Keep Persistent

Pernah tidak ketika kita menulis dan tiba-tiba stuck, blank ,  kehilangan ide dan tidak mampu meneruskan kembali tulisan kita.

Masalah ini sering sekali aku alami dalam menulis. Banyak halaman-halaman baru yang aku buat tapi tidak pernah selesai. Kemudian ketika terpikirkan untuk memulai kembali, kadang kesulitan baru pun muncul, bagaimana menghilangkan gap atau membuat koneksi sehingga ide sebelumnya dapat terhubung dengan ide baru.

Menanggapi pertanyaan ini, Graham Hancock, penulis buku bestseller The Sign and The Seal, Fingerprints of The God dan Heaven’s Mirror dalam perbincangan singkat kami di Garuda Lounge Bandar Udara Adisucipto Jogyakarta jumat (14/12) lalu mengisahkan bahwa semua penulis pernah dan sering mengalami hal di atas.

It’s about persistency Sulvi. When you stuck, sit still until the idea comes back. This happen a lot especially for the young writer so don’t worry.’

Semua itu tentang kegigihan Sulvi. Ketika kamu terhenti, tetap duduk sampai ide itu muncul kembali. Hal ini sering terjadi khususnya pada penulis-pemula jadi g perlu khawatir.’

Hehehe enak banget yah ngomongnya. Tapi lumayan juga sih dapat motivasi dari penulis hebat.

Hancock mulai bercerita muasal dia mulai menulis diawali dengan membuat puisi, lalu menjadi wartawan, menulis buku hingga ketertarikannya pada dunia Antropologi.

“Semua itu membutuhkan proses, laiknya sebuah pisau, semakin diasah akan semakin tajam. Begitupula dengan ilmu pengetahuan juga menulis. Semakin sering kita menulis, kemampuan dalam mengolah kata, membuatnya menarik akan semakin baik,” jelas Hancock.

Beliau juga menambahkan, ‘menulis itu sama dengan berbicara… it’s a story telling , bercerita adalah intinya. Bagaimana kita mau bercerita, bagaimana awal hingga akhir dari cerita itu, bagaimana cara kita meyakinkan jika benar cerita itu adalah nyata atau khayalan, bagaimana kita ingin mendapatkan respon dari pembaca. Disitulah seorang penulis dapat berimprovisasi.

“Start with something you were confident about! Let it flows like a river. Mulailah dengan hal-hal yang kamu percaya diri karenanya dan biarkan mengalir seperti sungai”,  tambah Hancock.

Seakan tak ingin menyudahi perbincangan kami. Sayangnya.. belum ada tulisan yang aku buat dalam bahasa Inggris sehingga tak ada yang dapat kubuktikan padanya. Namun hal yang amazed ketika aku menghitung tulisan noteku di bulan Desember ini yang ternyata lebih dari target yang aku buat sendiri.

See, you can write. You just need more confident about it. 15 writings in half month, means you write aprox once  a day, amazing! Lihat, kamu dapat menulis. Hanya perlu lebih percaya diri. 15 tulisan dalam setengah bulan. Artinya kamu menulis kira-kira sekali sehari, luar biasa!” Ujarnya.

Aku sendiri termangu, menghitung tulisan yang aku buat pada blog yang baru saja aku mulai awal Desember ini. Iya yah… memang belum sekaliber para penulis-penulis profesional lainnya. Tetapi aku telah memulai untuk menulis dan harus aku lanjutkan terus sehingga kemampuan menulisku bisa semakin baik.

“A good writer should read someone else’s writing. They should learn how others writing is world worthed and become bestseller. So they can do it them self and learn to write better. Seorang penulis yang baik harus membaca tulisan orang lain. Mereka harus belajar bagaimana tulisan orang lain sangat layak di dunia dan mendapat penjualan terbaik. Sehingga mereka dapat belajar untuk keberhasilan mereka sendiri dan belajar untuk menulis lebih baik,” Jelasnya.

Panggilan untuk penerbangan kami berulang yang kedua. Akhirnya kami berpindah ke ruang tunggu untuk naik ke pesawat. Dengan penerbangan yang sama menuju Jakarta, mereka akan melanjutkan terbang pulang kembali ke London sementara Jakarta merupakan tujuan penerbanganku.

Sebelum berpisah, kembali Hancock mengingatkanku, “keep persistent and sit still when you get lost! Tetap bertahan dan tetap duduk ketika kau tersesat!” Teriaknya.

#RenunganVie

Ya Allah, Kuatkanlah Aku

Seorang teman mengganti photo profile bbmnya. Tampak sebuah ruangan dengan hiasan pengantin bernuansa hijau. Laksana singgasana raja Luwu dengan segala ornamen-ornamen kemegahan dimana sepasang calon mempelai akan berikrar janji setia, sehidup semati dalam ridha Allah SWT.

