Issengi Alemu

Kata-kata ini sederhana, tapi maknanya akan membuat kita senantiasa bersyukur dan introspeksi diri atas semua yang kita lakukan. Karena kadangkala, kita sering terjebak pada sebuah kekuatan Ego yang bersarang pada hati.

Lambat laun, usia akan meninggalkan kita, meskipun sebegitu sayangnya kita pada sebuah keadaan kehidupan itu. Usia itu pula yang secara sengaja maupun tidak sengaja mengajarkan kita tentang kearifan hidup. Bagaimana kita bertahan, mengolah bahkan mengubah sebuah keadaan.

Hanya saja, kadangkala kita lupa siapa diri kita sendiri, sehingga pepatah Bugis “Issengi Alemu – Tahu Dirimu’ menjadi sangat penting dalam kehidupan ini.

Seperti halnya hari ini. Saya marah. Meskipun saya berusaha untuk marah secara baik. Saya tidak pernah melarang siapapun untuk mencari lebih banyak atau berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih dalam hidup ini… tapi kalau itu membuatmu lupa hakekat kita hidup di dunia ini, lalu, untuk apa semua pencapaian itu?

Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, kadangkala kita menyadari hal itu tidak baik, kita bergeliat keluar dari situasi itu tapi kita tidak mencari solusi karena langkah-langkah yang kita ambil ternyata hanya sekedar proses “delay” semata. Menunda. Sehingga yang terjadi, muatan “issengi alemu” pun menjadi titik nadir kesemuan. Masalah itu hanya selesai sementara saja, tidak selesai.

Dan sedihnya lagi, terkadang kita berteriak pada orang lain supaya “issengi alemu” lantas kita sendiri tidak mampu bercermin dan melihat, bagaimana kita jika berada pada situasi itu. Sehingga kita selalu merasa lebih dari orang lain, padahal diatas langit ada langit.

Jika dibawa dalam konteks budaya, ada makna yang sering saya temui bahwa.. ketika ungkapan “Issengi Alemu” itu disampaikan, intinya adalah kita paham dimana keberadaan kita. Kita paham, bagaimana posisi kita. Sehingga kita bisa meredam keinginan-keinginan yang berlebihan untuk menciptakan suasana kondusif, aman, nyaman dan tentram.

Coba saja, apa kira-kira yang terjadi ketika kaki harus bertindak sebagai kepala, tentu beban tubuh itu akan berbeda, fungsi tubuh akan berubah. Jika hidung itu harus mencari makanan, semua sudah memiliki tempat dan peran masing-masing dalam sebuah badan. Sehingga menjadi tidak sopanlah ketika kita berjabat kaki dengan posisi dan kondisi tangan yang masih utuh. Tentunya kecuali suatu kondisi tertentu yang dikecualikan yang diterima dalam kesepakatan.

So… cobalah kita senantiasa mengingatkan diri untuk “Issengi Alemu” sebelum bertindak sehingga tujuan kita bisa tercapai dengan baik..

#menunggu #bored

la_vie

Aku Cemburu

Ya Allah, berikanlah izin, ridha dan kehendakMu, berikanlah petunjukMu, berikanlah hidayahMu, berikanlah kesabaran yang melintasi ruang dan waktu, berikanlah keimanan dan ketaqwaan agar aku senantiasa bisa bersandar kepadaMu.

Ya Allah, sungguh rasa ini membakarku. Di sela kebahagiaan yang menyelimutiku, ada rasa cemburu yang berdiri pongah di hadapanku. Membatasi gerakanku, membutakan mataku, menghimpit pernafasanku, memacu deru jantungku, menghilangkan akal sehatku.

Ampuni aku ya Allah. Janganlah Engkau sesatkan aku setelah Engkau memberi petunjuk. Janganlah engkau hinakan setelah Engkau muliakan. Sungguh aku tiada berdaya tanpa pertolonganMu.

Jauhkanlah rasa cemburu ini dari hatiku Ya Allah. Hilangkanlah kepalsuan dari diriku. Tuntunlah aku ke jalanMu, jalan orang-orang yang Engkau kehendaki dan Engkau ridhai. Bukan jalan orang-orang yang sesat yang telah hilang keimanan dalam diri mereka, yang menyekutukanMu dengan nafsu amarah yang membakar jiwa.

Ya Allah, berikanlah petunjukMu agar hilang kegalauan diri dari rasa cemburu ini. Sungguh aku berserah diri padaMu. Jadikanlah akal sehat, ketabahan dan kesabaran sebagai teman-temanku. Jadikanlah angkara murka menjauh dan menjadi musuhku. Jadikanlah tipu muslihat menjadi hal yang sulit untukku. Karena Engkaulah sebaik-baik penolong orang-orang yang Engkau kehendaki.

Ya Allah, bukakanlah pintu hatinya dan jadikanlah dia ingat akan dirinya dan kuasaMu. Bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendakMu. Aku berpasrah kepadaMu dan mengikhlaskan segala keputusanMu. Aku tiada daya dan upaya tanpa pertolonganMu.

Ya Allah, jika Engkau menghendaki cemburu menjadi temanku. Jadikanlah cemburu itu membuatku aku semakin dekat denganMu. Buatlah aku cemburu untuk senantiasa menyebut namaMu, jadikanlah cemburu itu sebagai pengingat segala kesalahan-kesalahanku sehingga aku senantiasa bisa memohon ampunan dan memuja namaMu. Jadikanlah cemburu itu sebagai motivasi aku selalu berbuat kebaikan, melakukan yang haq dan menjauhi yang bathil.

