Kenapa Harus Malu

Asumsi itu jangan dipelihara untuk menjadi justifikasi atau dasar penilaian kita pada seseorang. Harus berdasarkan data dan fakta. Tidak selamanya yang performanya bagus adalah yang tepat. Begitupun sebailknya, tidak ada yang lebih dari penampakannya tapi lebih berbobot isinya.

Mengenal ibu ini menjadi pelajaran berharga lagi buatku hari ini. Aku mengenalnya baru 4 hari, sejak mengikuti Pelatihan Gelar Profesi Registered Financial Planner (RFP) atau Perencana Keuangan di Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Namun pengalaman hidupnya telah mengajarkan banyak dan menjadi inspirasi bagiku.

image

Betapa tidak, ibu Parmi (63) ini telah berhasil menghantarkan kedua putra putrinya menjadi sarjana di Universitas Indonesia, Jakarta dari hasil berjualan jamu gendong dibantu hasil berjualan bakso oleh suaminya. Dari harga  kunyit Rp.1.500,- per kg untuk dijual dengan harga jamu Rp.500,- hingga saat ini dimana harga kunyit telah meningkat mencapai  Rp.10.000,- per kg, jahe Rp.20.000,- per kg dan kencur seharga Rp.30.000,- per kg untuk dijual dengan harga Rp.3.000,- per gelas jamu.

Tak ada rasa malu di wajahnya, bahkan dengan sumringah dia tertawa dan bercerita tentang kedua putra putrinya. “Kenapa harus malu? Aku tidak berbuat jahat, tidak merugikan siapapun. Bahkan kedua anakku tidak malu kalau ibunya berjualan jamu di kampus, bahkan justru sering memesankan jamu untuk teman-teman bahkan dosen mereka.”

image

Entah mengapa aku melontarkan pertanyaan malu ini. Apakah karena justifikasiku yang berdasarkan asumsi bahwa anak-anaknya tentu merasa malu dengan ibunya yang hanya seorang penjual jamu sementara mereka adalah lulusan Universitas terbaik di Indonesia, Universitas Indonedia. Ataukan aku yang malu untuk mengetahui betapa pengorbanan seorang Parmi untuk memberikan sekolah terbaik bagi putra-putrinya ini hingga mereka bisa lulus dan hidup dengan lebih baik.

Ibu parmi telah berjualan jamu gendong di pelataran kampus Universitas Indonesia ini sejak tahun 1987. Waktu yang cukup lama untuk bertahan dengan penghasilan yang kecil.

image

Akh… lagi2 aku berasumsi terlebih dahulu tentang penghasilan bu Parmi! Bagaimana denganmu?

Padahal, setelah saya hitung-hitung, pendapatan ibu Parmi cukup besar. Bayangkan saja, minimum setiap harinya, ibu Parmi mendapatkan penghasilan bersih sebesar Rp. 100.000,- dari Rp.300.000  sampai dengan Rp.400.000,- bruto. Kalau dalam sebulan, bu Parmi berjualan 20 hari saja, berarti minimum pendapatan bersihnya selama sebulan adalah Rp.2.000.000,-.

Belum lagi fakta bahwa selain menjual jamu, ibu Parmi juga berjualan makanan buatan kemenakannya yang berlaku hukum titip jual. Serta memiliki suami yang adalah pedagang bakso keliling.

image

Dari seluruh pelanggan mba Parmi di kampus UI Salemba dr. Hana, dr. Eka, dr. Yosi adalah pelanggan Bu Parmi yang paling dirindukan. Karena paling lama dan selalu beli selama mereka kuliah di UI hingga merrka selesai dan meniti kehidupan mereka sendiri. Pun ingin kusapa dalam tulisan ini sebagai salam dari Bu Parmi, andaikata Allah mengizinkan mereka untuk membaca tulisan ini.

image

Bu Parmi, terima kasih telah mengajarkanku tentang asumsi dan justifikasi keuangan hari ini. Semoga kisahmu ini dapat menginspirasi siapa saja bahwa keuletan, semangat serta kerja keras yang terintegrasi dan terukur dapat mengantarkan kehidupan yang lebih baik.

#RenunganVie

Kupilih Dengan Hati

Kembali ke Makassar mengantarkan Alifia, aku lanjut ke Sorowako, kota kelahiranku. Tentu saja niatku untuk menggunakan hak suaraku dalam arena Pemilihan Umum Legislatif tahun 2014 ini.

image

Tanda selesai memilih

Berbincang bersama keluarga dan para sahabat, membuka mata dan hatiku bahwa pertarungan kali ini tentunya sangat luar biasa, karena beberapa tokoh muda telah berani mengambil langkah dan maju bertarung.