Kemarin aku menghadiri acara pernikahan seorang teman di mesjid Raya Pondok Indah. Walaupun disela-sela rasa capek yang terpancar di matanya, senyuman sumringah pertanda kebahagian selalu tersungging dari bibirnya. Ratusan tamu undangan memadati ruang resepsi bergantian memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.

Sehari sebelumnya, aku mengantarkan 4 karton kiriman berisi undangan dan souvenir pernikahan adikku ke bandara Soekarno Hatta untuk dikirimkan ke Makassar. Pernikahannya akan berlangsung di minggu terakhir Desember ini.

Pagi tadi, ibuku menelpon dan menyampaikan doa yang senantiasa dipanjatkannya. Doa agar diberikan kesehatan dan umur panjang untuk dapat menghantarkan semua anak-anaknya ke mimbar pelaminan. Yang artinya setelah pernikahan adikku, aku harus mensegerakan pernikahanku sendiri.

Ya Allah, kuatkan hatiku mengikuti segala proses yang harus kulalui dalam hidupku. Hanya Kaulah Yang Maha Mengetahui betapa inginku memenuhi kehendak kedua orang tuaku. Dan atas ijin, ridha, dan kehendakMulah semuanya bisa terjadi ya Allah.

Pernikahan adalah impian setiap wanita, begitu pula dengan diriku. Duduk di pelaminan bersama lelaki yang kupuja, berikrar setia sehidup semati dalam bimbinganMu ya Allah. Namun semua itu adalah kehendakMu, untuk itu aku mohon padamu ya Allah….

اللَّهُمَّ أِنِّىْ أُرِيْدُ أَنْ أَتَزَوَّجَ فَقَدِّرْ لِيْ مِنَ الرِّجَالِ مَنْ هُمْ اَعَفُّ وَ أَحْفَظُهُمْ لِيْ فِيْ
نَفْسِيْ وَ مَالِيْ وَ أَوْسَعُهُمْ رِزْقًا وَ أَعْظَمُهُمْ بَرَكَةً وَ قَدِّرْ لِيْ وَ لَدًا طَيِّبًا تَجْعَلُ لَهُ خَلَقًا صَالِحًا فِيْ حَيَاتِيْ وَ مَمَاتِيْ

Allaahumma innii uriidu an atazawwaja faqaddir lii minar-rijaali man hum a’affu wa ahfazhuhum lii fii nafsii wa maalii wa ausa’uhum rizqan wa a’zhamuhum barakatan wa qaddir lii waladan thayyiban taj’alu lahuu khalaqan shaalihan fii hayaatii wa mamaatii.

“Ya Allah, sungguh aku ingin menikah, maka tetapkanlah untukku lelaki yang sangat peduli untuk menjaga diriku dan hartaku, yang sangat luas rezekinya, yang besar keberkahannya. Dan tetapkanlah untukku anak yang baik yang Engkau jadikan sebagai pewaris yang baik dalam hidupku dan matiku.”

اللَّهُمَّ زَوِّجْنِي رَجُلاً صَالِحاً تَقَرُّ بِهِ عَيْنِيْ و تَقَرُّ بِيْ عَيْنُهُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَ الْإِكْرَامِ

Allaahumma zawwijnii rajulan shaalihan taqarru bihii ‘ainii wa taqarru bii ‘ainuhuu yaa dzal jalaali wal-ikraam.

“Ya Allah, nikahkanlah aku dengan lelaki yang shalih yang menyejukkan hatiku (tenang dipandang) dan aku pun membahagiakan hatinya, wahai Dzat yang Mahaluhur dan mulia.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah [2]: 201)

رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
(Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.
Q.S.26 (Asy-Syu’araa) ayat 83 :

وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

“Dan aku memohon kepada-Mu agar menjadikan setiap ketetapan (takdir) yang Engkau tetapkan untukku sebagai (takdir) kebaikan.”

Ijabahlah doaku ya Allah. Dengan perkenanmu, pertemukanlah aku dengan seorang laki-laki yang akan menjadi imamku, pelindungku serta teman hidupku dalam beribadah kepadamu.

Seandainya telah Engkau catatkan dia akan menjadi teman menapaki hidup, satukanlah hatinya dengan hatiku. Titipkanlah kebahagiaan diantara kami agar kemesraan itu abadi. Dan ya Allah… ya Tuhanku Yang Maha Pengasih, seiringkanlah kami melayari hidup ini ke tepian yang sejahtera dan abadi.

Tetapi, ya Allah… Seandainya telah Engkau takdirkan dia bukan milikku, bawalah ia jauh dari pandanganku. Luputkanlah ia dari ingatanku. Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku. Dan peliharalah aku dari kekecewaan.