Aku tiada daya dan upaya selain pertolonganMu ya Allah. Maka bantulah aku ya Allah. Tiada aku bisa melakukan apapun jika Engkau menjauh dariku. Karena sesungguhnya pertolonganMu sangatlah dekat. Tolonglah aku dari rasa cemburu ini ya Allah. Engkaulah sebaik-baiknya penolong bagi hambaMu yang lemah ini.

Kabulkanlah permohonan hambaMu yang hina ini ya Allah. #ss

Aamiin ya rabbal alaamiin….

la_vie

FITNAH LEBIH KEJAM DARIPADA PEMBUNUHAN

“Kiai, ajarkan saya sesuatu yang bisa menghapuskan kesalahan saya ini.” Aku berusaha menjaga nada bicaraku, tak ingin sedikitpun sekali lagi menyinggung perasaannya.

Kiai Husain terkekeh. “Apa kau serius?” Katanya.

Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan. “Saya serius, Kiai. Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.”

Kiai Husain terdiam beberapa saat. Ia tampak berfikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan Kiai Husain kepadaku, yang jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan sebuah laku, atau tirakat, atau apa saja yang bisa menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku. Beberapa jenak kemudian, Kiai Husain mengucapkan sesuatu yang benar-benar di luar perkiraanku.

“Apakah kau punya sebuah kemoceng di rumahmu?” Aku benar-benar heran Kiai Husain justru menanyakan sesuatu yang tidak relevan untuk permintaanku tadi.

image

“Maaf, Kiai?” Aku berusaha memperjelas maksud Kiai Husain.

Kiai Husain tertawa, seperti Kiai Husain yang biasanya. Diujung tawanya, ia sedikit terbatuk. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghampiriku, “Ya, temukanlah sebuah kemoceng di rumahmu,” katanya.

Tampaknya Kiai Husain benar-benar serius dengan permintaannya. “Ya, saya punya sebuah kemoceng di rumah, Kiai. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

Kiai Husain tersenyum.

“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku,” katanya, “Berjalanlah sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kau mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kau lalui.”

Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud Kiai Husain adalah agar aku merenungkan kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan waktu…

“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata Kiai Husain. Ada senyum yang sedikit terkembang di wajahku.

***

Keesokan harinya, aku menemui Kiai Husain dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulupun pada gagangnya. Aku segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada beliau.

“Ini, Kiai, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Kiai. Saya menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah saya tentang Kiai yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang. Maafkan saya, Kiai. Maafkan saya…”

Kiai Husain mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya. “Seperti aku katakana kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kau hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar seusatu…,” katanya.

Aku hanya terdiam mendengar perkataan Kiai Husain yang lembut, menyejukkan hatiku.

“Kini pulanglah…” kata Kiai Husain.

Aku baru saja akan segera beranjak untuk pamit dan mencium tangannya, tetapi Kiai Husain melanjutkan kalimatnya, “Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kau menuju pondokku tadi…”

Aku terkejut mendengarkan permintaan Kiai Husain kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya: “Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kaucabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kau kumpulkan.”

Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Kiai Husain.

“Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Kiai Husain.

***

Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di sebuah kendaraan yang sedang menuju kota yang jauh, atau tersapu ke mana saja ke tempat yang kini tak mungkin aku ketahui.

Tapi aku harus menemukan mereka! Aku harus terus mencari ke setiap sudut jalanan, ke gang-gang sempit, ke mana saja!

Aku terus berjalan.

Setelah berjam-jam, aku berdiri di depan rumahku dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasku berat. Tenggorokanku kering. Di tanganku, kugenggam lima helai bulu kemoceng yang berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan.

Hari sudah menjelang petang. Dari ratusan yang kucabuti dan kujatuhkan dalam perjalanan pergi, hanya lima helai yang berhasil kutemukan dan kupungut lagi di perjalanan pulang. Ya, hanya lima helai. Lima helai.

***

Hari berikutnya aku menemui Kiai Husain dengan wajah yang murung. Aku menyerahkan lima helai bulu kemoceng itu pada Kiai Husain. “Ini, Kiai, hanya ini yang berhasil saya temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menyodorkannya pada Kiai Husain.

image

Kiai Husain terkekeh. “Kini kau telah belajar sesuatu,”katanya.

Aku mengernyitkan dahiku. “Apa yang telah aku pelajari, Kiai?” Aku benar-benar tak mengerti.

“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab Kiai Husain.

Tiba-tiba aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat.

“Bulu-bulu yang kaucabuti dan kaujatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kausebarkan. Meskipun kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kau duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kauhitung!”

Tiba-tiba aku menggigil mendengarkan kata-kata Kiai Husain. Seolah-olah ada tabrakan pesawat yang paling dahsyat di dalam kepalaku. Seolah-olah ada hujan mata pisau yang menghujam jantungku. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri.

“Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kau akan berusaha meluruskannya, karena kau benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kau tak tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kau tak bisa menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kau bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kau kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya.”

“Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah. Dosa yang terus berjalan diluar kendali pelaku pertamanya. Maka tentang fitnah-fitnah itu, meskipun aku atau siapapun saja yang kau fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kau tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai. “Astagfirullah al-adzhim… Astagfirullahal-adzhim… Astagfirullah al-adzhim…” Aku hanya bisa terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua ujung mataku.

“Ajari saya apa saja untuk membunuh fitnah-fitnah itu, Kiai. Ajari saya! Ajari saya! Astagfirullahal-adzhim…” Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.

Kiai Husain tertunduk. Beliau tampak meneteskan air matanya.“ Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak,” katanya, “Kini, aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahwa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah zat yang maha terus menerus menerima taubat manusia… InnaLlaha tawwabur-rahiim…”

Aku disambar halilintar jutaan megawatt yang mengguncangkan batinku! Aku ingin mengucapkan sejuta atau semiliar istighfar untuk semua yang sudah kulakukan! Aku ingin membacakan doa-doa apa saja untuk menghentikan fitnah-fitnah itu!

