Festival Danau Matano 2015

Setelah beberapa kali penundaan sejak pertama kali dilaksanakan tahun 2009, akhirnya perhelatan Festival Danau Matano dilaksanakan kembali. Rasa bangga dan bahagia membuncah di dada. Kampungku melaksanakan satu event akbar, sebuah festival yang diharapkan mengangkat daerah kami menjadi sebuah tujuan wisata, Festival Danau Matano 2015.

Betapa besar keinginan untuk mengaplikasikan semua ilmu tentang event yang pernah kupelajari demi keberhasilan dan kesuksesan event ini. Bergabung bersama teman-teman memeriahkan event luar biasa ini.

Namun, sungguh menyayat hati, begitu menginjakkan kaki di tanah kelahiranku, sebuah spanduk terpampang menolak mekanisme Festival Danau Matano 2015 terpampang dengan jelas di depan kantor Camat kami.

image

Aku galau, bertanya dalam hati, ada apakah gerangan. Mengapa mereka menolaknya? Bukankah mereka yang telah merencanakannya bersama-sama selama ini. Aku ingat di awal tahun 2015, aku berdiskusi dengan beberapa kawan untuk tetap mendukung kegiatan ini dan tidak menjadi penonton di kampung sendiri. Apa keinginan itu terlalu sulit untuk diwujudkan?

Akhirnya aku berkesempatan bertemu dan berbincang dengan kawan-kawan yang menolak Festival Danau Matano (FDM) 2015 ini. Aku menarik kesimpulan bahwa mereka merasa terabaikan, merasa keberatan dengan pelaksanaan FDM2015 yang terburu-buru, tidak matang bahkan tanpa melibatkan semua panitia lokal yang telah dibentuk dan terlibat dalam perencanaan FDM 2015 ini. Malah, pemangku adat pun merasa bahwa adat mereka telah dilecehkan dengan arogansi pelaksana kegiatan ini.

image

Seperti biasa, rasanya tidak puas mendengar informasi sepihak, aku mulai melakukan koordinasi-koordinasi lanjut dengan pihak-pihak terkait, mencocokkan, memberikan informasi yang sifatnya menjembatani, namun keterbatasanku bukanlah pengambil kebijakan sehingga bersifat sebagai messengger saja atau penyampai pesan dan informasi.

Namun ternyata, dalam keterbatasanku, aku harus berdiri di simpang jalan. Berada pada posisi pemerintahan dengan statusku sebagai aparat sipil juga bagian dari masyarakat yang menyuarakan ketidakadilan. Bahkan, tendensi pribadi juga sempat merajaiku, ketika aku menjadi bagian dari kawan-kawanku yang menolak sebuah arogansi.

image

Mungkin aku salah, tetapi secara profesional predikat aparatur sipil negara kusandang ketika uniform atau seragam itu kukenakan. Namun ketika kulepaskan, aku kembali menjadi bagian dari masyarakat, saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku, kawan-kawanku dan handai-taulanku. Tentu akan berbeda ketika sebuah jabatan telah melekat di pundakku, tapi saat ini, aku masih sebatas pelaksana.

Hingga akhirnya aku menjadi paham dengan kondisi yang terjadi. Aku paham bahwa sebuah keputusan tidak hanya melihat dari satu dua sisi saja, tetapi harus menyeluruh. Aku mengambil sebuah pembelajaran, ternyata aku masih sering men-judge berdasarkan asumsi bukan data dan fakta, meskipun aku berusaha mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya.

13 hari aksi penolakan teman-teman untuk pelaksanaan FDM2015 tidak mengendorkan pelaksanaan perhelatan akbar ini. Panggung spektakuler tetap berdiri kokoh dengan menampilkan para pengisi acara yang mampu menyulap suasana. Betapa dua sisi yang bersebelahan. Dimana masyarakat terbagi antara yang mendukung dan yang menolak. The shows must go on

image

Menurutku, secara performance, FDM2015 memang berhasil memukau hadirin yang membanjiri lokasi kegiatan. Namun secara penyampaian ide, masih sangat jauh dari tema yang diangkat. Karena inti dari menuju warisan dunianya menjadi tidak tersentuh, baik dari segi obyeknya pun subyeknya. Apalagi dari sisi pelibatan masyarakat lokal yang dalam pelaksanaannya menciptakan dua kubu yang saling bergesek.

Secara pribadi, yang paling kuharapkan dari FDM2015 ini adanya seminar internasional yang bisa merekomendasikan langkah-langkah strategis menjadikan Danau Matano sebagai warisan dunia, baik dari segi danau dan ekosistemnya, hingga kearifan lokal budaya masyarakat di sekitar danau Matano. Sayangnya, tidak kutemukan sama sekali selain hinggar binar dentuman musik dan kerlap-kerlip lampu.