Ya Allah, ya Tuhanku Yang Maha Mengerti..berikanlah aku kekuatan melontar bayangannya jauh ke dada langit, hilang bersama senja nan merah. Agar aku bisa berbahagia walau tanpa dia.

Ya Allah yang maha mengetahui hati… Gantikanlah yang telah hilang, Tumbuhkanlah kembali yang telah patah. Walaupun tidak sama dengan dirinya, Ya Allah ya Tuhanku….Pasrahkanlah aku dengan takdir-Mu. Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan adalah yang terbaik buatku. Karena Engkau Maha Mengetahui segala yang terbaik buat hamba-Mu ini.

اَََللّهُمَّ اِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِّيْ وَ عَلَانِيَّتِيْ فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِيْ

” Allohumma innaka ta’lamu sirrii waalaa niyyatii faqbal ma’dzirotii ”

” Ya Allah, Engkau mengetahui apa yang aku sembunyikan dan aku lahirkan, maka terimalah “zurku”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, juga dari doa yang tidak terkabul.”

اللهم صل على محمد و على آل محمد وبارك على محمد و على آل محمد كما صليت وباركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shollaita wa baarokta ‘alaa ibroohiim wa ‘alaa aali ibroohiim innaka hamiidum majiid.

“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad,sebagaimana Engkau telah bershalawat dan memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”

اَمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

#RenunganVie

Berobat Pertama Dengan Askes

Sejak menerima kartu peserta askes, inilah kali pertama aku memulai sejarah menggunakannya untuk berobat. Untuk menggunakan kartu kuning kecil ini, membuat panjang hariku ditengah kondisi macet ibukota.

Bermula dari perjalanku kembali dari kota Daeng di Makassar. Menggunakan pesawat pilihan penumpang yang juga menjadi Official Global Airlines Partner Liverpool Football Club dalam kegiatan Liverpool FC Asia Tour 2013 lalu yaitu Garuda Indonesia.

Dalam perjalanan menggunakan pesawat terbang, sudah menjadi terbiasa ketika terjadi tekanan udara yang tinggi, maka aku akan menutup hidung dan menghembuskan nafas kencang-kencang sehingga udara dapat keluar dari kedua telingaku.

Namun siapa sangka, ternyata telinga kiriku tidak dapat mengeluarkan udara. Terasa sangat sakit sekali terutama di daerah kening.

Awalnya aku berfikir, sakit itu akan hilang dengan sendirinya setelah istirahat yang cukup. Namun dua minggu berlalu, dengungan di telinga masih tetap ada. Beragam metode pun telah aku lakukan untuk terapi mengikuti bacaanku hasil browsing bersama om Google.

Tapi semuanya tetap saja tidak berhasil. Dengungan di telingaku tetap saja ada dan bahkan mungkin menjadi penyebab sakit kepala di kening.

Akhirnya kuputuskan untuk berobat. Akupun menuju Rumah Sakit Tebet. Aku sempatkan bertanya bagaimana cara menggunakan kartu Askes jika hendak berobat. Karena memang sejak pertama kali mendapatkan kartu askes, tidak pernah sekalipun aku menggunakannya.

Setelah dijelaskan panjang lebar mengenai prosedur penggunaan askes, aku pun mendaftarkan diri untuk bertemu dokter THT karena prakteknya di sore hari. Namun aku mendaftar untuk pelayanan pribadi saja dulu, karena masih panjang proses yang harus aku lakukan jika ingin menggunakan kartu askes.

Prosedurnya adalah, pertama aku harus ke kantor PT Askes di Pasar Minggu untuk pembaharuan data perubahan domisili. Apalagi aku telah pindah domisili dan menggunakan KTP Tebet, Jakarta Selatan. Setelah itu aku harus ke puskesmas kecamatan Tebet dan mengambil surat rujukan ke rumah sakit.

Untuk urusan begini biasanya membutuhkan waktu yang lama. Makanya aku mendaftar saja untuk pasien pribadi.

Namun ternyata urusannya tidak seribet yang aku bayangkan. Aku ke kantor PT. TASPEN dan langsung dilayani. Namun sayangnya, sistem prubahan data yang mereka gunakan sedang error sehingga mereka hanya bisa mengeluarkan surat rekomendasi dan pengantar ke puskesmas Tebet.

Akupun bergegas ke puskesmas kecamatan Tebet. Setiba disana, semua pelayanan poli telah tutup. Untunglah, petugas bagian pendaftaran menyarankan untuk langsung naik saja ke lantai 4, barangkali masih bisa dibantu.