Kini kau telah belajar sesuatu,” kata Kiai Husain, setengah berbisik. Pipinya masih basah oleh air mata, “Fitnah-fitnah itu bukan hanya tentang dirimu dan seseorang yang kausakiti. Ia lebih luas lagi. Demikianlah, anakku, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan…”

[Anonymous]

la_vie

Laraku Bersamamu

Sedih rasa hatiku, mendengar kabar keberadaanmu di kota ini. Entah apa yang harus kulakukan. Rindu kuingin berjumpa denganmu, namun tak sedikitpun kau mengingat untuk mengabariku.

Bak pungguk merindukan bulan. Ku hanya dapat berharap dan memuja namamu. Ingin ku gapai namun bayangmu pun seakan tak hendak berkawan denganku.

Aku tahu, kau masih marah dengan kekanak-kanakan ku. Aku tahu kau masih menyimpan rasa tak bersahabat denganku.

Tapi tak pernahkah terlintas di benakmu untuk mengabariku tentang keberadaanmu? Terlalu mudahkah bagimu untuk melupakan semua kenangan persahabatan kita yang hilang karena keberadaannya?

Aku rindu padamu, jauh dari rasa rinduku pada kekasihku. Persahabatan kita akan selalu kusimpan dalam kalbuku karena aku tetap menyayangimu meski kemarahan itu tetap menyelimutimu selamanya.

Aku hanya bisa berharap, waktu yang akan mengembalikan persahabatan kita. Meski aku pun merasa sakit dengan perlakuanmu, tapi aku tak akan memaksamu untuk melihatku seperti dulu.

Bersamamu, laraku telah menjelma menjadi damba. Aku hanya bisa berdoa untukmu, agar kebahagiaan senantiasa bersamamu. Selalu menjadi yang terbaik untukmu. Selamanya…

la_vie

Namanya Oshin

Tidak banyak yang aku ingat dari film serial TV asal Jepang ini, tapi juga susah untuk dilupakan mengingat kisah kehidupan yang dilakonkan oleh tokoh utamanya yang bernama Oshin. Kisah kehidupan yang ditampilkan secara apik, menggugah emosi pemirsa dan meninggalkan kesan yang begitu dalam tentang perjuangan hidup seorang perempuan Jepang dari kecil yang penuh penderitaan.

image

Aku ingat, dari serial tv itulah aku ingin merasakan apel Fuji karena warnanya pink dan belum pernah aku lihat sebelumnya di kampungku Sorowako. Dan betapa terperanjatnya aku ketika aku mencarinya di Gelael, sebuah supermarket di Makassar Sulawesi Selatan, ternyata buahnya sangat besar, lebih besar dari apel merah atau hijau yang sering aku makan. Dan harganya mahal sekali untuk sebuahnya.

image

Dari serial tv itu pula, aku jadi berangan-angan untuk melihat salju. Karena di film itu, aku melihat bagaimana kehidupan orang yang tinggal di daerah bersalju, yang sebelumnya aku pikir hanya ada di puncak gunung seperti cerita-cerita di Eropa, dimana orang-orang yang tinggal disitu rumahnya saling berjauhan. Hidup mereka mewah, dengan perapian di tengah rumah, selimut yang tebal dan sangat berbeda dengan kehidupan Oshin yang aku saksikan di serial itu yang serba susah. Tampak lebih nyata menurutku.

Hal yang tidak bisa lagi aku lupakan dari serial TV yang aku tonton saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar ini juga adalah bantal yang cuma sebuah kotak yang digunakan untuk menumpu leher. Sementara aku menggunakan bantal besar, belum bantal guling meski harus berbagi dengan saudara-saudaraku yang lain. Belum sendal nya yang terbuat dari jerami dan kayu sementara kami menggunakan sendal karet bahkan sepatu. Sungguh suatu gambaran kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan kami, yang masih sulit kupahami saat itu.

image

Namun pertemuan dengan pemeran Oshin kecil yang bernama asli Ayako Kobayashi di XXI Plaza Senayan hari ini, membuka lembaran kisah Oshin yang menyayat hati ini menjadi penuh makna. Dengan lugas dia bercerita tentang teknik pembuatan film Oshin ini, betapa scene moment perpisahan dengan ibunya, Fuji Tanimura yang paling berkesan dalam film ini. Dia harus naik rakit mengarungi sungai meninggalkan ibunya sambil memanggilnya kacang-kacang.*

image

Dan saat yang paling berat  menurut Ayako dalam proses pengambilan gambar adalah ketika adegan Oshin berjalan di tengah badai. Betapa bola-bola salju itu dikumpul dalam sebuah bucket lalu diletakkan di depan kipas besar dan diarahkan pada dirinya. Dan itu dilakukan seharian penuh.. brrrrr kebayang deh, menyentuh salju saja dah dinginnya luar biasa, di daerah salju itu mulut kita pun sampai mengeluarkan asap karena dinginnya, apalgi kalau dengan sengaja diterpakan angin salju…

image

Lalu Ayako juga bercerita tantangan saat pengambilan gambar adalah dialek bahasa yang digunakan. Bagaimana dia sebagai anak Tokyo harus berbicara dalam dialek Yamagata karena Oshin diceritakan sebagai gadis kecil dari Yamagata. Sedikit susah menurut dia, apalagi saat itu dia masih kecil ketika memerankan Oshin.