Akh.. berharap di tahun-tahun berikutnya, pelaksanaan FDM2015 bisa lebih mengangkat kearifan lokal dengan melibatkan teman-teman penggagas kegiatan ini. Berharap FDM menjadi ajang memperkenalkan tujuan wisata baru dengan mengedepankan budaya lokal, sehingga pelestarian budaya akan berbanding dengan pemeliharaan Danau Matano sebagai warisan dunia.

Sebelum ku akhiri tulisan ini, ingin kukirimkan salam duka dan Al-Fatihah untuk saudariku Sinar yang menghembuskan nafas terakhirnya di penghujung penutupan FDM2015 tak jauh dari panggung utama rangkaian penutupan di Pantai Ide Sorowako. Semoga almarhumah mendapat tempat terlayak dan diampuni segala dosa-dosa. Aamiinn ya rabbal alaamiiiin.

#renunganvie

la_vie

Di Simpang Jalan

Pengen nulis tentang kejadian di kampungku, eh tertegun lihat diskusi Bang Karny Indonesia Lawyers Club di TV One yang temanya “Sudirman VS Novanto: Sinetron Perang Antar Geng”.

Pas juga pak Menko Rizal Ramli, ngomongin gaduh itu ada dua jenis: gaduh putih dan gaduh hitam. Gaduh putih itu misalnya di sawah ada banyak tikusnya nah… cara untuk mengusir para tikus-tikus itu dengan membuat suara-suara gaduh. Sedangkan gaduh hitam adalah kegaduhan yang timbul gara-gara pembagian yang tidak adil.

image

Huaaaa.. koq mirip-mirip yang terjadi di daerahku yang lagi gaduh2 yah?? Cuma pertanyaannya gaduh yang manakah yang terjadi di Sorowako? Putih atau hitam?

Jadi mentok di persimpamgan jalan deh. Mau ke kiri salah.. ke kanan salah.. jadi kemana donk…

la_vie

Belum waktunya..

Menggelitik ketika mendengar kalimat itu lagi.. belum waktunya… jadi kapan donk? Hehehhehe

Jadi ingat ketika Pilpres dan ada statement dari tokoh nasional “belum waktunya orang Timur memimpin Indonesia” aishhh kala itu saya berfikir sendiri, dari sebegitu banyak orang Sulawesi yang cerdas pemain belakang layar keberhasilan tokoh-tokoh nasional kita, lantas mengapa dikatakan belum waktunya kita memimpin?

Pertanyaan sederhananya adalah apakah akan menjadi “waktunya” ketika dirimu yang berada disitu ataukah orang-orangmu yang berada disitu?

Karena saya berfikir bahwa yang dimaksud dengan “waktunya” itu adalah setiap keputusan yang kita ambil terhadap suatu hal. Bukan prosesnya. Karena dalam proses sekalipun, tetap ada keputusan-keputusan kecil yang kita ambil sebagai langkah-langkah konkrit.

Sama ketika ada yang berteriak “wettunnami = waktunya mi” pada seorang kandidat bupati di daerah kami. Menjadikan saya berfikir, apakah benar sekarang sudah waktunya? Sementara dalam prosesnya, pasangan calon itu berada di bawah bayang-bayang mantan bupati sebelumnya.

Apakah salah ketika dengan logika sederhana saya pun mempertanyakan kemampuan pasangan itu tanpa dukungan Bupati sebelumnya?

Apakah salah ketika saya berfikir, masyarakat daerah kami masih fanatik pada ketokohan bupati yang digantikan?

Apakah salah ketika saya berfikir, jika pun pasangan calon itu terpilih nantinya seperti kata “sudah waktunya” apakah harapan pendukung fanatik dari bupati sebelumnya akan terwujud? karena dasar kefanatikan mereka sebenarnya bukan pada pasangan calon itu tapi pada mantan bupati pendukungnya?

Ahhhhh pertanyaan yang berat ketika saya sendiri diminta netral dalam pemilukada ini. Tapi wajarlah ketika ASN itu diminta netral, karena siapapun yang akan terpilih nantinya, tentu harus didukung sepenuh hati. Karena kita akan bekerja untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan pasangan terpilih apalagi titipan-titipannya.

Saya hanya berharap, semoga pemilukada serentak 2015 ini akan berjalan dengan aman, lancar dan damai. Dan jika memang sudah “waktunya mi”, daerah kami akan mendapatkan pemimpin yang amanah dan mengawal daerah kami menjadi daerah yang sejahtera.

Sudah banyak pemilih-pemilih cerdas, yang bisa melihat siapa pemimpin yang layak dipilih, yang mampu berdiri kokoh, yang percaya diri dengan kemampuan mereka dalam memimpin dan menjalankan program-program yang handal demi memajukan daerah kami.