Akupun segera naik ke atas. Dan alhamdulillah, aku masih bisa dilayani walaupun pelayanan poli telah tutup dan ruang tunggu pasien sudah kosong. Berhubung dokter THT di puskesmas kecamatan Tebet baru saja pensiun dan belum ada dokter pengganti, maka surat rujukan ke Rumah Sakit Tebet pun segera dibuatkan.

image

Jadinya aku bisa berobat ke Rumah Sakit Tebet menggunakan kartu peserta Askes. Hehehehe, tidak sampai disitu pengalaman pertamaku menggunakan Askes. Ternyata, pelayanan Askes tidak sepenuhnya. Aku masih harus membayar administrasi Rp.50.000 dan dari 4 obat yang diresepkan dokter, hanya 1 yang ditanggung askes, selebihnya harus aku beli sendiri.

image

Aku bahkan sempat menanyakan kepada dokter dan suster di bagian THT dan pendaftaran. Apakah beda penanganan yang diberikan kepada pasien pribadi dan peserta askes? Karena harapanku ada tindakan yang diberikan dokter terhadap telingaku.

Karena begitu aku konsultasi ke dokter, hanya diperiksa menggunakan alat untuk melihat ke dalam telinga lalu buka mulut dan juga memeriksa hidung. Dan selesai. Saya pikir, akan dibantu mengeluarkan lendir yang mengganjal dengan alat sehingga tidak harus meminum obat dan bisa melegakan hidung mampet dan telinga yang berdengung akibat sumbatan pada rongga telinga

Tapi dokter selesai memeriksa langsung menuliskan resep obat, tanpa tindakan apa-apa. Duh…. kalau cuma seperti ini mungkin tidak perlu ke Rumah Sakit yah… Hanya terfikir, seandainya pemda tidak menggratiskan biaya berobat mungkin saja lebih banyak dokter-dokter otodidak yang nanti ke rumah sakit ketika kondisi pasien sudah benar-benar parah karena kalau ke dokter memang hanya dilihat langsung di kasih obat.

Jadi identik, ketemu dokter untuk diberi obat, seperti kata dokter yang menanganiku “kalau tidak mau minum obat, ya jangan sakit!”

Jiahhhh dok…. siapa juga manusia yang mau sakit. Kita semua maunya sehat koq.

#RenunganVie

Jaga Lisanmu!

Wahai perempuan… jagalah lisanmu karena kemuliaan dan kehancuranmu berada di lisanmu. Karena syarat perempuan masuk ke dalam syurga sangat mudah pertama mekaksanakan shalat fardhu 5 waktu, kedua berpuasa pada bulan Ramadhan. Ketiga menjaga kehormatan dan keempat taat pada suami.

Tapi kenapa pengisi neraka kebanyakan perempuan? Padahal syarat-syaratnya jelas dan sudah disampaikan.

Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Surah At Tahrim ayat 6)

Imam At-Tobari (rahimahu ‘llah) menyatakan di dalam tafsirnya : “Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari Neraka.”

WANITA PENGHUNI NERAKA

Mengenai hal ini, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud :

“Aku melihat ke dalam Syurga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (Hadis Riwayat Al- Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah s.a.w tentang penghuni Syurga yang mayoritas adalah fuqara (para fakir miskin) dan Neraka yang majoriti penghuninya adalah wanita.

“ … dan aku melihat Neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para sahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Baginda s.a.w menjawab : “Kerana kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Baginda menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) nescaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari)

Imam Qurthubi (rahimahu ‘llah) menjelaskan maksud hadis di atas dengan pernyataannya :

“Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Syurga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat kerana kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum lelaki dari akhirat disebabkan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.”

Untuk itu, mari kita sama-sama menjaga lisan kita. Jauhilah dari menceritakan kebaikan maupun keburukan orang lain. Karena ketika itu benar maka disebut dengan ghibah yang lebih buruk dari zina dan ketika informasi itu salah maka itu menjadi fitnah dan hukumnya lebih buruk dari pembunuhan.

#RenunganVie

Selesaikan Masalahmu Dengan Cerdas

Selagi membolak balik jenis karpet yang ada, polselku berdering. Melihat siapa yang menelpon, segera aku angkat.

“Kak, bagaimana ini? Saya ditegur tentang realisasi pekerjaanku, padahal saya tidak mau terlibat urusan keuangan. Cukup bendahara saja,” suara merdu terdengar di ujung telpon dengan sesekali dihela nafas panjang.

Setelah mendengarkan keseluruhan cerita, aku cuma berkata, “selesaikan masalahmu dengan cerdas!” Lalu aku tersenyum membayangkan kerutan kening gadis manis di ujung telpon seperti biasa ketika dia panik menemui suatu masalah baru.