Kehidupan keras yang menempa Oshin kecil menjadikannya tumbuh menjadi wanita yang tangguh dan mandiri. Bahkan saat melewati masa peralihan dari masa perang era Meiji ke era Showa. Awalnya aku pikir bahwa kisah ini adalah kisah nyata, namun Ayako menjelaskan bahwa kisah ini merupakan perpaduan kisah perempuan-perempuan tangguh Jepang dalam menghadapi kehidupan yang sulit kala itu.

image

Sepanjang 2 jam durasi perjumpaan ini, antusias para awak media dan para blogger sangat besar mengikuti setiap penjelasan Ayako. Senyum manis yang senantiasa menghias wajah cantiknya tetap sama seperti yang tergambar pada kehidupan Oshin. Dalam kesukaran hidupnya, Oshin senantiasa tersenyum meskipun dia menerima cercaan, hinaan dan kehidupan yang berat hingga akhirnya dia berhasil melalui semuanya.

Dari hasil googling, aku menemukan bahwa serial Oshin terdiri dari 297 episode cerita sepanjang 15 menit. Pertama kali ditayangkan 4 April 1983 – 31 Maret 1984 dengan format gambar NTSC Interlace melalui TV NHK. Namun dengan rencana pemutaran ulang melalui saluran Waku-Waku Japan, maka kualitas gambar diubah ke HD. Rencananya serial Oshin ini akan dimulai Senin 29 Februari 2016 setiap Senin – Sabtu jam 8.00 – 8.20 malam setiap harinya.

WAKUWAKU JAPAN merupakan channel yang menampilkan konten Jepang untuk warga lokal dalam bahasa lokal selama 24 jam sehari. Menampilkan kondisi Jepang pada pemiraa di negara-negara lain melalui tayangan budaya masing-masing daerah di Jepang dan produk-produk menarik dari Jepang dengan lama resmi http://www.wakuwakujapan.tv.

Untuk pemirsa Indonesia yang  berlanggan Indovision dapat memilih Ch. 168, Okevision Ch. 32, MNC Play Media Ch. 168, Big TV Ch. 280, Firstmedia Ch. 340, Transvision Ch. 370, Orange TV KI BAND Service Ch. 209, C BAND Service Cj. 1209 dan Usee TV Ch. 582.

Ayako sangat optimis bahwa Serial Oshin ini akan tetap dapat diterima karena merupakan cerita lintas generasi. Kemampuan Produser Eksekutif Yukiko Okamoto telah membawa sebuah semangat perjuangan wanita Jepang ke layar pemirsa telah membawa serial ini diputar di 82 negara. Bahkan Ayako berdoa mendapatkan umur panjang, sehingga dia tidak saja memerankan Oshin kecil, Oshin dewasa, tetapi juga akan memerankan Oshin tua dalam serial itu. Aamiinnnnn yra…

Panjang umur untukmu Ayako… semoga semangat Oshin dapat memotivasi perempuan-perempuan hebat untuk terus berkarya.

image

*kacang adalah bahasa Jepang panggilan sayang untuk Ibu.

la_vie

Ketika Sayap Terkembang

Terakhir aku berkunjung ke Morowali tepat setahun sebelum aku pindah ke Jakarta. Morowali adalah sebuah kabupaten pemekaran dari Poso yang terletak di wilayah propinsi Sulawesi Tengah. Morowali beribukota di Bungku, Kecamatan Bungku Tengah, berdasarkan UU No. 51 Tahun 1999.

Namun dalam kunjungan kali ini, aku menemukan bahkan kabupaten ini telah mekar. Berdasarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 2013 ditegaskan pemisahan dan berdirinya Kabupaten Morowali Utara sebagai daerah otonom baru dengan Kolonodale di kecamatan Petasia sebagai ibukota. Pemisahan ini juga  di dasarkan pada hak asal usul daerah yang bersifat Swapraja “zelfbesturende landschappen”.

Ternyata perubahan itu berdampak nyata. Dari terakhir kunjunganku ke Bungku, beragam pembangunan tergambar pada kota ini. Kabupaten muda ini memiliki berbagai potensi yang cukup besar, baik disektor perkebunan, pertanian, kelautan, perikanan maupun pariwisata.

image

Sektor yang paling potensial di Morowali adalah pertambangan, tak heran jika banyak orang menyebut kabupaten ini sebagai tanah 1.001 tambang. Jenis tambang di Morowali diantaranya nikel, marmer, minyak bumi dan kromit. Bahkan sempat menjadi topik hangat tentang para penjual-penjual tanah air sebagai ungkapan untuk para penambang ketika daerah ini melakukan eksport raw material-material tanah ke para pembeli Luar Negeri saat Undang-Undang Pertambangan masih memungkinkan berlakunya eksport tersebut.

image

Namun setelah pengkajian dan evaluasi yang komprehensif, perbaikan-perbaikan aturan dibuat untuk kepentingan masyarakat setempat pun diberlakukan. Walhasil, dalam kunjungan kali ini, daerah ini terlihat berkembang sangat pesat. Salut untuk kemajuannya.

image

Tapi yang membuatku lebih salut lagi, pas mencari data di Kantor Dinas Penanaman Modal dan Promosi Daerah, kantor ini kosong karena semua pegawai sedang ke mesjid untuk sholat Ashar. Subhanallah… sungguh suasana yang luar biasa. Ternyata ini berlaku pada seluruh kantor pelayanan masyarakat di Morowali. Jadi jangan mencari pegawai muslim di kantor pada saat waktu sholat, karena mereka semua akan memenuhi mesjid, begitupun dengan Bupati Morowali, Anwar Hafid.

image

Prinsip yang dipegang Bupati 2 Periode ini adalah “Nilai seorang pemimpin dimata Allah, tidaklah diukur dari pangkat, gaji, harta dan jabatan, melainkan tanggungjawabnya menjalankan amanah yang diberikan kepadanya” membuatnya menjadi teladan terutama bagi warga transmigrasi di Bungku. Dimana program Aladin (Atap, Lantai dan Dinding) yang dibuatnya pada Periode kepemimpinan Pertama justru menginspirasi warga transmigrasi yang berhasil untuk melanjutkannya secara sukarela.