Bukan sekedar calon pemimpin yang hanya bisa berbicara tentang masa lalu. Bukan hanya calon pemimpin yang bisa berbicara tentang kejayaan di masa lalu.. tetapi pemimpin yang punya visi, yang memiliki keyakinan akan masa depan, yang lebih baik.

Yang terbaik untuk Bumi Batara Guru… karena seyogyanya.. ada 2 jenis pemimpin dalam Islam: ulul amri (pemimpin ummat) dan khadimul ummah (pelayan ummat). Mungkin pengertian awamku ini yang membuatku salut pada ust. Maulana “Jamaah oh jamaah” yang baru saja dibully karena mengatakan pemimpin bisa dari non muslim sepanjang dia mau melayani masyarakat, karena dalilnya memang ada pada pemimpin khadimul ummah.

Anyway… yang penting adalah jangan kita mencari pemimpin yang:
1. Mau Sekali
2. Tidak Mau Sekali
3. Tidak amanah

Selamat berpesta pada Pemilukada serentak 9 Desember 2015 di Indonesiaku tercinta. Semoga rantai kemiskinan rakyat begitupula rantai mafia kewenangan bisa terputus dan kita mendapatkan pemimpin-pemimpin Indonesia yang berpijak pada kebenaran dan keadilan serta mencapai tujuan negara Indonesia yakni masyarakat adil dan makmur, sejahtera.. aaaamiiiin ya rabbal aaalaaamiiinnnn….

la_vie

Pameran Ajang Promosi

Tak kenal maka tak sayang. Seperti itulah falsafah sebuah promosi. Untuk memperkenalkan suatu produk ataupun sesuatu pada khalayak ramai. Pun berlaku untuk memperkenalkan suatu wilayah atau potensi.

Bertanya kabar, saya menelpon bu Yenny Husain, kepala perwakilan kabupaten Polewali Mandar. Di ujung telepon, si ibu menyampaikan kabar tentang keikutsertaan Polewali Mandar dalam Festival Kopi dan Kakao yang dilaksanakan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) 7-8 November 2015 di parkir gelora senayan Jakarta.

Festival Kampung Kopi And Kakao APKASI 2015 merupakan pameran komuditas series AITIS (Apkasi International Trade And Investment Summit) yang dilaksanakan kedua kalinya sejak 2014. Jadilah saya berjanji untuk berkunjung di stand pameran tersebut. Ternyata dari Sulawesu Selatan, hadir Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Luwu, Kabupate Luwu Utara dab Kabupaten Enrekang.

image

Perasaan sayang pun menyelimuti kunjunganku. Sayang, mengapa kabupatenku tidak ikut berpartisipasi dalam Festival ini. Padahal setahuku, potensi kakao Luwu Timur masih cukup tinggi. Terbukti dengan kehadiran Pusat Pelatihan Kakao yang didirikan PT Mars Indonesia selaku perusahaan pengelola cokelat di desa Tarengge kecamatan Wotu.

image

Memang, sedikit demi sedikit tanaman kakao ini mulai tergantikan oleh produksi sawit dan merica, tapi kakao tetap menjadi salah satu unggulan. Ingatan saya kembali pada Cokelat “SAYANG” yang dulu sering menjadi produk unggulan Luwu Timur. Kemana-mana pameran, sering diunggulkan, dan sekarang tidak pernah muncul sekalipun..

image

Seyogyanya, pameran itu merupakan wadah promosi daerah. Apalagi pameran komoditas yang dilakukan dalam rangka meningkatkan daya saing daerah kabupaten di tingkat regional maupun global, khusus bidang pemasaran dan pengembangan produk seperti festival kopi dan kokoa Apkasi ini. Tentu saja harapannya agar potensi agribisnis dari komoditas-komoditas di Indonesiabisa semakin meningkat produktivitas maupun kualitasnya.

Selain itu, pameran dan festival juga dapat menjadi etalase yang menjanjikan bagi para pengusaha lokal dan investor asing, untuk terjun di bidang perkebunan kopi, pengolahan, dan industri hilir, serta perdagangan global khususnya untuk komoditas di Indonesia.

image

Aishhhh berharap Luwu Timur akan selalu memanfaatkan kesempatan-kesempatan promosi melalui pameran atau festival seperti ini. Memanfaatkan kesempatan untuk melihat, berdiskusi dan belajar dari keberhasilan-keberhasilan kabupaten lain dalam meraih kerjasama baik produksi maupun pemasaran. Kan sayang, kalau kehadiran asosiasi pengusaha asal Inggris, British Chamber Of Commerce In Indonesia, yang diwakili oleh Britcham Executive Director, Chris Wren dalam Festival Kopi dan Kokoa Apkasi tidak dimanfaatkan untuk melihat peluang kerjasama pemasaran maupun pembinaan.