“Selalu bicara data,” sambungku. “Apapun masalahnya, jika itu menyangkut pertanggungjawaban, maka kamu harus memiliki data yang konkrit untuk menjawab setiap pertanyaan,” jelasku panjang lebar.

Mulailah kami berdiskusi tentang semua hal terkait yang bisa dijadikan sumber informasi. Lalu telpon kami hentikan.

Aku kembali dalam kegiatanku. Namun pikiranku ke telpon barusan tidak berhenti. Aku mulai merangkai sedikit demi sedikit informasi yang tadi aku dengarkan. Kucoba cerna dan cermati.

Selang beberapa waktu, gadis itu menelpon kembali. “Kak, setelah kutelusuri, ternyata ada kejanggalan yang terjadi dengan situasi ini”. Mulailah aku mendengarkan penjelasannya yang panjang lebar. Sesekali kutimpali dia dengan pertanyaan-pertanyaan kecil yang dia jawab dengan lugas serta emosi yang meluap-luap.

“Sabar,” selaku. “Memang tidak mudah menghadapi hal seperti ini. Dalam dunia kerja, memang selalu saja ada orang yang berusaha mengambil keuntungan dari situasi yang ada. Sepanjang tidak merugikan kita, itu biasa-biasa saja. Namun ketika orang tersebut mengambil keuntungan sendiri namun dampaknya merugikan kita, nama baik kita, tentu tidak boleh dibiarkan begitu saja,” tak sadar gadis itu kuceramahi.

Akhirnya, kembali aku ingatkan untuk menyelesaikan masalahnya ini dengan data. Kuminta dia mencari semua data-data terkait… berapa anggaran kegiatan yang disiapkan, apa-apa saja kegiatan yang direncanakan dan sudah terlaksana dan kegiatan apa saja yang sudah selesai dilakukan.

Ketika laporan rinci telah siap dan tersingkap kecurangan didalamnya, maka tanpa kata-kata penjelasanpun pimpinan dapat melihat masalah itu. Sehingga bola panas tidak berada pada diri kita.

Memang tidak mudah ketika kita hatus menyusuri sebuah permasalahn. Ibaratnya harus menggulung kembali benang yang telah kusut. Perlu kesabaran, ketelitian dan tentu saja perhatian. Namun ketika benang kusut telah tergulung kembali dengan rapi, akan nampak lebih indah dan lebih baik tentunya.

Begitu pula dengan segala permasalahan. Harus dihadapi dengan senyum, kelembutan dan kesabaran. Bukan dengan emosi. Karena api tidak boleh bertemu api. Api itu bagusnya bertemu air atau tanah. Sehingga dia menjadi dingin dan padam.

Ketika masalah yang dihadapi itu terkait dengan pertanggungjawaban maka selalu selesaikan masalah itu secara cerdas. Tentunya dengan data dan fakta.

#RenunganVie

Hello, Tidak Semua Tentang Kamu

Aduh aduh aduh, tidak perlu begitu juga koq. Hidup ini penuh liku-liku. Kadang diatas, kadang dibawah. Kadang di depan, kadang di belakang. Biasa aja kale’.

Setelah sekian lama, akhirnya aku bertemu kembali sobat lama. Walaupun kami satu kota, tetap saja jarak dan waktu memisahkan kami. Harus betuk-betul niat baru dapat bertemu atau dalam keadaan tidak terduga.

Seperti juga malam ini. Kami bertemu secara tidak sengaja. Aku hanya mampir ke tempat saudara temanku ini dan bertanya pukul berapa dia tiba di rumah.

Biasanya, pesan teks yang aku kirim akan dibalas ketika basi atau telah lewat waktunya. Tapi malam ini, hanya sesaat pesan teks ku pun di balasnya, bahwa dia sudah di jalan dan sebentar lagi akan tiba di rumah.

Akhirnya kuputuskan untuk menunggu temanku pulang. Berceritalah aku dengan keluarganya ngalor ngidul. Hingga dia tiba di tempat kami dan kami putuskan untuk cari makan berhubung perutku memang sudah keroncongan.

Dalam perjalanan dia mulai bercerita tentang berbagai hal yang menimpa diri dan keluarganya. Sungguh pedih.. namun terkadang, kita mendengarkan itu bukan untuk mendengarkan tapi untuk menimpali lawan bicara. Dan ternyata itulah yang kulakukan.

Aku selalu menunggu dia selesai bicara karena ternyata aku tidak dapat menahan diri untuk menyampaikan masalah yang kuhadapi sendiri. Aduhhhh.. jadi lebay deh.

Memang benar bahwa setiap manusia pasti memiliki masalah. Tinggal kita melihat, sejauh mana masalah itu bisa dihadapi, disikapi dan diterima oleh setiap individu.