“Kami mengumpulkan dana setelah panen untuk membantu teman-teman yang rumahnya masih belum baik, karena kebutuhan dasar kami telah dipenuhi oleh Pemerintah Morowali, sekolah gratis sampai kuliah, kesehatan gratis dan penghidupan yang lebih layak dari hasil Sawit dan pertanian serta bekerja sesuai keahlian kami di perusahaan-perusahaan tambang di Morowali,” jelas Kadek saat berbincang di warung ikan bakar Dua Puteri Bungku.

Sukses terus Morowali…

la_vie

Buah Simalakama

Sering sekali aku mendengar ungkapan bagai makan buah simalakama. Diartikan sebagai suatu kondisi yang serba salah jika dimakan mati ibu, tidak dimakan mati bapak. Secara umum diartikan sebagai suatu keadaan yang paling tidak mengenakkan terjadi pada seseorang. Dimana orang itu tidak mampu membuat suatu keputusan berdasarkan akal dan pikiran karena apapun yang dikerjakan akan mendapat resiko besar sebagai akibat dari perbuatan tersebut, sementara keadaan tersebut harus dijalani.

Namun setelah bertanya pada Mbah Google, akhirnya saya menemukan bahwa Buah Simalakama itu benar-benar ada. Bentuknya tanaman perdu yang menghasilkan buah yang mampu berubah warna dari mulai hijau berubah menjadi ungu, berubah menjadi merah, berubah menjadi kuning sebelum buah tersebut gugur untuk membusuk. Buahnya tidak terlalu besar berbentuk bulat sekitar diameter 3-5 cm.

Buah itu berasal dari kata Melayu di Sumatera, sebutan hari-hari untuk buah Mahkota Dewa.

image

Namun demikian, meski orang Melayu yang mempopulerkannya, nama Buah Simalakama tetapi dianggap tanaman ini berasal dari Papua. Maka dari itu, nama latinnya disebut Phaleriae papuana Warb. Var. Wichannii (Val.) Back. Atau nama ilmiahnya Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl. Atau hanya disebut Phaleriae Fructus.

Di Indonesia, buah Simalakama dikenal juga dengan nama Makutadewa, Makutamewo, Makutoratu, Makurojo oleh orang-orang Jawa. Kemudian orang Cina menyebutnya Pau, dan lantas dicoba-coba diterjemahkan orang ke bahasa Inggris dengan nama The Crown of God.

Meski buah Simalakama sangat menggiurkan, ternyata buah ini juga mengandung racun terutama biji yang rasanya pahit. Namun luar biasanya, tanaman ini juga merupakan tanaman obat yang dianggap mampu mengobati penyakit kanker yang mematikan itu.

Pohon dan Buah Simalakama juga mengandung unsur kimia yang disebut alkaloid, saponin, flavonoid, polifenol (lagnan). Menurut hasil beberapa penelitian bahwa senyawa kimia aktif  yang disebut lignan, masuk dalam golongan polifenol dan syringaresinol mengandung toksiditas sangat tinggi sehingga berpotensi sebagai anti kanker. Namun rekomendasi pengobatan herbal menganjurkan untuk mengobati penyakit disentri amuba, penyakit kulit seperti eksim, gatal-gatal, jerawat, proasi, melalui cara pengobatan diminum.

Sekarang ini buah Mahkota Dewa bahkan dianggap sebagai dewa penyembuh penyakit seperti: SAKIT LEVER, KANKER, SAKIT JANTUNG, KENCING MANIS, ASAM URAT, REUMATIK, SAKIT GINJAL, TEKANAN DARAH TINGGI, LEMAH SYAHWAT DAN KETAGIHAN NARKOBA, EKSIM, JERAWAT, DAN LUKA GIGITAN SERANGGA. Tetapi peringatan hati-hati selalu diberikan karena buah ini mengandung kadar racun tinggi saat dikonsumsi terutama oleh wanita hamil. Buah segar dan bijinya bila dimakan akan menimbulkan efek sariawan, mabuk, kejang, dan bahkan pingsan.

Penasaran dengan buah ini ketika sebuah diskusi membahas apakah Luwu itu merupakan suku atau bukan. Pengakuan negara atas suku-suku di Sulawesi Selatan hanya untuk Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Padahal dalam sejarahnya, Bugis dan Toraja merupakah anak suku dari Kedatuan Luwu sebagaimana ke sepuluh anak suku lainnya. Kalau Luwu disebut suku akan sangat mengecilkan nilai sebuah kerajaan besar yang pernah menguasai daerah-daerah dan merupakan cikal bakal lahirnya kerajaan-keracaan kecil lainnya di Sulawesi sampai ke Johor dan Selangor di Malaysia. Tapi jika tidak diakui sebagai suku maka dia hanya menjadi simbol tanah bermukim. Hmmmm pilihannya seperti buah simalakama…. bersambung.

#dariberbagaisumber

la_vie

Dagelanmu Mengocok Perut

Entah saya harus marah, kasihan atau geli mendengar cerita tentangmu. Dagelanmu itu menjadi konyol dan mengocok perutku. Bahkan rahangku pun terkena dampak menjadi sakit gara-gara ceritamu.

Mungkin saya yang salah karena selama ini menilaimu terlalu tinggi. Kau cantik, menarik,  dan pandai berbaur juga berkomunikasi dengan siapa saja. Tapi siapa sangka, dibalik semua itu, ternyata kau musang berbulu domba.