Sebut saja Andi Fauziah Pujiwatie Hatta yang dikenal dengan panggilan Ichi. Dokter gigi, putri daerah kabupaten Luwu Timur propinsi Sulawesi selatan ini juga maju bertarung menjadi wakil daerah legislatif untuk DPR RI sebagai wakil Golkar dari Daerah Pemilihan Sulsel III.

image

Publikasi Andi Ichi

Tentu saja, sebagai wakil perempuan dari daerah, Ichi akan mengemban amanah yang besar. Namun saya yakin, dengan kehadiran tokoh-tokoh muda seperti Ichi ini, akan turut memberikan nuansa perubahan pada konteks budaya wakil-wakil rakyat yang semakin tergerogoti oleh kasus2 yang tidak menyenangkan belakangan ini.

Untuk itu, saya memilihnya dengan hati. Karena saya yakin, seoramg Ichi akan terus mengaplikasikan konsep2 yang dimilikinya selama ini, sebagai tokoh muda, putri daerah dan keilmuannya di bidang kesehatan mewakili seluruh perempuan di Indonesia dan dapilnya secara khusus yang tidak terbatas pada retorika semata.

image

Memilih dengan Hati

Untuk itu, dengan semangat, saya pun menghadiri panggilan saya ke Tempat Pemungutan Suara pada 9 April lalu. Namun saat itu, sempat terbersit kesedihan yang mendalam tentang kondisi yang saya temukan, dimana masih banyak para pemilih yang bukan tidak tau kepada siapa harapan dan mimpinya akan dia titipkan, namun bagaimanakah cara dia memilih tokoh panutannya diantara sekian nama yang tercantum di kertas pemilih. Hanya nama, tak ada foto, kecuali pada lembar pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Sejenak saya berkhayal, kiranya suatu saat nanti, metode pemilihan ini akan menggunakan teknologi yang canggih dimana pemilihan dilaksanakan menggunakan sistem komputerisasi. Sehingga, kecepatan, ketepatan dan keakuratan data baik pemilih dan yang dipilih dapat dilakukan dengan lebih baik dan cepat.

Laiknya pada sebuah ruangan dibentangkan sebuah layar lebar berisikan foto dan nama daftar calon legislatif, lalu, terdapat 30 kursi pemilih dengan tombol yang siap dipencet ketika mereka siap untuk memilih dan seorang pemandu yang siap dengan script di tangan dan mengumumkan pemilihan yang dilakukan.
image

Masih menunggu, setelah berpanas-panas di luar ruangan

Tentu saja, data ini ter-link dengan satu motherdata yang secara cepat mengkalkulasi dan menempatkan pilihan-pilihan ini pada masing-masing post data.

Sehingga, pengaturan jadwal pemilihan di tiap2 TPS dapat diatur dengan seksama dan para pemilih tidak perlu hadir bersamaan dan menunggu giliran nama mereka dipanggil dibawah terik matahari.

Memang tidak ngoyo bahwa mimpi ini berkonsequensi pada budget, konsep, perencanaan yang komprehensif serta memerlukan daya kreatifitas yang luar biasa dalam proses penciptaannya, namun apa yang tidak mungkin dalam dunia tekhnologi dewasa ini??
image

image

(atas) usai memilih, memasukkan surat suara ke dalam kotak suara

(bawah) suasana perhitungan suara di TPS

Meskipun demikian, saya tetap menggunakan hak pilih saya dan memilih mereka dengan hati. Toh pun sebelum saya menggunakannya, ada kesempatan yang saya gunakan untuk berbincang dan menggunggulkan pilihan-pilihan saya dengan justifikasinya kepada orang-orang bertanya bagaimana mereka seharusnya memilih?

Andai kemenakan saya, Bintang Affan Syandrie yang berusia 2 tahun itu sudah lancar berbicara, tentu diapun akan mengatakan, Aunty, Bintang juga akan memilih dengan hati, karena disana ada harapan untuk lebih baik.”…

image

 

Jangan GOLPUT yah, Ayo gunakan hak suaramu..

image

 

Kita kan pemilih Pemula…

image

 Aunty, ada bulan dan bintang disini…

* * The End * *

Kemenakan Baru Raisya

Maksud hati memeluk gunung,
Ternyata mesti menyebrang lautan. Maksud hati ke Transtudio Bandung,
Ternyata menyambut Raisyaku sayang.

image

Siap-siap bersama Alifia main ke Transtudio Bandung, aku mendapat kabar kalau iparku di Jogya sudah masuk Rumah Sakit persiapan melahirkan. Jadilah pagi itu kami memutuskan untuk berubah haluan, mencari tiket dan terbang ke Jogya.