Akh… untukmu segalanya Luwu Timurku.. harapanku yang terbaik atas keberhasilanmu. Dan semoga mereka-mereka yang menggerakkanmu, akan senantiasa mengarah pada kebaikan dan pembangunan berkelanjutan, sehingga kesejahteraan masyarakat Luwu Timur tercapai.

#RenunganVie

la_vie

Sedikki’ Mo…

Bersamamu, kunikmati indah kebersamaan
Bersamamu, kujelang rasa yang telah lama kucari
Bersamamu, tiada duka yang mewarnai hariku…

Sungguh,
Bersamamu, indah hari-hariku begitu nyata,
Bersamamu, damai hatiku tanpa kesudahan,
Bersamamu, segalanya indah…

Tanpamu…
Aishhh kau pasti tak akan mau merasakannya…

Tanpamu…
Sepi…

Karena itu…
Bisakah kau luangkan..
Sedikki’mo waktu
disela-sela kesibukanmu, pekerjaanmu

Karena…
Bersamamu, kunikmati indah kebersamaan
Bersamamu, kujelang rasa yang telah lama kucari
Bersamamu, tiada duka yang mewarnai hariku…

Sungguh,
Bersamamu, indah hari-hariku begitu nyata,
Bersamamu, damai hatiku tanpa kesudahan,
Bersamamu, segalanya indah…

la_vie

HUJAN : relasi antara Maksiat & Taubat

Pada zaman Nabi Musa ‘Alaihis-Salam, bani Israel ditimpa kemarau yang berkepanjangan. Mereka berkumpul mendatangi Nabi Musa, mereka berkata, “Wahai Nabi Allah, berdoalah kepada Rabb-mu agar Dia menurunkan hujan kepada kami….!”

Maka berangkatlah Nabi Musa ‘Alaihis-Salam bersama kaumnya menuju padang yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang.

Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh, penuh debu, haus, dan lapar…

Nabi Musa berdoa,

‎إلهي … أسقنا غيثك … وانشر علينا رحمتك وارحمنا بالأطفال الرضع … والبهائم الرتع والمشايخ الركع اليك …

“Ilaahi …! Asqinaa ghaitsak … Wan-Syur ‘alaina rahmatak … war-Hamnaa bil-athfaalir-rudhdha’ … wal-bahaaimir-rutta’ … wal-masyaayikhir-rukka’ ilaika …”

“Tuhanku… Turunkanlah hujan kepada kami… Tebarkanlah Rahmat-Mu kepada kami, kasihilah kami demi anak-anak yang masih menyusu… Demi hewan ternak yang merumput, dan demi para orang-orang tua yang ruku’ kepada-Mu …”

Namun langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin kemilau. Kemudian Nabi Musa berdoa lagi,

“Ilaahi … asqinaa….”

Allah-pun Berfirman kepada Nabi Musa,

‎يا موسى أنى أكون بغيثكم و فيكم رجل يبارزني بالمعاصي أربعين عاما … فليخرج حتى أغيثكم …

“Wahai Musa … Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedang di antara kalian ada seorang hamba yang berma’siat kepada-Ku sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena sebab dialah Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian …”

Maka Nabi Musa-pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… Keluarlah ke hadapan kami, karena sebab engkaulah hujan tak kunjung turun …”

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan ke kiri, tapi tidak berani keluar ke hadapan manusia. Saat itu pula dia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud, dia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku, tapi kalau aku tidak keluar, maka hujanpun tidak akan turun…”

Hatinya gundah gulana, air matanya menetes menyesali perbuatan ma’siatnya, sambil berkata lirih, “Ya Allah… aku telah berma’siat kepada-Mu selama 40 tahun. Selama itu pula Engkau menutupi ‘aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku …”

Tidak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebalpun bermunculan, semakin lama semakin tebal dan menghitam. Dan akhirnya hujanpun turun …!

Nabi Musa pun keheranan dan berkata, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, padahal tak seorang pun yang keluar ke hadapan manusia”.

Allah berfirman,

‎يا موسى لقد تاب وتبت عليه،  منعت عنكم الغيث بسببه، وأمطرتكم بسببه …”

“Wahai Musa, dia telah bertaubat dan Aku telah menerima taubatnya, karena orang itulah Aku menahan hujan kepada kalian, dan karena dia pulalah Aku menurunkan hujan …”

Nabi Musa berkata,

‎ربي أرني أنظر إليه، ربي أرني ذلك الرجل

“Ya Allah…Tunjukkan padaku orang itu… Tunjukkan aku pada orang itu…”

Allah berfirman,

‎يا موسى … لقد سترته وهو يعصيني، أفلا أستره وقد تــاب وعـــاد إلي؟؟

“Wahai Musa, Aku telah menutupi ‘aibnya padahal dia bermaksiat kepada-Ku, Apakah sekarang Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia telah bertaubat dan kembali kepada-Ku?!”