Awalnya aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Bahkan  menurutku, mereka terlalu berlebihan karena yang bercerita itu terkait langsung dengan dirimu. Tapi, setelah mendengar cerita dari orang lain yang tidak ada kaitan sekalipun dengan dirimu, hanya mendengarkan cerita tetangga kamarnya yang jelas pula tidak terkait dengan dirimu, saya semakin yakin bahwa cerita yang kudengar itu bukan subjektif semata, bener ga?

Maaf kalau saya menggambarkannya demikian. Tapi kesan norak yang kau berikan, sungguh menyedihkan. Betapa kau terusik hanya karena kenyamananmu terganggu. Padahal sesungguhnya, itu adalah tugasmu. Dan untuk menyelesaikan tugas itu, memang kau harus memaksa dirimu belajar, entah itu belajar untuk melakukan pekerjaan itu sendiri, atau membuat orang lain melakukannya.

Kalau kau memang tidak bisa melakukannya sendiri, setidaknya, milikilah sedikit saja etika untuk meminta orang lain melakukannya. Yakinlah, ketika kau memintanya dengan bahasa yang persuasif, tentu orang lain akan membantumu dengan senang hati. Namun jika kau memintanya dengan keangkuhanmu, yakin saja kau akan menerima penolakan.

Sekarang, kau membuat kegaduhan. Hal yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu dan selama ini dikerjakan orang lain, justru membuatmu berontak. Hanya karena yang selama ini mengerjakannya telah meletakkan handuk dan berhenti membantumu. Kau tahu kenapa? Semua karena tindakanmu sendiri. Kau tidak memiliki sedikitpun penghargaan pada mereka. Kau telah memperlakukan mereka dengan tidak adil. Karena kau hanya memikirkan egomu. Hanya fokus pada keinginanmu saja.

Terang saja itu membuatmu tersudut. Karena nama baik yang kau dapatkan selama ini, bukanlah dari hasil kerjamu. Kau takut, nama baikmu hancur karena dia telah berpaling darimu. Sungguh kasihan.

image

Sungguh, semestinya kau bertindak biasa sajalah. Jangan jadikan posisimu itu sebagai hal yang luar biasa dan menjadi tamengmu dalam melakukan tindakan seenakmu saja. Karena posisimu itu hanya amanah. Dia bisa datang dan pergi sesukanya. Hari ini kau di posisi itu, besok bisa orang lain yang mendapatkannya. Apa kau mau seperti mereka-mereka yang terkena syndrome #gagalmoveon. Sudah bukan di posisi itu, tetap melaksanakan tugas itu karena menganggap orang lain tidak bisa selain dirinya sendiri.

Akh.. tetaplah semangat, tetaplah bangga dengan posisimu dan apa yang kau miliki saat ini. Maksimalkan saja segala apa yang kau inginkan. Hanya jangan lupa mengingatkan dirimu, bahwa suatu saat bukan dirimu lagi di posisi itu, apa hal lain yang bisa kau lakukan atau bagaimana kau memaknai hidup ini. Karena hidup ini berputar. Tidak selamanya kita di atas, kadang kita di bawah tanpa kita sadari. Sehingga komunikasi yang baik, hubungan silaturahmi yang baik itu harus selalu kita jaga.

Terima kasih atas semua dagelan-dagelan tentangmu. Sungguh telah menceriakan hariku. Namun aku kembali menarik pelajaran dari semua cerita tentangmu. Semoga kau cepat sadar dan memperbaiki diri. Jangan sampai, begitu kau meninggalkan posisimu sekarang dan menjadi biasa kembali, kau tak sanggup melakukannya, karena keangkuhan hati telah menggenggam mu erat.

Salam hangat dariku dan selamat menikmati hari-harimu. Nikmati apa pun yang kamu miliki saat ini. Namun ingatlah pesan Rasulullah, “bekerjalah seakan-akan kau akan hidup selamanya namun jangan lupa beribadah seakan-akan besok ajal akan menjemputmu karena hanya amalan lah yang akan menemanimu menghadap pada sang Khalik, Penguasa Langit dan Bumi serta seluruh isinya”.

image

la_vie

Dagelanmu Mengocok Perut

Entah saya harus marah, kasihan atau geli mendengar cerita tentangmu. Dagelanmu itu menjadi konyol dan mengocok perutku. Bahkan rahangku pun terkena dampak menjadi sakit gara-gara ceritamu.

Mungkin saya yang salah karena selama ini menilaimu terlalu tinggi. Kau cantik, menarik,  dan pandai berbaur juga berkomunikasi dengan siapa saja. Tapi siapa sangka, dibalik semua itu, ternyata kau musang berbulu domba.

Awalnya aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Bahkan  menurutku, mereka terlalu berlebihan karena yang bercerita itu terkait langsung dengan dirimu. Tapi, setelah mendengar cerita dari orang lain yang tidak ada kaitan sekalipun dengan dirimu, hanya mendengarkan cerita tetangga kamarnya yang jelas pula tidak terkait dengan dirimu, saya semakin yakin bahwa cerita yang kudengar itu bukan subjektif semata, bener ga?

Maaf kalau saya menggambarkannya demikian. Tapi kesan norak yang kau berikan, sungguh menyedihkan. Betapa kau terusik hanya karena kenyamananmu terganggu. Padahal sesungguhnya, itu adalah tugasmu. Dan untuk menyelesaikan tugas itu, memang kau harus memaksa dirimu belajar, entah itu belajar untuk melakukan pekerjaan itu sendiri, atau membuat orang lain melakukannya.

Kalau kau memang tidak bisa melakukannya sendiri, setidaknya, milikilah sedikit saja etika untuk meminta orang lain melakukannya. Yakinlah, ketika kau memintanya dengan bahasa yang persuasif, tentu orang lain akan membantumu dengan senang hati. Namun jika kau memintanya dengan keangkuhanmu, yakin saja kau akan menerima penolakan.