Ternyata menjelang libur anak sekolah, harga tiket pun mulai merambah naik. Jadilah kami menghabiskan waktu stay lebih lama di bandara Soekarno Hatta. Alhasil, kejadian itupin tak terelakkan.. kami ditinggal pesawat padahal menunggunya di Lounge Garuda hadeuhhh!

Ternyata eh ternyata, menunggu di Lounge Garuda tidak menjamin penumpang mendapatkan informasi akurat tentang keberangkatan pesawat. Jadi tips buat kamu yang bepergian dengan pesawat, selalu cek dan pastikan jadwal boarding di tiket, lalu menunggulah di gate yang disampaikan.

Meskipun Anda di Lounge yang seharusnya mendapatkan fasilitas informasi yang akurat, tetap saja kejadian ketinggalan pesawat bisa terjadi pada Anda. Karena manajemen Lounge berbeda dengan manajemen informasi bandara dan tidak enak deh melihat pesawat bergerak sementara Anda belum duduk di kursi yang disiapkan untuk Anda.

Meskipun dengan sedikit manyun dan emosi yang sedikit tertahan, akhirnya kamipun berangkat ke Jogya. Syukur Alhamdulillah, kami tiba dengan selamat dan begitu tiba di Rumah Sakit, seketika itupun suara tangisan puteri cantik dari pasangan Adhy dan Anisa memecah suasana hening di sepanjang lorong ruang persalinan.

image

Setelah beberapa saat, akhirnya kami diperkenankan untuk bertemu dengan sosok mungil bernama Raisya Aqilah Adhiputri. Nama yang memiliki arti Perempuan cerdas yang cantik nan ayu (putri pak Adhy) hehehehe…

Setelah menemani Raisya, keesokan harinya, aku bersama Alifia mulai menjelajahi Jogyakarta. Kami makan siang di restaurant yang bertemakan Korea, Dae Jang Geum, Palagan Tentara Pelajar. Mulai dari arsitek bangunannya, masakannya, nuansa yang ditawarkan, serta musik-musiknya, semua tentang Korea. Sayang sekali pada saat itu Alifia belum bisa berpose menggunakan pakaian Korea, yang ternyata sementara di laundry. Hehehehe.

image

image

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur di Magelang. Luar biasa perjalanan ke candi Borobudur ini, karena bertepatan dengan hari terakhir kampanye sebelum pelaksanaan pemilu sehingga kami bertemu rombongan PDIP dan PKB di sepanjang jalan menuju lokasi Candi Borobudur.

Menikmati Candi Borobudur, bukan hanya karena arsitekturnya yang luar biasa megah, namun pemandangan yang ditawarkan dari atas Candi itu jauh luar biasa. Apalagi ketika itu kami bertemu Sunset dan memandang alam kala senja diantara sederetan stupa, sungguh lukisan alam tiada tara.

image

image

Namun yang tak kalah serunya ketika kembali ke parkiran, adalah kaminbertemu sederetan pedagang cinderamata yang tidak bosan-bosannya menjajakan dagangan mereka. Tentu saja suasana shopping di sore hari itu membuat kantong tebal menjadi tipis hehehehehe aalagi harga tutup bisa turun hingga 70% dari harga penawaran… Luar Biasa!

Lelah menjelang, kami pun kembali ke rumah untuk beristirahat setelah bersantap malam sambil menikmati suasana surga cinderamata Malioboro di jantung kota Jogyakarta.

Aihhh tetap saja, ternyata nuansa liburan itu tidak bisa lenyap begitu saja, terbukti pada pagi harinya, kami menyempatkan diri menikmati pemandangan pantai Parangtritis yang sangat lekat dengan legenda Ratu Kidul. Sampai saat inipun, masih banyak orang Jawa yang percaya bahwa Pantai ini merupakan gerbang kerjaan gaib Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan.

image

Bukan hanya pantai dan karang yang kami nikmati, namun pengalaman pertama bagi Alifia untuk mengendarai kuda. Awalnya agak canggung, tapi tak lama.

image

Sayangnya kami tak bisa berlama-lama di Jogya. Alifia sudah harus masuk sekolah sehingga kami pun harus pulang ke Makassar. Namun sebelum menuju ke Bandara, kami singgah dulu ke Rumah Sakit dan bertemu Raisya.