Benar kata sobat saya itu, Allah SWT memberikan kita cobaan dalam berbagai bentuk, sedih, sakit, luka, bahagia, derita namun sejauh mana kita dapat menerima ujian itu dan menjalaninya maka selama itu pula yang menjadi tahapan penilaian Allah SWT untuk ujian kita.

Kadang membutuhkan waktu yang lama, kadangkala juga singkat. Semua kembali pada diri kita masing-masing. Dan tentu saja, apakah kita dapat melihat setiap situasi itu secara positif?
Karena apapun bentuknya, bagaimanapun kondisinya, ketika kita melihatnya secara positif maka tentu ada jalan keluar yang bisa kita dapatkan dari setiap masalah. Namun jika sebaliknya, kita senantiasa melihatnya dari sudut pandang negatif, maka yang muncul hanya masalah yang terus menerus berantai.

Yang pasti… setiap orang punya masalah dengan tingkatan masing-masing dan tidak semua itu tentang kamu 🙂

#RenunganVie

Bagaimanapun Caranya

Tidak bisa tidur membuatku kembali menulis. Terngiang beragam nasehat, jangan terlalu stress, nanti jadi sakit. Daripada stress, kuputuskan mencoba kembali merangkai kata demi kata, mengabadikan moment-moment yang kulalui dalam hari-hariku.

Bagi yang sering menulis, atau yang pernah menulis… pernah tidak kalian membaca kembali tulisan-tulisan yang telah lampau? Pernahkah kalian tercengang membaca tulisan sendiri dan wondering apakah benar aku yang dulu menulis ini?

Akupun melakukan hal yang sama. Perlahan kubaca lembar demi lembar tulisan-tulisanku dulu lalu tergeraklah tanganku dan mulai memilih huruf demi huruf hingga terangkai kata dan kalimat yang baru.

Pun aku tersadar telah pagi. Kutengok jam di dinding yang menunjukkan pukul 6.45. Akh masih terlalu pagi untuk orang yang tertidur setelah shalat subuh. Hari ini aku shalat subuh tepat waktu, hanya karena sepanjang malam aku memang tidak tidur.

Ku tengok hpku, melihat beberapa panggilan tak terjawab dan pesan singkat. Blackberryku rusak, sehingga aku pun kembali menggunakan handphone jadul tipe Nokia RH-112. Tidak terlalu banyak fitur yang diberikan selain telepon dan mengirim pesan.

Masih terlalu pagi untuk menelpon kembali pikirku. Kubiarkan saja hpku tergeletak hingga akhirnya berdering kembali. Melihat nama yang tertera, batinku berbisik, pasti kena marah karena persoalan kemarin.

Benar saja. Ketika telpon kuangkat dan mulai menyapa, suara serak diujung telepon mulai bercerita betapa sedihnya mendapatkan amarah dari pimpinan tertinggi. Hanya karena sebuah keputusan yang diambil di tengah jalan, dalam kondisi terdesak dan tidak terfikirkan alternatif lain.

“Ndi*, saya mendapat teguran karena tidak jadi membawa karton-karton itu ke daerah. Kenapa juga tidak terpikirkan, kalau memang 2 karton itu tidak bisa, cukup 1 saja yang saya bawa. Pada saat itu, saya hanya berpikir dana yang saya pegang tidak cukup, makanya saya kembalikan saja semuanya,” ujarnya seraya memberikan penjelasan.

“Iye pak, saya juga salah karena ketika Bapak berangkat membawa karton-karton itu, segera saya laporkan ke pimpinan bahwa bapak yang akan membawanya ke daerah. Ternyata kenyataannya, tidak jadi,” jawabku merasa ikut bersalah.

“Iye Ndi*, memang seharusnya pada saat seperti itu kita harus mencari alternatif lain sehingga barang-barang bisa tiba di daerah, bagaimanapun caranya,” kembali bapak itu menimpali.

Yah, memang sudah menjadi lazim ketika menerima perintah pimpinan, bagaimanapun caranya, perintah itu harus diselesaikan. Sungguh suatu kesyukuran ketika pimpinan dapat mengerti kondisi dan masalah yang dihadapi, dan sangat jarang pimpinan yang seperti ini.

Panggilan di pagi ini menjadi pengingat pelajaran tentang dedikasi dan loyalitas bawahan ketika mendapatkan perintah, bagaimanapun caranya harus dapat menyelesaikan tugas. Karena bukan proses yang menjadi penilaian, tapi hasil akhir yang menentukan. Dan biasanya, para pelaku-pelaku ABS – Asal Bapak Senang – biasanya yang paling pintar berada di garis akhir.