Maasyaa Allaah …

Sumber: Kitab “Fii Bathnil-Huut”

la_vie

Ribut Banget, Brisik!!!

Pang ping pang ping, pengen banget rasanya keluar dari group ini. Ribut banget.. brisik… tapi kalau keluar jadinya ga update informasi dah. Trus kalo bertahan sebenarnya seh keganggu banget dengan semua update yang bertubi-tubi. Hmmm bagaimana yahh??

Mungkin sebenarnya ga masalah andaikata informasi yang disampaikan itu adalah kebenaran, hal-hal yang positif dan membangun. Lah ini, lebih pada saling menghujat, saling mem-bully, saling memojokkan bahkan mengarah pada fitnah dan black campaign semata.  Hmmmm.. kira-kira manfaatnya apa yah?? Belum lagi yang berkomentar itu bergelar guru, tokoh agama, ustdadz(ah), tokoh masyarakat, tokoh pemuda(i), tokoh perempuan, panutan dalam masyarakat hmmmmn menjadi ganjal dah…

Saya sering membayangkan, dalam moment-moment pemilihan umum, baik itu pemilihan presiden (Pilpres), pemilihan wakil rakyat seperti DPR/DPRD maupun DPD (Pileg) terutama Kepala Daerah (Pemilukada), para calon dan tim suksesnya berlomba-lomba membuat program yang positif di masyarakat. Saling iri dengan keberhasilan calon dan timses lain dalam menarik simpati calon pemilihnya, sehingga berlomba-lomba menciptakan inovasi-inivasi kreatif yang membangun.

Misalnya sekarang yang lagi bencana asap dimana-mana, pun latah di Luwu Timur. Nah para calon dan timsesnya ini membuat program penyiraman lokasi kebakaran, menjadi donatur penyuluhan lingkungan agar masyarakat tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar hutan, sosialisasi menjaga lingkungan dari tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab, sosialisi lahan-lahan rawan kebakaran karena kondisi lahan gambut, program menjaga hutan sebagai sumber penangkap air bagi kelangsungan hidup danau purba di Luwu Timur.

Nah.. kalau itu dilakukan pasti banyak simpati. Pun kalau mendengar keluhan masyarakat yang lagi latah membuka lahan untuk merica karena harganya lagi tinggi, paling tidak memberikan pendampingan pada petani selain berfikir tentang dampak ekonomi, juga berfikir tentang dampak lingkungan..

Hahhaha.. itu kerja pemerintah?? Benar.. lah.. bukannya maju sebagai calon bupati (calbup) / calon wakil bupati (cawabup) kan tujuannya mau menjadi bagian dari pemerintah daerah. Lah kalau program2nya sebelum menjadi kepala daerah sudah diterima oleh masyarakat kan berarti dukungan masyarakat untuk program itu sudah terbukti dan  bisa dilanjutkan terus toh…

Iya seh, itu memang semua terkait dana. Bener sekali.. tapi apakah tidak pake dana juga buat program-program sosialisasi lainnya bahkan black campaign sekalipun?? Apa tidak melihat itu sebagai program hambur-hambur duit semata?

Hmmm, kalo nda terima ide itu, bagaimana kalau program penyuluhan pertanian saja? Membantu program pemerintah yang sudah ada. Jadi masuk ke desa-desa bukan hanya sekedar mendengar keluhan masyarakat dan kemudian berjanji ini dan itu demi mendapatkan suara rakyat. Apakah tidak lebih asyik jika, rakyat dibantu dengan workshop-workshop, tentang keterampilan praktis mengolah tanah, program olah tani hidroponik, tentang bagaimana membentuk kelompok tani yang bisa menjadi pemasaran yang baik, bahkan, bagaimana cara pengelolaan dana hasil panen sehingga petani bisa survive hingga panen berikutnya. Lah, apa itu tidak memberikan dampak positif baik bagi calon maupun masyarakat? Namanya juga calon pemimpin daerah.. kan ada yang namanya affirmasi, berbahasa atau bisa juga berkelakuan seolah-olah sudah menjadi kepala daerah, dalam konteks positif tentunya hehehehe tidak hanya sekedar foto dengan seragam kepala daerah tentunya 😆 tapi yang paling penting Kerja… Kerja… Kerja…

Masih berat?? Bagaimana dengan program-progran lain misalnya, sponsorship kegiatan-kegiatan kemasyarakatan? Lomba-lomba pengetahuan, ketetampilan bahkan kecekatan sebagai langkah awal dari program-program yang ditawarkan setelah menjabat sebagai kepala daerah?