Memang kami tidak bisa berlama-lama bersama Raisya, karena kelahirannya yang lebih dulu 3 minggu dari perkiraan persalinan membuat Raisya harus mendapatkan perhatian khusus dan observasi comprehensive berhubung tingkat kadar gulanya sangat rendah.

image

Yang penting, saat ini Raisya telah sehat dan inshaallah akan bertumbuh laiknya nama yang diberikan kepadanya.. sebagai anak perempuan cerdas dan cantik… cantik luar dalam ya Raisyaaaaa….

Bersambung…Kupilih Dengan Hati

Menjadi Tidak Komit

Banyak juga alasan untuk pembenaran ketika kita tidak komit pada suatu kesepakatan. Seperti juga aku yang menjadi tidak komit dan hilang dari rencana menulis di setiap waktu senggang 😦

Dimulai dengan perjalanan long weekend, lalu kunjungan liburan kemenakanku yang cantik, dan disusul dengan perjalanan menyambut kemenakan baru di Jogya dan akhirnya pulang ke kotaku menyukseskan pemilu 2014 sebelum kembali ke tempat aktivitasku sehari-hari.

Libur Long weekend aku habiskan dengan mengunjungi keluarga kakakku di Makassar. Meskipun di sela2 kunjungan itu aku sempatkan untuk melakukan pekerjaanku sebagai financial planner yang membantu memaksimalkan aset2 dari para klienku.

Ketika akan kembali ke Jakarta, kemenakanku, Alifia juga ikut karena libur sekolah. Memang, sebelumnya dia sudah pernah ke Jakarta namun ketika itu saat usianya masih kanak2. Tentu menjadi pengalaman yang berbeda di usianya yang sekarang. Terbukti ketika kami ke Dufan, dia lebih menikmati permainan2 serta pertunjukan2 yang ada.

image

Berkunjung ke Dufan, tentunya tidak seru tanpa mengikuti semua atraksi yang baru dan fun. Alifia bermain di Kora-kora, Halilintar, Arung Jeram dan lainnya.

image

Kami juga menyaksikan atraksi Treasure Land – Temple of Fire yang menampilkan Live Action Stunt Show berkonsep teater tentang petualangan Indiana Smith seorang Arkeolog dalam mencari artefak di kuil kuno Suku Inca.

Tentu saja berkeliling di Istana Boneka. Istana yang dirancang sedemikian rupa yang dijelajahi dengan menggunakan perahu. Sekitar 600 boneka animatronik yang beraneka warna warni memberi kesan semarak bisa dilihat disana.

image

Sempat juga berputar-putar di Lorong Sesat dengan menembus lorong berdinding kaca sepanjang lebih dari 90 meter dengan refleksi tidak terbatas sehinnga terasa tak ada dimensi ruang.

Pertunjukan terakhir yang kami nikmati adalah Fantastique Magic Fountain. Sebuah sajian luar biasa yang memadu padankan beragam teknologi air dan cahaya. Setting yang ditampilkan adalah sebuah benteng kerajaan di tengah danau mengangkat musical theater Ancol Paradise dengan cerita rakyat Timun Mas dan Buto Ijo.

Berlanjut ke Kemenakan Baru Raisya

Kerja Keras vs Kerja Cerdas

Banyak dari kita lebih memilih untuk bekerja keras demi mendapatkan hasil. Hanya sedikit yang memilih untuk menginvestasikan waktunya dalam memikirkan cara cerdas dalam menyelesaikan pekerjaannya untuk mendapatkan hasil yang berlimpah di masa depan.

Untuk itu perlu belajar dari kisah pipo dan ambro ini. Bagaimana sebuah gagasan menjadi jalan keluar untuk menikmati hidup ini.

 

#Renungan Vie

Pohon Kekayaan

Tidak sengaja menemukan filsafah yang mengajarkan tentang pohon kekayaan dengan pertanyaan apakah ‘kekayaan’ itu?

Mari belajar dari sebatang pohon dengan mengibaratkan pohon itulah kekayaan dimana dedaunannya adalah uang.

Kata Awie Wang, penulis buku Rahasia Sang Waktu ,”Kita tidak bisa menanam daun untuk menumbuhkan pohon, tapi kita bisa menanam pohon untuk menumbuhkan daun”!

Luar biasa….

Script

POHON KEKAYAAN

Setiap orang menginginkan kekayaan…
Tetapi apa sebenarnya yang dimaksud “kekayaan”?

Kekayaan dan Uang adalah berbeda…
Kekayaan bagaikan pohon sedangkan Uang bagaikan daun.

Pohon akan terus tumbuh sedangkan Daun suatu saat akan lepas dari batang pohon.

Jika yang Anda lakukan sekarang adalah menanam pohon,
Maka pada waktunya pohon akan menghasilkan daun.