#RenunganVie

*Ndi adalah sapaan singkat dari kata Andi dalam bahasa Bugis Sulawesi Selatan yang bisa berarti adik atau sapaan anak keturunan raja, namun sekarang telah menjadi nama panggilan yang banyak digunakan.

Menjadi Positif Ketika Berfikir Demikian

Lagi heboh di semua perbincangan bahwa Kementerian Kesehatan membagikan kondom gratis dalam event Pekan Kondom Nasional, peringatan Hari AIDS Se-Dunia sebagai bentuk kampanye seks yang aman.

Kebanyakan komentar yang saya baca adalah menolak kampanye ini dengan pertanyaan, apakah tidak pernah terpikirkan oleh kemenkes dan KPAN bahwa ketika kondom itu dibagi-bagi gratis, apakah tidak akan terlintas di benak sang penerima bagaimana cara menggunakanannya? Apakah mereka tidak akan menjadi penasaran dan akhirnya mencoba melakukan ‘seks’ yang tentunya belum punya pasangan sah suami istri.

Perlu diketahui bahwa kondom bukanlah alat pencegah HIV AIDS, melainkan alat kontrasepsi atau pencegah kehamilan karena dalam konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pori-pori kondom berdiameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila meregang pori-pori tersebut bisa mencapai 10 kali lebih besar. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Ini artinya… walaupun menggunakan kondom, tetap saja pengguna dapat terpapar virus HIV AIDS.

Menurut salah satu pakar yang gencar mengkampanyekan rendahnya efektivitas penggunaan kondom sebagai pelindung dan penangkal penyebaran virus HIV, Prof.Dr.dr.H.Dadang Hawari, kondom terbuat dari lateks (karet). Bahan ini merupakan senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang berarti mempunyai serat dan berpori-pori. Di samping itu, karena proses pembuatan, maka kondom juga memiliki lubang cacat mikroskopis atau ‘pinholes’.

Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini sejak bertahun-tahun lalu gencar menyerukan fakta bahwa survei di lapangan dan penelitian di laboratorium membuktikan bahwa penggunaan kondom hanya dapat mereduksi resiko penularan, tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali resiko penularan virus HIV AIDS.

Jadi kita jangan salah beranggapan bahwa dengan menggunakan kondom bisa terbebas dari virus HIV. Lebih baik, ketika pikiran sudah mulai terbebani dengan hawa nafsu, maka pilihlah satu laki-laki atau perempuan yang kamu suka, menikahlah dan hiduplah secara sehat bersama-sama.

Bisa juga baca catatan yuhana.wordpress.com/2007/11/29/kampanye-dukungan-untuk-menolak-pekan-kondom-nasional-2007 tentang detail bukti ilmiah kondom tidak 100% aman.

Jadi… jika kamu berfikir bahwa memerangi HIV dengan menggunakan kondom, coba deh direnungkan kembali… Lebih baik hindari free sex, hindari berhubungan dengan yang bukan pasangan kamu dan hidup lebih bersih.

 

#RenunganVie

Pentingnya Kontak Person

Sekalipun tidak pernah terlintas suatu waktu akan berurusan dengan Setwapres. Sampai akhirnya ada berita dari daerah bahwa aku harus mencari informasi di Setwapres terkait bantuan yang diberikan 6 tahun silam.

“Vie, tolong cek ke setwapres, bagaimana pengurusan dokumen kendaraan bantuan mereka 6 tahun lalu, sampai sekarang belum ada yah?”

Berbekalkan 2 lembar kertas fax tanpa kontak person, aku mulai  mencari nomor telpon di internet dan menghubungi beberapa nomor. Satu persatu kontak yang kuhubungi mulai memberikan arahan-arahan siapa orang-orang yang bisa kuhubungi lebih lanjut.

Namun, aku sempat terdiam ketika ku hubungi nomor selanjutnya dan mendapatkan informasi bahwa orang-orang yang aku cari sudah tidak lagi berhubungan dengan setwapres. 

“Maaf mba.. itu sudah lama sekali. Timnya sudah bubar… orang-orang itu sudah tidak lagi bekerja disini dan pejabat terkait sudah pada pensiun”, ujar lelaki penerima telpon di ujung sana.

Aku memburu jawaban, “Mas, jadi gimana caranya aku bisa mendapatkan info tentang bantuan ini?”

“Bagaimana yah mba? Lagian ini sudah 6 tahun… lebih dari 5 tahun itu arsip-arsipnya pasti sudah tidak ada lagi di setwapres. Apalagi pejabatnya sudah berganti. Tim bantuan juga sudah berganti. Mba ke kantor saja, biar lebih jelas,” jawab penerima telpon di seberang sana.

