itu seolah-olah misteri dan menarik minat yang begitu besar.

Lalu, kesempatan ketiga kembali hadir saat aku bisa berbagi sebuah kebahagiaan bersama sahabatku. Meskipun aku tau bahwa dia tentu bisa membuat yang lebih baik dariku. Tapi aku membuatnya dengan hati riang, seriang bunga-bunga yang menghiasi kue buatanku heehhehe…

image

Alhamdulillah, sungguh diluar dugaan sama sekali. Mungkin karena ada waktu dan kesempatan untukku mengeksplore bakat terpendam yang kumiliki. Aku menjadi semakin yakin, bahwa setiap kita memiliki bakat terpendam yang akan muncul seiring dengan waktu.

Jadi terfikir bahwa:
1. Setiap kita memiliki bakat terpendam dan harus kita explore.
2. Buatlah perencanaan yang baik, meskipun dalam pelaksanaannya bisa terjadi perubahan.
3. Bersabarlah, memulai sesuatu yang baru membuat kita menjadi sangat antusias untuk melakukannya dengan cepat sehingga bisa berantakan kalau tidak hati-hati.
4. Fokus, menjadikan kita bisa lebih terarah.
5. Lakukanlah yang terbaik dan yakinlah, bahwa kau melakukan yang terbaik dan penuh cinta sehingga semua akan baik-baik saja.

Hmmm, semakin diasah sebuah pisau maka dia akan semakin tajam. Semakin sering berlatih, tentu akan semakin terampil.

#viestory

la_vie

Cake Pesawat Untuk Bintang

Maksud hati ingin memberikan kado yang berbeda, aku memesan kue ulangtahun untuk ponakan gantengku. Tapi sedihnya, saat pesananku tidak dapat dipenuhi. Akhirnya berbesar hati untuk membuat sendiri, bagaimanapun rasanya, at least ada upaya membuatnya sendiri.

image

Finally, googling lah kita mencari jenis fondant yang paling mudah dibuat hehehhee. Kepikiran mudah melihat cara membuat fondant cake, maka terfikir mau membuatkan kue ulang tahun model pesawat terbang. Begitu bundanya bintang pulang kantor, keliling lah kami hunting bahan untuk membuat cake dan fondant di Kak Ana Pasar Magani, Sorowako.

Bahan fondant antara lain:
1. Gula halus sebanyak 1 kg
2. Gelatin serbuk sebanyak 10 gram
3. Garam sebanyak ¼ sdt
4. Sirup gula sebanyak 120 cc. Cara membuatnya yaitu dengan memanaskan air sebanyak 100 cc dengan gula pasir sebanyak 100 gram hingga mendidih dan larut.
5. Tepung maizena
6. Pewarna makanan. Bisa sesuai dengan selera anda.
7. Glycerine sebanyak 6 cc (turunan dari gula). Bahan ini bisa anda dapatkan di apotik.
8. Air dingin sebanyak 60 cc

Sempat pusing mendapatkan gliserine di Sorowako. Akhirnya pakai pesan ke Makassar heheheh.. walhasil kita buat cakenya aja. Fondantnya menyusul. Untungnya pas buat ada beberapa hari sebelum hari-H dan kondisi aunty Vie sudah lebih baik meski ga bisa berlama-lama duduk hehehhe.

image

Begitu pesanan tiba, berdua bersama bintang yang punya acara, mulailah kami bereksperimen. Mencampur, mengaduk dan akhirnya melapis kue. Untuk membuat fondant aku ngikutin petunjuk dari dapur www.kuliner123.com. trus untuk membuat kue pesawatnya, aku mengikuti petunjuk yang diberikan  dapurnyabunbun.

Awalnya seh sempat belepotan hahaha, tapi senang juga, karena dapat fans yang suka dengan kuenya. Meskipun kejadiannya bikin perut ngocok, tapi finally kuenya jadi dan Bintang malah dapat 2 kue dari ayah bundanya dan hasil buatan sendiri bersama aunty vie hehhehe…

image

Meski begitu, sedih pas hari jadinya, Bintang justru tepar. Tapi doa dan semangatnya tidak pernah padam. Barakallahu fii umurik anak gagah… semoga bertumbuh menjadi anak soleh dan selalu menjadi pribadi yang bijaksana dan selalu menjadi yang terbaik.

Love you nak…

#affanbintangsyandrie #funbaking #havingfun #viestory #ceritavie #4thbirthday

la_vie