Dan apabila yang Anda lakukan sekarang adalah memungut daun…
Sudah dipastikan berapapun banyak daun yang Anda kumpulkan tidak akan pernah cukup…

Tanamlah pohon sekarang juga!!

Anda tidak bisa menanam DAUN untuk menghasilkan POHON.

Kenali & pilihlah bibit yang terbaik menurut Anda…
Karena setiap orang memiliki PENILAIAN yang berbeda…

Bibit yang sama juga bisa menghasilkan HASIL yang berbeda..

Berilah air & pupuk dengan KEYAKINAN bibit yang Anda tanam akan tumbuh menjulang tinggi…

Yang pertama tumbuh bukanlah batang atau daun…
Melainkan akar yang tidak kelihatan Seperti pikiran yang mulai berkembang.

Bersabarlah dan jangan putus asa, semua indah pada waktunya…

Pohon memerlukan CAHAYA untuk tumbuh….
Begitu juga dengan kita, Terimalah NASEHAT dan teruslah belajar.

Semakin tinggi pohon, semakin kencang diterpa angin,
Hanya akar yang kuat yang sanggup menahannya.

GODISNOWHERE
what did u read?

GOD IS NO WHERE
or
GOD IS NOW HERE?

depends on understanding each other’s…

#RenunganVie

Berteman Dengan Masalah

Banyak orang tidak suka dengan masalah, benar? Banyak orang menghindari masalah daripada menyelesaikannya, bagaimana menurut Anda?

image

Padahal kita hidup di dunia ini selalu memiliki pilihan hidup… mau lebih baik atau sebaliknya…. memilih apapun kita tetap akan terbentur dengan masalah… mengapa?

image

Ambil contoh misalnya kita memilih untuk mencari hidup lebih baik. Berapa banyak manusia yang memilih urbanisasi atau perpindaham dari desa ke kota di Jakarta misalnya. Apakah ketika mereka memikih untuk mencari hidup yang lebih baik kemudian menyelesaikan masalah mereka? Hmmmmm mari kita pikirkan.

Ketika mereka tinggal di desa… misalnya mereka hanya menjadi buruh tani di sawah orang. Nah, artinya mereka harus mencari kerja yang kadangkala hanya dibayar dengan makanan seadanya. Lalu mereka pindah ke jakarta dengan bekal uang seadanya. Tiba di kota, mereka mulai mencari pekerjaan, alih-alih jika memiliki skill atau keterampilan, kalau tidak? Apakah itu bukan masalah?

image

Tarolah mereka memiliki dana yang cukup untuk memulai usaha, bagaimana dengan tempat tinggal mereka, bagaimana dengan biaya kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau ke kota sendiri, nah bagaimana jika pindah bersama keluarga? Suami, istri dan anak-anak? Hmmmm apakah ini merupakan suatu masalah?

Sekarang… mereka mungkin bisa mengatasi masalah tersebut diatas, nah anak-anak akan bertumbuh besar dan mulai mengenal sekolah, bagaimana dengan biaya pendidikannya? Apakah sanggup kita teris menerus menyarankan anak untuk belajar dan meraih ranking di sekolah namun pada saat mereka mulai memilih sekolah yang bagus… dan keluarga ini hanya memiliki dana seadanya, apakah ini bukan masalah?

Lantas bagaimana jika sang ayah atau ibu karena kelelahan bekerja, mencari uang untuk keluarga dan mereka tiba-tiba jatuh sakit, tentu hal ini adalah pengeluaran. Ditambah lagi karena sakit sehingga income selama sakit menjadi berkurang, apakah ini bukan masalah?

Beranjak dari sini, anak mulai dewasa, mulai mengenal lawan jenis bahkan berkehendak membentuk keluarga sendiri, apakah ini tidak menjadi beban keluarga.

Baiklah… mereka bisa mengatasi semua masalah-masalah itu. Sang ayah bekerja di perusahaan yang membayarnya cukup, sang ibu juga mulai bekerja dan menambah penghasilan keluarga. Mereka mulai sering bergaul dan akhirnya rumah besar, mobil, pakaian yang bagus sudah mulai terasa sebagai kebutuhan… apakah ini bukan masalah?

Nah intinya… dalam hidup ini, apapun pilihan kita pasti akan ada masalah. Nah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah itu bukanlah dengan memusuhinya… tapi bertemanlah demgan masalah itu. Juatri ketika Anda berteman dengan masalah itu, penemuan-penemuan baru akan tercipta dan menjadi solusi bagi permasalah Anda. SIMPLE KAN?

image

Bagaimana berteman dengan masalah? Luangkanlah waktu sejenak untuk merenungkan masalah anda. Buatlah hubungan komunikasi antara otak kita dengan hati kita. Mulailah mencari jawaban atas 3 pertanyaan:
1. Apa yang Tuhan inginkan dari hidupku ini?
2. Apa yang aku inginkan dengan hidupku?
3. Manusia seperti apakah diriku di akhir masalah ini? Apakah semakin bertanggung jawab ataukah terpercaya atau seperti apa?