Ku kontak lagi beberapa nomor, kebanyakan tidak memberikan jawaban dari pertanyaanku. Bahkan teman yang kuharapkan memberikan informasi lebih banyak karena dulu bekerja disana pun hanya bisa menyarankan aku mencari informasi lewat facebook. 

Jiah…. memang kadang kala facebook itu sangat berguna ketika kita mencari informasi tentang seseorang atau sebuah lembaga. Disamping kekurangannya yang selalu memanfaatkan kelemahanku untuk senantiasa update informasi melalui dunia maya. Membuatku ketagihan! Hahahaha, tidak bermaksud promo yah, segala sesuatu itu ada dampak positif dan negatifnya, tergantung kita mau melihatnya dari sudut mana.

Ketika akhirnya bertemu dengan halaman orang yang kucari, kucoba meng-inbox beliau, berharap segera dibalas. Namun ternyata balasan itu tak kunjung aku terima. Padahal sms dan telpon dari daerah bertubi-tubi kuterima di hpku.

Bahkan aku menjadi kesal ketika aku menerima sms bahwa sangat mudah untuk mencari informasi tentang kendaraan itu. “Tinggal ke kantor yang bersangkutan, buka komputer, masukkan nomor mesin dan nomor rangka, enter dan akan tersambung ke informasi dimana registrasinya dikeluarkan, karena sistem online jadi tidak pake lama,” bunyi pesan singkat yang kuterima.

Aku heran bisa berhubungan dengan orang model begini. Yah, aku jawab saja, “kalau memang mudah, ga perlu aku bantu dong. Aku off saja. Silahkan cari sendiri”. Padahal sudah dua hari aku telah menelpon beberapa nomor yang berbeda hanya untuk mendapatkan informasi siapa kontak person yang terkait dengan bantuan tersebut dan bagaimana menghubunginya.

Kadang terasa mengesalkan ketika kita bertemu orang-orang yang terlalu menggampangkan sesuatu tapi tidak mau mengerjakannya sendiri. Kalau memang mudah, kenapa harus melibatkan orang lain yah? 

Sebenarnya sih tidak akan menjadi masalah seandainya infirmasi yang diberikan itu jelas. Siapa yang dikontak dan no telpon berapa yang dihubungi. Kalau seperti itu, kan kerjanya mudah. Nah ini, diperintahkan mencari informasi dengan hanya berbekalkan 2 lembar fax yang buram dan kebanyakan huruf-hurufnya sudah hilang tanpa nomor telpon kontak yang dihubungi, terus, dapat sms yang memudahkan seperti itu. Kira-kira ada yang tidak kesal g yah?

Namun ternyata itu hanya modus. Teman yang mengirimkan pesan tersebut, ternyata memiliki harapan yang berbeda. “Maunya kita sampaikan ke pimpinan agar saya bisa diberangkatkan ke Jakarta mencari informasi tentang kendaraan ini, lumayan bisa perjalanan dinas lagi di akhir tahun,” lanjutnya membalas pesan singkatku yang kesal.

Aduh… luar biasa yah orang-orang yang bekerja dengan cara seperti ini. Dan tidak sedikit yang berfikiran seperti ini. Bagaimana caranya bisa memanfaatkan perjalanan dinas keluar daerah tanpa mempertimbangkan efektifitas dan efisiensinya. -padahal katanya mudah yah… tinggal buka komputer, masukkan nomor registrasi langsung link karena sistem online. Artinya tidak harus ke Jakarta bukan? Hehehehehehhee.

Anyway busway, akhirnya saya pun menuju kantor Setwapres. Syukur alhamdulillah, bapak yang saya temui ternyata dulu bagian dari tim, walaupun bukan orang yang saya cari. Namun beliau bisa memberikan beberapa informasi terkait. 

Lalu saya dipertemukan dengan beberapa orang lainnya, seperti rantai yang bertaut satu sama lainnya. Walaupun pada akhirnya semua orang yang saya temui di setwapres tidak terkait langsung, karena pada dasarnya semua pengurus bantuan kendaraan tersebut memang sudah tidak aktif lagi di setwapres tapi pengalaman telah memberikan pelajaran kepada saya bahwa sangat penting untuk menyimpan informasi yang lengkap terutama kontak person dari orang-orang yang terkait langsung dengan suatu kegiatan atau pekerjaan. Karena ketika waktu berlalu dan kita harus kembali pada informasi kegiatan itu, akan memudahkan siapapun yang mencari informasi terkait.

#renunganvie

Fly Me Over

See me with these tears..

Longing to have you by my side
Having your smile only in my dreams
My heartbeat frankly stop
When I think every touchs you ever gaved me
Coz I alwAys willing to rewind it in every minutes I breathe..
Fly me over
Just to be with you
To feel you again…

To have you again…