Kebayang saya.. kalau ketiga calon dengan timses dan fans fanatiknya saling beradu inovasi kreatif, maka Bumi Batara Guru ini akan menjadi lebih berkembang. Menjadi lebih maju, menjadi lebih sejahtera. Menjadikan pemilukada ini sebagai sebuah ajang kompetisi kreativitas tentu yang positif bukan yang negatif. Sedihnyaaa, melihat foto-foto calon yang di bully, yang dicorat-coret bahkan ada yang disobek dan dibakar.. kenapa bukan memasang foto masing-masing calon andalan yang sedang melakukan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan? Calon dukungan yang sedang bersuka cita bersama masyarakat atas keberhasilan dalam sebuah pencapaian misalnya.. akh… banyak lainnya..

Tapi apa daya… yang saya simak hanyalah gugatan-gugatan, hanyalah janji-janji manis, hanya mengumbar kesalahan dan kelemahan lawan, akh… padahal hal itu justru menggambarkan kekerdilan cara berfikir kita, melihat hanya pada hal-hal negatif saja. Sementara banyak sekali hal-hal positif yang dapat kita lakukan yang hasilnya akan jauh lebih bermanfaat. Hmmm mungkin saya salah dalam menilai, hanya saja saya berharap sesuatu yang lebih baik dan lebih nyata dari orang-orang yang mengaku pinter dan cerdas-cerdas itu dalam menyalahkan lawan mainnya.

Andai saja ribut itu, berisik itu bisa memberikan manfaat bukan mudharat, bisa memberikan kebaikan bukan sekedar pengumbar rasa dengki dan amarah semata. Karena, yang saya pikirkan adalah paska pemilukada. Usai pemilihan itu, mereka yang bertikai itu, mereka yang saling menghujat itu, mereka yang saling memaki itu, tentunya masih akan bertemu satu sama lain. Karena mereka sama-sama masih mencari hidup di bumi batara guru ini. Bisa jadi mereka adalah paman dan kemenakan, keluarga dekat. Bisa saja bertemu di kondangan-kondangan, tahlilan bahkan mungkin bisa besanan.. allahu alam bissawab..

Akh.. malam ini aku ingin istirahat, semoga malamku tak harus terganggu oleh pang ping pang ping yang ribut banget… brisik! Hmmm kata kawan sekaligus sahabatku, baban bantal, biarkan saja angin membawa pang ping pang ping itu menelusur hitamnya malam. Baban akan bersenandung serta membawaku berkelana di bawah alam sadar sehingga pang ping pang ping itu menjadi medley lagu pengantar tidur untukku… indahnyaaaaa khayalku…

#renunganvie

la_vie

Tentang Asap

Gila aja… seperti latah, kampungku juga ikut-ikutan memeriahkan rangkaian asap di udara. Ternyata bukan di Sumatera dan Kalimantan saja yang bisa, di kampungku Luwu Timur, di kaki pegunungan Verbeck juga tidak mau ketinggalan akhirnya diberitakan media tentang kondisi asap hasil dari pembakaran lahan.

Sungguh aneh tapi nyata. Kita sering berkoar-koar tentang kondisi di daerah lain, tapi membuat kondisi yang sama bahkan lebih parah di tempat sendiri. Seperti pepatah, tampak semut di ujung samudera sementara gajah di pelupuk mata tak tampak sedikitpun.

Sebelum-sebelumnya, kasus asap hanya terdengar di pulau Sumatera dan Kalimantan saja, yang bahkan sempat mempengaruhi hubungan antara pemerintah Republik Indonesia dan  Singapura juga Malaysia. Dan ternyata hal itu dikarenakan upaya pembakaran lahan yang dinilai sangat ekonomis oleh masyarakat Indonesia dalam program pembukaan lahan pertanian maupun ladang untuk perkebunan kelapa sawit.

Tak dinyana.. perbuatan ini justru mendapatkan perlindungan hukum dengan adanya peraturan pemerintah daerah setempat sebagai dampak dari desentralisasi otonomi daerah. Ketika pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk memberikan izin, maka dengan perhitungan dampak ekonomi tanpa mempertimbangkan dampak lingkungannya, izin pun diberikan.

Satu KK diberikan lahan 2 hektar yang dapat dibuka secara tradisional seperti dibakar, maka dari 100 KK menjadi 200 hektar lahan terbuka untuk kelapa sawit. Ekonomi masyarakat setempat naik, pengusaha mendapat 200 hektar lahan secara murah karena sistem pembukaan lahan tidak memerlukan biaya yang banyak, Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat dan negara juga untuk dari nilai ekspor. Semua senang sampai akhirnya menangis, mengutuk bahkan sampai membully pemerintah pusat karena dampak asap yang ditimbulkan karena kondisi alamnya berlahan gambut dan makanan yang gurih penyubur penyebaran api.