Jika telah berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu maka mulailah merencanakan hidup Anda. Sehingga solusi permasalahan hidup Anda mulai terjabarkan satu persatu dan solusinya pun akan nampak seiring dengan kondisi yang ada.

Jadi… bertemanlah dengan masalah!

#Renunganvie

Terlalu banyak Excuse

Entah mengapa, perasaan iba terlalu besar buatnya. Kadangkala menjadi sangat menjengkelkan namun rasa prihatin masih jauh lebih besar.

image

Setiap bertemu, banyak sekali keluh kesah, tentang keluarganya, tentang hidupnya, tentang dirinya dan tentang orang-orang disekitarnya. Selalu adaaaa saja yang disebutnya.

Tapi entah kenapa, setiap diberikan peluang, diberikan kerjaan, adaaaaa saja excuse, alasan sehingga dia tidak harus mengerjakan apa-apa. Aduh…. gimana ceritanya yah.

Dia adalah aku. Karena keakuankulah sehingga terlalu jaim untuk menyebut diriku sendiri sehingga menggunakan dia dalam menjelaskan masalahku.

Aku bingung dengan diriku sendiri. Ingin sukses tapi selalu punya alasan untuk tidak melakukan apa-apa. Aku terlalu malas untuk bergerak. Padahal keinginanku untuk bisa berhasil seperti orang-orang itu sangat besar bahkan terlalu besar.

Ibarat kata, tiba-tiba terbangun dari tidur. Lalu mengambil jas terbaik, dan memperbaiki penampilan di depan cermin. Lalu, berteriak dengan semangat menggebu-gebu 3 kali “Aku mau sukses, aku harus berubah, Aku akan Sukses!”.

image

Setelah itu, perlahan membuka jas, membuka pakaian dan kembali menarik selimut dan berbaring di tempat tidur.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Namun semuanya hanya mungkin dengan kerja keras. Bukan hanya kerja keras, tapi juga kerja cerdas. Tanpa kerja keras dan kerja cerdas, apapun yang kita inginkan hanya menjadi khayalan semata.

Apalagi, jika yang dimunculkan hanyalah alasan-alasan pembenaran sehingga kita tidak perlu melakukan kerja apapun.

Alkisah di sebuah negeri. Ada seorang pengembara yang berkunjung hanya dengan sebuntal kain. Setelah shalat dan mengelilingi mesjid tua dan reyot itu lalu dia mengambil tempat dan duduk di emperan mesjid. Dia mulai berdendang berisi petuah dan nasehat. Tak lama, mulailah orang berdatangan dan mengerumuninya.

Setelah cukup ramai, sang pengembara ini mulai menangis tersedu. Semakin lama semakin keras dan kencang. Sontak saja warga menjadi heran dan merasa iba.

Entah siapa yang memulai, satu per-satu warga mulai melemparkan koin. Semakin banyak koin yang dilemparkan ke hadapan sang pengembara, semakin keras tangisannya dan semakin menyayat hati. Hingga akhirnya orang-orang pun berhenti melemparkan koin dan pengembara itu pun berhenti menangis.

Lalu dia mulai berdendang kembali. “Wahai puan cantik berhati mulia, wahai tuan tampan berhati emas, dimuliakanlah semua yang telah melemparkan keping-keping perak di hadapan hamba. Hamba telah datang jauh dari ujung langit namun sebentar saja melepas lelah di mesjid ini telah mengumpulkan ratusan keping perak. Adalah kiranya puan dan tuan berbesar hati, kepingan-kepingan ini akan menjadi tiang penyangga mesjid ini sehingga kembali kokoh laiknya istana yang puan dan tuan miliki.”

Semua orang terkejut mendengarkan dentang pengembara ini. Sesungguhnya selama ini mesjid tua itu telah mereka tinggalkan dan berpindah pada mesjid agung milik raja. Untuk mencapai mesjid raja itu, mereka harus berkendara sementara mesjid tua ini berada di pinggir desa dan tidak terurus.

Lanjut sang pengembara, “tentulah mesjid tua ini juga akan menjadi indah, jika keping-kepingan perak ini terkumpul sedikit demi sedikit dan digunakan untuk membangunnya. Terkadang kita lebih puas dengan milik orang lain sementara mengabaikan harta yang kita miliki. Terkadang kita puas dengan kesuksesan orang lain namun tidak mencari sukses kita sendiri.”