Sekarang, kau membuat kegaduhan. Hal yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu dan selama ini dikerjakan orang lain, justru membuatmu berontak. Hanya karena yang selama ini mengerjakannya telah meletakkan handuk dan berhenti membantumu. Kau tahu kenapa? Semua karena tindakanmu sendiri. Kau tidak memiliki sedikitpun penghargaan pada mereka. Kau telah memperlakukan mereka dengan tidak adil. Karena kau hanya memikirkan egomu. Hanya fokus pada keinginanmu saja.

Terang saja itu membuatmu tersudut. Karena nama baik yang kau dapatkan selama ini, bukanlah dari hasil kerjamu. Kau takut, nama baikmu hancur karena dia telah berpaling darimu. Sungguh kasihan.

image

Sungguh, semestinya kau bertindak biasa sajalah. Jangan jadikan posisimu itu sebagai hal yang luar biasa dan menjadi tamengmu dalam melakukan tindakan seenakmu saja. Karena posisimu itu hanya amanah. Dia bisa datang dan pergi sesukanya. Hari ini kau di posisi itu, besok bisa orang lain yang mendapatkannya. Apa kau mau seperti mereka-mereka yang terkena syndrome #gagalmoveon. Sudah bukan di posisi itu, tetap melaksanakan tugas itu karena menganggap orang lain tidak bisa selain dirinya sendiri.

Akh.. tetaplah semangat, tetaplah bangga dengan posisimu dan apa yang kau miliki saat ini. Maksimalkan saja segala apa yang kau inginkan. Hanya jangan lupa mengingatkan dirimu, bahwa suatu saat bukan dirimu lagi di posisi itu, apa hal lain yang bisa kau lakukan atau bagaimana kau memaknai hidup ini. Karena hidup ini berputar. Tidak selamanya kita di atas, kadang kita di bawah tanpa kita sadari. Sehingga komunikasi yang baik, hubungan silaturahmi yang baik itu harus selalu kita jaga.

Terima kasih atas semua dagelan-dagelan tentangmu. Sungguh telah menceriakan hariku. Namun aku kembali menarik pelajaran dari semua cerita tentangmu. Semoga kau cepat sadar dan memperbaiki diri. Jangan sampai, begitu kau meninggalkan posisimu sekarang dan menjadi biasa kembali, kau tak sanggup melakukannya, karena keangkuhan hati telah menggenggam mu erat.

Salam hangat dariku dan selamat menikmati hari-harimu. Nikmati apa pun yang kamu miliki saat ini. Namun ingatlah pesan Rasulullah, “bekerjalah seakan-akan kau akan hidup selamanya namun jangan lupa beribadah seakan-akan besok ajal akan menjemputmu karena hanya amalan lah yang akan menemanimu menghadap pada sang Khalik, Penguasa Langit dan Bumi serta seluruh isinya”.

image

la_vie

Revitalisasi Perjuangan Luwu 1946

Aku mendapat kabar bahwa peringatan Hari Jadi Luwu dan Perjuangan Rakyat Luwu akan dimeriahkan oleh atraksi Sukhoi dan terjun payung oleh TNI. Rasanya ingin sekali pulang. Namun satu kegiatan yang tidak kutemukan dalam rundown kegiatan yakni seminar, kembali mengurungkan niatku pulang ke Luwu Timur.

image

Entah mengapa, seminar tidak menjadi bagian dari kegiatan-kegiatan penting di kampungku. Padahal harapanku, dengan adanya seminar itu, bisa melahirkan rekomendasi-rekomendasi yang dapat mendukung proses pencapaian tujuan yang diinginkan.

Misalnya Festival Danau Matano menuju Warisan Dunia. Tentu hasil rekomendasi seminar atau workshop akan sangat mendukung, sebagai catatan risalah hasil diskusi panjang. Namun kegiatan itu justru dihilangkan menjelang pelaksanaan kegiatan. Demikian juga dengan keinginan untuk membentuk Provinsi Luwu Raya. Tentu saja rangkaian proses ke arah pembentukan provinsi itu dapat di dukung oleh rekomendasi seminar atau workshop. Juga dihilangkan saat akan pelaksanaan kegiatan.

image

Entahlah, mengapa aku melihat bentuk-bentuk perayaan penting di kampungku, lebih condong ke arah hura-hura. Hanya memuaskan mata sejenak yang kemudian kenikmatan itu akan hilang begitu saja. Mungkin aku salah memaknainya. Tapi kulihat tidak ada upaya mendukung pada pemanfaatan event sebagai sebuah wadah menyampaikan maksud atau pesan yang tersurat yang lebih konkrit.

Ternyata harapanku justru terpenuhi di ibukota. Undangan dari Kerukunan Keluarga Tana Luwu (KKTL) menjadi pemuas dahagaku. Seminar budaya Tana Luwu menjadi jawab dari harapanku. Bahkan menghadirkan tokoh Tana Luwu yang dinantikan Andi Anthon Pangerang. Beliau dipanel bersama budayawan Betawi Ridwan Saidi, Budayawan Nasional Anwar Gonggong dan juga menghadirkan Mayjen TNI (Purn) Dr. Putu Sastra Wingarta dalam konteks bahasan Bela Negara dan Kewaspadaan Nasional Rakyat Luwu atas ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

image

Seminar Sehari ini berlangsung di Gedung Lembaga Sensor Film, Jakarta Selatan. Tepat dilaksanakan usai kami melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Ada lima tokoh sentra Tana Luwu yang dimakamkan di TMP ini. Pertama-tama kami berziarah ke makam Alm. Yusuf Setya, orang pertama yang menembak pada perlawanan rakyat Luwu 23 Januari 1946. Lalu kami ke makam Alm. Kapten Andi Abdul Azis Malebbi (1999), Alm. Kolonel HR MS Dawoed (1993), Alm. Herman Rante dan Alm. Laksamana Rudolph Kasenda.