Apakah kondisi ini yang kita harapkan di Luwu Timur? Karena nilai ekonomis, hutan yang menjadi penampung air danau tektonik kita dibakar hanya karena harga merica yang tinggi. Masyarakat hanya melihat, karena merica, mereka bisa seenaknya membakar hutan. Kita bicara tentang kemakmuran versus lingkungan. Siapakah yang akan  bertanggung jawab ketika tanah itu longsor? Ketika hutan itu terbakar dan meninggalkan luka karena korban seperti yang terjadi di Riau?

Apakah kita akan menyalahkan pemerintah daerah? Atau pemerintah pusat? Atau bahkan kepada perusahaan tambang PT Vale dengan isu tenaga kerja atau Corporate Social responsibility (CSR)? Sementara, kondisi itu kita ciptakan, kita biarkan, bahkan mungkin milik dari elite-elite di daerah.

Kita selalu meminta perusahaan-perusahaan raksasa seperti PT Vale untuk menjaga lingkungan kita, lantas mengapa kita sendiri yang merusaknya? Baru saja kita bisa bernafas dengan penanganan illegal lodging yang pada dasarnya hanya menebang pohon-pohon besar bernilai ekonomis di hutan, eh sekarang kasus pembakaran lahan, yang justru menghilangkan semua tanaman yang ada dibatas lahan.

Sungguh miris, ketika bercerita dengan kawan-kawan yang baru saja tiba dari Malili, ibukota kabupaten Luwu Timur, bahwa hutan kota di belakang kantor bupati Luwu Timur habis diludes api beberapa pekan laku. “Gunung Lampenai yang biasa kita lihat dari depan kantor Bupati sudah tidak nampak selain cokelat kehitaman,” jelasnya. Sedihku mendengarnya.

Begitulah kita, kadangkala, nilai ekonomis menjadi tumpuan sementara lingkungan kita hancur. Padahal lingkungan itu untuk keberlangsungan masa depan daerah kita sendiri, yang kalau tidak kita jaga, lantas, siapa?

#RenunganVie

la_vie

Ayo Ke Lutim

Perintah itu harus dilaksanakan. Meskipun sedikit malas, tetapi karena perintah, segala alasan pun terpaksa harus diabaikan. Tapi ternyata, perintah itu menjadi nikmat, ketika rasa malas itu dirubah menjadi positif dan dikerjakan dengan ikhlas.

Sosoknya dingin ketika pertama bertemu. Bicaranya tidak banyak. Hanya memperhatikan, tersenyum sekenanya, namun tetap terlihat kharisma dan bersahaja. Begitulah penilaian pertamaku bertemu Penjabat Bupati Luwu Timur, Irman Yasin Limpo yang juga merupakan adik dari Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo.

Usai menjemput beliau yang tiba bersama Kepala Bapedda Luwu Timur,  Kepala KPPT Luwu Timur juga ajudan dan rombongan lainnya di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, beriringan kami menuju Mess Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di Yusuf Adiwinata. Akh.. syukurnya kami menjemput dengan 2 kendaraan, sekiranya hanya kendaraan utama saja, tentu sedikit kalang kabut proses penjemputannya hehehehe.

image

Rupanya Pak Gubernur, kakak Pak Irman juga diundang mengikuti agenda Rapat Kerja di Istana Negara Jakarta siang itu, sehingga beliau menyempatkan untuk bersilaturahmi bertemu kakaknya terlebih dahulu di Mess Pemprov Sulsel. 

Pertemuan dengan Gubernur SulSel tidak begitu lama sehingga waktu masih cukup lowong sebelum menuju Istana Negara. Jadilah kami menyempatkan diri untuk ngaso sejenak di Starbuck Thamrin. Rupanya, beliau termasuk orang-orang yang senang berdiskusi dan nongkrong di warung kopi.

Walhasil, aku jadi ikut terlibat pada percakapan yang sangat menarik terutama terkait dengan ide-ide pengembangan Luwu Timur ke depan dengan tagline “Ayo ke Lutim”. Dalam kesahajaan beliau, banyak sekali ide-ide kreatif untuk masa depan tanah kelahiranku yang kupikir sejalan dengan mimpi-mimpiku selama ini. “Pucuk dicinta ulam pun tiba,” pikirku sedikit lebay hehehhehe.

image

“Pelaksanaan Festival Danau Matano itu harus kreatif dong. Kita harus menampilkan sesuatu yang berbeda, bentuknya semestinya paket, mulai dari sajian untuk pengunjung, atraksi sampai pada jenis pelayanannya,” ujarnya bersemangat menjelaskan tentang konsep Festival Danau Matano yang akan diselenggaran 28-30 November 2015 di Luwu Timur.