“Wahai puan dan tuan pemilik tanah ini. Peliharalah semua yang menjadi milik kalian, karena akan lebih mulia kesuksesan yang kalian terima ketika dibangun dari hasil jerih payah sendiri. Biar gubuk tapi hasil kesuksesan sendiri daripada puas menyaksikan hasil karya orang lain sementara milik sendiri terlantarkan.”

Mendengar lantunan gubahan sang pengembara, beberapa warga mulai menangis, bahkan perak yang tadinya hanya kepingan mulai bertambah dengan pundi-pundi bahkan kepingan emas.

Memang, kadangkala kita lupa bahwa apa yang kita miliki dapat dimaksimalkan untuk kesuksesan kita. Kita terbuai dengan rasa malas melihat kesuksesan orang lain. Padahal bisa jadi kemampuan kita lebih dari yang lain. Bisa saja para tukang yang membangun mesjid raja berasal dari negeri itu. Bisa saja material yang digunakan raja berasal dari negeri itu. Atau mungkin para pengukir, muadzin bahkan pengunjungnya kebanyakan warga negeri itu.

image

Kadangkala, terlalu banyak excuse untuk mencapai kesuksesan kita. Padahal, ketika kita melirik kebun tetangga, kita mungkin bisa lebih baik mengerjakannya dengan ide-ide kreatifitas kita.

Pengembara itu hanya bertindak kecil, tanpa excuse untuk sukses mempengaruhi warga menyumbang demi perbaikan mesjid. Tidak seberapa yang dia dapatkan, tapi merupakan bukti kongkrit dari apa yang diupayakannya.

image

Mari manfaatkan kemampuan yang kita miliki dan raih sukses kita!

#Renunganvie

Strategi Penjualan BOZ

Bagaimana seorang motivator hebat bisa sukses, padahal di balik kesuksesannya ada upaya licik untuk mengelabui para pengikutnya.

Alkisah ada seorang motivator yang luar biasa. Dia dikenal dengan sebutan BOZ singkatan dari Brahma Orsien Zein. Boz sering mengadakan prrsentasi-presentasi luar biasa yang mengajarkan para pengikutnya untuk cepat kaya.

image

Dengan kemampuannya beretorika, Boz acapkali tidak susah ketika merekrut orang-orang baru untuk masuk ke dalam timnya. Dia hanya menyebarkan panflet rencana seminarnya dan orang pun berduyung-duyung membayar kelas yang mahal demi mengikuti presentasinya.

Tanpa merasa canggung, datanglah peserta seminar ini di acara luar biasa yang diadakan Boz. Dengan kemampuan komunikasi persuasive tingkat tinggi, Boz mulai melahap para peserta satu-persatu. Dia mulai berbicara dengan usaha-usaha yang digelutinya dalam bidang real estate.

Lalu dengan lihai, di sela-sela retorikanya, Boz mulai menanyakan kepada peserta siapa-siapa yang ingin cepat kaya. Tentu saja, para peserta pun mengangkat tangannya. Lantas Boz menurunkan semangat peserta sebelum menaikkannya kembali dan meminta orang-orang yang betul-betul mau cepat kaya untuk berdiri dan maju ke depan untuk bersalaman dengannya.

Setelah peserta ini maju, Boz pun menyuruh mereka untuk berjalan ke arah para registrer-registrer cantik yang siap dengan kertas formulir dan pen. Merrka dengan ramah mulai mengambil data diri para peserta ini.

Dan ternyata para peserta ini pun diminta untuk menyerahkan sejumlah dana, yang menjadi biaya perjalanan mereka menuju suatu tempat untuk melihat unit real estate yang ‘dijual’ secara terselubung oleh Boz.

Tentu saja, secara tanpa disadari ke dalam alam pikiran para peserta itu, untuk menjadi kaya dan berpenghasilan besar, tentulah tidak sebanding dengan biaya yang mereka keluarkan saat itu. Apalagi ditambah dengan bumbu kata-kata bahwa ketika mereka tidak jadi berangkat, maka hanya dana transportasi yang dipotong, selebihnya akan dikembalikan.

Jika Anda berada ditempat itu, tentu Anda akan tergiur dengan pemahaman tentu tidak sebanding antara dana yang Anda keluarkan dengan unit yang Anda miliki.