Akh, mengapa nama-nama itu tidak pernah kami dengar di Tana Luwu? Mengapa hanya para sepuh dan keluarga yang mengetahui perjuangan heroik yang mereka lakuķan untuk NKRI? Mereka adalah pejuang yang tidak menuntut balas jasa, tetapi dengan mengenang mereka tentu dapat meningkatkan kecintaan kita sebagai generasi muda akan Tanah Air kami, menumbuhkan rasa persatuan dan harapan untuk melanjutkan perjuangan mereka dalam memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan dan penindasan.

Bung Karno pernah mengingatkan, “Jangan pernah melupakan sejarah”. Tentu.. karena sejarahlah yang membentuk kita hari ini. Bagaimanapun bentuk sejarah itu.  Namun sejarah itu pasti akan terputus jika tidak disampaikan kepada generasi muda pelanjut. Sejarah itu hanya akan menjadi kenangan jika nilai-nilainya berhenti pada pelakunya saja.

image

Sebagaimana terhelaknya saya ketika mendengar dari budayawan Betawi tentang power system yang menjadi kedigdayaan abad Tana Luwu yang tidak pernah diceritakan secara nasional. Tentunya lebih karena “Tidak mudah mencari tempat Luwu dalam sejarah, karena sumber-sumber tertulis hampir tidak ada” gusar Ridwan Saidi.

Padahal jika kita merujuk pada sejarah-sejarah kerajaan di Sulawesi Selatan sebagaimana yang di tuliskan dalam Naskah I La Galigo (Sure’ Galigo) tentang penjelasan silsilah Raja-Raja Luwu selama kurleb 5 generasi pertama. Dimana mereka memiliki hubungan geologis dan sosiologis antara Pajung atau Raja-Raja Luwu dengan berbagai Raja lainnya di Nusantara ini. Seperti yang dijelaskan Andi Anthon Pangerang.

image

Merujuk pada makalah Andi Anthon Pangerang disebutkan, Kronik Kedatuan Soppeng menyebut Raja-Raja atau Pajung Luwu sebagai pendahulu Raja-Raja Soppeng, demikian pula kronik Kerajaan Bone. Dalam kronik Kerajaan Gowa, Kerajaan Gowa pertama kali diperintah oleh Batara Guru, sebelum Raja Gow pertama Manurungge Ri Tamalate. Pun kronik Gorontalo yand dipimpin oleh Wadeng atau Wadda.

Hal yang sama juga berlaku di Bima yang merupakan keturunan dari Sawerigading, Batara Lattu dan Batara Guru dari Kedatuan Luwu, di kerajaan Buton, Muria, Enre, dll. Bahkan hubungan dengan  Kedatuan Luwu juga sampai ke kerajaan Menpawa, Sambas, Pontianak di Kalimantan Barat, ke kerajaan Riau dan Jambi di Sumatera bahkan beberapa kerajaan di Semenanjung Melayu. Hal inilah yang meyakinkan Andi Anthon Pangeran sehingga menyebut Sure’ Lagaligo sebagai Naskah Pra Sejarah selain melihatnya sebagai Naskah Mythologi Religi dan Naskah Karya Sastra.

Sementara penjelasan Mayjen TNI (Pur) Putu Sastra Wingarta lebih menitikberatkan pada integrasi bangsa. Bagaimana melihat revitalisasi nilai kejuangan Rakyat Luwu 1946 sebagai suatu kesatuan untuk Integrasi Bangsa. Perlunya menanamkan nilai-nilai kesatuan, solidaritas NKRI sehingga terwujud masyarakat yang adil dan sejahtera dalam payung keadilan. Karena ancaman terbesar bagi bangsa Indonesia saat ini adalah disintegrasi bangsa, yang perlu dikelola dengan hati-hati sejalan dengan pluralitas berdasarkan warisan budaya, agama, bahasa, sejarah dan tradisi.

image

Pernyataan-pernyataan panelis ini dikunci oleh budayawan Anwar Gonggong, yang sempat juga beradu pendapat dengan Ridwan Saidi tentang pembohongan publik rekam jejak sejarah Indonesia, dimana kadangkala kita sendiri tidak mengerti makna ketika menyampaikan sebuah latar sejarah. Sehingga kita hanya bisa mereka-reka yang terjadi di masa lalu. Banyak sejarah yang tidak tercacat, hanya tersimpan pada benak sang pelaku. Meskipun itu diceritakan secara turun temurun, tetap saja tidak bisa menjadi acuan sampai dia didukung dengan bukti-bukti konkrit.

Sehingga menjadi peer kita bersama, bagaimana sejarah kedigdayaan peradaban Luwu ini harus diajarkan kepada generasi muda kita karena pendidikan dan kebudayaan itu tidak bisa dilepaskan. Mereka harus seiring sejalan. Karena Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai Budayanya. Kita bisa saja mempelajari budaya lain, bisa saja menciptakan budaya baru dari sistem.pencampuran budaya seperti halnya akulturasi tetapi inti nilai budaya yang kita miliki harus tertanam sebagai cikal bakal budaya itu sendiri.

Sebuah mangga, meskipun ditanam dengan metode biji, cangkok maupun tanam silang dan menghasilkan beraneka ragam jenis mangga, tetapi tetaplah dia sebuah mangga. Sampai kapanpun, dia adalah mangga.

image

#catatanvie

la_vie