Beliau menambahkan bahwa konsep yang sebaiknya dilakukan adalah memberikan sebuah tawaran kepada pengunjung, bukan saja keindahan danau Matano nya, tetapi juga bagaimana sebuah kondisi internasional yang disajikan pada sebuah desa di pedalaman hutan di Sulawesi.

“Pengunjung kita jamu dengan tinggal di homestay atau di kontainer-kontainer yang fasilitasnya lebih lux dari kamar hotel. Pengunjung kita sajikan dengan hiburan dari artis lokal, hingga mancanegara. Beragam atraksi air di kejernihan danau Matano, bukan saja tradisional performance tetapi juga modern attraction. Kunjungan ke titik-titik keunikan danau Matano seperti “bura-bura spot” di desa Matano di seberang danau dari sorowako, gua bawah air yang cantik dengan stalaktitnya, penyelaman di lokasi ditemukannya benda-benda pusaka purba tanpa harus menyentuh mereka, mereka bisa melihat keragaman hewan-hewan air danau Matano yang unik seperti ikan purba Butini dan ikan endemik Opudi, seminar tentang Danau Matano dan keunikan Cascade dan Kompleks Danau Malili di Luwu Timur, bahkan sebuah tur tambang dimana pengunjung boleh selfie dengan latar ban truk tripple 7 (777) yang setinggi rumah, yang operatornya adalah perempuan serta membuka wawasan pengunjung bahwa dalam proses reboisasi pun revegetasi lahan purna tambang, tidak bisa kita mengembalikan hutan sekejap mata, tetapi membutuhkan proses yang lama, pengunjung dapat melihat bagaimana usia tanaman yang 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun, sampai ratusan tahun.

image

Akh, betapa beruntungnya Luwu Timur yang dipimpin oleh orang-orang yang sangat cerdas dengan visi pengembangan wilayah, bukan pemimpin yang hanya memikirkan kepentingan mereka semata, pikirku sambil menikmati kerenyahan tawa Bapak Penjabat Bupatiku.

Kekagumanku bertambah, ternyata, beliau suka berkelakar, dan dalam kelakarnya itu terselip harapan-harapan yang luar biasa untuk kampungku, meskipun beliau hanya akan menjabat sementara hingga Pemilukada serentak 2015 melahirkan pemimpin baru di Luwu Timur.

Akh, andai saja kuperturutkan kata hati dan kemalasanku, tentu kesempatan bertemu dan mengenal beliau kulewatkan begitu saja..

la_vie

Oh Malam…

Semburat merah perlahan menjelajah, merengkuh satu-persatu awan putih di cakrawala. Sesekali nampak awan-awan nakal yang menggeliat menampakkan dirinya dibalik pelukan cahaya mentari. Mencoba melepaskan diri, tak ingin masuk ke dalam jelajah dan bertahta pada gelapnya malam.

Akh malam.. betapa aku tak ingin bertemu denganmu. Masih perih rasa yang tak ingin kuceritakan kepadamu. Masih ingin aku bermain bersama awan-awan putih itu. Mengapa kau rebut waktu itu dari kami.

Andai bisa aku memperpanjang waktu. Sungguh aku ingin bertemu denganmu kala aku telah siap. Kala aku telah berdamai dengan hatiku. Kala bimbang ini telah terjawab dengan syahdu.

Karenaku dia telah pergi. Karenaku, duka itu tertoreh pada keluarganya. Karenaku… , akh… semua karenaku.

Berita bahagia yang ditunggu-tunggunya, justru menghantarkannya pada akhir kisah hidupnya. Berita bahagia yang justru membuatnya hilang dari keceriaan mereka yang mencintainya. Berita bahagia yang kemudian menjadi duka dan semua karena aku.

Oh malam.. sungguh aku tak ingin menemuimu. Masih ingin aku bermain bersama awan-awan putih itu. Bersama mereka aku melihat keceriaan, bersamamu aku melihat duka, airmata dan kepedihan. Maafkan aku yang tak ingin bersahabat denganmu lagi. Maafkan aku yang enggan bersamamu lagi. Karena kehadiranmu akan terus mengingatkanku padanya.

Namanya telah terpatri di hatiku. Rasa yang tak mungkin hilang oleh lekangnya waktu. Kepergiannya menyisakan sesak di dadaku. Sungguh, perangaiku menjadi siksaan yang baru. Semua karena kepergiannya yang adalah karenaku.

Oh malam.. bagaimana aku dapat berdamai denganmu??

#mengenangmu #inmemorian

la_vie