Padahal, untuk sebuah unit real estate yang Anda sepakati, harus diselesaikan karena baru nilai indent yang Anda bayar sebelum unit selesai. Nah setelah unit selesai, Anda harus bekerjasama dengan pihak pengembang untuk memasarkan unit tersebut. Nah… taruhlah harga unit tersebut sebagai unit kosong, bagaimana denga unit yang dipasarkan lengkap dengan furniture. Tentu saja Anda harus mengeluarkan investasi yang cukup besar untuk seluruh furniture itu.

Nah, kira-kira berapa lama investasi Anda akan kembali? Jika harga unitnya tidak sebanding dengan yang Anda bayangkan?

image

Itulah teknik si Boz dalam mendapatkan nasabah baru.. secara lugas menjual ide dalam presentasinya tentang motivasi, namun sesungguhnya dia memasarkan bisnisnya kepada para peserta-peserta yang terbuai dengan kata-katanya.

So! Be aware terhadap hal-hal seperti. Cara Boz ini sudah mulai banyak diminati dan dilakukan oleh beberapa motivator. So be carefull….. jangan sampai berfikir mengeluarkan dana untuk keuntungan sebesarnya-besarnya, eh ternyata buntung di tengah jalan hehehehhee…

image

High Return High Risk. Sesuatu yang mudah datangnya kadangkala cepat juga hilangnya. Karena kita dapat menuai hasil yang kita tanam. So hati-hati…

#renungan vie

Sakit Itu Tidak Enak

Tidak pernah terbayang, betapa sulitnya hidup ini ketika kita sakit. Dan betapa bahagianya mendapatkan ucapan sekedarnya, “cepat sehat ya…”. Meskipun kadang kala kita merasa itu hanya di bibir saja.

Sehat itu memang luar biasa. Kita bisa beraktifitas seperti biasa. Bisa jalan sesuka hati, bisa bercengkerama dengan saudara maupun kawan. Bisa melakukan semua hobby.

Nah ketika sakit, semua menjadi tidak enak. Tidak enak makan, tidak enak baring, tidak bisa bekerja, tidak bisa main. Yang paling menjengkelkan adalah harus terbaring di tempat tidur sepanjang hari, syukur-syukur kalau tidak perlu masuk rumah sakit dan diinfus.

image

Seperti yang saya alami minggu lalu. Sungguh tidak menyenangkan. Selama 2 hari saya demam. Saya pikir hanya flu biasa. Tapi demam saya tidak turun-turun. Walhasil, di hari ke-3 saya pun memaksakan diri untuk ke rumah sakit Tebet yang dekat dengan mess.

Begitu tiba di rumah sakit. Sayapun menuju tempat registrasi yang ternyata sudah tutup. Akhirnya saya ke UGD dan langsung dipersilahkan istirahat di UGD.

Semakin tidak enaklah. Ada satu jam barulah saya diperiksa. Itupun setelah saya bertanya ke suster, kenapa saya belum diapa-apakan. Whuakakakakka setelah bicara barulah saya cerna kembali kata-kata saya… hehehehhe harusnya saya bertanya kenapa saya belum diperiksa… memangnya saya mau diapakan? Huakakakakka.

Jiah.. apa sudah tidak ada dokter lagi di rumah sakit ini? Sungguh miris, saya diperiksa oleh seorang dokter laki-laki yang “maaf” sudah uzur. Selayaknya dokter itu sudah tinggal di rumah, menikmati waktu bermain bersama cucu-cucunya. Tangannya sudah gemetaran, berbicarapun pelan dan terbata. Subhanallah…. Dok, jika saya putrimu, tidak akan kubiarkan kau tetap di rumah sakit. Sudah cukup pengabdianamu selama ini. Sudah saatnya kau beristirahat dan menikmati sisa-sisa usiamu bersama keluargamu.

Usai diperiksa, saya diminta untuk pemeriksaan lebih lanjut. Untuk itu saya pun mengambil air seni untuk pemeriksaan urine dan pengambilan darah. Dalam kondisi yang sangat lemah, akhirnya saya mengiyakan saja ketika suster meminta ijin untuk memasang infus neurolbine, penambah darah.

image

Sebenarnya saya sudah tergerak untuk opname, apalagi dokter sudah menyatakan bahwa saya terkena typus, namun miris karena pasien di sekitar saya terkenan penyakit Demam Berdarah. Saya jadi takut akan terjangkit sehingga memutuskan untuk pulang dan di rawat di rumah saudara.
Walhasil, terkaparlah saya selama 8 hari tidak bisa beraktifitas apapun. Bahkan makan pun harus di tempat tidur dengan demam tinggi disertai batuk.

Ya allah…. jauhkanlah sakit dariku dan orang-orang yang kusayangi.

#renunganvie